“Memangnya apa yang tidak bisa kamu miliki, Amanda?”
“Kamu ….” Galih dan Amanda sontak tertawa bersamaan setelah sekian detik terdiam. Mereka berteman cukup dekat dulu. Galih bahkan bisa dekat dengan Jelita juga atas bantuan Amanda. Dia bisa berteman baik dengan Amanda yang pendiam dan sedikit pemalu hingga membuat Jelita mulai merasa tertarik dengan kepribadian lelaki itu. “Kenapa tidak main ke rumah, Manda? Komunikasi kita benar-benar terputus sejak kamu menikah dan pindah keluar kota.” Galih kembali bertanya. Lelaki itu menggeleng pelan saat beradu pandang dengan Arul yang mengedipkan sebelah mata kepadanya karena tampak sangat akrab dengan Amanda. “Aku tidak mau merepotkan orang lain, Galih. Aku … trauma menerima penolakan. Jangankan teman, bahkan keluarga suamiku pun enggan memberi bantuan. Sementara keluargaku juga kamu tahu sendiri keadaannya bagaimana. Jadi ya begitulah. Aku memilih berjuang sendiri karena kalau tidak begitu, siapa yang akan membiayai pengobatan anakku?” Galih menghela napas prihatin. Dia bisa mengerti kenapa akhirnya Amanda terjebak disini. “Hubungi aku nanti. Barangkali ada lowongan pekerjaan, nanti aku informasikan. Ya walau tidak akan sebesar dan semudah disini, tapi setidaknya ya ….” Lelaki itu mengedikkan bahu saat melihat Amanda mengulas senyum padanya. Dia menghela napas panjang saat Amanda meraih segelas amer di meja. Wanita itu dengan santai menikmati minuman di tangannya. Galih tidak pernah menyangka Amanda yang dia kenal sepuluh tahun lalu bisa berubah sangat jauh seperti ini. Enam bulan bekerja di tempat ini benar-benar melunturkan citra diri Amanda yang dia kenal sebagai gadis pendiam dan pemalu saat kuliah dulu. Jam dua dini hari, Galih akhirnya sampai di rumah. Lelaki itu menghela napas panjang saat keluar dari mobil. Untuk pertama kali sepanjang sepuluh tahun pernikahannya dengan Jelita, dia pulang selarut ini. Galih menautkan alis saat akan membuka pintu rumah. Dari luar, dia bisa melihat kalau lampu ruang tamu masih menyala. Hatinya mendadak seperti ada yang meremas saat melihat Jelita tertidur di sofa bersama dua anak mereka, menanti kepulangannya. “Ney?” Galih mengelus kening istrinya pelan, berusaha membangunkan. “Honey? Ayo pindah ke kamar.” Dia tersenyum saat istrinya membuka mata. Lelaki itu sigap menggendong anak mereka dan memindahkannya ke kamar. Setelahnya, dia membersihkan badan dan berganti pakaian. “Kamu dari mana, Bee? Kenapa tidak berkabar sama sekali.” Jelita yang duduk di bibir ranjang menghampiri Galih yang sedang mengenakan piyama. Sejak sore tadi, dia benar-benar khawatir. Biasanya, kalau lembur Galih selalu mengabari. Namun, hari ini ponsel lelaki itu tidak aktif. Saat dia coba menghubungi rekan kerja suaminya, tidak ada yang membalas pesan darinya sama sekali. “Maaf membuat khawatir.” Galih mencium kening istrinya. Dia lalu mengajak wanita itu merebahkan diri di kasur. “Tadi siang aku ada kunjungan untuk koordinasi dengan tim di lapangan. Setelah itu, lanjut dengan meeting dan ada rancangan desain yang harus segera diselesaikan. Jadi, aku lembur mendadak dan fokus pada pekerjaan agar cepat selesai sampai tidak menyadari kalau ponselku mati.” Jelita mengangguk mengerti. Pekerjaan suaminya sebagai seorang arsitektur di sebuah firma arsitektur ternama memang kadang sangat sibuk sekali. Galih sering berkolaborasi dengan insinyur, kontraktor, dan desainer interior untuk mewujudkan visi yang telah disepakati. Suaminya juga seringkali mengunjungi lokasi proyek untuk mengawasi perkembangan konstruksi dan berinteraksi langsung dengan tim lapangan seperti yang dikatakannya tadi. Galih juga aktif menghadiri seminar dan pameran arsitektur untuk terus memperbarui pengetahuannya tentang tren terbaru dalam dunia arsitektur. Itulah sebabnya, Jelita tidak banyak tanya lagi mendengar penjelasan suaminya. Dia ikut memejamkan mata saat melihat Galih sudah terlelap di sampingnya. Jam enam pagi, Galih mengulas senyum saat keluar dari kamar mandi. Aroma masakan Jelita menguar, membangkitkan rasa lapar. Dia masuk ke dapur dan memeluk istrinya dari belakang. “Selamat pagi, Ney. Masak apa? Aromanya enak sekali.” “Nasi goreng.” Jelita tertawa saat Galih menggesekkan pipinya yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus. “Sana, ih! Nanti Bella lihat dia ngambek loh.” Jelita tertawa melihat Galih yang langsung menoleh ke arah lantai dua, kamar anak mereka. Anak pertama mereka yang duduk di kelas dua SD itu memang dekat sekali dengan Galih. Bella bahkan tidak suka melihat Papa dan mamanya berdekatan karena dia yang harus selalu ada di samping papanya. Galih bersenandung pelan saat kembali ke kamar. Dia lalu membangunkan Zaky, anaknya yang bulan depan genap berusia tiga tahun. Seperti biasa, pagi hari dia bertugas memandikan dan merapikan Zaky. Sementara Jelita membuatkan sarapan dan menyiapkan bekal untuk Bella di sekolah. Setelah itu, Galih membantu menyapu dan merapikan mainan anaknya yang tercecer di setiap sudut rumah. “Papa kemana tadi malam kok nggak berkabar? Mama rungsing sekali nungguin Papa pulang sampai jadi kayak setrikaan. Bolak balik bolak balik nggak berhenti.” Bella bertanya saat mereka sudah sarapan bersama. Gadis kecil berusia delapan tahun itu menggeleng-gelengkan kepalanya hingga rambutnya yang dikuncir dua bergerak kesana kemari. “Papa lembur dan sibuk sekali sampai tidak sadar kalau ponsel mati.” Galih mengulas senyum pada Bella. Dia melirik ke arah Jelita yang sedang menyuapi Zaky. Sebersit rasa bersalah muncul di hatinya karena sudah berkata tidak jujur pada istrinya. “Papa nggak bawa jaket?” Jelita memperhatikan Galih yang mengenakan kemeja navy dengan dasi warna senada yang bermotif garis-garis. Dia dan Galih memang saling memanggil Mama dan Papa saat di hadapan anak mereka. Kalau berdua, baru ada panggilan sayang di antara mereka. “Biar aku ambilkan sekalian.” Jelita yang akan mengambil botol minum Zaky di kamar langsung bergerak cepat. Dia meraih jaket yang dipakai oleh suaminya tadi malam. Saat akan keluar kamar, Jelita menautkan alis. Dia mencium jaket yang ada di tangannya karena ada aroma asing yang tidak pernah dia kenali sebelumnya. Aroma manis dan feminim, khas parfume wanita. Jelita mencium bagian dalam jaket. Aroma itu semakin kuat yang artinya bekas dipakai, bukan karena terpapar dari luar. Mendadak, hatinya tidak enak. Ada rasa tidak nyaman yang menelusup perlahan. Jelita sibuk dengan pikirannya yang mempertanyakan kemana suaminya tadi malam.Adiknya itu terlihat keren dengan pakaian seperti itu hingga membuat Bella mengangguk dan mengangkat jempolnya. “Ayo turun, Bella tidak sabar melihat Om Langit menjadi pengantin.” Bella terkekeh pelan saat ibunya menoel dagunya.Pulang dari umrah, Bella mantap memutuskan menolak Langit. Lelaki itu baik untuk menjadi pendamping dan baik juga untuk menjadi ayah sambung bagi kedua anaknya. Namun, Jelita merasa kalau Langit bukan jodohnya. Entah kenapa, ada perasaan tidak nyaman setiap kali berjumpa dengan Arsila tanpa sengaja. Hal itu semakin terasa karena setelah umrah, entah bagaimana dia dan Langit semakin sering bertemu dengan Arsila di tempat-tempat yang mereka datangi dan melihat interaksi mereka membuat Jelita tidak nyaman. Semua itu seolah menjadi pertanda bagi Jelita kalau akan ada yang tidak baik kedepan jika dia memaksakan saat di hati masih ada ganjalan.“Terima kasih, Zaky, Bella.” Langit tersenyum lebar saat menerima buket bunga yang sengaja mereka bawa. Lelaki itu lalu me
“Aku juga minta maaf karena tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu dulu. Maaf juga karena sudah sering menyusahkanmu bahkan setelah semua kesalahanku padamu. Aku janji akan hidup lebih baik seperti ucapanmu, demi semua orang yang mengharapkan kesembuhanku.”Hari itu, mereka berdamai dengan takdir yang sudah digariskan bahkan jauh sebelum mereka dilahirkan. Ruangan itu menjadi saksi, tumpahnya air mata atas kesakitan di masa lalu sekaligus juga menjadi titik awal harapan hidup yang baru.Setahun berlalu cepat. Hari itu, Jelita tersenyum lebar saat pembagian raport di sekolah anaknya. Zaky yang tidak pernah serius dalam belajar kalau di rumah juga malas-malasan les pelajaran seperti Bella ternyata menjadi juara kelas. Hal itu jelas menjadi kejutan yang menyenangkan baginya. Dia bahkan sampai bertanya berkali-kali pada wali kelas anaknya kalau-kalau salah menulis nilai.“Sebagian anak memang dilahirkan dengan kelebihan masing-masing, Bu Jelita. Kalau kakaknya dulu, bakatnya di bidang
“Satu … dua … tiga ….”Pintu kamar Galih akhirnya terbuka setelah lima kali didobrak. Pras langsung melepaskan meja kayu yang tadi dia gunakan bersama tetangga untuk membuka paksa pintu kamar anaknya. Mendengar keributan di dalam tadi, dia langsung berlari keluar karena khawatir Galih akan berbuat nekat lagi. Setelah keluar dari rumah sakit dan mengetahui kalau tangannya tidak berfungsi, Galih memang jadi lebih pendiam dan banyak melamun.“Astaghfirullah, bantu angkat, Pak!” Ketua RT yang tadi ikut membantu mendobrak pintu kamar langsung berlari bersama Pras dan yang lainnya menghampiri Galih yang terkapar di lantai. Darah membasahi keramik putih karena Galih memotong urat nadi di tangannya. “Astaghfirullah ….” Ketua RT berkali-kali mengucap istighfar. Dia berusaha menguatkan hati mengangkat Galih ke mobil walau tubuhnya gemetar hebat.Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Tiwi menangis sambil menekan kain di tangan anaknya agar darah tidak terus mengalir. Wanita itu mengelus wajah
Penghuni sel yang lain melambaikan tangan pada Amanda. Ini tahun ke delapannya di penjara. Dia yang paling lama disana dibandingkan dengan dua yang lainnya. Mereka bertiga mengeluarkan uang cukup besar agar Amanda ditempatkan di sel mereka. Sudah menjadi rahasia umum kalau anak baru akan menjadi rebutan penghuni sel lain yang sudah tahunan dan sudah jarang dijenguk keluarga.Alasannya karena anak baru biasanya masih sering dijenguk dan dibawakan makanan. Artinya, mereka bisa ikut mencicipi variasi makanan selain yang disediakan oleh pihak LP yang seringnya tidak ada rasa. Apalagi, yang dipenjara ini simpanan pejabat. Mereka jelas mempunyai ekspektasi tinggi kalau Amanda akan sering mendapat asupan makanan dari keluarganya sehingga mereka ringan saja merogoh kocek cukup dalam agar Amanda bisa berada satu sel bersama mereka.Namun, harapan hanya tinggal harapan. Jangankan makanan, sejak pertama kali datang, Amanda bahkan baru dibesuk dua kali dengan hari ini. Itupun berakhir dengan dera
Amanda meraih buku catatan kecil yang diberikan oleh Tiwi. Dia menuliskan alamat tantenya yang dia sendiri tidak yakin akan menerima kehadiran Dery. Wanita itu menutup wajah dengan kedua tangan saat menyerahkan buku itu kembali. Tangisnya kembali pecah saat Tiwi mengelus bahunya pelan. Dia menghela napas panjang saat Tiwi dan Pras berpamitan pulang. Wanita itu ikut berdiri dan berusaha mengendalikan kesedihannya.“Boleh peluk, Bu?” Amanda bertanya dengan suara lemah. Dia menumpahkan tangis saat Tiwi memeluknya erat. Sejak ditangkap, menjalani proses sidang hingga hari ini dipenjara di LP khusus wanita, baru kali ini dia mendapat tempat mencurahkan perasaan. “Maafkan saya kalau membawa petaka dalam kehidupan anak Ibu dan Bapak. Tolong, kalau ada doa buruk, tujukan saja pada saya agar Dery tidak ikut menanggungnya juga.”“Sudah ….” Tiwi memijat bahu Amanda saat melepaskan pelukan, berusaha menguatkan wanita itu. “Semua sudah berlalu. Semoga saja apa yang terjadi pada kamu dan Galih saat
Jelita menunduk tersipu saat halaman samping itu ramai oleh suara tawa orangtuanya dan orangtua Langit. Wanita itu berdecak pelan saat melirik Langit yang justru ikut tertawa bersama mereka, seakan membenarkan semua. Dia menghela napas panjang, berusaha mengendalikan diri agar tidak terlihat memalukan karena salah tingkah.“Mereka dekat sudah lama. Kami lihat, begitu-begitu saja tidak ada ujungnya. Kami pikir, alangkah baiknya andai Jelita dan Langit bisa memperjelas status mereka. Keduanya juga bisa fokus dengan usaha dan tidak sungkan kalau harus keluar berduaan terus-terusan.” Awan kembali berbicara setelah tawa mereka reda. “Sebagai orangtua, kami juga berharap demikian, Pak Awan. Apalagi, kami lihat sendiri Langit selama ini sopan dan bisa mengambil hati Bella dan Zaky. Insya Allah, calon pendamping yang baik.” Asep menanggapi. Dia memperhatikan Jelita yang lebih banyak menunduk sejak tadi. “Namun, semua kami serahkan pada Jelita. Apapun keputusannya, insya Allah itu yang terbai