MasukGalih terkenal sebagai seorang family man. Dia sangat menomorsatukan anak dan istrinya dalam hal apapun. Sayang, pengaruh lingkungan kerja yang buruk menyeret Galih pada kehidupan kelam, hingga membuat retak dalam rumah tangganya yang selalu ingin dia jaga.
Lihat lebih banyakAdiknya itu terlihat keren dengan pakaian seperti itu hingga membuat Bella mengangguk dan mengangkat jempolnya. “Ayo turun, Bella tidak sabar melihat Om Langit menjadi pengantin.” Bella terkekeh pelan saat ibunya menoel dagunya.Pulang dari umrah, Bella mantap memutuskan menolak Langit. Lelaki itu baik untuk menjadi pendamping dan baik juga untuk menjadi ayah sambung bagi kedua anaknya. Namun, Jelita merasa kalau Langit bukan jodohnya. Entah kenapa, ada perasaan tidak nyaman setiap kali berjumpa dengan Arsila tanpa sengaja. Hal itu semakin terasa karena setelah umrah, entah bagaimana dia dan Langit semakin sering bertemu dengan Arsila di tempat-tempat yang mereka datangi dan melihat interaksi mereka membuat Jelita tidak nyaman. Semua itu seolah menjadi pertanda bagi Jelita kalau akan ada yang tidak baik kedepan jika dia memaksakan saat di hati masih ada ganjalan.“Terima kasih, Zaky, Bella.” Langit tersenyum lebar saat menerima buket bunga yang sengaja mereka bawa. Lelaki itu lalu me
“Aku juga minta maaf karena tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu dulu. Maaf juga karena sudah sering menyusahkanmu bahkan setelah semua kesalahanku padamu. Aku janji akan hidup lebih baik seperti ucapanmu, demi semua orang yang mengharapkan kesembuhanku.”Hari itu, mereka berdamai dengan takdir yang sudah digariskan bahkan jauh sebelum mereka dilahirkan. Ruangan itu menjadi saksi, tumpahnya air mata atas kesakitan di masa lalu sekaligus juga menjadi titik awal harapan hidup yang baru.Setahun berlalu cepat. Hari itu, Jelita tersenyum lebar saat pembagian raport di sekolah anaknya. Zaky yang tidak pernah serius dalam belajar kalau di rumah juga malas-malasan les pelajaran seperti Bella ternyata menjadi juara kelas. Hal itu jelas menjadi kejutan yang menyenangkan baginya. Dia bahkan sampai bertanya berkali-kali pada wali kelas anaknya kalau-kalau salah menulis nilai.“Sebagian anak memang dilahirkan dengan kelebihan masing-masing, Bu Jelita. Kalau kakaknya dulu, bakatnya di bidang
“Satu … dua … tiga ….”Pintu kamar Galih akhirnya terbuka setelah lima kali didobrak. Pras langsung melepaskan meja kayu yang tadi dia gunakan bersama tetangga untuk membuka paksa pintu kamar anaknya. Mendengar keributan di dalam tadi, dia langsung berlari keluar karena khawatir Galih akan berbuat nekat lagi. Setelah keluar dari rumah sakit dan mengetahui kalau tangannya tidak berfungsi, Galih memang jadi lebih pendiam dan banyak melamun.“Astaghfirullah, bantu angkat, Pak!” Ketua RT yang tadi ikut membantu mendobrak pintu kamar langsung berlari bersama Pras dan yang lainnya menghampiri Galih yang terkapar di lantai. Darah membasahi keramik putih karena Galih memotong urat nadi di tangannya. “Astaghfirullah ….” Ketua RT berkali-kali mengucap istighfar. Dia berusaha menguatkan hati mengangkat Galih ke mobil walau tubuhnya gemetar hebat.Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Tiwi menangis sambil menekan kain di tangan anaknya agar darah tidak terus mengalir. Wanita itu mengelus wajah
Penghuni sel yang lain melambaikan tangan pada Amanda. Ini tahun ke delapannya di penjara. Dia yang paling lama disana dibandingkan dengan dua yang lainnya. Mereka bertiga mengeluarkan uang cukup besar agar Amanda ditempatkan di sel mereka. Sudah menjadi rahasia umum kalau anak baru akan menjadi rebutan penghuni sel lain yang sudah tahunan dan sudah jarang dijenguk keluarga.Alasannya karena anak baru biasanya masih sering dijenguk dan dibawakan makanan. Artinya, mereka bisa ikut mencicipi variasi makanan selain yang disediakan oleh pihak LP yang seringnya tidak ada rasa. Apalagi, yang dipenjara ini simpanan pejabat. Mereka jelas mempunyai ekspektasi tinggi kalau Amanda akan sering mendapat asupan makanan dari keluarganya sehingga mereka ringan saja merogoh kocek cukup dalam agar Amanda bisa berada satu sel bersama mereka.Namun, harapan hanya tinggal harapan. Jangankan makanan, sejak pertama kali datang, Amanda bahkan baru dibesuk dua kali dengan hari ini. Itupun berakhir dengan dera
“Ting!”Suara pintu lift tertutup membawa kesadaran Amanda kembali. Wanita itu menahan napas saat mendengar suara langkah kaki mendekat. Dia mengumpat dalam hati, kenapa tadi tidak langsung masuk ke dalam lift sehingga tidak terjebak masalah disini. Amanda menghela napas panjang, berusaha menenangk
Dia akan perlihatkan pada rekan kerjanya kalau Amanda jelas tidak tampil seperti LC. Wanita itu hadir berkelas, dan mereka terlihat sangat serasi. Galih yakin sekali kalau rekan satu divisinya yang selalu mengejek dan mengolok-oloknya selama di kantor akan terpana melihat penampilan Amanda malam in
Aroma sup jagung dan telur dadar yang masih mengepul menyambut Galih saat duduk di meja makan. Perutnya yang keroncongan semakin meronta dan berbunyi kencang sehingga membuat dia tersipu malu mendengar suara tawa Amanda. Lelaki itu langsung menyantap habis makanan yang disajikan oleh Amanda. Tubuhn
Dia sedang menanti kabar dari Nina apa besok malam deal tanggal agar dia bisa ditemani oleh Amanda. Membayangkan wanita yang dengan sengaja mengibarkan bendera perang padanya membuat Jelita tidak sabar menunggu esok malam tiba.Sementara disini, Galih terpaku di tempatnya. Rumah itu terasa dingin.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak