Share

Bab 8

Author: Nilamwangi
last update Huling Na-update: 2025-10-04 10:04:18

"Loh, kok kamu bertanya seperti itu? Apa kamu merasa tidak senang kalau Mama berkunjung kemari, kerumah anak dan menantu Mama sendiri? Kalau memang kamu tidak mau Mama datang kemari, lebih baik sekarang Mama pulang aja!" kata Cantika pura-pura bangun dari tempat duduknya.

"Eh, maaf Ma! Bu-bukan begitu maksud aku! Aku senang kok kalau Mama mau datang kemari! Tapi tumben, Mama kok bisa datang pagi-pagi kesini? Biasanya kan, Mama itu selalu sibuk!" jawab Sofian, sambil memegangi tangan Cantika yang hendak berdiri.

"Oh, begitu? Mama fikir tadi kamu itu nggak suka kalau Mama datang kerumah baru kamu ini!" Cantika pura-pura sewot.

"Mana mungkin aku tidak menyukai kedatangan Mama kemari? Rumah ini saja pemberian Mama dan Papa untuk kami berdua! Jadi kalian bebas kok mau datang kesini sesuka hati." Sofian berusaha menyenangkan hati sang Mama.

"Mama cuma mau ngasih kunci mobil punya kamu ini! Biar kamu nggak marah-marah dan mengomel lagi seperti kemarin!"

Cantika berkata sambil meletakkan kunci mobil milik sofian, diatas meja yang ada dihadapannya.

Melihat itu, Sofian tersenyum senang sambil meraih kunci yang tadi diletakkan oleh Cantika.

"Nah, gitu dong Ma! Masa aku harus mengurung diri terus dirumah ini tanpa bisa pergi kemana-mana!"

Sofian menatap Mamanya dengan wajah sumringah.

"Tapi ingat, walaupun kamu sudah bisa bepergian dengan menggunakan mobilmu, kamu jangan keluyuran! Hilangkan kebiasaanmu yang suka pulang pergi tanpa ingat waktu! Kamu itu sudah memiliki istri sekarang ini, jadi jangan kamu biarkan istrimu Laras menunggumu sampai tengah malam! Kamu harus bisa menjadi suami yang bertanggung jawab, dan tidak perlu lagi kamu pergi ketempat tongkrongan kamu yang nggak jelas seperti biasanya." Cantika menasehati Sofian panjang lebar.

Sedangkan yang dinasehati malah membuang muka dan memutar bola mata malas.

Menurut Sofian, Cantika itu selalu memperlakukan dirinya seperti anak kecil yang sama sekali tidak tau aturan.

"Iya, Mamaku yang paling cantik! Aku akan ingat pesan Mama! Dan tidak akan keluyuran seperti biasanya! Lagian aku cuma akan pergi disaat aku mau kerja saja kok!" tegas Sofian, sambil menatap wanita yang telah melahirkannya itu.

"Oh iya, Laras! Selepas Mama dan Papa pulang kemarin, apa Sofian bersikap baik padamu atau sebaliknya?" tanya Cantika seraya menoleh kearah sang menantu.

Sofian pun menatap tajam kearah istrinya yang terlihat gugup.

"I-iya Ma! Mas Sofian baik kok sama aku!" jawab Laras berbohong.

Sofian menghela nafas lega, ternyata istrinya itu bisa diajak kerja sama.

Laras sama sekali tidak mengatakan, kalau sebenarnya dari kemarin suaminya itu, selalu saja menyakiti perasaannya dengan perkataan-perkataan yang kurang baik.

"Syukurlah kalau begitu! Mama sangat bahagia mendengarnya! Semoga kedepannya kalian berdua akan hidup rukun dan saling mencintai!" harap Cantika tersenyum tulus.

Wanita itu sama sekali tidak tau kalau anaknya itu sudah menghina dan merendahkan Laras.

"Pasti dong Ma! Mama tidak perlu khawatir kalau soal itu! Aku akan memperlakukan istriku sebaik mungkin!" ucap Sofian lembut, namun tatapan matanya begitu dingin kearah sang istri.

Laras hanya menundukkan wajahnya, saat melihat Sofian menatapnya begitu rupa.

"Ya sudah kalau begitu! Mama mau pulang dulu, karena masih banyak pekerjaan yang harus Mama lakukan! Kalian baik-baik ya disini? Dan jangan sungkan-sungkan kalian menghubungi Mama kalau kalian berdua butuh sesuatu!" ujar Cantika.

"Dan kamu Laras! Jika Sofian melakukan hal yang buruk terhadap kamu, kamu harus segera memberitahukannya pada Mama! Biar Mama kasih pelajaran sama anak Mama yang satu ini!" sambungnya lagi, sambil menatap lembut pada Laras.

Laras menanggapi perkataan mertuanya itu dengan tersenyum simpul.

"Insya allah Ma! Mas Sofian tidak mungkin berbuat buruk terhadapku, karena aku yakin kalau Mas Sofian ini adalah sosok lelaki yang baik dan bertanggung jawab!" Laras menjawab pelan seolah ia sedang menyindir suaminya.

Sofian hanya membuang pandangannya kearah lain, ia merasa kalau istrinya itu sedang mencari simpati dari orang tua kandungnya tersebut.

"Dasar perempuan licik!" desisnya, membuat Cantika melihat kearahnya dengan kening berkerut.

"Tadi kamu bilang apa Sofian! Mama kurang jelas mendengarnya." tanya Cantika.

Mendapatkan pertanyaan dari Mamanya itu, Sofian hanya tersenyum kikuk sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tiba-tiba gatal.

"Nggak kok Ma! Aku tidak berbicara apa-apa! Mungkin Mama hanya salah dengar!" kilah Sofian.

Cantika hanya mengedikkan bahu, kemudian ia berjalan kearah pintu depan, dan tujuannya saat ini adalah pulang kerumahnya sendiri.

"Mama pulang naik apa?" tanya Sofian, yang melihat Ibunya berjalan kearah jalan tanpa menunggu dijemput oleh supir pribadi Papanya.

"Mama pulang naik taksi!" Cantika menjawab singkat pertanyaan putranya itu.

"Tunggu sebentar Ma! Mama tidak perlu naik taksi, aku yang akan mengantar Mama pulang kerumah!" ujar Sofian sambil berlari mendekati mobilnya.

Cantika sama sekali tidak menolak tawaran putranya itu, perempuan itu naik kedalam mobil, setelah Sofian membawa mobil miliknya itu kehadapan Cantika.

Cantika masuk kedalam mobil, sambil tersenyum kecil kearah Laras yang berdiri sendirian diteras rumah.

Setelah itu, mobilpun melaju meninggalkan pekarangan rumah milik kedua pengantin baru tersebut.

Setelah kepergian suami dan juga mertuanya, Laras melanjutkan pekerjaannya membersihkan rumah.

Saat ia melewati kamar Sofian yang pintunya sedikit terbuka, Laras bisa melihat kalau kondisi kamar sangatlah berantakan.

Wanita itu pun masuk kekamar tersebut dan membereskan kamar milik suaminya.

Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, saat  menyaksikan betapa joroknya kamar laki-laki yang telah mempersuntingnya itu.

Guling, bantal, dan juga selimut yang berserakan, begitu pula pakaian kotor yang diletakkan begitu saja diatas tempat tidur.

Belum lagi tisu dan kertas yang dirobek, menambah kesan kotor lantai yang terlihat lengket akibat kopi yang tertumpah.

Laras menghembus nafas kasar, kala melihat tempat tidur Sofian lebih mirip gudang daripada disebut sebuah kamar.

Tidak menghabiskan waktu lama, Laras sudah selesai membereskan kamar tersebut, sehingga kamar itu kembali terlihat rapi dan juga bersih.

Saat Laras hendak keluar dari kamar itu, ia melihat ada sesuatu menyembul dari laci meja suaminya yang tidak tertutup dengan benar.

Laras pun mendekati laci tersebut dan mengambil apa yang dilihatnya didalam laci milik suaminya itu.

"Kotak cincin! Mengapa Mas Sofian menyimpan kotak cincin ini!" monolognya.

Wanita itu membuka kotak tersebut dan ia bisa melihat, kalau ada sebuah cincin didalam kotak yang penampilannya terlihat sangat mewah.

Cincin itu terbuat dari berlian yang sangat cantik dan ukurannya tidak beda jauh dengan ukuran cincin perkawinan yang melingkar dijari manisnya.

"Kenapa Mas Sofian menyimpan cincin ini, ya? Dan cincin ini milik siapa? Tidak mungkinkan, Mas Sofian menyimpan cincin punya Mama disini?" Laras terus bertanya-tanya dalam hati sambil menimang-nimang cincin itu ditangannya.

Saat Laras sedang sibuk memikirkan tentang cincin itu, tiba-tiba saja satu tangan menarik kotak cincin yang sedang ia pegang dengan sangat kuat, membuat wanita berparas cantik itu tersentak kaget.

"Lancang kamu ya! Beraninya kamu menyentuh barang-barang pribadi milikku?" Sebuah suara yang sangat ia kenal itu, berhasil membuat wajah Laras pucat seketika.

Bersambung...

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Jejak Lara Setelah Perceraian.   Bab 70

    Hilda membuka pintu mobil. Dengan pelan wanita itu turun dari mobilnya, sambil menatap heran kearah Laras dan laki-laki yang masih duduk didalam mobil, yang terparkir dipinggir jalan depan rumahnya tersebut.Wanita itu merasa penasaran. Siapa orang yang mengantar Laras, sehingga sahabatnya itu, memintanya untuk tidak perlu menjemput saat ia pulang?"Laras, kok kamu sudah pulang? Bukannya biasa jam segini kamu masih kerja?" tanya Hilda sambil menatap sahabatnya.Dan pertanyaan tersebut hanya ditanggapi senyum lembut dari Laras.Saat tatapan mata Hilda bertubrukan dengan Arga, wanita seksi itu terlihat terkejut. Kemudian ia tersenyum.Begitupun dengan Arga. Pria itu tertegun saat melihat Hilda, tapi kemudian ekpresi wajahnya kembali datar.Wanita berkulit kuning langsat itu kembali melihat kearah Laras. Dan kemudian ia bertanya."Dia siapa Laras? Pacar baru kamu?" ucap Hilda. Membuat Laras mendelik kearahnya."Kamu itu apa-apaan sih, Hilda? Pak Arga itu pemilik restaurant tempat aku bek

  • Jejak Lara Setelah Perceraian.   Bab 69

    Arga melajukan kendaraannya. Berbaur dengan kendaraan-kendaraan lain yang memadati jalanan.Sesekali ia menoleh dan menatap Laras. Namun Laras terlihat sama sekali tidak terusik.Wanita itu hanya diam saja, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu yang sangat memberatkan fikirannya."Eheemm... "Arga berdehem untuk menarik perhatian Laras.Dan seperti yang ia inginkan. Wanita yang duduk disampingnya tersebut menoleh dan menatap kearahnya."Bapak kenapa? Sakit tenggorokan?" tanya Laras.Laki-laki itu meringis, karena mendengar pertanyaan Laras yang terkesan polos."Kamu itu dari tadi kenapa diam saja? Apa kamu tidak suka kalau aku yang mengantar kamu pulang?" tanya Arga sambil terus menatap jalanan.Pertanyaan dari Arga membuat Laras menjadi kikuk.Ia baru menyadari kalau sedari tadi dirinya mengacuhkan Arga, dan sama sekali tidak memperlihatkan wajah ramahnya, seperti biasa.Laras jadi merasa tidak enak terhadap bosnya itu."Mm... Maaf Pak! Bukan begitu! Tapi saya tidak tau mau ngobrol t

  • Jejak Lara Setelah Perceraian.   Bab 68

    Satu minggu kemudian. kehidupan Laras berjalan seperti biasanya. Seperti hari ini. Gadis itu sedang sibuk mengelap meja dan terlihat fokus dengan pekerjaannya bersama teman-temannya yang lain. Meskipun wajahnya masih terlihat murung. Kenangan terakhir yang diberikan oleh mantan suaminya, masih terus menari-nari didalam ingatan Laras. "Eh, Laras! Aku dengar-dengar, hari ini pemilik restaurant ini akan datang! Aku senang banget loh!" ujar salah satu temannya Laras. Sesama pelayan. Perkataan temannya itu, membuyarkan lamunannya terhadap Sofian. Laras menoleh pada temannya yang bernama Anita tersebut. Ia mengernyitkan keningnya, namun terus saja mengerjakan pekerjaannya. Hanya bola matanya saja yang menatap kearah Anita. Laras melihat temannya yang satu itu, terlihat sangat bersemangat. Berbeda dengan hari-hari biasanya. "Memangnya kenapa, Nit? Bukannya wajar ya, kalau pemilik restaurant itu datang dan mengunjungi restaurantnya sendiri?" jawab Laras. Seraya tersenyum kearah Anit

  • Jejak Lara Setelah Perceraian.   Bab 67

    Pagi ini, Laras kembali bersiap-siap untuk berangkat ke restaurant tempatnya bekerja.Saat ia sedang menatap wajahnya dicermin.Wanita itu teringat lagi dengan kejadian kemarin malam, dimana saat preman-preman yang dijumpainya dijalanan hampir saja menodainya.Laras sama sekali tidak bisa membayangkan kalau hal itu sampai terjadi padanya. Dan apa jadinya, kalau kelima preman itu berhasil merenggut kesuciannya waktu itu?Tidak ingin berlama-lama dikamarnya, Laras segera keluar dan berjalan kedapur.Sesampai disana, Laras melihat Hilda sedang membuatkan dua gelas susu untuknya dan juga dirinya sendiri.Saat pandangannya bertubrukan dengan Laras, Wanita itu tersenyum kecil.Hilda membawa susu tersebut ke meja makan. Dan tidak lupa pula ia menyiapkan Roti tawar didalam piring, untuk sarapan paginya bersama sahabatnya tersebut."Laras! Aku minta maaf, ya? Kemarin malam aku lupa mengecas ponselku. Jadi, saat kamu menghubungiku, aku sama sekali tidak tau! Lagipula aku juga ketiduran" ujar Hi

  • Jejak Lara Setelah Perceraian.   Bab 66

    Cantika menatap kearah kamar Sofian. Dan sekali lagi ia mendorong pintu tersebut sampai terbuka lebar.Ia menatap ponsel Sofian yang tergeletak diatas tempat tidur, dengan dering yang sama sekali belum berhenti. Karena suaminya masih melakukan panggilan.Perempuan itu segera meraih benda pipih tersebut dan membawanya keluar dari kamar."Pa, ponsel Sofian tertinggal dikamar! Mana mungkin kita bisa menghubunginya." ucap Cantika. Sambil memperlihatkan ponsel itu pada suaminya.Burhan tertegun dan segera memutuskan panggilan telfonnya."Bagaimana ini, Pa?" tanya Cantika dengan raut wajah cemas."Mama takut terjadi apa-apa dengan anak kita! Papa kan lihat tadi, foto Sofian jatuh dengan sendirinya." sambungnya lagi."Astaghfirullahal'azdim... Ma! Kenapa Mama bisa punya fikiran seperti itu? Bisa saja foto itu terjatuh karena pakunya sudah tidak menancap dengan kuat! Jadi, Mama jangan berfikir aneh-aneh seperti itu! Tidak baik Ma." ujar Burhan. Menenangkan istrinya.Padahal, fikirannya sendir

  • Jejak Lara Setelah Perceraian.   Bab 65

    Sofian yang saat ini jatuh terduduk ditanah. Hanya meraba bagian keningnya yang terasa sangat sakit.Tiba-tiba ia merasa kalau telapak tangannya basah, dan pandangannya buram.Laki-laki itu menggelengkan kepalanya berulang kali.Preman yang saat ini menatap kearahnya tertawa senang."Mampus lo! Makanya, jangan coba-coba ikut campur urusan kami, hahaha... "Ujar preman itu sambil tertawa."Siapa suruh lo jadi pahlawan kesiangan?" sambungnya lagi."Eh goblok, ini tengah malam bukan siang! Dasar tolol!" maki salah satu temannya yang berada dibelakang, kemudian temannya itu kembali mengaduh kesakitan."Nggak nyambung! Lo lebih goblok. Memangnya lo pernah dengar, ada yang namanya pahlawan kemalaman?" protes temannya satu lagi."Diam kalian semua! Berisik!" teriak kepala preman. Yang juga tergeletak diantara teman-temannya."Wooii... Lo hajar terus itu laki-laki sialan! Berani-beraninya dia membuat kita babak belur seperti ini! Kenapa lo masih diam aja? Takut lo...?" sambungnya lagi.Preman

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status