LOGIN"M-Mas Sofian!" ujar Laras lirih seraya menatap laki-laki yang sudah berdiri disampingnya.
"Sudah aku katakan padamu! Jangan pernah berani masuk kekamarku tanpa izin, apa kamu tidak mengerti? Apalagi sekarang kamu dengan beraninya menyentuh barang-barangku! Ternyata, selain tidak punya harga diri, kamu juga tidak punya etika dan juga tata krama?" ucap Sofian dengan nafas naik turun karena menahan amarah. "Ma-maaf Mas! Aku cuma ingin membersihkan kamarmu yang sangat berantakan." jawab Laras takut-takut. Sofian menarik tangan Laras, dan mencengkeramnya dengan sangat kuat. "Aaww... Sakit Mas!" pekik laras. "Apa aku meminta pertolonganmu? Dan apa aku juga pernah menyuruhmu untuk membereskan kamarku? Tidak, bukan? Lantas, kenapa kamu beraninya masuk kekamarku disaat aku tidak ada? Kamu itu benar-benar wanita yang tidak punya sopan santun! Sekarang cepat keluar dari kamarku, karena aku tidak ingin lagi melihat wajahmu!" Sofian menatap wajah istrinya dengan tatapan angkuh. Lalu laki-laki itu melepaskan cengkraman tangannya pada lengan Laras dengan cara menghentak kasar. Sampai-sampai, wanita itu hampir saja terjatuh kalau tidak bisa mengimbangi tubuhya. Laras hanya menatap Sofian dengan air mata yang mulai menetes dipipinya. Melihat hal itu bukannya Sofian merasa kasihan pada istrinya, tapi ia malah berdecak sebal. "Ck... Kamu tidak perlu menangis seperti itu dihadapanku, karena aku tidak akan iba melihatmu menangis! Yang ada, aku malah semakin muak! Cepat pergi dari sini, atau aku tidak segan-segan melakukan kekerasan padamu!" Sofian berbicara sambil memalingkan muka kearah lain. Tanpa menunggu lama lagi, Laras segera keluar dari kamar suaminya dengan hati yang terasa sakit. Setelah kepergian Laras, Sofian menatap kotak cincin yang ada ditangannya lalu tersenyum kecut, ada rasa perih saat melihat cincin yang sengaja dia simpan tersebut. Sofian segera memasukkan kembali cincin itu kedalam laci mejanya, lalu ia berjalan kearah pintu kamar dan menutup pintu itu rapat-rapat. Sementara itu, laras yang berlari kekamarnya hanya memegang dadanya yang terasa sesak, akibat menahan tangis. "Sampai kapan aku akan diperlakukan begini terus oleh suamiku sendiri? Untuk apa kamu menerima pernikahan kita kalau kamu tidak bisa menerima aku dirumah ini, Mas Sofian?" ucap Laras lirih, disela-sela tangisnya. "Nggak! Aku nggak boleh begini terus! Aku harus bisa menghadapi sikap Mas Sofian yang kasar terhadapku! Karena aku harus tetap mengerjakan kewajibanku sebagai istri, walaupun Mas Sofian tidak terima! Mungkin inilah perjuanganku didalam rumah tanggaku sendiri!" ujar Laras. Wanita itu mencoba membesarkan hatinya sendiri. "Kamu pasti bisa Laras! Kamu pasti bisa mendapatkan hati suamimu!" sambungnya, sambil menyeka air mata yang sudah membasahi wajahnya. Sedangkan didalam kamarnya, Sofian hanya duduk dijendela kamar sambil menatap keluar rumah, laki-laki itu sebenarnya menyesal karena sudah berkata kasar terhadap istrinya tadi. Tapi ia menepis perasaan menyesal tersebut, karena ia menganggap Laras pantas mendapatkan perlakuan seperti itu, sebab wanita itu sudah berani masuk kekamarnya tanpa izin darinya. Laki-laki itu meraih gawainya yang ia letakkan diatas meja yang tidak jauh dari tempat duduknya saat ini. Sofian menekan nomor seseorang, lalu ia menempelkan benda pipih itu ditelinganya. Tidak lama kemudian, terdengar suara sambungan telefon dan panggilan pun diangkat oleh seorang laki-laki diseberang sana. "Hallo! Bro... Tumben lo nelfon gua! Ada masalah apa?" tanya seorang laki-laki yang mengangkat panggilan telefon dari Sofian. "Nanti malam lo ada acara nggak?" Sofian balik bertanya dengan suara datar. "Hehehe... Sepertinya lo sedang punya masalah! Kebetulan gua lagi nggak ada acara! Memangnya kenapa?" laki-laki diseberang sana kembali bertanya disertai kekehan, yang membuat Sofian berdecak kesal. "Ck... Kalau lo nggak punya acara, temani gua ditempat biasa!" jawab Sofian. "Oke... Gua tunggu lo ditempat biasa!" ucap suara diseberang. Kemudian, Sofian pun memutuskan sambungan telefonnya. ***** "Lo bodoh atau gimana sih? Masa istri cantik begitu belum lo sentuh? Kalau gua sih, udah gua embat aja! Masalah cinta itu urusan belakangan, yang penting gua bisa merasakan gimana rasanya malam pertama dengan wanita yang udah gua nikahi." ujar Aldo saat Sofian mengatakan belum bisa menyentuh istrinya. Aldo adalah sepupu Sofian, anak dari kakak laki-laki Cantika. "Gua bukan seperti lo, yang bisa menerima siapapun menjadi istri meskipun tanpa cinta! Lo tau sendirikan, kalau gua adalah tipe lelaki yang setia pada satu cewek." jawab Sofian mantap, sambil menatap sepupu sekaligus sahabatnya itu. "Terus sampai kapan, lo akan nungguin perempuan yang lo cintai itu? Sampai karatan pun lo belum tentu bertemu lagi dengan wanita yang udah ninggalin lo itu?" ledek Aldo. "Sampai kapan pun gua akan menunggunya Do, bila perlu gua akan menunggunya seumur hidup gua." Sofian menjawab pertanyaan Aldo sambil menghela nafas pelan. Aldo hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan sepupunya itu. "Fian! Sekarang mendingan lo lupain aja cewek lo itu, karena nggak ada gunanya lo mengharap seseorang yang udah ninggalin lo tanpa kabar seperti itu?" pria yang duduk dihadapan Sofian itu, mencoba memberi saran. Supaya sepupunya itu tidak terus mengharapkan suatu hal yang tidak pasti. "Lo bisa bicara seperti itu, karena lo sama sekali tidak pernah merasakan gimana jadi gua, ditinggal secara tiba-tiba disaat gua sedang sangat mencintainya! Kalau lo berapa diposisi gua, pasti lo akan tau gimana perasaan gua saat ini!" Sofian berbicara dengan suara pelan, terlihat jelas ada raut kekecewaan diwajah laki-laki tampan itu. Aldo pun hanya menghembuskan nafasnya, ia sangat mengerti bahagaimana perasaan sepupunya saat ini, apalagi dia juga tau kalau Sofian dan kekasihnya Celina, dulunya sama-sama saling mencintai. Namun entah mengapa tiba-tiba saja wanita itu pergi meninggalkan Sofian? Tanpa memberi kabar apapun pada kekasihnya itu. Jelas saja laki-laki itu sangat terpukul dengan kejadian itu, apalagi Sofian sudah berencana ingin menikahi wanita cantik itu secepatnya. Namun kepergian Celina, menciptakan luka yang begitu dalam dihati Sofian. "Gua sangat tau gimana perasaan lo fian! Justru itu gua tidak mau melihat lo kecewa untuk yang kedua kalinya! Kalau Celina benar-benar mencintai lo waktu itu, dia nggak akan mungkin meninggalkan lo seperti ini!" Aldo masih berusaha mencoba membuka mata hati Sofian. "Dan satu lagi yang perlu lo ingat! Nyokap dan bokap Lo sudah menjodohkan lo dengan seorang wanita yang menurut mereka pantas mendampingi lo! Gua yakin mereka melakukan ini juga ada sebabnya! Dan mungkin mereka sudah tau kalau perjodohan itu adalah hal yang terbaik untuk hidup lo!" ujarnya lagi. Sofian menatap tajam kearah Aldo. "Jadi, maksud lo! Gua harus menerima wanita yang sama sekali tidak gua cintai untuk mendampingi gua seumur hidup, gitu? Lo itu aneh ya Aldo. Memangnya lo fikir gua bisa hidup dengan perempuan yang menikah sama gua karena pengen hidup enak dengan harta keluarga gua? Coba lo fikir baik-baik! Mana ada wanita yang mau menikah dengan seorang laki-laki yang belum dia kenal, kalau bukan karena mengharapkan sesuatu dari laki-laki itu!" Sofian mengomel panjang lebar. "Lo terlalu berburuk sangka pada istri lo, sofian?" ucap Aldo sambil bersandar disandaran kursi yang didudukinya. "Udahlah Aldo! Gua suruh lo datang kesini buat ngajakin lo bicara, supaya lo bisa ngasih gua solusi! Bagaimana caranya gua bisa terbebas dari pernikahan yang sama sekali tidak gua harapkan ini! Bukan malah menyuruh gua untuk bisa menerima wanita itu didalam hidup gua. Kalau begini ceritanya, lebih baik lo pulang aja sana! Ngapain juga lo berada disini, kalau pendapat lo itu sama saja dengan pendapat kedua orang tua gue!" Sofian mengusir Aldo dengan wajah masam. Aldo hanya tersenyum kecil, bangun dari tempat duduknya, lalu ia menatap sepupunya itu dengan tatapan serius. "Lebih baik lo pertimbangkan lagi saran dari gua! sebelum lo menyia-nyiakan wanita yang sudah sah menjadi milik lo. Dari pada nanti lo akan menyesal dan lo akan mengejar-ngejar dia! Karena istri lo itu akan menjadi wanita yang paling berharga, dan mungkin saja akan lo kenang seumur hidup lo!" bisik Aldo, sebelum laki laki itu melangkah pergi meninggalkan Sofian yang menatapnya dengan wajah dongkol. Laki-laki itu bahkan sempat melempar Aldo dengan tisu bekas yang ada diatas meja. Selepas kepergian Aldo, Sofian pun meninggalkan Cafe favorit, yang selalu menjadi tempat tongkrongan kedua laki-laki itu disaat mereka saling curhat.Setelah melaksakan sholat isya. Sofian merasakan hatinya sedikit lebih tenang.Namun ia sama sekali tidak beranjak dari tempat duduknya saat ini.Pria paruh baya yang bertemu dengannya tadi pun selalu memperhatikan dirinya dari jarak beberapa langkah.Tidak lama kemudian, pria itu bangun dan mendekat kearah tempat duduk Sofian.Saat melihat laki-laki yang berumur lebih tua dari Papanya itu, Sofian berusaha tersenyum.Dan disambut dengan senyuman hangat dari laki-laki itu.Setelah pria paruh baya itu dekat dengan Sofian, ia duduk dihadapan laki-laki tampan tersebut."Nak, maaf jika Bapak sedikit ingin bertanya? Masalah apakah yang sedang kamu hadapi, karena dari tadi Bapak perhatikan, kamu terlihat seperti orang yang sedang banyak fikiran?" tanya pria paruh baya itu, sambil menatap pada Sofian.Sofian mengangkat wajahnya, dan membalas tatapan laki-laki itu."Saya sedang mendapatkan sebuah karma, Pak! Dari kesalahan yang telah pernah saya perbuat." ujar Sofian sambil meraup wajahnya den
Sofian mengambil pakaian dan handuk kecil yang ada ditangan Laras, kemudian ia melemparnya diatas tempat tidur, tepat disamping perempuan cantik itu.Ia menarik tangan kiri gadis tersebut, membuat wanita bertubuh semampai itu terkejut, dan menatap padanya."Mas." ujar perempuan berhidung mancung itu, dengan suara tertahan.Sofian memegang tangan Laras dan memperhatikan cincin berlian yang saat ini ada ditangan wanita itu, dengan perasaan campur aduk.Rahangnya mengeras, dan bola matanya kembali berkaca-kaca.Baru saja ia merasakan sedikit kebahagiaan dengan sikap Laras yang memeluknya dengan kasih sayang.Tapi sekarang...Saat melihat cincin berlian yang menghiasi jari tangan wanita itu, perasaan Sofian bagaikan dihempas begitu saja. Hancur berkeping-keping.Pria itu sadar, bahwa cincin yang ada ditangan Laras saat ini bukanlah cincin biasa.Cincin itu adalah sebuah cincin pertunangan, yang diberikan oleh seseorang kepada perempuan yang namanya masih terus menghiasi hatinya tersebut.
Dengan terangnya ruangan yang ada didalam kamar tersebut, Laras bisa melihat dengan jelas bahwa yang sedang terbaring disampingnya itu adalah Sofian.Pria itu pun merasa sedikit kaget saat melihat Laras. Namun kemudian raut wajahnya terlihat biasa saja.Berbeda dengan Laras. Bola mata wanita itu terbelalak lebar dan dari mulutnya keluar suara teriakan yang keras."Aaaa... Hantuuu..."Perempuan itu segera bangun dan meringsut turun dari tempat tidur, bahkan ia berusaha lari kearah pintu.Namun dengan cepat Sofian bangun dan menangkap pergelangan tangan wanita itu.Perbuatan Sofian tersebut membuat Laras semakin ketakutan.Ia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Sofian, tapi yang ada malah tubuhnya terlihat lemah dan tidak bertenaga.Akhirnya Laras ambruk disisi tempat tidur. Dan menangis terisak-isak.Sofian hanya menatap mantan istrinya itu dengan raut wajah kebingungan."Pergi Mas, tolong jangan ganggu aku! Aku tau kalau aku bersalah karena telah berani menempati kamarmu ini
Hari ini, Sofian berpamitan pada Zulfikar dan juga kedua orang tuanya.Laki-laki itu berniat kembali pulang pada keluarganya yang berada dikota.Ia merasa, dalam tiga bulan tinggal bersama keluarga Pak Bustami, sudah banyak memberinya pelajaran hidup.Pria tampan itu bisa belajar menghargai orang lain dan mengerti bagaimana hidup dalam kesusahan.Dengan membantu Pak Bustami dan Zulfikar yang selalu banting tulang dalam urusan mencari rezeki. Kini Sofian tau, betapa beruntung dirinya yang merupakan anak seorang pengusaha.Ia berjanji pada dirinya sendiri, setelah urusannya selesai, ia akan membawa Zulfikar kekota dan memberikan pria itu pekerjaan, sebagai ucapan terimakasihnya karena pemuda itu sudah bersikap baik terhadapnya selama ini.Dengan menggunakan sepeda motor butut milik Bapaknya, Zulfikar mengantar Sofian keterminal.Setelah Sofian sampai diterminal, Zulfikar melepas pria itu dengan sebuah pelukan hangat.Pada diri Sofian, pemuda itu merasakan kehadiran sosok seorang kakak y
Setelah menyaksikan hal yang sangat mengejutkan tersebut. Aldo segera keluar dari kamarnya untuk menemui sang Mama."Ma, Mama...??" panggil Aldo dengan suara keras, membuat hana terkejut dan melihat kearah Aldo yang berjalan kearahnya dengan setengah berlari."Iya, Ada apa Nak? Kenapa kamu terlihat panik seperti itu" tanya perempuan paruh baya berwajah ayu tersebut.Aldo segera menyodorkan bingkai foto yang ada ditangannya pada Ibu kandungnya itu."Coba lihat foto ini, Ma!" ujar Aldo.Hana menerima foto yang disodorkan oleh putranya itu, kemudian ia menatapnya dengan kening mengernyit.Setelah memperhatikan beberapa saat, ia menatap Aldo dengan wajah bingung."Ini kan foto kenanganmu dengan Sofian? Memangnya ada apa, Nak? Kamu jangan bikin Mama penasaran kayak gini deh." kata Cantika kemudian."Coba Mama perhatikan lengan Sofian Ma! Sofian memiliki tanda lahir didekat sikunya kan, Ma?" tanya Aldo. Tatapannya lurus pada Hana."Oo... Kalau itu memang iya! Dia memang memiliki tanda Lahir
Keesokan paginya. Sofian yang baru saja bangun, melihat Pak Bustami tidur diruang tengah rumahnya sambil berselimutkan kain tebal.Ia mendekati laki-laki paruh baya yang sudah menolongnya tersebut dan menyentuh bahunya.Sofian merasakan tubuh Pak Bustami panas, dan itu berarti pria itu sedang sakit demam."Pak, Bapak sakit? Dan kenapa Bapak tidur diluar? Ibu mana Pak?" tanya Sofian."Ada Nak! Itu, Ibu ada didapur!" jawab Pak Bustami.Tubuhnya terlihat menggigil.Tidak lama kemudian, Bu Hasnah datang dari dapur sambil membawa air es didalam baskom kecil dan juga segelas teh hangat."Bu, Bapak demam?" Tanya Sofian pada Bu Hasnah."Iya, Nak Sofian!" jawab Bu Hasnah sambil duduk disamping suaminya yang sedang berbaring."Ini Pak, diminum dulu teh hangatnya, biar badan Bapak enakan!" ujar Bu Hasnah."Baik Bu!" jawab Pak Bustami. Seraya bangun dari pembaringan.Pria paruh baya itu meminum beberapa teguk teh hangat yang diberikan oleh istrinya.Sofian menatap Pak Bustami yang wajahnya sediki
Laras sedang sibuk melayani pelanggannya seperti biasa.Saat ia mendekati sebuah meja yang dipenuhi oleh beberapa ibu-ibu yang berpenampilan glamour, laras sedikit tertegun.Karena diantara para Ibu-ibu itu, terlihat Cantika, mantan mertuanya.Saat Cantika menatap pada Laras, perempuan paruh baya i
Disebuah desa yang jauh dari kota. Terdapat sebuah rumah sederhana, yang kiri kanannya dikelilingi sawah yang dipenuhi oleh padi yang sedang menguning.Dari rumah itu, keluarlah seorang laki-laki paruh baya, menggunakan baju kaos putih yang sudah longgar, dengan sarung terlilit dipinggangnya.Laki-
Setelah mengantarkan Laras, Sofian pulang kerumah orang tuanya. Namun laki-laki itu tidak langsung masuk kedalam rumah. Ia memilih duduk diteras sambil memandangi langit yang dipenuhi bintang dan cahaya bulan. Pemandangan langit yang indah itu, tidak mampu menutupi perasaannya yang gelisah.
"Laras. Tunggu Laras! Mas ingin berbicara denganmu sebentar saja!" pinta Sofian. Laki-laki itu mengejar Laras yang berusaha menghindar darinya. Laras sama sekali tidak menggubris perkataan Sofian, ia terus berlari meninggalkan laki-laki itu.Tapi Sofian tidak tinggal diam. Ia justru berlari ken







