Masuk
Di awal usia dua puluhannya, Kai tumbuh besar di sebuah dusun nelayan sederhana di pesisir Kepulauan Rerempahan. Hidupnya dikelilingi bau asin laut, jala-jala ikan, dan perahu kayu yang terombang-ambing.
Namun, hatinya justru lebih terpaut pada hutan lebat di belakang desa—tempat yang selalu memanggilnya dengan cara yang tak pernah bisa ia jelaskan sepenuhnya. “Hutan itu bicara padaku, Ayah,” ucap Kai kecil suatu hari, menunjuk rimbun pepohonan yang menjulang gelap di kejauhan. Sejak kecil, Kai merasakan hubungan yang aneh dengan alam. Bukan sekadar kekaguman pada pohon tinggi atau kicau burung, melainkan sesuatu yang lebih dalam. Ia tidak “mendengar” dengan telinga, tetapi dengan perasaan—resonansi emosi dan energi yang mengalir dari setiap sudut hutan. “Mereka bernyanyi, Ibu,” bisiknya suatu senja. “Tentang langit dan bumi.” Desiran angin di sela dedaunan membawa kegembiraan dan kebebasan. Gemericik sungai menyimpan ketenangan dan kebijaksanaan. Bahkan keheningan hutan pun berbicara—menyampaikan kewaspadaan, rahasia, dan keberadaan makhluk-makhluk yang bersembunyi. “Ssst… ada yang mengawasi,” gumam Kai suatu kali saat melangkah di antara pepohonan. Ia bisa merasakan kegelisahan pohon tua yang akarnya tergerus tanah, juga ketakutan seekor rusa yang dikejar pemangsa jauh di dalam hutan. Semua itu terasa nyata baginya. Hutan bukan sekadar tempat—melainkan komunitas yang hidup dan bernapas. Namun bagi penduduk desa, Kai hanyalah anak yang aneh. “Lihat dia, bicara sendiri lagi,” bisik seorang pemuda pada temannya. “Pasti ada ilmu gaib,” gumam seorang nelayan tua dengan nada curiga. Bisikan berkembang menjadi stigma. Ada yang menyebutnya memiliki indra keenam. Ada pula yang percaya Kai telah membuat perjanjian dengan penghuni hutan. “Jangan dekat-dekat dengannya,” pesan seorang ibu pada anaknya. Sebagian orang tua yang konservatif bahkan takut Kai telah “dirasuki” roh hutan—sesuatu yang licik dan berbahaya. Meski begitu, tidak semua berpikir demikian. “Dia punya kepekaan yang tidak kita miliki,” kata seorang tetua bijak. Para tetua yang masih mengingat legenda lama melihat Kai dengan rasa hormat yang hati-hati. Mereka teringat kisah leluhur yang menjadi perantara manusia dan alam. “Mungkin dia ditakdirkan menjaga keseimbangan,” bisik seorang nenek. Orang tua Kai berdiri di tengah-tengah semua itu. Mereka tak pernah menyangkal keunikan putra mereka, tapi juga tak membesar-besarkannya. “Dia anak baik,” kata ayahnya. “Hatinya bersih.” Kai sering membantu warga menemukan tanaman obat atau jalur aman di hutan. Namun, meski dibela, cap “anak aneh” tetap melekat. Ia tumbuh dengan terasing—berada di antara dunia manusia yang tak sepenuhnya menerimanya dan dunia hutan yang selalu menyambutnya tanpa syarat. “Suatu hari nanti… mereka akan mengerti,” bisiknya pada angin. Perubahan dimulai ketika hutan mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan. Hewan-hewan menjadi gelisah. Tanaman layu tanpa sebab. Kejadian-kejadian aneh semakin sering terjadi dan tak lagi bisa dijelaskan secara logika. “Apa yang salah dengan hutan Tua?” tanya seorang penduduk dengan cemas. Perlahan, pandangan mereka beralih pada Kai. “Mungkin dia tahu sesuatu,” bisik seorang ibu. “Dia dekat dengan hutan Tua.” Para tetua akhirnya mendekatinya, membawa harapan yang rapuh. “Nak,” kata Nenek Ino dengan suara bergetar, tangannya mencengkeram lengan Kai. “Coba dengarkan hutan Tua. Apa yang dikatakannya?” Kai memejamkan mata. Ia membiarkan dunia luar memudar, menggantinya dengan getaran energi yang selalu hadir. “Hutan ini tidak tenang,” katanya pelan. “Ada rasa sakit… yang tertahan.” Tetua Baras mengangguk, menatap hutan yang tampak semakin gelap di bawah cahaya sore. “Bumi sedang tidak baik,” gumamnya. “Sesuatu telah mengganggunya.” “Apa hutan Tua menunjukkan jalan keluar?” desak Nenek Ino. Kai terdiam lebih lama. Di balik ketakutan roh pohon dan kegelisahan penjaga mata air, ia merasakan sesuatu yang lebih tua—lebih purba. “Aku merasakan… ‘ular tidur’ bergerak,” bisiknya. “Ia gelisah.” Wajah para tetua memucat. “Legenda itu…” gumam seseorang lirih. “Kita harus bertindak,” kata Kai, suara dan tekadnya menguat. “Jika ia bangun sepenuhnya… malapetaka akan terjadi.” Nenek Ino menatapnya lama, lalu mengangguk. “Kau adalah satu-satunya yang bisa mendengar mereka,” katanya pelan. “Dengarkanlah, Nak. Biarkan hutan Tua membimbingmu.”Bersama Luka, mereka kembali mempersiapkan perahu. Penduduk desa membekali mereka dengan perbekalan tambahan dan beberapa jimat pelindung tradisional agar mereka terhindar dari gangguan seperti sebelumnya. Namun, Kai tidak yakin apakah jimat itu akan berguna melawan kekuatan gaib Pulau Bambu. Sebelum berangkat, seorang tetua perempuan memberikan Kai sebuah ukiran kayu kecil berbentuk burung laut. “Ini adalah simbol pelindung dari leluhur kami,” katanya dengan suara lembut. “Semoga dapat membantumu melewati bahaya di sana. Ingatlah nak, keberanian sejati bukan berarti tidak merasa takut, tapi tetap maju meskipun rasa takut menghantui. “Terima kasih, Nek,” gumam Kai. Jemarinya mengusap permukaan kayu yang terasa kasar, namun hangat di telapak tangannya. Ukiran burung laut itu tampak sederhana, tapi ada sesuatu dalam goresannya yang mendatangkan rasa tenang yang familiar. Luka tersenyum tipis melihatnya, lalu keduanya berbalik menuju perahu yang sudah siap di bibir pantai. Tanp
Kai dan Luka disambut oleh beberapa nelayan yang sedang berada dibibir pantai, mereka terkejut dan khawatir melihat kondisi Luka. Mereka berpikir Luka mengalami kecelakaan di laut karena tidak kembali sekian lama. Setelah menjelaskan singkat fenomena yang terjadi selama perjalanan dan tujuan Kai, Luka membawa Kai kembali ke arah desa. Penduduk desa, yang juga mendengar legenda tentang Sang Penjaga, mengatakan akan membawa membawa mereka menemui para tetua pulau. Kai yang disambut dengan hangat oleh penduduk desa, setelah mendapatkan makanan dan istirahat yang layak, Luka membawanya menemui para tetua pulau. Mereka berkumpul di sebuah balai desa sederhana yang terbuat dari kayu dan beratap daun nipah. Para tetua, dengan wajah yang dipenuhi garis usia dan mata yang tenang namun waspada, membuktikan mereka orang-orang yang telah lama hidup berdampingan dengan rahasia alam, menyambut Kai dengan tatapan penuh keingintahuan. Luka menceritakan kembali perjalanan mereka dan tujuan Ka
“Ada sesuatu di bawah sana,” bisik Kai kepada Luka, matanya dengan waspada mengamati permukaan air yang berkilauan aneh di tengah kabut. Lalu dari samping perahu, muncul sosok mengerikan. Makhluk itu memiliki tubuh panjang berlendir dengan sisik-sisik gelap yang berkilauan. Kepalanya menyerupai ular raksasa dengan mata kuning menyala yang menatap mereka dengan penuh permusuhan. Gigi-giginya tajam dan panjang terlihat jelas saat ia membuka mulutnya mengeluarkan desisan yang menakutkan. Luka tersentak ketakutan, tubuhnya gemetar. “Ular Laut raksasa... legenda itu nyata!" Makhluk itu melilitkan sebagian tubuhnya di sekitar lambung perahu, membuat kayu-kayu berderit menahan tekanan. Kai dan Luka berpegangan erat, berusaha tidak terjatuh ke laut yang dingin dan berbahaya. Kai meraih dayung yang tergeletak di dekatnya, bersiap untuk mempertahankan diri. Ia tahu, melawan makhluk sekuat ini di tengah laut bukanlah tugas mudah. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia harus melindungi di
Raungan angin bercampur dengan suara gemuruh air yang mendekat, menciptakan atmosfer yang mencekam. Dengan refleks cepat, Kai mengayunkan dayung kemudi sekuat tenaga, mencoba menghindari hantaman langsung. Perahunya terangkat tinggi di atas puncak ombak, kemudian terhempas turun dengan keras ke lembah gelombang berikutnya. Kayu perahu berderit menahan tekanan yang luar biasa. Untuk beberapa saat yang menegangkan, Kai merasa perahunya akan hancur berkeping-keping atau terbalik. Ia berpegangan erat pada dayung kemudi, memejamkan mata dan berdoa kepada roh-roh laut yang mungkin berbelas kasihan. Ia mencoba merasakan apakah laut juga sedang berbicara, seperti hutan. Tapi suara laut tidak seperti hutan. Tidak ada bisikan lembut atau gelombang emosi yang jelas. Hanya tekanan berat, dalam, seperi sesuatu yang menahan diri di kedalaman. Perlahan, badai mulai mereda, seolah amarah laut telah mencapai puncaknya. Ombak masih tinggi, tapi mulai memiliki ritme yang lebih teratur. Langit m
Pagi menyingsing dengan kabut tipis yang menggantung di atas perkampungan. Tapi di wajah Kai tidak ada lagi keraguan. Semalam, tekadnya telah mengkristal. Ia harus bertindak, dan waktu terus berjalan. Langkah pertama Kai adalah menemui ayahnya, seorang nelayan yang tubuhnya kekar diterpa angin laut. Ia menceritakan penglihatannya, suara gemuruh dari perut bumi, dan percakapannya dengan Nenek Ino, para tetua dan beberapa warga. Awalnya, sang ayah mengerutkan kening, mencoba mencerna kata-kata putranya yang seringkali terasa asing baginya. Namun, ia melihat kesungguhan di mata Kai dan merasakan kecemasan yang sama atas perubahan alam sekitar. "Jika itu yang kau rasa benar, Nak," kata ayahnya dengan suara berat. "Maka lakukanlah. Laut memang tidak bersahabat, tapi seorang pelaut sejati tidak akan gentar menghadapi badai demi menyelamatkan rumahnya. Aku akan membantumu menyiapkan perahu dan bekal." Dengan bantuan ayahnya, Kai mulai mengumpulkan perbekalan sederhana. Sagu kering
Awalnya, gangguan itu datang seperti riak kecil di permukaan air. Halus. Hampir tak terasa. Kai adalah yang pertama menyadarinya. Desiran angin di Hutan Tua Rerempah tak lagi membawa nyanyian tenang. Ada desahan gelisah di dalamnya. Gemericik sungai yang biasa menenangkan kini terasa terputus-putus, seperti bisikan ketakutan yang tertahan. Beberapa pohon tua di pinggiran hutan keramat tumbang tanpa sebab yang jelas. Warga desa menyalahkan angin atau usia, tapi Kai tahu itu bukan alasan sebenarnya. Ia meraba batang pohon yang patah, merasakan sisa-sisa emosi yang tertinggal. “Ada rasa sakit di sini,” gumamnya. “Seperti sesuatu… dicabut paksa.” *** Angin sore membawa bau tanah basah ketika lonceng bambu dipukul tiga kali di tengah dusun. Satu per satu, orang-orang keluar dari rumah panggung mereka. Wajah-wajah tegang, langkah ragu, bisik-bisik yang tidak pernah benar-benar berani diucapkan keras. Kai berdiri di tepi kerumunan, sedikit terpisah. Sejak pagi dadanya teras







