Share

4. Rasa Kasihan

Penulis: Rosa Rasyidin
last update Tanggal publikasi: 2026-07-04 20:51:32

Meihua sampai di depan ruang makan. Di sana sudah ada Nyonya Besar Nalan Yuhua. Tuan Besar Bao Tianlang, lalu Jenderal Bao serta putranya.

“Mei Jiejie, aku sudah menunggu dari tadi.” Yu’er tersenyum lebar tak sabar mencicipi hidangan buatan Meihua.

Gadis berwajah bulat itu tersenyum sedikit. Para pelayan di ruangan membantu menurunkan makanan dari baki. Jenderal Bao melirik, melihat kemampuan di balik tubuh kurus tukang masak bernama Huamei.

Seorang pelayan yang iri melihat kecantikan dan kemampuan Meihua, dengan sengaja menendang betis koki itu. Namun, malah kakinya sendiri yang sakit, karena kuda-kuda Meihua meski tidak terlihat tegas, tetapi tetap sekeras batu.

Lalu, pelayan satu lagi sengaja pura-pura menjatuhkan piring berisi hidangan untuk Tuan Kecil. Dengan gerakan terlatih, Meihua langsung menangkap piring itu menggunakan jari telunjuknya tanpa terjatuh dan pegangannya sangat seimbang. Meihua tak sadar Jenderal Bao terus memperhatikan setiap gerakannya.

Saat menyantap makanan dengan cita rasa luar biasa buatan Meihua, Jenderal Bao terbatuk.

“Anakku, kenapa? Kau sakit lagi?” Nyonya Besar terlihat khawatir.

“Ibu, aku tidak apa-apa.” Jenderal Bao memegang dadanya yang terasa panas. Meihua memperhatikannya.

“Kau boleh pergi. Nanti siang buatlah hidangan yang rasanya lebih ringan lagi,” ucap Nalan Yuhuan.

“Baik, Nyonya Besar.” Meihua undur diri dan ekor matanya melirik ke arah Jenderal Bao.

“Apa dia sakit? Wajahnya terlihat pucat. Argh, kenapa begini?” Meihua menggemeretakkan giginya saat keluar dari ruangan.

Semakin lama ia tinggal, ia takut semakin sulit mencari peluang untuk membunuh Jenderal Bao.

Selesai makan, piring para tuan kembali ke dapur dalam keadaan masih banyak yang bersisa. Dari situ Meihua tahu bahwa sisa makanan para tuan boleh disantap para pelayan.

***

Gao Wuji masuk ke dalam ruang kerja Jenderal Bao dan menutup pintu. Ia memberi hormat dan mengatakan untuk sementara tidak ada yang aneh sama sekali, kecuali ....

“Kau melihatnya sendiri, bukan?” Jenderal Bao membalik halaman buku yang sedang ia baca.

“Iya, Tuan. Gadis itu tidak lemah, ada yang aneh darinya.”

“Aku semakin curiga, tapi hidangan yang kami makan tadi tidak ada racunnya.”

“Mungkin tidak sekarang, Tuan, tapi nanti. Tetap waspada jauh lebih baik.”

Jenderal Bao terdiam sejenak. “Begini saja, siang nanti minta dia mengantar makanan untukku ke ruang ....” Lelaki itu kemudian memberi isyarat pada Gao Wuji untuk mendekat, dan ajudannya memahami perintah dengan cepat.

Siang harinya, usai mengantar makanan untuk Tuan Kecil, Meihua diminta langsung oleh Gao Wuji menuju ke sebuah ruang rahasia. Para pelayan mulai berbisik dan bergosip.

Meihua membawa dua kotak kayu ke dalam ruangan tempat harta keluarga kediaman Jenderal Bao disimpan. Di sana, berpeti-peti uang perak, emas, sutra, dan perhiasan disimpan serta sengaja dipamerkan.

Saat Meihua menyusun makanan di meja, ia sama sekali tidak melirik benda-benda mewah di sekitarnya. Justru ia merasakan ada energi aneh dari tubuh Jenderal Bao. Energinya panas, tetapi bercampur dengan kepekatan aroma bunga manis yang cukup berbahaya.

‘Apa dia terkena racun bunga?’ tebak Meihua dalam hati.

“Kau boleh pergi!” perintah Gao Wuji ketika makanan sudah disusun.

Jenderal Bao memperhatikan punggung gadis itu sampai menghilang di balik pintu. “Sepertinya dia sudah terbiasa dengan benda-benda mewah seperti ini.”

“Atau dia memang tidak tertarik, Tua.”

“Bisa juga. Semua ini masih misteri, uhuk, uhuk!” Jenderal Bao terbatuk lagi. “Aku tidak selera makan, panggil tabib segera.” Lelaki itu berdiri menahan sakit di dadanya.

“Baik, Tuan!”

Usai kembali dari ruangan khusus itu, Meihua duduk sambil termenung. Setidaknya ia paham bahwa tadi Jenderal Bao sedang mengujinya. Maka ia tidak bisa terlalu lama tinggal di sana.

Ia takut rasa kasihan bercokol di dalam hati, dan terus tumbuh menjadi rasa yang lebih jauh. Semua kemungkinan bisa terjadi, sebab hati manusia cenderung berubah mengikuti arah angin.

“Aku tidak mengerti, mengapa tatapan matanya berbeda.” Meihua memejamkan mata.

Kilatan pedang dari lelaki malam pembantaian itu berbeda sekali. Ada kebencian dan kebengisan yang berkobar. Sedangkan Jenderal Bao, tidak memilikinya. Sorot mata tajam itu hanya memancarkan keberanian meski sebagian besar ditutupi kesedihan mendalam.

“Aku benci dengan rasa kasihan. Rasa yang seharusnya tidak ada di dalam dada manusia.” Meihua hanya bisa menepuk dadanya berkali-kali. Ia tekan rasa itu agar tak terus tumbuh.

***

Diam-diam Yu’er lari dari pengawasan kedua pengasuhnya. Ia menuju dapur tempat Meihua bekerja. Namun, gadis berwajah bulat itu sedang tidak ada di tempat. Yu’er menemukan satu kue manis dan langsung meraih serta memakannya.

“Kakak Cantik, kau di mana?” panggilnya berkali-kali.

“Hamba di sini. Tuan Kecil sedang apa?” Meihua akhirnya muncul juga.

“Aku ingin makan lagi.”

“Silakan, Tuan, makanan ini semua untukmu.”

“Waah, asyiiik!” Senang hati Yu’er diberi kebebasan makan di luar jamnya.

Meihua tidak tahu bahwa anak kecil di kediaman Jenderal Bao harus mematuhi jam makan sesuai aturan ketat yang berlaku.

Meihua masih memikirkan racun bunga manis yang terendus dari tubuh Jenderal Bao. Racun itu hanya bisa terhirup jika ada tanaman bunga di sekitar kediaman. Ia keluar dari dapur dan mulai mencari sumber aroma itu, tanpa sadar Yu’er terus mengikutinya dari belakang.

“Kakak Cantik, jalannya jangan cepat-cepat.” Yu’er kepayahan menyamakan langkah kecilnya dengan kaki jenjang Meihua.

“Jika aku berhasil menghilangkan racun bunga manis itu dan dia sembuh, baru aku bisa membunuhnya.” Meihua semakin mempercepat langkahnya.

Kediaman luas itu ia telusuri, dan tak ada pelayan yang berani menegur karena Tuan Kecil mengekor dari belakang sambil terus mengunyah kue. Lalu, Meihua sampai di halaman belakang yang banyak tanaman bunga tumbuh, tetapi semuanya layu dengan kondisi yang menyedihkan.

“Mei Jiejie, ini dulu tempat ibuku jatuh pingsan.” Ucapan Yu’er seketika membuat Meihua tersentak.

“Tuan Kecil, kenapa mengikutiku?” Dengan cepat Meihua mengangkat tubuh Yu’er ke dalam gendongannya, dan membawanya lari menyusuri koridor demi koridor menjauh dari taman bunga secepat kilat.

“Asyiiik, aku bisa terbang!” Yu’er malah kegirangan di gendongannya.

Hal itu dilihat sendiri oleh Nyonya Besar dari kejauhan, yang langsung tersenyum hangat melihat cucunya tertawa bahagia. Namun, tidak demikian dengan Meihua. Ia justru menahan amarah karena hampir saja tuan kecilnya celaka.

“Untung saja kau anak kecil yang lucu, kalau tidak sudah aku lempar kau ke kolam, huuuuuh!” Meihua menenangkan diri daripada marah tidak jelas. Pikirannya kembali tertuju pada taman bunga itu.

“Aku akan memusnahkan sumber racunnya malam ini juga, dan besok malamnya aku akan membunuh Jenderal Bao. Dia harus mati, demi membalas kehancuran Sekte Bai Ya!”

Namun, saat tengah malam Meihua mengendap-endap kembali ke taman itu, ia melihat Jenderal Bao sudah berdiri sendirian di sana. Di tangannya lelaki itu, ada sebuah pedang yang berlumuran darah segar.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   94. Bimbang

    Jauh dari Kediaman Jenderal Bao, keadaan di Paviliun Sekte Bai Ya perlahan mulai membaik. Lu Jianyu, tunangan Meihua yang baru saja memulihkan ketertiban sekte usai diterpa kekacauan besar, sibuk membersihkan puing-puing bangunan dan merapikan ruangan yang hancur. Ia sengaja memutuskan untuk bertahan sedikit lebih lama di sekte tersebut. Ia ingin saat Meihua kembali ke sisinya nanti, seluruh tempat itu sudah rapi dan aman seperti semula.Sekte Bai Ya memiliki beberapa jurus rahasia kuno yang langka. Salah satunya adalah teknik telepati yang mampu menghubungkan batin seseorang dari jarak yang sangat jauh, bahkan sanggup mendeteksi apakah orang yang dicari masih hidup atau tidak.Lu Jianyu menggunakan telepati itu untuk mengetahui keberadaan Meihua, dan ternyata gadis itu hidup dengan baik di suatu tempat. Ia sudah menduga bahwa Meihua akan bertahan hidup dengan segala cara. Mereka sudah berjanji akan menikah saat musim semi tiba di tahun yang sama.Mengetahui calon istrinya selamat, ia

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   93. Godaan

    Jenderal Bao memungut kertas itu dengan dada berdebar serta berdesir panas, mulai takut kehilangan. Namun, Yu’er yang berdiri di sampingnya tertawa sambil menunjuk tulisan di kertas tersebut.“Ayah, itu tulisanku sendiri! Surat di atas meja itu hasil belajar menulis bersama Kakak Cantik tadi pagi selesai makan!”Mendengar ucapan putranya, Jenderal Bao menarik napas lega. Ketegangan yang tadinya memuncak seketika hilang. Ia mengernyit menatap goresan tinta yang agak berantakan itu dan bertanya, “Kenapa tulisan yang kau buat justru surat perpisahan?”“Kata Kakak Cantik, itu isi hatinya, tapi dia belum berani mengungkapkannya pada Ayah. Jadi aku bantu tuliskan sedikit!” sahut Yu’er dengan wajah tanpa dosa.Jenderal Bao tersenyum tipis, rasa geli menyusup di hatinya. Pantas saja tulisannya jelek sekali, ternyata Yu’er yang sedang belajar.Lelaki berwajah tegas itu menoleh ke belakang, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang hening. Beberapa kali ia memanggil gadis itu. Namun, tid

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   92. Seperti Angin

    Jenderal Bao bersama dua orang prajuritnya melangkah menuju istana tempat Kaisar sedang membaca beberapa laporan. Di sana Kaisar Long sedang duduk tenang mengamati beberapa gulungan kertas. Namun, di saat yang bersamaan, langkah kaki lain terdengar, Duan Qiafeng turut hadir untuk menemui Kaisar.Tanpa mengulur waktu, Jenderal Bao berlutut memberi hormat, lalu dengan kedua tangannya ia menyodorkan sebuah wadah berisi batu giok bulat yang menguarkan cahaya biru lembut dan terlihat sangat indah.Melihat batu berkilau itu, mata Duan Qiafeng menyipit. Ia tidak suka Jenderal Bao kembali dengan selamat, seharusnya sudah mati kedinginan diterpa badai salju. Dengan sinis, ia bertanya."Tunggu dulu. Bagaimana kita bisa tahu bahwa benda ini benar-benar asli atau palsu? Bisa saja kau merekayasa seluruh perjalananmu, lalu kembali ke istana hanya dengan membawa sembarang batu giok bercahaya, bukan?"Jenderal Bao tidak terpancing emosi. Dengan tenang dan santai ia merogoh jubahnya dan mengeluarkan s

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   91. Rahasia

    Meihua langsung melangkah meninggalkan Jenderal Bao, dan berjalan jauh di barisan paling depan. Langkah kakinya mewakili kekesalan yang terpendam di dalam hati. Sementara itu, Jenderal Bao berjalan di belakangnya dengan tenang, tanpa berusaha menyamakan langkah. Namun, pandangannya tak pernah lepas dari sosok kecil, cerewet, serta keras kepala di depannya.Lima prajurit yang selamat di belakang berjalan mengekor dengan napas terengah. Melihat dua pimpinan perjalanan itu saling berdiam diri, kelima prajurit tersebut hanya bisa saling melempar pandangan penuh tanda tanya.Mereka berbisik sangat pelan, saling menerka apa yang sebenarnya terjadi di dalam istana kristal hingga membuat atasan mereka membisu seperti itu. Apakah terjadi pertengkaran hebat? Atau justru ada rahasia besar yang tak boleh mereka ketahui?Namun, karena takut kena semprot, tak seorang pun berani membuka suara secara terang-terangan. Semua memilih diam, menyisakan keheningan yang menyelimuti perjalanan panjang mereka

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   90. Takdir Langit

    Tubuh Meihua seketika membeku ketika mata tajam Jenderal Bao menatapnya begitu dalam dari jarak yang hanya menyisakan helaian baju di antara mereka. Belum sempat pikirannya mengendalikan gejolak di dada, Jenderal Bao sudah menundukkan kepala dan mendaratkan ciuman hangat nan dalam tepat di bibir Meihua.Nona Yue membelalakkan matanya, menatap pemandangan indah di depannya dengan senyuman penuh kemenangan. Meihua yang awalnya mematung, tanpa sadar mulai hanyut dan menikmati sentuhan lembut serta hangat dari sang jenderal.Rasa hangat yang menjalar dari bibir lelaki itu seakan meluluhkan pertahanan dirinya. Namun, tak butuh waktu lama bagi Meihua untuk tersadar dari lamunannya. Dengan sisa kekuatan yang ada, kedua telapak tangannya terangkat dan mendorong dada Jenderal Bao.Namun, Jenderal Bao justru menangkap dan menggenggam erat telapak tangan Meihua di dadanya tanpa menyudahi ciuman itu. Pertemuan antara aliran tenaga dalam panas dan dingin yang berbenturan seketika memicu desisan pa

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   89. Nenek Sihir

    Meihua langsung melompat dari gendongan Jenderal Bao ketika hening melanda. Ia minta maaf karena terlalu gugup, dan Jenderal Bao hanya mengatakan tidak apa-apa. Lagi pula dalam hatinya, lelaki itu merasa senang.“Apa anehnya di tempat ini? Sunyi sekali,” gumam Meihua pelan. Langkahnya bahkan sangat hati-hati, khawatir ada jebakan yang terpasang.“Tidak ada seorang pun, lalu kenapa ada istana di puncak batu begini?” Jenderal Bao bahkan melemparkan belatinya hingga tertancap ke salah satu dinding. Keduanya menanti dengan harap-harap cemas, tetapi tidak ada hal aneh yang berlaku.“Apa jangan-jangan tempat ini hanya rumah dewa yang iseng singgah ke bumi, ya?” Meihua yang lelah langsung duduk santai di lantai, enggan maju lagi. Jenderal Bao juga ikut-ikutan.“Bisa jadi. Berarti batu gioknya tidak ada? Padahal prajuritku sudah hampir mati kedinginan dibuatnya.”“Baru sadar kau, Tuan?” cemooh Meihua.“Aku sadar sejak pertama kali diberikan tugas itu, tapi aku tidak bisa menolak. Penolakan be

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status