MasukJauh dari Kediaman Jenderal Bao, keadaan di Paviliun Sekte Bai Ya perlahan mulai membaik. Lu Jianyu, tunangan Meihua yang baru saja memulihkan ketertiban sekte usai diterpa kekacauan besar, sibuk membersihkan puing-puing bangunan dan merapikan ruangan yang hancur. Ia sengaja memutuskan untuk bertahan sedikit lebih lama di sekte tersebut. Ia ingin saat Meihua kembali ke sisinya nanti, seluruh tempat itu sudah rapi dan aman seperti semula.Sekte Bai Ya memiliki beberapa jurus rahasia kuno yang langka. Salah satunya adalah teknik telepati yang mampu menghubungkan batin seseorang dari jarak yang sangat jauh, bahkan sanggup mendeteksi apakah orang yang dicari masih hidup atau tidak.Lu Jianyu menggunakan telepati itu untuk mengetahui keberadaan Meihua, dan ternyata gadis itu hidup dengan baik di suatu tempat. Ia sudah menduga bahwa Meihua akan bertahan hidup dengan segala cara. Mereka sudah berjanji akan menikah saat musim semi tiba di tahun yang sama.Mengetahui calon istrinya selamat, ia
Jenderal Bao memungut kertas itu dengan dada berdebar serta berdesir panas, mulai takut kehilangan. Namun, Yu’er yang berdiri di sampingnya tertawa sambil menunjuk tulisan di kertas tersebut.“Ayah, itu tulisanku sendiri! Surat di atas meja itu hasil belajar menulis bersama Kakak Cantik tadi pagi selesai makan!”Mendengar ucapan putranya, Jenderal Bao menarik napas lega. Ketegangan yang tadinya memuncak seketika hilang. Ia mengernyit menatap goresan tinta yang agak berantakan itu dan bertanya, “Kenapa tulisan yang kau buat justru surat perpisahan?”“Kata Kakak Cantik, itu isi hatinya, tapi dia belum berani mengungkapkannya pada Ayah. Jadi aku bantu tuliskan sedikit!” sahut Yu’er dengan wajah tanpa dosa.Jenderal Bao tersenyum tipis, rasa geli menyusup di hatinya. Pantas saja tulisannya jelek sekali, ternyata Yu’er yang sedang belajar.Lelaki berwajah tegas itu menoleh ke belakang, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang hening. Beberapa kali ia memanggil gadis itu. Namun, tid
Jenderal Bao bersama dua orang prajuritnya melangkah menuju istana tempat Kaisar sedang membaca beberapa laporan. Di sana Kaisar Long sedang duduk tenang mengamati beberapa gulungan kertas. Namun, di saat yang bersamaan, langkah kaki lain terdengar, Duan Qiafeng turut hadir untuk menemui Kaisar.Tanpa mengulur waktu, Jenderal Bao berlutut memberi hormat, lalu dengan kedua tangannya ia menyodorkan sebuah wadah berisi batu giok bulat yang menguarkan cahaya biru lembut dan terlihat sangat indah.Melihat batu berkilau itu, mata Duan Qiafeng menyipit. Ia tidak suka Jenderal Bao kembali dengan selamat, seharusnya sudah mati kedinginan diterpa badai salju. Dengan sinis, ia bertanya."Tunggu dulu. Bagaimana kita bisa tahu bahwa benda ini benar-benar asli atau palsu? Bisa saja kau merekayasa seluruh perjalananmu, lalu kembali ke istana hanya dengan membawa sembarang batu giok bercahaya, bukan?"Jenderal Bao tidak terpancing emosi. Dengan tenang dan santai ia merogoh jubahnya dan mengeluarkan s
Meihua langsung melangkah meninggalkan Jenderal Bao, dan berjalan jauh di barisan paling depan. Langkah kakinya mewakili kekesalan yang terpendam di dalam hati. Sementara itu, Jenderal Bao berjalan di belakangnya dengan tenang, tanpa berusaha menyamakan langkah. Namun, pandangannya tak pernah lepas dari sosok kecil, cerewet, serta keras kepala di depannya.Lima prajurit yang selamat di belakang berjalan mengekor dengan napas terengah. Melihat dua pimpinan perjalanan itu saling berdiam diri, kelima prajurit tersebut hanya bisa saling melempar pandangan penuh tanda tanya.Mereka berbisik sangat pelan, saling menerka apa yang sebenarnya terjadi di dalam istana kristal hingga membuat atasan mereka membisu seperti itu. Apakah terjadi pertengkaran hebat? Atau justru ada rahasia besar yang tak boleh mereka ketahui?Namun, karena takut kena semprot, tak seorang pun berani membuka suara secara terang-terangan. Semua memilih diam, menyisakan keheningan yang menyelimuti perjalanan panjang mereka
Tubuh Meihua seketika membeku ketika mata tajam Jenderal Bao menatapnya begitu dalam dari jarak yang hanya menyisakan helaian baju di antara mereka. Belum sempat pikirannya mengendalikan gejolak di dada, Jenderal Bao sudah menundukkan kepala dan mendaratkan ciuman hangat nan dalam tepat di bibir Meihua.Nona Yue membelalakkan matanya, menatap pemandangan indah di depannya dengan senyuman penuh kemenangan. Meihua yang awalnya mematung, tanpa sadar mulai hanyut dan menikmati sentuhan lembut serta hangat dari sang jenderal.Rasa hangat yang menjalar dari bibir lelaki itu seakan meluluhkan pertahanan dirinya. Namun, tak butuh waktu lama bagi Meihua untuk tersadar dari lamunannya. Dengan sisa kekuatan yang ada, kedua telapak tangannya terangkat dan mendorong dada Jenderal Bao.Namun, Jenderal Bao justru menangkap dan menggenggam erat telapak tangan Meihua di dadanya tanpa menyudahi ciuman itu. Pertemuan antara aliran tenaga dalam panas dan dingin yang berbenturan seketika memicu desisan pa
Meihua langsung melompat dari gendongan Jenderal Bao ketika hening melanda. Ia minta maaf karena terlalu gugup, dan Jenderal Bao hanya mengatakan tidak apa-apa. Lagi pula dalam hatinya, lelaki itu merasa senang.“Apa anehnya di tempat ini? Sunyi sekali,” gumam Meihua pelan. Langkahnya bahkan sangat hati-hati, khawatir ada jebakan yang terpasang.“Tidak ada seorang pun, lalu kenapa ada istana di puncak batu begini?” Jenderal Bao bahkan melemparkan belatinya hingga tertancap ke salah satu dinding. Keduanya menanti dengan harap-harap cemas, tetapi tidak ada hal aneh yang berlaku.“Apa jangan-jangan tempat ini hanya rumah dewa yang iseng singgah ke bumi, ya?” Meihua yang lelah langsung duduk santai di lantai, enggan maju lagi. Jenderal Bao juga ikut-ikutan.“Bisa jadi. Berarti batu gioknya tidak ada? Padahal prajuritku sudah hampir mati kedinginan dibuatnya.”“Baru sadar kau, Tuan?” cemooh Meihua.“Aku sadar sejak pertama kali diberikan tugas itu, tapi aku tidak bisa menolak. Penolakan be







