Share

5. Racun Bunga Manis

Author: Rosa Rasyidin
last update publish date: 2026-07-04 20:59:17

Jenderal Bao menggores telapak tangannya hingga berdarah, ia meringis menahan perih sambil memejamkan mata. Meihua hanya memperhatikan dari kejauhan.

“Racun bunga manis menyerang orang yang memiliki tenaga dalam, jadi dia menggores tangannya agar tidak berhalusinasi,” gumam gadis berwajah bulat itu, “Tapi kenapa istrinya yang orang biasa bisa mati kena racun,” lanjutnya lagi.

Meihua yang menggunakan tutup wajah harus menahan napas cukup lama agar tidak terhirup racun bunga manis. Tanpa sengaja gadis itu menjatuhkan batu dan Jenderal Bao menoleh.

“Siapa di sana? Keluar!” hardiknya dengan nada tinggi.

Meihua berguling dengan cepat, dan merangkak lincah tanpa terlihat. Lalu setelah sampai di salah satu koridor, ia melompat dari satu atap ke atap lainnya sampai di belakang kamarnya, kemudian masuk dan pura-pura tidur. Meninggalkan Jenderal Bao dengan penuh tanda tanya, apa yang ia inginkan sebenarnya?

“Dia mengintaiku. Dia hanya ingin membunuhku,” ujar Jenderal Bao di dalam ruang kerjanya.

“Lalu mengapa tidak jadi? Bukankah tadi Tuan hanya sendiri saja?” Gao Wuji sulit menerka maksud si penyusup.

“Itu ... aku juga tidak tahu. Seharusnya tadi kami bertarung dan mungkin aku akan kalah. Racun itu membuat napasku sesak setengah mati.”

“Tuan, aku sudah mengutus orang ke Tebing Ratapan, mungkin di sana ada bunga penawarnya. Bukankah Sekte Bai Ya terkenal bisa menetralkan racun jenis apa pun.”

“Apa yang kau cari? Sekte mereka sudah hancur. Kalaupun masih ada yang hidup, mereka tidak akan mau menyembuhkan orang-orang dari pemerintahan. Lupakan saja, aku akan mencoba mengeluarkan racunnya sendiri.”

“Baik, Tuan.” Wuji menjawab dengan berat hati.

“Sebenarnya tadi aku seperti melihat siluet tubuh perempuan kurus dan lincah, entah mengapa aku—“

“Mencurigai Huamei?”

“Benar!”

“Bagaimana kalau besok kita mengujinya?”

“Ide bagus. Aku sendiri yang akan melihat dengan mata dan kepalaku.”

Pagi hari saat Meihua menyeduh teh panas untuk dibawa ke ruang makan, di depan dapur suara Gao Wuji terdengar memanggilnya. Meihua keluar dan di sana ada Jenderal Bao juga.

“Hamba menjawab panggilan, apakah ada yang Tuan butuhkan, karena hamba harus mengantar makanan segera.”

“Biarkan makanan diantar oleh pelayan yang lain. Tuan memintamu membuatkannya teh bunga krisan putih, sekarang!” kata Wuji tegas.

“Baik, hamba menerima perintah, Tuan bisa menunggu di ruang makan.”

“Aku tunggu di sini, sekarang!” jawab Jenderal Bao.

Meihua segera kembali ke dapur, ia menuangkan bunga krisan kering ke dalam rebusan teh dan setelah aromanya kuat, ia tuangkan ke dalam teko, lalu meletakkan di atas baki bersama dua buah cangkir.

Sampai di depan Jenderal Bao, Meihua menuangkan teh yang masih panas dan memberikan pada lelaki yang terus menatapnya.

Namun, siapa sangka, saat teh itu sampai di pinggir bibir Jenderal Bao, ia justru melemparnya tinggi-tinggi ke udara. Spontan dan karena sudah terlatih, Meihua melompat meraih cangkir itu, lalu mengikuti ke arah teh yang jatuh hingga masuk kembali ke dalam cangkir tanpa berkurang setetes pun. Jenderal Bao tersenyum tipis.

“Dari perguruan mana?” Jenderal Bao menuang teh lagi dan ia meminumnya.

“Tuan, hamba hanya gadis biasa yang tidak bisa ilmu k****u.”

“Omong kosong!” Baki, cawan, teko dilempar Jenderal Bao ke udara dan sekarang Meihua tidak memedulikannya hingga benda itu pecah di lantai.

“Kau tahu berapa harga benda itu?”

“Hamba tidak tahu, Daren.”

“Bulan ini kau tidak dapat gaji demi mengganti rugi semua yang kau pecahkan.”

“Baik, Tuan.”

Kemudian Jenderal Bao dan Wuji pergi dari dapur. Meihua menarik napas lega, hampir saja penyamarannya ketahuan. Tangkapannya pada cangkir teh yang pertama tadi terlalu spontan. Ia merutuki kelemahannya yang selalu bergerak tanpa membaca keadaan, salah satu hal yang ibunya katakan padanya berulang kali.

“Kau dengar sendiri, dia tidak membutuhkan uang di sini, jika iya dia pasti memohon agar gajinya tidak dipotong. Dia memiliki maksud tertentu. Awasi terus!” perintah Jenderal Bao pada Gao Wuji.

Usai menyelesaikan pekerjaan, Meihua berbaring di ranjangnya. Setelah memastikan keadaan aman, gadis itu kembali menggunakan penutup wajah dan diam-diam pergi ke taman belakang. Di sana tidak ada siapapun.

“Aku harus menghilangkan racunnya, agar dia sembuh dan aku bisa membunuhnya sendiri dengan tanganku.”

Ia berdiri tepat di tengah-tengah taman. Meihua memejamkan matanya.

Setiap putaran tubuhnya memancing dan mengumpulkan kembali sisa-sisa tenaga dalamnya yang terserak. Meski tidak semua tenaganya terkumpul setidaknya pusaran angin yang ia hasilkan cukup untuk membuang racun di dalam taman bunga itu.

Meihua membuka matanya, gelombang tenaga dalamnya menghalau serbuk racun bunga manis yang bersembunyi di balik kelopak bunga yang layu. Serbuk itu seketika berpendar di udara.

Kini racunnya telah hilang, secara tidak langsung Meihua menolong Jenderal Bao agar lekas pulih.

Keesokan paginya, Yu’er bersembunyi lagi dari pengasuhnya. Ia mencari Meihua, tidak ada di dapur dan ternyata gadis itu ia temukan di halaman belakang.

“Waaah, bau busuknya sudah hilang! Ayaah, Nenek, Kakek, cepat kemari, kuncupnya mulai tumbuh!” Suara Bao Yu yang nyaring dan kebiasaannya berteriak memanggil seisi rumah itu kembali membuat Meihua menoleh, dan jantungnya berdetak kian cepat.

“Aku harus pergi dari sini, daripada ketahuan!” Meihua melangkah dengan cepat.

Namun, Jenderal Bao ternyata sudah ada di hadapannya. Ilmu meringankan tubuh lelaki itu juga tidak bisa dipandang sebelah mata, hingga ia tiba lebih dulu sebelum kakek dan nenek Yu'er sempat mendengar teriakan cucu mereka.

“Mau ke mana? Kau sangat buru-buru!”

“Tuan, aku harus memasak lagi.”

Meihua geser ke kanan, Jenderal Bao ikut, Meihua geser ke kiri Jenderal Bao juga ikut. Lelaki beralis tebal itu bisa merasakan energi dingin yang mengalir di tubuh Meihua kian kuat dari tiga hari yang lalu.

“Ayah, lihat! Taman belakang sudah tidak bau busuk dan ada kuncup yang baru tumbuh!” Yu’er menarik tangan ayahnya.

“Racunnya sudah hilang, terima kasih, Huamei,” ucap Jenderal Bao tepat sasaran.

“Tuan, aku tidak mengerti apa maksudnya?”

“Tidak usah ditutupi lagi. Katakan kau dari perguruan mana?”

“Aku sungguh tidak mengerti, Tuan.” Meihua masih berpura-pura.

“Apakah Sekte Bai Ya?”

Bahu Meihua tegang, dan napasnya tertahan. Jenderal Bao terlalu berani menyebut nama sektenya yang telah ia hancurkan menggunakan tangannya sendiri.

“Huamei, dengarkan aku baik-bai—“ Belum sempat Jenderal Bao menyelesaikan perkataannya, sebuah pukulan hampir mengenai dadanya. Meihua tidak bisa menunggu lagi.

“Bukan aku yang—“ Saat Jenderal Bao menahan pukulan itu, kaki Meihua bergerak terlebih dahulu lebih cepat daripada yang ia kira.

“Waah, Kakak Cantik bisa k****u ternyata.” Yu’er justru tepuk tangan melihat pertarungan jarak dekat antara ayahnya dan tukang masak yang baru.

Dari balik baju, Meihua mencabut belati yang tersimpan di balik jubahnya. Ia melayang dengan cepat mengarahkan belati itu ke dada Jenderal Bao.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   14. Preman Pasar

    Jenderal Bao menarik kembali wajahnya yang hanya berjarak beberapa inci dari Meihua. Ia tersenyum tipis, dan merasa puas saat melihat gadis tengil di hadapannya gugup hingga kehilangan kata-kata."A-aku, ehm, maksudnya hamba hanya sedang melatih ketangkasan para penjaga!" kata Meihua seraya berdehem, berusaha menutupi detak jantungnya yang berdesir tak menentu."Tuan Kecil sangat berharga. Jika para pengawal dan pelayan di sini lembek seperti tahu, bagaimana bisa mereka melindungi Tuan Kecil saat Tuan Muda tidak ada?"Jenderal Bao tidak mendebat alasan mengada-ada itu. Ia menoleh ke arah tiga prajurit yang wajahnya sudah sangat kelelahan, dan tiga pelayan yang tangannya gemetaran memegang ember."Bubar dan kembali bekerja. Wuji, suruh para pekerja mengangkut sepuluh karung beras terbaik dan bahan makanan dari gudang utama!" perintah Jenderal Bao tegas. Lalu matanya kembali menatap Meihua. "Huamei, kau ikut Wuji mengawal gerobak ke Kuil Utara. Kau racik sup kaldu yang baik dan kau haru

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   13. Sok Keras

    Gao Wuji yang dadanya masih terasa nyeri, mengikuti ke mana Jenderal Bao pergi. Ajudan itu menjejakkan kaki ke kayu dan melesat menyusuri jejak Jenderal Bao yang bergerak cepat bagaikan angin.Kuil di utara ibu kota itu adalah tempat istimewa yang pernah didirikan oleh mendiang istri Jenderal Bao. Setiap minggu sekali, bubur dan sup hangat rutin dibagikan kepada fakir miskin. Tempat itu yang menyimpan lembar kenangan paling manis dan suci bagi sang Jenderal.Saat Jenderal Bao mendarat di depan kuil dengan baju bangsawan birunya yang melambai dan jatuh dengan indah, pemandangan di hadapannya sama sekali jauh dari kata damai.Puluhan pengemis, lansia, dan anak-anak yang penampilannya lusuh tampak berdesak-desakan dengan wajah pucat dan mata kosong. Mereka menolak berbaris seperti biasanya. Keributan pecah di depan pintu kuil, di mana beberapa ember kayu besar dan kosong terlempar ke tanah akibat kemarahan warga yang kelaparan."Mana buburnya? Kami sudah menunggu sejak fajar!" jerit seor

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   12. Di Luar Tembok

    Meihua menyelesaikannya cucian dengan sisa amarah yang masih menyala di dadanya. Satu per satu jubah dan kain milik Jenderal Bao ia kibaskan kencang-kencang sebelum digantung di jemuran kayu. Saat menjemut pula ia hentak keras seolah-olah ingin menghantam perut Jenderal Bao. Kesal, benci juga, tetapi ada kasihannya sedikit.“Awas saja! Aku akan buat perhitungan denganmu. Saat racun itu benar-benar hilang dari tubuhmu, kau mati!” Dengan kesal Meihua melempar kayu hingga menancap di tanah. Seorang pelayan melihatnya dan langsung menganga.“Apa lihat-lihat? Mau ditusuk juga?” ketus gadis tersebut sambil berkacak pinggang. Pelayan yang ketakutan itu bergidik ngeri dan tak jadi mencuci baju.“Sudah seperti budak saja hidupku, masak, cuci baju, bersihkan ruangan, cuci piring. Aaagh! Aku benar-benar merindukan kehidupanku di tebing!” Kaki Meihua secara spontan menendang ember kayu sampai pecah jadi dua. “Matilah, dipotong lagi gaji aku. Aaagh! Terserah, aku tidak peduli.”Usai urusan cucian

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   11. Penyusup

    Meihua memeras kain di tangannya hingga airnya tak menetes lagi, lalu melemparkan ke dalam ember kayu. Napasnya diatur sedemikian rupa, menyelaraskan aliran tenaga dalam yang mengalir ke kedua telapak kakinya. Tanpa menimbulkan sedikit pun riak air atau suara berisik, gadis berwajah bulat itu melesat naik.Tubuhnya melayang bagaikan sehelai daun yang beterbangan, dan mendarat dengan tepat di atas atap tanpa menimbulkan keributan. Ia memicingkan mata dan terlihat fokus menatap bayangan berpakaian serba hitam yang sedang melintasi atap menuju ruang kerja Jenderal Bao."Penyusup," gumam Meihua dingin dan kejam.Dengan ilmu meringankan tubuh yang hampir pulih, Meihua mengejar penyusup itu. Gerakannya bagaikan siluman tengkorak yang menyatu dengan kabut putih tebal, tak terkilat dan mematikan.Hanya butuh tiga langkah lebar bagi Meihua untuk memangkas jarak. Tepat saat penyusup itu hendak mengintai ke arah lubang angin ruang kerja Jenderal Bao, sebuah hembusan angin dingin menyapa tengkukn

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   10. Janda Rasa Gadis

    Ujung pedang Gao Wuji berada persis di leher Meihua yang putih bersih. Tatapan ajudan itu terlihat penuh ancaman, ia menuntut jawaban atas kejanggalan yang baru saja terjadi. Sekarang juga! Tidak bisa ditunda lagi. Wuji yakin Meihua menyimpan banyak kebohongan.Namun, bukannya ketakutan, Meihua justru melirik pedang itu dengan sebelah alis terangkat, dan sebelah bibirnya tersenyum meremehkan."Ajudan Gao, apa yang kau lakukan?" tanya Meihua santai, suaranya sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. "Aku takut terluka, nanti berdarah dan aku mati begitu saja. Aku belum mau bertemu dengan suamiku di alam baka sana, hiks hiks ...." Gadis berwajah bulat itu pura-pura ketautan."Jangan mengalihkan pembicaraan!" hardik Wuji sampai giginya rapat semua."Sup macam apa yang kau berikan pada Tuan? Dalam sejarah pengobatan, tidak ada ramuan herbal yang membuat Panglima Tertinggi Kekaisaran lari terbirit-birit seperti orang kesurupan! Kau jelas bukan pelayan biasa. Katakan, dari sekte mana asalmu

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   9. Efek Samping

    Bibi Chun yang sedang memeriksa persediaan makanan di sudut dapur terkejut melihat Meihua yang memasukkan ragam rempah dan herbal kering."Huamei, bukankah kau harus melayani Tuan Muda di ruang kerja?" tanya Bibi Chun heran."Tuan Muda sedang tidak enak badan, Bibi. Dadanya sesak," jawab Meihua tenang tanpa berhenti mengipas tungku. "Aku ingin membuatkan Sup Kaldu Daging dengan campuran akar herbal untuk menghangatkan tubuhnya."Bibi Chun hanya bisa menghela napas, tanda prihatin. "Ah, penyakit lama Tuan Muda pasti kumat lagi sejak Nyonya Besar tiada. Semoga kau tidak salah memasukkan bahan obat, ya, karena nanti akibatnya kau bisa dihukum mati.”"Aku mengerti, Bibi."Meihua mengangguk. Berbekal ilmu pengobatan dan racun tingkat tinggi yang diajarkan oleh Bibi Kedua, Lan Ruobing, Meihua tahu persis apa yang harus ia lakukan.Racun bunga manis milik Sekte Wu Du mengendap dan mengikat tenaga dalam di ulu hati."Ini akan membersihkan racun di dadanya sampai bersih," gumam Meihua sambil m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status