Se connecter"Kalau Kaisar mendengar ucapanmu, bisa-bisa lidahmu dipotong dan dijadikan umpan ikan di depan kediamaannya." Terdengar suara yang tidak asing di telinga Meihua.Meihua tersentak hingga sendok sayur di tangannya nyaris terlepas. Spontan ia berbalik, dan melihat Jenderal Bao berdiri sangat dekat di belakangnya, mengenakan pakaian rakyat biasa, tetapi tidak menutupi wibawanya. Yu'er berada di sisi ayahnya juga tersenyum lebar sambil melambai-lambaikan tangan pada Meihua."Memangnya kalau salah bicara langsung dihukum mati, ya?" celetuk Meihua santai saja. "Hamba hanya sedang mempertanyakan keadilan bagi rakyat jelata!""Jika aku yang jadi kaisarnya tentu saja tidak. Yang jadi masalah, bukan aku kaisarnya," sahut Jenderal Bao dingin "Membicarakan Kaisar di belakangnya jika ketahuan oleh prajurit kekaisaran bisa dianggap kejahatan serius dan berakibat hukuman mati.”Gao Wuji yang berdiri tak jauh dari sana sudah menepuk jidatnya sendiri. Gadis ini benar-benar tidak punya rasa takut, gumam
Jenderal Bao menarik kembali wajahnya yang hanya berjarak beberapa inci dari Meihua. Ia tersenyum tipis, dan merasa puas saat melihat gadis tengil di hadapannya gugup hingga kehilangan kata-kata."A-aku, ehm, maksudnya hamba hanya sedang melatih ketangkasan para penjaga!" kata Meihua seraya berdehem, berusaha menutupi detak jantungnya yang berdesir tak menentu."Tuan Kecil sangat berharga. Jika para pengawal dan pelayan di sini lembek seperti tahu, bagaimana bisa mereka melindungi Tuan Kecil saat Tuan Muda tidak ada?"Jenderal Bao tidak mendebat alasan mengada-ada itu. Ia menoleh ke arah tiga prajurit yang wajahnya sudah sangat kelelahan, dan tiga pelayan yang tangannya gemetaran memegang ember."Bubar dan kembali bekerja. Wuji, suruh para pekerja mengangkut sepuluh karung beras terbaik dan bahan makanan dari gudang utama!" perintah Jenderal Bao tegas. Lalu matanya kembali menatap Meihua. "Huamei, kau ikut Wuji mengawal gerobak ke Kuil Utara. Kau racik sup kaldu yang baik dan kau haru
Gao Wuji yang dadanya masih terasa nyeri, mengikuti ke mana Jenderal Bao pergi. Ajudan itu menjejakkan kaki ke kayu dan melesat menyusuri jejak Jenderal Bao yang bergerak cepat bagaikan angin.Kuil di utara ibu kota itu adalah tempat istimewa yang pernah didirikan oleh mendiang istri Jenderal Bao. Setiap minggu sekali, bubur dan sup hangat rutin dibagikan kepada fakir miskin. Tempat itu yang menyimpan lembar kenangan paling manis dan suci bagi sang Jenderal.Saat Jenderal Bao mendarat di depan kuil dengan baju bangsawan birunya yang melambai dan jatuh dengan indah, pemandangan di hadapannya sama sekali jauh dari kata damai.Puluhan pengemis, lansia, dan anak-anak yang penampilannya lusuh tampak berdesak-desakan dengan wajah pucat dan mata kosong. Mereka menolak berbaris seperti biasanya. Keributan pecah di depan pintu kuil, di mana beberapa ember kayu besar dan kosong terlempar ke tanah akibat kemarahan warga yang kelaparan."Mana buburnya? Kami sudah menunggu sejak fajar!" jerit seor
Meihua menyelesaikannya cucian dengan sisa amarah yang masih menyala di dadanya. Satu per satu jubah dan kain milik Jenderal Bao ia kibaskan kencang-kencang sebelum digantung di jemuran kayu. Saat menjemut pula ia hentak keras seolah-olah ingin menghantam perut Jenderal Bao. Kesal, benci juga, tetapi ada kasihannya sedikit.“Awas saja! Aku akan buat perhitungan denganmu. Saat racun itu benar-benar hilang dari tubuhmu, kau mati!” Dengan kesal Meihua melempar kayu hingga menancap di tanah. Seorang pelayan melihatnya dan langsung menganga.“Apa lihat-lihat? Mau ditusuk juga?” ketus gadis tersebut sambil berkacak pinggang. Pelayan yang ketakutan itu bergidik ngeri dan tak jadi mencuci baju.“Sudah seperti budak saja hidupku, masak, cuci baju, bersihkan ruangan, cuci piring. Aaagh! Aku benar-benar merindukan kehidupanku di tebing!” Kaki Meihua secara spontan menendang ember kayu sampai pecah jadi dua. “Matilah, dipotong lagi gaji aku. Aaagh! Terserah, aku tidak peduli.”Usai urusan cucian
Meihua memeras kain di tangannya hingga airnya tak menetes lagi, lalu melemparkan ke dalam ember kayu. Napasnya diatur sedemikian rupa, menyelaraskan aliran tenaga dalam yang mengalir ke kedua telapak kakinya. Tanpa menimbulkan sedikit pun riak air atau suara berisik, gadis berwajah bulat itu melesat naik.Tubuhnya melayang bagaikan sehelai daun yang beterbangan, dan mendarat dengan tepat di atas atap tanpa menimbulkan keributan. Ia memicingkan mata dan terlihat fokus menatap bayangan berpakaian serba hitam yang sedang melintasi atap menuju ruang kerja Jenderal Bao."Penyusup," gumam Meihua dingin dan kejam.Dengan ilmu meringankan tubuh yang hampir pulih, Meihua mengejar penyusup itu. Gerakannya bagaikan siluman tengkorak yang menyatu dengan kabut putih tebal, tak terkilat dan mematikan.Hanya butuh tiga langkah lebar bagi Meihua untuk memangkas jarak. Tepat saat penyusup itu hendak mengintai ke arah lubang angin ruang kerja Jenderal Bao, sebuah hembusan angin dingin menyapa tengkukn
Ujung pedang Gao Wuji berada persis di leher Meihua yang putih bersih. Tatapan ajudan itu terlihat penuh ancaman, ia menuntut jawaban atas kejanggalan yang baru saja terjadi. Sekarang juga! Tidak bisa ditunda lagi. Wuji yakin Meihua menyimpan banyak kebohongan.Namun, bukannya ketakutan, Meihua justru melirik pedang itu dengan sebelah alis terangkat, dan sebelah bibirnya tersenyum meremehkan."Ajudan Gao, apa yang kau lakukan?" tanya Meihua santai, suaranya sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. "Aku takut terluka, nanti berdarah dan aku mati begitu saja. Aku belum mau bertemu dengan suamiku di alam baka sana, hiks hiks ...." Gadis berwajah bulat itu pura-pura ketautan."Jangan mengalihkan pembicaraan!" hardik Wuji sampai giginya rapat semua."Sup macam apa yang kau berikan pada Tuan? Dalam sejarah pengobatan, tidak ada ramuan herbal yang membuat Panglima Tertinggi Kekaisaran lari terbirit-birit seperti orang kesurupan! Kau jelas bukan pelayan biasa. Katakan, dari sekte mana asalmu







