Share

6. Ranting yang Patah

Author: Rosa Rasyidin
last update publish date: 2026-07-23 18:21:20

Ujung belati di balik lengan baju Meihua melesat menuju dada Jenderal Bao. Namun, tepat sebelum mata pisau itu merobek jubah sang Jenderal, terdengar derap langkah kaki tergesa-gesa disertai suara panggilan dari arah taman.

"A Zheng, ada apa ini?"

Nyonya Besar Nalan muncul bersama Tuan Besar Bao. Wajah wanita paruh baya itu terlihat kaget melihat putranya sedang menahan senjata dari seorang pelayan dapur.

Meihua mulai sadar apa yang ia lakukan adalah kesalahan besar. Menyerang seorang jenderal di hadapan orang tuanya sama saja dengan menyerahkan lehernya ke tiang gantungan. Dengan cepat Meihua menarik kembali belatinya, memutar pergelangan tangan, dan membelokkan gerakannya menjadi sebuah tamparan yang cukup keras.

Pipi kiri Jenderal Bao memerah ditampar oleh Meihua. Semua orang terdiam, Yu’er mengerjapkan mata cepat, sementara tuan dan nyonya besar menganga sambil melotot. Apa yang terjadi barusan sangat mengejutkan. Mana ada perempuan yang berani menampar Jenderal Bao.

"Berani-beraninya kau!" bentak Tuan Besar Bao Tianlang sambil maju dengan wajah merah padam. "Pengawal, tangkap pelayan kurang ajar ini!"

Meihua langsung berlutut, sambil pura-pura gemetar. Belati kesayangannya sudah tersembunyi kembali di balik lengan baju.

"Ampunkan hamba, Tuan dan Nyonya Besar, sungguh ampuni hamba," ucap Meihua dengan air mata palsu yang coba ia peras. Wajah bulatnya menunjukkan rasa takut yang sangat dalam, tentu sambil melirik Jenderal Bao dengan maksud meremehkan. “Hamba hanya panik dan takut setengah mati!"

"Panik karena apa sampai berani memukul seorang jenderal, kau tidak takut dihukum mati?" cecar Nyonya Besar, tak lupa menekan amarahnya agar masalah tidak membesar.

Meihua menunduk, pikirannya mencari alasan paling tidak masuk akal tetapi bisa menyelamatkannya.

"Hamba tadi tidak sengaja mematahkan ranting bunga kesayangan di taman ini saat membersihkan dedaunan," kata Meihua dengan suara serak, air matanya berhasil dia peras. "Saat Jenderal Bao mendatangi hamba dan menanyainya dengan wajah galak, hamba takut dihukum atau diusir. Hamba panik dan tak sengaja berbuat kasar agar bisa lari! Sungguh hamba yang lemah dan hina tidak bermaksud melukai Tuan Muda!"

“Lemah!” ulang Jenderal Bao dengan gigi rapat. Ia tahu Meihua sengaja mencari-cari alasan.

Suasana taman seketika canggung. Mematahkan ranting bunga hingga berujung menyerang Jenderal Besar? Alasan itu terdengar sangat konyol.

Jenderal Bao mengusap pipinya yang terasa nyeri. Matanya menyipit menatap gadis yang sedang bersujud di tanah itu. Tentu saja ia tidak percaya sepatah kata pun. Tidak ada orang biasa yang bisa melayangkan serangan secepat itu hanya karena takut dimarahi soal ranting bunga.

Namun, demi tidak memperlebar masalah dan supaya ia tahu apa misi Meihua datang ke rumahnya, tentu saja ia harus menahan gadis berwajah bulat itu agar tetap tinggal.

Lelaki tegap itu menghentikan langkah para pengawal yang baru saja datang membawa tongkat pukul dan pedang. Wajah kaku seperti sebatang ranting kering itu, mendadak mengumbar senyum tipis yang penuh kebohongan.

"Tahan!" ujar Jenderal Bao dengan tenang. Ia melirik Meihua, lalu menatap kedua orang tuanya. "Jangan hukum dia, Ayah, Ibu, ini salahku."

"Salahmu?" Nyonya Besar terbelalak. "Kau ditampar begitu dan bilang itu salahmu. Coba jelaskan!"

"Iya. Aku yang bersalah," lanjut Jenderal Bao santai, ia melirik Meihua yang masih berlutut dan menikmati keterkejutan di wajah gadis itu.

"Aku kelepasan menggoda Huamei karena wajahnya yang menggemaskan, dan dia menamparku demi mempertahankan kehormatannya sebagai seorang wanita."

Degh!

‘Hei! Kejadiannya bukan seperti itu! Kau pendusta!’ Meihua mengumpat dalam hatinya.

Nyonya Besar Nalan seketika terdiam. Kemarahan yang tadinya memuncak seketika turun. Ia menatap putranya yang menduda selama tiga bulan, lalu melirik Meihua yang berwajah bulat rupawan. Kebahagiaan sedikit tersirat di wajah nyonya besar itu. Putranya yang kaku seperti batu akhirnya punya gairah hidup kembali.

"Benarkah begitu, A Zhen?" tanya Nyonya Besar, mencoba menahan senyumnya.

"Benar, Ibu. Jadi, biarkan dia tetap bekerja di sini, karena aku menyuakinya," jawab Jenderal Bao datar.

Bao Yu yang sejak tadi menonton malah menyeletuk sambil bertepuk tangan. "Ayah nakal! Pantas dipukul Kakak Cantik!"

Nyonya Besar terbatuk menutupi rasa senangnya, lalu berdehem. "Ehem, kalau begitu, lain kali jaga sikapmu. Karena A Zhen yang memulai, kali ini kau diampuni. Kembali ke dapur!"

"Ba-baik, Nyonya Besar. Terima kasih atas kemurahan hatinya," sahut Meihua, tak lupa melirik Jenderal Bao. Ia bangkit dan undur diri dengan langkah seribu, menahan rasa malu dan jengkel yang tumbuh dengan cepatt.

Jenderal Bao memperhatikan langkah Meihua yang terus menjauh. Meski ia menyelamatkan gadis itu dan berpura-pura menerima alasannya, rasa curiga di hatinya justru makin membumbung tinggi. Gadis itu berbahaya, dan ia harus mengawasinya lebih dekat.

Malam harinya, di dalam kamar pelayan yang sunyi, Meihua duduk bersila di atas ranjangnya. Suasana kediaman Bao yang sudah tenang memungkinkannya untuk fokus. Ia memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam, untuk mengalirkan udara bersih ke ulu hatinya.

Ajaibnya, sejak tinggal di kediaman Jenderal Bao dan mengonsumsi makanan bergizi dari dapur, proses pemulihan tubuhnya berjalan sangat pesat. Ditambah lagi, tarian pembersih racun yang ia lakukan di taman kemarin malam rupanya memancing kembali inti di dalam tubuhnya.

Perlahan tapi pasti Meihua merasakan kehangatan mulai mengalir di sepanjang meridiannya. Tenaga dalamnya yang dulu terserak, kini mulai terkumpul sedikit demi sedikit.

Meihua membuka matanya. Pancaran sinar di matanya kini jauh lebih jernih. Ia mengepalkan tangannya, merasakan aliran tenaga dalam yang kian kuat.

"Jenderal Bao, kau pikir kebohongan menggodaku tadi bisa menyelamatkanmu? Saat tenaga dalamku pulih, akan aku penggal lehermu di hadapan kedua orang tuamu. “

Meihua tidak tahu bahwa Jenderal Bao sedang menyusun rencana untuk memindahkannya dari dapur menuju ruang pribadi, tempat di mana jebakan yang sesungguhnya telah disiapkan untuknya.

***

Di kamar, Jenderal Bao berdiri menatap peta wilayah Kekaisaran Long yang terbentang di atas meja. Jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan peta, persis di titik Tebing Ratapan Angin.

"Tuan." Gao Wuji masuk dengan langkah kaki hampir tak terdengar. "Semua pengawal di halaman belakang sudah ditarik sesuai perintahmu. Tetapi, apakah aman membiarkan gadis itu berkeliaran tanpa pengawasan?"

Jenderal Bao tidak langsung menjawab. Ia menunjuk tebing tempat Meihua jatuh tiga bulan lalu. "Ular tak akan masuk ke dalam jebakan jika kita terus memasang jaring di depannya, Wuji."

"Maksudnya Tuan ingin membiarkannya merasa menang?"

"Dia mengaku berbuat kasar hanya karena takut dimarahi soal ranting bunga yang patah." Jenderal Bao tertawa, untuk pertama kalinya sejak istrinya tiada.

"Alasan yang sangat konyol untuk seseorang yang memiliki ketepatan serangan sesempurna itu. Tenaga dalamnya dingin, menusuk, dan merambat dengan cepat. Tenaga dalamnya bukan milik orang biasa, bahkan kau belum tentu bisa menandinginya.”

Gao Wuji hanya mengangguk. "Lalu apa langkah kita selanjutnya, Tuan?"

"Mulai besok pagi, pindahkan dia dari dapur umum!" perintah Jenderal Bao tanpa bisa dibantah. "Jadikan dia pelayan pribadi di ruang kerjaku. Aku ingin melihat sejauh mana dia berani bergerak tepat di depan mataku.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   94. Bimbang

    Jauh dari Kediaman Jenderal Bao, keadaan di Paviliun Sekte Bai Ya perlahan mulai membaik. Lu Jianyu, tunangan Meihua yang baru saja memulihkan ketertiban sekte usai diterpa kekacauan besar, sibuk membersihkan puing-puing bangunan dan merapikan ruangan yang hancur. Ia sengaja memutuskan untuk bertahan sedikit lebih lama di sekte tersebut. Ia ingin saat Meihua kembali ke sisinya nanti, seluruh tempat itu sudah rapi dan aman seperti semula.Sekte Bai Ya memiliki beberapa jurus rahasia kuno yang langka. Salah satunya adalah teknik telepati yang mampu menghubungkan batin seseorang dari jarak yang sangat jauh, bahkan sanggup mendeteksi apakah orang yang dicari masih hidup atau tidak.Lu Jianyu menggunakan telepati itu untuk mengetahui keberadaan Meihua, dan ternyata gadis itu hidup dengan baik di suatu tempat. Ia sudah menduga bahwa Meihua akan bertahan hidup dengan segala cara. Mereka sudah berjanji akan menikah saat musim semi tiba di tahun yang sama.Mengetahui calon istrinya selamat, ia

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   93. Godaan

    Jenderal Bao memungut kertas itu dengan dada berdebar serta berdesir panas, mulai takut kehilangan. Namun, Yu’er yang berdiri di sampingnya tertawa sambil menunjuk tulisan di kertas tersebut.“Ayah, itu tulisanku sendiri! Surat di atas meja itu hasil belajar menulis bersama Kakak Cantik tadi pagi selesai makan!”Mendengar ucapan putranya, Jenderal Bao menarik napas lega. Ketegangan yang tadinya memuncak seketika hilang. Ia mengernyit menatap goresan tinta yang agak berantakan itu dan bertanya, “Kenapa tulisan yang kau buat justru surat perpisahan?”“Kata Kakak Cantik, itu isi hatinya, tapi dia belum berani mengungkapkannya pada Ayah. Jadi aku bantu tuliskan sedikit!” sahut Yu’er dengan wajah tanpa dosa.Jenderal Bao tersenyum tipis, rasa geli menyusup di hatinya. Pantas saja tulisannya jelek sekali, ternyata Yu’er yang sedang belajar.Lelaki berwajah tegas itu menoleh ke belakang, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang hening. Beberapa kali ia memanggil gadis itu. Namun, tid

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   92. Seperti Angin

    Jenderal Bao bersama dua orang prajuritnya melangkah menuju istana tempat Kaisar sedang membaca beberapa laporan. Di sana Kaisar Long sedang duduk tenang mengamati beberapa gulungan kertas. Namun, di saat yang bersamaan, langkah kaki lain terdengar, Duan Qiafeng turut hadir untuk menemui Kaisar.Tanpa mengulur waktu, Jenderal Bao berlutut memberi hormat, lalu dengan kedua tangannya ia menyodorkan sebuah wadah berisi batu giok bulat yang menguarkan cahaya biru lembut dan terlihat sangat indah.Melihat batu berkilau itu, mata Duan Qiafeng menyipit. Ia tidak suka Jenderal Bao kembali dengan selamat, seharusnya sudah mati kedinginan diterpa badai salju. Dengan sinis, ia bertanya."Tunggu dulu. Bagaimana kita bisa tahu bahwa benda ini benar-benar asli atau palsu? Bisa saja kau merekayasa seluruh perjalananmu, lalu kembali ke istana hanya dengan membawa sembarang batu giok bercahaya, bukan?"Jenderal Bao tidak terpancing emosi. Dengan tenang dan santai ia merogoh jubahnya dan mengeluarkan s

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   91. Rahasia

    Meihua langsung melangkah meninggalkan Jenderal Bao, dan berjalan jauh di barisan paling depan. Langkah kakinya mewakili kekesalan yang terpendam di dalam hati. Sementara itu, Jenderal Bao berjalan di belakangnya dengan tenang, tanpa berusaha menyamakan langkah. Namun, pandangannya tak pernah lepas dari sosok kecil, cerewet, serta keras kepala di depannya.Lima prajurit yang selamat di belakang berjalan mengekor dengan napas terengah. Melihat dua pimpinan perjalanan itu saling berdiam diri, kelima prajurit tersebut hanya bisa saling melempar pandangan penuh tanda tanya.Mereka berbisik sangat pelan, saling menerka apa yang sebenarnya terjadi di dalam istana kristal hingga membuat atasan mereka membisu seperti itu. Apakah terjadi pertengkaran hebat? Atau justru ada rahasia besar yang tak boleh mereka ketahui?Namun, karena takut kena semprot, tak seorang pun berani membuka suara secara terang-terangan. Semua memilih diam, menyisakan keheningan yang menyelimuti perjalanan panjang mereka

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   90. Takdir Langit

    Tubuh Meihua seketika membeku ketika mata tajam Jenderal Bao menatapnya begitu dalam dari jarak yang hanya menyisakan helaian baju di antara mereka. Belum sempat pikirannya mengendalikan gejolak di dada, Jenderal Bao sudah menundukkan kepala dan mendaratkan ciuman hangat nan dalam tepat di bibir Meihua.Nona Yue membelalakkan matanya, menatap pemandangan indah di depannya dengan senyuman penuh kemenangan. Meihua yang awalnya mematung, tanpa sadar mulai hanyut dan menikmati sentuhan lembut serta hangat dari sang jenderal.Rasa hangat yang menjalar dari bibir lelaki itu seakan meluluhkan pertahanan dirinya. Namun, tak butuh waktu lama bagi Meihua untuk tersadar dari lamunannya. Dengan sisa kekuatan yang ada, kedua telapak tangannya terangkat dan mendorong dada Jenderal Bao.Namun, Jenderal Bao justru menangkap dan menggenggam erat telapak tangan Meihua di dadanya tanpa menyudahi ciuman itu. Pertemuan antara aliran tenaga dalam panas dan dingin yang berbenturan seketika memicu desisan pa

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   89. Nenek Sihir

    Meihua langsung melompat dari gendongan Jenderal Bao ketika hening melanda. Ia minta maaf karena terlalu gugup, dan Jenderal Bao hanya mengatakan tidak apa-apa. Lagi pula dalam hatinya, lelaki itu merasa senang.“Apa anehnya di tempat ini? Sunyi sekali,” gumam Meihua pelan. Langkahnya bahkan sangat hati-hati, khawatir ada jebakan yang terpasang.“Tidak ada seorang pun, lalu kenapa ada istana di puncak batu begini?” Jenderal Bao bahkan melemparkan belatinya hingga tertancap ke salah satu dinding. Keduanya menanti dengan harap-harap cemas, tetapi tidak ada hal aneh yang berlaku.“Apa jangan-jangan tempat ini hanya rumah dewa yang iseng singgah ke bumi, ya?” Meihua yang lelah langsung duduk santai di lantai, enggan maju lagi. Jenderal Bao juga ikut-ikutan.“Bisa jadi. Berarti batu gioknya tidak ada? Padahal prajuritku sudah hampir mati kedinginan dibuatnya.”“Baru sadar kau, Tuan?” cemooh Meihua.“Aku sadar sejak pertama kali diberikan tugas itu, tapi aku tidak bisa menolak. Penolakan be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status