Share

Hukuman

Penulis: Strawberry
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-17 10:04:47

Suasana di Aula Kenanga mencapai titik beku. Para penjaga sudah melangkah maju untuk menyeret Chen Xu, namun sebuah suara melengking menghentikan segala gerakan di ruangan itu.

"Tunggu!"

Putri Agung Zhao Xinyi melangkah masuk dengan gaun sutra yang terseret di lantai batu. Wajahnya pucat, matanya yang biasanya angkuh kini berkilat antara amarah dan luka yang dalam.

Ia telah mendengar segalanya dari balik tirai. Ia menatap Chen Xu dengan tatapan hancur, namun egonya yang setinggi langit menolak
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Dokumen Forensik

    Li Lian tersenyum getir, meski kesadarannya mulai terseret ke dalam kegelapan yang pekat. Ia menatap wajah pria itu untuk terakhir kalinya, mencoba merekam setiap gurat wajahnya. "Ah... apa aku harus mati untuk kedua kalinya hanya demi bisa bertemu denganmu lagi, Jenderal?""NONA LI LIAN! NONA!"Li Lian tersentak hebat. Tubuhnya menegang, dan ia membuka matanya dengan napas tersengal-sengal yang nyaris mencekik kerongkongannya. Jantungnya berdegup kencang seolah baru saja dipacu menembus badai di padang utara. Kepalanya terasa sangat berat dan pening, ia baru menyadari bahwa dirinya rupanya jatuh tertidur dengan kepala bertumpu di atas meja kerja kayu yang keras di Paviliun Pengobatan.Di tangan kanannya, ia masih menggenggam giok putih pemberian Chen Xu dengan sangat erat, hingga buku-buku jarinya memutih dan kaku. Di hadapannya, setumpuk gulungan kertas medis dan catatan tanaman obat masih berserakan dalam kekacauan, ditemani sebatang lilin yang sudah hampir habis terbakar, menin

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Menahan Rindu

    Musim dingin telah benar-benar tiba, memeluk ibu kota dengan hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Li Lian berdiri mematung di balkon paviliunnya, menatap langit yang kelam pekat tanpa satupun bintang yang berani memunculkan diri. Malam itu seolah-olah semesta pun ikut bersembunyi, menahan napas dari intrik berdarah yang sedang terjadi di jantung istana. Di kejauhan, kepingan salju mulai turun dengan anggun, menutupi atap-atap istana yang megah dengan selimut putih yang dingin dan bisu. Namun, keindahan itu terasa hambar di mata Li Lian, karena baginya, salju itu hanyalah debu dingin yang menutupi banyak bangkai rahasia.Pikirannya terbang jauh, menembus ribuan mil menuju perbatasan utara—tempat di mana seorang pria yang sangat ia rindukan mungkin sedang berdiri tegak di atas tembok pertahanan yang membeku. Rindu itu datang tanpa permisi, menyesakkan dada hingga Li Lian merasa paru-parunya mengecil, sulit untuk sekadar menghirup udara malam yang tajam. Tanpa banyak ka

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Penyelidikan Ulang

    Aula kediaman Kaisar pagi itu dipenuhi oleh aroma dupa cendana yang berat, namun gagal menutupi bau ketegangan yang menusuk indra. Ibu Suri duduk kaku di kursi kebesarannya, jemarinya yang mengenakan pelindung kuku emas panjang mengetuk-ngetuk sandaran kursi dengan irama yang tidak sabar.Di seberangnya, Permaisuri Xiao berdiri dengan dagu terangkat, memperlihatkan ketenangan yang justru terasa seperti tantangan terbuka. Di antara dua kutub kekuatan ini, Li Lian berdiri dengan kepala menunduk, merasakan tatapan puluhan pasang mata kasim dan dayang yang bersembunyi di balik pilar-pilar raksasa, menunggu siapa yang akan tumbang terlebih dahulu.Keheningan itu pecah saat Permaisuri Xiao mengeluarkan sebuah gulungan kertas sutra dari balik lengan jubahnya—sebuah benda yang sejak satu jam lalu menjadi bahan rumor panas di seantero istana batin sebagai surat wasiat Tabib Song."Berdasarkan pengakuan yang ditinggalkan Tabib Song sebelum ia mengakhiri hidupnya karena rasa bersalah, ada raha

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Penemuan Mayat

    Fajar baru saja menyingsing, menyisuhkan warna biru pucat yang dingin di atas atap-atap melengkung Istana Terlarang. Namun, kedamaian pagi itu hancur berantakan oleh jeritan melengking seorang pelayan pengantar air. Dalam hitungan menit, kesunyian Paviliun Pengobatan berubah menjadi hiruk-pikuk yang mencekam. Derap langkah sepatu bot pengawal terdengar beradu dengan lantai batu, sementara bisik-bisik ketakutan mulai merayap di antara para kasim dan tabib muda.Li Lian terbangun dengan jantung berdebar kencang. Ia segera merapikan jubahnya, mengikat rambutnya dengan tergesa, dan melangkah keluar. Di halaman samping yang biasanya sunyi, ia melihat kerumunan besar manusia yang saling berdesakan, mata mereka membelalak menatap ke arah ruang kerja pribadi Tabib Senior Song.Li Lian tidak langsung menerobos. Ia berdiri di tepian kerumunan, menajamkan pendengarannya. Di istana ini, kebenaran seringkali terkubur di bawah lapisan rumor yang disebarkan oleh lidah-lidah yang gemetar."Sudah m

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Luka

    "Apakah dosisnya sudah dikurangi?" tanya sebuah suara parau dari balik dinding, terdengar gemetar tertiup angin pagi."Sudah, tapi Ibu Suri tidak puas. Beliau baru saja memberi perintah baru," sahut suara yang lain, lebih rendah namun tajam. "Tabib Senior Song sudah meresepkan ramuan 'Napas Terakhir'. Beliau memberikan deadline yang ketat. Kaisar tidak boleh bertahan lebih dari tujuh hari ke depan. Semua harus selesai sebelum upacara persembahan musim dingin dimulai."Li Lian merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Tabib Senior Song. Pria tua yang selama ini terlihat paling ramah dan selalu mendukung setiap diagnosanya di depan umum, ternyata adalah tangan kanan Ibu Suri yang menyiapkan racun paling mematikan."Tapi tabib baru itu... Putri Li Lian, dia sangat teliti. Jika kita memasukkan ramuan Tabib Song sekarang, dia akan menyadarinya dalam sekali hirup," kasim pertama menyahut penuh kecemasan."Bodoh! Justru itu rencananya. Tabib Song sudah mengatur agar gejalanya m

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Tugas Berat

    "Jangan khawatir, Nona Li Lian," ucap Yan Lu lembut, memecah keheningan yang ditinggalkan oleh debu kuda Chen Xu. "Istana ini mungkin penuh racun, tapi sekarang Anda memiliki satu pedang lagi yang bersedia melindungi Anda."Li Lian hanya mengangguk kecil, memberikan senyum tipis yang formal. Di belakangnya, ia bisa merasakan kehadiran Lin Feng yang kaku seperti patung batu. Lin Feng adalah mata dan telinga Chen Xu, sementara Yan Lu adalah perisai baru yang dihadiahkan oleh situasi politik. Menyeimbangkan loyalitas Lin Feng yang murni dan perlindungan Yan Lu yang misterius akan menjadi babak baru yang tidak kalah rumit dari menghadapi racun itu sendiri.Yan Lu kemudian memberi isyarat dengan tangannya, mengajak Li Lian untuk berjalan kembali menuju jantung istana. "Mari, Nona. Hamba akan mengantar Anda kembali ke Paviliun Pengobatan. Udara pagi ini terlalu tajam untuk kesehatan Anda."Mereka berjalan beriringan menyusuri koridor panjang yang masih diselimuti kabut tipis. Lin Feng m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status