Share

Bab 3. Pengucilan

Author: Mylilcosmos
last update Last Updated: 2025-11-22 23:12:27

"Kau lihat, hampir tidak ada pelayan yang tersisa untuk melayani Nyonya Muda. Bukankah ini jelas, Nyonya Muda itu tidak disukai oleh Nyonya Besar!"

"Mengapa begitu? Sebenarnya apa kesalahan Nyonya Muda hingga Nyonya Besar bahkan tidak membiarkannya hidup dengan nyaman?"

Pelayan yang satu mengangkat bahu, "Siapa yang tahu siapa yang telah dia singgung."

Ia telah mendengar desas desus dari para pelayan kecil yang melayani di Taman Krisan. Namun hal itu masih merupakan dugaan-dugaan tak berdasar di antara mereka para pelayan kecil.

Suara-suara percakapan yang berasal dari luar gerbang Taman Anggrek, meski cukup jauh dari paviliun utama, Li Yuan masih bisa mendengarnya dengan jelas.

Ia menatap pohon belalang di pekarangan. Wajahnya tanpa ekspresi.

Saat waktu makan malam tiba, pelayan kecil yang ditugaskan untuknya datang membawakannya apa yang menjadi hidangan malam itu.

Dibandingkan dengan hidangan kemarin, hidangan hari ini benar-benar sederhana.

Ibaratnya, kemarin ia masih menjadi kaisar, namun dalam semalam ia hampir telah menjadi pengemis.

Ketidaksukaan sang ibu mertua padanya benar-benar membuka mata!

"Apa panggilanmu?" Ia bertanya pada pelayan kecil yang berdiri di sebelahnya.

Pelayan kecil menunduk, menjawabnya, "Nyonya Muda, Pelayan ini dipanggil Xiao Du."

"Xiao Du, apakah kediaman ini tiba-tiba jatuh miskin hingga makanan yang disajikan untuk para majikan sejak pagi begitu sederhana?" Ia berbicara hampir tanpa emosi.

"Menjawab Nyonya Muda, Pelayan ini hanya ditugaskan untuk membawa hidangan ini untuk Nyonya Muda. Menurut pelayan di dapur, Nyonya Besar telah menganjurkan para majikan muda di kediaman agar berpantang dan hanya makanan vegetarian yang boleh disajikan."

"Begitu?" Li Yuan menatap sayuran rebus serta umbi-umbian kukus dalam porsi kecil dihadapannya, sebelum menyuruhnya untuk kembali berjaga di luar.

Bagus, kalau begitu mari kita pastikan orang-orang di kediaman ini menjalani hari-hari berpantang mereka dengan baik!

~~~

Keesokan harinya, para pelayan yang bertugas di dapur dilanda kepanikan.

Bagaimana mungkin daging yang baru dibeli dari pasar di pagi hari bisa tiba-tiba menghilang begitu saja?

Daging sebanyak itu merupakan persediaan selama tiga hari yang di beli lebih awal oleh pengurus dapur untuk membuat hidangan bagi para majikan.

Tidak hanya itu, bahkan sisa persediaan daging beberapa hari yang lalu serta daging berbumbu yang diawetkan juga telah menghilang secara misterius.

Semua orang di dapur bertanya-tanya, apakah ada pencuri yang telah masuk dan hanya mencuri semua daging dari mereka?

Kemudian pertanyaan itu segera diragukan. Pencuri mana yang akan berbuat seperti itu? Mengapa repot-repot menyelinap hanya untuk mencuri daging yang hampir tidak bernilai!

Namun matahari semakin tinggi di langit sehingga mereka tidak sempat lagi untuk pergi membeli daging karena harus segera menyiapkan sarapan untuk para majikan.

Dengan begitu, saat sarapan pagi itu, hidangan semeja penuh didominasi dengan sayuran dan tumis jamur-jamuran, tanpa jejak daging terlihat.

"Ada apa ini! Apakah kita sudah tidak memiliki perak untuk dibelanjakan? Hidangan daging satupun tidak ada!" Protes seorang pemuda berusia sekitar dua belas atau tiga belas tahun, yang merupakan Tuan Muda Kedua di kediaman Shen.

Para anggota keluarga yang lain juga memperlihatkan ketidakpuasan dengan hidangan sarapan yang disajikan di atas meja.

Meng Mama, yang merupakan kepala pengurus kediaman segera membungkuk, memberi penjelasan: "Pelayan ini meminta maaf kepada majikan semuanya. Ini semua terjadi karena pencuri telah masuk ke dapur dan mencuri semua persediaan daging yang ada."

Nyonya Besar tentu telah mendengar hal itu sebelumnya, ia segera berkata, "Bagaimana mungkin ada pencuri yang hanya mencuri daging tanpa mencuri barang berharga? Bukankah itu hanya tikus-tikus kecil yang perlu segera kau disiplinkan di dapur besar?!"

Meng Mama segera mengerti dan mundur masih dengan membungkuk.

Sementara itu, sang pencuri besar sedang duduk di sebuah paviliun terbengkalai di belakang kediaman yang letaknya cukup jauh dari halaman-halaman lain.

Daging perut babi iris yang sedang dipanggang di atas lempengan besi di depannya mendesis mengeluarkan suara yang membuat sang pemanggang menjadi agak tidak sabar.

Aroma daging yang terpanggang sungguh menambah ketidaksabarannya. Ditambah lemak yang meleleh membuat irisan daging itu mengkilat.

Visual yang sungguh sempurna!

Hari ini ia akan berpesta hingga puas dengan semua daging ini di sini. Nafsu makannya tak perlu diragukan, selalu sangat baik!

Lagipula, melihat tubuh yang begitu ramping yang kini miliknya ini, yang mungkin hanya dengan sentuhan saja akan runtuh, ia bertekad untuk mengisinya dengan banyak asupan daging.

Yang paling ia sesali setelah terbangun kembali adalah merelakan tubuh lamanya yang telah dibentuk dari latihan keras selama bertahun-tahun.

Lihatlah tubuh setipis kertas ini, bahkan berlari dengan gesit tidak bisa lagi dilakukannya dengan baik. Seluruh otot-otot di tubuh ini sebagian besar telah melemah!

Ini bisa dimengerti, bagaimanapun sang pemilik tubuh sebelumnya adalah seorang nona muda yang terlindungi.

Meski begitu, betapapun kurang gesit dirinya sekarang, dia masih lebih unggul dari orang biasa.

Memiliki kemampuan menyembunyikan diri dengan baik lah yang akhirnya membuatnya berhasil mencuri seluruh persediaan daging keluarga ini.

Ia tersenyum dingin.

Bagaimanapun, ini adalah balasan karena telah memaksanya menjadi seorang vegetarian!

Omong-omong, halaman terbengkalai ini tanpa sengaja ditemukannya saat sedang berkeliling.

Satu-satunya pelayan yang di tempatkan di sisinya hanya akan datang di waktu makan saja, mengantar makanan untuknya, lalu segera menghilang entah kemana.

Pada dasarnya, dia tidak memiliki seorang pelayan pun untuk melayaninya dengan benar. Namun dengan tidak adanya pelayan di sekitar, ia bisa bebas berkeliaran tanpa ada yang mengawasi.

Tentu saja ini cara yang sangat buruk dalam memperlakukan seorang menantu perempuan. Mereka sama sekali tidak menganggap keberadaannya.

Sekali lagi, secara tidak wajar ini merupakan hal yang bagus untuk Li Yuan. Menghindarkan dirinya dari segala etika yang harus dipatuhi seorang istri yang sebenarnya.

Saat daging di atas panggangan telah berwarna agak keemasan, Li Yuan dengan cekatan memindahkannya ke atas sebuah daun lebar yang dipetiknya dari sekitar.

Kemudian segera mengisi kembali lempengan besi itu dengan irisan-irisan lainnya.

Menurut kenangan yang dimiliki pemilik tubuh aslinya, ia telah dinikahkan kemari demi memenuhi permintaan Tuan Tua Shen, yang adalah kakek dari suaminya kini.

Konon, sang kakek pernah diselamatkan sewaktu mudanya oleh keluarga kelahiran sang Nyonya Muda, dan kemudian beliau telah menjanjikan ikatan pernikahan dengan keluarga bangsawannya di masa depan.

Meskipun menikah ke dalam keluarga bangsawan, namun upacara pernikahannya bahkan tidak semeriah upacara pernikahan sebuah keluarga sederhana.

Bahkan bisa dibilang hanya sedikit lebih baik dari upacara mengambil selir.

Wanita ini benar-benar malang. Bagaimana mungkin keluarganya tega menikahkannya dengan keluarga semacam ini?

Saat hidup sebagai putri pedagang, kehidupannya jauh lebih baik daripada sekarang.

Meski ibu kandungnya telah meninggal lebih awal, setidaknya di sana ia masih bisa makan dan minum dengan baik.

Li Yuan segera mengambil daging yang masih panas dengan sumpit, meniupnya sebentar sebelum dimasukkan ke dalam mulut.

Siapa yang akan menduga bahwa semua daging itu telah lenyap ke dalam perut sang menantu baru!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jenderal dan Pembunuh Bayaran Wanita   Bab 119. Riak Kecil

    Begitu kakinya berpijak pada pelataran aula, mata Han Liu Lang segera tertuju pada pria yang datang bersama Li Yuan. Ia lalu melemparkan pandangan bertanya pada wanita di depannya.“Dia adalah rekan seperjalanan yang terpisah denganku sebelumnya.” ujar Li Yuan.Tuan Kedua Wu mengamati sekilas pria di hadapannya. Tatapannya kemudian turun pada kakinya yang dililit kain, menunjukkan dia terluka dengan cukup parah. Meski orang itu berpakaian sangat sederhana, namun wibawa alami darinya tidak bisa diabaikan.Kendati mereka telah menjadi rekan seperjalanan dalam waktu yang singkat, Li Yuan tidak pernah bercerita apapun tentang dirinya. Jika diingat-ingat lagi, gadis itu bahkan jarang berbicara!Jadi Han Liu Lang hanya mengangguk kecil sebagai tanggapan, kemudian tersenyum sambil mengangguk sopan kepada pria di depannya. Namun berbeda dengan sikap ramah yang ia tunjukkan barusan, pria itu hanya menatapnya sebentar lalu mengangguk samar.Merasakan sikapnya yang tidak bersahabat, Han Liu Lan

  • Jenderal dan Pembunuh Bayaran Wanita   Bab 118. Sebuah Perintah

    Li Yuan telah duduk bersandar di sofa. Kedua kakinya ditekuk ringan, sementara tatapannya terpaku ke luar jendela, seolah mencari sesuatu yang tertinggal di masa lalu.Entah mengapa ia tiba-tiba merindukan hari-hari yang ia lewati di gunung belakang Benteng Hitam, di mana kesunyian mengisi sebagian besar harinya yang sibuk. Sibuk untuk berburu dan bertahan hidup.Melihatnya begitu damai, Wu Zhaojun tidak tega mengganggu. Ia turun dari sofa, lalu berjalan ke meja panjang di dekat tempat tidur. Kemudian kembali dengan anglo dan peralatan minum teh di tangan.Meja di tengah sofa itu terlalu kecil untuk meletakkan anglo di atasnya. Maka ia hanya menempatkannya di lantai lalu menyalakan arang di dalam. Setelah itu mengambil ketel logam di meja dan merebus air.Matanya sesekali akan melihat ke bawah, memastikan pijar bara merah itu tidak meredup sementara tangannya membuka toples kecil berisi daun teh kering.Ia menggunakan sendok kayu kecil, m

  • Jenderal dan Pembunuh Bayaran Wanita   Bab 117. Pohon Kamelia

    Begitu dua orang itu masuk ke dalam kamar, sosok pria tinggi berkumis tebal muncul dari sudut bangunan. Tatapannya berkilat dingin menatap kamar dengan pintu yang terbuka lebar.Orang itu segera pergi ke aula depan, lalu meminta selembar kertas pada pelayan yang berjaga di balik meja tinggi.Ia mengeluarkan arang yang dipungutnya di dekat dapur dan menulis kalimat pendek di atas kertas itu. Sisa kertas kemudian di sobek dan dikembalikan pada pelayan. Setelahnya, sosok itu berjalan keluar dari penginapan. Tangan yang tersembunyi di balik lengan bajunya dengan cepat menggulung kertas kecil berisi tulisan. Di belakang sebuah kedai arak yang berada di ujung jalan, tak jauh dari sumur, berdiri sebuah pohon jujube. Buahnya yang sebagian besar telah berwarna coklat kemerahan menggantung bergerombol, menunggu untuk dipanen oleh pemilik rumah.Pria berkumis keluar dari kedai. Matanya bergerak-gerak mengawasi keadaan sekitar. Memastikan tidak ada

  • Jenderal dan Pembunuh Bayaran Wanita   Bab 116. Ruang Mandi

    “Cepat, masuk ke dalam air.” Li Yuan memegangi lengannya, seakan jika tidak menahan pria yang lebih tinggi satu kepala darinya itu, ia akan tumbang kapan saja sebelum mencapai air. Meski merasa sedikit canggung, Wu Zhaojun membiarkan ia membantunya masuk ke dalam bak air yang telah siap sejak awal. Tentu saja ini disiapkan untuk pria yang hendak masuk sebelumnya.Begitu tubuhnya menyentuh air, perih itu meledak tajam. Wu Zhaojun mendesis tertahan, jari-jarinya di bawah air kembali mengepal menahan sengatan yang menjalar hingga ke tulang.Setelah bertahan beberapa saat, rasa panas di bahu dan punggungnya telah sedikit berkurang. Ia mulai mengatur napasnya, mencoba membuat dirinya lebih rileks.Sementara itu, Li Yuan keluar dari ruang mandi dan tak lama kemudian kembali dengan seember air yang dibawanya masuk tanpa tumpah.Ia berjongkok di bangku di tepi bak mandi, lalu dengan gayung bambu menyendok air dingin dari ember dan menyiramkannya dengan sangat hati-hati pada bahu pria itu.W

  • Jenderal dan Pembunuh Bayaran Wanita   Bab 115. Pasang Badan

    Setelah sarapan, Li Yuan memberitahu Tuan Kedua Wu bahwa ia ingin mengunjungi suatu tempat kemudian kembali ke penginapan di sore hari.Tuan Kedua Wu bisa melihat kata ‘jangan ikuti aku’ seakan tertulis di seluruh wajahnya saat wanita itu menatapnya dengan malas. Oleh karena itu ia hanya bisa mengangguk dan mengikuti keinginannya.Selesai berkata begitu, Li Yuan keluar dari kedai sarapan, meninggalkan Tuan Kedua Wu yang tampak masih ingin menikmati tehnya lebih lama. Ia lalu berbelok masuk ke toko kue di sebelah, bermaksud membeli sesuatu untuk dibawa ke biro.Toko kue itu lebarnya hanya satu petak kecil, tipikal toko kecil yang biasa menjual kudapan ringan. Di depan toko, sebuah meja kayu panjang rendah diletakkan dengan nampan-nampan bundar dari bambu disusun d

  • Jenderal dan Pembunuh Bayaran Wanita   Bab 114. Obrolan di Kedai Sarapan

    Li Yuan berjalan menyusuri koridor, sesekali melontarkan ringan kantong perak ke udara sebelum menangkapnya kembali.Dari ujung koridor yang jauh, sosok pria gemuk, diikuti dua orang pelayan di belakangnya, berjalan setengah berlari ke arahnya.Saat berikut sosok itu berpapasan dengannya, Li Yuan bisa melihat di bawah cahaya lentera minyak yang bersinar kuning, pria tua gemuk dengan tahi lalat mencolok di pipinya itu memiliki ekspresi yang teramat cemas, seakan dunia akan berakhir jika ia tidak lebih cepat menyeret tubuh gempalnya ke halaman sang istri.Sebelumnya, ketika ia melewati taman hendak pergi melapor ke halaman nyonya rumah, ia melihat pria tua itu di sana. Para pelayan memanggilnya dengan sebutan Tuan Besar. Saat itulah Li Yuan teringat kembali sosok yang ia temui

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status