Mag-log inDi Taman Anggrek, Li Yuan tengah mondar mandir di dalam paviliun dengan tempo yang malas. Alisnya sedikit berkerut, nampak berpikir.
Ia sangat ingin memperkuat tubuh barunya ini, namun di kediaman ini, cara apa yang bisa dilakukan tanpa menarik perhatian orang-orang? Dipandang aneh tentu saja ia tidak peduli, namun ia hanya tidak suka menarik perhatian yang kemudian akan membuat orang-orang berspekulasi tentang perilaku sang Nyonya Muda yang sangat tidak biasa. Di zaman yang lebih kuno ini, kepercayaan terhadap hal-hal gaib masih melekat kuat. Tentu saja ia tidak ingin menarik perhatian Nyonya Besar untuk mengundang seorang pemuka agama dengan dalih mengusir roh jahat dari tubuhnya yang akhirnya akan menimbulkan implikasi yang lebih luas. Keributan seperti itu ia tidak tahan. Ia selalu suka ketenangan. Bahkan tak keberatan jika keberadaannya tidak dianggap. Sejak mengantarkan makanan siang tadi, pelayan kecil bernama Xiao Du sudah tak terlihat di halaman. Sebenarnya, sejak kemarin ia belum membersihkan diri. Karena hal ini adalah hal yang biasa terjadi di kehidupan sebelumnya ketika ia bertugas sebagai pengintai dalam waktu yang lama, ia tidak terlalu memikirkan. Bagi para pembunuh terlatih sepertinya, ini adalah hal-hal yang paling remeh dan tak layak untuk diperhatikan lebih jauh. Namun kini, ia memiliki tubuh seorang wanita muda yang halus dan rapuh yang tak akan tahan lama-lama dengan kekotoran. Jika diabaikan dalam waktu lama, kulit pun akan mulai ruam dan gatal, yang tidak akan terasa nyaman. Sampai dua hari yang lalu, masih ada seorang pelayan wanita tua yang akan datang mengantarkan air untuknya. Namun entah mengapa pelayan tua itu tidak lagi muncul. Ia juga tidak bisa mengandalkan Xiao Du untuk mengambil air. Jangankan menyuruhnya untuk mengambil air, kini pelayan kecil itu juga telah mengabaikan pakaian kotornya yang menumpuk di sudut ruangan. Apakah ini level pengucilan lainnya yang diperintahkan oleh sang ibu mertua? Li Yuan menatap dengan acuh tak acuh. Jika dipikirkan lebih dalam, bukankah ini adalah sebuah kesempatan baik untuk melatih tubuh lemah ini? Semakin banyak ia bekerja, semakin banyak otot yang akan terbangun, dan semakin mudah ia menggerakkan tubuhnya. Meski memiliki ilmu bela diri, namun tubuh rapuhnya sekarang sama sekali tidak menunjang untuk latihan apapun. Baiklah. Mari kita masuk ke dalam permainan sang ibu mertua! ------ Gu Shi sedang duduk di luar ruangan di halamannya. Cuacanya sangat bagus untuk dilewatkan dengan mengurung diri di dalam rumah. Matanya menatap ke depan sambil mendengarkan laporan Chen Mama. "Nyonya Muda telah pergi mengambil sendiri air dari sumur di dekat Taman Anggrek. Kemudian, Xiao Du juga telah mengabaikan kebutuhan sehari-hari Nyonya Muda. Selain hanya makanan yang masih diantarkan, yang lainnya telah diabaikan." Chen Mama melapor dengan kepala tertunduk. Gu Shi menyeringai dingin: "Bagus. Aku ingin melihat, berapa lama lagi wanita bodoh itu akan bertahan. Dia, wanita muda yang telah dimanja selama bertahun-tahun, melakukan semua pekerjaan berat itu, apakah ia masih tidak akan mati karena kelelahan!" Ia menyapu sehelai daun yang jatuh di bahunya, mendesah, "Lebih baik jika ia segera mati karena kelelahan, atau tidak ia bisa saja bunuh diri karena merasa diperlakukan tidak adil. Semua ini menghemat waktuku untuk memikirkan cara menyingkirkannya." Berpikir sejenak, ia menambahkan, "Awasi saja untuk saat ini. Jangan biarkan dia mengirim surat satupun kepada keluarganya." "Baik, Nyonya." Dengan begitu, Chen Mama pun mengundurkan diri. ------ Li Yuan telah menemukan sebuah tong air besar yang tidak terpakai di halaman terbengkalai. Ia kemudian membawanya dengan susah payah kembali ke Taman Anggrek. Tidak masalah, kegiatan ini untuk melatih otot-otot yang telah tertidur di tubuh barunya. Sebelumnya, ia telah pergi ke gudang kediaman dan meminta kepada pengurus di sana untuk memberinya sebuah tong air besar, yang kemudian ditolak oleh sang pengurus dengan alasan mereka tidak memilki barang seperti yang dia minta. Dengan itu Li Yuan berkeliling di seluruh kediaman untuk mencari perkakas yang ia perlukan. Pada zaman itu, untuk bisa mandi air hangat, orang-orang masih menggunakan cara tradisional dengan memanaskan air secara manual di atas tungku, kemudian memindahkan air panas ke dalam ember kayu yang selanjutnya dicampur dengan air dingin, dan setelah itu baru diantarkan ke halaman para majikan. Semua ini membutuhkan banyak waktu dan tenaga. Li Yuan kemudian terpikir untuk membuat bak mandi air hangatnya sendiri. Ia masih ingat pernah membaca di sebuah buku tentang cara sederhana membuat bak mandi yang sudah ada pada zamannya. Setelah memindahkan pot tanah liat yang cukup besar dari gudang barang tidak terpakai, ia mulai bekerja. Ruang mandi di halamannya merupakan sebuah bangunan kecil yang terpisah dari paviliun utama. Letaknya tepat di belakang kamar tidur. Li Yuan mulai melubangi bagian bawah dinding ruang mandi, tidak besar namun cukup untuk memasukkan kayu bakar ke dalam. Setelah pot tanah liat dibersihkan, ia membuat lubang pada dinding bagian bawah pot dan menyelipkan sebuah bambu pendek ke dalamnya, tak lupa menutup lubang bambu yang terbuka dengan sumbat kayu sederhana. Kemudian pot tanah liat itu ditaruh di dalam ruang mandi, tepat di atas lubang tempat kayu bakar akan diletakkan. Lalu ia mengisi celah-celah yang ada dengan tanah liat. Ini dilakukan agar asap dari kayu bakar tidak masuk ke ruang mandi. Tentu saja ia juga membuat lubang pembuangan asap tersendiri menggunakan bambu tua yang telah dipotong dan dirakitnya. Setelah semua ini selesai, ia tinggal menaruh bak mandi kayu yang biasanya dipakai untuk berendam tepat di sebelah pot tanah liat. Dengan begitu ia tinggal membuka sumbat kayu pada pot tanah liat ketika air di dalamnya sudah cukup panas, yang akan mengalirkan air panas itu ke dalam bak mandinya. Untuk memudahkan mengatur suhu air, ia juga telah menaruh tong air besar yang telah dilubangi seperti pot tanah liat tadi tidak jauh dari bak mandi, dan menggunakan bambu panjang untuk mengalirkan air dingin ke dalam bak kayu. Dengan ini, semua kerja kerasnya untuk memperoleh pengalaman mandi yang nyaman telah selesai.Begitu kakinya berpijak pada pelataran aula, mata Han Liu Lang segera tertuju pada pria yang datang bersama Li Yuan. Ia lalu melemparkan pandangan bertanya pada wanita di depannya.“Dia adalah rekan seperjalanan yang terpisah denganku sebelumnya.” ujar Li Yuan.Tuan Kedua Wu mengamati sekilas pria di hadapannya. Tatapannya kemudian turun pada kakinya yang dililit kain, menunjukkan dia terluka dengan cukup parah. Meski orang itu berpakaian sangat sederhana, namun wibawa alami darinya tidak bisa diabaikan.Kendati mereka telah menjadi rekan seperjalanan dalam waktu yang singkat, Li Yuan tidak pernah bercerita apapun tentang dirinya. Jika diingat-ingat lagi, gadis itu bahkan jarang berbicara!Jadi Han Liu Lang hanya mengangguk kecil sebagai tanggapan, kemudian tersenyum sambil mengangguk sopan kepada pria di depannya. Namun berbeda dengan sikap ramah yang ia tunjukkan barusan, pria itu hanya menatapnya sebentar lalu mengangguk samar.Merasakan sikapnya yang tidak bersahabat, Han Liu Lan
Li Yuan telah duduk bersandar di sofa. Kedua kakinya ditekuk ringan, sementara tatapannya terpaku ke luar jendela, seolah mencari sesuatu yang tertinggal di masa lalu.Entah mengapa ia tiba-tiba merindukan hari-hari yang ia lewati di gunung belakang Benteng Hitam, di mana kesunyian mengisi sebagian besar harinya yang sibuk. Sibuk untuk berburu dan bertahan hidup.Melihatnya begitu damai, Wu Zhaojun tidak tega mengganggu. Ia turun dari sofa, lalu berjalan ke meja panjang di dekat tempat tidur. Kemudian kembali dengan anglo dan peralatan minum teh di tangan.Meja di tengah sofa itu terlalu kecil untuk meletakkan anglo di atasnya. Maka ia hanya menempatkannya di lantai lalu menyalakan arang di dalam. Setelah itu mengambil ketel logam di meja dan merebus air.Matanya sesekali akan melihat ke bawah, memastikan pijar bara merah itu tidak meredup sementara tangannya membuka toples kecil berisi daun teh kering.Ia menggunakan sendok kayu kecil, m
Begitu dua orang itu masuk ke dalam kamar, sosok pria tinggi berkumis tebal muncul dari sudut bangunan. Tatapannya berkilat dingin menatap kamar dengan pintu yang terbuka lebar.Orang itu segera pergi ke aula depan, lalu meminta selembar kertas pada pelayan yang berjaga di balik meja tinggi.Ia mengeluarkan arang yang dipungutnya di dekat dapur dan menulis kalimat pendek di atas kertas itu. Sisa kertas kemudian di sobek dan dikembalikan pada pelayan. Setelahnya, sosok itu berjalan keluar dari penginapan. Tangan yang tersembunyi di balik lengan bajunya dengan cepat menggulung kertas kecil berisi tulisan. Di belakang sebuah kedai arak yang berada di ujung jalan, tak jauh dari sumur, berdiri sebuah pohon jujube. Buahnya yang sebagian besar telah berwarna coklat kemerahan menggantung bergerombol, menunggu untuk dipanen oleh pemilik rumah.Pria berkumis keluar dari kedai. Matanya bergerak-gerak mengawasi keadaan sekitar. Memastikan tidak ada
“Cepat, masuk ke dalam air.” Li Yuan memegangi lengannya, seakan jika tidak menahan pria yang lebih tinggi satu kepala darinya itu, ia akan tumbang kapan saja sebelum mencapai air. Meski merasa sedikit canggung, Wu Zhaojun membiarkan ia membantunya masuk ke dalam bak air yang telah siap sejak awal. Tentu saja ini disiapkan untuk pria yang hendak masuk sebelumnya.Begitu tubuhnya menyentuh air, perih itu meledak tajam. Wu Zhaojun mendesis tertahan, jari-jarinya di bawah air kembali mengepal menahan sengatan yang menjalar hingga ke tulang.Setelah bertahan beberapa saat, rasa panas di bahu dan punggungnya telah sedikit berkurang. Ia mulai mengatur napasnya, mencoba membuat dirinya lebih rileks.Sementara itu, Li Yuan keluar dari ruang mandi dan tak lama kemudian kembali dengan seember air yang dibawanya masuk tanpa tumpah.Ia berjongkok di bangku di tepi bak mandi, lalu dengan gayung bambu menyendok air dingin dari ember dan menyiramkannya dengan sangat hati-hati pada bahu pria itu.W
Setelah sarapan, Li Yuan memberitahu Tuan Kedua Wu bahwa ia ingin mengunjungi suatu tempat kemudian kembali ke penginapan di sore hari.Tuan Kedua Wu bisa melihat kata ‘jangan ikuti aku’ seakan tertulis di seluruh wajahnya saat wanita itu menatapnya dengan malas. Oleh karena itu ia hanya bisa mengangguk dan mengikuti keinginannya.Selesai berkata begitu, Li Yuan keluar dari kedai sarapan, meninggalkan Tuan Kedua Wu yang tampak masih ingin menikmati tehnya lebih lama. Ia lalu berbelok masuk ke toko kue di sebelah, bermaksud membeli sesuatu untuk dibawa ke biro.Toko kue itu lebarnya hanya satu petak kecil, tipikal toko kecil yang biasa menjual kudapan ringan. Di depan toko, sebuah meja kayu panjang rendah diletakkan dengan nampan-nampan bundar dari bambu disusun d
Li Yuan berjalan menyusuri koridor, sesekali melontarkan ringan kantong perak ke udara sebelum menangkapnya kembali.Dari ujung koridor yang jauh, sosok pria gemuk, diikuti dua orang pelayan di belakangnya, berjalan setengah berlari ke arahnya.Saat berikut sosok itu berpapasan dengannya, Li Yuan bisa melihat di bawah cahaya lentera minyak yang bersinar kuning, pria tua gemuk dengan tahi lalat mencolok di pipinya itu memiliki ekspresi yang teramat cemas, seakan dunia akan berakhir jika ia tidak lebih cepat menyeret tubuh gempalnya ke halaman sang istri.Sebelumnya, ketika ia melewati taman hendak pergi melapor ke halaman nyonya rumah, ia melihat pria tua itu di sana. Para pelayan memanggilnya dengan sebutan Tuan Besar. Saat itulah Li Yuan teringat kembali sosok yang ia temui







