Masuk"Omong kosong! Bagaimana mungkin semua daging itu lenyap begitu saja? Bahkan seekor burung pegar pun tak terkecuali! Ini sudah hari yang ketiga dan kalian masih belum menemukan pelakunya?!" Suara Nyonya Besar meninggi.
Sudah sejak pagi Sang Nyonya mengamuk. Namun karena tidak bisa memberikan jawaban untuk pertanyaannya, Meng Mama hanya bisa pasrah terkena ledakan amarah sang majikan. Ia kemudian memerintahkan, "Segera ganti semua pelayan yang ada di dapur utama! Kita tidak ingin terus menerus menyimpan pencuri di lumbung beras!" Beraninya tikus-tikus rendahan itu mencuri barang-barang remeh seperti daging! Meskipun selalu bisa dibeli lagi, namun karena sang suami bahkan ibu mertuanya sudah mulai bersuara, tak pelak ia harus segera membereskan masalah ini. Saat memberi salam pagi pada sang Nyonya Tua, hampir semua anggota keluarga berkumpul sehingga memenuhi ruangan di Taman Anyelir tempat Nyonya Tua tinggal. "Bagaimana keadaan Li Shi? Apakah dia masih tidak sehat?" Wanita tua dengan pelipis yang sebagian besar telah tertutupi oleh rambut keperakan itu bertanya kepada menantunya. Sudah lama sejak terakhir kali cucu menantu perempuan itu datang untuk memberi penghormatan kepadanya. Ia juga telah mendengar kabar kecelakaannya. Gu Shi tersenyum sopan, menjawab ibu mertuanya, "Nyonya Muda Pertama masih akan tinggal di halamannya untuk beberapa waktu. Ibu mohon maklumi dia, kesehatannya benar-benar sedang buruk." Nyonya Tua Shen mengangguk-angguk mengerti. Di seluruh kediaman, siapa yang tidak tahu bagaimana keadaan yang sebenarnya? Namun, karena ia sudah tua dan tidak mampu lagi mengurus urusan rumah tangga, maka ia menyerahkan seluruh urusan untuk ditangani oleh satu-satunya menantu perempuan yang dia miliki. Selama ini Gu Shi terbukti selalu mampu menangani masalah dengan baik, yang membuatnya bisa tenang menyerahkan urusan kediaman kepadanya. Namun, niat lain menantunya ia tentu bisa membacanya sekilas. Bagaimana mungkin seorang menantu dari keluarga pedagang bisa memuaskannya? Namun karena janji yang telah terlanjur dibuat oleh suaminya dulu kepada keluarga cucu menantu ini, mereka tidak bisa mengabaikannya begitu saja karena keluarga mereka akan dipandang buruk oleh orang-orang luar. Begitulah akhirnya sang cucu menantu dengan terpaksa diterima masuk ke dalam keluarga mereka sebagai istri sah dari cucu tertua keluarga. Ia tidak bisa menyalahkan Gu Shi karena ketidakpuasannya dengan pengaturan ini. Kalau itu dirinya, dengan putra sulung yang begitu berharga, ia juga tidak akan rela menikahkannya dengan seorang putri dari keluarga pedagang rendah. Bagaimanapun, wajah bangsawan mereka masih dipandang tinggi oleh orang-orang biasa, meskipun sekarang mereka hanya bisa disebut bangsawan kelas tiga. Nyonya Tua beralih ke cucu perempuan tertuanya, bertanya, "Bagaimana dengan persiapan pernikahan Ling'er, apakah semuanya berjalan lancar?" Shen Ling segera menundukkan kepalanya, dengan malu-malu khas wanita muda ia menjawab, "Persiapannya lancar, Nenek tenang saja." "Bagus, bagus.. pernikahanmu tinggal satu bulan lagi. Semua persiapan harus ditangani dengan baik. Jangan sampai ada kesalahan saat hari itu tiba. Kita harus menjaga wajah baik Kediaman Bangsawan kita dihadapan orang luar." "Baik Nenek, Cucu mengerti. Ibu akan membantuku menangani semuanya dengan hati-hati." Di dalam keluarga Shen, hanya ada satu cabang penerus keluarga yaitu putra kandung dari Nyonya Tua dan Tuan Tua Shen, yakni Tuan Besar Shen, Shen Min, yang kemudian menikah dengan Gu Shi dan melahirkan dua orang putra dan seorang putri sah. Di samping itu, Shen Min juga memiliki beberapa selir yang telah melahirkan seorang putra dan seorang putri tidak sah untuknya. Bisa dikatakan, keluarga Shen ini cukup kecil karena anggota keluarga prianya tidak banyak. Tuan Muda Pertama Shen, Shen Rong sebelum menikah dengan Li Yun, sang Nyonya Muda Pertama, memilki dua orang pelayan kamar yang segera diangkat menjadi selir setelah Li Yun menikah ke dalam keluarga. Pada masa itu, adalah hal yang normal di kalangan keluarga biasa yang memiliki kemampuan maupun di kalangan bangsawan, bagi setiap tuan muda untuk memilki pelayan kamar. Pelayan kamar ini sejak dini telah diatur oleh sang ibu untuk mengajari putra-putra mereka mengenai hal-hal yang berkaitan dengan hubungan antara pria dan wanita. Dan kebanyakan pelayan kamar ini selanjutnya akan diangkat menjadi selir sang tuan muda ketika istri sah telah masuk ke dalam keluarga. Menyadari sedikitnya penerus keluarga, Gu Shi telah berencana untuk menambahkan beberapa selir lagi bagi putra sulungnya. Sayangnya, kini putra sulungnya sedang berada jauh di Perbatasan Selatan, sehingga keinginannya untuk segera memiliki cucu-cucu yang montok pun menjadi tertunda. Selain itu, dengan menantu yang tak dianggap itu, ia tidak akan membiarkan putranya menghamilinya dan menunda rencana besarnya. Dengan keadaan seperti ini lebih baik bagi putranya untuk menghamili para selirnya. Namun, ini juga tidak benar menurut peraturan. Bagaimana orang akan memandang keluarga mereka jika mengetahui bahwa para selir dibiarkan hamil duluan sebelum istri utama? Ia juga tidak menginginkan hal itu terjadi. Akan ada banyak konflik yang akan terjadi di masa depan. Sekarang, jalan satu-satunya adalah ia harus segera menyingkirkan sang menantu dari keluarga pedagang itu dan segera mengambil menantu baru untuk menjadi istri utama putra sulungnya. Dengan begitu ia bisa menantikan mereka untuk memberikannya cucu-cucu laki-laki kecil yang montok. Kalau tidak berhasil, maka ia akan menambahkan beberapa selir lagi untuk putranya. Selalu ada tambahan orang untuk melahirkan penerus keluarga. Sang Nyonya Tua hampir selalu mengeluh padanya tentang sedikitnya anak laki-laki di rumah. Oleh karena itu, saat dulu ia memberikan beberapa selir bagi suaminya, Sang Tuan Besar, Gu Shi hanya menelan amarah dan menerimanya tanpa berkata apapun. Wanita mana yang ingin berbagi suami dengan beberapa wanita? Diam-diam ia mengutuk mertua perempuannya karena kelicikannya. Saat itu terjadi pada dirinya sendiri, ia bahkan tak membiarkan suaminya, Tuan Tua untuk mengambil selir. Hasilnya, mereka hanya memiliki seorang putra untuk meneruskan garis keturunan keluarga Shen. Meski selir sudah banyak ditambahkan untuk sang putra tunggal, setelah bertahun-tahun, mereka hanya berhasil melahirkan seorang putra tidak sah. Ini sungguh mengecewakan. Keturunan tidak bertambah banyak, namun seringnya konflik di antara para selir tidak terhindarkan. Akhirnya, demi ketenangan rumah tangga, para selir yang tidak berhasil melahirkan putra maupun putri pun diusir dari rumah dan di tempatkan di perkebunan keluarga. Dengan beberapa orang berkurang, selain mengurangi masalah, pengeluaran kediaman pun jauh lebih ringan. Kini di kediaman, selain ia sebagai istri utama, Tuan Besar juga masih mempertahankan dua orang selir untuk melayaninya. Melihat temperamen Nyonya Tua, ia mungkin masih akan menambahkan selir-selir baru dan muda untuk putranya. Putranya masih tergolong muda di usianya yang empat puluh tahun, tentu saja ia masih bisa menghamili beberapa wanita lagi sehingga menambah cucu-cucu laki-laki untuknya.“Paman, apakah Anda seorang pemburu?” Xiao Ru bertanya ketika melihat penampilan pria itu yang mengenakan jubah rami pendek dengan sabuk kulit, di mana menggantung berbagai perlengkapan seorang pemburu, seperti belati, kantong umpan, labu tempat menyimpan air minum, dan lain-lain.Mendengarnya mengatakan itu, Li Yuan secara naluriah mulai mengamati penampilan orang asing di depan dari atas ke bawah.Pria itu terkekeh, “Kau sangat jeli, Nak. Paman memang seorang pemburu. Ini musim yang baik untuk berburu. Namun sayangnya, Paman selain hanya berhasil memburu dua ekor kelinci, juga mengalami kecelakaan ini.”Ia menunduk, menggerak-gerakkan kakinya dengan sangat perlahan. Raut wajahnya kemudian menunjukkan ketidaknyamanan ketika ia berkata, “Seperti
“Ketemu! Kayak Yuan, Kakak Yuan! Lihat, apakah ini Anggrek yang benar?” seru Nona Kedua Mo.Li Yuan yang tengah berjongkok, menoleh ke belakang kemudian berdiri dan menghampirinya.Ia berjongkok lagi, mengamati tanaman yang sekilas mirip rumput di atas tanah. Ketika diperhatikan baik-baik, warna hijaunya jauh lebih pekat dibanding tanaman sekitarnya. Jika diamati lebih dekat, terdapat gerigi halus yang sangat kecil pada tepi daun tanaman.Li Yuan menganggukkan kepala. “Benar. Kau akhirnya berhasil menemukan Anggrek Chunlan yang asli.” Tidak bisa dibayangkan betapa gembiranya Nona Kedua Mo atas penemuannya. Kalau saja tidak terhalang oleh didikan etiket yang diterimanya sejak kecil, ia sudah akan melompat-lompat sambil menjerit kegirangan di sana.Alhasil, ia hanya menutup mulut dengan kedua tangan, menahan perasaannya yang meluap, sementara binar sukacita terlihat di matanya.Xiulan dan Xiao Ru segera mendekat ketika mendengar anggrek chunlan disebut.Li Yuan mengulurkan tangan. “B
Setelah selesai, lubang tadi ditutupi dengan ranting-ranting halus, yang akan langsung patah jika terkena beban. Kemudian di atasnya dilapisi daun-daun di sekitar yang sudah mulai membusuk.Merasa pekerjaannya di sana sudah selesai, Li Yuan berbalik pergi. Berjalan ke arah barat, tempat kemungkinan rusa itu masih berada.Ia menelusuri area pepohonan dengan jarak yang lebih rapat. Makhluk seperti mereka kemungkinan akan menghindari terik matahari.Tangannya dengan ringan memetik salah satu daun, kemudian seperti sebelumnya, meniup suara siulan untuk memancing rusa jantan itu mendekat.Sambil meniup, sambil berjalan, mata dan telinganya selalu awas.Beberapa waktu kemudian, seperti perkiraan, dari balik pepohonan dia melihat si rusa jantan sedang menundukkan kepala, tampak asyik minum air dari sebuah aliran kecil di lereng.Li Yuan berjalan mundur dengan perlahan, masih meniup daun tadi di mulutnya. Sementara matanya mengawasi pergerakan hewan buruan di kejauhan yang mulai tergerak.Des
Li Yuan tidak goyah. Ia terus memainkan siulan daunnya. Menyanyikan apa yang diyakininya sebagai panggilan kawin sang rusa betina.Sementara rusa jantan telah keluar dari semak, memperlihatkan seluruh tubuhnya. Mulai berjalan menuju ke pohon tempat Li Yuan berada.Li Yuan melirik gelondongan tali rami di pinggang, yang dibawanya sebagai persiapan perjalanan ke hutan sebelumnya. Sementara tangan satunya masih memegang daun, tangan lainnya mulai melepas ikatan tali di pinggangnya.Namun, ketika rusa itu sudah berada dalam jarak sekitar lima belas meter darinya, rusa itu tiba-tiba berhenti dan mendadak berbalik melarikan diri.Sial! Rutuk Li Yuan dalam hati.Sepertinya makhluk itu telah mendeteksi aroma tubuhnya. Li Yuan telah melupakan kemampuan satu ini. Hanya bisa menatap dengan muram ketika rusa itu kembali menghilang ke dalam hutan.Ia menengadah.Sungguh usaha yang sia-sia.Dengan sedikit kecewa, ia turun dari pohon. Menggulung tali raminya dan mengikatnya kembali pada sabuk pingga
Li Yuan berjalan lebih dulu.Sesekali, ia akan berhenti untuk menunggu kedua gadis itu yang sebentar-sebentar akan beristirahat, mengatur napas yang tersengal-sengal.Nona Kedua Mo mengusap keringatnya untuk kesekian kalinya. Sebelah tangannya bertumpu pada sebuah pohon, sedangkan tubuhnya dicondongkan ke depan. Setiap hembusan napas, dikeluarkan dari bibirnya yang mengerucut.Cara ini diajarkan oleh Li Yuan sebelumnya, untuk dengan cepat menormalkan ritme pernapasan.Di sebelahnya, kondisi Xiulan tidak lebih baik. Bibirnya tampak memucat. Sementara ia juga tengah melakukan teknik pernapasan yang dianjurkan Li Yuan.Dengan susah payah, ia mengangkat kepalanya, berkata kepada sang majikan, “Nona..kalau tahu.. akan sesulit ini perjalanannya.. lebih baik.. kita.. tidak usah ikut saja. Bukankah.. kita ini.. hanya sedang.. mengantarkan nyawa kepada dewa gunung…” ia bersusah payah menelan ludahnya sembari mengatur napas yang masih terengah.Mo Yifei terkekeh geli melihat wajahnya yang pahit
Di luar, tidak terlalu ramai orang berlalu lalang. Pandangan mereka segera tertuju pada kerumunan kecil orang tidak jauh dari sana. Orang-orang itu tengah berkerumun di depan sebuah papan besar beratap kecil di atasnya.Ketika mereka bertiga mendekat, mereka segera mengetahui bahwa itu adalah papan pengumuman kota. Di bagian terdalam kerumunan, terlihat seorang pria berseragam biru tua yang tampaknya seorang petugas lapangan dari balai pemerintahan, sedang menempelkan sesuatu di sana.Ketika ia selesai, orang-orang segera bergeser maju. Mencoba mengetahui informasi apa yang telah ditempelkan barusan.Beberapa orang yang bisa membaca, segera bersuara.“Lagi? Ini sudah yang kelima kalinya dalam bulan ini.” “Mungkinkah, benar-benar ada hantu wanita pendendam yang mengincar para wanita hamil di kota ini..” “Omong kosong! Tidak ada hantu seperti itu di dunia ini. Jelas-jelas ulah orang jahat!”“Lantas, bagaimana menjelaskan para wanita itu bisa tiba-tiba menghilang dalam satu malam? Ti