Beranda / Zaman Kuno / Jenderal dan Pembunuh Bayaran Wanita / Bab 4. Sedikitnya Penerus Keluarga

Share

Bab 4. Sedikitnya Penerus Keluarga

Penulis: Mylilcosmos
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-23 11:03:45

"Omong kosong! Bagaimana mungkin semua daging itu lenyap begitu saja? Bahkan seekor burung pegar pun tak terkecuali! Ini sudah hari yang ketiga dan kalian masih belum menemukan pelakunya?!" Suara Nyonya Besar meninggi.

Sudah sejak pagi Sang Nyonya mengamuk. Namun karena tidak bisa memberikan jawaban untuk pertanyaannya, Meng Mama hanya bisa pasrah terkena ledakan amarah sang majikan.

Ia kemudian memerintahkan, "Segera ganti semua pelayan yang ada di dapur utama! Kita tidak ingin terus menerus menyimpan pencuri di lumbung beras!"

Beraninya tikus-tikus rendahan itu mencuri barang-barang remeh seperti daging!

Meskipun selalu bisa dibeli lagi, namun karena sang suami bahkan ibu mertuanya sudah mulai bersuara, tak pelak ia harus segera membereskan masalah ini.

Saat memberi salam pagi pada sang Nyonya Tua, hampir semua anggota keluarga berkumpul sehingga memenuhi ruangan di Taman Anyelir tempat Nyonya Tua tinggal.

"Bagaimana keadaan Li Shi? Apakah dia masih tidak sehat?" Wanita tua dengan pelipis yang sebagian besar telah tertutupi oleh rambut keperakan itu bertanya kepada menantunya.

Sudah lama sejak terakhir kali cucu menantu perempuan itu datang untuk memberi penghormatan kepadanya. Ia juga telah mendengar kabar kecelakaannya.

Gu Shi tersenyum sopan, menjawab ibu mertuanya, "Nyonya Muda Pertama masih akan tinggal di halamannya untuk beberapa waktu. Ibu mohon maklumi dia, kesehatannya benar-benar sedang buruk."

Nyonya Tua Shen mengangguk-angguk mengerti.

Di seluruh kediaman, siapa yang tidak tahu bagaimana keadaan yang sebenarnya?

Namun, karena ia sudah tua dan tidak mampu lagi mengurus urusan rumah tangga, maka ia menyerahkan seluruh urusan untuk ditangani oleh satu-satunya menantu perempuan yang dia miliki.

Selama ini Gu Shi terbukti selalu mampu menangani masalah dengan baik, yang membuatnya bisa tenang menyerahkan urusan kediaman kepadanya.

Namun, niat lain menantunya ia tentu bisa membacanya sekilas.

Bagaimana mungkin seorang menantu dari keluarga pedagang bisa memuaskannya?

Namun karena janji yang telah terlanjur dibuat oleh suaminya dulu kepada keluarga cucu menantu ini, mereka tidak bisa mengabaikannya begitu saja karena keluarga mereka akan dipandang buruk oleh orang-orang luar.

Begitulah akhirnya sang cucu menantu dengan terpaksa diterima masuk ke dalam keluarga mereka sebagai istri sah dari cucu tertua keluarga.

Ia tidak bisa menyalahkan Gu Shi karena ketidakpuasannya dengan pengaturan ini. Kalau itu dirinya, dengan putra sulung yang begitu berharga, ia juga tidak akan rela menikahkannya dengan seorang putri dari keluarga pedagang rendah.

Bagaimanapun, wajah bangsawan mereka masih dipandang tinggi oleh orang-orang biasa, meskipun sekarang mereka hanya bisa disebut bangsawan kelas tiga.

Nyonya Tua beralih ke cucu perempuan tertuanya, bertanya, "Bagaimana dengan persiapan pernikahan Ling'er, apakah semuanya berjalan lancar?"

Shen Ling segera menundukkan kepalanya, dengan malu-malu khas wanita muda ia menjawab, "Persiapannya lancar, Nenek tenang saja."

"Bagus, bagus.. pernikahanmu tinggal satu bulan lagi. Semua persiapan harus ditangani dengan baik. Jangan sampai ada kesalahan saat hari itu tiba. Kita harus menjaga wajah baik Kediaman Bangsawan kita dihadapan orang luar."

"Baik Nenek, Cucu mengerti. Ibu akan membantuku menangani semuanya dengan hati-hati."

Di dalam keluarga Shen, hanya ada satu cabang penerus keluarga yaitu putra kandung dari Nyonya Tua dan Tuan Tua Shen, yakni Tuan Besar Shen, Shen Min, yang kemudian menikah dengan Gu Shi dan melahirkan dua orang putra dan seorang putri sah.

Di samping itu, Shen Min juga memiliki beberapa selir yang telah melahirkan seorang putra dan seorang putri tidak sah untuknya.

Bisa dikatakan, keluarga Shen ini cukup kecil karena anggota keluarga prianya tidak banyak.

Tuan Muda Pertama Shen, Shen Rong sebelum menikah dengan Li Yun, sang Nyonya Muda Pertama, memilki dua orang pelayan kamar yang segera diangkat menjadi selir setelah Li Yun menikah ke dalam keluarga.

Pada masa itu, adalah hal yang normal di kalangan keluarga biasa yang memiliki kemampuan maupun di kalangan bangsawan, bagi setiap tuan muda untuk memilki pelayan kamar.

Pelayan kamar ini sejak dini telah diatur oleh sang ibu untuk mengajari putra-putra mereka mengenai hal-hal yang berkaitan dengan hubungan antara pria dan wanita.

Dan kebanyakan pelayan kamar ini selanjutnya akan diangkat menjadi selir sang tuan muda ketika istri sah telah masuk ke dalam keluarga.

Menyadari sedikitnya penerus keluarga, Gu Shi telah berencana untuk menambahkan beberapa selir lagi bagi putra sulungnya.

Sayangnya, kini putra sulungnya sedang berada jauh di Perbatasan Selatan, sehingga keinginannya untuk segera memiliki cucu-cucu yang montok pun menjadi tertunda.

Selain itu, dengan menantu yang tak dianggap itu, ia tidak akan membiarkan putranya menghamilinya dan menunda rencana besarnya.

Dengan keadaan seperti ini lebih baik bagi putranya untuk menghamili para selirnya. Namun, ini juga tidak benar menurut peraturan. Bagaimana orang akan memandang keluarga mereka jika mengetahui bahwa para selir dibiarkan hamil duluan sebelum istri utama?

Ia juga tidak menginginkan hal itu terjadi. Akan ada banyak konflik yang akan terjadi di masa depan.

Sekarang, jalan satu-satunya adalah ia harus segera menyingkirkan sang menantu dari keluarga pedagang itu dan segera mengambil menantu baru untuk menjadi istri utama putra sulungnya.

Dengan begitu ia bisa menantikan mereka untuk memberikannya cucu-cucu laki-laki kecil yang montok.

Kalau tidak berhasil, maka ia akan menambahkan beberapa selir lagi untuk putranya. Selalu ada tambahan orang untuk melahirkan penerus keluarga.

Sang Nyonya Tua hampir selalu mengeluh padanya tentang sedikitnya anak laki-laki di rumah. Oleh karena itu, saat dulu ia memberikan beberapa selir bagi suaminya, Sang Tuan Besar, Gu Shi hanya menelan amarah dan menerimanya tanpa berkata apapun.

Wanita mana yang ingin berbagi suami dengan beberapa wanita?

Diam-diam ia mengutuk mertua perempuannya karena kelicikannya. Saat itu terjadi pada dirinya sendiri, ia bahkan tak membiarkan suaminya, Tuan Tua untuk mengambil selir.

Hasilnya, mereka hanya memiliki seorang putra untuk meneruskan garis keturunan keluarga Shen.

Meski selir sudah banyak ditambahkan untuk sang putra tunggal, setelah bertahun-tahun, mereka hanya berhasil melahirkan seorang putra tidak sah. Ini sungguh mengecewakan.

Keturunan tidak bertambah banyak, namun seringnya konflik di antara para selir tidak terhindarkan.

Akhirnya, demi ketenangan rumah tangga, para selir yang tidak berhasil melahirkan putra maupun putri pun diusir dari rumah dan di tempatkan di perkebunan keluarga.

Dengan beberapa orang berkurang, selain mengurangi masalah, pengeluaran kediaman pun jauh lebih ringan.

Kini di kediaman, selain ia sebagai istri utama, Tuan Besar juga masih mempertahankan dua orang selir untuk melayaninya.

Melihat temperamen Nyonya Tua, ia mungkin masih akan menambahkan selir-selir baru dan muda untuk putranya.

Putranya masih tergolong muda di usianya yang empat puluh tahun, tentu saja ia masih bisa menghamili beberapa wanita lagi sehingga menambah cucu-cucu laki-laki untuknya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jenderal dan Pembunuh Bayaran Wanita   Bab 119. Riak Kecil

    Begitu kakinya berpijak pada pelataran aula, mata Han Liu Lang segera tertuju pada pria yang datang bersama Li Yuan. Ia lalu melemparkan pandangan bertanya pada wanita di depannya.“Dia adalah rekan seperjalanan yang terpisah denganku sebelumnya.” ujar Li Yuan.Tuan Kedua Wu mengamati sekilas pria di hadapannya. Tatapannya kemudian turun pada kakinya yang dililit kain, menunjukkan dia terluka dengan cukup parah. Meski orang itu berpakaian sangat sederhana, namun wibawa alami darinya tidak bisa diabaikan.Kendati mereka telah menjadi rekan seperjalanan dalam waktu yang singkat, Li Yuan tidak pernah bercerita apapun tentang dirinya. Jika diingat-ingat lagi, gadis itu bahkan jarang berbicara!Jadi Han Liu Lang hanya mengangguk kecil sebagai tanggapan, kemudian tersenyum sambil mengangguk sopan kepada pria di depannya. Namun berbeda dengan sikap ramah yang ia tunjukkan barusan, pria itu hanya menatapnya sebentar lalu mengangguk samar.Merasakan sikapnya yang tidak bersahabat, Han Liu Lan

  • Jenderal dan Pembunuh Bayaran Wanita   Bab 118. Sebuah Perintah

    Li Yuan telah duduk bersandar di sofa. Kedua kakinya ditekuk ringan, sementara tatapannya terpaku ke luar jendela, seolah mencari sesuatu yang tertinggal di masa lalu.Entah mengapa ia tiba-tiba merindukan hari-hari yang ia lewati di gunung belakang Benteng Hitam, di mana kesunyian mengisi sebagian besar harinya yang sibuk. Sibuk untuk berburu dan bertahan hidup.Melihatnya begitu damai, Wu Zhaojun tidak tega mengganggu. Ia turun dari sofa, lalu berjalan ke meja panjang di dekat tempat tidur. Kemudian kembali dengan anglo dan peralatan minum teh di tangan.Meja di tengah sofa itu terlalu kecil untuk meletakkan anglo di atasnya. Maka ia hanya menempatkannya di lantai lalu menyalakan arang di dalam. Setelah itu mengambil ketel logam di meja dan merebus air.Matanya sesekali akan melihat ke bawah, memastikan pijar bara merah itu tidak meredup sementara tangannya membuka toples kecil berisi daun teh kering.Ia menggunakan sendok kayu kecil, m

  • Jenderal dan Pembunuh Bayaran Wanita   Bab 117. Pohon Kamelia

    Begitu dua orang itu masuk ke dalam kamar, sosok pria tinggi berkumis tebal muncul dari sudut bangunan. Tatapannya berkilat dingin menatap kamar dengan pintu yang terbuka lebar.Orang itu segera pergi ke aula depan, lalu meminta selembar kertas pada pelayan yang berjaga di balik meja tinggi.Ia mengeluarkan arang yang dipungutnya di dekat dapur dan menulis kalimat pendek di atas kertas itu. Sisa kertas kemudian di sobek dan dikembalikan pada pelayan. Setelahnya, sosok itu berjalan keluar dari penginapan. Tangan yang tersembunyi di balik lengan bajunya dengan cepat menggulung kertas kecil berisi tulisan. Di belakang sebuah kedai arak yang berada di ujung jalan, tak jauh dari sumur, berdiri sebuah pohon jujube. Buahnya yang sebagian besar telah berwarna coklat kemerahan menggantung bergerombol, menunggu untuk dipanen oleh pemilik rumah.Pria berkumis keluar dari kedai. Matanya bergerak-gerak mengawasi keadaan sekitar. Memastikan tidak ada

  • Jenderal dan Pembunuh Bayaran Wanita   Bab 116. Ruang Mandi

    “Cepat, masuk ke dalam air.” Li Yuan memegangi lengannya, seakan jika tidak menahan pria yang lebih tinggi satu kepala darinya itu, ia akan tumbang kapan saja sebelum mencapai air. Meski merasa sedikit canggung, Wu Zhaojun membiarkan ia membantunya masuk ke dalam bak air yang telah siap sejak awal. Tentu saja ini disiapkan untuk pria yang hendak masuk sebelumnya.Begitu tubuhnya menyentuh air, perih itu meledak tajam. Wu Zhaojun mendesis tertahan, jari-jarinya di bawah air kembali mengepal menahan sengatan yang menjalar hingga ke tulang.Setelah bertahan beberapa saat, rasa panas di bahu dan punggungnya telah sedikit berkurang. Ia mulai mengatur napasnya, mencoba membuat dirinya lebih rileks.Sementara itu, Li Yuan keluar dari ruang mandi dan tak lama kemudian kembali dengan seember air yang dibawanya masuk tanpa tumpah.Ia berjongkok di bangku di tepi bak mandi, lalu dengan gayung bambu menyendok air dingin dari ember dan menyiramkannya dengan sangat hati-hati pada bahu pria itu.W

  • Jenderal dan Pembunuh Bayaran Wanita   Bab 115. Pasang Badan

    Setelah sarapan, Li Yuan memberitahu Tuan Kedua Wu bahwa ia ingin mengunjungi suatu tempat kemudian kembali ke penginapan di sore hari.Tuan Kedua Wu bisa melihat kata ‘jangan ikuti aku’ seakan tertulis di seluruh wajahnya saat wanita itu menatapnya dengan malas. Oleh karena itu ia hanya bisa mengangguk dan mengikuti keinginannya.Selesai berkata begitu, Li Yuan keluar dari kedai sarapan, meninggalkan Tuan Kedua Wu yang tampak masih ingin menikmati tehnya lebih lama. Ia lalu berbelok masuk ke toko kue di sebelah, bermaksud membeli sesuatu untuk dibawa ke biro.Toko kue itu lebarnya hanya satu petak kecil, tipikal toko kecil yang biasa menjual kudapan ringan. Di depan toko, sebuah meja kayu panjang rendah diletakkan dengan nampan-nampan bundar dari bambu disusun d

  • Jenderal dan Pembunuh Bayaran Wanita   Bab 114. Obrolan di Kedai Sarapan

    Li Yuan berjalan menyusuri koridor, sesekali melontarkan ringan kantong perak ke udara sebelum menangkapnya kembali.Dari ujung koridor yang jauh, sosok pria gemuk, diikuti dua orang pelayan di belakangnya, berjalan setengah berlari ke arahnya.Saat berikut sosok itu berpapasan dengannya, Li Yuan bisa melihat di bawah cahaya lentera minyak yang bersinar kuning, pria tua gemuk dengan tahi lalat mencolok di pipinya itu memiliki ekspresi yang teramat cemas, seakan dunia akan berakhir jika ia tidak lebih cepat menyeret tubuh gempalnya ke halaman sang istri.Sebelumnya, ketika ia melewati taman hendak pergi melapor ke halaman nyonya rumah, ia melihat pria tua itu di sana. Para pelayan memanggilnya dengan sebutan Tuan Besar. Saat itulah Li Yuan teringat kembali sosok yang ia temui

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status