LOGINCengkramannya pada tongkat kayu menguat, hingga menonjolkan urat-urat di tangannya yang berotot dengan jelas.
Harta karunnya! Barang berharga itu begitu dekat, namun masih sulit untuk berpindah ke tangannya!
Rusa Kesturi bukan hanya sekedar hewan buruan bagi para pemburu seperti mereka. Melainkan sebuah mahkota, sebuah pencapaian tertinggi.![]()
Begitu kakinya berpijak pada pelataran aula, mata Han Liu Lang segera tertuju pada pria yang datang bersama Li Yuan. Ia lalu melemparkan pandangan bertanya pada wanita di depannya.“Dia adalah rekan seperjalanan yang terpisah denganku sebelumnya.” ujar Li Yuan.Tuan Kedua Wu mengamati sekilas pria di hadapannya. Tatapannya kemudian turun pada kakinya yang dililit kain, menunjukkan dia terluka dengan cukup parah. Meski orang itu berpakaian sangat sederhana, namun wibawa alami darinya tidak bisa diabaikan.Kendati mereka telah menjadi rekan seperjalanan dalam waktu yang singkat, Li Yuan tidak pernah bercerita apapun tentang dirinya. Jika diingat-ingat lagi, gadis itu bahkan jarang berbicara!Jadi Han Liu Lang hanya mengangguk kecil sebagai tanggapan, kemudian tersenyum sambil mengangguk sopan kepada pria di depannya. Namun berbeda dengan sikap ramah yang ia tunjukkan barusan, pria itu hanya menatapnya sebentar lalu mengangguk samar.Merasakan sikapnya yang tidak bersahabat, Han Liu Lan
Li Yuan telah duduk bersandar di sofa. Kedua kakinya ditekuk ringan, sementara tatapannya terpaku ke luar jendela, seolah mencari sesuatu yang tertinggal di masa lalu.Entah mengapa ia tiba-tiba merindukan hari-hari yang ia lewati di gunung belakang Benteng Hitam, di mana kesunyian mengisi sebagian besar harinya yang sibuk. Sibuk untuk berburu dan bertahan hidup.Melihatnya begitu damai, Wu Zhaojun tidak tega mengganggu. Ia turun dari sofa, lalu berjalan ke meja panjang di dekat tempat tidur. Kemudian kembali dengan anglo dan peralatan minum teh di tangan.Meja di tengah sofa itu terlalu kecil untuk meletakkan anglo di atasnya. Maka ia hanya menempatkannya di lantai lalu menyalakan arang di dalam. Setelah itu mengambil ketel logam di meja dan merebus air.Matanya sesekali akan melihat ke bawah, memastikan pijar bara merah itu tidak meredup sementara tangannya membuka toples kecil berisi daun teh kering.Ia menggunakan sendok kayu kecil, m
Begitu dua orang itu masuk ke dalam kamar, sosok pria tinggi berkumis tebal muncul dari sudut bangunan. Tatapannya berkilat dingin menatap kamar dengan pintu yang terbuka lebar.Orang itu segera pergi ke aula depan, lalu meminta selembar kertas pada pelayan yang berjaga di balik meja tinggi.Ia mengeluarkan arang yang dipungutnya di dekat dapur dan menulis kalimat pendek di atas kertas itu. Sisa kertas kemudian di sobek dan dikembalikan pada pelayan. Setelahnya, sosok itu berjalan keluar dari penginapan. Tangan yang tersembunyi di balik lengan bajunya dengan cepat menggulung kertas kecil berisi tulisan. Di belakang sebuah kedai arak yang berada di ujung jalan, tak jauh dari sumur, berdiri sebuah pohon jujube. Buahnya yang sebagian besar telah berwarna coklat kemerahan menggantung bergerombol, menunggu untuk dipanen oleh pemilik rumah.Pria berkumis keluar dari kedai. Matanya bergerak-gerak mengawasi keadaan sekitar. Memastikan tidak ada
“Cepat, masuk ke dalam air.” Li Yuan memegangi lengannya, seakan jika tidak menahan pria yang lebih tinggi satu kepala darinya itu, ia akan tumbang kapan saja sebelum mencapai air. Meski merasa sedikit canggung, Wu Zhaojun membiarkan ia membantunya masuk ke dalam bak air yang telah siap sejak awal. Tentu saja ini disiapkan untuk pria yang hendak masuk sebelumnya.Begitu tubuhnya menyentuh air, perih itu meledak tajam. Wu Zhaojun mendesis tertahan, jari-jarinya di bawah air kembali mengepal menahan sengatan yang menjalar hingga ke tulang.Setelah bertahan beberapa saat, rasa panas di bahu dan punggungnya telah sedikit berkurang. Ia mulai mengatur napasnya, mencoba membuat dirinya lebih rileks.Sementara itu, Li Yuan keluar dari ruang mandi dan tak lama kemudian kembali dengan seember air yang dibawanya masuk tanpa tumpah.Ia berjongkok di bangku di tepi bak mandi, lalu dengan gayung bambu menyendok air dingin dari ember dan menyiramkannya dengan sangat hati-hati pada bahu pria itu.W
Setelah sarapan, Li Yuan memberitahu Tuan Kedua Wu bahwa ia ingin mengunjungi suatu tempat kemudian kembali ke penginapan di sore hari.Tuan Kedua Wu bisa melihat kata ‘jangan ikuti aku’ seakan tertulis di seluruh wajahnya saat wanita itu menatapnya dengan malas. Oleh karena itu ia hanya bisa mengangguk dan mengikuti keinginannya.Selesai berkata begitu, Li Yuan keluar dari kedai sarapan, meninggalkan Tuan Kedua Wu yang tampak masih ingin menikmati tehnya lebih lama. Ia lalu berbelok masuk ke toko kue di sebelah, bermaksud membeli sesuatu untuk dibawa ke biro.Toko kue itu lebarnya hanya satu petak kecil, tipikal toko kecil yang biasa menjual kudapan ringan. Di depan toko, sebuah meja kayu panjang rendah diletakkan dengan nampan-nampan bundar dari bambu disusun d
Li Yuan berjalan menyusuri koridor, sesekali melontarkan ringan kantong perak ke udara sebelum menangkapnya kembali.Dari ujung koridor yang jauh, sosok pria gemuk, diikuti dua orang pelayan di belakangnya, berjalan setengah berlari ke arahnya.Saat berikut sosok itu berpapasan dengannya, Li Yuan bisa melihat di bawah cahaya lentera minyak yang bersinar kuning, pria tua gemuk dengan tahi lalat mencolok di pipinya itu memiliki ekspresi yang teramat cemas, seakan dunia akan berakhir jika ia tidak lebih cepat menyeret tubuh gempalnya ke halaman sang istri.Sebelumnya, ketika ia melewati taman hendak pergi melapor ke halaman nyonya rumah, ia melihat pria tua itu di sana. Para pelayan memanggilnya dengan sebutan Tuan Besar. Saat itulah Li Yuan teringat kembali sosok yang ia temui







