로그인Bab 106. Kacang.Sama seperti fenomena magis yang sebelumnya terjadi di Hutan Seribu Ilusi pada Lin Yuer, kubah formasi kekkai yang melingkupi area pertarungan kini perlahan menyamarkan dan membiaskan keberadaan Jian Mu dari alam nyata. Hanya dalam beberapa tarikan napas, aura pedang yang tajam beserta sosok tubuhnya benar-benar lenyap dari pandangan, membuat Tian Fan, Mu Xueyan, dan Gu Chen tak lagi mampu menangkap keberadaannya maupun struktur rumit dari formasi tersebut. Mu Xueyan yang menyaksikan raibnya Jian Mu mendadak diliputi rasa cemas. Ia menoleh dengan raut khawatir lalu bertanya." Saudara Tian Fan, apa yang sebenarnya akan terjadi pada Jian Mu di dalam sana? Apakah bayangan itu akan benar-benar membunuhnya jika ia lengah?" Tian Fan menghentikan pandangannya pada riak air sungai yang perlahan memudar, lalu membalas dengan nada yang amat tenang. "Sama seperti yang terjadi pada Lin Yuer sebelumnya yang menerima warisan, ia akan bertarung melampaui batas dirinya di
Bab 105. Lembah Neraka?Petunjuk yang diberikan Tian Fan bagaikan cahaya yang menembus kabut. Jian Mu, Mu Xueyan, dan Gu Chen tidak lagi berusaha mengalahkan bayangan mereka dengan cara lama. Mereka mulai memaksa diri keluar dari kebiasaan yang selama ini menjadi fondasi teknik masing-masing.Jian Mu perlahan mengubah ritme ayunan pedangnya. Tebasan yang biasanya lurus kini tiba-tiba berhenti di tengah jalan sebelum berubah menjadi tusukan dari sudut yang sama sekali berbeda. Gerakan itu bahkan terasa asing baginya sendiri. Bayangan di hadapannya sempat mengikuti pola lama, lalu terlambat sepersekian tarikan napas. Kesempatan kecil itu langsung dimanfaatkan Jian Mu untuk memaksa lawannya mundur.Di sisi lain, Mu Xueyan tidak lagi membiarkan tarian pedangnya mengalir mengikuti naluri yang telah terlatih selama bertahun-tahun. Ia sengaja memutus irama setiap beberapa jurus, kemudian menyambungnya dengan teknik yang belum pernah ia gunakan sebelumnya. Bayangan di depannya beberapa kali
Bab 104. Pikiran sang jenius. Tian Fan tidak segera mendekati tepian sungai. Ia berdiri sekitar belasan meter di belakang ketiga rekannya dengan kedua tangan terlipat di depan dada, sementara tatapannya tenang mengamati setiap perubahan yang terjadi di permukaan air. Ia sama sekali tidak terlihat terburu-buru. Dibandingkan mencoba melewati ujian, yang jauh lebih menarik baginya adalah memahami prinsip di balik ujian itu sendiri. Di tengah sungai, Jian Mu telah berhadapan dengan sosok yang benar-benar menyerupai dirinya. Tinggi badan, wajah, pakaian, bahkan bekas luka kecil di sudut alis pun tidak berbeda sedikit pun. Yang paling menggetarkan adalah aura yang dipancarkan bayangan itu. Kekuatan Qi, tekanan pedang, hingga niat bertarungnya benar-benar identik. Jian Mu mengayunkan pedangnya lebih dulu. Cahaya pedang melesat bagaikan bulan sabit yang membelah udara. Namun hampir pada saat yang sama, bayangannya melakukan gerakan yang persis sama. Dua cahaya pedang bertabrakan
Bab 103. Lembah Sungai Cermin.Keputusan telah diambil tanpa sedikitpun keraguan. Dengan dukungan Jian Mu, Mu Xueyan, Gu Chen, dan Tian Fan, Lin Yuer akhirnya menarik napas panjang sebelum melangkah perlahan menuju pondok bambu yang berdiri tenang di tengah danau. Permukaan air yang jernih memantulkan bayangan dirinya, sementara bola kristal bening sebesar kepalan tangan terus melayang beberapa jengkal di atas lantai bambu, memancarkan cahaya lembut yang membuat seluruh pondok terasa damai sekaligus sakral.Sesampainya di depan kristal itu, Lin Yuer menenangkan pikirannya sejenak. Ia kemudian mengangkat kedua tangannya dan menyentuh permukaan kristal dengan sangat hati-hati. Begitu ujung jarinya bersentuhan, cahaya bening di dalam kristal tiba-tiba berdenyut kuat. Seluruh pondok bambu langsung bergetar pelan, diikuti suara dengungan rendah yang seolah berasal dari dasar bumi.Wusss…Dalam sekejap, cahaya putih memenuhi pondok. Sebuah siluet lelaki tua berjubah panjang perlahan muncu
Bab 102. Warisan PertamaPerjalanan melintasi Hutan Seribu Ilusi tidak berjalan semudah yang mereka bayangkan. Meskipun Pil Penawar Lima Puluh Racun buatan Tian Fan berhasil menetralisir pengaruh Belladona dan pohon spirit kratom, semakin jauh mereka memasuki hutan, semakin kuat pula formasi ilusi yang bekerja. Kabut putih kini bukan lagi sekadar penghalang pandangan, melainkan berubah menjadi lautan Qi yang terus menyusup ke dalam kesadaran, menguji hati, keberanian, dan tekad setiap orang yang melangkah di dalamnya.Lin Yuer tetap memimpin di barisan paling depan sesuai arahan Tian Fan. Setiap langkahnya mengikuti jalur simpul formasi yang berhasil ia pahami, namun sesekali ia masih melakukan kesalahan kecil. Kesalahan itu memang tidak membuat mereka tersesat, tetapi cukup untuk menyentuh salah satu simpul ilusi sehingga formasi segera bereaksi.Kabut di depan mereka mendadak berputar membentuk pusaran besar. Dalam sekejap dunia di sekitar berubah.Yang pertama terkena adalah Jian
Bab 101. Hutan Seribu Ilusi.Tak lama setelah meninggalkan padang rumput, Tian Fan dan keempat murid Sekte Pedang Surgawi akhirnya tiba di tepian sebuah hutan yang tampak begitu tenang. Pepohonan raksasa menjulang rapat hingga cahaya matahari hanya mampu menembus dalam bentuk garis-garis tipis, sementara kabut putih menggantung rendah di antara batang-batang pohon tua, membuat seluruh kawasan terlihat sunyi sekaligus menyesakkan. Jika bukan karena petunjuk yang berhasil mereka pecahkan sebelumnya, tak seorang pun akan menyangka bahwa hutan yang tampak biasa itu adalah Hutan Seribu Ilusi, ujian pertama yang sesungguhnya. Tian Fan tidak terburu-buru melangkah. Ia memejamkan mata, lalu kesadaran jiwanya menyebar perlahan ke segala arah, disusul Domain Jiwanya yang ikut meluas bagaikan riak air tenang. Namun baru beberapa puluh meter memasuki kawasan hutan, seluruh persepsinya seolah ditelan sesuatu yang tak kasatmata. Ia perlahan membuka mata sambil menggeleng tipis. "Benar seperti d
Bab 07. (21++) Digagahi.Nafas wanita bercadar mulai sedikit tidak teratur,tangannya perlahan menyentuh tubuh Tian Fan dengan gugup namun penuh keberanian.Tak berhenti sampai sana, kini jemarinya merayap ke bawah menyentuh bagian bawah tubuh Tian Fan yang ada di selangkangannya.Tubuh wanita berca
Bab 03. Tamu?Dua tahun berlalu.Di dalam gua yang ada di tepian jurang.Tian Fan yang kini telah berusia 16 tahun dengan tenang menyelesaikan sayatan terakhirnya pada satu sosok mayat di depannya.Tampak mayat kultivator dari Sekte Harimau terbang itu hanya menyisakan tulangnya saja dengan semua o
Bab 02. Tangan yang menyelamatkan.Tian Fan membuka matanya perlahan karena hidungnya mencium aroma busuk yang begitu menyengat.“Aku…belum mati,” ujarnya pelan dan terbata bata.Matanya terbelalak saat menatap ke bawah, dirinya kini tergantung di tepian jurang yang tak berujung.Ia menoleh ke kiri
Bab 01. Jenius yang Disingkirkan. Di bawah cahaya lilin yang redup di lorong istana, seorang remaja berjalan menuju Balai Ramuan Agung Sekte Raja Obat. Langkahnya tegas, namun dipenuhi ketenangan yang sulit digoyahkan. Sesampainya di Balai Ramuan Agung Sekte Raja Obat, ia melangkah masuk ke dala







