LOGINBab 07. (21++) Digagahi.
Nafas wanita bercadar mulai sedikit tidak teratur,tangannya perlahan menyentuh tubuh Tian Fan dengan gugup namun penuh keberanian. Tak berhenti sampai sana, kini jemarinya merayap ke bawah menyentuh bagian bawah tubuh Tian Fan yang ada di selangkangannya. Tubuh wanita bercadar menegang dengan matanya membelalak. Bagaimana tidak? Senjata milik Tian Fan yang kini berada dalam genggaman satu tangannya itu begitu besar . Bahkan dalam keadaan belum sepenuhnya bangkit ukuran senjata milik Tian Fan itu sudah membuat telapak tangannya nyaris tidak mampu menggenggamnya sepenuhnya. Nafas wanita bercadar langsung tercekat sesaat, pipinya memerah.Namun anehnya, bukannya mundur, tatapan matanya justru semakin dalam menunjukan jika ia menginginkannya. Lalu tanpa berkata apa-apa wanita bercadar itu kemudian menggerakan tangannya yang memegang senjata masa depan Raka untuk membuatnya berdiri tegak Tanpa sadar pahanya saling merapat, tubuhnya memberi reaksi yang bahkan membuat dirinya sendiri malu. Meski begitu ia tetap maju dan tidak henti memainkan senjata masa depan Tian Fan itu. Tian Fan ingin berontak, namun tenaganya kalah kuat. Jika saja mulutnya tidak disumpal tentu saja ia akan memberitahu sang wanita jika ia bisa membantu menyembuhkannya. Yaa, Tian Fan tahu jika sang wanita bercadar itu kini dalam pengaruh obat perangsang yang kuat. Namun, dibalik itu semua ia juga merasakan ada yang janggal pada tubuh sang wanita itu. Namun sayangnya kondisinya saat ini benar benar membuatnya tidak bisa berbuat apa apa. “Sial, bagaimana ini! Jelas wanita ini benar benar mau menggagahiku!” batinnya. Pikiran sang wanita mulai liar, ia membayangkan bagaimana jika kepunyaan Tian Fan itu memasuki lembah surgawinya yang langsung membuat tubuhnya bergetar hebat. wanita bercadar yang sudah menginginkan pelepasan melihat senjata Tian Fan kini sudah berdiri tegak sempurna. Ia menghentikan permainan tangannya lalu ia sedikit menarik tubuh Tian Fan ke bawah agar posisinya menjadi sedikit berbaring. Dari sana ia kemudian memposisikan diri diatas tubuh Tian Fan, tangan wanita bercadar mengarahkan senjata Tian Fan pada lembah surgawinya. Sang wanita bercadar sedikit kesulitan untuk memasukannya karena ukuran senjatanya yang cukup besar. Baru bagian kepalanya saja yang mulai memenuhi mulut lembah surgawinya, ia pun mulai menggoyangkan pinggulnya perlahan sehingga senjata Tian Fan perlahan memasuki lembah surgawinya dan setelah beberapa waktu berusaha akhirnya senjata Tian Fan memenuhi lembah surgawinya. Tian Fan yang tak kuasa melawan hanya bisa pasrah, tidak dipungkiri, kejadian ini pun tidak bisa di antisipasinya karena jangankan untuk berpikir, melawan rasa nikmatnya saja pun sudah membuatnya sakit kepala. Meski begitu, Tian Fan bisa merasakan jika wanita bercadar yang saat ini menyatukan tubuhnya dengannya itu adalah seorang gadis perawan karena ia bisa merasakan senjatanya menembus selaput tipis sang wanita bercadar itu. Tian Fan menatap sang wanita bercadar, tampak tubuhnya mengejang hebat sampai tubuhnya melengkung ke depan karena senjatanya benar benar memenuhi lembahnya hingga tak ada sedikitpun ruang yang tersisa. Wanita bercadar meletakan kedua tangannya untuk menahan dada Tian Fan, dari sana mulai menggerakan pinggulnya, ia bergerak maju mundur lalu diselingi dengan menggoyangkan pinggulnya. Dibalik cadarnya itu sang wanita menggigit bibir bawahnya, matanya terbelalak saat tubuhnya menyesuaikan diri dengan kehadiran senjata Tian Fan yang memenuhinya hingga ke dasar. Bahkan saking sesaknya ia merasakan jika senjata Tian Fan sampai menekan dinding rahimnya. Nafasnya tersendat-sendat, bukan karena rasa sakit namun karena gelombang kenikmatan yang mulai menaikkan suhu di seluruh tubuhnya. Keringat tipis membasahi dahi dan lehernya, berkilauan di bawah cahaya matahari yang menembus dedaunan. "Ahh… Ahh…ahhh…” Wanita bercadar terus mendesah sambil menekan kedua telapak tangannya lebih kuat ke dada Tian Fan, merasakan detak jantungnya yang berdetak cepat,sama seperti detak jantungnya. Tapi wanita bercadar tidak peduli. Tidak saat ini. Ia mulai menggerakkan pinggulnya dengan ritme yang lambat namun dalam, setiap turun membuatnya terengah, setiap naik membuat jemarinya mencakar dada Tian Fan tanpa sadar. Lembah surgawinya yang kini terbentang rapat mengelilingi senjata Tian Fan berdenyut-denyut, seolah memiliki detak sendiri yang berusaha menyesuaikan dengan irama yang ia ciptakan. "Kau… punyamu…sungguh terlalu besar…" bisiknya, suaranya serak, matanya berkabut oleh uap keinginan. "Aku ingin semuanya…" Tian Fan tidak menjawab, jangankan untuk menjawab, untuk mengatur nafas pun ia sulit karena kondisi mulutnya yang tertutup bunga es. Matanya yang sejak tadi mengamati dengan tatapan analitis, mencoba memahami mengapa terjadi perubahan pada aura sang wanita bercadar. Disaat yang sama ia merasakan jika tubuh dingin sang wanita kini perlahan berkurang dengan pergumulan mereka. Tak hanya itu saja, ia juga merasakan jika aliran energi spiritual sang wanita seperti diperlebar dengan hubungan intim tersebut. Tian Fan mengerang karena aang wanita bercadar mengangkat pinggulnya lebih tinggi, lalu menurunkannya dengan cepat, menghasilkan bunyi plap basah yang memenuhi ruangan. Ia mengulanginya. Dan lagi. Dan lagi. Ritmenya semakin cepat, nafasnya semakin tersengal, rambut hitam panjangnya yang tergerai menari-nari mengikuti gerakan tubuhnya. Di batang pohon sebelahnya, sang wanita rekan wanita bercadar hanya bisa melotot melihatnya. Matanya yang sejak tadi menyaksikan kini terbelalak, bukan karena keterkejutan, melainkan karena… sesuatu yang lebih kompleks. Ada rasa panas di perutnya yang tidak ia mengerti, ada denyut di antara pahanya yang membuatnya menekankan kedua kakinya rapat-rapat. Tapi lebih dari itu, ada ekspresi di wajahnya yang sulit dibaca. Campuran antara ingin masuk, ingin melihat lebih, dan… ingin menggantikan. Satu batang dupa berlalu. Wanita bercadar kini benar-benar kehilangan kendali. Tubuhnya bergerak dengan naluri nafsunya, pinggulnya menggoyang dalam pola yang tidak teratur, cepat, lambat, dalam, dangkal seolah mencoba menemukan sudut yang tepat, titik yang paling dalam, tempat di mana senjata Tian Fan menekan sesuatu di dalam dirinya yang membuat seluruh dunia berputar. "Di sana… ah, di sana…” racaunya. Tubuhnya mengejang hebat. Lembah surgawinya berkontraksi dengan intensitas yang membuatnya membeku di posisi terendah, dengan senjata Tian Fan tertancap sepenuhnya di dalam dirinya. Matanya terbelalak, mulutnya terbuka lebar tanpa suara, hanya hembusan napas panas yang keluar bersama gemetar tak terkendali. Orgasmenya yang pertama menghantam seperti gelombang pasang, membuat jemarinya mencengkeram dada Tian Fan begitu keras hingga meninggalkan bekas merah. Tapi wanita bercadar tidak berhenti. Sebelum gelombang pertama sepenuhnya mereda, ia sudah mulai menggerakkan pinggulnya lagi. Kali ini lebih cepat, lebih putus asa, seolah mengejar sesuatu yang lebih dari sekadar pelepasan fisik. Ada tekad di matanya yang berkabut, tekad untuk memastikan pemuda yang dipaksa melayaninya itu merasakan apa yang ia rasakan. "Lebih… aku ingin lebih…" ujar wanita bercadar sambil kedua tangannya merambat naik dari dada Tian Fan, meraih bahunya, menarik tubuhnya sedikit ke atas sehingga payudaranya yang basah oleh keringat kini menapak di pakaiannya. Tian Fan bisa melihat jika payudara sang wanita sangat tegang sehingga tubuhnya yang bergoyang di depan wajah Tian Fan membuat dadanya saling beradu dengan konstan. Wanita bercadar menunduk, menekan dahi ke dahi Tian Fan, napasnya memburu begitu dekat sehingga embun dari nafasnya membasahi wajahnya. "Milikmu benar benar luar biasa…" desisnya, ada sedikit frustrasi di sana, tapi juga takjub. "Biarkan aku… membuatmu… senang!” Ia menggoyangkan pinggulnya dengan gerakan melingkar, memutar, menekan, menggesek. Setiap gerakan membuatnya mendesah, membuat lembahnya yang basah berbunyi crot crot yang vulgar namun memabukkan. Rasa hangat di perutnya menumpuk lagi, lebih cepat dari sebelumnya, lebih mendesak. Kali kedua datang lebih keras. Wanita bercadar mengerang panjang, tubuhnya melengkung ke belakang sehingga rambutnya menyapu paha Tian Fan. Payudaranya semakin menonjol ke depan, putingnya yang keras menonjol melalui kain tipis. Kontraksi di lembahnya lebih kuat, lebih lama, membuatnya terengah-engah seolah baru saja berlari jarak jauh. "Ah… ah…” Desahannya erdengar seperti mantra. Seperti satu-satunya kata yang tersisa dalam kosakata dunia wanita bercadar saat ini. Tapi masih belum cukup. Wanita bercadar menarik napas dalam-dalam, matanya yang berkaca-kaca menatap Tian Fan dengan tatapan memohon yang juga menantang. Ia mengangkat tubuhnya, membiarkan senjata Tian Fan hampir keluar sepenuhnya. Ia membiarkan hanya ujungnya yang masih tertahan di bibir lembahnya lalu ia menurunkan diri dengan satu gerakan cepat dan dalam. "AHHH—!" Orgasme ketiga menghantam tanpa peringatan, bertumpang dengan sisa gelombang kedua yang belum sepenuhnya padam. Tubuh wanita bercadar bergetar hebat, kakinya yang berlutut di rerumputan gemetar seolah tidak mampu menahan beban. Lembahnya berdenyut-denyut dengan kegilaan, menggigit kepunyaan Tian Fan begitu rapat seolah tidak mau melepaskannya. Kali ini, Tian Fan tak kuasa menghindar, ia mengerang karena rasa nikmat yang ada. Meski bukan desahan panjang. Bukan juga teriakan. Hanya satu helaan nafas yang sedikit lebih berat, namun cukup untuk memantik gairah sang wanita bercadar. Tian Fan, Matanya yang sejak tadi mengamati dengan jarak emosional kini menyipit, fokusnya beralih dari aliran energi spiritual di dalam tubuhnya ke wanita yang sedang mengguncang di atasnya. Wanita bercadar jelas merasakannya. Ia merasakan perubahan kecil itu, dan itu membuatnya tersenyum, senyum yang lelah, basah keringat, namun puas. Tapi wanita bercadar belum selesai. Dengan sisa tenaga yang masih menyala, api yang entah dari mana itu kini seperti memberi energi baru ke tubuhnya dan terus menyuplai dirinya. Wanita bercadar memulai kembali. Gerakannya kini lebih lambat, lebih sensual, setiap turun disertai putaran pinggul yang membuatnya sendiri mengerang. Tapi ada keanggunan di dalam keputusasaannya, seperti penari yang tahu ini adalah pertunjukan terakhirnya dan bertekad membuatnya tak terlupakan. Empat. Lima. Enam. Setiap puncak datang lebih cepat, lebih bertumpang-tumpang, hingga wanita bercadar kehilangan hitungan. Tubuhnya menjadi satu denyut panjang yang tidak pernah sepenuhnya turun sebelum naik lagi. Lembahnya begitu basah hingga cairan kenikmatannya membasahi paha Tian Fan, mengotori pakaian mereka berdua. Di suatu titik mungkin yang ketujuh atau kedelapan, siapa yang masih peduli — wanita bercadar mengejang hingga air matanya keluar. Pelepasannya kali ini benar benar terlalu hebat seakan lembahnya mengeluarkan air terjun panas yang terus menyirami senjata Tian Fan. Disaat yang sama, Tian Fan pun mencapai puncaknya, pelepasannya membuatnya tanpa sadar menaikan pinggangnya sehingga lembah surgawi sang wanita kini terhujam kembali dengan senjatanya hingga ujungnya menabrak dinding rahimnya yang seketika itu membuatnya bergetar hebat. Cairan kental Tian Fan memenuhi seluruh rongga rahim sang wanita. Disaat yang sama, sang wanita membanjiri senjata Tian Fan dengan air terjun panas tanpa pelepasannya yang terakhir. Sang wanita menjatuhkan tubuhnya di dada Tian Fan. Nafasnya terdengar sangat memburu yang menunjukan kelelahannya. Ia mengangkat wajahnya sedikit lalu berbisik pelan di telinga Tian Fan. "Terima… kasih…" ujarnya di tengah gemetar dengan tubuhnya terkulai ke depan.Bab 202. Situasi pelik.Tian Fan masih berdiri di tempatnya dengan senyum canggung. Ia dapat merasakan tatapan semua orang tertuju kepadanya, terutama kedua master sekte yang sejak tadi mengamati Mu Xueyan dan Yue Qing'er. Namun, sebelum ia sempat membuka mulut untuk menjelaskan keadaan, Yue Qing'er justru melangkah setengah langkah ke depan."Master, jangan terlalu terkejut. Selama beberapa waktu terakhir, kami memang pergi untuk berkultivasi. Kami berdua berada di bawah arahan Kakak Tian Fan, dan berkat bimbingannya, kami berhasil menerobos ke Ranah Langit," jelas Yue Qing'er dengan nada riang.Mu Xueyan mengangguk di sampingnya. "Benar. Kami sengaja memanfaatkan kesempatan itu untuk memperkuat fondasi kultivasi. Kakak Tian Fan banyak membantu kami selama proses tersebut."Ming Yi, Master Sekte Bulan yang juga merupakan guru Yue Qing'er, langsung mengerutkan kening. Sementara itu, Song Lau, Master Sekte Pedang Surgawi sekaligus guru Mu Xueyan, menunjukkan ekspresi yang tidak jauh be
Bab 201. Kembali.Bai Dishi yang berdiri di samping mereka mengangguk-angguk dengan wajah penuh makna. "Ternyata menjadi penguasa dunia kecil memang memiliki banyak keuntungan. Kau bisa mengatur hukum dunia, mengendalikan energi spiritual, dan bahkan menerima permintaan dari dua gadis cantik sekaligus. Tian Fan, aku mulai berpikir bahwa aku juga harus mencari dunia kecil untuk diriku sendiri."Tian Fan meliriknya. "Kalau kau masih ingin tinggal di duniaku, sebaiknya jangan mencari masalah lagi."Bai Dishi langsung menutup mulutnya.Setelah pembicaraan mengenai Banlu selesai, Tian Fan mengamati kedua gadis itu sekali lagi. Mereka tampak jauh lebih kuat dan percaya diri dibandingkan sebelum mencapai Ranah Langit. Namun, ia juga menyadari bahwa sudah cukup lama mereka berada di dunia kecilnya. Meskipun waktu di tempat ini dapat berjalan berbeda dari dunia luar, keberadaan mereka yang terlalu lama menghilang tentu dapat menimbulkan kekhawatiran b
Bab 200 — Dua Keindahan Ranah LangitBatu besar yang dilemparkan Tian Fan melesat membelah udara, memaksa Bai Dishi berlari menjauh sambil mengumpat. Naga hitam itu melompat ke balik sebuah pohon, lalu mengintip dari samping batangnya dengan ekspresi penuh kewaspadaan. Setelah memastikan Tian Fan tidak berniat melemparkan batu kedua, ia baru berani menegakkan tubuh dan menepuk-nepuk pakaiannya yang sebenarnya tidak terkena debu sedikit pun."Tian Fan, kau benar-benar keterlaluan! Aku hanya mengajukan sebuah pertanyaan sederhana. Mengapa reaksimu selalu berlebihan setiap kali aku membicarakan adu mekanik? Jangan-jangan, kau memang memiliki sesuatu yang ingin disembunyikan dariku!" seru Bai Dishi sambil menunjuk Tian Fan dari kejauhan.Tian Fan meliriknya dengan dingin. "Kalau kau masih ingin mempertahankan kepalamu di tempatnya, sebaiknya kau tutup mulutmu sebelum aku berubah pikiran."Bai Dishi langsung menurunkan tangannya. Ia bahkan mengatupkan bibir rapat-rapat, kemudian mengangkat
Bab 199 — Tingkatan Banlu.Tian Fan akhirnya tiba di Puncak Utara bersama Bai Dishi. Begitu melewati sebuah gerbang batu yang berdiri di antara pepohonan tinggi, pandangannya langsung tertuju pada dua sosok perempuan yang sedang duduk bersila di atas sebuah hamparan batu datar. Keduanya duduk dalam posisi lotus dengan punggung tegak, kedua tangan bertumpu di atas lutut, dan mata terpejam rapat. Energi spiritual dari sekeliling mereka mengalir perlahan, membentuk pusaran samar yang terus berputar di sekitar tubuh masing-masing.Mu Xueyan dan Yue Qing'er sedang berada dalam kondisi kultivasi yang mendalam.Dari kejauhan, Tian Fan dapat merasakan aura kedua gadis itu. Aura tersebut begitu tebal dan stabil, tidak menunjukkan gejolak berarti seperti yang biasanya terjadi pada kultivator yang baru saja menerobos sebuah ranah besar. Jelas bahwa selama Tian Fan berada di Lembah Neraka, mereka tidak menyia-nyiakan waktu. Dengan bantuan lingkungan dunia kecil yang memiliki energi spiritual meli
Bab 198 — Adu MekanikSetelah menghabiskan waktu cukup lama di Lembah Neraka, Tian Fan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tempat itu bersama Bai Dishi. Kabut hitam yang menyelimuti lembah perlahan menghilang dari pandangan mereka ketika keduanya melintasi sebuah lorong batu yang menghubungkan wilayah tersebut dengan bagian lain dari dunia kecil milik Tian Fan.Sepanjang perjalanan, Tian Fan masih memikirkan berbagai hal yang ditemukannya di Menara Kegelapan. Teknik-teknik aneh, miasma yang seolah memiliki kesadaran, serta kemampuan untuk mempengaruhi pikiran seseorang melalui bayangan hitam merupakan hal-hal yang belum sepenuhnya ia pahami. Meskipun ia telah memperoleh beberapa petunjuk, masih banyak rahasia yang menunggu untuk diungkap.Namun, untuk saat ini, ia memutuskan mengesampingkan semua pemikiran tersebut.Bagaimanapun, setelah sekian lama berkutat dengan kegelapan, ia merasa perlu memeriksa keadaan orang-orang yang berada di dunia kecilnya. Terlebih lagi, ada dua orang y
Bab 197 — InstingBugh! Bugh! Bugh!Tiga suara benturan terdengar berturut-turut ketika Ma Durung, dua tetua Sekte Raja Obat, dan tiga alkemis Lembah Obat terjatuh keras ke atas tanah. Tubuh mereka berguling beberapa kali sebelum akhirnya berhenti. Rasa sakit yang menjalar dari sekujur tubuh membuat mereka mengerang, tetapi sebelum sempat bangkit, keenam orang itu langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat tidak beres dengan tempat mereka berada.Ma Durung mengangkat kepalanya dengan susah payah. Pandangannya masih sedikit kabur, sementara kepalanya terasa berat akibat perpindahan mendadak yang baru saja dialaminya. Ia mengira dirinya masih berada di dalam Formasi Tanam Gu, tetapi ketika pandangannya mulai jelas, wajahnya seketika berubah.Di sekelilingnya terbentang sebuah gua raksasa yang luasnya sulit diperkirakan. Dinding-dinding batu menjulang tinggi, dipenuhi retakan aneh yang memancarkan cahaya redup. Beberapa bagian langit-langit menggantungkan stalaktit hitam yang bentu
Bab 06. Perjalanan BerdarahAngin dingin berhembus pelan di atas tebing tandus Lembah Kematian. Disana satu sosok berjubah hitam berjalan sendirian di antara kabut tipis yang menyelimuti jalur berbatu.Tian Fan, ia berjalan tanpa pengawal, tanpa tunggangan dan tanpa membawa simbol kekuasaan apa pun
Bab 05. Dimulai.Dua tahun berlalu.Lembah Kematian tak lagi seperti dahulu yang penuh dengan kematian dan penyakit aneh. Semua telah berubah sejak kemunculan dua kelompok baru.Dari sekian banyak kelompok dan klan yang lahir dan tenggelam di tanah penuh darah itu, dua nama baru muncul dan langsung
Bab 04. Klan Pengadilan Hitam.Bulan masih menggantung tinggi,Sun Li terdiam oleh ucapan terakhir Tian Fan.“Racun ini buatan manusia.”Namun setelah itu, Tian Fan tak berkata lagi. Ia hanya berdiri memandangi bulan yang mulai tertutupi awan.Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan ujung kain
Bab 03. Tamu?Dua tahun berlalu.Di dalam gua yang ada di tepian jurang.Tian Fan yang kini telah berusia 16 tahun dengan tenang menyelesaikan sayatan terakhirnya pada satu sosok mayat di depannya.Tampak mayat kultivator dari Sekte Harimau terbang itu hanya menyisakan tulangnya saja dengan semua o







