ログイン
Bab 01. Jenius yang Disingkirkan.
Di bawah cahaya lilin yang redup di lorong istana, seorang remaja berjalan menuju Balai Ramuan Agung Sekte Raja Obat. Langkahnya tegas, namun dipenuhi ketenangan yang sulit digoyahkan. Sesampainya di Balai Ramuan Agung Sekte Raja Obat, ia melangkah masuk ke dalam aula dengan sikap tenang. Di hadapannya, para tetua utama duduk melingkar sambil menatapnya dingin, jelas sikap yang ditunjukan mereka layaknya para hakim yang siap mengadili. Pandangannya beralih ke tengah ruangan dimana terbaring seorang pasien. Tubuh sang pasien telah memucat, tampak olehnya kulit pasien itu menghitam akibat racun yang telah meresap terlalu dalam. Lilin-lilin redup mengelilingi jasad yang telah kaku itu seakan menjadi saksi kegagalan yang tak dapat dihindari. Aula itu megah, dihiasi lampu minyak dan ukiran emas yang berkilau samar. Namun kemegahannya terasa dingin ketika pemuda tersebut dipaksa berlutut di tengah ruangan, tepat di hadapan jasad tersebut. Di sekelilingnya, para tetua berjubah putih berdiri dengan wajah kaku sambil menahan pergerakannya. Pemuda itu adalah dirinya— Tian Fan. Ia adalah murid termuda paling berbakat di Sekte Raja Obat yang merupakan tempat berkumpulnya para tabib terbaik di negeri itu. “Tian Fan!” Suara seorang tetua menggema dingin, memecah keheningan. “Kau telah melanggar hukum pengobatan suci!” Katanya kembali dengan penuh penekanan. Tian Fan mengangkat kepalanya. Wajahnya masih muda, tetapi matanya tajam menatap sosok yang berbicara. “Tetua, aku hanya melakukan apa yang perlu kulakukan,” jawabnya tenang. Seorang tetua lain menghentakkan tongkatnya ke lantai. “Kau menggunakan teknik pembedahan, padahal kau tahu jika itu adalah teknik terlarang!” “Kau membedah tubuh manusia hidup!” “Kau mempelajari racun untuk melawan racun!” “Tabib sejati menyembuhkan dengan energi murni, bukan dengan cara kotor seperti itu!” Tian Fan mengepalkan tangannya karena amarah, namun ia tetap berusaha tenang dan menjaga suaranya tetap stabil. “Energi murni dan pil saja tidak cukup untuk menyelamatkannya,” balasnya. “Bagaimana pasien ini bisa sembuh jika sumber racun di dalam tubuhnya tidak diangkat?” “Sekarang Tetua mengatakan jika kematian pasien ini adalah ulahku? Justru aku melihat pasien ini mati karena kalian menolak menyentuh lukanya!!” Ruangan itu bergemuruh. Sebagian dari mereka terlihat terkejut dengan keberanian sang pemuda yang begitu menantang para Tetua Utama tersebut. “Diam!” Tetua tertinggi berdiri, auranya menekan seluruh ruangan. Ia menatap Tian Fan “Kau membunuhnya!” Tian Fan diam tidak membantah. “Aku mencoba menyelamatkannya, sayangnya itu terlambat!” “Dengan teknik terlarang?” sahut seorang tetua lain dengan nada sinis. “Itu bukan teknik terlarang,” jawab Tian Fan tenang. “Itu adalah metode baru.” Tetua tertinggi menatap Tian Fan dengan tajam. “Metode yang tidak tercatat dalam kitab leluhur adalah penyimpangan!” seru Tetua lainnya dengan sinis. Tuduhan demi tuduhan menggema, saling bertumpuk memenuhi aula. Saat itulah Tian Fan menyadarinya. Yang terpancar dari mata mereka— bukan kemarahan. Bukan pula kesedihan. Melainkan… ketakutan. Ya… mereka takut pada sesuatu yang tidak mereka pahami. Dan lebih dari itu— mereka takut pada dirinya…seseorang yang telah melampaui mereka. “Seorang tabib tidak boleh mencemari dirinya dengan darah,” seru Tetua Tertinggi. Tian Fan tertawa kecil. Tawanya pahit. “Kalau begitu, kalian bukan tabib. Kalian hanya penjaga reputasi.” Ucapannya sontak membuat para petinggi sekte itu menatap angkuh penuh emosi padanya. Hening. Siapapun tahu jika ucapan pemuda itu sama dengan hukuman mati. “Mulai hari ini,” suara tetua tertinggi menggema, “Murid Tian Fan… bukan lagi murid sekte Raja Obat ini dan atas pelanggaran yang dia lakukan dia diusir dari Lembah Raja Obat!” “Segala catatan tentang namanya dihapus.” “Dan tekniknya…dilarang untuk selamanya!” Ucapan Sang Tetua Tertinggi menciptakan senyuman puas pada semua orang yang membenci Tian Fan. Tian Fan tersenyum kecil, ia bisa melihat jika diantara para tetua dan orang orang yang ada disana masih belum puas dengan hukuman yang diterimanya. Tampak olehnya, jika Tetua Tertinggi pun masih belum selesai dengan perkataannya. “Hukuman ini belum selesai. Yang kau lakukan adalah tanda pengkhianatan!” “Untuk mencegah hal serupa di kemudian hari,maka…kau harus menerima hukuman terberat dari para pengadil!” Perkataan sang Tetua Tertinggi langsung disambut seringai Tian Fan, ia menoleh ke arah penonton sidang, tampak olehnya beberapa orang yang sangat dikenalnya menunjukan wajah pongahnya seakan mengejek dirinya dengan serendah rendahnya. “Ternyata kalian…” ujar Tian Fan pelan sambil menatap tajam pada tiga orang pemuda yang dikenalnya yang kini menunjukan senyum penuh hinaan padanya. Tiba tiba tetua berjubah putih yang berdiri di samping kirinya langsung melancarkan sebuah tendangan ke arah perut bawahnya. Tian Fan terbelalak, mulutnya menyemburkan darah segar karena rasa sakit yang amat sangat menghantam perut bawahnya. Wajahnya langsung memucat, seketika itu pula jalur energi di tubuhnya terputus total karena meridian inti energi miliknya hancur total. Rasa sakit masih menjalar di seluruh tubuhnya, ia melihat Sang Tetua Tertinggi mulai mengambil sikap. Satu pukulan energi dari tetua tertinggi melesat ke arahnya dengan cepat dan langsung menghantam dadanya dengan keras. Darah menyembur hebat, Tian Fan terpental ke belakang menghantam pintu ruangan sampai tubuhnya terlempar keluar aula. Kini dirinya terbaring lemah di halaman tanpa bisa menggerakan tubuhnya sedikitpun. Malam itu, tak lama hujan turun deras dan mulai membasahi tubuhnya yang terluka dalam. Pandangannya mulai kabur, meski begitu, ia bisa merasakan jika tubuhnya kini diseret dengan kasar oleh dua orang Tetua berjubah putih. Sepanjang jalan tubuhnya diseret dengan kasar layaknya bangkai hewan tak berguna, ia masih bisa melihat di sisi kiri dan kanan jalan yang dilewati semua orang dimana kini semua murid Sekte menatapnya sinis penuh kehinaan. Umpatan, hinaan dan cibiran terlontar dari mulut mereka semua yang kini mencapnya sebagai sampah dan gila. “Jadi…seperti ini kalian melihatku?” batinnya sambil menatap mereka dengan dingin. Tak lama kesadarannya mulai menghilang dan pandangannya pun kosong berganti dengan kegelapan. Kedua Tetua berjubah putih itu membawa Tian Fan yang tidak sadarkan diri ke belakang sekte dimana sebuah tempat terbengkalai berada. Tubuh Tian Fan dilemparkan ke tanah dengan kasar, ia tergeletak tak berdaya disana. Tak lama, kesadarannya kembali. Ia merasakan perih di seluruh tubuhnya, organ dalamnya terluka dan energi dalamnya hancur. “Dengan ini penghalang kita hilang sepenuhnya!” ujar Tetua jubah putih pertama sambil menatap Tian Fan. “Dua Tuan Muda dan Nona Muda itu meminta kita membuangnya kesana, dengan uang yang mereka berikan untuk pekerjaan ini benar benar akan membuat kita kaya!” seru Tetua berjubah putih kedua. Tian Fan yang mendengar itu langsung sadar siapa yang keduanya maksudkan. Hatinya terasa hancur berkeping-keping mendengarnya. Tak lama, beberapa sosok berjubah hitam datang dari arah kegelapan. Ketiga sosok berjubah hitam itu menemui kedua Tetua yang menyeretnya. Dengan angkuh salah satu tetua melemparkan sebuah cincin penyimpanan pada salah satu sosok berjubah hitam tersebut. “Seperti rencana sebelumnya, buang dia ke Gunung Kematian dan bayaran untuk jasa kalian ada di dalam cincin tersebut,” jelasnya datar. Sosok berjubah hitam itu tak berkata, ia melihat isi di dalam cincin penyimpanan lalu tersenyum jahat setelahnya. Satu gestur tangan sosok berjubah tersebut langsung ditanggapi kedua sosok berjubah hitam lainnya. Mereka berdua kemudian mengangkat tubuh Tian Fan dan pergi dari hadapan kedua Tetua. “Mereka ini siapa? Kemana mereka akan membawaku pergi?” batin Tian Fan. Kesadarannya perlahan memudar dan tak lama kesadarannya pun hilang sepenuhnya. Entah berapa lama Tian Fan kehilangan kesadaran, ia kembali terbangun saat merasakan tubuhnya kembali dibanting dengan kasar ke tanah. Bukk. Sosok berjubah hitam pertama menendang pinggangnya dengan kuat sehingga rusuknya patah. Tubuhnya terhempas ke udara dan dirinya jatuh kedalam jurang dalam tersebut. “Sial, apa aku harus mati dengan mengenaskan seperti ini?” batinnya.Bab 124. Belum tentu menang.Anak tangga yang terbuat dari api membeku dan es menyala masih membentang menuju piramida raksasa ketika tiba-tiba langit di belakang mereka bergetar.Suara menggelegar mengguncang seluruh wilayah Lautan Api dan Es, disusul cahaya putih yang menyilaukan dari arah tempat mereka datang.Keempat orang itu serempak menoleh. Tampak di kejauhan, sebuah dinding cahaya raksasa telah muncul dan bergerak perlahan namun pasti ke arah mereka. Dinding itu membentang dari ujung ke ujung wilayah, menelan setiap orang yang dilewatinya.Wajah Yue Qing’er langsung menegang. Shui Feng juga berubah serius dalam sekejap.Mereka berdua sudah pernah merasakan bagaimana mengerikannya dinding cahaya itu. Begitu tersentuh, seseorang akan diseret ke dalam ruang dimensi, kehilangan kendali atas tubuhnya, lalu dimuntahkan ke wilayah lain secara acak.“Cepat bersiap!” seru Yue Qing’er.“Jangan sampai tersentuh sembarangan!” tambah Shui Feng dengan nada yang jauh lebih panik daripada bi
Bab 123. PengorbananSetelah beberapa saat memperhatikan kembali seluruh wilayah Lautan Api dan Es, Tian Fan kembali melangkah ke depan. Ia tidak lagi bergerak sembarangan. Setiap langkahnya disertai pengamatan terhadap susunan lingkaran lava dan es yang terus berubah, sementara tiga orang di belakangnya mengikuti tanpa berani mengganggu konsentrasinya.Sama seperti sebelumnya, setiap kali pola mekanisme berubah, Tian Fan akan berhenti. Dan setiap kali ia berhenti, selalu muncul sebuah formasi tersembunyi yang menyembunyikan tempat tumbuh tanaman spirit.Pada perhentian pertama, setelah ia memicu tabrakan semburan lava dan uap es dengan pola yang berbeda, tanah di bawah mereka retak dan membuka sebuah cekungan batu baru. Di dalamnya tumbuh sepuluh tanaman spirit Tingkat Dua yang memancarkan aura jauh lebih kuat daripada sebelumnya.Lima tanaman berwarna merah tua dengan daun menyerupai sayap burung api.Lima tanaman lainnya berwarna putih kebiruan dengan kelopak yang tampak seperti se
Bab 122. Yang sulit itu....Tian Fan tidak membuang waktu lebih lama. Setelah memastikan pola pertama telah benar-benar ia pahami, ia melangkah ke depan sambil mengangkat tangan kanannya.Sebuah aliran Qi melesat keluar dari ujung jarinya dan menghantam salah satu lingkaran lava di sisi kiri.Boom!Pilar lava merah menyala langsung menyembur ke udara.Pada saat yang sama, Tian Fan segera melepaskan serangan kedua ke salah satu lingkaran es yang berada tiga petak di depan.Crack!Uap es biru pucat menyembur ke atas dengan kecepatan yang sama.Dua semburan itu bertabrakan di udara dan dalam sekejap terdengar suara mendesis yang sangat keras.Suhu panas ekstrem bertemu hawa dingin ekstrem, menghasilkan gumpalan uap putih yang menutupi pandangan sesaat. Tepat di titik pertemuan keduanya, lava yang semula berupa cairan merah membara mulai kehilangan panas dengan sangat cepat.Qi Es memaksa proses pendinginan berlangsung dalam hitungan napas.Lava mengeras lalu membentuk batuan hitam yang p
Bab 121. Lautan Api dan Es.Tian Fan memandang Shui Feng beberapa saat sebelum akhirnya menjawab dengan nada santai, “Tentu saja aku menolak.”Jawaban itu begitu datar, namun wajah Shui Feng langsung berubah suram.Urat di pelipisnya berkedut tipis. Di dalam hatinya, keinginan untuk menghajar Tian Fan saat itu juga hampir tidak dapat lagi ditahan. Kalau bukan karena Mu Xueyan dan Yue Qing’er masih berdiri di dekat pemuda itu, ia sudah menghunus pedangnya sejak tadi. Namun Shui Feng tetap menahan diri.Ia menarik napas perlahan lalu berkata, “Jangan terburu-buru menolak. Aku masih bisa memberikan sesuatu sebagai gantinya.”Mu Xueyan menatapnya dengan dingin. “Apa yang akan kau tawarkan?”Yue Qing’er ikut memandangnya tanpa menyembunyikan rasa tidak sukanya. Shui Feng mengangkat tangan, lalu tiga cincin penyimpanan muncul di telapak tangannya.“Di dalam tiga cincin ini terdapat hampir setengah kekayaanku. Puluhan ribu koin emas, ratusan ramuan, serta beberapa senjata kelas menengah yang
Bab 120. Jantung Racun YinKeheningan di antara ilalang berlangsung cukup lama sebelum Shui Feng akhirnya membuka suara. Tatapannya tetap tertuju ke depan, tetapi nada bicaranya tidak lagi seangkuh sebelumnya. Ia sudah memahami bahwa pemuda di sampingnya bukan orang yang bisa dibohongi dengan kata-kata biasa.“Aku memang mencari sebuah artefak,” katanya perlahan. “Namanya Jantung Racun Yin.”Tian Fan tidak langsung menanggapi.Shui Feng melanjutkan, “Artefak itu adalah peninggalan kuno yang pernah menjadi milik Sekte Harimau Merah pada masa yang sangat lampau. Menurut catatan sekte, benda itu hilang ribuan tahun yang lalu bersama seorang tetua yang mengkhianati sekte. Setelah berbagai petunjuk ditemukan, para tetua menyimpulkan bahwa artefak itu kemungkinan besar tersembunyi di makam kuno ini. Karena itulah aku ditugaskan untuk mengambilnya kembali.”Ia berhenti sejenak sebelum menjelaskan bentuk artefak tersebut. “Jantung Racun Yin berbentuk seperti jantung manusia, tetapi seluruh pe
Bab 119. Membaca pikiran.Tian Fan menopang tubuh Tang Bohu yang sudah kehilangan seluruh kekuatan di kedua kakinya. Dari luar, pemandangan itu tampak seperti seorang pemuda sedang membantu rekannya yang terluka parah, tetapi telapak tangan Tian Fan yang menempel di dada Tang Bohu perlahan diselimuti lapisan Qi yang sangat tipis.Qi itu tidak menyebar keluar.Ia justru menembus kulit, meridian, dan perlahan memasuki pusat energi di balik tulang dada.Tang Bohu tidak bisa bergerak. Bahkan kelopak matanya pun hanya mampu berkedut lemah. Namun sorot matanya membelalak tajam, menatap Tian Fan tanpa berkedip sedikit pun.Jika mata bisa berbicara, mungkin pertanyaan yang keluar hanyalah satu.Apa yang sedang kau lakukan padaku?Tian Fan memandangnya sejenak, lalu berkata dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. “Jangan terlalu tegang. Aku hanya sedang membuat sebuah segel di dadamu. Ini salah satu teknik yang kupelajari ketika berada di Lembah Kematian.”Mata Tang Bohu kemb
Bab 03. Tamu?Dua tahun berlalu.Di dalam gua yang ada di tepian jurang.Tian Fan yang kini telah berusia 16 tahun dengan tenang menyelesaikan sayatan terakhirnya pada satu sosok mayat di depannya.Tampak mayat kultivator dari Sekte Harimau terbang itu hanya menyisakan tulangnya saja dengan semua o
Bab 07. (21++) Digagahi.Nafas wanita bercadar mulai sedikit tidak teratur,tangannya perlahan menyentuh tubuh Tian Fan dengan gugup namun penuh keberanian.Tak berhenti sampai sana, kini jemarinya merayap ke bawah menyentuh bagian bawah tubuh Tian Fan yang ada di selangkangannya.Tubuh wanita berca
Bab 06. Perjalanan BerdarahAngin dingin berhembus pelan di atas tebing tandus Lembah Kematian. Disana satu sosok berjubah hitam berjalan sendirian di antara kabut tipis yang menyelimuti jalur berbatu.Tian Fan, ia berjalan tanpa pengawal, tanpa tunggangan dan tanpa membawa simbol kekuasaan apa pun
Bab 02. Tangan yang menyelamatkan.Tian Fan membuka matanya perlahan karena hidungnya mencium aroma busuk yang begitu menyengat.“Aku…belum mati,” ujarnya pelan dan terbata bata.Matanya terbelalak saat menatap ke bawah, dirinya kini tergantung di tepian jurang yang tak berujung.Ia menoleh ke kiri







