Beranda / Fantasi / Jenius yang Disingkirkan / Bab 01. Jenius  yang Disingkirkan.

Share

Jenius yang Disingkirkan
Jenius yang Disingkirkan
Penulis: Zayn Z

Bab 01. Jenius  yang Disingkirkan.

Penulis: Zayn Z
last update Tanggal publikasi: 2026-03-30 05:50:36

Bab 01. Jenius yang Disingkirkan.

Di bawah cahaya lilin yang redup di lorong istana, seorang remaja berjalan menuju Balai Ramuan Agung Sekte Raja Obat. Langkahnya tegas, namun dipenuhi ketenangan yang sulit digoyahkan.

Sesampainya di Balai Ramuan Agung Sekte Raja Obat, ia melangkah masuk ke dalam aula dengan sikap tenang. Di hadapannya, para tetua utama duduk melingkar sambil menatapnya dingin, jelas sikap yang ditunjukan mereka layaknya para hakim yang siap mengadili.

Pandangannya beralih ke tengah ruangan dimana terbaring seorang pasien. Tubuh sang pasien telah memucat, tampak olehnya kulit pasien itu menghitam akibat racun yang telah meresap terlalu dalam.

Lilin-lilin redup mengelilingi jasad yang telah kaku itu seakan menjadi saksi kegagalan yang tak dapat dihindari.

Aula itu megah, dihiasi lampu minyak dan ukiran emas yang berkilau samar. Namun kemegahannya terasa dingin ketika pemuda tersebut dipaksa berlutut di tengah ruangan, tepat di hadapan jasad tersebut.

Di sekelilingnya, para tetua berjubah putih berdiri dengan wajah kaku sambil menahan pergerakannya.

Pemuda itu adalah dirinya—

Tian Fan.

Ia adalah murid termuda paling berbakat di Sekte Raja Obat yang merupakan tempat berkumpulnya para tabib terbaik di negeri itu.

“Tian Fan!”

Suara seorang tetua menggema dingin, memecah keheningan.

“Kau telah melanggar hukum pengobatan suci!”

Katanya kembali dengan penuh penekanan.

Tian Fan mengangkat kepalanya. Wajahnya masih muda, tetapi matanya tajam menatap sosok yang berbicara.

“Tetua, aku hanya melakukan apa yang perlu kulakukan,” jawabnya tenang.

Seorang tetua lain menghentakkan tongkatnya ke lantai.

“Kau menggunakan teknik pembedahan, padahal kau tahu jika itu adalah teknik terlarang!”

“Kau membedah tubuh manusia hidup!”

“Kau mempelajari racun untuk melawan racun!”

“Tabib sejati menyembuhkan dengan energi murni, bukan dengan cara kotor seperti itu!”

Tian Fan mengepalkan tangannya karena amarah, namun ia tetap berusaha tenang dan menjaga suaranya tetap stabil.

“Energi murni dan pil saja tidak cukup untuk menyelamatkannya,” balasnya.

“Bagaimana pasien ini bisa sembuh jika sumber racun di dalam tubuhnya tidak diangkat?”

“Sekarang Tetua mengatakan jika kematian pasien ini adalah ulahku? Justru aku melihat pasien ini mati karena kalian menolak menyentuh lukanya!!”

Ruangan itu bergemuruh. Sebagian dari mereka terlihat terkejut dengan keberanian sang pemuda yang begitu menantang para Tetua Utama tersebut.

“Diam!”

Tetua tertinggi berdiri, auranya menekan seluruh ruangan. Ia menatap Tian Fan

“Kau membunuhnya!”

Tian Fan diam tidak membantah.

“Aku mencoba menyelamatkannya, sayangnya itu terlambat!”

“Dengan teknik terlarang?” sahut seorang tetua lain dengan nada sinis.

“Itu bukan teknik terlarang,” jawab Tian Fan tenang. “Itu adalah metode baru.”

Tetua tertinggi menatap Tian Fan dengan tajam.

“Metode yang tidak tercatat dalam kitab leluhur adalah penyimpangan!” seru Tetua lainnya dengan sinis.

Tuduhan demi tuduhan menggema, saling bertumpuk memenuhi aula.

Saat itulah Tian Fan menyadarinya.

Yang terpancar dari mata mereka—

bukan kemarahan.

Bukan pula kesedihan.

Melainkan… ketakutan.

Ya… mereka takut pada sesuatu yang tidak mereka pahami.

Dan lebih dari itu—

mereka takut pada dirinya…seseorang yang telah melampaui mereka.

“Seorang tabib tidak boleh mencemari dirinya dengan darah,” seru Tetua Tertinggi.

Tian Fan tertawa kecil. Tawanya pahit.

“Kalau begitu, kalian bukan tabib. Kalian hanya penjaga reputasi.”

Ucapannya sontak membuat para petinggi sekte itu menatap angkuh penuh emosi padanya.

Hening.

Siapapun tahu jika ucapan pemuda itu sama dengan hukuman mati.

“Mulai hari ini,” suara tetua tertinggi menggema,

“Murid Tian Fan… bukan lagi murid sekte Raja Obat ini dan atas pelanggaran yang dia lakukan dia diusir dari Lembah Raja Obat!”

“Segala catatan tentang namanya dihapus.”

“Dan tekniknya…dilarang untuk selamanya!”

Ucapan Sang Tetua Tertinggi menciptakan senyuman puas pada semua orang yang membenci Tian Fan.

Tian Fan tersenyum kecil, ia bisa melihat jika diantara para tetua dan orang orang yang ada disana masih belum puas dengan hukuman yang diterimanya.

Tampak olehnya, jika Tetua Tertinggi pun masih belum selesai dengan perkataannya.

“Hukuman ini belum selesai. Yang kau lakukan adalah tanda pengkhianatan!”

“Untuk mencegah hal serupa di kemudian hari,maka…kau harus menerima hukuman terberat dari para pengadil!”

Perkataan sang Tetua Tertinggi langsung disambut seringai Tian Fan, ia menoleh ke arah penonton sidang, tampak olehnya beberapa orang yang sangat dikenalnya menunjukan wajah pongahnya seakan mengejek dirinya dengan serendah rendahnya.

“Ternyata kalian…” ujar Tian Fan pelan sambil menatap tajam pada tiga orang pemuda yang dikenalnya yang kini menunjukan senyum penuh hinaan padanya.

Tiba tiba tetua berjubah putih yang berdiri di samping kirinya langsung melancarkan sebuah tendangan ke arah perut bawahnya.

Tian Fan terbelalak, mulutnya menyemburkan darah segar karena rasa sakit yang amat sangat menghantam perut bawahnya.

Wajahnya langsung memucat, seketika itu pula jalur energi di tubuhnya terputus total karena meridian inti energi miliknya hancur total.

Rasa sakit masih menjalar di seluruh tubuhnya, ia melihat Sang Tetua Tertinggi mulai mengambil sikap.

Satu pukulan energi dari tetua tertinggi melesat ke arahnya dengan cepat dan langsung menghantam dadanya dengan keras.

Darah menyembur hebat, Tian Fan terpental ke belakang menghantam pintu ruangan sampai tubuhnya terlempar keluar aula.

Kini dirinya terbaring lemah di halaman tanpa bisa menggerakan tubuhnya sedikitpun.

Malam itu, tak lama hujan turun deras dan mulai membasahi tubuhnya yang terluka dalam.

Pandangannya mulai kabur, meski begitu, ia bisa merasakan jika tubuhnya kini diseret dengan kasar oleh dua orang Tetua berjubah putih.

Sepanjang jalan tubuhnya diseret dengan kasar layaknya bangkai hewan tak berguna, ia masih bisa melihat di sisi kiri dan kanan jalan yang dilewati semua orang dimana kini semua murid Sekte menatapnya sinis penuh kehinaan.

Umpatan, hinaan dan cibiran terlontar dari mulut mereka semua yang kini mencapnya sebagai sampah dan gila.

“Jadi…seperti ini kalian melihatku?” batinnya sambil menatap mereka dengan dingin.

Tak lama kesadarannya mulai menghilang dan pandangannya pun kosong berganti dengan kegelapan.

Kedua Tetua berjubah putih itu membawa Tian Fan yang tidak sadarkan diri ke belakang sekte dimana sebuah tempat terbengkalai berada.

Tubuh Tian Fan dilemparkan ke tanah dengan kasar, ia tergeletak tak berdaya disana.

Tak lama, kesadarannya kembali.

Ia merasakan perih di seluruh tubuhnya, organ dalamnya terluka dan energi dalamnya hancur.

“Dengan ini penghalang kita hilang sepenuhnya!” ujar Tetua jubah putih pertama sambil menatap Tian Fan.

“Dua Tuan Muda dan Nona Muda itu meminta kita membuangnya kesana, dengan uang yang mereka berikan untuk pekerjaan ini benar benar akan membuat kita kaya!” seru Tetua berjubah putih kedua.

Tian Fan yang mendengar itu langsung sadar siapa yang keduanya maksudkan. Hatinya terasa hancur berkeping-keping mendengarnya.

Tak lama, beberapa sosok berjubah hitam datang dari arah kegelapan. Ketiga sosok berjubah hitam itu menemui kedua Tetua yang menyeretnya.

Dengan angkuh salah satu tetua melemparkan sebuah cincin penyimpanan pada salah satu sosok berjubah hitam tersebut.

“Seperti rencana sebelumnya, buang dia ke Gunung Kematian dan bayaran untuk jasa kalian ada di dalam cincin tersebut,” jelasnya datar.

Sosok berjubah hitam itu tak berkata, ia melihat isi di dalam cincin penyimpanan lalu tersenyum jahat setelahnya.

Satu gestur tangan sosok berjubah tersebut langsung ditanggapi kedua sosok berjubah hitam lainnya.

Mereka berdua kemudian mengangkat tubuh Tian Fan dan pergi dari hadapan kedua Tetua.

“Mereka ini siapa? Kemana mereka akan membawaku pergi?” batin Tian Fan.

Kesadarannya perlahan memudar dan tak lama kesadarannya pun hilang sepenuhnya.

Entah berapa lama Tian Fan kehilangan kesadaran, ia kembali terbangun saat merasakan tubuhnya kembali dibanting dengan kasar ke tanah.

Bukk.

Sosok berjubah hitam pertama menendang pinggangnya dengan kuat sehingga rusuknya patah.

Tubuhnya terhempas ke udara dan dirinya jatuh kedalam jurang dalam tersebut.

“Sial, apa aku harus mati dengan mengenaskan seperti ini?” batinnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
sinamyang Indonesia
Penulis nya gak bertanggung jawab cerita yg lain belum tamat dan ud gk ad kelanjutan lagi dan disini buat lagi cerita baru yg lama gk di updet
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
mulai menarik
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 65. Akhirnya Diketahui.

    Bab 65. Akhirnya Diketahui.Tian Fan, Tang San, dan Shin berjalan berdampingan menuju aula utama Kediaman Klan Xiao. Di belakang mereka, Shui Xian sempat hendak mengikuti. Namun baru beberapa langkah berjalan, Shui Wen segera menahan lengan adiknya."Dari raut wajah mereka saja sudah terlihat kalau mereka akan membicarakan urusan penting. Kita sebaiknya tidak ikut," ucap Shui Wen pelan.Shui Xian sedikit mengerucutkan bibirnya. "Kenapa? Bukankah aku juga bisa mendengarkan?"Shui Wen hanya menggeleng sambil tersenyum tipis. "Karena ada beberapa pembicaraan yang lebih nyaman dilakukan di antara mereka sendiri."Sebenarnya bukan hanya itu alasannya. Sebelumnya Lu Tang telah diam-diam memperingatkannya."Kedua pria berjubah hitam itu bukan kultivator biasa. Bahkan sampai sekarang aku sama sekali tidak bisa melihat ranah mereka. Sebaiknya jangan mengganggu pembicaraan mereka."Mengingat perkataan itu, Shui Wen akhirnya memilih menarik adiknya kembali.Shui Xian sempat menoleh ke arah Tia

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 64. Tidak menoleh lagi

    Bab 64. Tidak menoleh lagiSuasana di depan Kediaman Klan Xiao masih dipenuhi keheningan setelah pernyataan Shui Xian yang mengejutkan semua orang. Tak seorang pun menyangka gadis bercadar yang masih misterius identitasnya itu itu akan mengumumkan di hadapan seluruh Kota Shui bahwa Tian Fan adalah tunangannya.Xiao Ling akhirnya melangkah mendekat. Ia menatap Tian Fan dengan senyum bangga sebelum berkata dengan lembut."Fan'er, urusan di sini biarkan Kakekmu dan para tetua yang menyelesaikannya. Kau sudah melakukan lebih dari cukup malam ini."Tian Fan menganggukkan kepalanya tanpa banyak bicara. "Baik, Bibi."Setelah itu ia berbalik memasuki Kediaman Klan Xiao. Di sampingnya, Shui Xian masih saja merangkul lengannya seolah tidak memiliki niat sedikitpun untuk melepaskannya. Tang San dan Shin berjalan santai mengikuti dari belakang, sementara Shui Wen dan Lu Tang ikut masuk bersama rombongan.Di belakang mereka, Su Yi hanya mampu berdiri terpaku.Tatapannya terus mengikuti punggung

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 63. Penyesalan yang Terlambat

    Bab 63. Penyesalan yang TerlambatSuasana masih dipenuhi keheningan setelah hukuman yang diterima Xie Kang dan Xie Wang. Jeritan mereka yang menggema beberapa saat lalu masih terngiang di telinga semua orang. Di atas gerbang, Tang San tetap duduk santai tanpa sedikit pun menunjukkan emosi. Namun kali ini tekanan auranya perlahan bergeser dan mengarah kepada Su Jing.Seketika wajah Patriark Klan Su memucat. Keringat dingin mulai mengalir di dahinya. Ia buru-buru melangkah maju sambil menangkupkan kedua tangan."Senior, mohon tunggu. Aku tidak ikut menawar ataupun menghina Senior. Semua perkataan tadi adalah keputusan Xie Kang dan putranya. Aku sama sekali tidak terlibat dalam urusan itu."Nada bicaranya terdengar tergesa-gesa, seolah takut terlambat menjelaskan. Melihat ayahnya berada dalam situasi berbahaya, Su Yi akhirnya memberanikan diri melangkah keluar dari kerumunan. Wajahnya dipenuhi kecemasan saat menatap Tian Fan."Tian Fan... aku tahu Ayah telah melakukan banyak kesalahan. K

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 62. Jalan Buntu.

    Bab 62. Jalan Buntu.Xie Kang dan Su Jing benar-benar kehilangan kata-kata. Ledakan aura kenaikan ranah yang terus bermunculan dari dalam Kediaman Klan Xiao membuat wajah keduanya semakin suram. Terlebih lagi setelah awan tribulasi muncul di langit malam.Enam sambaran petir pembaptisan yang berputar di atas Kediaman Klan Xiao menjadi bukti yang tidak terbantahkan jika seseorang sedang menerobos menuju Ranah Langit dan itu terjadi di pihak musuh mereka.Bagi siapa pun yang memahami dunia kultivasi, pemandangan tersebut sama saja dengan lonceng kematian bagi Klan Xie dan Klan Su.Xie Wang terlihat paling terpukul. Wajahnya pucat dan kedua tangannya mengepal erat.Dalam bayangannya, malam ini seharusnya menjadi malam kehancuran Tian Fan dan Klan Xiao dan Klan Long seharusnya diinjak hingga hancur tanpa mampu melawan.Namun sekarang kenyataannya justru berbanding terbalik, yang hancur bukan Tian Fan namun melainkan mereka.Meski begitu, jauh di dalam hatinya masih tersisa secercah harap

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 61. Matahari Qi.

    Bab 61. Matahari Qi.Beberapa waktu sebelumnya di aula utama Klan Xiao.Di aula utama Kediaman Klan Xiao, Xiao Ling melangkah maju dan menyerahkan sebuah slip giok serta cincin spasial kepada ayahnya."Fan'er meminta aku menyerahkan ini kepada Ayah."Xiao Long menerima keduanya lalu segera memasukkan kesadarannya ke dalam slip giok. Tak lama kemudian suara Tian Fan terdengar dari dalamnya."Kakek, jika kau sedang mendengar pesan ini berarti Klan Xie dan Klan Su sudah bergerak. Di dalam cincin spasial ini terdapat beberapa alat formasi dan empat batu spirit tingkat menengah. Gunakan semuanya sesuai petunjuk yang kusertakan."Suara Tian Fan terdengar tenang dan penuh keyakinan."Aktifkan formasi itu di aula utama lalu kumpulkan seluruh anggota Klan Xiao dan Klan Long di dalamnya.""Jangan keluar apa pun yang terjadi. Biarkan aku yang mengurus Klan Xie dan Klan Su.""Aku tidak menjanjikan kemenangan, tetapi aku bisa menjamin satu hal. Setelah malam ini berakhir, kekuatan kedua klan kita

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 60. Harga yang Tidak Bisa Dibayar.

    Bab 60. Harga yang Tidak Bisa Dibayar.Wajah Xie Kang dan Su Jing terlihat sangat buruk. Sebagai Patriark dua klan besar, mereka baru saja ditantang secara terbuka oleh seorang junior di depan seluruh Kota Shui.Jika mereka menolak, wajah Klan Xie dan Klan Su akan hancur. Namun jika menerima, mereka juga tidak memiliki keyakinan penuh.Bukan karena lawannya adalah Tian Fan dan kondisi ranah mereka yang turun satu tingkat menjadi ranah Kaisar tingkat awal, alasan utamanya adalah karena sosok misterius berjubah hitam yang duduk di atas gerbang Kediaman Klan Xiao.Keberadaan seorang ahli Ranah Langit di belakang Tian Fan seperti gunung besar yang menekan hati mereka karena bukan tidak mungkin jika pria misterius itu akan ikut campur dalam pertarungan.Melihat keraguan yang muncul di wajah keduanya, sosok berjubah hitam itu tiba-tiba bergerak. Ia yang sebelumnya berdiri perlahan duduk di atas gerbang sambil menyilangkan kaki.Kemudian suaranya terdengar tenang berkata pada mereka."Kalia

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 37. Umpan.

    Bab 37. Umpan.Tian Fan menutup buku pembukuan di tangannya lalu meletakkannya perlahan di atas meja. Dari sana tatapannya menyapu seluruh ruangan.Meskipun toko telah kembali ke tangan Klan Long namun kondisi yang ditinggalkan Klan Su benar-benar menyedihkan.Persediaan kosong, gudang kosong, bahk

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 34. Ramuan Penaik Ranah.

    Bab 34. Ramuan Penaik Ranah.Enam pil berwarna emas kemerahan perlahan mendarat di telapak tangan Tian Fan. Segera aroma pil yang lembut segera memenuhi ruang bawah tanah. Tatapan Tian Fan tertuju pada keenam pil tersebut.Senyumnya perlahan melebar."Berhasil."Persepsi jiwanya menyapu permukaan p

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 33. Hal yang tidak diketahui.

    Bab 33. Hal yang tidak diketahui.Di tengah ruangan, Tian Fan duduk bersila dengan punggung tegak, di hadapannya berdiri Tungku Enam Inti yang baru saja selesai dibuatnya.Empat inti beast merah yang menonjol di sisi luar tungku masih memancarkan cahaya redup seperti bara api yang belum sepenuhnya

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 30. Ember terbalik.

    Bab 30. Ember terbalik.Setelah insiden kecil yang membuat kepala Tian Fan kembali menjadi korban tongkat merah legendaris milik Xiao Long, suasana perlahan kembali tenang.Kini mereka semua memperhatikan segala tindak tanduk Tian Fan dan apa yang akan dilakukannya.Setelah menunggu hampir setengah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status