تسجيل الدخولBab 02. Tangan yang menyelamatkan.
Tian Fan membuka matanya perlahan karena hidungnya mencium aroma busuk yang begitu menyengat. “Aku…belum mati,” ujarnya pelan dan terbata bata. Matanya terbelalak saat menatap ke bawah, dirinya kini tergantung di tepian jurang yang tak berujung. Ia menoleh ke kiri dan kanannya, ia makin terkejut saat pandangannya teralih ke arah belakang, tampak satu tangan terulur mencengkram kerah bajunya. Ya, dia selamat karena sesosok misterius yang berada dalam tumpukan mayat di tepi jurang itulah yang mencegahnya jatuh ke dalam jurang. Sosok tersebut kemudian menarik dan melemparkan tubuhnya ke atas yang membuatnya jatuh di tepian jurang. Tubuhnya jatuh diantara tumpukan mayat,tampak di sekelilingnya terbaring mayat manusia, mayat para praktisi yang dibuang ke Gunung Kematian dan mati mengenaskan. Segera ia turun dan menjauh dari tumpukan tersebut, tentu saja ia melakukan itu karena sang penolongnya berada di bawah tumpukan mayat tersebut. Ia pun dengan susah payah merangkak turun dari tumpukan mayat itu agar terhindar jatuh kedalam jurang kematian. Tian Fan menyandarkan tubuhnya di dinding tebing, pandangannya terarah ke tumpukan mayat untuk menilai situasi yang terjadi. Tanpa menghiraukan rasa sakit di tubuhnya, ia beranjak bangkit. Ia berdiri lalu berjalan tertatih ke arah tumpukan mayat, ia segera menuju tumpukan mayat itu untuk membantu penolongnya. Terlihat satu sosok pria tua terbaring lemah di tanah,tubuh pria tersebut penuh dengan luka dengan setengah nafas berada di tenggorokan,tanda kematian sudah hampir menjemput. Dengan hati hati Tian Fan membalikan tubuh sang pria tua untuk menyelamatkan hidupnya. Tiba-tiba pria itu mencengkram tangannya, menatapnya teduh, tampak ia berusaha berkata namun ia tidak memiliki tenaga untuk melakukannya. Melihat sorot matanya yang tenang, Tian Fan bisa menilai jika pria tersebut tampaknya berusaha menyampaikan untuk tidak perlu menyelamatkannya karena dirinya memang sudah tidak bisa diselamatkan. Sang pria tua menunjukan gestur agar Tian Fan mendekat padanya, segera ia pun memposisikan pria tua tersebut untuk bersandar di tubuhnya. “Tuan, apa yang bisa kulakukan untukmu?” “Aku seorang tabib, aku akan berusaha untuk menyelamatkanmu!” ujarnya tegas. Tukk. Tian Fan akan berkata kembali namun sang pria tersebut mendahuluinya dengan mengetukan dua jarinya ke kening Tian Fan. Tian Fan tertegun karenanya, bagaimana tidak? Apa yang dilakukan sang pria telah membuat memori otak di kepalanya kini dipenuhi banyak pengetahuan baru yang sangat misterius dan diluar nalarnya. Tak hanya itu saja, ia juga merasakan jika ingatan miliknya seperti ditarik paksa keluar seperti terhubung melalui benang tak kasat mata dengan si pria tua. “Apa ini? Pengetahuan apa ini? Kenapa juga dengan ingatanku, kenapa seperti ditarik paksa keluar?” batinnya. Tian Fan hanya bisa menggeram kesakitan menahan serbuan ribuan ingatan yang memenuhi kepalanya. Tak hanya itu saja, ia merasakan tubuhnya seperti dipatahkan dan dibentuk ulang kembali dari dalam. “Prisma apa itu?” batinnya merujuk pada terbentuknya sebuah simbol di dalam dantiannya. Entah berapa lama waktu yang terlewati, akhirnya Tian Fan merasakan rasa sakit di kepala dan tubuhnya berkurang. Nafasnya tersengal, keringat membasahi tubuhnya dengan deras. Ia kembali menatap penolongnya penuh arti “Tuan, apa ini benar? Tuan mewariskan ini–” Sang pria tua kembali mencegahnya berkata, satu gestur tangannya menunjuk ke arah balik pakaiannya,tanda agar Tian Fan mengambil sesuatu yang tersemat di dalam sana. Ia menuruti keinginan pria tua yang terlihat hampir meregang nyawanya itu. Tian Fan mengambil sesuatu dari balik pakaiannya, tampak di genggaman tangannya sebuah token emas berbentuk segi enam dengan ukiran sebuah naga dan timbangan seimbang di permukaannya “Dari ingatan yang diberikan tuan ini, bukankah token ini merupakan–” “Uhukk!” Sang pria tua memuntahkan darah segar hingga menyembur ke wajah dan tubuh Tian Fan, genggaman tangannya semakin erat mencengkram tangan Tian Fan. Perlahan sinar di mata sang pria perlahan meredup dan…akhirnya menghilang. Tian Fan menatap lirih pada jasad sang pria tua, tampak olehnya jasad pria tersebut kini mulai berubah menjadi ratusan butiran cahaya yang terbang ke udara, menyisakan sebuah cincin penyimpanan merah yang kini jatuh ke genggaman tangan kirinya. Ia menengadah memperhatikan butiran cahaya sang pria yang kini terbang ke langit malam yang dihiasi bintang. “Tuan Xiaohu Yan…tidak– Master Xiaohu Yan, selamat jalan….” “Meski singkat tapi pertemuan ini pastinya jalan takdir kita berdua.” “Dari ingatan Master aku menyadari jika tujuan Master dan aku ternyata sejalan.” “Peninggalan, keinginan, harapan dan tujuan serta dendam Master pastinya akan aku jalankan dan aku balaskan…Aku berjanji!” ujar Tian Fan penuh tekad. Ya, semua warisan dan ingatan yang diberikan Master Xiaohu Yan rupanya sejalan dengan tujuannya. Dengan apa yang telah diberikan oleh sang pria tua dan juga kesamaan tujuan dengannya langsung membuat Tian Fan tak ragu mengakui sang pria tua, Master Xiaohu Yan sebagai gurunya, dan sebagai pewaris dari peninggalannya, tentunya ia pun harus menjalankan keinginan dari Masternya itu. Tian Fan menyeringai. Di situlah ia belajar kenyataan. Tak ada yang suci. Tak ada yang benar-benar peduli menyelamatkan nyawa. Ternyata ada yang bernasib sama seperti dirinya. Kini di hatinya terpancar sebuah tekad untuk menjadi kuat karena kekuatan adalah segalanya. Jika dunia menolaknya sebagai tabib dan alkemis dengan metodenya maka ia memutuskan akan menjadi sesuatu yang lebih mengerikan untuk orang orang yang menghina dan menindasnya. “Dunia ini akan terus berkembang, pemikiran kalian yang ortodoks dan hanya memikirkan keuntungan saja akan tergerus oleh zaman dan waktu.” “Aku…aku akan melihat itu semua terjadi pada kalian dengan mataku sendiri!” ujarnya penuh keseriusan. Tian Fan merasakan kondisi tubuhnya sendiri, warisan yang diberikan Master Xiaohu Yan kini telah menyembuhkan luka lukanya. Tak hanya itu saja, ia bisa merasakan jika tubuhnya kini dipenuhi kekuatan yang luar biasa. Tian Fan menatap tumpukan mayat yang ada di depannya, ia bangkit lalu berjalan ke arah tumpukan mayat yang ada. Bukan tanpa sebab ia melakukan itu, tumpukan mayat di depannya adalah mayat para praktisi bela diri yang mati dalam pertarungan. Tentunya di tubuh mereka masih terdapat ‘sesuatu’ yang mungkin bermanfaat untuk dirinya. Ia mencari cincin penyimpanan yang mungkin masih ada di tubuh mereka dimana mungkin isi di dalamnya bisa berguna untuknya. Sesuai perkiraannya, diantara kantong penyimpanan dan cincin penyimpanan tersebut terdapat banyak barang berharga. Tanpa ragu ia segera meminum pil yang ada meski kualitasnya begitu buruk di matanya. Ia kemudian menyerap khasiat pil sambil mengambil sikap lotus guna mencapai khasiat terbaiknya. “Meski pil-pil ini tingkat rendah namun setidaknya ini berguna menaikan sedikit ranahku.” “Untuk sisanya…sepertinya aku hanya bisa mengandalkan kemampuanku sendiri untuk menaikannya,” ujarnya datar. Tian Fan kembali melihat isi cincin penyimpanan lainnya, pandangannya tertuju pada sebuah cincin penyimpanan berwarna merah darah yang ditinggalkan Master Xiaohu Yan. Ia mengambilnya lalu mengeluarkan semua isi di dalamnya. Semua benda yang ada di dalam cincin penyimpanan itu kini tergeletak di tanah di depannya. Matanya terbelalak saat mendapati sebuah kitab hitam lusuh yang hanya tersisa setengahnya saja. “Ini…bukankah ini kitab kultivasi kuno yang telah hilang itu, kitab tubuh matahari!” ujarnya sambil menelisik kitab hitam lusuh tersebut. Segera ia melihat isi kitab untuk memastikannya. Wajahnya berbinar, senyum lebar terhias penuh di wajahnya karena dugaannya ternyata benar. Dari ingatan Master Xiaohu Yan diketahui jika kitab tubuh matahari berisikan teknik kultivasi yang berdasar pada teknik pengembangan tenaga dalam tubuh dimana teknik tersebut bisa membuat seseorang bisa menumbuhkan kembali jalur energi tiga kali lipat dari normalnya. “Dengan teknik ini aku bisa mengembalikan ranahku yang dihancurkan, tidak…bahkan ini lebih dari itu!” ujarnya penuh keyakinan. Tian Fan kembali menatap tumpukan mayat yang ada di depannya, gegas ia menarik satu persatu mayat yang ada disana untuk menghilangkan penasaran yang ada pada dirinya. Tampak pakaian yang pria itu kenakan bercorak harimau dengan dua sayap di punggungnya. “Pakaiannya ini…jelas orang ini berasal dari Sekte Harimau terbang, sekte tersembunyi yang konon merupakan sekte terkuat kedua di lembah kematian!” “Sepertinya Master Xiaohu Yan ini lari dari pengejaran orang-orang ini namun ia tidak berhasil lari dan akhirnya membawa para pengejarnya ini ke dalam kematian!” duganya sambil melihat keadaan semua mayat yang ada. Mengetahui jika tumpukan belasan mayat itu adalah orang yang kemungkinan besar membunuh Master Xiaohu Yan, Tian Fan langsung menunjukan seringainya “Karena kalian yang membunuh guru sekaligus penyelamatku,maka aku tidak akan sungkan!” Ia menarik salah satu mayat dan menyeretnya masuk ke dalam gua kecil yang berada tak jauh dari posisinya. Ia mulai membedah mayat-mayat itu. Mempelajari struktur tulang, aliran darah, jaringan saraf, cara energi meresap ke organ. Ia belajar bukan dari kitab suci. Tapi dari pengalaman dan kematian.Bab 130. Dipaksa ujian.Kabut hitam yang memenuhi Tangga Seribu Hati perlahan menyebar ke semua tangga dari anak tangga ke 51 hingga ke atas. Kini semua anak tangga dan situasi di area itu berubah sepenuhnyaDi hadapan Tian Fan, anak tangga ke-51 telah berubah sepenuhnya. Tidak ada lagi warna merah dan biru yang menjadi ciri khas Tangga Seribu Hati. Seluruh permukaannya kini hitam pekat, dengan retakan merah menyala yang menjalar seperti urat-urat magma di dalam tanah.Aura yang keluar dari anak tangga itu membuat Tian Fan terdiam. Bukan karena ia takut, melainkan karena aura tersebut terlalu familiar buatnya Ini adalah aura Menara Kegelapan.Aura yang pernah membuatnya berjalan di antara hidup dan mati.Tian Fan perlahan menatap ke depan. Kabut hitam telah menutup seluruh jalan di belakangnya, sementara sosok Si Iblis Besar sudah tidak terlihat lagi. Hanya suaranya yang masih menggema dari segala arah, seolah berasal dari ruang yang tidak dapat disentuh oleh persepsi spiritualnya.“
Bab 129. Layak?Pertanyaan Tian Fan tidak langsung dijawab. Sebaliknya, sosok hitam di hadapannya justru terdiam selama beberapa saat sebelum tiba-tiba tertawa. Tawa itu semakin keras, menggema di antara ruang yang retak dan menyebar ke seluruh Tangga Seribu Hati, seolah pertanyaan Tian Fan merupakan sesuatu yang benar-benar lucu baginya. “Hahaha… kau penasaran denganku? Kau penasaran kenapa aku mengenal si iblis kecil? Haruskah aku menjawab pertanyaanmu itu?” Suaranya terdengar penuh ejekan, seakan-akan ia sengaja menikmati reaksi Tian Fan.Tian Fan hanya menatapnya tanpa berubah sedikit pun. Entah mengapa, meskipun sosok di hadapannya hanya berupa siluet hitam dengan wajah yang tidak sepenuhnya jelas, Tian Fan tetap dapat merasakan bahwa sosok itu sedang mengejeknya. Namun bukannya marah, sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyum tipis. “Kau terlalu percaya diri,” jawab Tian Fan dengan santai. “Siapa bilang aku penasaran? Aku hanya bertanya karena kebetulan kau menyebut n
Bab 128. Anak tangga ke-51.Setelah merasa penjelasannya sudah cukup, Tian Fan mengeluarkan dua botol giok dari cincin penyimpanannya lalu melemparkannya masing-masing kepada Jian Mu dan Lin Yuer. Keduanya menangkap botol itu dengan refleks, lalu memandanginya dengan sedikit bingung.Jian Mu membuka tutup botolnya, dan aroma yang sangat lembut namun menyegarkan langsung memenuhi anak tangga tempat mereka berada. “Ramuan apa ini?”Tian Fan menjawab santai. “Ramuan Pemulih Jiwa.”Kedua orang itu seketika terdiam. Lin Yuer memandang cairan bening keperakan di dalam botol dengan mata yang perlahan membesar. “Ramuan… Pemulih Jiwa?”Tian Fan mengangguk. “Efektivitasnya sekitar lima puluh persen lebih sedikit. Tidak terlalu tinggi, tetapi cukup untuk memulihkan kelelahan jiwa yang kalian alami setelah melewati ujian di Tangga Seribu Hati ini.” Jian Mu menarik napas pelan. Ia jelas tahu apa arti ramuan itu. Ramuan Pemulih Jiwa bukanlah sesuatu yang bisa dibeli dengan uang. Bahkan di Sekt
Bab 127. Tidak Berpengaruh.Tian Fan, Mu Xueyan, dan Yue Qing’er kini berdiri tepat di depan anak tangga pertama Tangga Seribu Hati. Tidak ada tekanan yang memaksa mereka untuk segera melangkah, tetapi keheningan di tempat itu justru membuat setiap detik terasa jauh lebih berat daripada pertarungan mana pun yang pernah mereka hadapi.Mu Xueyan menarik napas panjang, lalu perlahan menapakkan kakinya ke anak tangga pertama. Yue Qing’er melakukan hal yang sama hampir bersamaan. Begitu kaki mereka menyentuh permukaan anak tangga, keduanya langsung mematung, seolah kesadaran mereka ditarik ke tempat lain.Tian Fan masih berdiri di bawah tangga, memandangi anak tangga pertama dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Ada sesuatu yang terasa sangat familiar setelah melihat anak tangga tersebut.Ia bergumam pelan. “Tak kusangka… aku akan bertemu lagi dengan tangga seperti ini.”Tanpa ragu, ia melangkah.Begitu kedua kakinya menginjak anak tangga pertama, dinding cahaya tipis di sekitar Tangga S
Bab 126. Setiap Langkah untuk Menjadi KuatTian Fan membiarkan Mu Xueyan dan Yue Qing’er larut dalam pemikiran mereka sendiri. Kedua wanita itu masih memandangi Tangga Seribu Hati dengan tatapan yang jauh lebih serius daripada sebelumnya, seolah setiap anak tangga telah berubah menjadi cermin yang memantulkan bagian terdalam hati mereka.Sementara itu, Tian Fan kembali mengalihkan perhatiannya pada lingkaran diagram magis di depan mereka.Tatapannya menyapu setiap garis rune, setiap simpul energi, dan setiap pola api serta es yang saling bertaut. Semakin lama ia mengamati, semakin jelas sebuah kesimpulan terbentuk di dalam benaknya.“Jadi ternyata memang dibuat seperti itu…”Mendengar gumaman Tian Fan, segera kedua keindahan itu mendekat ke arah Tian Fan. Mu Xueyan menoleh padanya. “Apa kau menemukan sesuatu?”Tian Fan tersenyum kecut.“Ya. Ternyata dugaanku benar.”Yue Qing’er ikut mendekat. “Apa?”Tian Fan memandang lingkaran itu beberapa saat sebelum berkata dengan nada santai“T
Bab 125. Legenda selalu membawa bekas luka.Tian Fan masih menatap Tangga Seribu Hati di hadapannya dengan seksama. Cahaya merah dan biru pada setiap anak tangga terus berdenyut perlahan, seolah memiliki irama yang tidak terlihat. Setelah beberapa saat, ia menoleh ke belakang dan memandang jauh ke arah tepian lain Lautan Api dan Es.Di kejauhan, para peserta yang tersisa baru saja dimuntahkan oleh dinding cahaya. Sebagian besar tampak terduduk lemah, nafas mereka kacau, pakaian mereka compang-camping, dan wajah mereka dipenuhi keputusasaan. Beberapa orang bahkan memilih berbalik arah, jelas telah menyerah pada ujian makam kuno ini. Namun masih ada sebagian kecil yang tetap berdiri, mengamati lingkaran-lingkaran lava dan es, mencoba memahami mekanismenya meski tubuh mereka sudah dipenuhi luka dan lelah yang amat sangat.Mu Xueyan mengikuti arah pandang Tian Fan, begitu pula Yue Qing’er yang baru saja berhenti menertawakan Shui Feng yang masih membeku dalam bukit es transparan.Yue Qin
Bab 06. Perjalanan BerdarahAngin dingin berhembus pelan di atas tebing tandus Lembah Kematian. Disana satu sosok berjubah hitam berjalan sendirian di antara kabut tipis yang menyelimuti jalur berbatu.Tian Fan, ia berjalan tanpa pengawal, tanpa tunggangan dan tanpa membawa simbol kekuasaan apa pun
Bab 05. Dimulai.Dua tahun berlalu.Lembah Kematian tak lagi seperti dahulu yang penuh dengan kematian dan penyakit aneh. Semua telah berubah sejak kemunculan dua kelompok baru.Dari sekian banyak kelompok dan klan yang lahir dan tenggelam di tanah penuh darah itu, dua nama baru muncul dan langsung
Bab 04. Klan Pengadilan Hitam.Bulan masih menggantung tinggi,Sun Li terdiam oleh ucapan terakhir Tian Fan.“Racun ini buatan manusia.”Namun setelah itu, Tian Fan tak berkata lagi. Ia hanya berdiri memandangi bulan yang mulai tertutupi awan.Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan ujung kain
Bab 03. Tamu?Dua tahun berlalu.Di dalam gua yang ada di tepian jurang.Tian Fan yang kini telah berusia 16 tahun dengan tenang menyelesaikan sayatan terakhirnya pada satu sosok mayat di depannya.Tampak mayat kultivator dari Sekte Harimau terbang itu hanya menyisakan tulangnya saja dengan semua o







