Inicio / Fantasi / Jenius yang Disingkirkan / Bab 06. Perjalanan Berdarah

Compartir

Bab 06. Perjalanan Berdarah

Autor: Zayn Z
last update Fecha de publicación: 2026-05-14 20:08:39

Bab 06. Perjalanan Berdarah

Angin dingin berhembus pelan di atas tebing tandus Lembah Kematian. Disana satu sosok berjubah hitam berjalan sendirian di antara kabut tipis yang menyelimuti jalur berbatu.

Tian Fan, ia berjalan tanpa pengawal, tanpa tunggangan dan tanpa membawa simbol kekuasaan apa pun. Seolah ia hanyalah seorang pengelana biasa yang meninggalkan lembah terkutuk itu untuk mencari tempat baru.

Namun kenyataannya, setiap langkah yang ia ambil membawa tekanan yang cukup untuk membuat beast tingkat rendah memilih kabur daripada mendekat.

Tujuannya jelas.

Kota Shui.

Kota besar yang berada di wilayah Kerajaan Air di Benua Timur sekaligus kota terdekat yang berbatasan langsung dengan wilayah luar Lembah Kematian.

Meski disebut “terdekat”, jarak antara keduanya tetap sangat jauh. Dalam keadaan normal, bahkan cultivator tingkat menengah membutuhkan waktu sekitar satu bulan perjalanan untuk mencapainya.

Namun…

Tian Fan berangkat di waktu yang salah. Ia berangkat di masa kawin beast, periode paling berbahaya di Lembah Kematian.

Pada masa seperti ini, hampir seluruh beast di wilayah lembah menjadi jauh lebih agresif, brutal, dan sensitif terhadap aura asing.

Pertarungan antar beast terjadi di mana-mana, raungan memenuhi malam dan bau darah hampir tidak pernah menghilang dari udara.

Dan bagi manusia yang berjalan sendirian…jelas mereka tidak lebih dari mangsa.

Hari ketujuh perjalanan.

Boom!!

Ledakan keras mengguncang hutan hitam.

Seekor Serigala Bertanduk Merah sepanjang lima meter terpental menghantam pohon besar hingga batangnya patah.

Auuuuuu!!

Beast itu meraung marah,mata merahnya dipenuhi naluri buas dan hasrat membunuh yang kuat.

Tubuh sang Beast dipenuhi luka sayatan tipis. Di hadapannya, Tian Fan berdiri tenang sambil memegang pedang hitam sederhana.

Tatapannya dingin pada lawannya. Tak lama, Beast Serigala itu kembali menerjang dengan kecepatan tinggi.

Shing!

Kilatan hitam melintas melewati leher sang beast yang sesaat kemudian membuat kepala Beast  Serigala Bertanduk Merah jatuh ke tanah.

Darah menyembur tinggi ke udara disusul dengan tubuh beast yang roboh dengan keras ke tanah.

Tian Fan mengibaskan darah di pedangnya lalu melanjutkan langkah seolah baru saja membunuh binatang biasa.

Namun beberapa ratus meter dari sana…sepasang mata besar tengah mengawasinya dari balik pepohonan.

Bukan satu.

Bukan dua.

Melainkan belasan beast lain.

Dan semuanya sedang berada dalam kondisi paling liarnya dan menunggu untuk menyergapnya.

Hari kedua puluh tiga.

Hujan deras mengguyur wilayah rawa hitam. Tian Fan berjalan perlahan di atas genangan air berlumpur. Tampak tubuhnya dipenuhi noda darah. 

Sebagian miliknya dan sebagian lagi milik beast yang ia bunuh sepanjang perjalanan.

Dalam dua puluh hari terakhir, jumlah beast yang menyerangnya sudah melampaui ratusan. Bahkan beberapa di antaranya merupakan beast tingkat tinggi yang biasanya jarang muncul.

Jelas periode dan masa kawin  Beast ini membuat semuanya sangat brutal dan dipenuhi bahaya.

Srrttt…

Suara aneh terdengar dari bawah lumpur.

Tatapan Tian Fan berubah tajam. Ia memasang kewaspadaan sambil memasang domainnya.

Detik berikutnya—

Blaaar!

Seekor ular raksasa hitam keluar dari rawa dengan mulut terbuka lebar. Tampak racun hijau pekat menetes dari taringnya.

“Beast Ular Hijau Mata Tiga…” gumam Tian Fan serius.

Beast tingkat bumi awal. Namun karena pengaruh masa kawin, aura beast itu jauh lebih ganas dari biasanya.

Sisssshhh!!

Ular itu menyerang kembali tanpa memberi waktu jeda. Tanah meledak akibat hantaman ekornya dan tak lama racun menyebar ke udara karena sang beast menyemprotkan asap racun ke area dimana Tian Fan berada.

Tubuh Tian Fan menghilang dari tempatnya berdiri. Sang Beast terlihat mencari buruannya.

Wush!

Tiba tiba Tian Fan muncul di atas kepala ular itu.

Tangannya bergerak cepat membentuk segel yang setelahnya di sekelilingnya energi alam berubah menjadi banyak jarum elemen.

“Teknik Jarum Pembunuh Jiwa.”

Puluhan jarum hitam melesat turun.

Crasshh!!

Jarum-jarum itu langsung menembus titik vital beast tersebut  tubuh ular raksasa itu kejang hebat karena serangannya.

Namun  Tian Fan belum selesai, ia mendarat di atas kepalanya lalu menekan telapak tangannya ke permukaan kepala sang beast.

Boom!!

Energi hitam meledak dari tubuh ular itu yang mana dalam hitungan detik, kepala beast tersebut hancur berkeping-keping oleh serangan tersebut.

Hujan deras terus turun, Tian Fan tetap berdiri tenang di atas mayat beast raksasa itu.

Matanya dingin menatap sekelilingnya dimana kini area tersebut dipenuhi percikan darah dan potongan daging dari Beast ular itu.

Lima tahun di Lembah Kematian telah mengubahnya sepenuhnya. Ia bukan lagi murid sekte yang takut dengan darah, takut terluka dan takut mati.

Setiap pertarungan… setiap pengkhianatan… setiap langkah menuju hidup dan mati…telah mengikis sisi lembut dalam dirinya sedikit demi sedikit.

Hari keempat puluh satu.

Perjalanannya kini hampir melewati wilayah dalam  lembah kematian, kini ia  semakin mendekati wilayah luar lembah.

Namun justru di titik itulah keadaan menjadi paling berbahaya karena karena beast-beast kuat mulai berebut wilayah dan pasangan.

Raungan menggelegar hampir setiap malam bahkan beberapa kali Tian Fan melihat pertarungan antar beast tingkat langit yang mampu menghancurkan bukit hanya dengan benturan tubuh.

Di sebuah jurang sempit, Tian Fan duduk bersila sambil meminum pil pemulihan, lengan kirinya terluka panjang dengan darah masih menetes perlahan.

Luka itu berasal dari cakar seekor Macan Petir Hitam tingkat langit yang menyerangnya dua hari sebelumnya.

Jika bukan karena refleks dan teknik tubuhnya, mungkin lengannya sudah putus saat itu juga.

Mengingat hal itu tidak membuatnya takut justru aura di tubuhnya terasa semakin stabil.

Tekanan kultivasinya perlahan meningkat akibat pertarungan tanpa henti selama dua bulan terakhir. Batas yang sebelumnya sulit disentuh kini mulai retak sedikit demi sedikit.

Hari keenam puluh.

Kabut hitam Lembah Kematian mulai menipis.Udara beracun lembah kematian yang selama ini memenuhi paru-parunya,  perlahan menghilang.

Untuk pertama kalinya setelah dua bulan perjalanan, Tian Fan melihat langit biru yang benar-benar bersih.

Di depannya terlihat banyak pohon dengan daun berwarna hijau cerah dengan aliran sungai besar membelah dua wilayah. Jelas jika itu tanda jika dirinya berada di perbatasan lembah kematian dan hutan Hijau.

Tidak ada kabut hitam.

Tidak ada udara beracun.

Tidak ada bau kematian yang selama ini memenuhi paru-parunya.

Di hadapannya terbentang hamparan pepohonan hijau dengan daun-daun cerah yang bergoyang pelan tertiup angin. Sebuah sungai besar membelah dua wilayah, memisahkan Lembah Kematian dengan Hutan Hijau.

Melihat pemandangan itu, Tian Fan akhirnya menghela nafas panjang.

“Akhirnya keluar juga…” gumamnya pelan.

Tatapannya kemudian turun menatap kondisi tubuhnya sendiri.

Pakaian dan jubah hitam yang ia kenakan sudah compang-camping akibat pertarungan tanpa henti selama perjalanan. Lumpur, darah, dan bekas cakaran beast memenuhi hampir seluruh tubuhnya.

Sebagian darah itu miliknya, sebagian lagi milik beast-beast yang mati di tangannya.

Kondisinya bahkan lebih buruk dari yang terlihat. Pertarungan melawan Macan Petir Hitam tingkat langit beberapa hari lalu benar-benar menguras seluruh qi di tubuhnya. Lautan qinya nyaris kosong.

Bahkan untuk sekedar membuka cincin ruang miliknya saja ia tidak memiliki energi yang cukup.

Tian Fan mengepalkan tangannya perlahan lalu tersenyum pahit.

“Benar-benar menyedihkan…”

Saat ini ia bahkan tidak berbeda jauh dari manusia biasa yang kelelahan.

Namun ia tahu satu hal, dirinya belum aman.

Wilayah pinggir Lembah Kematian tetap berbahaya selama ia belum melewati sungai pembatas di depannya.

Tanpa membuang waktu, Tian Fan segera berjalan menuju sungai besar tersebut untuk menyebranginya.

Byur…

Air sungai langsung menyelimuti tubuhnya. Sangat dingin hingga terasa menusuk kulit.

Namun ekspresi Tian Fan tidak berubah saat ia terus berjalan menembus arus sungai yang cukup deras. Beberapa menit kemudian, ia akhirnya tiba di seberang.

Kini dirinya resmi berada di wilayah Hutan Hijau.

Tian Fan menghela nafas pelan. Ketegangan di tubuhnya sedikit berkurang.

“Setidaknya di sini tidak ada beast gila yang tiba-tiba menyerang…”

Namun belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya—

Instingnya tiba-tiba menjerit keras.

Tanda Bahaya!

Refleks, Tian Fan langsung menjatuhkan tubuhnya dan berguling ke samping beberapa kali.

Shing! Shing! Shing!

Beberapa bunga es melesat melewati tubuhnya dengan kecepatan tinggi sebelum menghantam batu-batu besar di belakangnya.

Crackkk!!

Dalam sekejap, batu-batu itu membeku dan diselimuti kristal es tebal.

Tatapan Tian Fan langsung berubah tajam. Ia menoleh cepat ke arah penyerang.

Di sana berdiri dua wanita berjubah putih. Keduanya memiliki aura dingin yang kuat, namun salah satu dari mereka memakai cadar putih yang menutupi sebagian wajahnya.

Dan jelas…wanita bercadar itulah yang baru saja menyerangnya.

Tian Fan menyipitkan mata.

“Aku baru saja keluar dari lembah dan sudah disambut seperti ini?” batinnya.

Namun sebelum ia sempat berkata lebih jauh, wanita satunya yang tidak bercadar buru-buru melangkah maju.

“Nona, berhenti! Tolong tahan dan sadarlah!” 

Sayangnya, wanita bercadar itu sama sekali tidak menggubris.

Wush!

Tekanan jiwa yang kuat langsung meledak dari tubuhnya.

“Ukh!”

Wanita tanpa cadar itu tiba-tiba terangkat ke udara.Tubuhnya melayang paksa sebelum dihantamkan ke batang pohon besar di belakangnya.

“Nona!” teriaknya.

Crack! Crack!

Kristal es langsung membentuk belenggu di kedua tangan dan kaki wanita tersebut, menancapkannya kuat-kuat ke batang pohon hingga ia tidak bisa bergerak sama sekali.

Tian Fan yang melihat itu langsung meningkatkan kewaspadaannya.

“Kekuatan jiwa yang besar, itu berarti ia berada di ranah Langit…” gumamnya dalam hati.

Namun detik berikutnya.

Wuuung!

Tekanan yang sama menghantam tubuh Tian Fan. Tubuhnya kini diselimuti kekuatan tak kasat mata yang menekan dan mengekangnya dengan kuat.

Ia dibuat  terangkat ke udara. Seketika wajah Tian Fan berubah sedikit suram.Jika ia berada dalam kondisi normal, tekanan jiwa seperti ini jelas tidak akan mampu menahannya.

Namun sekarang…lautan qinya benar-benar kosong. Tubuhnya tidak memiliki tenaga untuk melawan.

Brakk!

Tubuh Tian Fan ditekan ke batang pohon besar lainnya dimana posisinya dipaksa setengah duduk sementara kedua tangannya dibelenggu kristal es tajam yang tertancap kuat ke batang kayu.

Dingin menusuk langsung menyebar ke tubuhnya yang membuat jalur energinya yang kering seperti dikunci paksa.

Tian Fan mengangkat kepala, tampak wanita bercadar itu berjalan ke arahnya.

Tatapannya bertemu dengan mata wanita bercadar yang kini ada di depannya. Tampak olehnya jika wanita itu memiliki pupil mata yang unik. Pupil mata kanan berwarna hijau dan pupil mata kiri berwarna perak.

Dengan sekali tebak Tian Fan bisa melihat jika sang wanita memiliki aura dingin di tubuhnya yang membuat suhu sekitar terus turun drastis.

Semakin dekat…semakin Tian Fan menyadari ada sesuatu yang aneh. Tampak jelas jika aura wanita itu tidak stabil.

Energi dingin di tubuhnya kacau seperti badai yang hampir meledak dan matanya dipenuhi tekanan aneh seolah sedang menahan sesuatu.

Wanita bercadar itu berhenti tepat di depan Tian Fan. Tatapannya turun mengamati pakaian Tian Fan yang penuh darah dan compang camping.

Kemudian—Tanpa peringatan, ia duduk di paha Tian Fan.

Gerakannya kasar namun penuh dengan tekanan.

Tian Fan langsung mengernyit.

“Apa-apaan ini?”

Wanita tanpa cadar yang masih terikat di pohon langsung membelalakkan mata.

“Nona?!”

Namun wanita bercadar tidak menggubris sedikit pun, ia kembali membuat mulut  wanita tersebut tertutup oleh serangan bunga esnya.

Setelahnya, tangannya langsung mencengkeram pakaian Tian Fan dengan kasar  lalu merobeknya.

Tian Fan semakin tercengang karena bukan pakaian atasnya yang wanita itu sobek dengan paksa, namun celananya pun ditariknya.

Tian Fan akan berkata namun sang wanita membungkamnya dengan menutup mulutnya dengan teknik bunga es miliknya.

“Sial, apa apaan wanita ini!” batinnya.

Tian Fan terkejut dengan tindakan sang wanita selanjutnya, tampak wanita itu menaikan hanfu yang ia kenakan dan melepas pelindung area intimnya sendiri. 

Dari sana sang wanita kemudian menekan kedua bahunya ke permukaan batang pohon sambil memposisikan tubuhnya untuk bisa menduduki pinggangnya untuk melumat senjata masa depannya dengan lembah miliknya.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 202. Situasi pelik.

    Bab 202. Situasi pelik.Tian Fan masih berdiri di tempatnya dengan senyum canggung. Ia dapat merasakan tatapan semua orang tertuju kepadanya, terutama kedua master sekte yang sejak tadi mengamati Mu Xueyan dan Yue Qing'er. Namun, sebelum ia sempat membuka mulut untuk menjelaskan keadaan, Yue Qing'er justru melangkah setengah langkah ke depan."Master, jangan terlalu terkejut. Selama beberapa waktu terakhir, kami memang pergi untuk berkultivasi. Kami berdua berada di bawah arahan Kakak Tian Fan, dan berkat bimbingannya, kami berhasil menerobos ke Ranah Langit," jelas Yue Qing'er dengan nada riang.Mu Xueyan mengangguk di sampingnya. "Benar. Kami sengaja memanfaatkan kesempatan itu untuk memperkuat fondasi kultivasi. Kakak Tian Fan banyak membantu kami selama proses tersebut."Ming Yi, Master Sekte Bulan yang juga merupakan guru Yue Qing'er, langsung mengerutkan kening. Sementara itu, Song Lau, Master Sekte Pedang Surgawi sekaligus guru Mu Xueyan, menunjukkan ekspresi yang tidak jauh be

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 201. Kembali.

    Bab 201. Kembali.Bai Dishi yang berdiri di samping mereka mengangguk-angguk dengan wajah penuh makna. "Ternyata menjadi penguasa dunia kecil memang memiliki banyak keuntungan. Kau bisa mengatur hukum dunia, mengendalikan energi spiritual, dan bahkan menerima permintaan dari dua gadis cantik sekaligus. Tian Fan, aku mulai berpikir bahwa aku juga harus mencari dunia kecil untuk diriku sendiri."Tian Fan meliriknya. "Kalau kau masih ingin tinggal di duniaku, sebaiknya jangan mencari masalah lagi."Bai Dishi langsung menutup mulutnya.Setelah pembicaraan mengenai Banlu selesai, Tian Fan mengamati kedua gadis itu sekali lagi. Mereka tampak jauh lebih kuat dan percaya diri dibandingkan sebelum mencapai Ranah Langit. Namun, ia juga menyadari bahwa sudah cukup lama mereka berada di dunia kecilnya. Meskipun waktu di tempat ini dapat berjalan berbeda dari dunia luar, keberadaan mereka yang terlalu lama menghilang tentu dapat menimbulkan kekhawatiran b

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 200 — Dua Keindahan Ranah Langit

    Bab 200 — Dua Keindahan Ranah LangitBatu besar yang dilemparkan Tian Fan melesat membelah udara, memaksa Bai Dishi berlari menjauh sambil mengumpat. Naga hitam itu melompat ke balik sebuah pohon, lalu mengintip dari samping batangnya dengan ekspresi penuh kewaspadaan. Setelah memastikan Tian Fan tidak berniat melemparkan batu kedua, ia baru berani menegakkan tubuh dan menepuk-nepuk pakaiannya yang sebenarnya tidak terkena debu sedikit pun."Tian Fan, kau benar-benar keterlaluan! Aku hanya mengajukan sebuah pertanyaan sederhana. Mengapa reaksimu selalu berlebihan setiap kali aku membicarakan adu mekanik? Jangan-jangan, kau memang memiliki sesuatu yang ingin disembunyikan dariku!" seru Bai Dishi sambil menunjuk Tian Fan dari kejauhan.Tian Fan meliriknya dengan dingin. "Kalau kau masih ingin mempertahankan kepalamu di tempatnya, sebaiknya kau tutup mulutmu sebelum aku berubah pikiran."Bai Dishi langsung menurunkan tangannya. Ia bahkan mengatupkan bibir rapat-rapat, kemudian mengangkat

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 199 — Tingkatan Banlu.

    Bab 199 — Tingkatan Banlu.Tian Fan akhirnya tiba di Puncak Utara bersama Bai Dishi. Begitu melewati sebuah gerbang batu yang berdiri di antara pepohonan tinggi, pandangannya langsung tertuju pada dua sosok perempuan yang sedang duduk bersila di atas sebuah hamparan batu datar. Keduanya duduk dalam posisi lotus dengan punggung tegak, kedua tangan bertumpu di atas lutut, dan mata terpejam rapat. Energi spiritual dari sekeliling mereka mengalir perlahan, membentuk pusaran samar yang terus berputar di sekitar tubuh masing-masing.Mu Xueyan dan Yue Qing'er sedang berada dalam kondisi kultivasi yang mendalam.Dari kejauhan, Tian Fan dapat merasakan aura kedua gadis itu. Aura tersebut begitu tebal dan stabil, tidak menunjukkan gejolak berarti seperti yang biasanya terjadi pada kultivator yang baru saja menerobos sebuah ranah besar. Jelas bahwa selama Tian Fan berada di Lembah Neraka, mereka tidak menyia-nyiakan waktu. Dengan bantuan lingkungan dunia kecil yang memiliki energi spiritual meli

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 198 — Adu Mekanik

    Bab 198 — Adu MekanikSetelah menghabiskan waktu cukup lama di Lembah Neraka, Tian Fan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tempat itu bersama Bai Dishi. Kabut hitam yang menyelimuti lembah perlahan menghilang dari pandangan mereka ketika keduanya melintasi sebuah lorong batu yang menghubungkan wilayah tersebut dengan bagian lain dari dunia kecil milik Tian Fan.Sepanjang perjalanan, Tian Fan masih memikirkan berbagai hal yang ditemukannya di Menara Kegelapan. Teknik-teknik aneh, miasma yang seolah memiliki kesadaran, serta kemampuan untuk mempengaruhi pikiran seseorang melalui bayangan hitam merupakan hal-hal yang belum sepenuhnya ia pahami. Meskipun ia telah memperoleh beberapa petunjuk, masih banyak rahasia yang menunggu untuk diungkap.Namun, untuk saat ini, ia memutuskan mengesampingkan semua pemikiran tersebut.Bagaimanapun, setelah sekian lama berkutat dengan kegelapan, ia merasa perlu memeriksa keadaan orang-orang yang berada di dunia kecilnya. Terlebih lagi, ada dua orang y

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 197 — Insting

    Bab 197 — InstingBugh! Bugh! Bugh!Tiga suara benturan terdengar berturut-turut ketika Ma Durung, dua tetua Sekte Raja Obat, dan tiga alkemis Lembah Obat terjatuh keras ke atas tanah. Tubuh mereka berguling beberapa kali sebelum akhirnya berhenti. Rasa sakit yang menjalar dari sekujur tubuh membuat mereka mengerang, tetapi sebelum sempat bangkit, keenam orang itu langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat tidak beres dengan tempat mereka berada.Ma Durung mengangkat kepalanya dengan susah payah. Pandangannya masih sedikit kabur, sementara kepalanya terasa berat akibat perpindahan mendadak yang baru saja dialaminya. Ia mengira dirinya masih berada di dalam Formasi Tanam Gu, tetapi ketika pandangannya mulai jelas, wajahnya seketika berubah.Di sekelilingnya terbentang sebuah gua raksasa yang luasnya sulit diperkirakan. Dinding-dinding batu menjulang tinggi, dipenuhi retakan aneh yang memancarkan cahaya redup. Beberapa bagian langit-langit menggantungkan stalaktit hitam yang bentu

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 05. Dimulai.

    Bab 05. Dimulai.Dua tahun berlalu.Lembah Kematian tak lagi seperti dahulu yang penuh dengan kematian dan penyakit aneh. Semua telah berubah sejak kemunculan dua kelompok baru.Dari sekian banyak kelompok dan klan yang lahir dan tenggelam di tanah penuh darah itu, dua nama baru muncul dan langsung

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 04. Klan Pengadilan Hitam.

    Bab 04. Klan Pengadilan Hitam.Bulan masih menggantung tinggi,Sun Li terdiam oleh ucapan terakhir Tian Fan.“Racun ini buatan manusia.”Namun setelah itu, Tian Fan tak berkata lagi. Ia hanya berdiri memandangi bulan yang mulai tertutupi awan.Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan ujung kain

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 07. (21++) Digagahi.

    Bab 07. (21++) Digagahi.Nafas wanita bercadar mulai sedikit tidak teratur,tangannya perlahan menyentuh tubuh Tian Fan dengan gugup namun penuh keberanian.Tak berhenti sampai sana, kini jemarinya merayap ke bawah menyentuh bagian bawah tubuh Tian Fan yang ada di selangkangannya.Tubuh wanita berca

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 03. Tamu?

    Bab 03. Tamu?Dua tahun berlalu.Di dalam gua yang ada di tepian jurang.Tian Fan yang kini telah berusia 16 tahun dengan tenang menyelesaikan sayatan terakhirnya pada satu sosok mayat di depannya.Tampak mayat kultivator dari Sekte Harimau terbang itu hanya menyisakan tulangnya saja dengan semua o

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status