Beranda / Fantasi / Jenius yang Disingkirkan / Bab 06. Perjalanan Berdarah

Share

Bab 06. Perjalanan Berdarah

Penulis: Zayn Z
last update Tanggal publikasi: 2026-05-14 20:08:39

Bab 06. Perjalanan Berdarah

Angin dingin berhembus pelan di atas tebing tandus Lembah Kematian. Disana satu sosok berjubah hitam berjalan sendirian di antara kabut tipis yang menyelimuti jalur berbatu.

Tian Fan, ia berjalan tanpa pengawal, tanpa tunggangan dan tanpa membawa simbol kekuasaan apa pun. Seolah ia hanyalah seorang pengelana biasa yang meninggalkan lembah terkutuk itu untuk mencari tempat baru.

Namun kenyataannya, setiap langkah yang ia ambil membawa tekanan yang cukup untuk membuat beast tingkat rendah memilih kabur daripada mendekat.

Tujuannya jelas.

Kota Shui.

Kota besar yang berada di wilayah Kerajaan Air di Benua Timur sekaligus kota terdekat yang berbatasan langsung dengan wilayah luar Lembah Kematian.

Meski disebut “terdekat”, jarak antara keduanya tetap sangat jauh. Dalam keadaan normal, bahkan cultivator tingkat menengah membutuhkan waktu sekitar satu bulan perjalanan untuk mencapainya.

Namun…

Tian Fan berangkat di waktu yang salah. Ia berangkat di masa kawin beast, periode paling berbahaya di Lembah Kematian.

Pada masa seperti ini, hampir seluruh beast di wilayah lembah menjadi jauh lebih agresif, brutal, dan sensitif terhadap aura asing.

Pertarungan antar beast terjadi di mana-mana, raungan memenuhi malam dan bau darah hampir tidak pernah menghilang dari udara.

Dan bagi manusia yang berjalan sendirian…jelas mereka tidak lebih dari mangsa.

Hari ketujuh perjalanan.

Boom!!

Ledakan keras mengguncang hutan hitam.

Seekor Serigala Bertanduk Merah sepanjang lima meter terpental menghantam pohon besar hingga batangnya patah.

Auuuuuu!!

Beast itu meraung marah,mata merahnya dipenuhi naluri buas dan hasrat membunuh yang kuat.

Tubuh sang Beast dipenuhi luka sayatan tipis. Di hadapannya, Tian Fan berdiri tenang sambil memegang pedang hitam sederhana.

Tatapannya dingin pada lawannya. Tak lama, Beast Serigala itu kembali menerjang dengan kecepatan tinggi.

Shing!

Kilatan hitam melintas melewati leher sang beast yang sesaat kemudian membuat kepala Beast  Serigala Bertanduk Merah jatuh ke tanah.

Darah menyembur tinggi ke udara disusul dengan tubuh beast yang roboh dengan keras ke tanah.

Tian Fan mengibaskan darah di pedangnya lalu melanjutkan langkah seolah baru saja membunuh binatang biasa.

Namun beberapa ratus meter dari sana…sepasang mata besar tengah mengawasinya dari balik pepohonan.

Bukan satu.

Bukan dua.

Melainkan belasan beast lain.

Dan semuanya sedang berada dalam kondisi paling liarnya dan menunggu untuk menyergapnya.

Hari kedua puluh tiga.

Hujan deras mengguyur wilayah rawa hitam. Tian Fan berjalan perlahan di atas genangan air berlumpur. Tampak tubuhnya dipenuhi noda darah. 

Sebagian miliknya dan sebagian lagi milik beast yang ia bunuh sepanjang perjalanan.

Dalam dua puluh hari terakhir, jumlah beast yang menyerangnya sudah melampaui ratusan. Bahkan beberapa di antaranya merupakan beast tingkat tinggi yang biasanya jarang muncul.

Jelas periode dan masa kawin  Beast ini membuat semuanya sangat brutal dan dipenuhi bahaya.

Srrttt…

Suara aneh terdengar dari bawah lumpur.

Tatapan Tian Fan berubah tajam. Ia memasang kewaspadaan sambil memasang domainnya.

Detik berikutnya—

Blaaar!

Seekor ular raksasa hitam keluar dari rawa dengan mulut terbuka lebar. Tampak racun hijau pekat menetes dari taringnya.

“Beast Ular Hijau Mata Tiga…” gumam Tian Fan serius.

Beast tingkat bumi awal. Namun karena pengaruh masa kawin, aura beast itu jauh lebih ganas dari biasanya.

Sisssshhh!!

Ular itu menyerang kembali tanpa memberi waktu jeda. Tanah meledak akibat hantaman ekornya dan tak lama racun menyebar ke udara karena sang beast menyemprotkan asap racun ke area dimana Tian Fan berada.

Tubuh Tian Fan menghilang dari tempatnya berdiri. Sang Beast terlihat mencari buruannya.

Wush!

Tiba tiba Tian Fan muncul di atas kepala ular itu.

Tangannya bergerak cepat membentuk segel yang setelahnya di sekelilingnya energi alam berubah menjadi banyak jarum elemen.

“Teknik Jarum Pembunuh Jiwa.”

Puluhan jarum hitam melesat turun.

Crasshh!!

Jarum-jarum itu langsung menembus titik vital beast tersebut  tubuh ular raksasa itu kejang hebat karena serangannya.

Namun  Tian Fan belum selesai, ia mendarat di atas kepalanya lalu menekan telapak tangannya ke permukaan kepala sang beast.

Boom!!

Energi hitam meledak dari tubuh ular itu yang mana dalam hitungan detik, kepala beast tersebut hancur berkeping-keping oleh serangan tersebut.

Hujan deras terus turun, Tian Fan tetap berdiri tenang di atas mayat beast raksasa itu.

Matanya dingin menatap sekelilingnya dimana kini area tersebut dipenuhi percikan darah dan potongan daging dari Beast ular itu.

Lima tahun di Lembah Kematian telah mengubahnya sepenuhnya. Ia bukan lagi murid sekte yang takut dengan darah, takut terluka dan takut mati.

Setiap pertarungan… setiap pengkhianatan… setiap langkah menuju hidup dan mati…telah mengikis sisi lembut dalam dirinya sedikit demi sedikit.

Hari keempat puluh satu.

Perjalanannya kini hampir melewati wilayah dalam  lembah kematian, kini ia  semakin mendekati wilayah luar lembah.

Namun justru di titik itulah keadaan menjadi paling berbahaya karena karena beast-beast kuat mulai berebut wilayah dan pasangan.

Raungan menggelegar hampir setiap malam bahkan beberapa kali Tian Fan melihat pertarungan antar beast tingkat langit yang mampu menghancurkan bukit hanya dengan benturan tubuh.

Di sebuah jurang sempit, Tian Fan duduk bersila sambil meminum pil pemulihan, lengan kirinya terluka panjang dengan darah masih menetes perlahan.

Luka itu berasal dari cakar seekor Macan Petir Hitam tingkat langit yang menyerangnya dua hari sebelumnya.

Jika bukan karena refleks dan teknik tubuhnya, mungkin lengannya sudah putus saat itu juga.

Mengingat hal itu tidak membuatnya takut justru aura di tubuhnya terasa semakin stabil.

Tekanan kultivasinya perlahan meningkat akibat pertarungan tanpa henti selama dua bulan terakhir. Batas yang sebelumnya sulit disentuh kini mulai retak sedikit demi sedikit.

Hari keenam puluh.

Kabut hitam Lembah Kematian mulai menipis.Udara beracun lembah kematian yang selama ini memenuhi paru-parunya,  perlahan menghilang.

Untuk pertama kalinya setelah dua bulan perjalanan, Tian Fan melihat langit biru yang benar-benar bersih.

Di depannya terlihat banyak pohon dengan daun berwarna hijau cerah dengan aliran sungai besar membelah dua wilayah. Jelas jika itu tanda jika dirinya berada di perbatasan lembah kematian dan hutan Hijau.

Tidak ada kabut hitam.

Tidak ada udara beracun.

Tidak ada bau kematian yang selama ini memenuhi paru-parunya.

Di hadapannya terbentang hamparan pepohonan hijau dengan daun-daun cerah yang bergoyang pelan tertiup angin. Sebuah sungai besar membelah dua wilayah, memisahkan Lembah Kematian dengan Hutan Hijau.

Melihat pemandangan itu, Tian Fan akhirnya menghela nafas panjang.

“Akhirnya keluar juga…” gumamnya pelan.

Tatapannya kemudian turun menatap kondisi tubuhnya sendiri.

Pakaian dan jubah hitam yang ia kenakan sudah compang-camping akibat pertarungan tanpa henti selama perjalanan. Lumpur, darah, dan bekas cakaran beast memenuhi hampir seluruh tubuhnya.

Sebagian darah itu miliknya, sebagian lagi milik beast-beast yang mati di tangannya.

Kondisinya bahkan lebih buruk dari yang terlihat. Pertarungan melawan Macan Petir Hitam tingkat langit beberapa hari lalu benar-benar menguras seluruh qi di tubuhnya. Lautan qinya nyaris kosong.

Bahkan untuk sekedar membuka cincin ruang miliknya saja ia tidak memiliki energi yang cukup.

Tian Fan mengepalkan tangannya perlahan lalu tersenyum pahit.

“Benar-benar menyedihkan…”

Saat ini ia bahkan tidak berbeda jauh dari manusia biasa yang kelelahan.

Namun ia tahu satu hal, dirinya belum aman.

Wilayah pinggir Lembah Kematian tetap berbahaya selama ia belum melewati sungai pembatas di depannya.

Tanpa membuang waktu, Tian Fan segera berjalan menuju sungai besar tersebut untuk menyebranginya.

Byur…

Air sungai langsung menyelimuti tubuhnya. Sangat dingin hingga terasa menusuk kulit.

Namun ekspresi Tian Fan tidak berubah saat ia terus berjalan menembus arus sungai yang cukup deras. Beberapa menit kemudian, ia akhirnya tiba di seberang.

Kini dirinya resmi berada di wilayah Hutan Hijau.

Tian Fan menghela nafas pelan. Ketegangan di tubuhnya sedikit berkurang.

“Setidaknya di sini tidak ada beast gila yang tiba-tiba menyerang…”

Namun belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya—

Instingnya tiba-tiba menjerit keras.

Tanda Bahaya!

Refleks, Tian Fan langsung menjatuhkan tubuhnya dan berguling ke samping beberapa kali.

Shing! Shing! Shing!

Beberapa bunga es melesat melewati tubuhnya dengan kecepatan tinggi sebelum menghantam batu-batu besar di belakangnya.

Crackkk!!

Dalam sekejap, batu-batu itu membeku dan diselimuti kristal es tebal.

Tatapan Tian Fan langsung berubah tajam. Ia menoleh cepat ke arah penyerang.

Di sana berdiri dua wanita berjubah putih. Keduanya memiliki aura dingin yang kuat, namun salah satu dari mereka memakai cadar putih yang menutupi sebagian wajahnya.

Dan jelas…wanita bercadar itulah yang baru saja menyerangnya.

Tian Fan menyipitkan mata.

“Aku baru saja keluar dari lembah dan sudah disambut seperti ini?” batinnya.

Namun sebelum ia sempat berkata lebih jauh, wanita satunya yang tidak bercadar buru-buru melangkah maju.

“Nona, berhenti! Tolong tahan dan sadarlah!” 

Sayangnya, wanita bercadar itu sama sekali tidak menggubris.

Wush!

Tekanan jiwa yang kuat langsung meledak dari tubuhnya.

“Ukh!”

Wanita tanpa cadar itu tiba-tiba terangkat ke udara.Tubuhnya melayang paksa sebelum dihantamkan ke batang pohon besar di belakangnya.

“Nona!” teriaknya.

Crack! Crack!

Kristal es langsung membentuk belenggu di kedua tangan dan kaki wanita tersebut, menancapkannya kuat-kuat ke batang pohon hingga ia tidak bisa bergerak sama sekali.

Tian Fan yang melihat itu langsung meningkatkan kewaspadaannya.

“Kekuatan jiwa yang besar, itu berarti ia berada di ranah Langit…” gumamnya dalam hati.

Namun detik berikutnya.

Wuuung!

Tekanan yang sama menghantam tubuh Tian Fan. Tubuhnya kini diselimuti kekuatan tak kasat mata yang menekan dan mengekangnya dengan kuat.

Ia dibuat  terangkat ke udara. Seketika wajah Tian Fan berubah sedikit suram.Jika ia berada dalam kondisi normal, tekanan jiwa seperti ini jelas tidak akan mampu menahannya.

Namun sekarang…lautan qinya benar-benar kosong. Tubuhnya tidak memiliki tenaga untuk melawan.

Brakk!

Tubuh Tian Fan ditekan ke batang pohon besar lainnya dimana posisinya dipaksa setengah duduk sementara kedua tangannya dibelenggu kristal es tajam yang tertancap kuat ke batang kayu.

Dingin menusuk langsung menyebar ke tubuhnya yang membuat jalur energinya yang kering seperti dikunci paksa.

Tian Fan mengangkat kepala, tampak wanita bercadar itu berjalan ke arahnya.

Tatapannya bertemu dengan mata wanita bercadar yang kini ada di depannya. Tampak olehnya jika wanita itu memiliki pupil mata yang unik. Pupil mata kanan berwarna hijau dan pupil mata kiri berwarna perak.

Dengan sekali tebak Tian Fan bisa melihat jika sang wanita memiliki aura dingin di tubuhnya yang membuat suhu sekitar terus turun drastis.

Semakin dekat…semakin Tian Fan menyadari ada sesuatu yang aneh. Tampak jelas jika aura wanita itu tidak stabil.

Energi dingin di tubuhnya kacau seperti badai yang hampir meledak dan matanya dipenuhi tekanan aneh seolah sedang menahan sesuatu.

Wanita bercadar itu berhenti tepat di depan Tian Fan. Tatapannya turun mengamati pakaian Tian Fan yang penuh darah dan compang camping.

Kemudian—Tanpa peringatan, ia duduk di paha Tian Fan.

Gerakannya kasar namun penuh dengan tekanan.

Tian Fan langsung mengernyit.

“Apa-apaan ini?”

Wanita tanpa cadar yang masih terikat di pohon langsung membelalakkan mata.

“Nona?!”

Namun wanita bercadar tidak menggubris sedikit pun, ia kembali membuat mulut  wanita tersebut tertutup oleh serangan bunga esnya.

Setelahnya, tangannya langsung mencengkeram pakaian Tian Fan dengan kasar  lalu merobeknya.

Tian Fan semakin tercengang karena bukan pakaian atasnya yang wanita itu sobek dengan paksa, namun celananya pun ditariknya.

Tian Fan akan berkata namun sang wanita membungkamnya dengan menutup mulutnya dengan teknik bunga es miliknya.

“Sial, apa apaan wanita ini!” batinnya.

Tian Fan terkejut dengan tindakan sang wanita selanjutnya, tampak wanita itu menaikan hanfu yang ia kenakan dan melepas pelindung area intimnya sendiri. 

Dari sana sang wanita kemudian menekan kedua bahunya ke permukaan batang pohon sambil memposisikan tubuhnya untuk bisa menduduki pinggangnya untuk melumat senjata masa depannya dengan lembah miliknya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 49. (21+) Ganda.

    Bab 49. (21+) Ganda.Tian Fan akhirnya bergerak. Tangannya terangkat, bukan untuk memeluk, tetapi untuk mencengkeram bahu Nuan Nuan. “Kau tahu risikonya? Kau tahu apa yang kau katakan?” suara Tian Fan tenang.Ia mendekatkan wajahnya, nafas hangatnya menghembus di leher Tian Fan . “Lakukan saja.”Tian Fan menutup matanya sejenak, lalu membukanya kembali. Kilatan biru melintas di irisnya.Ia menarik Nuan Nuan mendekat. Tidak ada ciuman romantis, tidak ada belaian lembut. Ketika bibir mereka bertemu, itu adalah benturan dua kutub energi yang bertolak belakang.Boom!Gelombang kejut spiritual meledak di dalam mulut mereka. Tian Fan mengerang pelan saat energi Yin murni dari Nuan Nuan mengalir deras masuk ke dalam meridiannya melalui titik kontak tersebut. Sebaliknya, energi Yang yang panas dan agresif dari Tian Fan menerobos masuk ke tubuh Nuan Nuan, mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh racun qi.Tian Fan melihat benang benang qi yang muncul dari aura Nuan Nuan kini seperti

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 48. Saling Memanfaatkan

    Bab 48. Saling MemanfaatkanJawaban Tian Fan memang sangat singkat. Namun bagi Nuan Nuan, itu sudah lebih dari cukup. Ia tidak membutuhkan penjelasan panjang karena dari petunjuk yang ada, ia sudah mampu menyusun gambaran besar di dalam kepalanya.Dua wanita pengguna teknik es dan sekarang Tian Fan memiliki kekuatan es yang sangat mirip dengan mereka. Semakin dipikirkan, semakin jelas bahwa wanita yang dimaksud Tian Fan kemungkinan besar adalah dua wanita yang pernah menjadi korban ulahnya.Memikirkan hal itu membuat sudut bibir Nuan Nuan sedikit terangkat."Aku mengerti sekarang..." gumamnya dalam hati.Jika dugaannya benar, maka pemuda di depannya dan dirinya memiliki satu kesamaan.Mereka sama-sama terkait dengan dua wanita dari Sekte Salju Putih dan kesamaan aneh itu membuatnya merasa memanfaatkan situasinya.Sementara itu Tian Fan sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang dipikirkan wanita tersebut. Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada proses pembedahan yang hampir selesa

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 47. Mulai.

    Bab 47. Mulai.Lanjutkan dengan dimulainya pengobatan.Nuan Nuan menghilangkan rasa malunya, ia pun melepas seluruh pakaiannya yang memang sudah sangat lengket dengan cairan yang keluar dari sisik sisik tersebut.Lagipula, ini bukan pertama kalinya ia telanjang di hadapan seorang pria, dulu ia pernah bertunangan dan satu kebodohannya membuat ia melepas kegadisannya dan akhirnya ia terjebak dalam masalah yang rumit dimana imbasnya adalah apa yang terjadi pada dirinya sekarang.Nuan Nuan berbaring di atas jubah yang telah disiapkan, ia melirik sekilas pada dirinya dimana kini hampir seluruh kulit di tubuhnya dipenuhi sisik. Ia kemudian melirik Tian Fan yang terlihat tenang dan tidak terganggu dengan kondisinya yang tanpa pakaian.Tian Fan memulai tindakannya.Ia mengarahkan bola es yang melayang di atas telapak tangannya ke tubuh Nuan Nuan dan hanya berjarak dua jari dari permukaan kulit dan sisik di tubuhnya. Nuan Nuan terkejut mendapati tubuhnya seperti diselimuti es, namun rasa ding

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 46. Ternyata

    Bab 46. Ternyata.Nuan Nuan terdiam cukup lama setelah mendengar penjelasan Tian Fan,kini tatapannya jatuh pada berbagai peralatan yang sudah dikeluarkan pemuda itu dari cincin penyimpanannya.Jarum perak,pisau bedah,benang jahit khusus,serta beberapa botol ramuan yang tidak ia kenali.Jujur saja, ia baru melihat benda benda tersebut untuk pengobatan karena di tempatnya hanya menggunakan ramuan dan pil saja untuk penyembuhan. Namun ia juga sadar jika kondisinya berbeda, lagipula pil penyembuhan tingkat tinggi pun akan sulit didapatkan karena hanya para alkemis yang bisa membuatnya dan untuk itu pastinya akan membutuhkan waktu lagi mengingat alkemis terbaik hanya ada di benua tengah.Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Sebagai seorang kultivator, ia tentu pernah mengalami luka yang jauh lebih parah dari ini. Namun membiarkan seseorang membedah tubuhnya secara sadar tetap bukan keputusan yang mudah. Terlebih lagi orang yang akan melakukannya adalah seorang pemuda yang baru dikena

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 45. Keracunan.

    Bab 45. Keracunan.Setelah menghabiskan cukup banyak waktu untuk mencoba kemampuan baru yang diperoleh dari Inti Es Abadi, Tian Fan akhirnya menghentikan latihannya.Langit di atas Hutan Hijau kini telah berubah gelap. Bulan sabit menggantung tinggi di langit sementara cahaya bintang menerangi jalur-jalur kecil di antara pepohonan.Tian Fan menatap telapak tangannya untuk terakhir kali sebelum menghela nafas pelan."Hari ini rasanya sudah cukup."Meski gagal meningkatkan ranah kultivasinya, ia tetap memperoleh sesuatu yang sangat berharga. Setidaknya sekarang ia memahami bahwa Inti Es Abadi tidak hanya berdiam di dalam dantiannya.Sebagian kekuatan itu ternyata telah menyebar ke dalam meridian-meridian miliknya dan mampu mengubah sifat energi spiritual yang ia gunakan. Hal itu saja sudah cukup membuat kekuatan tempurnya meningkat jauh dibanding sebelumnya.Tian Fan pun berbalik dan mulai meninggalkan area tersebut. Namun baru beberapa langkah berjalan."...tolong..."Sebuah suara lema

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 44. Mencari tahu.

    Bab 44. Mencari tahu.Tian Fan berhasil meninggalkan Restoran Giok Hijau tanpa menarik perhatian siapapun di dalam ruangan. Saat ia turun ke lantai bawah, Lan Ren sudah menunggu di dekat pintu masuk dengan ekspresi yang agak aneh.Melihat Tian Fan keluar dengan santai, lelaki tua itu langsung menghela napas lega."Tuan Muda."Tian Fan tersenyum,jelas dari raut wajahnya pasti ada yang ingin disampaikannya."Bagaimana situasinya?"Lan Ren segera mengikuti langkah Tian Fan keluar dari restoran.Ada hal yang cukup menarik terjadi.” "Tuan Muda Xie Wang tadi dijemput oleh Kakak Tertuanya."Tian Fan mengangkat alis."Xie Ba?"Lan Ren mengangguk."Benar. Awalnya wajahnya sangat buruk dan sepertinya ingin langsung membalas perlakuan Tuan Muda. Tapi setelah Xie Wang mengatakan sesuatu padanya, mereka langsung pergi."Tian Fan berpikir sejenak lalu tersenyum tipis setelahnya."Sepertinya mereka menahan diri dan pastinya akan mencari kesempatan dilain waktu.”Lan Ren ikut tersenyum pahit mendeng

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status