LOGINBab 06. Perjalanan Berdarah
Angin dingin berhembus pelan di atas tebing tandus Lembah Kematian. Disana satu sosok berjubah hitam berjalan sendirian di antara kabut tipis yang menyelimuti jalur berbatu. Tian Fan, ia berjalan tanpa pengawal, tanpa tunggangan dan tanpa membawa simbol kekuasaan apa pun. Seolah ia hanyalah seorang pengelana biasa yang meninggalkan lembah terkutuk itu untuk mencari tempat baru. Namun kenyataannya, setiap langkah yang ia ambil membawa tekanan yang cukup untuk membuat beast tingkat rendah memilih kabur daripada mendekat. Tujuannya jelas. Kota Shui. Kota besar yang berada di wilayah Kerajaan Air di Benua Timur sekaligus kota terdekat yang berbatasan langsung dengan wilayah luar Lembah Kematian. Meski disebut “terdekat”, jarak antara keduanya tetap sangat jauh. Dalam keadaan normal, bahkan cultivator tingkat menengah membutuhkan waktu sekitar satu bulan perjalanan untuk mencapainya. Namun… Tian Fan berangkat di waktu yang salah. Ia berangkat di masa kawin beast, periode paling berbahaya di Lembah Kematian. Pada masa seperti ini, hampir seluruh beast di wilayah lembah menjadi jauh lebih agresif, brutal, dan sensitif terhadap aura asing. Pertarungan antar beast terjadi di mana-mana, raungan memenuhi malam dan bau darah hampir tidak pernah menghilang dari udara. Dan bagi manusia yang berjalan sendirian…jelas mereka tidak lebih dari mangsa. Hari ketujuh perjalanan. Boom!! Ledakan keras mengguncang hutan hitam. Seekor Serigala Bertanduk Merah sepanjang lima meter terpental menghantam pohon besar hingga batangnya patah. Auuuuuu!! Beast itu meraung marah,mata merahnya dipenuhi naluri buas dan hasrat membunuh yang kuat. Tubuh sang Beast dipenuhi luka sayatan tipis. Di hadapannya, Tian Fan berdiri tenang sambil memegang pedang hitam sederhana. Tatapannya dingin pada lawannya. Tak lama, Beast Serigala itu kembali menerjang dengan kecepatan tinggi. Shing! Kilatan hitam melintas melewati leher sang beast yang sesaat kemudian membuat kepala Beast Serigala Bertanduk Merah jatuh ke tanah. Darah menyembur tinggi ke udara disusul dengan tubuh beast yang roboh dengan keras ke tanah. Tian Fan mengibaskan darah di pedangnya lalu melanjutkan langkah seolah baru saja membunuh binatang biasa. Namun beberapa ratus meter dari sana…sepasang mata besar tengah mengawasinya dari balik pepohonan. Bukan satu. Bukan dua. Melainkan belasan beast lain. Dan semuanya sedang berada dalam kondisi paling liarnya dan menunggu untuk menyergapnya. Hari kedua puluh tiga. Hujan deras mengguyur wilayah rawa hitam. Tian Fan berjalan perlahan di atas genangan air berlumpur. Tampak tubuhnya dipenuhi noda darah. Sebagian miliknya dan sebagian lagi milik beast yang ia bunuh sepanjang perjalanan. Dalam dua puluh hari terakhir, jumlah beast yang menyerangnya sudah melampaui ratusan. Bahkan beberapa di antaranya merupakan beast tingkat tinggi yang biasanya jarang muncul. Jelas periode dan masa kawin Beast ini membuat semuanya sangat brutal dan dipenuhi bahaya. Srrttt… Suara aneh terdengar dari bawah lumpur. Tatapan Tian Fan berubah tajam. Ia memasang kewaspadaan sambil memasang domainnya. Detik berikutnya— Blaaar! Seekor ular raksasa hitam keluar dari rawa dengan mulut terbuka lebar. Tampak racun hijau pekat menetes dari taringnya. “Beast Ular Hijau Mata Tiga…” gumam Tian Fan serius. Beast tingkat bumi awal. Namun karena pengaruh masa kawin, aura beast itu jauh lebih ganas dari biasanya. Sisssshhh!! Ular itu menyerang kembali tanpa memberi waktu jeda. Tanah meledak akibat hantaman ekornya dan tak lama racun menyebar ke udara karena sang beast menyemprotkan asap racun ke area dimana Tian Fan berada. Tubuh Tian Fan menghilang dari tempatnya berdiri. Sang Beast terlihat mencari buruannya. Wush! Tiba tiba Tian Fan muncul di atas kepala ular itu. Tangannya bergerak cepat membentuk segel yang setelahnya di sekelilingnya energi alam berubah menjadi banyak jarum elemen. “Teknik Jarum Pembunuh Jiwa.” Puluhan jarum hitam melesat turun. Crasshh!! Jarum-jarum itu langsung menembus titik vital beast tersebut tubuh ular raksasa itu kejang hebat karena serangannya. Namun Tian Fan belum selesai, ia mendarat di atas kepalanya lalu menekan telapak tangannya ke permukaan kepala sang beast. Boom!! Energi hitam meledak dari tubuh ular itu yang mana dalam hitungan detik, kepala beast tersebut hancur berkeping-keping oleh serangan tersebut. Hujan deras terus turun, Tian Fan tetap berdiri tenang di atas mayat beast raksasa itu. Matanya dingin menatap sekelilingnya dimana kini area tersebut dipenuhi percikan darah dan potongan daging dari Beast ular itu. Lima tahun di Lembah Kematian telah mengubahnya sepenuhnya. Ia bukan lagi murid sekte yang takut dengan darah, takut terluka dan takut mati. Setiap pertarungan… setiap pengkhianatan… setiap langkah menuju hidup dan mati…telah mengikis sisi lembut dalam dirinya sedikit demi sedikit. Hari keempat puluh satu. Perjalanannya kini hampir melewati wilayah dalam lembah kematian, kini ia semakin mendekati wilayah luar lembah. Namun justru di titik itulah keadaan menjadi paling berbahaya karena karena beast-beast kuat mulai berebut wilayah dan pasangan. Raungan menggelegar hampir setiap malam bahkan beberapa kali Tian Fan melihat pertarungan antar beast tingkat langit yang mampu menghancurkan bukit hanya dengan benturan tubuh. Di sebuah jurang sempit, Tian Fan duduk bersila sambil meminum pil pemulihan, lengan kirinya terluka panjang dengan darah masih menetes perlahan. Luka itu berasal dari cakar seekor Macan Petir Hitam tingkat langit yang menyerangnya dua hari sebelumnya. Jika bukan karena refleks dan teknik tubuhnya, mungkin lengannya sudah putus saat itu juga. Mengingat hal itu tidak membuatnya takut justru aura di tubuhnya terasa semakin stabil. Tekanan kultivasinya perlahan meningkat akibat pertarungan tanpa henti selama dua bulan terakhir. Batas yang sebelumnya sulit disentuh kini mulai retak sedikit demi sedikit. Hari keenam puluh. Kabut hitam Lembah Kematian mulai menipis.Udara beracun lembah kematian yang selama ini memenuhi paru-parunya, perlahan menghilang. Untuk pertama kalinya setelah dua bulan perjalanan, Tian Fan melihat langit biru yang benar-benar bersih. Di depannya terlihat banyak pohon dengan daun berwarna hijau cerah dengan aliran sungai besar membelah dua wilayah. Jelas jika itu tanda jika dirinya berada di perbatasan lembah kematian dan hutan Hijau. Tidak ada kabut hitam. Tidak ada udara beracun. Tidak ada bau kematian yang selama ini memenuhi paru-parunya. Di hadapannya terbentang hamparan pepohonan hijau dengan daun-daun cerah yang bergoyang pelan tertiup angin. Sebuah sungai besar membelah dua wilayah, memisahkan Lembah Kematian dengan Hutan Hijau. Melihat pemandangan itu, Tian Fan akhirnya menghela nafas panjang. “Akhirnya keluar juga…” gumamnya pelan. Tatapannya kemudian turun menatap kondisi tubuhnya sendiri. Pakaian dan jubah hitam yang ia kenakan sudah compang-camping akibat pertarungan tanpa henti selama perjalanan. Lumpur, darah, dan bekas cakaran beast memenuhi hampir seluruh tubuhnya. Sebagian darah itu miliknya, sebagian lagi milik beast-beast yang mati di tangannya. Kondisinya bahkan lebih buruk dari yang terlihat. Pertarungan melawan Macan Petir Hitam tingkat langit beberapa hari lalu benar-benar menguras seluruh qi di tubuhnya. Lautan qinya nyaris kosong. Bahkan untuk sekedar membuka cincin ruang miliknya saja ia tidak memiliki energi yang cukup. Tian Fan mengepalkan tangannya perlahan lalu tersenyum pahit. “Benar-benar menyedihkan…” Saat ini ia bahkan tidak berbeda jauh dari manusia biasa yang kelelahan. Namun ia tahu satu hal, dirinya belum aman. Wilayah pinggir Lembah Kematian tetap berbahaya selama ia belum melewati sungai pembatas di depannya. Tanpa membuang waktu, Tian Fan segera berjalan menuju sungai besar tersebut untuk menyebranginya. Byur… Air sungai langsung menyelimuti tubuhnya. Sangat dingin hingga terasa menusuk kulit. Namun ekspresi Tian Fan tidak berubah saat ia terus berjalan menembus arus sungai yang cukup deras. Beberapa menit kemudian, ia akhirnya tiba di seberang. Kini dirinya resmi berada di wilayah Hutan Hijau. Tian Fan menghela nafas pelan. Ketegangan di tubuhnya sedikit berkurang. “Setidaknya di sini tidak ada beast gila yang tiba-tiba menyerang…” Namun belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya— Instingnya tiba-tiba menjerit keras. Tanda Bahaya! Refleks, Tian Fan langsung menjatuhkan tubuhnya dan berguling ke samping beberapa kali. Shing! Shing! Shing! Beberapa bunga es melesat melewati tubuhnya dengan kecepatan tinggi sebelum menghantam batu-batu besar di belakangnya. Crackkk!! Dalam sekejap, batu-batu itu membeku dan diselimuti kristal es tebal. Tatapan Tian Fan langsung berubah tajam. Ia menoleh cepat ke arah penyerang. Di sana berdiri dua wanita berjubah putih. Keduanya memiliki aura dingin yang kuat, namun salah satu dari mereka memakai cadar putih yang menutupi sebagian wajahnya. Dan jelas…wanita bercadar itulah yang baru saja menyerangnya. Tian Fan menyipitkan mata. “Aku baru saja keluar dari lembah dan sudah disambut seperti ini?” batinnya. Namun sebelum ia sempat berkata lebih jauh, wanita satunya yang tidak bercadar buru-buru melangkah maju. “Nona, berhenti! Tolong tahan dan sadarlah!” Sayangnya, wanita bercadar itu sama sekali tidak menggubris. Wush! Tekanan jiwa yang kuat langsung meledak dari tubuhnya. “Ukh!” Wanita tanpa cadar itu tiba-tiba terangkat ke udara.Tubuhnya melayang paksa sebelum dihantamkan ke batang pohon besar di belakangnya. “Nona!” teriaknya. Crack! Crack! Kristal es langsung membentuk belenggu di kedua tangan dan kaki wanita tersebut, menancapkannya kuat-kuat ke batang pohon hingga ia tidak bisa bergerak sama sekali. Tian Fan yang melihat itu langsung meningkatkan kewaspadaannya. “Kekuatan jiwa yang besar, itu berarti ia berada di ranah Langit…” gumamnya dalam hati. Namun detik berikutnya. Wuuung! Tekanan yang sama menghantam tubuh Tian Fan. Tubuhnya kini diselimuti kekuatan tak kasat mata yang menekan dan mengekangnya dengan kuat. Ia dibuat terangkat ke udara. Seketika wajah Tian Fan berubah sedikit suram.Jika ia berada dalam kondisi normal, tekanan jiwa seperti ini jelas tidak akan mampu menahannya. Namun sekarang…lautan qinya benar-benar kosong. Tubuhnya tidak memiliki tenaga untuk melawan. Brakk! Tubuh Tian Fan ditekan ke batang pohon besar lainnya dimana posisinya dipaksa setengah duduk sementara kedua tangannya dibelenggu kristal es tajam yang tertancap kuat ke batang kayu. Dingin menusuk langsung menyebar ke tubuhnya yang membuat jalur energinya yang kering seperti dikunci paksa. Tian Fan mengangkat kepala, tampak wanita bercadar itu berjalan ke arahnya. Tatapannya bertemu dengan mata wanita bercadar yang kini ada di depannya. Tampak olehnya jika wanita itu memiliki pupil mata yang unik. Pupil mata kanan berwarna hijau dan pupil mata kiri berwarna perak. Dengan sekali tebak Tian Fan bisa melihat jika sang wanita memiliki aura dingin di tubuhnya yang membuat suhu sekitar terus turun drastis. Semakin dekat…semakin Tian Fan menyadari ada sesuatu yang aneh. Tampak jelas jika aura wanita itu tidak stabil. Energi dingin di tubuhnya kacau seperti badai yang hampir meledak dan matanya dipenuhi tekanan aneh seolah sedang menahan sesuatu. Wanita bercadar itu berhenti tepat di depan Tian Fan. Tatapannya turun mengamati pakaian Tian Fan yang penuh darah dan compang camping. Kemudian—Tanpa peringatan, ia duduk di paha Tian Fan. Gerakannya kasar namun penuh dengan tekanan. Tian Fan langsung mengernyit. “Apa-apaan ini?” Wanita tanpa cadar yang masih terikat di pohon langsung membelalakkan mata. “Nona?!” Namun wanita bercadar tidak menggubris sedikit pun, ia kembali membuat mulut wanita tersebut tertutup oleh serangan bunga esnya. Setelahnya, tangannya langsung mencengkeram pakaian Tian Fan dengan kasar lalu merobeknya. Tian Fan semakin tercengang karena bukan pakaian atasnya yang wanita itu sobek dengan paksa, namun celananya pun ditariknya. Tian Fan akan berkata namun sang wanita membungkamnya dengan menutup mulutnya dengan teknik bunga es miliknya. “Sial, apa apaan wanita ini!” batinnya. Tian Fan terkejut dengan tindakan sang wanita selanjutnya, tampak wanita itu menaikan hanfu yang ia kenakan dan melepas pelindung area intimnya sendiri. Dari sana sang wanita kemudian menekan kedua bahunya ke permukaan batang pohon sambil memposisikan tubuhnya untuk bisa menduduki pinggangnya untuk melumat senjata masa depannya dengan lembah miliknya.Bab 156. Efek Gu Raja.Untuk beberapa saat, tidak seorang pun mampu berbicara.Bai Lian, Luo Qing, dan dua anggota Kelompok Harimau Hitam masih tergeletak di tanah. Qi di dalam tubuh mereka bergerak kacau, membuat setiap usaha untuk berdiri terasa seperti mencoba mengendalikan arus liar yang telah lepas dari jalurnya. Bahkan sekadar mengangkat tangan pun membutuhkan tenaga yang sangat besar.Sementara itu, Tian Fan berdiri dengan tenang di tengah hutan yang dipenuhi debu dan pecahan benda berbentuk pil. Tatapannya beralih kepada dua anggota Kelompok Harimau Hitam yang tergeletak tidak jauh dari posisinya.Kedua pria itu masih sadar. Mereka dapat melihat Tian Fan mulai berjalan mendekat, tetapi tubuh mereka sama sekali tidak mampu bergerak. Salah seorang dari mereka berusaha mengedarkan Qi untuk melawan gangguan di dalam meridian, namun energi spiritual yang baru saja dikumpulkannya kembali berantakan.“Jangan… jangan mendekat…” gumamnya dengan suara serak.Tian Fan tidak menjawab.Lan
Bab 155. Serangan dari Bayangan.Untuk beberapa saat, tidak seorang pun bergerak.An Jing masih berdiri kaku di hadapan Yin Ping dengan pedang terangkat, tubuhnya bergetar hebat seolah sedang menahan rasa sakit yang tidak terlihat. Yin Ping sendiri hanya berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan wajah penuh kebingungan, sementara Luo Qing, Bai Lian, dan dua anggota Kelompok Harimau Hitam lainnya masih terpaku melihat keadaan pemimpin mereka.Namun sebelum siapa pun sempat memahami apa yang sebenarnya terjadi, tiba-tiba terdengar suara desingan tajam dari arah belakang Yin Ping.Whoosh! Whoosh! Whoosh!Ratusan benda kecil melesat dari balik pepohonan dengan kecepatan tinggi. Bentuknya bulat dan ukurannya tidak jauh berbeda dari pil alkimia, tetapi permukaannya dipenuhi garis-garis aneh yang memancarkan cahaya samar.Luo Qing langsung bereaksi.“Berpencar!”Begitu teriakannya terdengar, tubuhnya bergerak mundur dengan cepat. Bai Lian juga segera menuju Yin Ping untuk membawanya menj
Bab 154. Jebakan di Hutan Jati Merah.Tian Fan terus berjalan meninggalkan lembah kecil itu tanpa pernah menoleh ke belakang. Langkahnya tetap santai, seolah percakapan yang baru saja terjadi bukanlah sesuatu yang penting baginya. Baginya, tujuan utama sudah tercapai. Ia telah mengetahui nama dua murid Sekte Emei yang selama ini menjadi teka-teki dalam pikirannya.Namun bagi tiga wanita yang ditinggalkannya, kepergian itu justru meninggalkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.Yin Ping memandang punggung Tian Fan yang semakin jauh sebelum akhirnya sosok pemuda itu menghilang di balik pepohonan. Ia kemudian mengalihkan pandangan kepada gurunya dan Bai Lian yang masih berdiri di tempat mereka. Setelah beberapa saat, Yin Ping akhirnya bertanya, “Guru, apa yang harus kita lakukan sekarang? Apakah kita benar-benar akan mengikuti sarannya dan mengganti jalur perjalanan?”Bai Lian langsung menjawab sebelum Luo Qing sempat membuka mulut, “Tidak. Aku justru merasa kita tidak seharusnya
Bab 153. Percakapan yang Berakhir.Mereka tiba di sebuah lembah kecil yang tersembunyi di antara pepohonan. Di sana terdapat sebuah batu besar yang membentuk tempat berteduh alami. Setelah memastikan tidak ada aura asing di sekitar mereka, Luo Qing akhirnya berhenti dan berbalik menghadap Tian Fan. Bai Lian tetap berada di sisi Yin Ping, sementara tangannya masih menggenggam gagang pedang. Pertemuan yang pada awalnya hanya dipenuhi kewaspadaan kini berubah menjadi percakapan yang jauh lebih rumit.Tatapan Luo Qing tertuju pada Tian Fan cukup lama sebelum akhirnya ia bertanya.“Sekarang aku ingin mengetahui sesuatu. Bagaimana kau bisa mengenal Yue Han dan Bai Ruo? Dan mengapa kau begitu ingin mengetahui tentang mereka?” Suaranya tidak keras, tetapi ada tekanan yang jelas di dalamnya. Sebagai tetua muda Sekte Emei sekaligus guru Yin Ping, Luo Qing tidak mungkin mengabaikan seseorang yang tiba-tiba muncul di tengah perjalanan lalu menyebut dua murid sektenya.Tian Fan tidak langsung me
Bab 152. Nama yang dicari.Bai Lian langsung mengarahkan ujung pedangnya kepada Tian Fan. Tatapannya penuh kewaspadaan, sementara Qi perlahan mengalir ke sepanjang bilah pedangnya. “Ternyata kau seorang pemuda. Jika kau tidak segera menyingkir, jangan salahkan kami jika aku benar-benar menganggapmu sebagai musuh.”“Jika begitu, bukankah lebih baik kau bertanya terlebih dahulu sebelum menghunus pedang?” ujar Tian Fan menjawab dengan tenang.Bai Lian terdiam sesaat. Ia jelas tidak menyangka pemuda di hadapannya masih bisa berbicara dengan santai dalam keadaan seperti ini.Luo Qing tetap berdiri di depan Yin Ping. Tatapannya tidak pernah lepas dari Tian Fan. Ia dapat merasakan bahwa pemuda tersebut tidak sederhana. Meski usianya masih muda, aura yang terpancar dari tubuhnya sangat stabil dan tidak menunjukkan sedikit pun kegugupan. Bahkan ketika berhadapan dengan dirinya, Tian Fan masih terlihat seolah-olah sedang berbicara dengan orang biasa.“Siapa kau? Dan apa tujuanmu menghentikan k
Bab 151. Anomali dalam Konspirasi.Setelah meninggalkan kedai arak, Tian Fan tidak lagi kembali ke kediaman Klan Qin. Ia hanya berjalan santai melewati jalan utama Kota Dalian, lalu menuju gerbang kota tanpa menunjukkan sedikit pun ketertarikan terhadap keramaian di sekitarnya. Namun, berbeda dari sebelumnya, pikirannya kini telah menyusun seluruh informasi yang diperolehnya menjadi sebuah gambaran yang jauh lebih besar.Klan Qin menerima perintah dari Klan Tang untuk mencari Tang Bohu. Pada saat yang sama, mereka juga menerima perintah dari pihak selir raja untuk menghentikan Yin Ping sebelum gadis itu tiba di ibukota. Di balik semua itu, Shui Feng jelas memiliki kepentingan sendiri, sedangkan Ma Durung, yang kemungkinan besar akan datang sebagai alkemis dari Sekte Raja Obat, juga tidak mungkin muncul secara kebetulan.Tian Fan berhenti sejenak di depan gerbang kota. Ia menoleh ke arah jalan yang baru saja dilaluinya, lalu tersenyum tipis. “Tampaknya konspirasi orang-orang ini suda
Bab 07. (21++) Digagahi.Nafas wanita bercadar mulai sedikit tidak teratur,tangannya perlahan menyentuh tubuh Tian Fan dengan gugup namun penuh keberanian.Tak berhenti sampai sana, kini jemarinya merayap ke bawah menyentuh bagian bawah tubuh Tian Fan yang ada di selangkangannya.Tubuh wanita berca
Bab 05. Dimulai.Dua tahun berlalu.Lembah Kematian tak lagi seperti dahulu yang penuh dengan kematian dan penyakit aneh. Semua telah berubah sejak kemunculan dua kelompok baru.Dari sekian banyak kelompok dan klan yang lahir dan tenggelam di tanah penuh darah itu, dua nama baru muncul dan langsung
Bab 04. Klan Pengadilan Hitam.Bulan masih menggantung tinggi,Sun Li terdiam oleh ucapan terakhir Tian Fan.“Racun ini buatan manusia.”Namun setelah itu, Tian Fan tak berkata lagi. Ia hanya berdiri memandangi bulan yang mulai tertutupi awan.Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan ujung kain
Bab 01. Jenius yang Disingkirkan. Di bawah cahaya lilin yang redup di lorong istana, seorang remaja berjalan menuju Balai Ramuan Agung Sekte Raja Obat. Langkahnya tegas, namun dipenuhi ketenangan yang sulit digoyahkan. Sesampainya di Balai Ramuan Agung Sekte Raja Obat, ia melangkah masuk ke dala







