/ Romansa / Jerat Bos Galak Posesif / Di kejar Deadline

공유

Di kejar Deadline

작가: Erumanstory
last update 게시일: 2025-12-14 12:49:46

Sudah tiga hari berlalu, tetapi Kiara belum juga bisa keluar dari rumah sakit. Kondisinya masih lumayan mengkhawatirkan. Hal itu tentu saja mengundang simpati dari rekan-rekan kerjanya. Mereka kembali datang ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan Kiara yang terkini. Tentu saja kehadiran mereka membuat Kiara merasa senang. Setidaknya, dia memiliki mereka yang mau menjadi temannya dalam suka, dan duka.

“Udah tiga hari lo di sini, Ki. Keadaan lo gimana? Masih belum ada perubahan, ya? Gue kangen lo. Kantor sepi kalo nggak ada lo,” ucap Nina yang tengah duduk di pinggiran ranjang tempat Kiara dirawat.

“Iya, Ki. Kita khawatirin lo banget. Apalagi semenjak kita jenguk waktu itu, lo nggak ada kasih kabar apa-apa.” Arga menambahkan.

“Karena itu semua, gue ngajak mereka buat dateng ke sini lagi jengukin lo. Kita nggak bisa tenang kalo belum tau keadaan lo secara langsung.” Susan ikut bicara.

Kiara tersenyum, menatap teman-temannya satu per satu. Mereka satu-satunya alasan dia betah di kantor. Seberat apapun urusannya dengan Adam, Kiara akan merasa jauh lebih baik setelah menceritakan semuanya kepada mereka. Walaupun terkadang saran mereka tidak membantu, tetapi setidaknya beban yang ada di dalam dadanya sedikit berkurang.

“Makasih banyak ya, Guys. Kalian udah baik banget sampai mau jengukin gue lagi. Sory, bukannya nggak mau ngabarin, beberapa hari ini gue emang males pegang hape. Kepala gue pusing banget. Badan gue juga sakit semua. Rasa sakitnya berkurang pas dikasih suntikan Pereda nyeri doang. Perubahan yang gue dapet belum banyak. Rencananya ntar sore gue mau cek darah, siapa tau ada penyakit lain. Doain ya, semuanya. Kantor gimana? Aman terkendali, kan?”

“Udah, lo nggak usah mikirin soal kantor dulu. Semuanya aman terkendali. Lo fokus buat sembuh dulu. Biar kita bisa cepat kumpul kayak biasanya,” ucap Nina yang tampak mengusap-usap bahu Kiara pelan.

“Tuh, dengerin Nina. Lo istirahat aja dulu dengan tenang. Nggak usah mikir soal kerjaan. Kita bakalan sering jengukin lo di sini biar lo semakin semangat. Kalo ada pengen makan apa bilang. Ntar gue beliin buat lo. Apa lo ada pantangan yang nggak boleh dimakan?” Raul yang semula hanya diam ikut nimbrung. Dia juga salah satu yang paling khawatir dengan kondisi Kiara.

“Gue bersyukur nggak ada pantangan makan apapun. Gue cuma dikasih anjuran buat minum air putih banyak-banyak. Kalo Kak Aul nggak keberatan, gue pengen dibeliin kebab, sih.”

“Cuma itu doang? Gue beliin sekarang, deh. Gue yakin lo belum makan, kan?”

“Itu aja, Kak. Makasih banyak, ya. Maaf, gue jadi ngerepotin Kak Aul.”

“Apa sih yang nggak buat kesayangan pak manager?” Raul menggoda dengan gelak tawa mengikuti ucapannya.

Kiara merengut.

“Maksud Kak Aul kesayangan pak devil? Ish, ogah. Amit-amit.”

Semua yang ada di sana tertawa melihat reaksi Kiara saat Raul menggodanya.

“Ngomong-ngomong, Ki. Tadi pak Adam nanyain nomor kamar rawat lo. Katanya dia mau jengukin lo kalo sempet. Soalnya gue denger-denger dia ada perjalanan bisnis ke Palembang tiga hari.” Nina baru teringat soal Adam yang menanyakan nomor kamar Kiara. Sementara Kiara menanggapi Nina dengan ekspresi datar.

“Bagus malah kalo nggak jadi, Kak. Gue males liat muka dia. Ketemu dia selalu ngingetin gue sama deadline yang numpuk.”

“Udah, nggak usah pikirin soal deadline. Gue juga yakin dia nggak bakalan jadi ke sini.”

***

Empat hari berlalu sejak teman-temannya datang menjenguk. Total satu minggu Kiara tidak hadir di kantor, juga tidak berurusan dengan managernya yang super menyebalkan. Setidaknya selama satu minggu Kiara bisa merasakan sedikit kebebasan. Dia tidak berada dalam tekanan Adam.

Sayang sekali kenyamanannya harus terganggu karena dia mendapati pesan dari lelaki itu di layar ponselnya. Sebelum membaca pesan dari Adam, Kiara menghela napas lebih dulu. Dia yakin, pesan dari managernya itu tidak jauh-jauh dari pekerjaan.

“Kiara, kamu sudah satu minggu tidak masuk kantor. Apa kamu belum sembuh juga? Ini bukan alasan kamu untuk menghindari pekerjaan dari saya, kan?”

Baru satu pesan saja sudah berhasil membuat Kiara menjadi dongkol. Bagaimana mungkin, ada manusia yang tipis rasa simpati seperti Adam. Kalau bisa menentukan, Kiara juga tidak mau berlama-lama berada di rumah sakit. Dia lebih baik berada di kantor, walaupun harus berhadapan dengan bos menyebalkan seperti Adam.

“Maaf, Pak. Saya memang belum sembuh.”

Kiara membalas singkat.

“Masalahnya dua kerjaan kamu ada yang deadline-nya lusa. Kamu bisa buka laptop, kan? Tolong kerjain sekarang, ya. Saya sebenarnya tidak berniat menyuruh kamu, tapi cuma kamu yang bisa menyelesaikan tugas ini. Saya tidak yakin dengan karyawan lain.”

Pas. Sesuai dengan tebakan Kiara, Adam menghubunginya memang untuk urusan pekerjaan. Tapi lagi-lagi permintaan lelaki itu sungguh memberatkannya. Kiara sekarang tengah terbaring di rumah sakit, bukan sedang melakukan liburan mewah.

“Saya berangkat ke rumah sakit nggak bawa laptop, Pak. Jadi nanti saya minta sepupu saya untuk membawakannya ke sini. Saya akan coba kerjakan pelan-pelan."

"Bagus. Hari ini bisa kelar, kan?”

Pertanyaan itu membuat Kiara ingin melempar ponselnya. Tapi untungnya dia sadar kalau dia bukan keturunan sultan. Dia harus tetap bersabar dengan sikap Adam yang semakin tidak terarah.

“Kalau hari ini nggak bakalan kelar, Pak. Paling besok saya usahakan.”

“Ya sudah, oke. Besok langsung kirim ke saya, ya. Kalau bisa pagi-pagi kamu kirimnya.”

Hasrat Kiara untuk mencekik bosnya tiba-tiba timbul. Gadis itu semakin yakin kalau Adam memang tidak punya hati.

“Baik, Pak.”

Walaupun tidak terlalu yakin, Kiara terpaksa mengirim dua kata itu supaya Adam segera enyah dari kolom pesannya. Setelah obrolan via pesan dengan bosnya selesai, Kiara segera menghubungi sepupunya untuk meminta tolong mengantarkan laptop ke rumah sakit.

Keesokan paginya, tepat jam enam pagi dia mendapatkan pesan dari Adam. Catat, jam enam pagi. Bos mana yang akan membicarakan soal pekerjaan di jam sepagi itu? Hanya Adam yang bisa melakukannya.

“Pagi, Kiara. Bagaimana? Sudah selesai kerjaan kamu?”

Bagaimana? Apa pertanyaan Adam sukses membuat kalian emosi juga seperti Kiara? Jam enam pagi dia sudah menagih deadline. Benar-benar bos yang tidak waras!

“Setengahnya masih saya kerjakan, Pak.” Kiara membalas sambil menahan emosi.

“Oke. Tiga jam dari sekarang bisa selesai, kan?”

“Saya usahakan ya, Pak. Saya akan kerjakan secepat yang saya bisa. Semoga bisa selesai sesuai waktu yang Bapak inginkan.”

“Baik, saya akan tagih lagi nanti setelah tiga jam. Kerjakan dengan benar, Kiara. Saya tidak menerima alasan sakit sebagai tameng kesalahan yang kamu buat. Kamu mengerti?”

“Iya, Pak. Saya mengerti.”

“Saya akan tagih nanti setelah tiga jam. Gampang banget ya, jadi Adam. Main tagih-tagih. Dia pikir enak apa, ngerjain kerjaan sambil ngerasain badan sakit. Bos biadab!” umpat Kiara sambil memencet kuat tombol keyboard-nya penuh emosi.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Jerat Bos Galak Posesif    Jangan Dekati Dia!

    Mesin mobil sedan mewah milik Adam menderu halus membelah kemacetan Jakarta yang mulai mereda di malam hari. Di dalam kabin yang kedap suara itu, suasana terasa sedikit mencekam. Adam menggenggam kemudi dengan erat, buku-buku jarinya memutih. Sesekali matanya melirik ke arah kaca spion tengah, lalu beralih pada Kiara yang duduk tenang di sampingnya sambil menatap lampu-lampu kota di balik jendela.​Pikiran Adam masih tertahan pada kejadian di kantor tadi. Bayangan Zaki yang berdiri begitu dekat dengan Kiara, serta cara lelaki baru itu menatap kekasihnya, terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.​"Saya tidak suka cara lelaki itu menatapmu, Kiara," ujar Adam tiba-tiba. Suaranya berat, memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti mereka.​Kiara menoleh, sedikit terkejut namun kemudian menghela napas panjang. Dia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini sejak Adam menjemputnya dengan wajah ditekuk. "Siapa? Zaki? Dia cuma staf baru, Mas. Dia hanya berusaha bersikap sopan pada su

  • Jerat Bos Galak Posesif    Usaha Jihan

    "Ini DP dari saya, lima puluh juta rupiah. Saya sudah memasukkan kamu ke perusahaan tempat anak saya bekerja. Namanya Adam. Dia manager di sana. Tugas kamu adalah mendekati Kiara, seorang supervisor di sana. Buat wanita itu jatuh cinta sama kamu. Saya mau anak saya kembali fokus ke perusahaan keluarga kami, dan menggantikan papanya sebagai pewaris. Kalau kamu berhasil memisahkan anak saya dari wanita miskin itu, saya akan menambahkan lima puluh juta lagi." Jihan menyodorkan sebuah amplop coklat pada lelaki muda dengan penampilan perlente di hadapannya. Dia sengaja melakukan itu supaya Adam dan Kiara berpisah. Jihan tidak mau Adam fokus mengejar Kiara sampai memilih bekerja di perusahaan orang lain. Terutama karena status sosial Kiara yang menurut Jihan tidak layak menjadi kandidat menantunya. "Ibu tenang saja, saya akan melakukan tugas ini dengan baik. Dengan wajah saya yang rupawan, saya yakin saya akan bisa dengan mudah menaklukan hati Kiara. Saya sudah bertahun-tahun berprofesi s

  • Jerat Bos Galak Posesif    Melepas Rindu

    Kiara melangkah santai ke arah ruang kerja Adam. Dia tidak ingin ada yang curiga kalau sekarang hubungannya dengan Adam bukan lagi hanya karyawan dan bos. Setibanya di depan ruangan sang bos, Kiara membuka pintunya pelan, dan masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu. Tiba-tiba Adam menariknya, dan merapatkan tubuh keduanya. Membuat Kiara terkejut setengah mati. "Lama sekali, saya sudah rindu kamu, Kiara," bisik Adam dengan gairah tertahan. "Kita baru pisah beberapa menit, Mas. Bisa-bisanya kamu bilang rindu? Dasar tukang gombal!" Kiara mencubit kecil perut Adam, dan tidak ada penolakan dari lelaki itu. Dia hanya meringis kecil. "Satu detik saja saya sudah rindu, bagaimana dengan beberapa menit? Saya mau melepas rindu dulu sama kamu sebelum memulai pekerjaan," bisik Adam lagi, satu tangannya mengunci pintu, dan langsung membungkam bibir Kiara dengan ciuman. Adam membimbing Kiara mengikuti langkahnya tanpa melepaskan ciuman mereka. Wanita itu tidak menolak. Dia mengikuti kemauan Adam t

  • Jerat Bos Galak Posesif    Mulai Dicurigai

    "Ul, Kiara udah dateng?"tanya Nina ke Raul. Dia baru saja datang, bertanya seperti itu karena di atas meja kerja Kiara sudah ada sekotak donat dan juga kopi. "Belum, Nin. Gue pas sampe belum ada siapa-siapa.""Terus itu... donat sama kopi dari siapa? Lo tau?"cecar Nina lagi. "Ga tau gue. Dari pak Adam kali. Itu kan donat mahal, karyawan biasa kayak kita mah mikir dua kali buat beli, mana di tanggal tua gini, kan?""Eh, iya juga ya. Lo curiga gak sih sama tingkahnya Kiara? Semenjak dia ditugasin keluar sama pak Adam, sekarang dia jarang muring-muring. Dua hari ini dia malah anteng banget. Diminta ke ruangan pak Adam juga nggak sebete biasanya. Apa jangan-jangan mereka udah jadian?" "Gue juga kepikiran gitu, Nin. Tapi... masa iya? Kiara kan anti banget sama pak Adam. Aneh banget nggak sih kalo mereka tiba-tiba jadian? Kayak nggak masuk akal gitu." "Ya siapa tau, kan? Namanya perasaan mah bisa berubah kapan aja, Ul. Lo lupa, di awal masuk kan si Kiara naksir sama pak Adam. Dia ilfeel

  • Jerat Bos Galak Posesif    Perdebatan Dengan Ibu

    Adam baru saja sampai di apartemennya. Sayang sekali, rasa bahagia yang menyelimuti hatinya harus tersingkir sejenak sesaat setelah dia melihat ibunya sudah menunggu di depan pintu sambil bersidekap. Hubungan mereka memang tidak cukup baik. Adam bahkan tidak terlalu nyaman berada di dekat ibunya yang selalu berusaha mengontrolnya sejak kecil. Itu juga yang menjadikan Adam alasan mengapa dia memilih untuk tinggal di apartemen daripada rumah besar milik keluarganya. Dia merasa jauh lebih damai tanpa rongrongan kedua orangtuanya. Adam juga bisa mencapai apa yang diinginkannya tanpa penolakan. Ujungnya memang dia harus berdebat, tetapi setidaknya dia punya sedikit kebebasan. "Ada apa mama ke sini?" tanyanya dingin. "Begitu cara kamu menyambut kedatangan wanita yang sudah mengandung mu selama sembilan bulan, Adam?" balas ibunya sama-sama dingin. "Lalu aku harus apa, Ma? Menyiapkan karpet merah? Membuat pesta terompet?" tanya Adam asal. "Cukup basa-basinya. Mama hanya ingin tahu, kapan

  • Jerat Bos Galak Posesif    Kasmaran

    "Sekarang bagaimana? Kamu menginginkan milik saya memasuki tubuhmu, Kiara Sayang?" tanya Adam setelah momen pelepasan Kiara berakhir. Kiara mengangguk cepat dengan mata sayunya menatap Adam. Begitu menggemaskan. "Tuntun dia, Sayang. Bawa dia memasuki tubuhmu," perintah Adam dengan berbisik. Seperti dihipnotis, Kiara mengikuti apa yang Adam perintahkan. Dia memegang milik kekasihnya itu, dan menuntunnya ke liang kenikmatannya. Kiara mendesis saat perlahan benda itu mulai memasukinya. Adam juga menikmati momen itu sambil menatap ekspresi sensual Kiara."Rasanya penuh banget, Mass," ucap Kiara sesaat setelah milik Adam memasukinya sepenuhnya. "Bergerak, Sayang. Kamu atur sendiri temponya. Dia akan patuh padamu malam ini," bisik Adam lagi. Kiara lagi-lagi patuh. Dia berpegangan erat pada pundak Adam, dan mulai menggerakkan tubuhnya. Desahannya terus terdengar bersahutan dengan derasnya hujan. Menikmati setiap sentuhan milik Adam dalam dirinya. Bukan hanya Adam, nyatanya Kiara juga se

  • Jerat Bos Galak Posesif    Kelimpungan

    “Ini sudah tiga jam. Apa kerjaan kamu sudah selesai, Kiara?” Tepat tiga jam sejak pesan terakhir yang dikirimkan oleh Adam, Kiara kembali mendapati nama lelaki itu muncul di layer ponselnya sebagai pengirim pesan. Dia tentu menagih sesuai kesanggupan Kiara. Beruntung, lima menit lalu semua pekerja

  • Jerat Bos Galak Posesif    Tips Kocak

    “Jadi tadi siapa yang kirim kopi?” Nina tampaknya sangat penasaran. Dia langsung menanyakan itu saat jam istirahat mereka tiba.“Kalo lo ragu buat minum mending kagak usah diminum, deh. Takutnya ada racunnya.” Raul ikut menyahut.“Iya bener. Selain racun, bisa jadi kopi itu ada peletnya. Ngeri.” Ar

  • Jerat Bos Galak Posesif    Kopi Misterius

    “Gue kepikiran sama Kiara. Dari tadi di ruangan pak Devil kagak keluar-keluar. Jangan-jangan dia pingsan di sana,” ucap Raul yang membalikkan kursinya ke arah rekan kerjanya, merekaa juga melakukan hal yang sama.Sebenarnya pekerjaan mereka sudah selesai, tetapi sebagai bentuk solidaritas, mereka m

  • Jerat Bos Galak Posesif    Masalah Baru

    “Kiara, hari ini akan ada tamu penting untuk saya. Tolong kamu sambut dia seramah mungkin. Namanya Farukh. Setelah dia datang, langsung antar saja ke ruang meeting. Saya akan menunggu di sana. Jangan lupa bilang ke OB untuk menyiapkan minuman.”“Jangan sampai buat dia menunggu. Dia sangat penting u

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status