LOGINSudah tiga hari berlalu, tetapi Kiara belum juga bisa keluar dari rumah sakit. Kondisinya masih lumayan mengkhawatirkan. Hal itu tentu saja mengundang simpati dari rekan-rekan kerjanya. Mereka kembali datang ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan Kiara yang terkini. Tentu saja kehadiran mereka membuat Kiara merasa senang. Setidaknya, dia memiliki mereka yang mau menjadi temannya dalam suka, dan duka.
“Udah tiga hari lo di sini, Ki. Keadaan lo gimana? Masih belum ada perubahan, ya? Gue kangen lo. Kantor sepi kalo nggak ada lo,” ucap Nina yang tengah duduk di pinggiran ranjang tempat Kiara dirawat. “Iya, Ki. Kita khawatirin lo banget. Apalagi semenjak kita jenguk waktu itu, lo nggak ada kasih kabar apa-apa.” Arga menambahkan. “Karena itu semua, gue ngajak mereka buat dateng ke sini lagi jengukin lo. Kita nggak bisa tenang kalo belum tau keadaan lo secara langsung.” Susan ikut bicara. Kiara tersenyum, menatap teman-temannya satu per satu. Mereka satu-satunya alasan dia betah di kantor. Seberat apapun urusannya dengan Adam, Kiara akan merasa jauh lebih baik setelah menceritakan semuanya kepada mereka. Walaupun terkadang saran mereka tidak membantu, tetapi setidaknya beban yang ada di dalam dadanya sedikit berkurang. “Makasih banyak ya, Guys. Kalian udah baik banget sampai mau jengukin gue lagi. Sory, bukannya nggak mau ngabarin, beberapa hari ini gue emang males pegang hape. Kepala gue pusing banget. Badan gue juga sakit semua. Rasa sakitnya berkurang pas dikasih suntikan Pereda nyeri doang. Perubahan yang gue dapet belum banyak. Rencananya ntar sore gue mau cek darah, siapa tau ada penyakit lain. Doain ya, semuanya. Kantor gimana? Aman terkendali, kan?” “Udah, lo nggak usah mikirin soal kantor dulu. Semuanya aman terkendali. Lo fokus buat sembuh dulu. Biar kita bisa cepat kumpul kayak biasanya,” ucap Nina yang tampak mengusap-usap bahu Kiara pelan. “Tuh, dengerin Nina. Lo istirahat aja dulu dengan tenang. Nggak usah mikir soal kerjaan. Kita bakalan sering jengukin lo di sini biar lo semakin semangat. Kalo ada pengen makan apa bilang. Ntar gue beliin buat lo. Apa lo ada pantangan yang nggak boleh dimakan?” Raul yang semula hanya diam ikut nimbrung. Dia juga salah satu yang paling khawatir dengan kondisi Kiara. “Gue bersyukur nggak ada pantangan makan apapun. Gue cuma dikasih anjuran buat minum air putih banyak-banyak. Kalo Kak Aul nggak keberatan, gue pengen dibeliin kebab, sih.” “Cuma itu doang? Gue beliin sekarang, deh. Gue yakin lo belum makan, kan?” “Itu aja, Kak. Makasih banyak, ya. Maaf, gue jadi ngerepotin Kak Aul.” “Apa sih yang nggak buat kesayangan pak manager?” Raul menggoda dengan gelak tawa mengikuti ucapannya. Kiara merengut. “Maksud Kak Aul kesayangan pak devil? Ish, ogah. Amit-amit.” Semua yang ada di sana tertawa melihat reaksi Kiara saat Raul menggodanya. “Ngomong-ngomong, Ki. Tadi pak Adam nanyain nomor kamar rawat lo. Katanya dia mau jengukin lo kalo sempet. Soalnya gue denger-denger dia ada perjalanan bisnis ke Palembang tiga hari.” Nina baru teringat soal Adam yang menanyakan nomor kamar Kiara. Sementara Kiara menanggapi Nina dengan ekspresi datar. “Bagus malah kalo nggak jadi, Kak. Gue males liat muka dia. Ketemu dia selalu ngingetin gue sama deadline yang numpuk.” “Udah, nggak usah pikirin soal deadline. Gue juga yakin dia nggak bakalan jadi ke sini.” *** Empat hari berlalu sejak teman-temannya datang menjenguk. Total satu minggu Kiara tidak hadir di kantor, juga tidak berurusan dengan managernya yang super menyebalkan. Setidaknya selama satu minggu Kiara bisa merasakan sedikit kebebasan. Dia tidak berada dalam tekanan Adam. Sayang sekali kenyamanannya harus terganggu karena dia mendapati pesan dari lelaki itu di layar ponselnya. Sebelum membaca pesan dari Adam, Kiara menghela napas lebih dulu. Dia yakin, pesan dari managernya itu tidak jauh-jauh dari pekerjaan. “Kiara, kamu sudah satu minggu tidak masuk kantor. Apa kamu belum sembuh juga? Ini bukan alasan kamu untuk menghindari pekerjaan dari saya, kan?” Baru satu pesan saja sudah berhasil membuat Kiara menjadi dongkol. Bagaimana mungkin, ada manusia yang tipis rasa simpati seperti Adam. Kalau bisa menentukan, Kiara juga tidak mau berlama-lama berada di rumah sakit. Dia lebih baik berada di kantor, walaupun harus berhadapan dengan bos menyebalkan seperti Adam. “Maaf, Pak. Saya memang belum sembuh.” Kiara membalas singkat. “Masalahnya dua kerjaan kamu ada yang deadline-nya lusa. Kamu bisa buka laptop, kan? Tolong kerjain sekarang, ya. Saya sebenarnya tidak berniat menyuruh kamu, tapi cuma kamu yang bisa menyelesaikan tugas ini. Saya tidak yakin dengan karyawan lain.” Pas. Sesuai dengan tebakan Kiara, Adam menghubunginya memang untuk urusan pekerjaan. Tapi lagi-lagi permintaan lelaki itu sungguh memberatkannya. Kiara sekarang tengah terbaring di rumah sakit, bukan sedang melakukan liburan mewah. “Saya berangkat ke rumah sakit nggak bawa laptop, Pak. Jadi nanti saya minta sepupu saya untuk membawakannya ke sini. Saya akan coba kerjakan pelan-pelan." "Bagus. Hari ini bisa kelar, kan?” Pertanyaan itu membuat Kiara ingin melempar ponselnya. Tapi untungnya dia sadar kalau dia bukan keturunan sultan. Dia harus tetap bersabar dengan sikap Adam yang semakin tidak terarah. “Kalau hari ini nggak bakalan kelar, Pak. Paling besok saya usahakan.” “Ya sudah, oke. Besok langsung kirim ke saya, ya. Kalau bisa pagi-pagi kamu kirimnya.” Hasrat Kiara untuk mencekik bosnya tiba-tiba timbul. Gadis itu semakin yakin kalau Adam memang tidak punya hati. “Baik, Pak.” Walaupun tidak terlalu yakin, Kiara terpaksa mengirim dua kata itu supaya Adam segera enyah dari kolom pesannya. Setelah obrolan via pesan dengan bosnya selesai, Kiara segera menghubungi sepupunya untuk meminta tolong mengantarkan laptop ke rumah sakit. Keesokan paginya, tepat jam enam pagi dia mendapatkan pesan dari Adam. Catat, jam enam pagi. Bos mana yang akan membicarakan soal pekerjaan di jam sepagi itu? Hanya Adam yang bisa melakukannya. “Pagi, Kiara. Bagaimana? Sudah selesai kerjaan kamu?” Bagaimana? Apa pertanyaan Adam sukses membuat kalian emosi juga seperti Kiara? Jam enam pagi dia sudah menagih deadline. Benar-benar bos yang tidak waras! “Setengahnya masih saya kerjakan, Pak.” Kiara membalas sambil menahan emosi. “Oke. Tiga jam dari sekarang bisa selesai, kan?” “Saya usahakan ya, Pak. Saya akan kerjakan secepat yang saya bisa. Semoga bisa selesai sesuai waktu yang Bapak inginkan.” “Baik, saya akan tagih lagi nanti setelah tiga jam. Kerjakan dengan benar, Kiara. Saya tidak menerima alasan sakit sebagai tameng kesalahan yang kamu buat. Kamu mengerti?” “Iya, Pak. Saya mengerti.” “Saya akan tagih nanti setelah tiga jam. Gampang banget ya, jadi Adam. Main tagih-tagih. Dia pikir enak apa, ngerjain kerjaan sambil ngerasain badan sakit. Bos biadab!” umpat Kiara sambil memencet kuat tombol keyboard-nya penuh emosi.Setelah percintaan panas yang emosional di sofa ruang kerja, Kiara menyandarkan kepalanya di dada bidang Adam yang telanjang. Detak jantung Adam yang maraton perlahan mulai stabil. Jemari tegap Adam tak henti-hentinya membelai lembut bahu mulus Kiara yang hanya tertutup sebagian oleh kemeja kerja yang berantakan."Mas... gimana kalau Mbak Clarissa cerita ke Ibu kamu soal kejadian tadi?" bisik Kiara lirih, menatap kancing kemeja Adam yang tergeletak di lantai.Adam menunduk, mencium kening Kiara dengan penuh kehangatan. "Biarkan saja dia cerita. Mau Mama tahu atau seluruh keluarga saya tahu, saya tidak peduli lagi, Kiara.""Tapi aku takut kamu ada masalah sama Ibu kamu, Mas. Lagian kamu kan sengaja nolak jadi pewaris perusahaan keluarga dan pilih kerja jadi manajer di kantor ini cuma demi bisa dekat dan mengejar aku... Aku nggak mau gara-gara aku, hubungan kamu sama keluarga makin hancur," kata Kiara penuh cemas dan rasa bersalah.Adam terkekeh pelan, lalu menangkup kedua pipi Kia
Keesokan harinya, suasana di kantor cabang berjalan seperti biasa. Setelah kepergian Zaki, ruangan divisi operasional terasa lebih tenang. Kiara duduk di mejanya sambil fokus memeriksa lembar kerja bulanan, menyela waktu dengan sesekali menyeruput dolce latte favoritnya."Ki, ntar makan siang bareng ke lantai bawah, yuk?" tawar Nina dari mejanya."Boleh, Kak Nin. Kebetulan hari ini laporanku udah hampir beres," jawab Kiara tersenyum ramah."Gue ikut dong, perut gue udah bunyi nih," sahut Raul sembari meluruskan badannya di kursi.Arga yang duduk di samping Raul menoleh dan terkekeh. "Masih jam sepuluh lewat, Ul. Rakus amat lo.""Yee, sarapan gue cuma roti tawar satu lembar, Ga. Wajar lapar!" seloroh Raul yang memancing tawa kecil dari Nina dan Kiara.Namun, keceriaan kecil itu mendadak terhenti ketika langkah kaki berbalut sepatu hak tinggi melintasi koridor luar. Suara ketukan heels yang nyaring beradu dengan lantai marmer membuat beberapa staf menoleh ke arah pintu masuk divi
Kabar dipecatnya Zaki secara mendadak menyebar cepat di antara karyawan divisi operasional. Nina dan Raul tampak kaget, sementara Arga hanya tersenyum tipis pura-pura tidak tahu apa-apa saat rekan-rekannya kasak-kusuk membicarakan kepergian anak baru itu.Di dalam ruang kerja manajer yang tertutup rapat, Adam berdiri di dekat jendela besar dengan ponsel menempel di telinganya. Wajahnya mengeras, penuh amarah yang ditahan.Sambungan telepon akhirnya diangkat."Adam? Ada apa kamu telepon Mama siang-siang gini?" suara Ibu Jihan terdengar santai dari seberang sana, seolah tanpa beban."Maksud Mama apa ngirim Zaki ke divisi aku?" tembak Adam langsung tanpa basa-basi. Suaranya berat dan sangat dingin.Hening sejenak di seberang telepon sebelum Jihan terkekeh pelan. "Oh, jadi kamu sudah tahu? Ya bagus kalau begitu. Mama cuma mau kasih kamu pelajaran, Adam. Pria bayaran seperti Zaki saja bisa dengan mudah mendekati cewek itu. Apa kamu yakin dia setia sama kamu?""Zaki sudah aku pecat h
Setelah ketegangan yang mereda di balik pintu ruang kerja yang terkunci, Kiara dan Adam duduk berdampingan di sofa panjang. Suasana di dalam ruangan terasa jauh lebih tenang, meskipun sisa-sisa emosi akibat video jebakan Zaki tadi masih menyisakan kekesalan di dada mereka berdua.Kiara menyesap sisa dolce latte miliknya yang sudah agak dingin, lalu menatap Adam yang sedang melipat lengan kemejanya."Mas, kita nggak boleh tinggal diam aja. Kalau dibiarin, Zaki bakal terus cari cara buat adu domba kita," ucap Kiara serius, matanya menatap tajam ke arah depan.Adam mengangguk pelan. Jemari tegapnya meraih tangan Kiara, mengelusnya lembut untuk memberikan ketenangan. "Kamu benar, Sayang. Saya juga nggak akan biarkan orang suruhan Mama itu terus berkeliaran di dekat kamu. Tapi kita harus cari cara yang pas buat jebak dia balik.""Maksud kamu?" tanya Kiara penasaran."Kita harus cari bukti kalau Zaki sengaja main kotor. Rekaman video kemarin itu bukti kuat kalau dia punya niat jahat.
Keesokan harinya, pagi di kantor terasa agak beda. Kiara sengaja datang lebih awal untuk menyelesaikan beberapa berkas laporan yang sempat tertunda kemarin. Dia meminum dolce latte hangatnya pelan-pelan sambil menatap layar komputer, menikmati rasa manis kopi berpadu susu yang sangat dia sukai.Suasana ruangan masih sangat sepi. Hanya ada Kiara dan Zaki yang kebetulan juga baru sampai di mejanya.Zaki melirik Kiara yang sedang sibuk mengetik sambil menyeruput kopinya. Lelaki itu mengambil sebuah map tebal berwarna merah, lalu melangkah pelan mendekati meja Kiara. Di saku kemejanya, Zaki sudah menyelipkan sebuah pena kecil yang sebenarnya dilengkapi kamera tersembunyi berteknologi canggih—pesanan khusus dari Ibu Jihan."Selamat pagi, Kiara," sapa Zaki dengan nada suara yang sengaja dibuat sehangat dan selembut mungkin.Kiara mendongak, matanya langsung memancar dingin. "Pagi, Zaki. Ada apa lagi?""Ini ada berkas laporan anggaran divisi dari pusat yang butuh pemeriksaan kamu," uja
Atmospere di area meja divisi seketika mencekam. Rahang Adam mengeras tajam saat melihat tangan Zaki sempat memegang jemari Kiara. Langkah kakinya yang berat bergerak cepat mendekati Zaki, memotong jarak di antara mereka."Zaki!" panggil Adam dengan suara bariton yang menggema di sudut ruangan.Seluruh karyawan yang ada di situ—Kak Nina, Kak Aul, dan Kak Arga—sontak terdiam kaku. Mereka menahan napas melihat pancaran emosi yang begitu kentara dari wajah manajer mereka.Zaki berbalik santai, memasang raut muka polos yang sudah dilatihnya dengan baik. "Iya, Pak Adam? Ada yang bisa saya bantu?""Apa yang baru saja kamu lakukan pada Kiara?" desis Adam penuh intimidasi. Tangannya mengepal erat di sisi tubuh, menahan dorongan kuat untuk melayangkan pukulan langsung ke wajah pria bayaran itu."Saya cuma bermaksud membantu mengambilkan map Kiara yang jatuh, Pak. Saya tidak sengaja," jawab Zaki lirih dengan nada membela diri, membuat dirinya terlihat seperti korban di mata rekan-rekan ya
“Ini sudah tiga jam. Apa kerjaan kamu sudah selesai, Kiara?” Tepat tiga jam sejak pesan terakhir yang dikirimkan oleh Adam, Kiara kembali mendapati nama lelaki itu muncul di layer ponselnya sebagai pengirim pesan. Dia tentu menagih sesuai kesanggupan Kiara. Beruntung, lima menit lalu semua pekerja
“Jadi tadi siapa yang kirim kopi?” Nina tampaknya sangat penasaran. Dia langsung menanyakan itu saat jam istirahat mereka tiba.“Kalo lo ragu buat minum mending kagak usah diminum, deh. Takutnya ada racunnya.” Raul ikut menyahut.“Iya bener. Selain racun, bisa jadi kopi itu ada peletnya. Ngeri.” Ar
“Gue kepikiran sama Kiara. Dari tadi di ruangan pak Devil kagak keluar-keluar. Jangan-jangan dia pingsan di sana,” ucap Raul yang membalikkan kursinya ke arah rekan kerjanya, merekaa juga melakukan hal yang sama.Sebenarnya pekerjaan mereka sudah selesai, tetapi sebagai bentuk solidaritas, mereka m
“Kiara, hari ini akan ada tamu penting untuk saya. Tolong kamu sambut dia seramah mungkin. Namanya Farukh. Setelah dia datang, langsung antar saja ke ruang meeting. Saya akan menunggu di sana. Jangan lupa bilang ke OB untuk menyiapkan minuman.”“Jangan sampai buat dia menunggu. Dia sangat penting u







