Share

Kelimpungan

Penulis: Erumanstory
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-29 14:37:06

“Ini sudah tiga jam. Apa kerjaan kamu sudah selesai, Kiara?” 

Tepat tiga jam sejak pesan terakhir yang dikirimkan oleh Adam, Kiara kembali mendapati nama lelaki itu muncul di layer ponselnya sebagai pengirim pesan. Dia tentu menagih sesuai kesanggupan Kiara. Beruntung, lima menit lalu semua pekerjaan yang diminta oleh Adam sudah selesai dia kerjakan.

“Sudah, Pak. Kebetulan sudah saya selesaikan beberapa menit lalu. Sebentar, saya akan kirimkan file-nya ke Bapak.” 

“(Daftar Visa Aktif Karyawan . docx).”

“(Akumulasi Data Kehadiran Karyawan .docx).”

“Oke.”

Kiara menatap kesal respon Adam setelah dia mengirimkan dua file yang diminta oleh lelaki itu. Lelaki itu seakan tidak ada inisiatif untuk berterima kasih atas kerja keras Kiara. Padahal bosnya itu tahu kalau kondisinya sekarang sedang sakit, dan tidak seharusnya menghandle pekerjaan.

“Susah banget ya buat lo ngucapin makasih? Lo manusia bukan sih, Dam? Sumpah, gue kesel banget sama lo! Kalo nggak inget lo atasan gue, udah gue racun lo biar mampus!” Kiara mengomel sendiri meluapkan kekesalan yang menyelimuti perasaannya.

Baru saja dia berniat untuk merebahkan diri, notifikasi ponselnya kembali berisik. Sudah bisa dipastikan ada seseorang yang mengirimkan pesan beruntun ke ponselnya. Mau tidak mau, Kiara kembali menegakkan dirinya untuk mengecek siapa yang mengirimkan pesan sebanyak itu terhadap dirinya.

“Kiara.”

“Data kehadiran yang kamu kirimkan ke saya ini ada yang salah. Raul cuti selama dua belas hari, terus ini kenapa kamu masukin datanya dia hanya libur sepuluh hari? Jangan mentang-mentang dia satu divisi sama kamu, terus kamu seenaknya menutupi hari libur dia, ya!”

“Tolong cepat kamu revisi.” 

“Saya butuh sekarang. Saya harus segera menginput datanya ke pusat.”

“Kiara! Jawab saya.”

“Itu kamu tinggal ganti saja tanggal masuknya. Gampang, kan?”

“Cepat respon saya, Kiara!” 

“Jangan sampai saya meragukan kinerja kamu karena kamu tidak tanggung jawab kali ini.”

Tidak adanya jawaban dari Kiara membuat Adam menghubungi via telepon. Tapi Kiara sengaja mengabaikan panggilan lelaki itu. Hanya soal tanggal, itu hal yang sepele. Seharusnya Adam sendiri bisa mengatasi tanpa harus meneror Kiara seakan gadis itu melakukan kesalahan yang besar.

Lima panggilan sudah Adam lakukan, tetapi Kiara tidak ada niat untuk menjawab. Gadis itu hanya menatap ponselnya sambil menikmati nada dering yang dia pasang. Kiara tersenyum senang. Dia bisa membayangkan bagaimana ekspresi wajah kesal Adam di ujung sana.

“Kamu membaca pesan saya. Kamu juga sedang online, Kiara. Kenapa kamu mengabaikan semua panggilan saya?”

“Gunanya kamu dapat tunjangan paket internet setiap bulan itu apa? Percuma kantor memfasilitasi kamu kalau atasan kamu menghubungi saja kamu tidak berniat untuk memberikan respon!”

Kalimat yang dikirimkan oleh Adam barusan sangat membuat Kiara menjadi tidak nyaman. Tadinya Kiara berniat untuk mengalah saja, dan membiarkan Adam mengoceh memenuhi kolom pesannya. Hanya saja, pikirannya berubah saat membaca pesan terakhir yang dikirimkan Adam. Lelaki itu benar-benar membuatnya kalap. Jari-jari Kiara pun akhirnya menari dengan lancar di atas keyboard ponselnya.

“Pak Adam, saya tidak bisa diam lagi setelah apa yang Bapak katakan ke saya. Bapak sendiri tahu bukan, bagaimana keadaan saya? Saya sekarang ini masih diopname, Pak.”

“Tangan saya sekarang posisinya masih diinfus, Pak. Tubuh saya juga tidak bertenaga.”

“Seharusnya sekarang saya istirahat dengan tenang untuk memulihkan kondisi saya, tetapi saya tetap mau mengerjakan apa yang Bapak minta atas dasar rasa tanggung jawab saya terhadap pekerjaan saya."

"Bapak kalau merasa keberatan dengan tunjangan internet saya silakan diambil saja, Pak. Saya tidak masalah. Toh, tanpa tunjangan internet dari kantor saya juga bisa beli kuota sendiri.”

“Asal Bapak tahu, ya. Saya lebih baik tidak menerima tunjangan, daripada harus merespon pesan atau panggilan Bapak yang kadang tidak tahu waktu!”

Setelah dirasa puas dengan semua pesan yang dia kirimkan ke Adam, Kiara meletakkan ponselnya di atas nakas. Dia memutuskan untuk merebahkan diri. Mengabaikan nada pesannya yang lagi-lagi memekakkan telinga. Tidak ada niat Kiara untuk melihat dari siapa pesan itu datang, karena dia sudah tahu, semua pesan itu pasti dari Adam.

“Kiara, kenapa kamu marah-marah ke saya? Saya tidak mengatakan ingin mencabut tunjangan kuota internet kamu. Saya hanya membahas soal kekeliruan kamu dalam pendataan.”

“Saya hanya meminta kamu untuk merevisi pekerjaan yang kamu kirimkan. Mengapa kamu jadi merembet ke mana-mana?”

“Sepertinya kamu salah paham sama saya. Maaf deh, kalau saya salah.”

“Kalau kamu masih sakit, istirahat saja. Saya akan membantu kamu merevisi data yang salah. Kamu tidak perlu khawatir.”

Kiara menutup telinganya dengan kedua telapak tangan. Dia berharap tidak ada lagi nada pesan yang datang. Kiara hanya takut emosinya semakin tidak terkendali kalau kembali membaca pesan yang dikirimkan oleh Adam.

Sementara itu, Adam di ruangannya tengah menunggu balasan pesan dari Kiara. Tapi kali ini pesannya bahkan tidak dibaca oleh karyawannya itu. Adam memutuskan untuk menghubungi Nina. Tentu saja dia ingin menanyakan beberapa hal tentang Kiara.

“Nina, apa kamu sedang sibuk? Saya ingin menanyakan beberapa hal ke kamu.”

Lelaki itu dengan mantap mengirimkan kalimat itu ke Nina. Dia memilih wanita itu karena dia beberapa kali memergoki Nina bersama dengan Kiara ke kantin. Selain itu, mereka juga rekan satu divisi. Adam berpikir kalau Nina pasti mengetahui banyak hal tentang Kiara.

“Selamat pagi, Pak Adam. Saya sedang tidak terlalu sibuk. Kalau Bapak memang mau tanya-tanya, silakan.” 

Jawaban Nina membuat Adam tersenyum. Dia tentu saja langsung mengetik apa saja yang ingin dia tanyakan seputar Kiara.

“Saya mau tanya soal Kiara ke kamu.”

“Kenapa dia mendadak jadi emosian? Tadi saya mengirimkan pesan ke dia dengan baik-baik, tetapi dia malah merespon pesan saya dengan emosi.”

“Apa dia sedang ada masalah belakangan ini?”

“Padahal selama ini, dia tidak pernah marah-marah ke saya. Dia selalu lembut, dan menanggapi pesan saya dengan sabar.”

Adam menatap layer ponselnya dengan antusias. Dia sangat menunggu jawaban yang akan diberikan oleh Nina. Lelaki itu berharap jawaban Nina mampu menjawab rasa penasarannya tentang sikap Kiara baru saja.

“Mungkin karena Kiaranya lagi nggak mood aja, Pak. Emosinya lagi di luar kendali.”

“Wajar juga, bukan? Dia sedang sakit, pasti ada banyak hal yang mempengaruhi emosinya, Pak.”

“Keadaan Kiara juga nggak lebih baik dari awal dia masuk ke rumah sakit. Mungkin juga itu salah satu faktor yang membuatnya mudah tersulut emosi.”

“Ada baiknya Bapak kasih dia ruang buat istirahat, Pak. Takutnya kalo Bapak maksa buat komunikasi terus, dia makin banyak pikiran, dan sakitnya makin parah.”

Adam manggut-manggut setelah membaca balasan dari Nina. Dia memang terlalu banyak mengirimkan pesan pada Kiara. Ada sedikit rasa bersalah yang terselip di hati Adam.

“Sepertinya kamu ada benarnya, Nin. Saya harus memberi ruang pada Kiara supaya dia bisa fokus pada kesehatannya.”

“Tadi saya hanya kaget, dia tiba-tiba marah-marah ke saya.”

“Namanya juga anak muda, Pak. Pasti emosinya masih labil. Ditambah lagi kondisinya sakit, jadi ya gitu.”

“Dia hanya tiga tahun lebih muda dibanding saya, jadi seharusnya dia sudah bisa mengendalikan emosinya.”

“Ya memang, Pak. Tapi kan kedewasaan seseorang nggak bisa diukur dari jumlah usia. Bapak yang lebih dewasa sekaligus atasan dia harusnya bisa memaklumi itu. Biar nanti saya bantu bicara sama dia. Saya akan cari tahu alasan sebenarnya tentang mengapa dia marah-marah ke Bapak.”

“Baiklah, terima kasih banyak, Nina. Tolong sampaikan permintaan maaf saya juga ke dia, ya.”

“Baik, Pak.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jerat Bos Galak Posesif    Mimpi Basah

    "Ki, sorry, bukan niat gue buat ikut campur, cuma tadi pak Adam chat gue soal Lo. Emang Lo diapain lagi sama dia sampe Lo marah? Gue jadi kepo. Betewe pak Adam kayaknya kelimpungan banget diambekin sama Lo. Keg ngerasa kehilangan gitu."Kiara menghela napas membaca pesan dari Nina. Dia tidak mungkin sampai mendiamkan Adam kalau lelaki itu tidak keterlaluan. Di saat badannya butuh istirahat, lelaki itu tidak memiliki simpati sedikitpun. "Jelas kelimpungan, gak punya temen debat dia. Dia juga pasti lagi mikirin tentang apa lagi yang bisa gue kerjain supaya gue nggak nganggur selama sakit. Lo bayangin aja, Kak... masa dia maksa gue kerja di saat gue masih dirawat gini? Punya hati nggak sih? Gue jadi kesel sama dia. Biar aja, kali ini gue mau kasih dia pelajaran. Enak aja dia ngebabuin gue mulu!" balas Kiara panjang lebar. "Ck, keterlaluan sih pak Adam. Pantesan Lo sampe marah ke dia. Lagian apa salahnya sih dia sesekali kerjain sendiri, apalagi Lo lagi sakit. Gue juga heran, kok ada ma

  • Jerat Bos Galak Posesif    Kelimpungan

    “Ini sudah tiga jam. Apa kerjaan kamu sudah selesai, Kiara?” Tepat tiga jam sejak pesan terakhir yang dikirimkan oleh Adam, Kiara kembali mendapati nama lelaki itu muncul di layer ponselnya sebagai pengirim pesan. Dia tentu menagih sesuai kesanggupan Kiara. Beruntung, lima menit lalu semua pekerjaan yang diminta oleh Adam sudah selesai dia kerjakan.“Sudah, Pak. Kebetulan sudah saya selesaikan beberapa menit lalu. Sebentar, saya akan kirimkan file-nya ke Bapak.” “(Daftar Visa Aktif Karyawan . docx).”“(Akumulasi Data Kehadiran Karyawan .docx).”“Oke.”Kiara menatap kesal respon Adam setelah dia mengirimkan dua file yang diminta oleh lelaki itu. Lelaki itu seakan tidak ada inisiatif untuk berterima kasih atas kerja keras Kiara. Padahal bosnya itu tahu kalau kondisinya sekarang sedang sakit, dan tidak seharusnya menghandle pekerjaan.“Susah banget ya buat lo ngucapin makasih? Lo manusia bukan sih, Dam? Sumpah, gue kesel banget sama lo! Kalo nggak inget lo atasan gue, udah gue racun lo

  • Jerat Bos Galak Posesif    Di kejar Deadline

    Sudah tiga hari berlalu, tetapi Kiara belum juga bisa keluar dari rumah sakit. Kondisinya masih lumayan mengkhawatirkan. Hal itu tentu saja mengundang simpati dari rekan-rekan kerjanya. Mereka kembali datang ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan Kiara yang terkini. Tentu saja kehadiran mereka membuat Kiara merasa senang. Setidaknya, dia memiliki mereka yang mau menjadi temannya dalam suka, dan duka.“Udah tiga hari lo di sini, Ki. Keadaan lo gimana? Masih belum ada perubahan, ya? Gue kangen lo. Kantor sepi kalo nggak ada lo,” ucap Nina yang tengah duduk di pinggiran ranjang tempat Kiara dirawat.“Iya, Ki. Kita khawatirin lo banget. Apalagi semenjak kita jenguk waktu itu, lo nggak ada kasih kabar apa-apa.” Arga menambahkan.“Karena itu semua, gue ngajak mereka buat dateng ke sini lagi jengukin lo. Kita nggak bisa tenang kalo belum tau keadaan lo secara langsung.” Susan ikut bicara.Kiara tersenyum, menatap teman-temannya satu per satu. Mereka satu-satunya alasan dia betah di kantor.

  • Jerat Bos Galak Posesif    Tips Kocak

    “Jadi tadi siapa yang kirim kopi?” Nina tampaknya sangat penasaran. Dia langsung menanyakan itu saat jam istirahat mereka tiba.“Kalo lo ragu buat minum mending kagak usah diminum, deh. Takutnya ada racunnya.” Raul ikut menyahut.“Iya bener. Selain racun, bisa jadi kopi itu ada peletnya. Ngeri.” Arga menambahkan.“Apaan deh kalian. Ini kopi ternyata dari pak Adam.” Kiara buka suara. Dia tidak mau semua teman-temannya semakin rebut memperdebatkan tentang si pengirim kopi yang sekarang isinya tinggal setengah itu.“What? Serius? Gue asal nebak aja padahal tadi. Cie … fix pak Adam suka sama lo, Ki. Jangan lupa ntar bagi PJ kalo kalian jadian.” Arga langsung menghujani Kiara dengan ejekan. Gadis itu tentu sudah sangat biasa dengan sikap teman satu divisinya yang satu itu.“Nggak usah bikin gossip deh, Kak. Tadi itu pak Adam kirim kopi karena dia merasa bersalah doang, udah bikin gue lembur dengerin semua omelan dia. Mana mungkin dia suka gue. Suk amah disayang-sayang, bukannya diomelin ti

  • Jerat Bos Galak Posesif    Kopi Misterius

    “Gue kepikiran sama Kiara. Dari tadi di ruangan pak Devil kagak keluar-keluar. Jangan-jangan dia pingsan di sana,” ucap Raul yang membalikkan kursinya ke arah rekan kerjanya, merekaa juga melakukan hal yang sama.Sebenarnya pekerjaan mereka sudah selesai, tetapi sebagai bentuk solidaritas, mereka menunggu Kiara sampai kembali ke ruangan. Mereka juga berniat untuk pulang bareng-bareng.“Udah gue bilang, kan? Pak Adam kalo manggil ke ruangannya nggak mungkin cuma bentar. Dia bakalan ceramah dari Sabang sampe Merauke. Kuping nggak cuma ampe panas, tapi ampe keluar asep.” Arga menyahut.“Kita doakan aja yang terbaik, moga si Kiara keluar dari ruangan pak Adam dalam keadaan sehat selamat, tanpa kekurangan apapun.” Nina ikut bersuara.“Lo kira pak Adam zombie? Nggak mungkin juga dia ngapa-ngapain Kiara.”Saat mereka asyik membicarakan Kiara, yang dibicarakan tiba-tiba muncul. Gadis itu masuk ke dalam ruangan dalam keadaan kacau. Bukan hanya moodnya, dia juga terlihat sangat Lelah. Mau bagai

  • Jerat Bos Galak Posesif    Masalah Baru

    “Kiara, hari ini akan ada tamu penting untuk saya. Tolong kamu sambut dia seramah mungkin. Namanya Farukh. Setelah dia datang, langsung antar saja ke ruang meeting. Saya akan menunggu di sana. Jangan lupa bilang ke OB untuk menyiapkan minuman.”“Jangan sampai buat dia menunggu. Dia sangat penting untuk saya. Suplier dari Malaysia. Saya tidak mau dia sampai kecewa.” Kiara membaca pesan yang dikirimkan Adam, dengan jari-jari masih menari di atas keyboard. Dia sedang menyusun file yang dibutuhkan untuk perpanjangan visa. Dia hanya menjawab singkat dengan mengiyakan permintaan Adam. Dia kira jawaban itu cukup untuk Bosnya. Tapi tentu saja tidak semudah itu. Lima menit berselang, Adam melakukan panggilan ke nomornya, sementara datanya juga belum selesai diketik. Kiara memilih mengabaikan panggilan dari Adam, hingga lima kali.“Kiara! Kamu benar-benar tidak mengindahkan apa yang saya katakan! Itu pak Farukh sudah menunggu di bawah, kamu belum menginfokan ke resepsionis atau security? Benar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status