แชร์

Kopi Misterius

ผู้เขียน: Erumanstory
last update วันที่เผยแพร่: 2025-12-14 12:45:23

“Gue kepikiran sama Kiara. Dari tadi di ruangan pak Devil kagak keluar-keluar. Jangan-jangan dia pingsan di sana,” ucap Raul yang membalikkan kursinya ke arah rekan kerjanya, merekaa juga melakukan hal yang sama.

Sebenarnya pekerjaan mereka sudah selesai, tetapi sebagai bentuk solidaritas, mereka menunggu Kiara sampai kembali ke ruangan. Mereka juga berniat untuk pulang bareng-bareng.

“Udah gue bilang, kan? Pak Adam kalo manggil ke ruangannya nggak mungkin cuma bentar. Dia bakalan ceramah dari Sabang sampe Merauke. Kuping nggak cuma ampe panas, tapi ampe keluar asep.” Arga menyahut.

“Kita doakan aja yang terbaik, moga si Kiara keluar dari ruangan pak Adam dalam keadaan sehat selamat, tanpa kekurangan apapun.” Nina ikut bersuara.

“Lo kira pak Adam zombie? Nggak mungkin juga dia ngapa-ngapain Kiara.”

Saat mereka asyik membicarakan Kiara, yang dibicarakan tiba-tiba muncul. Gadis itu masuk ke dalam ruangan dalam keadaan kacau. Bukan hanya moodnya, dia juga terlihat sangat Lelah. Mau bagaimana lagi, ini seharusnya dia sudah pulang dari dua jam lalu, tetapi permintaan Adam membuatnya harus pulang terlambat.

“Guys, sumpah, capek banget gue hari ini. Pak Adam Devil nyeramahin gue abis-abisan. Dia bahkan sempet bentak gue beberapa kali. Gila, rasanya gue pengen cepet resign. Tapi gue mikir lagi, kalo nggak sampe setahun gue resign, pasti reputasi gue jelek ntar. Masalahnya, gue nggak yakin masih bisa tahan sama sikapnya yang ngeselin itu. Coba aja gitu, mendadak ada seseorang yang gantiin dia. Gue bakalan sungkem sama tu orang.” Kiara mengungkapkan kekesalannya sambal duduk di kursi tempatnya biasa bekerja.

“Tapi ya, Ki. Gue nggak pernah liat pak Adam sekejam ini sama bawahannya. Nina aja diperlakukan normal kayak karyawan pada umumnya. Dia nggak pernah ngomelin Nina sampe segitunya.” Arga mengemukakan pendapatnya.

“Bener juga, sih. Gue juga merhatiin sikapnya pak Adam. Dia kejamnya sama lo doang. Apa jangan-jangan dia ada rasa sama lo, makanya dia selalu cari perhatian sama lo,” celetuk Raul membenarkan apa yang dikatakan oleh Arga.

“Ngawur kalian! Ya mungkin aja pak Devil nggak mau ngelakuin itu ke kak Nina karena dia lebih senior dari gue. Bisa dibilang dia udah ngenal kak Nina dengan baik. Lagian kalo emang suka sama gue, nggak mungkin dia nyusahin gue. Harusnya dia manis-manisin gue.” Kiara menenteng tas kerjanya, dan dia berencana membawanya ke luar ruangan setelah ini.

“Emangnya, kalo pak Adam suka sama lo, lo mau nerima dia?” tanya Nina sambal menaik turunkan alisnya.

“Males banget kak Nin. Gue bisa mati muda punya pasangan kayak dia. Udah dingin, kalo ngomel ngelebihin emak-emak yang punya kosan gue.  Nggak pernah mau salah lagi. Bukan tipe gue banget, iuh!”

“Awas, Ki. Lo kalo benci nggak usah berlebihan. Takutnya, ntar jodoh lo sama pak Adam.”

“Nggak mungkin! Udah yuk balik, guys.”

Kiara langsung berdiri, dan melangkah ke arah luar ruangan. Diikuti oleh rekan kerjanya yang lain. Tapi beberapa Langkah kemudian, Kiara tiba-tiba berhenti. Membuat teman-temannya pun mengikuti apa yang dilakukannya.

“Emangnya pak Adam belum nikah?” tanyanya kemudian, membuat wajah yang lain tidak setegang saat mereka berhenti semula.

“Astaga, lo mau tau banget? Tapi emang dia belum nikah. Dia tinggal sendirian di apartemennya. Gue pernah nggak sengaja nguping pembicaraan dia sama pak Alex dulu.” Arga memberikan jawaban.

“Pantesan aja setiap hari kayak orang kesurupan. Gue rasa dia kurang kasih sayang. Makanya dia kayak gitu.”

“Ya makanya, lo kasih sayang-sayang dia, biar nggak ngereog lagi,” ledek Nina sambal terkikik.

“Maaf Kak Nin, nggak dulu.”

***

“Hah! Akhirnya gue nyampe kosan. Sialan bener dah itu si bos. Gara-gara dia gue jadi pulang telat. Rasanya gue pengen nyekek dia.” Kiara memukul-mukul kasur tempatnya merebahkan diri sekarang.

Keesokan harinya, Kiara kembali masuk kantor seperti biasa. Dia mencoba melupakan kejadian yang menimpanya kemarin. Berharap, hari ini tidak ada lagi drama antara dirinya dan sang atasan. Walaupun dia tidak terlalu yakin dengan itu. Adam selalu memiliki alasan untuk menceramahinya.

Senyum Kiara merekah saat melihat kopi favoritnya ada di atas meja. Setiap pagi, dia memang selalu memesan kopi untuk menemaninya mengerjakan tugas kantor. Dia tentu sangat tersanjung karena menganggap temannya sangat peduli dengan kebiasaannya itu.

“Makasih banget buat siapapun yang mesenin gue kopi. Tau aja gue lagi butuh kopi pagi-pagi gini. Sampe repot-repot mesenin, di taro di atas meja juga. Ntar gue transfer, deh buat gantiin uangnya. Jadi ini siapa tadi yang beliin?” Kiara melemparkan pertanyaan ke semua rekan satu divisinya.

“Bukan gue yang pasti, Ki.” Raul menyahut sambal fokus menghidupkan komputernya.

“Kita semua belum ada yang pesen kopi, Ki. Baru juga nyampe. Tadi kita ketemu di parkiran. Naik juga barengan.” Nina menjelaskan.

“Lah, kalo bukan dari kalian, terus dari siapa, dong?” Kiara menatap teman-temannya dengan tatapan horror.

“Dari pak Adam kali. Cie … cie,” ledek Arga sambal tertawa kecil.

“Nggak mungkin deh, Kak. Manusia nggak punya hati kayak dia mana mungkin kepikiran buat beliin gue kopi.”

“Ya siapa tau, kan? Udahlah, minum aja. Gue yakin itu nggak ada racunnya, Ki.”

Kiara mengiyakan. Dia memilih duduk, dan mulai menghidupkan komputernya. Dia ingin memeriksa semua file yang harus dia kerjakan. Hari ini dia berusaha semaksimal mungkin untuk tidak melakukan kesalahan. Kebersamaannya dengan Adam dalam ruangan kemarin membuatnya sedikit trauma.

Tiba-tiba saja nada pesan berulang masuk ke dalam ponsel Kiara. Membuat gadis itu segera mengambil benda pipih itu dari dalam tasnya.

“Saya tidak tahu kamu biasa minum kopi di pagi hari atau tidak, tetapi saya tadi berinisiatif membelikan kopi itu untuk kamu. Di minum, ya.”

“Maaf kemarin saya terlalu berlebihan, sampai kamu harus mengambil jam lembur dengan terpaksa untuk mendengar semua  omelan saya.”

“Saya hanya ingin mengingatkan, jangan ulangi lagi hal yang seperti kemarin. Kemarin kamu membuat dua kesalahan yang menurut saya sangat fatal.”

“Kalau dipikir-pikir, wajar sekali bukan, kalau saya menegur kamu?”

Kiara membaca pesan dari bosnya itu berulang kali. Dia lumayan senang mendapatkan perhatian dari Adam, tetapi di sisi lain dia juga kesal karena bosnya itu ternyata masih saja merasa dirinya benar atas semua yang dilakukannya kemarin.

"Gue nggak tau harus seneng atau sedih kalo begini. Seneng, karena dia akhirnya mau minta maaf, tapi gue juga kesel karena dia masih nyalahin gue juga soal kemarin. Dasar bos nyebelin!” umpat Kiara kesal.

Dia akhirnya mengetik jawaban untuk semua pesan yang bosnya kirimkan. Berharap semua balasannya membuat sang atasan menjadi lega.

“Oh, ternyata kopinya dari bapak? Terima kasih banyak, Pak. Seharusnya bapak nggak perlu repot-repot melakukan ini.”

“Baik, pak. Saya akan akan berusaha menjadi yang lebih baik kedepannya. Sekali lagi terima kasih.”

Setelah dirasa cukup, Kiara meletakkan ponselnya ke atas meja. Dia menatap kopi yang ada di hadapannya, mengulurkan tangannya untuk mengambil cup kopi tersebut, dan meminum isinya perlahan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Jerat Bos Galak Posesif    Jangan Dekati Dia!

    Mesin mobil sedan mewah milik Adam menderu halus membelah kemacetan Jakarta yang mulai mereda di malam hari. Di dalam kabin yang kedap suara itu, suasana terasa sedikit mencekam. Adam menggenggam kemudi dengan erat, buku-buku jarinya memutih. Sesekali matanya melirik ke arah kaca spion tengah, lalu beralih pada Kiara yang duduk tenang di sampingnya sambil menatap lampu-lampu kota di balik jendela.​Pikiran Adam masih tertahan pada kejadian di kantor tadi. Bayangan Zaki yang berdiri begitu dekat dengan Kiara, serta cara lelaki baru itu menatap kekasihnya, terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.​"Saya tidak suka cara lelaki itu menatapmu, Kiara," ujar Adam tiba-tiba. Suaranya berat, memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti mereka.​Kiara menoleh, sedikit terkejut namun kemudian menghela napas panjang. Dia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini sejak Adam menjemputnya dengan wajah ditekuk. "Siapa? Zaki? Dia cuma staf baru, Mas. Dia hanya berusaha bersikap sopan pada su

  • Jerat Bos Galak Posesif    Usaha Jihan

    "Ini DP dari saya, lima puluh juta rupiah. Saya sudah memasukkan kamu ke perusahaan tempat anak saya bekerja. Namanya Adam. Dia manager di sana. Tugas kamu adalah mendekati Kiara, seorang supervisor di sana. Buat wanita itu jatuh cinta sama kamu. Saya mau anak saya kembali fokus ke perusahaan keluarga kami, dan menggantikan papanya sebagai pewaris. Kalau kamu berhasil memisahkan anak saya dari wanita miskin itu, saya akan menambahkan lima puluh juta lagi." Jihan menyodorkan sebuah amplop coklat pada lelaki muda dengan penampilan perlente di hadapannya. Dia sengaja melakukan itu supaya Adam dan Kiara berpisah. Jihan tidak mau Adam fokus mengejar Kiara sampai memilih bekerja di perusahaan orang lain. Terutama karena status sosial Kiara yang menurut Jihan tidak layak menjadi kandidat menantunya. "Ibu tenang saja, saya akan melakukan tugas ini dengan baik. Dengan wajah saya yang rupawan, saya yakin saya akan bisa dengan mudah menaklukan hati Kiara. Saya sudah bertahun-tahun berprofesi s

  • Jerat Bos Galak Posesif    Melepas Rindu

    Kiara melangkah santai ke arah ruang kerja Adam. Dia tidak ingin ada yang curiga kalau sekarang hubungannya dengan Adam bukan lagi hanya karyawan dan bos. Setibanya di depan ruangan sang bos, Kiara membuka pintunya pelan, dan masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu. Tiba-tiba Adam menariknya, dan merapatkan tubuh keduanya. Membuat Kiara terkejut setengah mati. "Lama sekali, saya sudah rindu kamu, Kiara," bisik Adam dengan gairah tertahan. "Kita baru pisah beberapa menit, Mas. Bisa-bisanya kamu bilang rindu? Dasar tukang gombal!" Kiara mencubit kecil perut Adam, dan tidak ada penolakan dari lelaki itu. Dia hanya meringis kecil. "Satu detik saja saya sudah rindu, bagaimana dengan beberapa menit? Saya mau melepas rindu dulu sama kamu sebelum memulai pekerjaan," bisik Adam lagi, satu tangannya mengunci pintu, dan langsung membungkam bibir Kiara dengan ciuman. Adam membimbing Kiara mengikuti langkahnya tanpa melepaskan ciuman mereka. Wanita itu tidak menolak. Dia mengikuti kemauan Adam t

  • Jerat Bos Galak Posesif    Mulai Dicurigai

    "Ul, Kiara udah dateng?"tanya Nina ke Raul. Dia baru saja datang, bertanya seperti itu karena di atas meja kerja Kiara sudah ada sekotak donat dan juga kopi. "Belum, Nin. Gue pas sampe belum ada siapa-siapa.""Terus itu... donat sama kopi dari siapa? Lo tau?"cecar Nina lagi. "Ga tau gue. Dari pak Adam kali. Itu kan donat mahal, karyawan biasa kayak kita mah mikir dua kali buat beli, mana di tanggal tua gini, kan?""Eh, iya juga ya. Lo curiga gak sih sama tingkahnya Kiara? Semenjak dia ditugasin keluar sama pak Adam, sekarang dia jarang muring-muring. Dua hari ini dia malah anteng banget. Diminta ke ruangan pak Adam juga nggak sebete biasanya. Apa jangan-jangan mereka udah jadian?" "Gue juga kepikiran gitu, Nin. Tapi... masa iya? Kiara kan anti banget sama pak Adam. Aneh banget nggak sih kalo mereka tiba-tiba jadian? Kayak nggak masuk akal gitu." "Ya siapa tau, kan? Namanya perasaan mah bisa berubah kapan aja, Ul. Lo lupa, di awal masuk kan si Kiara naksir sama pak Adam. Dia ilfeel

  • Jerat Bos Galak Posesif    Perdebatan Dengan Ibu

    Adam baru saja sampai di apartemennya. Sayang sekali, rasa bahagia yang menyelimuti hatinya harus tersingkir sejenak sesaat setelah dia melihat ibunya sudah menunggu di depan pintu sambil bersidekap. Hubungan mereka memang tidak cukup baik. Adam bahkan tidak terlalu nyaman berada di dekat ibunya yang selalu berusaha mengontrolnya sejak kecil. Itu juga yang menjadikan Adam alasan mengapa dia memilih untuk tinggal di apartemen daripada rumah besar milik keluarganya. Dia merasa jauh lebih damai tanpa rongrongan kedua orangtuanya. Adam juga bisa mencapai apa yang diinginkannya tanpa penolakan. Ujungnya memang dia harus berdebat, tetapi setidaknya dia punya sedikit kebebasan. "Ada apa mama ke sini?" tanyanya dingin. "Begitu cara kamu menyambut kedatangan wanita yang sudah mengandung mu selama sembilan bulan, Adam?" balas ibunya sama-sama dingin. "Lalu aku harus apa, Ma? Menyiapkan karpet merah? Membuat pesta terompet?" tanya Adam asal. "Cukup basa-basinya. Mama hanya ingin tahu, kapan

  • Jerat Bos Galak Posesif    Kasmaran

    "Sekarang bagaimana? Kamu menginginkan milik saya memasuki tubuhmu, Kiara Sayang?" tanya Adam setelah momen pelepasan Kiara berakhir. Kiara mengangguk cepat dengan mata sayunya menatap Adam. Begitu menggemaskan. "Tuntun dia, Sayang. Bawa dia memasuki tubuhmu," perintah Adam dengan berbisik. Seperti dihipnotis, Kiara mengikuti apa yang Adam perintahkan. Dia memegang milik kekasihnya itu, dan menuntunnya ke liang kenikmatannya. Kiara mendesis saat perlahan benda itu mulai memasukinya. Adam juga menikmati momen itu sambil menatap ekspresi sensual Kiara."Rasanya penuh banget, Mass," ucap Kiara sesaat setelah milik Adam memasukinya sepenuhnya. "Bergerak, Sayang. Kamu atur sendiri temponya. Dia akan patuh padamu malam ini," bisik Adam lagi. Kiara lagi-lagi patuh. Dia berpegangan erat pada pundak Adam, dan mulai menggerakkan tubuhnya. Desahannya terus terdengar bersahutan dengan derasnya hujan. Menikmati setiap sentuhan milik Adam dalam dirinya. Bukan hanya Adam, nyatanya Kiara juga se

  • Jerat Bos Galak Posesif    Kelimpungan

    “Ini sudah tiga jam. Apa kerjaan kamu sudah selesai, Kiara?” Tepat tiga jam sejak pesan terakhir yang dikirimkan oleh Adam, Kiara kembali mendapati nama lelaki itu muncul di layer ponselnya sebagai pengirim pesan. Dia tentu menagih sesuai kesanggupan Kiara. Beruntung, lima menit lalu semua pekerja

  • Jerat Bos Galak Posesif    Di kejar Deadline

    Sudah tiga hari berlalu, tetapi Kiara belum juga bisa keluar dari rumah sakit. Kondisinya masih lumayan mengkhawatirkan. Hal itu tentu saja mengundang simpati dari rekan-rekan kerjanya. Mereka kembali datang ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan Kiara yang terkini. Tentu saja kehadiran mereka mem

  • Jerat Bos Galak Posesif    Tips Kocak

    “Jadi tadi siapa yang kirim kopi?” Nina tampaknya sangat penasaran. Dia langsung menanyakan itu saat jam istirahat mereka tiba.“Kalo lo ragu buat minum mending kagak usah diminum, deh. Takutnya ada racunnya.” Raul ikut menyahut.“Iya bener. Selain racun, bisa jadi kopi itu ada peletnya. Ngeri.” Ar

  • Jerat Bos Galak Posesif    Masalah Baru

    “Kiara, hari ini akan ada tamu penting untuk saya. Tolong kamu sambut dia seramah mungkin. Namanya Farukh. Setelah dia datang, langsung antar saja ke ruang meeting. Saya akan menunggu di sana. Jangan lupa bilang ke OB untuk menyiapkan minuman.”“Jangan sampai buat dia menunggu. Dia sangat penting u

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status