LOGIN“Gue kepikiran sama Kiara. Dari tadi di ruangan pak Devil kagak keluar-keluar. Jangan-jangan dia pingsan di sana,” ucap Raul yang membalikkan kursinya ke arah rekan kerjanya, merekaa juga melakukan hal yang sama.
Sebenarnya pekerjaan mereka sudah selesai, tetapi sebagai bentuk solidaritas, mereka menunggu Kiara sampai kembali ke ruangan. Mereka juga berniat untuk pulang bareng-bareng. “Udah gue bilang, kan? Pak Adam kalo manggil ke ruangannya nggak mungkin cuma bentar. Dia bakalan ceramah dari Sabang sampe Merauke. Kuping nggak cuma ampe panas, tapi ampe keluar asep.” Arga menyahut. “Kita doakan aja yang terbaik, moga si Kiara keluar dari ruangan pak Adam dalam keadaan sehat selamat, tanpa kekurangan apapun.” Nina ikut bersuara. “Lo kira pak Adam zombie? Nggak mungkin juga dia ngapa-ngapain Kiara.” Saat mereka asyik membicarakan Kiara, yang dibicarakan tiba-tiba muncul. Gadis itu masuk ke dalam ruangan dalam keadaan kacau. Bukan hanya moodnya, dia juga terlihat sangat Lelah. Mau bagaimana lagi, ini seharusnya dia sudah pulang dari dua jam lalu, tetapi permintaan Adam membuatnya harus pulang terlambat. “Guys, sumpah, capek banget gue hari ini. Pak Adam Devil nyeramahin gue abis-abisan. Dia bahkan sempet bentak gue beberapa kali. Gila, rasanya gue pengen cepet resign. Tapi gue mikir lagi, kalo nggak sampe setahun gue resign, pasti reputasi gue jelek ntar. Masalahnya, gue nggak yakin masih bisa tahan sama sikapnya yang ngeselin itu. Coba aja gitu, mendadak ada seseorang yang gantiin dia. Gue bakalan sungkem sama tu orang.” Kiara mengungkapkan kekesalannya sambal duduk di kursi tempatnya biasa bekerja. “Tapi ya, Ki. Gue nggak pernah liat pak Adam sekejam ini sama bawahannya. Nina aja diperlakukan normal kayak karyawan pada umumnya. Dia nggak pernah ngomelin Nina sampe segitunya.” Arga mengemukakan pendapatnya. “Bener juga, sih. Gue juga merhatiin sikapnya pak Adam. Dia kejamnya sama lo doang. Apa jangan-jangan dia ada rasa sama lo, makanya dia selalu cari perhatian sama lo,” celetuk Raul membenarkan apa yang dikatakan oleh Arga. “Ngawur kalian! Ya mungkin aja pak Devil nggak mau ngelakuin itu ke kak Nina karena dia lebih senior dari gue. Bisa dibilang dia udah ngenal kak Nina dengan baik. Lagian kalo emang suka sama gue, nggak mungkin dia nyusahin gue. Harusnya dia manis-manisin gue.” Kiara menenteng tas kerjanya, dan dia berencana membawanya ke luar ruangan setelah ini. “Emangnya, kalo pak Adam suka sama lo, lo mau nerima dia?” tanya Nina sambal menaik turunkan alisnya. “Males banget kak Nin. Gue bisa mati muda punya pasangan kayak dia. Udah dingin, kalo ngomel ngelebihin emak-emak yang punya kosan gue. Nggak pernah mau salah lagi. Bukan tipe gue banget, iuh!” “Awas, Ki. Lo kalo benci nggak usah berlebihan. Takutnya, ntar jodoh lo sama pak Adam.” “Nggak mungkin! Udah yuk balik, guys.” Kiara langsung berdiri, dan melangkah ke arah luar ruangan. Diikuti oleh rekan kerjanya yang lain. Tapi beberapa Langkah kemudian, Kiara tiba-tiba berhenti. Membuat teman-temannya pun mengikuti apa yang dilakukannya. “Emangnya pak Adam belum nikah?” tanyanya kemudian, membuat wajah yang lain tidak setegang saat mereka berhenti semula. “Astaga, lo mau tau banget? Tapi emang dia belum nikah. Dia tinggal sendirian di apartemennya. Gue pernah nggak sengaja nguping pembicaraan dia sama pak Alex dulu.” Arga memberikan jawaban. “Pantesan aja setiap hari kayak orang kesurupan. Gue rasa dia kurang kasih sayang. Makanya dia kayak gitu.” “Ya makanya, lo kasih sayang-sayang dia, biar nggak ngereog lagi,” ledek Nina sambal terkikik. “Maaf Kak Nin, nggak dulu.” *** “Hah! Akhirnya gue nyampe kosan. Sialan bener dah itu si bos. Gara-gara dia gue jadi pulang telat. Rasanya gue pengen nyekek dia.” Kiara memukul-mukul kasur tempatnya merebahkan diri sekarang. Keesokan harinya, Kiara kembali masuk kantor seperti biasa. Dia mencoba melupakan kejadian yang menimpanya kemarin. Berharap, hari ini tidak ada lagi drama antara dirinya dan sang atasan. Walaupun dia tidak terlalu yakin dengan itu. Adam selalu memiliki alasan untuk menceramahinya. Senyum Kiara merekah saat melihat kopi favoritnya ada di atas meja. Setiap pagi, dia memang selalu memesan kopi untuk menemaninya mengerjakan tugas kantor. Dia tentu sangat tersanjung karena menganggap temannya sangat peduli dengan kebiasaannya itu. “Makasih banget buat siapapun yang mesenin gue kopi. Tau aja gue lagi butuh kopi pagi-pagi gini. Sampe repot-repot mesenin, di taro di atas meja juga. Ntar gue transfer, deh buat gantiin uangnya. Jadi ini siapa tadi yang beliin?” Kiara melemparkan pertanyaan ke semua rekan satu divisinya. “Bukan gue yang pasti, Ki.” Raul menyahut sambal fokus menghidupkan komputernya. “Kita semua belum ada yang pesen kopi, Ki. Baru juga nyampe. Tadi kita ketemu di parkiran. Naik juga barengan.” Nina menjelaskan. “Lah, kalo bukan dari kalian, terus dari siapa, dong?” Kiara menatap teman-temannya dengan tatapan horror. “Dari pak Adam kali. Cie … cie,” ledek Arga sambal tertawa kecil. “Nggak mungkin deh, Kak. Manusia nggak punya hati kayak dia mana mungkin kepikiran buat beliin gue kopi.” “Ya siapa tau, kan? Udahlah, minum aja. Gue yakin itu nggak ada racunnya, Ki.” Kiara mengiyakan. Dia memilih duduk, dan mulai menghidupkan komputernya. Dia ingin memeriksa semua file yang harus dia kerjakan. Hari ini dia berusaha semaksimal mungkin untuk tidak melakukan kesalahan. Kebersamaannya dengan Adam dalam ruangan kemarin membuatnya sedikit trauma. Tiba-tiba saja nada pesan berulang masuk ke dalam ponsel Kiara. Membuat gadis itu segera mengambil benda pipih itu dari dalam tasnya. “Saya tidak tahu kamu biasa minum kopi di pagi hari atau tidak, tetapi saya tadi berinisiatif membelikan kopi itu untuk kamu. Di minum, ya.” “Maaf kemarin saya terlalu berlebihan, sampai kamu harus mengambil jam lembur dengan terpaksa untuk mendengar semua omelan saya.” “Saya hanya ingin mengingatkan, jangan ulangi lagi hal yang seperti kemarin. Kemarin kamu membuat dua kesalahan yang menurut saya sangat fatal.” “Kalau dipikir-pikir, wajar sekali bukan, kalau saya menegur kamu?” Kiara membaca pesan dari bosnya itu berulang kali. Dia lumayan senang mendapatkan perhatian dari Adam, tetapi di sisi lain dia juga kesal karena bosnya itu ternyata masih saja merasa dirinya benar atas semua yang dilakukannya kemarin. "Gue nggak tau harus seneng atau sedih kalo begini. Seneng, karena dia akhirnya mau minta maaf, tapi gue juga kesel karena dia masih nyalahin gue juga soal kemarin. Dasar bos nyebelin!” umpat Kiara kesal. Dia akhirnya mengetik jawaban untuk semua pesan yang bosnya kirimkan. Berharap semua balasannya membuat sang atasan menjadi lega. “Oh, ternyata kopinya dari bapak? Terima kasih banyak, Pak. Seharusnya bapak nggak perlu repot-repot melakukan ini.” “Baik, pak. Saya akan akan berusaha menjadi yang lebih baik kedepannya. Sekali lagi terima kasih.” Setelah dirasa cukup, Kiara meletakkan ponselnya ke atas meja. Dia menatap kopi yang ada di hadapannya, mengulurkan tangannya untuk mengambil cup kopi tersebut, dan meminum isinya perlahan."Ki, sorry, bukan niat gue buat ikut campur, cuma tadi pak Adam chat gue soal Lo. Emang Lo diapain lagi sama dia sampe Lo marah? Gue jadi kepo. Betewe pak Adam kayaknya kelimpungan banget diambekin sama Lo. Keg ngerasa kehilangan gitu."Kiara menghela napas membaca pesan dari Nina. Dia tidak mungkin sampai mendiamkan Adam kalau lelaki itu tidak keterlaluan. Di saat badannya butuh istirahat, lelaki itu tidak memiliki simpati sedikitpun. "Jelas kelimpungan, gak punya temen debat dia. Dia juga pasti lagi mikirin tentang apa lagi yang bisa gue kerjain supaya gue nggak nganggur selama sakit. Lo bayangin aja, Kak... masa dia maksa gue kerja di saat gue masih dirawat gini? Punya hati nggak sih? Gue jadi kesel sama dia. Biar aja, kali ini gue mau kasih dia pelajaran. Enak aja dia ngebabuin gue mulu!" balas Kiara panjang lebar. "Ck, keterlaluan sih pak Adam. Pantesan Lo sampe marah ke dia. Lagian apa salahnya sih dia sesekali kerjain sendiri, apalagi Lo lagi sakit. Gue juga heran, kok ada ma
“Ini sudah tiga jam. Apa kerjaan kamu sudah selesai, Kiara?” Tepat tiga jam sejak pesan terakhir yang dikirimkan oleh Adam, Kiara kembali mendapati nama lelaki itu muncul di layer ponselnya sebagai pengirim pesan. Dia tentu menagih sesuai kesanggupan Kiara. Beruntung, lima menit lalu semua pekerjaan yang diminta oleh Adam sudah selesai dia kerjakan.“Sudah, Pak. Kebetulan sudah saya selesaikan beberapa menit lalu. Sebentar, saya akan kirimkan file-nya ke Bapak.” “(Daftar Visa Aktif Karyawan . docx).”“(Akumulasi Data Kehadiran Karyawan .docx).”“Oke.”Kiara menatap kesal respon Adam setelah dia mengirimkan dua file yang diminta oleh lelaki itu. Lelaki itu seakan tidak ada inisiatif untuk berterima kasih atas kerja keras Kiara. Padahal bosnya itu tahu kalau kondisinya sekarang sedang sakit, dan tidak seharusnya menghandle pekerjaan.“Susah banget ya buat lo ngucapin makasih? Lo manusia bukan sih, Dam? Sumpah, gue kesel banget sama lo! Kalo nggak inget lo atasan gue, udah gue racun lo
Sudah tiga hari berlalu, tetapi Kiara belum juga bisa keluar dari rumah sakit. Kondisinya masih lumayan mengkhawatirkan. Hal itu tentu saja mengundang simpati dari rekan-rekan kerjanya. Mereka kembali datang ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan Kiara yang terkini. Tentu saja kehadiran mereka membuat Kiara merasa senang. Setidaknya, dia memiliki mereka yang mau menjadi temannya dalam suka, dan duka.“Udah tiga hari lo di sini, Ki. Keadaan lo gimana? Masih belum ada perubahan, ya? Gue kangen lo. Kantor sepi kalo nggak ada lo,” ucap Nina yang tengah duduk di pinggiran ranjang tempat Kiara dirawat.“Iya, Ki. Kita khawatirin lo banget. Apalagi semenjak kita jenguk waktu itu, lo nggak ada kasih kabar apa-apa.” Arga menambahkan.“Karena itu semua, gue ngajak mereka buat dateng ke sini lagi jengukin lo. Kita nggak bisa tenang kalo belum tau keadaan lo secara langsung.” Susan ikut bicara.Kiara tersenyum, menatap teman-temannya satu per satu. Mereka satu-satunya alasan dia betah di kantor.
“Jadi tadi siapa yang kirim kopi?” Nina tampaknya sangat penasaran. Dia langsung menanyakan itu saat jam istirahat mereka tiba.“Kalo lo ragu buat minum mending kagak usah diminum, deh. Takutnya ada racunnya.” Raul ikut menyahut.“Iya bener. Selain racun, bisa jadi kopi itu ada peletnya. Ngeri.” Arga menambahkan.“Apaan deh kalian. Ini kopi ternyata dari pak Adam.” Kiara buka suara. Dia tidak mau semua teman-temannya semakin rebut memperdebatkan tentang si pengirim kopi yang sekarang isinya tinggal setengah itu.“What? Serius? Gue asal nebak aja padahal tadi. Cie … fix pak Adam suka sama lo, Ki. Jangan lupa ntar bagi PJ kalo kalian jadian.” Arga langsung menghujani Kiara dengan ejekan. Gadis itu tentu sudah sangat biasa dengan sikap teman satu divisinya yang satu itu.“Nggak usah bikin gossip deh, Kak. Tadi itu pak Adam kirim kopi karena dia merasa bersalah doang, udah bikin gue lembur dengerin semua omelan dia. Mana mungkin dia suka gue. Suk amah disayang-sayang, bukannya diomelin ti
“Gue kepikiran sama Kiara. Dari tadi di ruangan pak Devil kagak keluar-keluar. Jangan-jangan dia pingsan di sana,” ucap Raul yang membalikkan kursinya ke arah rekan kerjanya, merekaa juga melakukan hal yang sama.Sebenarnya pekerjaan mereka sudah selesai, tetapi sebagai bentuk solidaritas, mereka menunggu Kiara sampai kembali ke ruangan. Mereka juga berniat untuk pulang bareng-bareng.“Udah gue bilang, kan? Pak Adam kalo manggil ke ruangannya nggak mungkin cuma bentar. Dia bakalan ceramah dari Sabang sampe Merauke. Kuping nggak cuma ampe panas, tapi ampe keluar asep.” Arga menyahut.“Kita doakan aja yang terbaik, moga si Kiara keluar dari ruangan pak Adam dalam keadaan sehat selamat, tanpa kekurangan apapun.” Nina ikut bersuara.“Lo kira pak Adam zombie? Nggak mungkin juga dia ngapa-ngapain Kiara.”Saat mereka asyik membicarakan Kiara, yang dibicarakan tiba-tiba muncul. Gadis itu masuk ke dalam ruangan dalam keadaan kacau. Bukan hanya moodnya, dia juga terlihat sangat Lelah. Mau bagai
“Kiara, hari ini akan ada tamu penting untuk saya. Tolong kamu sambut dia seramah mungkin. Namanya Farukh. Setelah dia datang, langsung antar saja ke ruang meeting. Saya akan menunggu di sana. Jangan lupa bilang ke OB untuk menyiapkan minuman.”“Jangan sampai buat dia menunggu. Dia sangat penting untuk saya. Suplier dari Malaysia. Saya tidak mau dia sampai kecewa.” Kiara membaca pesan yang dikirimkan Adam, dengan jari-jari masih menari di atas keyboard. Dia sedang menyusun file yang dibutuhkan untuk perpanjangan visa. Dia hanya menjawab singkat dengan mengiyakan permintaan Adam. Dia kira jawaban itu cukup untuk Bosnya. Tapi tentu saja tidak semudah itu. Lima menit berselang, Adam melakukan panggilan ke nomornya, sementara datanya juga belum selesai diketik. Kiara memilih mengabaikan panggilan dari Adam, hingga lima kali.“Kiara! Kamu benar-benar tidak mengindahkan apa yang saya katakan! Itu pak Farukh sudah menunggu di bawah, kamu belum menginfokan ke resepsionis atau security? Benar







