LOGIN“Kiara, hari ini akan ada tamu penting untuk saya. Tolong kamu sambut dia seramah mungkin. Namanya Farukh. Setelah dia datang, langsung antar saja ke ruang meeting. Saya akan menunggu di sana. Jangan lupa bilang ke OB untuk menyiapkan minuman.”
“Jangan sampai buat dia menunggu. Dia sangat penting untuk saya. Suplier dari Malaysia. Saya tidak mau dia sampai kecewa.” Kiara membaca pesan yang dikirimkan Adam, dengan jari-jari masih menari di atas keyboard. Dia sedang menyusun file yang dibutuhkan untuk perpanjangan visa. Dia hanya menjawab singkat dengan mengiyakan permintaan Adam. Dia kira jawaban itu cukup untuk Bosnya. Tapi tentu saja tidak semudah itu. Lima menit berselang, Adam melakukan panggilan ke nomornya, sementara datanya juga belum selesai diketik. Kiara memilih mengabaikan panggilan dari Adam, hingga lima kali. “Kiara! Kamu benar-benar tidak mengindahkan apa yang saya katakan! Itu pak Farukh sudah menunggu di bawah, kamu belum menginfokan ke resepsionis atau security? Benar-benar tidak bisa diandalkan!” “Kamu sejak tadi ngapain, saya tanya? Maksud kamu mengabaikan saya itu, supaya saya yang menjemput pak Farukh ke bawah? Begitu?” Tidak peduli dengan kondisi yang ada, Adam jelas langsung mengomel. Apalagi Kiara sudah mengabaikannya sejak tadi. Walaupun itu bukan disengaja, dia memang sedang menyelesaikan dokumen yang diminta oleh Dian. Membaca pesan dari Adam membuat Kiara menghela napas lumayan keras. “Maaf, Pak. Saya masih menyelesaikan dokumen yang akan saya kirimkan ke kak Dian. Bapak meminta hari ini harus selesai, bukan? Maka dari itu saya sedang berusaha menyelesaikan secepat mungkin. Untuk masalah pak Farukh, saya sama sekali tidak menyangka kalau beliau akan datang lebih cepat dari perkiraan saya. Tadi Bapak sendiri yang bilang kalau pak Farukh akan datang nanti, bukan lima menit lagi.” Kiara berusaha untuk menjawab semua perkataan Adam dengan fakta yang ada. Tapi tentu itu bukanlah langkah yang baik untuknya. Karena di menit berikutnya, Adam mengirimkannya pesan yang sudah dipastikan isinya menyudutkan dia. Begitu selalu. Kiara akan selalu tersudut, walaupun dia benar. “Maksudnya, kamu menyalahkan saya? Itu semua salah kamu. Kamu yang tidak bisa mencermati setiap kalimat yang saya sampaikan. Soal dokumen itu, itu juga salah kamu. Kamu yang tidak melaporkan ulang semuanya, sehingga terpaksa dilakukan di waktu yang mepet begini.” “Saya sudah meminta security untuk mengantarkan pak Farukh ke ruang meeting. Setelah rapat ini selesai, kamu cepat ke ruangan saya.” Walaupun Kiara tidak melihat wajah Adam secara langsung, dia tahu pasti kalau Adam sedang dalam mode tak ingin dibantah. Memangnya kapan Adam mau dibantah? Tidak pernah. “Baik, Pak. Saya akan segera ke ruangan Bapak nanti.” Kiara menyandarkan kepalanya di sandaran kursi tempatnya bekerja. Gadis itu memijat kepalanya yang mendadak pening. Dia sudah berusaha untuk mengerti setiap keinginan Adam, tetapi di mata bosnya itu dia seolah merupakan sosok yang wajib mendapatkan seluruh limpahan amarahnya. Sesaat kemudian, Kiara memutar kursinya menghadap rekan-rekan satu divisinya. “Guys, doain itu bos evil meetingnya lama, ya. Gue beneran capek banget hari ini karena sikap dia yang nggak bisa lagi gue mengerti. Salah mulu, ya Tuhan. Ini gue dipanggil abis meeting. Dia murka gara-gara gue nggak nyambut rekan kerja dia dari Malaysia. Padahal itu bukan salah gue seharusnya. Tapi kayaknya gue emang tempatnya salah dan dosa.” Kiara mengeluh. Hanya pada teman-temannya dia bisa berbagi penderitaan seperti sekarang. “Kok bisa lo nggak nyambut itu klien? Emangnya lo lagi ngapain, Ki?” tanya Raul penasaran. “Gue hari ini lagi sibuk banget, Kak. Lo tau, kan? Gue harus nyelesein dokumen perpanjangan visa yang diminta kak Dian. Bos juga maksa hari ini kudu jadi. Dia tadi bilangnya nanti, nggak taunya lima menit kemudian itu tamu udah dateng. Begonya gue, gue nggak langsung konfirmasi ke resepsionis pas abis dapet info dari dia. Ya udah, murka lah dia ke gue.” Kiara menceritakan detail dari permasalahan yang membuat Adam marah kali ini. “Gue merinding denger lo dipanggil ke ruangan dia, Ki.” Nina menyahut. “Makanya gue pengen kabur, kak Nin. Gue males banget liat muka dia yang garang, dan judes itu. Kak Arga bisa minta tolong? Coba kakak pura-pura lewat ruang rapat, kira-kira masih lama nggak?” “Bentar, gue coba cek sambil ke kamar mandi, ya.” Lelaki bernama Arga itu langsung keluar dari ruang kerja mereka. Dia benar-benar lewat depan ruang meeting yang memang hanya berdinding kaca transparan. Arga bisa melihat kalau semua wajah peserta meeting masih serius menatap layar proyektor. Dia mengambil kesimpulan kalau rapat masih akan berjalan lama. Arga kembali ke ruang kerjanya, dan mengabarkan tentang apa yang dia lihat ke Kiara. “Masih lama sih kata gue, Ki. Semua peserta rapat masih tegang. Ada CEO kita juga di sana. Lo bisa santai sebentar.” “Gue harap rapat belum kelar ampe jam pulang kantor, Kak. Gue mau kabur pulang. Telinga gue hari ini udah cukup panas dengerin semua ocehan dia. Sumpah, dia nggak ada enak-enaknya kalo lagi ngomel.” “Emang udah bagus kalo lo kabur, Ki. Dia kalo udah nyuruh ke ruangan pasti lo kena semprot. Bukannya nakutin, emang faktanya gitu.” “Iya, Kak. Gue juga udah hapal banget sama tingkah kedevilannya dia.” Tiba-tiba notifikasi pesan di ponsel Kiara berbunyi. Semua yang ada di dalam ruangan itu saling pandang. Seolah itu merupakan pertanda akan terjadinya sesuatu yang mengerikan. Dengan perlahan, Kiara membalikkan kursinya kembali ke arah meja kerjanya. Dia mengambil ponselnya dengan gerakan perlahan. Gadis itu kemudian melihat layar ponselnya, dan sesuatu yang tidak dia harapkan ada di sana. Pesan dari Adam. “Jangan berani-berani pulang sebelum saya selesai meeting. Kalau kamu berani melakukannya, saya pastikan besok kamu akan mengalami kesibukan yang bahkan tidak akan sanggup membuatmu menghela napas.” Ancaman yang mengerikan. Nadia langsung meletakkan kembali ponselnya ke atas meja. Tidak, lebih tepatnya dia melempar benda pipih persegi panjang itu ke atas meja. Belum ada niat untuk membalas pesan yang diberikan oleh sang bos. Kiara cepat-cepat membalikkan kursinya ke arah teman-temannya berada. Wajahnya terlihat sangat sedih. Perasaan Kiara pun kacau karena pesan yang baru saja dia baca. “Kayaknya itu devil punya indra ke delapan, deh. Dia barusan chat, ngancem gue supaya gue nggak coba buat pulang duluan sebelum dia selesai meeting. Nggak ngerti lagi gue. Tolongin gue dong, guys. Gue males ketemu sama dia,” rengek Kiara yang tampaknya sangat tidak menginginkan pertemuannya dengan Adam. “Sebelum masuk ke ruangan dia, mending lo sebut namanya tiga kali. Siapa tau itu manjur buat bikin si devil nggak kumat. Oh, ada satu lagi cara yang menurut gue ampuh, Ki. Lo cium aja pak Adam kalo dia ngomel terus. Gue jamin lo nggak akan dapet omelan lagi,” saran Nina sambil cekikikan. “Nah, lo cobain dah idenya Nina, Ki. Cukup bisa diperhitungkan kata gue, sih.” Raul ikut mendukung saran sesat dari Nina. “Ngaco kalian berdua. Bukannya dia berhenti ngamuk, gue yang langsung dipecat detik itu juga. Makasih buat sarannya yang sangat nggak ada manfaatnya.” Nina dan Raul hanya tertawa melihat reaksi Kiara atas saran yang mereka berdua berikan. “Ya Tuhan, kayaknya bagus kalo hari ini ujan sampe banjir. Gue bisa kabur dengan selamat kalo itu terjadi.” “Woy, nyebut, Ki. Doa sih doa, yang bener dikit, dong. Doa kok malah minta banjir.” Arga buka suara sambil tertawa kecil. “Saking stresnya sampe doanya pun aneh-aneh. Sabar, Kiara. Siapa tau dia jodoh lo yang tertunda.” Raul coba menghibur, walaupun tidak ada unsur hiburan di dalam kalimatnya. “Seru kali ya, kalo si pak bos devil jodoh sama Kiara. Adem banget rumah tangga mereka,” cap Nina sambil terkikik. “Adem apaan kak Nin. Yang ada, rumah kami bakalan kayak neraka karena ada devil di dalamnya. Udah, ah. Kalian mending diem. Gue mau merenungi nasib gue yang menyedihkan ini.”Setelah percintaan panas yang emosional di sofa ruang kerja, Kiara menyandarkan kepalanya di dada bidang Adam yang telanjang. Detak jantung Adam yang maraton perlahan mulai stabil. Jemari tegap Adam tak henti-hentinya membelai lembut bahu mulus Kiara yang hanya tertutup sebagian oleh kemeja kerja yang berantakan."Mas... gimana kalau Mbak Clarissa cerita ke Ibu kamu soal kejadian tadi?" bisik Kiara lirih, menatap kancing kemeja Adam yang tergeletak di lantai.Adam menunduk, mencium kening Kiara dengan penuh kehangatan. "Biarkan saja dia cerita. Mau Mama tahu atau seluruh keluarga saya tahu, saya tidak peduli lagi, Kiara.""Tapi aku takut kamu ada masalah sama Ibu kamu, Mas. Lagian kamu kan sengaja nolak jadi pewaris perusahaan keluarga dan pilih kerja jadi manajer di kantor ini cuma demi bisa dekat dan mengejar aku... Aku nggak mau gara-gara aku, hubungan kamu sama keluarga makin hancur," kata Kiara penuh cemas dan rasa bersalah.Adam terkekeh pelan, lalu menangkup kedua pipi Kia
Keesokan harinya, suasana di kantor cabang berjalan seperti biasa. Setelah kepergian Zaki, ruangan divisi operasional terasa lebih tenang. Kiara duduk di mejanya sambil fokus memeriksa lembar kerja bulanan, menyela waktu dengan sesekali menyeruput dolce latte favoritnya."Ki, ntar makan siang bareng ke lantai bawah, yuk?" tawar Nina dari mejanya."Boleh, Kak Nin. Kebetulan hari ini laporanku udah hampir beres," jawab Kiara tersenyum ramah."Gue ikut dong, perut gue udah bunyi nih," sahut Raul sembari meluruskan badannya di kursi.Arga yang duduk di samping Raul menoleh dan terkekeh. "Masih jam sepuluh lewat, Ul. Rakus amat lo.""Yee, sarapan gue cuma roti tawar satu lembar, Ga. Wajar lapar!" seloroh Raul yang memancing tawa kecil dari Nina dan Kiara.Namun, keceriaan kecil itu mendadak terhenti ketika langkah kaki berbalut sepatu hak tinggi melintasi koridor luar. Suara ketukan heels yang nyaring beradu dengan lantai marmer membuat beberapa staf menoleh ke arah pintu masuk divi
Kabar dipecatnya Zaki secara mendadak menyebar cepat di antara karyawan divisi operasional. Nina dan Raul tampak kaget, sementara Arga hanya tersenyum tipis pura-pura tidak tahu apa-apa saat rekan-rekannya kasak-kusuk membicarakan kepergian anak baru itu.Di dalam ruang kerja manajer yang tertutup rapat, Adam berdiri di dekat jendela besar dengan ponsel menempel di telinganya. Wajahnya mengeras, penuh amarah yang ditahan.Sambungan telepon akhirnya diangkat."Adam? Ada apa kamu telepon Mama siang-siang gini?" suara Ibu Jihan terdengar santai dari seberang sana, seolah tanpa beban."Maksud Mama apa ngirim Zaki ke divisi aku?" tembak Adam langsung tanpa basa-basi. Suaranya berat dan sangat dingin.Hening sejenak di seberang telepon sebelum Jihan terkekeh pelan. "Oh, jadi kamu sudah tahu? Ya bagus kalau begitu. Mama cuma mau kasih kamu pelajaran, Adam. Pria bayaran seperti Zaki saja bisa dengan mudah mendekati cewek itu. Apa kamu yakin dia setia sama kamu?""Zaki sudah aku pecat h
Setelah ketegangan yang mereda di balik pintu ruang kerja yang terkunci, Kiara dan Adam duduk berdampingan di sofa panjang. Suasana di dalam ruangan terasa jauh lebih tenang, meskipun sisa-sisa emosi akibat video jebakan Zaki tadi masih menyisakan kekesalan di dada mereka berdua.Kiara menyesap sisa dolce latte miliknya yang sudah agak dingin, lalu menatap Adam yang sedang melipat lengan kemejanya."Mas, kita nggak boleh tinggal diam aja. Kalau dibiarin, Zaki bakal terus cari cara buat adu domba kita," ucap Kiara serius, matanya menatap tajam ke arah depan.Adam mengangguk pelan. Jemari tegapnya meraih tangan Kiara, mengelusnya lembut untuk memberikan ketenangan. "Kamu benar, Sayang. Saya juga nggak akan biarkan orang suruhan Mama itu terus berkeliaran di dekat kamu. Tapi kita harus cari cara yang pas buat jebak dia balik.""Maksud kamu?" tanya Kiara penasaran."Kita harus cari bukti kalau Zaki sengaja main kotor. Rekaman video kemarin itu bukti kuat kalau dia punya niat jahat.
Keesokan harinya, pagi di kantor terasa agak beda. Kiara sengaja datang lebih awal untuk menyelesaikan beberapa berkas laporan yang sempat tertunda kemarin. Dia meminum dolce latte hangatnya pelan-pelan sambil menatap layar komputer, menikmati rasa manis kopi berpadu susu yang sangat dia sukai.Suasana ruangan masih sangat sepi. Hanya ada Kiara dan Zaki yang kebetulan juga baru sampai di mejanya.Zaki melirik Kiara yang sedang sibuk mengetik sambil menyeruput kopinya. Lelaki itu mengambil sebuah map tebal berwarna merah, lalu melangkah pelan mendekati meja Kiara. Di saku kemejanya, Zaki sudah menyelipkan sebuah pena kecil yang sebenarnya dilengkapi kamera tersembunyi berteknologi canggih—pesanan khusus dari Ibu Jihan."Selamat pagi, Kiara," sapa Zaki dengan nada suara yang sengaja dibuat sehangat dan selembut mungkin.Kiara mendongak, matanya langsung memancar dingin. "Pagi, Zaki. Ada apa lagi?""Ini ada berkas laporan anggaran divisi dari pusat yang butuh pemeriksaan kamu," uja
Atmospere di area meja divisi seketika mencekam. Rahang Adam mengeras tajam saat melihat tangan Zaki sempat memegang jemari Kiara. Langkah kakinya yang berat bergerak cepat mendekati Zaki, memotong jarak di antara mereka."Zaki!" panggil Adam dengan suara bariton yang menggema di sudut ruangan.Seluruh karyawan yang ada di situ—Kak Nina, Kak Aul, dan Kak Arga—sontak terdiam kaku. Mereka menahan napas melihat pancaran emosi yang begitu kentara dari wajah manajer mereka.Zaki berbalik santai, memasang raut muka polos yang sudah dilatihnya dengan baik. "Iya, Pak Adam? Ada yang bisa saya bantu?""Apa yang baru saja kamu lakukan pada Kiara?" desis Adam penuh intimidasi. Tangannya mengepal erat di sisi tubuh, menahan dorongan kuat untuk melayangkan pukulan langsung ke wajah pria bayaran itu."Saya cuma bermaksud membantu mengambilkan map Kiara yang jatuh, Pak. Saya tidak sengaja," jawab Zaki lirih dengan nada membela diri, membuat dirinya terlihat seperti korban di mata rekan-rekan ya
“Ini sudah tiga jam. Apa kerjaan kamu sudah selesai, Kiara?” Tepat tiga jam sejak pesan terakhir yang dikirimkan oleh Adam, Kiara kembali mendapati nama lelaki itu muncul di layer ponselnya sebagai pengirim pesan. Dia tentu menagih sesuai kesanggupan Kiara. Beruntung, lima menit lalu semua pekerja
Sudah tiga hari berlalu, tetapi Kiara belum juga bisa keluar dari rumah sakit. Kondisinya masih lumayan mengkhawatirkan. Hal itu tentu saja mengundang simpati dari rekan-rekan kerjanya. Mereka kembali datang ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan Kiara yang terkini. Tentu saja kehadiran mereka mem
“Jadi tadi siapa yang kirim kopi?” Nina tampaknya sangat penasaran. Dia langsung menanyakan itu saat jam istirahat mereka tiba.“Kalo lo ragu buat minum mending kagak usah diminum, deh. Takutnya ada racunnya.” Raul ikut menyahut.“Iya bener. Selain racun, bisa jadi kopi itu ada peletnya. Ngeri.” Ar
“Gue kepikiran sama Kiara. Dari tadi di ruangan pak Devil kagak keluar-keluar. Jangan-jangan dia pingsan di sana,” ucap Raul yang membalikkan kursinya ke arah rekan kerjanya, merekaa juga melakukan hal yang sama.Sebenarnya pekerjaan mereka sudah selesai, tetapi sebagai bentuk solidaritas, mereka m







