LOGIN"Mas Hendra, udah selesai belum?"Hatiku tersentak, aku segera menjawab."Iya udah, bentar lagi ke sana."Kembali ke kamar, ibu Yusi sedang berlutut dengan menggoda di atas ranjang, mengenakan stocking yang seksi.Bokongnya diangkat tinggi-tinggi, seolah menantikan aku masuk.Perlahan aku mulai terangsang, lalu mendekat ke belakangnya.Sambil memegang pinggangnya, ibu Yusi meliuk-liukkan pinggulnya dengan tenaga, berusaha mati-matian untuk memuaskanku.Tiba-tiba, bayangan Yusi melintas di benakku.Aku segera melepaskan ibunya, hampir saja terjadi malapetaka.Ibu Yusi menatapku dengan wajah tidak senang."Kenapa sih, Mas Hendra? Apa Mas anggap aku udah tua? Nggak menarik lagi ya?"Mana berani aku menceritakan yang sebenarnya, aku buru-buru menjelaskan."Nggak, bukan gitu. Cuma kejadiannya terlalu cepat, aku jadi kaget aja.""Nggak apa-apa kok. Nanti kalau Mas udah mau, aku siap kapan aja."Ibu Yusi dengan enggan mengenakan pakaiannya kembali, lalu turun dari ranjang.Aku mengangguk, kem
"Sekarang kulihat, Yusi dan kamu kelihatannya cukup cocok. Kamu cocok banget jadi ayahnya Yusi."Otakku seketika terasa berdengung, hingga gelas anggur di tanganku hampir jatuh.Menangkap maksud perkataannya, dia seolah ingin mengajakku membina rumah tangga.Rumit sekali. Hubunganku dan Yusi sama sekali bukan seperti bapak dan anak, melainkan sudah melangkah sejauh ke atas ranjang.Perasaanku pun langsung campur aduk tidak keruan.Melihat gelagatku yang demikian, ibu Yusi bergegas bertanya."Mas kenapa? Apa ada masalah selama dampingi Yusi?"Aku buru-buru menggelengkan kepala untuk memberikan penjelasan. "Nggak kok, hubunganku sama Yusi baik banget. Dia juga dewasa.""Syukurlah kalau begitu, aku sempat khawatir wataknya yang keras bakal bikin Mas nggak nyaman.""Selama nggak ada masalah sama anakku, aku juga jadi lebih tenang."Begitu kalimat itu selesai diucapkan, dia langsung merebahkan tubuhnya di atasku.Aku pun refleks melingkarkan lengan untuk memeluk pinggangnya.Walaupun usiany
Ketika malam hari di rumah dan ibunya ada, kami berdua sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk bermesraan.Namun, begitu sudah berada di luar, Yusi selalu memelukku.Tubuhnya yang empuk menempel sangat erat ke tubuhku.Aku pun merasakan kenyamanan yang luar biasa.Hari ini, demi menghargai kebaikanku karena sudah membawa Yusi menarik ojol, ibu kos sengaja memasak beraneka ragam hidangan untukku.Begitu malam tiba, dia sudah pulang ke rumah dengan menjinjing banyak sekali bungkusan makanan."Yusi!"Ibunya berjalan mendekati kamarku, terdengar suara ramahnya yang menggema di dalam rumah.Yusi yang melihat ibunya sudah pulang langsung menghambur gembira ke pelukannya, membuat sepasang ibu dan anak itu saling mendekap sambil tertawa dan melonjak kegirangan.Aku hanya berdiri di samping dengan perasaan yang tidak karuan, antara senang sekaligus cemas.Kemudian ibu Yusi berkata padaku."Mas Hendra, makasih banyak ya sudah bersedia jaga Yusi beberapa hari ini. Anaknya masih belum dewasa,
Melihat mereka yang berkali-kali mengungkapkan rasa iri, hatiku rasanya senang bukan main.Biasanya aku menjadi orang yang paling tidak disukai di pangkalan. Sudah umur 40 tahun, tapi belum juga beristri.Hal itu membuatku tidak luput dari ejekan mereka.Sekarang aku membawa seorang gadis belia yang umurnya 20 tahun lebih muda dariku, tentu saja membuat mereka sangat tergiur."Sana, sana! Jangan punya niat buruk ya, ini pacar mudaku."Begitu kalimat itu diucapkan, semua orang yang ada di sana langsung tertawa terbahak-bahak."Jangan bercanda ah, Bang Hendra! Orang kayak Abang mana mungkin bisa dapat pacar?""Tahu nih, jangan-jangan hasil nyulik dari mana tahu.""Jujur aja ya, kita ini memang miskin, tapi jangan sampai menculik orang juga dong."Aku malas memedulikan orang-orang ini, karena apa yang kukatakan memang kenyataan.Detik berikutnya, Yusi langsung angkat bicara pada mereka."Kalian jangan asal bicara ya! Aku memang beneran pacarnya Bang Hendra."Seketika itu juga, semua orang
Setelah menahannya bertahun-tahun, akhirnya aku bisa meluapkannya juga.Apalagi perempuannya masih muda, umur belasan tahun dan punya bodi yang mantap!Kulitnya terasa selembut gulali, rasanya bisa meleleh hanya dengan sekali sentuh.Suaranya pun benar-benar membuat seluruh tulangku terasa lemas.Bagaimana bisa ada makhluk seimut dia di dunia ini.Makin dipikirkan, aku justru makin kagum pada Sang Pencipta.Hebat sekali, bajingan.Rasanya semua tumpukan hasrat selama sepuluh tahun sudah keluar semua.Kenikmatannya benar-benar membuat jiwaku serasa melayang.Setelah terus bergumul selama dua jam, barulah aku beranjak dari atas tubuh Yusi dengan perasaan puas.Ucapan Yusi penuh nada kepuasan."Om, ternyata lakuin hal kayak gini rasanya enak banget ya.""Pantas saja Ibu kadang suka bawa cowok pulang, sensasinya memang senikmat ini."Melihat gelagatnya yang tampak ketagihan itu, hatiku rasanya senang bukan main.Ternyata ibu kos yang janda muda itu juga sama-sama tidak tahanan, sering cari
Namun, malam yang indah selalu terasa singkat. Tidak lama kemudian, aliran listrik sudah kembali normal dan lampu-lampu di dalam ruangan pun menyala.Yusi baru menyadari kalau posisi kami berdua sedang menempel sangat erat, wajahnya seketika merona merah, tidak berani menatapku.Tubuhnya pun perlahan merosot dan keluar dari pelukanku.Aku merasa masih belum puas, tapi hanya bisa menahan gejolak yang terasa menggelitik di dalam dada."Maaf ya, Om. Aku dari kecil memang takut banget sama petir. Mana kamarnya gelap, aku benar-benar takut kalau sendirian.""Nggak apa-apa, 'kan ada Om di sini, jangan takut lagi," kataku sambil menepuk-nepuk pundaknya."Ngomong-ngomong, hujan deras begini, ibumu pergi ke luar buat urusan apa?"Yusi mengerucutkan bibirnya lalu berkata, "Aku juga nggak tahu, kayaknya sih pergi dinas luar kota."Setelah itu, dia kembali ke kamarnya sendiri untuk tidur.Setelah seharian menarik ojol, badanku rasanya cukup lelah, jadi aku berniat ke kamar mandi untuk membersihkan







