Share

Bab 2

Author: Richy
Namun, malam yang indah selalu terasa singkat. Tidak lama kemudian, aliran listrik sudah kembali normal dan lampu-lampu di dalam ruangan pun menyala.

Yusi baru menyadari kalau posisi kami berdua sedang menempel sangat erat, wajahnya seketika merona merah, tidak berani menatapku.

Tubuhnya pun perlahan merosot dan keluar dari pelukanku.

Aku merasa masih belum puas, tapi hanya bisa menahan gejolak yang terasa menggelitik di dalam dada.

"Maaf ya, Om. Aku dari kecil memang takut banget sama petir. Mana kamarnya gelap, aku benar-benar takut kalau sendirian."

"Nggak apa-apa, 'kan ada Om di sini, jangan takut lagi," kataku sambil menepuk-nepuk pundaknya.

"Ngomong-ngomong, hujan deras begini, ibumu pergi ke luar buat urusan apa?"

Yusi mengerucutkan bibirnya lalu berkata, "Aku juga nggak tahu, kayaknya sih pergi dinas luar kota."

Setelah itu, dia kembali ke kamarnya sendiri untuk tidur.

Setelah seharian menarik ojol, badanku rasanya cukup lelah, jadi aku berniat ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Di dalam ember kamar mandi, aku melihat lagi celana dalam putih milik Yusi yang tampaknya baru saja dia lepas hari ini.

Aku mengambilnya lalu menghirup aromanya, masih dengan keharuman khas yang sama.

Namun, karena baru saja merasakan langsung kelembutan tubuh Yusi, selembar pakaian saja sudah tidak mampu lagi memuaskan hasratku.

Api dalam dada membakar seluruh tubuhku hingga terasa panas, jadi aku menyalakan pancuran air untuk mendinginkan diri.

Begitu memegang kepala pancuran, aku merasakan ada sesuatu yang lengket di tanganku, seolah-olah ada cairan yang menempel di sana.

Saat mendekatkan hidung untuk menciumnya, aroma cairan ini ternyata persis sama dengan yang ada di celana dalam Yusi!

Otakku seketika terasa berdengung, mendadak membeku seperti mesin yang macet.

Ternyata Yusi bisa sekebelet ini? Memanfaatkan situasi saat ibunya tidak ada di rumah, dia malah main-main dengan pancuran air!

Di usianya yang baru menginjak belasan tahun, dia rupanya sudah mengerti cara mengeksplorasi tubuhnya demi mencari kepuasan.

Kebetulan malam ini ibunya tidak ada di rumah, bukannya ini menjadi kesempatan emas bagiku?

Memikirkan hal itu, rasa gembira yang luar biasa langsung melonjak di dalam hatiku.

Bagian bawah tubuhku seketika menegang keras bukan main.

Selesai mandi, aku memakai celana kolor yang longgar, membuat bagian tengah celanaku menyembul membentuk tenda besar.

Begitu keluar dari kamar mandi, aku melihat Yusi sedang menonton televisi di ruang tamu.

Tatapan matanya langsung tertuju pada tonjolan di celanaku, ekspresi wajahnya dipenuhi rasa penasaran.

Aku berjalan mendekat ke sisinya, lalu berkata kepadanya.

"Kamu cepat kembali ke kamar buat tidur. Kalau nanti ada petir dan listriknya padam lagi, kamu bakal ketakutan di ruang tamu."

Aku berdiri tepat di hadapannya, sengaja maupun tidak sengaja memosisikan tonjolan celanaku dekat dengan wajah Yusi.

Wajah Yusi makin memerah, aku bisa merasakan helaan napasnya mendadak berubah menjadi buru-buru!

Ada peluang bagus. Gadis ini rupanya memang punya bakat liar terpendam, sama genitnya dengan ibunya.

Ini benar-benar menguntungkanku!

Tidak lama kemudian, Yusi mematikan televisi lalu masuk kembali ke kamarnya.

Melihatnya menutup pintu kamar, aku mendadak merasa sangat menyesal.

Sialan, buat apa juga aku sok berlagak menjadi orang baik-baik? Sekarang dia sudah masuk kamar, bagaimana cara aku menggodanya lagi?

Tidak mungkin juga aku nekat mendobrak masuk ke kamar gadis itu.

Dengan perasaan dongkol, aku pun kembali ke kamar tidur kedua dan berbaring di atas ranjang.

Memandangi milikku yang berdiri tegak dengan perkasa, rasanya seluruh isi perutku seperti sedang dibakar api.

Rasanya aku ingin sekali mengangkat tubuh gadis itu dan langsung meluapkannya dengan kasar!

Namun, karena belum bisa meluapkannya saat ini, rasanya seperti ada ribuan semut yang merayap di dalam tulang dan menusuk-nusuk hatiku, terasa sangat menggelitik!

Tepat pada saat itu, sebuah petir menggelegar di langit, mengeluarkan suara gemuruh yang dahsyat.

Di luar rumah, hujan badai kembali turun dengan sangat deras.

Yusi yang ketakutan sendirian, ternyata malah mengetuk pintu kamarku.

Dia berdiri di depan pintu dengan hanya mengenakan selembar baju tidur, menampilkan bentuk tubuhnya yang sintal dengan sangat jelas.

"Om, aku takut banget. Boleh nggak aku tidur di kamar Om aja?"

Sontak saja aku merasa sangat kegirangan. Baru saja aku membayangkan tubuh gadis itu, sekarang dia malah mengantarkan diri.

Dengan penuh semangat aku langsung menyibakkan selimut, lalu menepuk bagian kasur yang kosong di sebelahku.

"Sini, tidur di balik selimut Om aja."

Yusi dengan sukarela menyusup ke dalam selimutku, lalu memelukku dengan sangat erat.

Baju tidurnya sangat tipis, membuatku bisa merasakan langsung sentuhan kulitnya!

Terasa sangat lembut dan begitu kenyal.

Saat itu, petir kembali menyambar di langit diikuti kilatan pencahayaan yang membelah malam, aliran listrik kembali padam!

Keadaan di dalam kamar seketika menjadi gelap gulita.

Yusi yang ketakutan langsung merebahkan seluruh tubuhnya di atasku.

"Om, aku takut gelap! Huuu .…"

Posisinya sangat pas, bagian tengah di antara kedua kakinya tepat menekan milikku yang sedang menegang keras.

Tubuh belianya yang lembut menempel sempurna pada badanku, membuatku merasa seluruh sel di tubuhku seolah-olah akan meledak.

Kedua tanganku mendekapnya erat-erat, sambil menaikkan pinggul untuk menekannya dengan kuat.

Yusi melenguh pelan, tiba-tiba suhu tubuhnya menghangat, lalu dia bertanya.

"Om, di bawah Om ada barang keras yang menekan aku, rasanya geli banget deh."

Gadis seusia dia mana mungkin tidak paham tentang urusan pria dan wanita?

Gelagatnya yang seperti ini menandakan kalau dia sebenarnya mau, hanya saja merasa malu untuk mengatakannya.

Aku langsung menanggalkan celanaku, menempelkan milikku yang sudah panas membara pada pangkal pahanya.

Tubuh Yusi seketika menjadi sangat lemas. Dia tidak lagi menjaga gengsinya, ucapannya kini terdengar penuh nada erotis.

"Om, sebenarnya rasanya melakukan hal itu kayak gimana sih?"

Aku menyingkap gaun tidurnya yang ternyata tidak memakai dalaman sama sekali, lalu langsung mengarahkannya tepat pada sasarannya.

"Mau tahu jawabannya? Sini Om kasih tahu."

....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Cinta Ibu Kos dan Putrinya   Bab 7

    "Mas Hendra, udah selesai belum?"Hatiku tersentak, aku segera menjawab."Iya udah, bentar lagi ke sana."Kembali ke kamar, ibu Yusi sedang berlutut dengan menggoda di atas ranjang, mengenakan stocking yang seksi.Bokongnya diangkat tinggi-tinggi, seolah menantikan aku masuk.Perlahan aku mulai terangsang, lalu mendekat ke belakangnya.Sambil memegang pinggangnya, ibu Yusi meliuk-liukkan pinggulnya dengan tenaga, berusaha mati-matian untuk memuaskanku.Tiba-tiba, bayangan Yusi melintas di benakku.Aku segera melepaskan ibunya, hampir saja terjadi malapetaka.Ibu Yusi menatapku dengan wajah tidak senang."Kenapa sih, Mas Hendra? Apa Mas anggap aku udah tua? Nggak menarik lagi ya?"Mana berani aku menceritakan yang sebenarnya, aku buru-buru menjelaskan."Nggak, bukan gitu. Cuma kejadiannya terlalu cepat, aku jadi kaget aja.""Nggak apa-apa kok. Nanti kalau Mas udah mau, aku siap kapan aja."Ibu Yusi dengan enggan mengenakan pakaiannya kembali, lalu turun dari ranjang.Aku mengangguk, kem

  • Jerat Cinta Ibu Kos dan Putrinya   Bab 6

    "Sekarang kulihat, Yusi dan kamu kelihatannya cukup cocok. Kamu cocok banget jadi ayahnya Yusi."Otakku seketika terasa berdengung, hingga gelas anggur di tanganku hampir jatuh.Menangkap maksud perkataannya, dia seolah ingin mengajakku membina rumah tangga.Rumit sekali. Hubunganku dan Yusi sama sekali bukan seperti bapak dan anak, melainkan sudah melangkah sejauh ke atas ranjang.Perasaanku pun langsung campur aduk tidak keruan.Melihat gelagatku yang demikian, ibu Yusi bergegas bertanya."Mas kenapa? Apa ada masalah selama dampingi Yusi?"Aku buru-buru menggelengkan kepala untuk memberikan penjelasan. "Nggak kok, hubunganku sama Yusi baik banget. Dia juga dewasa.""Syukurlah kalau begitu, aku sempat khawatir wataknya yang keras bakal bikin Mas nggak nyaman.""Selama nggak ada masalah sama anakku, aku juga jadi lebih tenang."Begitu kalimat itu selesai diucapkan, dia langsung merebahkan tubuhnya di atasku.Aku pun refleks melingkarkan lengan untuk memeluk pinggangnya.Walaupun usiany

  • Jerat Cinta Ibu Kos dan Putrinya   Bab 5

    Ketika malam hari di rumah dan ibunya ada, kami berdua sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk bermesraan.Namun, begitu sudah berada di luar, Yusi selalu memelukku.Tubuhnya yang empuk menempel sangat erat ke tubuhku.Aku pun merasakan kenyamanan yang luar biasa.Hari ini, demi menghargai kebaikanku karena sudah membawa Yusi menarik ojol, ibu kos sengaja memasak beraneka ragam hidangan untukku.Begitu malam tiba, dia sudah pulang ke rumah dengan menjinjing banyak sekali bungkusan makanan."Yusi!"Ibunya berjalan mendekati kamarku, terdengar suara ramahnya yang menggema di dalam rumah.Yusi yang melihat ibunya sudah pulang langsung menghambur gembira ke pelukannya, membuat sepasang ibu dan anak itu saling mendekap sambil tertawa dan melonjak kegirangan.Aku hanya berdiri di samping dengan perasaan yang tidak karuan, antara senang sekaligus cemas.Kemudian ibu Yusi berkata padaku."Mas Hendra, makasih banyak ya sudah bersedia jaga Yusi beberapa hari ini. Anaknya masih belum dewasa,

  • Jerat Cinta Ibu Kos dan Putrinya   Bab 4

    Melihat mereka yang berkali-kali mengungkapkan rasa iri, hatiku rasanya senang bukan main.Biasanya aku menjadi orang yang paling tidak disukai di pangkalan. Sudah umur 40 tahun, tapi belum juga beristri.Hal itu membuatku tidak luput dari ejekan mereka.Sekarang aku membawa seorang gadis belia yang umurnya 20 tahun lebih muda dariku, tentu saja membuat mereka sangat tergiur."Sana, sana! Jangan punya niat buruk ya, ini pacar mudaku."Begitu kalimat itu diucapkan, semua orang yang ada di sana langsung tertawa terbahak-bahak."Jangan bercanda ah, Bang Hendra! Orang kayak Abang mana mungkin bisa dapat pacar?""Tahu nih, jangan-jangan hasil nyulik dari mana tahu.""Jujur aja ya, kita ini memang miskin, tapi jangan sampai menculik orang juga dong."Aku malas memedulikan orang-orang ini, karena apa yang kukatakan memang kenyataan.Detik berikutnya, Yusi langsung angkat bicara pada mereka."Kalian jangan asal bicara ya! Aku memang beneran pacarnya Bang Hendra."Seketika itu juga, semua orang

  • Jerat Cinta Ibu Kos dan Putrinya   Bab 3

    Setelah menahannya bertahun-tahun, akhirnya aku bisa meluapkannya juga.Apalagi perempuannya masih muda, umur belasan tahun dan punya bodi yang mantap!Kulitnya terasa selembut gulali, rasanya bisa meleleh hanya dengan sekali sentuh.Suaranya pun benar-benar membuat seluruh tulangku terasa lemas.Bagaimana bisa ada makhluk seimut dia di dunia ini.Makin dipikirkan, aku justru makin kagum pada Sang Pencipta.Hebat sekali, bajingan.Rasanya semua tumpukan hasrat selama sepuluh tahun sudah keluar semua.Kenikmatannya benar-benar membuat jiwaku serasa melayang.Setelah terus bergumul selama dua jam, barulah aku beranjak dari atas tubuh Yusi dengan perasaan puas.Ucapan Yusi penuh nada kepuasan."Om, ternyata lakuin hal kayak gini rasanya enak banget ya.""Pantas saja Ibu kadang suka bawa cowok pulang, sensasinya memang senikmat ini."Melihat gelagatnya yang tampak ketagihan itu, hatiku rasanya senang bukan main.Ternyata ibu kos yang janda muda itu juga sama-sama tidak tahanan, sering cari

  • Jerat Cinta Ibu Kos dan Putrinya   Bab 2

    Namun, malam yang indah selalu terasa singkat. Tidak lama kemudian, aliran listrik sudah kembali normal dan lampu-lampu di dalam ruangan pun menyala.Yusi baru menyadari kalau posisi kami berdua sedang menempel sangat erat, wajahnya seketika merona merah, tidak berani menatapku.Tubuhnya pun perlahan merosot dan keluar dari pelukanku.Aku merasa masih belum puas, tapi hanya bisa menahan gejolak yang terasa menggelitik di dalam dada."Maaf ya, Om. Aku dari kecil memang takut banget sama petir. Mana kamarnya gelap, aku benar-benar takut kalau sendirian.""Nggak apa-apa, 'kan ada Om di sini, jangan takut lagi," kataku sambil menepuk-nepuk pundaknya."Ngomong-ngomong, hujan deras begini, ibumu pergi ke luar buat urusan apa?"Yusi mengerucutkan bibirnya lalu berkata, "Aku juga nggak tahu, kayaknya sih pergi dinas luar kota."Setelah itu, dia kembali ke kamarnya sendiri untuk tidur.Setelah seharian menarik ojol, badanku rasanya cukup lelah, jadi aku berniat ke kamar mandi untuk membersihkan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status