LOGINDia keluar dari ruangannya dan berjalan cepat menuju basement. Beberapa mahasiswa dan dosen yang berpapasan dengannya menyapa dengan hormat, tapi Aron hanya mengangguk singkat tanpa berhenti melangkah.Di mobil, Aron mengendarai keluar kampus menuju area pedagang kaki lima yang biasanya ramai di pagi hari. Dia ingat ada beberapa penjual makanan di dekat pasar tradisional yang tidak jauh dari kampus.Sampai di sana, Aron langsung mencari penjual rujak. Matanya menyapu ke kiri dan kanan, mencari gerobak rujak yang biasanya mudah dikenali dari warna-warni buahnya."Ah, itu dia," gumam Aron sambil menunjuk gerobak rujak di pojok jalan.Dia memarkirkan mobilnya dan berjalan menghampiri penjual rujak tersebut. Seorang ibu paruh baya yang ramah langsung menyambut kedatangannya."Selamat pagi, Pak. Mau pesan rujak?" tanya ibu itu dengan senyum lebar."Ya, Bu. Saya mau pesan rujak buah. Yang lengkap ya, Bu. Campur semua buahnya," ujar Aron."Baik, Pak. Mau pedas atau tidak?" tanya ibu itu samb
Pagi itu dimulai dengan suara Natasya yang berlari tergesa ke kamar mandi. Aron yang baru saja terbangun langsung terlonjak kaget mendengar suara istrinya muntah di kamar mandi. Dia cepat-cepat turun dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi."Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Aron sambil menepuk punggung istrinya yang sedang membungkuk di depan wastafel.Natasya menggeleng lemah sambil terus muntah. Wajahnya pucat dan keringat dingin mulai membasahi keningnya. Aron segera mengambil handuk kecil dan membasahinya dengan air, lalu mengusap wajah dan leher istrinya dengan lembut."Ini morning sickness lagi ya?" tanya Aron dengan nada khawatir.Natasya mengangguk sambil berkumur. "Iya, Mas. Sepertinya lebih parah dari kemarin.""Kamu yakin masih mau masuk kampus hari ini? Lebih baik istirahat saja di rumah," usul Aron sambil membantu istrinya berdiri."Tidak bisa, Mas. Hari ini ada jadwal praktek. Aku harus masuk," tolak Natasya sambil menggeleng meski tubuhnya masih terasa lemas.Ar
Jam kuliah telah berakhir dan mahasiswa mulai berkemas untuk keluar kelas. Aron masih duduk di meja dosennya sambil pura-pura memeriksa berkas, menunggu semua mahasiswa keluar. Tangannya meraih ponsel dan mengetik pesan untuk Natasya."Sayang, jangan memaksakan diri mengerjakan tugas. Nanti saat jam istirahat datang ke ruanganku. Aku akan membantumu."Natasya yang sedang memasukkan buku ke dalam tas merasakan ponselnya bergetar. Dia mengambil ponselnya dan membaca pesan dari suaminya. Senyum tipis terbentuk di bibirnya."Oke, Mas. Nanti aku ke sana," balas Natasya singkat.Mira yang duduk di samping Natasya mengerling ke arah layar ponsel sahabatnya. "Pak Aron?" tanyanya dengan nada menggoda.Natasya mengangguk sambil tersenyum malu. "Iya, Mas memintaku datang ke ruangannya saat jam istirahat nanti.""Wah, romantis sekali. Mau kencan di ruangan ya?" goda Mira sambil menyiku lengan Natasya pelan."Bukan kencan," Natasya tertawa kecil. "Mas mau membantu aku mengerjakan tugas.""Enak sek
Tiga hari berlalu sejak Natasya terakhir kali masuk kampus. Pagi itu, dia akhirnya kembali ke kampus dengan kondisi yang sudah jauh lebih baik. Di basement sebelum Natasya turun Aron terus memberikan pesan agar istrinya hati-hati dan jangan terlalu memaksakan diri. "Kalau kamu merasa tidak enak badan, langsung hubungi aku. Mengerti?" ujar Aron sambil menggenggam tangan istrinya sebelum Natasya turun dari mobil. "Iya, Mas. Aku mengerti. Jangan terlalu khawatir," jawab Natasya sambil tersenyum menenangkan. "Aku sudah jauh lebih baik sekarang." "Tetap saja aku khawatir. Kamu sekarang sedang mengandung anakku. Aku tidak bisa tidak khawatir," ujar Aron sambil mengecup kening istrinya dengan lembut. Natasya tersenyum mendengar kekhawatiran suaminya yang begitu manis. "Baik, aku janji akan hati-hati. Sekarang aku turun dulu ya, nanti terlambat." "Hati-hati," pesan Aron sekali lagi sebelum melepas genggaman tangannya. Natasya turun dari mobil dan berjalan masuk ke area kampus. Sesekali
Ibu Asti tersadar dari lamunannya. Dia menatap Aron dengan pandangan khawatir. "Bukan begitu, Nak. Ibu senang. Tapi...""Tapi apa, Bu?" tanya Natasya yang sudah melepaskan pelukan dari kakeknya.Ibu Asti menarik nafas panjang. "Ibu hanya khawatir dengan kuliahmu, Natasya. Kamu masih kuliah. Bagaimana nanti dengan kuliahmu kalau kamu hamil? Bagaimana dengan cita-citamu?"Senyum di wajah Natasya perlahan memudar. Dia baru menyadari kekhawatiran yang sama yang ada di pikiran ibunya."Ibu," Aron angkat bicara. "Saya mengerti kekhawatiran Ibu. Tapi saya berjanji akan membantu Natasya untuk tetap bisa menggapai cita-citanya. Saya tidak akan egois dan memaksa Natasya untuk hanya menjadi ibu rumah tangga."Ibu Asti menatap menantunya dengan pandangan menyelidik. "Aron, kamu tahu betapa kerasnya perjuangan Ibu untuk menyekolahkan Natasya kan? Setelah ayahnya meninggal, Ibu yang berjuang sendirian. Mencari pekerjaan sana-sini, bahkan harus berhutang untuk biaya sekolah Natasya."Aron mengangguk
Di dalam mobil yang melaju pelan meninggalkan area parkir rumah sakit, suasana terasa sangat hening. Natasya duduk di kursi penumpang dengan tangan terus mengusap perutnya yang masih rata. Matanya menatap kosong ke luar jendela, pikirannya berkecamuk dengan berbagai perasaan yang campur aduk.Aron sesekali melirik istrinya sambil menyetir. Dia bisa merasakan kegelisahan yang Natasya alami. Tangannya yang bebas meraih tangan istrinya dan menggenggamnya dengan lembut."Sayang," panggil Aron dengan suara pelan.Natasya menoleh menatap suaminya tapi tidak bersuara."Aku tahu kamu sedang bingung dan takut sekarang," lanjut Aron sambil mengusap punggung tangan Natasya dengan ibu jarinya. "Tapi dengar, anak adalah anugerah dari Tuhan. Ini adalah berkat yang harus kita syukuri."Natasya mengangguk pelan, air mata mulai mengalir di pipinya lagi. "Aku tahu, Mas. Aku tahu ini anugerah. Tapi aku tetap takut.""Takut itu wajar," Aron tersenyum lembut. "Bahkan aku juga takut. Takut tidak bisa menja







