LOGINSuara dering telepon di meja sedikit mengejutkan Raya. Tatapannya yang sejak tadi menunduk memeriksa sebuah berkas sebelum diserahkan pada atasannya kini teralih.
“Ke ruangan saya sekarang!” Suara tegas penuh penekanan terdengar dari seberang sana. Dan tanpa sempat menjawab ucapan atasannya tersebut, panggilan sudah lebih dulu dimatikan. Raya merapikan sedikit mejanya. Membawa setumpuk dokumen yang sudah selesai dia periksa untuk diserahkan pada Alex untuk ditandatangani. “Permisi, Tuan. Anda memanggil saya?” Raya bertanya. Alex mengangguk. “Masuklah!” Raya berjalan perlahan. Begitu sampai di depan meja kerja Alex, tangan pria itu terjulur memintanya untuk duduk. “Apa itu?” Alex menunjuk tumpukan kertas yang dipeluk erat oleh Raya di dadanya. “Laporan dari divisi yang perlu Tuan tanda tangani.” Raya meletakkan berkas yang dipeluknya ke hadapan Alex. Alex menggeser ke samping dokumen yang baru saja diletakkan oleh Raya. Kemudian menyodorkan dokumen pemberian Theo tadi ke hadapan gadis itu. Raya masih diam. Tidak bertanya dan tidak juga mengambil dokumen yang disodorkan Alex. Dia menunggu Alex menjelaskan apa isi dokumen tersebut. “Bacalah! Saya sudah berbaik hati dengan membuka langsung halaman yang penting untukmu.” Raya menggeser dokumen tersebut mendekat ke arahnya. Matanya membulat begitu melihat isinya. Riwayat transaksi penerimaan uang ke rekeningnya dari Bagaskara terpampang jelas di sana. Tangan Raya bergetar. Membaca satu persatu tulisan itu. Selama dua belas bulan dengan nominal yang tidak bisa dikatakan sedikit untuknya. Raya mengerang dalam hati. Habislah dia. Raya meletakkan kembali dokumen tersebut. Wajahnya menunduk dalam. Sementara Alex yang sejak tadi diam menatapnya tajam dari tempat duduk pria itu. Di bawah meja, tangan Raya yang saling menggenggam sesekali meremas. Dia juga bisa merasakan telapak tangannya mulai berkeringat. Entah apa yang akan dilakukan atasannya ini padanya, yang jelas Raya tidak akan bisa mengelak. “Ekhem…” Suara deheman Alex membuat Raya terperanjat. “Jadi…” Alex membuka percakapan. “Apa ada yang ingin kau katakan?” Tanyanya. Dari tempatnya, Alex menyunggingkan senyum samar. Akhirnya dia bisa melihat ekspresi Raya selain ketus dan dingin seperti biasanya. Meskipun saat ini mimik wajahnya tampak sangat ketakutan, setidaknya dia tidak akan menatap Alex dengan pandangan ketus seperti yang biasa gadis itu lakukan. “Apa kau tuli?” Alex sudah mulai tak sabar. Tangannya mengepal, wajahnya tampak mengeras. Sementara Raya, rasa takut yang menyergapnya sejak membaca isi dokumen itu membuatnya lupa dengan sekitar. Otaknya dipenuhi dengan berbagai gambaran masa depan yang sangat buruk. Menjadi salah satu pengguna rompi orange dan harus mendekam dibalik jeruji besi. Ah, bagaimana dengan Aurel? Siapa yang akan menemani dan mengusahakan kesembuhan untuk gadis kecil yang malang itu? Belum lagi biaya rumah sakit. “Aahhh…” Tanpa sadar Raya menjerit pelan. Bersamaan dengan pukulan keras di meja yang dilakukan oleh Alex. Menyadari tingkahnya yang kelepasan Raya menutup mulut dengan kedua tangannya. Padahal tadi dia hanya ingin mengerang di dalam hati, kenapa malah keceplosan? “Apa aku memberimu gaji selama ini untuk mengabaikanku?” Suara Alex penuh penekanan. “Maaf, Tuan.” “Bagaimana aku bisa memaafkanmu. Saat kau dengan jelas dan terbukti melakukan kecurangan di perusahaanku?” Suara Alex meninggi. Raya terperanjat. Tanpa sadar gadis itu menelan ludahnya. Dia tahu Alex bersikap sangat dingin selama ini, terutama pada karyawan. Tapi Raya berani bersumpah, ini adalah pertama kalinya dia melihat atasannya ini marah di kantor. “Bagaimana caramu membela diri?” Suara Alex melunak. Dia tidak berniat marah sungguhan. Itu tadi hanya sedikit gertakan untuk Raya. Tapi melihat gadis itu tampak sangat ketakutan Alex pun tidak akan melanjutkan gertakannya. “Sa,,, hmm,, saya…” “Bicara yang jelas!” Raya menarik napas dalam. Dia tidak bisa menghindar. Dia harus punya keberanian untuk menceritakan semua kebenarannya pada atasannya bahwa dia memang menerima uang pemberian dari Bagaskara namun dia sama sekali tidak tahu menahu dan tidak terlibat dengan kecurangan yang dilakukan pria itu. Sekali lagi Raya menarik napas panjang sebelum mengeluarkannya perlahan. “Maafkan saya, Tuan. Data yang Anda peroleh benar. Memang saya beberapa kali menerima uang dari Pak Bagas tapi saya sama sekali tidak terlibat dengan semua terjadi. Saya bahkan tidak tahu menahu.” Raya kembali menundukkan kepala setelah mengatakannya. Tatapan tajam Alex membuat Raya tidak kuat untuk berlama-lama menatap pria itu. Biasanya dia akan membalas tatapan Alex meskipun dengan ekspresi yang datar dan dingin. Tapi kali ini Raya benar-benar dibuat tidak berkutik. “Begitukah?” Alex bertanya skeptis. “Iya, Tuan.” “Lantas atas dasar apa dia mengirimimu uang sebanyak itu? Itu nominal yang tidak sedikit kalau hanya ditransfer atas dasar teman, bukan?” Raya tergagap. Alex benar. Tapi apa dia harus menceritakan semuanya pada pria ini tentang apa yang mendasari Bagas mengirimkan semua uang-uang itu? Apa pria ini akan percaya mengingat hubungan mereka yang tidak pernah baik sejak dulu? “Dia pacarmu, bukan begitu?” Raya menggeleng, dengan cepat dia menjawab. “Sama sekali tidak benar, Tuan.” Dia memberanikan diri untuk membalas tatapan mata Alex. “Oh, aku salah. Lantas apa alasan yang sebenarnya? Kalian saling memberi dan menerima uang hasil dari merampok perusahaanku. Bukankah itu suatu tindak kejahatan?” Raya kembali menundukkan kepalanya. Dia paham kemarahan Alex. Dan kalau mau jujur, saat ini dia pun merasa sangat marah pada Bagas. Seandainya dia tahu bantuan yang Bagas berikan padanya selama ini bersumber dari hasil menggelapkan dana perusahaan, tentu saja Raya tidak akan pernah sudi untuk menerimanya. “Baiklah kalau kamu bersikeras menutupi semuanya. Mungkin akan lebih baik kalau polisi langsung yang menginterogasimu.” Ucapan Alex membuat Raya menelan ludah. “Tuan…” Raya memanggil atasannya lirih. Alex mengernyitkan dahi. Apa dia tidak salah dengar? Gadis yang selama ini menatapnya dingin dan angkuh, yang kalau berbicara selalu datar dan ketus barusan memanggilnya lirih dan menatap dengan penuh harap. “Ekhemm…” Alex berdehem. Berusaha menetralkan perasaan dari rasa terkejutnya. “Ada yang ingin kau katakan?” “Saya bersalah, Tuan. Saya menerima uang pemberian Pak Bagas tanpa bertanya lebih jauh dari mana sumbernya.” Raya menjeda perkataannya. Alex hanya diam. Menunggu sekretarisnya cupunya menyelesaikan semua perkataan yang ingin dia ucapkan. “Saya,, saya benar-benar membutuhkan uang itu.” Suara Raya tercekat. Rasa takut akan dihukum dan sedih membayangkan keadaan Aurel, semua seolah menyeruak di dadanya. “Kamu butuh uang?” Raya mengangguk. “Apa imbalan yang kamu berikan pada Bagaskara selama ini?” “Maksud, Tuan?” Raya tidak mengerti maksud ucapan Alex. “Tidak mungkin Bagaskara memberikan uang padamu secara cuma-cuma, kan? Jadi jujur saja, apa imbalan yang pria itu dapatkan dengan mengirimimu uang yang tidak sedikit setiap bulannya?” “Saya tidak memberi apa-apa, Tuan.” Alex mengangguk-angguk. “Melihat gaya hidup dan kondisi ekonomi mu, saya yakin kalau kamu memang tidak akan mampu untuk memberi apa-apa pada Bagaskara.” Alex menatap Raya dari ujung kepala hingga terus ke bawah, ke sebagian tubuhnya yang tidak terhalang meja. Tindakan Alex membuat Raya bergidik. Dia tahu kemana arah pembicaraan pria itu sekarang. Tapi Raya berani bersumpah demi apapun kalau dia tidak seperti yang pria itu pikirkan. “Apa dia merasa puas dengan pelayananmu?” Ucapan Alex membuat hati Raya meradang. Hilang sudah rasa takut yang sejak tadi menggelayutinya. Berganti dengan rasa emosi dan tidak terima yang ingin segera dia tumpahkan. Alex benar-benar menilainya seperti wanita murahan dan itu mengusiknya. “Apa yang Anda bicarakan, Tuan? Saya tidak memiliki hubungan seperti itu dengan Pak Bagaskara. Diluar konteks pekerjaan kami hanya teman yang sudah lama saling mengenal.” Raya masih berusaha menahan nada suaranya. “Oh, ya? Hubungan kalian hanya sebatas pekerjaan. Berarti itu caramu mendapatkan uang tambahan? Profesional sekali. Kau melayaninya dan dia memberimu uang. Transaksi bisnis.” “Tidak ada hubungan seperti itu diantara kami Tuan.” “Lantas, apa alasan yang paling masuk akal jika rekan kerja sekaligus teman lama memberimu uang dengan nilai fantastis setiap bulannya? Ah, atau kalian sedang melakukan simulasi rumah tangga, menerima dan memberi nafkah?” Raya hanya diam. Setiap ucapan Alex yang terasa merendahkannya hanya bisa dia tahan di dalam hatinya. “Berapa kali kau melayaninya dalam sebulan dengan nominal segitu?” Tangan Raya yang sejak tadi berada di pangkuannya saling menggenggam dan meremas. Hatinya sudah tak terima tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. “Apa kau tuli? Atau bisu?” Raya tetap diam. Dalam hati gadis itu berusaha keras mengontrol perasaannya yang merasa sangat tidak terima. Dia tidak ingin semakin menyulitkan posisinya yang jelas bersalah dalam kasus penggelapan dana perusahaan kalau dia sampai kelepasan. Terlebih dia juga masih sangat membutuhkan pekerjaan ini. “Kalau kau mau, aku bisa memberimu uang berkali-kali lipat lebih banyak dari yang diberikan oleh Bagas setiap bulannya. Tergantung seperti apa pelayananmu.” Braaakk… Raya berdiri sambil menggebrak meja kerja Alex dengan keras. Tangannya perih, tapi diabaikan. Kali ini Alex sudah benar-benar keterlaluan. Melihat respon sekretarisnya yang cupu, dahi Alex berkerut. Dia tidak menyangka Raya memiliki keberanian seperti ini dihadapannya. Bahkan Alex bisa melihat wajah gadis itu mengeras dan kilat marah di matanya. “Apapun yang sejak tadi Anda pikirkan tentang saya, itu semua salah. Saya memang bersalah karena menerima uang pemberian Pak Bagas. Tapi alasan dibalik itu semua sama sekali tidak seperti yang Anda tuduhkan. Kalau Anda mau melaporkan saya ke polisi, silahkan. Saya siap menanggung semua hukuman yang akan diberikan kepada saya.” Usai mengatakan itu Raya berbalik, hendak meninggalkan ruangan Alex secepatnya. Klik. Bunyi klik yang terdengar dari pintu membuat langkah Raya terhenti. Sial! Dia lupa kalau bosnya yang baru saja merendahkannya memiliki remote untuk mengakses pintunya. Raya membalikkan badannya untuk menghadap Alex kembali. Pria itu sudah tidak lagi duduk di tempatnya. Alex kini berdiri di depan meja kerjanya. Badannya bersandar di meja dengan tangan menyilang di dada. Di sebelah tangannya terdapat remote yang baru saja pria itu gunakan untuk mengunci pintu. “Biarkan saya keluar, Tuan.” Ucap Raya pelan. Alex tertawa. “Bagaimana mungkin saya membiarkanmu pergi begitu saja saat kau sendiri bersedia agar kasus ini diserahkan ke polisi.” Raya menghela napas. “Saya janji tidak akan kabur, Tuan.” Ucapnya lagi. “Tidak. Saya tidak ingin dicurangi dua kali. Kalau kau disini, setidaknya saya bisa melihat sendiri saat polisi menangkapmu.”Alex duduk di balkon penthouse miliknya. Di tangannya tab miliknya sedang terbuka, menampilkan email yang baru saja dia terima dari Theo.Alex membaca dengan seksama file yang berisi informasi tentang Raya yang tadi dimintanya pada Theo. Sama sekali tidak ada hal yang spesial di sana.Isinya sama persis seperti yang Theo ceritakan tentang gadis itu sebelumnya. Tinggal di kamar kost kumuh yang jauh dari pusat kota tanpa memiliki satu pun kerabat yang masih hidup. Rasanya Alex tidak percaya ada orang dengan kehidupan semalang itu.Membaca file itu benar-benar membosankan bagi Alex. Dia sempat berpikir, apa gadis itu tidak bisa menikmati hidup? Jadwal kesehariannya benar-benar hanya kantor dan kost. Apa dia sama sekali tidak punya teman? Miris sekali hidupnya.Baru sedetik yang lalu Alex mengasihani hidup Raya, pemikiran pria itu berubah seketika saat mengingat kalau hidup Raya tidak semenyedihkan itu. Alex lupa kalau Raya mungkin terbiasa bersama Bagaskara.Meski t
Raya mengetuk pelan pintu ruangan dokter Andrew. Saat terdengar suara yang mempersilahkannya untuk masuk, Raya membuka pintu dan mendorongnya pelan.“Duduk, Raya.” Dokter Andrew mempersilahkan Raya untuk duduk di depannya.Tatapan dokter Andrew tertuju pada kertas-kertas di tangannya yang Raya yakini rekam medis milik Aurel. Raya memperhatikan mimik dokter Andrew yang tampak serius. Seketika rasa khawatir menyergap Raya. Apa sesuatu yang buruk telah terjadi.Dokter Andrew menutup lembaran kertas di tangannya, atensinya kini terfokus pada Raya. Sebelum berbicara, dokter Andrew berdehem sesaat.“Begini, Raya…” Dokter Andrew menjeda kalimatnya. “Seperti yang kita tahu, kardiomiopati yang diderita Aurel merupakan kardiomiopati dilatasi. Dan itu merupakan jenis kardiomiopati yang terparah. Dimana bilik kiri jantung membesar sehingga kemampuan jantung memompa darah menjadi berkurang yang berpotensi menyebabkan gagal jantung, gangguan katup jantung, penggumpalan darah di ja
Di dalam toilet Raya membersihkan dirinya dari sisa-sisa cairan yang tadi dia keluarkan. Rasa lengket di bagian bawah sana membuatnya merasa tidak nyaman. Setelah selesai Raya merapikan kembali pakaiannya.Raya menatap wajahnya pada pantulan cermin. Dia baru menyadari lipstiknya berantakan. Matanya juga sembab. Pantas saja tadi Theo memandangnya dengan penuh kebingungan. Kemudian dia mencuci wajahnya dan memoleskan lipstik kembali agar tidak tampak pucat. Raya menatap cermin sekali lagi. Memastikan penampilannya sudah tidak kacau seperti sebelumnya.Raya menarik nafas pelan sebelum keluar dari toilet. Berharap dirinya tidak akan kembali berpapasan dengan Theo di depan lift. Terlebih Alex. Dia belum siap untuk bertemu pria itu. Bukan karena dia takut atau lemah. Bukan. Tapi karena dia masih muak dengan atasannya itu.Raya berjanji pada dirinya sendiri tidak merutuki kebodohannya lagi. Dia juga tidak akan menangisi kejadian tadi lagi. Tidak akan. Apalagi setelah dia berhas
Alex menatap takjub wajah Raya saat gadis itu tengah diliputi kepuasaan. Kepalanya yang mendongak dengan bibir yang terbuka, entah kenapa tampak sangat menakjubkan di mata Alex. Nafas Raya masih memburu, dadanya naik turun. Menambah kesan seksi gadis itu di mata Alex.Alex tahu, sejak dulu dibalik dandanan cupu gadis itu tersimpan kecantikannya yang luar biasa. Tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau kecantikan Raya bisa meningkat berkali-kali lipat saat gadis itu tengah dilanda gelombang orgasme.Alex menelan ludah. Rasanya dia ingin kembali menciumi seluruh bagian wajah Raya sekarang. Melanjutkan permainan mereka lebih dari ini. Dia membayangkan akan seperti apa rasanya miliknya yang setelah sekian lama tertidur menemukan kembali tempat untuk dimasuki. Akan seperti apa rasanya jika dia terbenam di dalam pusat Raya? Pasti akan luar biasa. Dia akan membisikkan di telinga gadis itu betapa cantiknya dia saat berada di tengah gelombang kepuasan usai mereka selesai melakukann
Pegangan Alex pada rambut Raya terlepas, berganti dengan menahan tengkuk gadis itu untuk memperdalam ciuman mereka. Sebelah tangannya lagi menahan punggung gadis itu, membuat tubuh mereka semakin menempel.Raya yang diperlakukan seperti ini oleh Alex terus berontak, mencoba melepaskan diri dari atasannya yang entah sedang kerasukan apa. Tapi tenaganya yang tidak sebanding dengan Alex membuat semua gerakannya seolah sia-sia. Bukannya melepaskan Raya, Alex justru memperdalam ciuman mereka.Ciuman Alex kasar, penuh tuntutan dan emosi. Digigitnya kasar bibir bawah Raya yang membuat gadis itu melenguh. Kesempatan itu digunakan Alex untuk memasukan lidahnya ke mulut gadis itu untuk memperdalam ciuman mereka. Lidah Alex menjelajahi mulut Raya, mengabsen deretan gigi gadis itu tanpa memberi kesempatan baginya itu untuk bernapas.Tubuh Raya yang semula memberontak pun sekarang melemas. Dia menyerah dengan semua perlakuan Alex padanya. Ditambah dengan nafasnya yang hampir habis, m
Di kamar yang baru saja ditinggalkan Alex, Bianca berteriak kencang. Selalu saja seperti ini. Seharusnya dia tidak perlu percaya pada Alex yang meminta maaf padanya. Seharusnya sejak awal pria itu mengangkat tubuhnya ke atas pangkuannya dia menampar pria itu. Tapi bukannya marah dia malah dengan murahannya menuruti perintah Alex.“Bajingan!” Desisnya.Sampai kapanpun dia tidak akan pernah melupakan kejadian ini. Selama ini dia memang mengejar Alex, tapi baru kali ini dia bertingkah seperti jalang di hadapan pria itu. Hanya karena Alex meminta maaf dan tiba-tiba melakukan kontak fisik dengannya dia langsung bergerak liar. Memalukan!Dia memang bukan gadis perawan. Tapi merendahkan diri dihadapan pria seperti tadi tidak pernah Bianca lakukan sebelumnya. Justru para pria lah yang mengejar-ngejarnya selama ini. Tapi tidak ada satupun dari pria-pria itu yang bisa membuat Bianca menginginkan mereka selama ini. Selain kepuasan yang mereka berikan tentu saja.Mengingat kepua
Raya dan Alex masih berdiri di tempat masing-masing. Lumayan lama mereka berada diposisi seperti itu, mungkin sekitar lima belas menit. Dan anehnya, yang mereka lakukan hanya diam dan saling pandang. Tapi siapapun tahu kalau tatapan mata mereka memancarkan emosi yang tidak dapat diucapkan. Teruta







