分享

Mimpi Buruk

作者: Aksara_Lizza
last update publish date: 2026-07-05 15:28:32

Dua hari berlalu seperti badai yang merenggut seluruh kendali hidup Freya. Kini, selembar kertas legal telah menyatakan dirinya sah sebagai istri dari Axel Leonardo.

Tidak ada pesta megah, hanya sumpah seadanya di hadapan beberapa saksi di ruang kerja Axel.

Malam pertamanya pun dimulai di kamar utama milik Axel, sebuah ruangan luas bermaterial marmer hitam dan kayu gelap yang terasa lebih mirip sangkar daripada kamar tidur.

Freya meringkuk di ujung kasur ukuran king-size. Tubuhnya begitu kaku, memunggungi sisi ranjang yang lain dengan kedua lutut ditarik erat ke dada.

Jantungnya berdegup kencang, memantul di dinding dadanya yang sesak. Di bawah selimut sutra abu-abu itu, tangannya mengepal erat, mencengkeram piyama satinnya sendiri.

Pikiran Freya berkecamuk hebat. Bayangan kilasan lampu disko, aroma alkohol murahan, dan cengkeraman kasar para lintah darat di klub malam itu mendadak berputar kembali di benaknya.

Trauma malam itu belum hilang. Sinyal bahaya di otaknya terus berdering, menuntutnya bersiap untuk kemungkinan terburuk jika Axel menuntut hak biologisnya malam ini.

Pria itu menginginkan seorang pewaris, dan Freya tahu persis bagaimana cara pewaris itu dibuat.

Sret.

Suara geseran pelan di sisi lain kasur membuat Freya memejamkan mata erat-erat. Axel baru saja naik ke atas ranjang setelah menyelesaikan urusan kantornya. Freya menahan napas, menunggu tangan dingin pria itu menyentuh bahunya atau membalikkan tubuhnya dengan paksa.

Satu detik. Sepuluh detik. Satu menit.

Tidak ada pergerakan. Kamar itu justru tenggelam dalam keheningan yang mencekam. Hanya ada suara embusan napas teratur dari arah belakangnya.

Freya memberanikan diri membuka mata sedikit. Melalui pantulan samar dari kaca jendela besar yang mengarah ke balkon, ia bisa melihat siluet Axel.

Pria itu berbaring telentang seraya menatap langit-langit kamar dengan kedua tangan bersendekap di atas dada. Jarak di antara mereka terbentang luas, menyisakan ruang kosong di tengah kasur yang cukup untuk ditempati satu orang lagi.

Axel tidak menyentuhnya sama sekali. Pria itu bahkan tidak menoleh ke arahnya.

"Kau tidak tidur?" suara berat Axel tiba-kira memecah kesunyian, hingga membuat Freya tersentak kecil.

"Aku... aku belum mengantuk," sahut Freya sembari menahan diri agar tidak gemetar.

"Tidurlah. Aku tidak berniat memakanmu malam ini," kata Axel datar dan tanpa emosi.

"Kau bilang kau menginginkan pewaris dariku," desis Freya, memberanikan diri menuntut kejelasan di tengah ketakutannya.

Axel mengubah posisinya dengan memunggungi Freya sehingga mereka kini saling membelakangi.

"Aku memang butuh pewaris, tapi aku tidak suka menyentuh wanita yang gemetar seperti tikus ketakutan. Tenangkan dirimu, atau kau akan menyiksa dirimu sendiri sepanjang malam."

Setelah kalimat dingin itu terucap, Axel tidak lagi bersuara. Jam dinding digital di sudut kamar terus berdetak, mengiringi malam yang perlahan merayap menuju dini hari. Keheningan itu justru terasa mencekik bagi Freya.

Rasa takut akan pelecehan yang hampir ia alami dua hari lalu di klub malam terus menghantuinya, bertransformasi menjadi paranoia yang menggerogoti kewarasannya.

Tepat pukul dua pagi, ketegangan di kamar itu bergeser.

Napas Freya mendadak memendek. Dadanya terasa seolah dihantam balok beton besar hingga ia kesulitan meraup oksigen. Keringat dingin mulai membasahi pelipis dan tengkuknya.

Di dalam tidurnya yang tidak nyenyak, mimpi buruk tentang lorong gelap klub malam dan kepungan pria-pria bertato kembali mengejarnya.

"Tidak... jangan..." igau Freya lirih.

Tubuhnya mulai menggigil hebat. Serangan panik menghantamnya di tengah malam, memutus kesadarannya dari realitas. Ia tidak bisa bernapas.

Setiap kali ia mencoba menarik napas, tenggorokannya terasa tersumbat. Freya mencengkeram dadanya sendiri, merintih pelan di tengah siksaan batinnya.

Gerakan acak dan napas tersengal dari sisi Freya rupanya mengusik tidur Axel. Pria itu membuka matanya dan langsung menyadari ada yang tidak beres dengan wanita di sampingnya. Axel pun bangkit dan duduk di tepi kasur dan menyalakan lampu tidur yang temaram.

Ia melihat Freya pucat pasi, dengan bibir yang gemetar dan tubuh yang meringkuk gemetaran seperti orang yang kedinginan di tengah badai salju.

Axel terdiam beberapa saat. Pembawaannya yang kaku dan gengsi besarnya menahan pria itu untuk mengucapkan kata-kata penenang yang hangat. Ia tidak tahu bagaimana cara meredakan kepanikan seorang wanita, dan ego tingginya menolak untuk terlihat peduli.

Namun, melihat Freya yang semakin tersiksa, Axel pun bergerak.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Axel meraih ujung selimut tebal yang sempat tersingkap.

Dengan gerakan yang terukur namun tegas, ia menarik selimut itu hingga membungkus seluruh tubuh Freya sampai ke batas leher, mengurung hawa dingin yang membuat wanita itu menggigil.

Tak berhenti di situ, Axel menggeser tubuhnya mendekat. Ia membalikkan tubuh tegapnya sendiri, lalu berbaring miring tepat di belakang punggung Freya.

Axel tidak memeluknya. Tetap menjaga jarak beberapa sentimeter agar kulit mereka tidak bersentuhan secara langsung, menghormati batas fisik yang sangat dijaga oleh Freya.

Pria berusia 35 tahun itu menempatkan tubuh besarnya seolah menjadi "dinding pelindung" yang kokoh di belakang Freya. Keberadaan tubuh Axel yang hangat dan kokoh di belakangnya perlahan-lahan memberikan efek magis.

Aroma kayu cendana yang maskulin dari tubuh Axel mulai menguar, mengusir aroma klub malam khayalan yang sejak tadi menyiksa indra penciuman Freya.

Merasa ada sesuatu yang membentengi punggungnya dari "bahaya" yang ia takuti dalam mimpi, intensitas gigilan tubuh Freya berangsur-angsur mereda. Napasnya yang tadinya putus-putus mulai teratur kembali, mengikuti ritme napas tenang milik pria di belakangnya.

Freya membuka matanya yang masih basah oleh air mata, lalu melirik sedikit ke belakang melalui sudut matanya. Ia bisa merasakan kehangatan yang memancar dari tubuh Axel, dinding manusia yang sengaja dipasang pria itu untuk menjaganya dari monster dalam pikirannya sendiri.

Malam pertamanya tidak berakhir dengan pemaksaan yang ia takuti, melainkan dalam perlindungan bisu yang tidak pernah ia duga dari seorang pria berhati dingin seperti Axel Leonardo.

Namun, saat matanya menatap lurus ke arah kegelapan kamar, sebuah kesadaran baru menghantamnya: ia aman malam ini, tetapi pernikahan ini baru saja dimulai.

Berapa lama dinding pelindung ini akan bertahan sebelum Axel benar-benar menagih janji tentang seorang pewaris?

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Jerat Hasrat sang Penguasa   Jangan Cari Dia

    "B-bukan begitu maksudku!" Freya tergagap, suaranya naik satu oktav karena panik.Lidahnya mendadak kelu, kebingungan setengah mati mencari alasan logis untuk membela diri. Semburan warna merah padam makin meluas dari pipi hingga membanjiri seluruh lehernya.Axel tidak menjawab. Pria itu perlahan beranjak, menegakkan tubuhnya hingga pijakan kakinya kembali menapak lantai marmer yang dingin.Melihat figur tinggi besar itu bergerak menjauh dari sisinya, kepanikan yang berbeda langsung menyergap Freya.Secara refleks, ia membuka matanya dan memajukan tubuhnya. "M-mau ke mana?" tanya Freya cepat, raut cemas menyorot sangat jelas dari matanya.Axel menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang dengan sebelah alis terangkat tipis.Tatapan elangnya menyapu wajah Freya yang terlihat kontradiktif, antara ketakutan ditinggal sendirian di tengah badai dan rasa malu yang mencekik."Apa kau bisa tidur dengan nyenyak jika aku berbaring di sampingmu hanya dengan mengenakan handuk seperti ini?" tanya

  • Jerat Hasrat sang Penguasa   Sebuah Keterkejutan yang Terlambat

    Malam makin larut, tetapi ketenangan sama sekali tidak menghampiri kamar utama yang megah itu. Jarum jam baru saja melewati angka sebelas ketika Freya melangkah perlahan mendekati ranjang king-size.Setiap kali ia melirik sisi ranjang tempat Axel biasa tidur, dadanya berdegup kencang oleh gelombang gelisah yang menolak surut.Baru saja satu kakinya berlutut di atas kasur hendak menaikkan selimut, kilatan cahaya putih yang menyilaukan mendadak menyambar di luar jendela kaca besar.CARRRR!Duar! Suara petir menggelegar dahsyat, disusul gemuruh angin dan hujan badai yang menghantam kaca jendela dengan brutal.Suasana kamar yang semula temaram seketika terasa mencekik. Kilatan-kilatan petir menyiangi kegelapan, melemparkan bayangan-bayangan menakutkan ke dinding marmer.Freya memekik. Ketakutan masa kecil yang teramat dalam langsung menyergap otaknya.Tubuhnya membeku, dadanya naik turun dengan napas tersengal-sengal. Bayangan masa lalu saat ayahnya sering menguncinya di kamar gelap di

  • Jerat Hasrat sang Penguasa   Istri yang Sempurna

    "Angkat sedikit dagunya, Nyonya," pinta Madam Olivia, sang desainer pribadi yang sengaja didatangkan Axel siang itu. Ia tengah menarik pita ukur dan melingkarkannya di sekeliling dada Freya dengan cekatan.Freya berdiri kaku di tengah ruang ganti yang luas. Di sekelilingnya, dua asisten desainer sibuk memamerkan jajaran gaun malam berbahan sutra dan brokat mewah.Namun, alih-alih merasa senang, Freya justru merasa sangat tidak nyaman. Ketika cermin besar di hadapannya memantulkan bayangannya sendiri, rasa minder itu langsung menusuk dada.Tubuhnya tampak terlalu kurus akibat stres berbulan-bulan. Lebih buruk lagi, kain gaun abu-abu yang kini dilepas memperlihatkan memar-memar samar keunguan di lengan dan bahunya, sisa dari cengkeraman kasar para lintah darat malam itu, serta bekas luka lama yang tersembunyi."Aku tidak mau gaun yang ini," kata Freya ketat, menolak gaun malam berpotongan backless yang disodorkan seorang asisten. "Potongannya terlalu terbuka di bagian punggung dan dada.

  • Jerat Hasrat sang Penguasa   Akan Pergi Bulan Madu

    "Baik, Nyonya Freya, saya akan membacakan poin-poin utama dalam perjanjian pernikahan ini," Johan membuka suara. "Poin pertama dan yang paling krusial, Anda berkewajiban untuk melahirkan seorang pewaris sah untuk Tuan Axel Leonardo."Di balik meja besar bermaterial kayu mahoni, Johan, pengacara pribadi Axel yang berambut klimis, merapikan tumpukan berkas setebal dua puluh halaman.Di sudut ruangan, Samuel—asisten pribadi Axel berdiri siaga dengan ekspresi wajah yang sulit dibaca. Sementara Axel sendiri duduk di kursi kebesarannya, menopang dagu sembari menatap Freya yang duduk di seberang meja.Freya meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan. "Lalu?""Poin kedua," Johan membalik halaman berkas. "Selama ikatan pernikahan ini berlangsung, Anda wajib menunjukkan sikap dan gestur bahwa Anda dan Tuan Axel saling mencintai dengan tulus. Hal ini berlaku mutlak di hadapan publik, kolega bisnis, maupun di depan keluarga besar Tuan Axel."Mata Freya langsung membola mendengar poin kedua itu. I

  • Jerat Hasrat sang Penguasa   Sikap yang Aneh

    Pagi pertama sebagai istri dari Leonardo dimulai. Freya berjalan dengan langkah lambat, sesekali merapikan sweter rajut longgar yang dipadukan dengan celana kain seadanya, pakaian terbaik yang bisa ia temukan di lemari kamar barunya.Meski kini dia menyandang status sebagai istri Axel, namun, alih-alih merasa terhormat, dada Freya justru dihantam perasaan rendah diri yang akut. Ia merasa seperti penyusup, seorang penipu yang mengenakan gaun pinjaman di dalam rumah yang megah bak istana ini.Langkah kakinya membawa Freya sampai ke area ruang makan bergaya modern kontemporer. Di balik meja panjang bermaterial batu kuarsa, beberapa pelayan sedang sibuk menata sarapan."Selamat pagi, Nyonya," sapa salah satu pelayan senior dengan membungkuk sopan.Namun, tidak semua orang di ruangan itu menyambutnya dengan ramah. Di sudut meja, seorang pelayan muda berambut sebahu sedang menaruh vas bunga dengan gerakan kasar. Namanya Sarah. Usianya tidak jauh berbeda dari Freya, sekitar 27 atau 28 tahun.

  • Jerat Hasrat sang Penguasa   Mimpi Buruk

    Dua hari berlalu seperti badai yang merenggut seluruh kendali hidup Freya. Kini, selembar kertas legal telah menyatakan dirinya sah sebagai istri dari Axel Leonardo.Tidak ada pesta megah, hanya sumpah seadanya di hadapan beberapa saksi di ruang kerja Axel.Malam pertamanya pun dimulai di kamar utama milik Axel, sebuah ruangan luas bermaterial marmer hitam dan kayu gelap yang terasa lebih mirip sangkar daripada kamar tidur.Freya meringkuk di ujung kasur ukuran king-size. Tubuhnya begitu kaku, memunggungi sisi ranjang yang lain dengan kedua lutut ditarik erat ke dada.Jantungnya berdegup kencang, memantul di dinding dadanya yang sesak. Di bawah selimut sutra abu-abu itu, tangannya mengepal erat, mencengkeram piyama satinnya sendiri.Pikiran Freya berkecamuk hebat. Bayangan kilasan lampu disko, aroma alkohol murahan, dan cengkeraman kasar para lintah darat di klub malam itu mendadak berputar kembali di benaknya.Trauma malam itu belum hilang. Sinyal bahaya di otaknya terus berdering, m

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status