LOGINDua hari berlalu seperti badai yang merenggut seluruh kendali hidup Freya. Kini, selembar kertas legal telah menyatakan dirinya sah sebagai istri dari Axel Leonardo.
Tidak ada pesta megah, hanya sumpah seadanya di hadapan beberapa saksi di ruang kerja Axel.
Malam pertamanya pun dimulai di kamar utama milik Axel, sebuah ruangan luas bermaterial marmer hitam dan kayu gelap yang terasa lebih mirip sangkar daripada kamar tidur.
Freya meringkuk di ujung kasur ukuran king-size. Tubuhnya begitu kaku, memunggungi sisi ranjang yang lain dengan kedua lutut ditarik erat ke dada.
Jantungnya berdegup kencang, memantul di dinding dadanya yang sesak. Di bawah selimut sutra abu-abu itu, tangannya mengepal erat, mencengkeram piyama satinnya sendiri.
Pikiran Freya berkecamuk hebat. Bayangan kilasan lampu disko, aroma alkohol murahan, dan cengkeraman kasar para lintah darat di klub malam itu mendadak berputar kembali di benaknya.
Trauma malam itu belum hilang. Sinyal bahaya di otaknya terus berdering, menuntutnya bersiap untuk kemungkinan terburuk jika Axel menuntut hak biologisnya malam ini.
Pria itu menginginkan seorang pewaris, dan Freya tahu persis bagaimana cara pewaris itu dibuat.
Sret.
Suara geseran pelan di sisi lain kasur membuat Freya memejamkan mata erat-erat. Axel baru saja naik ke atas ranjang setelah menyelesaikan urusan kantornya. Freya menahan napas, menunggu tangan dingin pria itu menyentuh bahunya atau membalikkan tubuhnya dengan paksa.
Satu detik. Sepuluh detik. Satu menit.
Tidak ada pergerakan. Kamar itu justru tenggelam dalam keheningan yang mencekam. Hanya ada suara embusan napas teratur dari arah belakangnya.
Freya memberanikan diri membuka mata sedikit. Melalui pantulan samar dari kaca jendela besar yang mengarah ke balkon, ia bisa melihat siluet Axel.
Pria itu berbaring telentang seraya menatap langit-langit kamar dengan kedua tangan bersendekap di atas dada. Jarak di antara mereka terbentang luas, menyisakan ruang kosong di tengah kasur yang cukup untuk ditempati satu orang lagi.
Axel tidak menyentuhnya sama sekali. Pria itu bahkan tidak menoleh ke arahnya.
"Kau tidak tidur?" suara berat Axel tiba-kira memecah kesunyian, hingga membuat Freya tersentak kecil.
"Aku... aku belum mengantuk," sahut Freya sembari menahan diri agar tidak gemetar.
"Tidurlah. Aku tidak berniat memakanmu malam ini," kata Axel datar dan tanpa emosi.
"Kau bilang kau menginginkan pewaris dariku," desis Freya, memberanikan diri menuntut kejelasan di tengah ketakutannya.
Axel mengubah posisinya dengan memunggungi Freya sehingga mereka kini saling membelakangi.
"Aku memang butuh pewaris, tapi aku tidak suka menyentuh wanita yang gemetar seperti tikus ketakutan. Tenangkan dirimu, atau kau akan menyiksa dirimu sendiri sepanjang malam."
Setelah kalimat dingin itu terucap, Axel tidak lagi bersuara. Jam dinding digital di sudut kamar terus berdetak, mengiringi malam yang perlahan merayap menuju dini hari. Keheningan itu justru terasa mencekik bagi Freya.
Rasa takut akan pelecehan yang hampir ia alami dua hari lalu di klub malam terus menghantuinya, bertransformasi menjadi paranoia yang menggerogoti kewarasannya.
Tepat pukul dua pagi, ketegangan di kamar itu bergeser.
Napas Freya mendadak memendek. Dadanya terasa seolah dihantam balok beton besar hingga ia kesulitan meraup oksigen. Keringat dingin mulai membasahi pelipis dan tengkuknya.
Di dalam tidurnya yang tidak nyenyak, mimpi buruk tentang lorong gelap klub malam dan kepungan pria-pria bertato kembali mengejarnya.
"Tidak... jangan..." igau Freya lirih.
Tubuhnya mulai menggigil hebat. Serangan panik menghantamnya di tengah malam, memutus kesadarannya dari realitas. Ia tidak bisa bernapas.
Setiap kali ia mencoba menarik napas, tenggorokannya terasa tersumbat. Freya mencengkeram dadanya sendiri, merintih pelan di tengah siksaan batinnya.
Gerakan acak dan napas tersengal dari sisi Freya rupanya mengusik tidur Axel. Pria itu membuka matanya dan langsung menyadari ada yang tidak beres dengan wanita di sampingnya. Axel pun bangkit dan duduk di tepi kasur dan menyalakan lampu tidur yang temaram.
Ia melihat Freya pucat pasi, dengan bibir yang gemetar dan tubuh yang meringkuk gemetaran seperti orang yang kedinginan di tengah badai salju.
Axel terdiam beberapa saat. Pembawaannya yang kaku dan gengsi besarnya menahan pria itu untuk mengucapkan kata-kata penenang yang hangat. Ia tidak tahu bagaimana cara meredakan kepanikan seorang wanita, dan ego tingginya menolak untuk terlihat peduli.
Namun, melihat Freya yang semakin tersiksa, Axel pun bergerak.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Axel meraih ujung selimut tebal yang sempat tersingkap.
Dengan gerakan yang terukur namun tegas, ia menarik selimut itu hingga membungkus seluruh tubuh Freya sampai ke batas leher, mengurung hawa dingin yang membuat wanita itu menggigil.
Tak berhenti di situ, Axel menggeser tubuhnya mendekat. Ia membalikkan tubuh tegapnya sendiri, lalu berbaring miring tepat di belakang punggung Freya.
Axel tidak memeluknya. Tetap menjaga jarak beberapa sentimeter agar kulit mereka tidak bersentuhan secara langsung, menghormati batas fisik yang sangat dijaga oleh Freya.
Pria berusia 35 tahun itu menempatkan tubuh besarnya seolah menjadi "dinding pelindung" yang kokoh di belakang Freya. Keberadaan tubuh Axel yang hangat dan kokoh di belakangnya perlahan-lahan memberikan efek magis.
Aroma kayu cendana yang maskulin dari tubuh Axel mulai menguar, mengusir aroma klub malam khayalan yang sejak tadi menyiksa indra penciuman Freya.
Merasa ada sesuatu yang membentengi punggungnya dari "bahaya" yang ia takuti dalam mimpi, intensitas gigilan tubuh Freya berangsur-angsur mereda. Napasnya yang tadinya putus-putus mulai teratur kembali, mengikuti ritme napas tenang milik pria di belakangnya.
Freya membuka matanya yang masih basah oleh air mata, lalu melirik sedikit ke belakang melalui sudut matanya. Ia bisa merasakan kehangatan yang memancar dari tubuh Axel, dinding manusia yang sengaja dipasang pria itu untuk menjaganya dari monster dalam pikirannya sendiri.
Malam pertamanya tidak berakhir dengan pemaksaan yang ia takuti, melainkan dalam perlindungan bisu yang tidak pernah ia duga dari seorang pria berhati dingin seperti Axel Leonardo.
Namun, saat matanya menatap lurus ke arah kegelapan kamar, sebuah kesadaran baru menghantamnya: ia aman malam ini, tetapi pernikahan ini baru saja dimulai.
Berapa lama dinding pelindung ini akan bertahan sebelum Axel benar-benar menagih janji tentang seorang pewaris?
Di tengah keheningan ruang tengah yang mencekam, konfrontasi antara Axel dan ibunya mencapai titik terpanas.Melanjutkan deklarasinya yang membekukan darah seluruh anggota keluarga, Axel menjatuhkan larangan keras dan mutlak kepada Manda.Pria itu memasang benteng tak kasatmata yang memagari kehidupan istrinya dari jangkauan siapa pun."Mulai detik ini, aku melarang keras Ibu untuk pernah membawa, menemui, atau bahkan mengajak Freya pergi ke mana pun tanpa izin tertulis dan persetujuan langsung dari mulutku sendiri," tegas Axel, suaranya bergaung menembus setiap sudut ruangan yang sunyi.Axel menetapkan barikade pelindung yang tak menoleransi celah sekecil apa pun di masa depan.Sorot matanya yang tajam menancap lurus pada Manda, menegaskan bahwa hak dan otoritas atas keberadaan, pergerakan, serta napas Freya sepenuhnya berada di tangannya, bukan lagi pada aturan atau tradisi klan Leonardo."Jangan pernah berani mengetuk pintu kamarnya, memanggilnya ke ruang makan tanpa seijinku, apal
Axel menghubungi seluruh anggota inti keluarga besar Leonardo—Manda, Juan, Evelyn, dan Helena—satu per satu."Batalkan semua janji temu kalian," pangkas Axel dingin sewaktu tersambung dengan ayahnya, Juan."Siang ini, pukul satu tepat, seluruh anggota keluarga harus sudah berkumpul di ruang tengah kediaman utama.""Ada apa, Axel? Ayah sedang ada pertemuan direksi—""Aku tidak menerima alasan," potong Axel tanpa ampun, menyela ucapan Juan dengan nada suara yang sarat akan ancaman dan kemurkaan terselubung."Datang, atau aku sendiri yang akan mencabut seluruh wewenang bisnis kalian hari ini juga."Nada bicara Axel yang begitu tajam dan berbahaya membuat seluruh anggota keluarga menyadari bahwa telah terjadi krisis besar yang tak bisa dihindari.Beberapa jam kemudian, atmosfer di ruang tengah kediaman utama berubah menjadi sangat tegang dan membisu.Juan duduk di sofa utama dengan raut wajah berat dan kening berkerut dalam, menyadari potensi bahaya dari kemurkaan putranya.Manda tampak g
Aroma antiseptik yang tajam dan dengung halus peralatan medis menyambut Axel yang berdiri mematung di depan ruang perawatan intensif VVIP.Pria tegap itu menolak untuk duduk, memilih menyandarkan punggungnya pada dinding marmer koridor rumah sakit yang dingin.Bayangan wajah pucat Freya yang terkulai tak berdaya terus membayangi benaknya, menyiksa setiap detik penantiannya dengan rasa cemas yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.Tak lama kemudian, pintu ruang perawatan terbuka. Seorang dokter spesialis senior keluar menyapu pandangan, lalu melangkah mantap menghampiri Axel untuk menyampaikan hasil diagnosis resmi."Bagaimana keadaan istriku, Dokter?" potong Axel cepat sebelum dokter itu sempat menyapa, suaranya serak dan sarat akan penekanan yang menuntut.Dokter spesialis itu menghela napas panjang, menatap Axel dengan raut wajah yang sangat serius dan menyudutkan."Kami telah berhasil menstabilkan suhu tubuh dan tekanan darah Nyonya Freya, Tuan Leonardo," buka dokter itu dengan in
Pagi-pagi sekali, ketika fajar masih membiaskan warna keabuan yang dingin di langit kota, mobil mewah Axel bergerak pelan memasuki area carport kediaman utama.Axel duduk terdiam di balik kemudi dengan raut wajah yang teramat lelah, kusam, dan dibayangi penyesalan terselubung setelah melewatkan seluruh malam di luar rumah demi meredakan amarahnya yang memuncak.Pria itu menyandarkan kepalanya di sandaran jok kulit, mengusap wajahnya kasar seraya menatap bayangan dirinya di kaca spion.Namun, sebelum ia sempat mematikan mesin kendaraan, ponsel bisnisnya mendadak berdering kencang.Sambungan telepon dari asisten pribadinya memecah keheningan kabin mobil yang pekat."Ada apa?" sapa Axel dingin, menekan tombol penerima dengan suara yang serak dan berat."Selamat pagi, Tuan Axel. Maaf mengganggu pagi-pagi sekali," ujar suara asisten pribadinya dari ujung saluran dengan intonasi tergesa-gesa."Terjadi krisis akuisisi pada proyek strategis kita di Singapura. Pihak kompetitor mencoba membloki
Sepanjang sisa malam hingga menyingsingnya fajar di ufuk timur, Freya sama sekali tidak bisa memejamkan matanya.Reaksi kimia dari ramuan medis yang berangsur-angsur mereda meninggalkan rasa ngilu di persendian, lemas yang luar biasa, serta kehampaan pekat yang mengendap di dalam dada.Berbaring meringkuk di atas tempat tidur king-size yang teramat luas dan dingin tanpa dekapan hangat Axel membuat ketakutan terbesar Freya kembali mencengkeram jiwanya tanpa ampun.Terbayang jelas di benaknya bahwa kepergian Axel malam ini adalah awal dari berakhirnya kehangatan yang baru saja ia rasakan, sekaligus hancurnya ikatan di antara mereka akibat kecerobohannya sendiri yang terlalu pasrah dan patuh pada mertuanya."Apakah... apakah ini akhir dari segalanya?" bisik Freya serak pada ruangan yang hening, memandangi sisi ranjang yang kosong tempat Axel biasanya mendominasi tubuhnya.Dengan jemari yang gemetar hebat dan mata yang kusam basah oleh genangan air mata, Freya meraih ponsel pintarnya dari
Usai meluapkan kemurkaannya di telepon, atmosfer di dalam kamar tidur utama bukannya mereda, melainkan berganti menjadi keheningan mencekam yang amat membekukan.Emosi Axel yang terkuras habis serta frustrasi dan rasa murkanya yang masih terpancing membuat pria itu kehilangan kendali penuh atas dirinya sendiri.Axel berdiri mematung di samping ranjang, menatap Freya yang masih berbaring lemas dengan tatapan mata elang yang teramat rumit, dingin, dan berjarak.Tidak ada lagi sisa gairah posesif di manik matanya; yang tersisa hanyalah jarak yang curam dan tajam.Rasa kekecewaan mendalam atas ketidakmampuan Freya untuk menolak keinginan ibunya membakar dada Axel, membuatnya memilih tindakan ekstrem yang belum pernah ia lakukan sebelumnya."Axel..." panggil Freya lirik, menyuarakan kepasrahannya dari balik deru napas yang masih belum stabil akibat efek ramuan. "Jangan menatapku seperti itu..."Axel tidak menjawab. Pria itu menatap tubuh Freya yang meremang dengan riak amarah yang mengenda







