Home / Romansa / Jerat Hasrat sang Penguasa / Satu Syarat dari Sang Penguasa

Share

Satu Syarat dari Sang Penguasa

Author: Aksara_Lizza
last update publish date: 2026-07-05 15:20:02

"A-apa?" Mata Freya langsung membola mendengarnya.

Kedua tangannya yang gemetar spontan terangkat ke dada, menciptakan jarak tipis di antara tubuhnya dan Axel. Kata-kata pria itu terasa seperti hantaman godam tepat di ulu hatinya.

Menjadi istri? Di dalam kepala Freya, skenario terburuknya adalah menjadi tawanan atau pekerja di klub ini, bukan pernikahan mendadak dengan pria asing yang tampak seperti malaikat maut berjas mahal.

"B-bukan itu maksudku, Tuan. Maksudku—"

"Aku tidak suka mengulang kalimatku, Freya," potong Axel kemudian melepaskan cengkeramannya di dagu Freya, lalu melangkah mundur satu langkah, memberikan tekanan psikologis yang justru membuat Freya merasa semakin terpojok.

Axel menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menilai yang dingin.

"Pilihannya sederhana. Bersedia jadi istriku, atau keluar dari kamar ini dan menjadi jalang kecil untuk para lelaki hidung belang di bawah sana? Mereka masih mencarimu, dan aku yakin mereka tidak akan segan-segan merobek sisa gaunmu itu."

Freya terdiam sementara tangannya mengepal kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan kuku-kukunya memendam perih di telapak tangan. Kemarahan dan ketakutan bercampur aduk di dalam dadanya, membuatnya merasa tercekik.

"Kita bahkan tidak saling mengenal!" seru Freya frustasi. "Aku hanya meminta tolong padamu malam ini, bukan untuk dijadikan istri! Bagaimana bisa kau memutuskan hal segila ini hanya dalam hitungan menit?"

"Aku tidak peduli kita saling kenal atau tidak," sahut Axel datar sembari merapikan jam tangan kronograf di pergelangan tangan kirinya tanpa beban. "Yang jelas, kau dan aku akan menikah dalam dua hari yang akan datang. Semua persiapan akan diatur oleh orang-orangku."

"Dua hari? Kau gila!"

"Jika kau menolak, silakan," Axel mengedikkan bahunya sekilas, lalu berjalan kembali menuju sofa dan mengambil mantel hitamnya yang tersampir di sana.

"Kembalikan uang dua puluh miliar itu sekarang juga ke rekeningku. Jika tidak bisa, maka aku dengan senang hati akan membukakan pintu ini, memanggil para lintah darat tadi, dan mengantarkanmu sendiri ke lantai bawah klub untuk dijajakan pada pria-pria yang sedang menunggunmu."

Mata Freya memejam dengan erat. Air mata frustrasi yang sejak tadi ditahannya kini mendesak ingin keluar. Dua puluh miliar. Jangankan dua puluh miliar, dua puluh juta saja ia tidak punya di rekeningnya saat ini.

Ayahnya benar-benar telah melemparkannya ke dalam sumur tak berdasar. Di luar sana ada monster-monster yang siap mengoyak harga dirinya, sementara di dalam kamar ini, ada monster lain yang siap mengikatnya dalam sangkar emas.

"Bagaimana?" suara Axel kembali terdengar. "Aku tidak punya banyak waktu untuk menunggu jawabanmu."

Freya tidak sanggup membuka suara. Lidahnya mendadak kelu, keluarganya hancur, dan masa depannya baru saja direnggut dalam sekejap mata.

Melihat keterdiaman Freya, Axel langsung berbalik arah menuju pintu keluar. "Bawa dia ke mobil," perintah Axel kepada dua pengawalnya yang sejak tadi berdiri siaga di dekat pintu.

"Baik, Tuan Leonardo," jawab salah satu pengawal dengan patuh.

Sebelum kedua pria berbadan besar itu menyentuh lengannya, Freya tersentak dan melangkah mundur. "Tunggu! Kita mau ke mana?" tanya Freya panik, menatap punggung Axel yang sudah berada di ambang pintu.

"Rumahku," jawab Axel tanpa menoleh sedikit pun.

Axel berjalan lebih dulu memimpin jalan, melintasi lorong klub yang kini sudah bersih dari para pengejar Freya. Sementara itu, Freya terpaksa berjalan di belakangnya, dikawal ketat oleh dua pria tegap yang memastikan ia tidak akan melarikan diri ke mana-mana.

Di sepanjang perjalanan menuju area parkir bawah tanah, tangan Freya tidak berhenti gemetar. Dadanya sesak oleh kenyataan pahit yang harus ia telan bulat-bulat.

Nasibnya ternyata sama saja. Keluar dari mulut buaya, masuk ke dalam sarang singa. Ia mengira telah menemukan dewa penolong yang dikirim tuhan di saat-saat terakhirnya, namun kenyataannya ia hanya berpindah kungkungan.

Ia berakhir dalam cengkeraman sang penguasa yang tiba-tiba saja membayar utangnya dengan jaminan yang teramat mahal: dirinya sendiri harus menjadi istrinya.

Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik sudah menunggu di lobi khusus VIP.

Axel langsung masuk ke kursi belakang, diikuti oleh Freya yang didorong dengan sopan namun tegas oleh pengawalnya untuk duduk di sebelah pria itu. Selama perjalanan tiga puluh menit, tidak ada satu pun kata yang keluar. Atmosfer di dalam mobil begitu pekat dan dingin.

Setibanya di sebuah rumah mewah bergaya modern minimalis yang terletak di kawasan elite, Axel melangkah masuk terlebih dahulu.

Rumah itu sangat luas, dengan langit-langit tinggi dan didominasi warna putih, abu-abu, dan hitam. Sunyi dan kaku, persis seperti pemiliknya.

Axel melepaskan mantelnya dan menyerahkannya kepada seorang pelayan paruh baya yang menyambut mereka. Ia kemudian berbalik dan menghadapi Freya yang masih berdiri mematung di dekat pintu masuk dengan gaun robeknya.

"Duduk," titah Axel sambil menunjuk ke arah sofa ruang tamu yang luas.

Freya menurut demi menjaga sisa tenaganya yang hampir habis. Ia pun duduk di ujung sofa, merapatkan tubuhnya, merasa sangat asing dan terancam di tempat semewah ini.

Axel berdiri di hadapannya sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana bahan miliknya. Lalu matanya menatap Freya dengan pandangan lurus, bersiap menjelaskan aturan main yang baru.

"Dengarkan aku baik-baik, Freya. Kau akan hidup nyaman di sini. Apa pun yang kau butuhkan akan dipenuhi. Kau tidak perlu lagi mengkhawatirkan lintah darat atau utang judi ayahmu yang tidak berguna itu," ujar Axel, tengah menjabarkan fasilitas yang terdengar seperti mimpi bagi orang yang sedang terlilit utang.

"Semua itu akan kau dapatkan, selama kau mau menuruti semua perintahku tanpa terkecuali."

Freya lantas mendongak. Di balik rasa takutnya, ada secercah rasa penasaran yang bercampur dengan kecurigaan mendalam. Tidak ada makan siang gratis di dunia ini, apalagi dari pria sekelas Axel Leonardo.

"Perintah apa?" tanya Freya lirih.

Axel menatap datar wajah Freya dan menjawab dengan nada datar, “Lahirkan pewaris untukku!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Hasrat sang Penguasa   Baru Permulaan

    Pertanyaan mendesak yang dilontarkan Freya menggantung pekat di udara, menyisakan ketegangan baru yang amat intim.Axel tidak langsung menjawab.Pria itu justru melangkah makin dekat, menatap lekat wajah Freya dengan intensitas yang begitu membakar hingga membuat dada Freya berdebar tak menentu."Ketegangan bisnis dan perjanjian utang itu tidak ada hubungannya dengan keturunan kita kelak, Freya," ucap Axel dengan suara rendah nan berat, menatap lurus ke dalam manik mata istrinya."Kita bisa melakukannya setiap hari agar rahimmu segera terisi benihku."Mendengar ucapan yang teramat gamblang itu, Freya seketika menelan ludahnya dengan susah payah.Rasa hangat menyergap wajahnya, disusul gelombang desakan emosi yang bercampur antara kepasrahan dan gairah yang membingungkan.Freya menatap Axel yang mulai memajukan tubuhnya seraya membuka kancing kemejanya satu per satu secara perlahan."Apakah... apakah itu artinya kau akan menyentuhku sekarang?" tanya Freya dengan nada suara yang terputu

  • Jerat Hasrat sang Penguasa   Desakan Terselubung

    Pasca-santap siang yang menguras emosi usai, rombongan keluarga besar Leonardo membagi aktivitas mereka di kediaman utama.Langkah kaki beraturan dari para pria terdengar menggema saat Ayah Juan, Verrel, dan Axel melangkah menyendiri menuju ruang kerja pribadi di lantai dua.Ruangan bernuansa kayu mahoni tebal itu seketika diisolasi untuk membahas urusan akuisisi bisnis serta strategi ekspansi perusahaan keluarga yang sempat tertunda.Di dalam ruang kerja yang tenang, Ayah Juan berjalan mendekati meja kerja utama, lalu memutar tubuhnya menatap Axel. Pria tua itu menyunggingkan senyum tipis yang amat jarang diperlihatkannya."Pengakuan Freya di meja makan tadi sangat mengesankan, Axel," buka Ayah Juan dengan suara berat nan mantap."Aku bangga melihat bagaimana kau membimbingnya. Rumah tanggamu tampak jauh lebih harmonis dari yang kubayangkan."Axel yang sedang berdiri merapikan kancing kemejanya hanya mengangguk kaku. "Freya tahu betul posisi dan tanggung jawabnya, Ayah."Ayah Juan me

  • Jerat Hasrat sang Penguasa   Perasaan yang Terombang-ambing

    Ketegangan membeku yang sempat menguasai ruang makan perlahan-lahan mencair seiring dengan respons yang diberikan oleh para sesepuh keluarga.Ayah Juan menyandarkan punggungnya di kursi kayu jati berukir mewah, menganggukkan kepala secara perlahan dengan raut wajah puas dan bangga atas ketegasan serta keanggunan yang ditunjukkan oleh menantunya."Pernyataan yang amat bermartabat, Freya," puji Ayah Juan dengan nada suara berat yang tak lagi kaku."Keluarga Leonardo memang membutuhkan sosok pendamping yang memiliki keteguhan hati serta keberanian untuk berdiri tegap di situasi sulit."Dada Freya bergetar pelan mendengar pengakuan tersebut. Rasa sesak yang sejak awal menghimpit ulu hatinya perlahan surut, berganti dengan helaan napas lega yang tertahan.Verrel menimpali dari sisinya dengan senyuman tipis yang hangat, menyilangkan kedua tangannya santai."Saya harus mengakui, kejujuran dan ketenanganmu dalam mempertahankan kehormatan rumah tangga di bawah tekanan interogasi tadi amat meng

  • Jerat Hasrat sang Penguasa   Hanya Menjalankan Peran

    Dampak dari pengakuan tulus Freya mengguncang bagian terdalam dari diri Axel.Pria yang biasanya selalu memegang kendali penuh atas emosi dan ekspresi wajahnya itu seketika terdiam seribu bahasa di tempatnya.Tatapan mata elang Axel mendadak membeku, tertuju amat tajam pada sosok Freya yang masih berdiri tegak dengan keanggunan kaku di sampingnya.Di balik topeng datarnya yang kian mengeras, benak Axel bergolak hebat, mencoba mencerna dan menguraikan barisan kalimat yang baru saja diucapkan oleh istrinya di hadapan seluruh klan Leonardo.Ketegangan internal yang membakar dada Axel berpusat pada benturan psikologis yang teramat rumit.Pria itu terjebak dalam dilema dan kebingungan mendalam: apakah jawaban luar biasa yang diberikan Freya hanyalah sebuah bentuk sandiwara yang dipersiapkan dengan sangat sempurna demi menjaga harga diri serta mematuhi perintahnya untuk tampil tanpa cela, ataukah kalimat-kalimat emosional itu sungguh-sungguh merupakan ungkapan hati nurani Freya yang jujur d

  • Jerat Hasrat sang Penguasa   Pengakuan di Ujung Ketegangan

    Freya memalingkan wajahnya sejenak, menatap lurus ke dalam manik mata elang milik Axel yang berdiri tepat di sampingnya.Dalam sepersekian detik keheningan yang menyiksa itu, Freya menyerap ketegangan suaminya.Ia merasakan bagaimana cengkeraman jemari kekar Axel di pinggangnya kian mengerat, sebuah pijatan intim yang seolah menyalurkan seluruh sisa daya untuk menopang tubuhnya.Freya mengumpulkan seluruh sisa keberanian di dalam dadanya sebelum akhirnya memutar tubuhnya kembali menghadap Ibu Manda secara utuh.Dengan dagu terangkat dan suara yang tetap tenang namun bergetar penuh penghayatan mendalam, Freya mematahkan kecurigaan Ibu Manda secara tegas dan gamblang.Topik pembicaraan malam itu sepenuhnya berfokus pada pembelaan emosional Freya atas kehormatan pernikahannya yang selama ini dipertanyakan."Jika Ibu menduga bahwa pernikahan ini hanyalah sekadar transaksi dingin, kesepakatan bisnis, atau perjanjian di atas kertas formalitas belaka..." buka Freya dengan nada suara yang ter

  • Jerat Hasrat sang Penguasa   Tuntutan Jawaban Mutlak

    "Cukup, Ibu! Pertanyaan Ibu benar-benar sudah sangat melintasi batas kesopanan!" tegur Evelyn tajam seraya menatap dengan penuh amarah saat menatap Manda."Freya adalah Nyonya rumah di sini. Dia sudah menyambut kita semua dengan sangat baik sejak kita menginjakkan kaki di vila ini. Tidak sepantasnya Ibu mempermalukannya seperti ini di meja makan, apalagi tidak menghargai keputusan Axel dalam memilih pasangan hidupnya!"Manda memiringkan kepalanya sedikit, menatap putri kandungnya dengan raut wajah tak percaya sekaligus tersinggung.Perdebatan kecil seketika meletus di meja makan saat kedua wanita berdarah bangsawan itu saling melempar argumen yang kian memanas mengenai batasan privasi anak dan hak orang tua untuk tahu."Jangan mengguruiku, Evelyn!" balas Manda dengan intonasi yang tak kalah tinggi dan sengit."Aku adalah ibunya! Sebagai seorang ibu, aku berhak tahu apakah putraku menikah dengan wanita yang benar-benar mencintainya atau hanya dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status