LOGIN"A-apa?" Mata Freya langsung membola mendengarnya.
Kedua tangannya yang gemetar spontan terangkat ke dada, menciptakan jarak tipis di antara tubuhnya dan Axel. Kata-kata pria itu terasa seperti hantaman godam tepat di ulu hatinya.
Menjadi istri? Di dalam kepala Freya, skenario terburuknya adalah menjadi tawanan atau pekerja di klub ini, bukan pernikahan mendadak dengan pria asing yang tampak seperti malaikat maut berjas mahal.
"B-bukan itu maksudku, Tuan. Maksudku—"
"Aku tidak suka mengulang kalimatku, Freya," potong Axel kemudian melepaskan cengkeramannya di dagu Freya, lalu melangkah mundur satu langkah, memberikan tekanan psikologis yang justru membuat Freya merasa semakin terpojok.
Axel menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menilai yang dingin.
"Pilihannya sederhana. Bersedia jadi istriku, atau keluar dari kamar ini dan menjadi jalang kecil untuk para lelaki hidung belang di bawah sana? Mereka masih mencarimu, dan aku yakin mereka tidak akan segan-segan merobek sisa gaunmu itu."
Freya terdiam sementara tangannya mengepal kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan kuku-kukunya memendam perih di telapak tangan. Kemarahan dan ketakutan bercampur aduk di dalam dadanya, membuatnya merasa tercekik.
"Kita bahkan tidak saling mengenal!" seru Freya frustasi. "Aku hanya meminta tolong padamu malam ini, bukan untuk dijadikan istri! Bagaimana bisa kau memutuskan hal segila ini hanya dalam hitungan menit?"
"Aku tidak peduli kita saling kenal atau tidak," sahut Axel datar sembari merapikan jam tangan kronograf di pergelangan tangan kirinya tanpa beban. "Yang jelas, kau dan aku akan menikah dalam dua hari yang akan datang. Semua persiapan akan diatur oleh orang-orangku."
"Dua hari? Kau gila!"
"Jika kau menolak, silakan," Axel mengedikkan bahunya sekilas, lalu berjalan kembali menuju sofa dan mengambil mantel hitamnya yang tersampir di sana.
"Kembalikan uang dua puluh miliar itu sekarang juga ke rekeningku. Jika tidak bisa, maka aku dengan senang hati akan membukakan pintu ini, memanggil para lintah darat tadi, dan mengantarkanmu sendiri ke lantai bawah klub untuk dijajakan pada pria-pria yang sedang menunggunmu."
Mata Freya memejam dengan erat. Air mata frustrasi yang sejak tadi ditahannya kini mendesak ingin keluar. Dua puluh miliar. Jangankan dua puluh miliar, dua puluh juta saja ia tidak punya di rekeningnya saat ini.
Ayahnya benar-benar telah melemparkannya ke dalam sumur tak berdasar. Di luar sana ada monster-monster yang siap mengoyak harga dirinya, sementara di dalam kamar ini, ada monster lain yang siap mengikatnya dalam sangkar emas.
"Bagaimana?" suara Axel kembali terdengar. "Aku tidak punya banyak waktu untuk menunggu jawabanmu."
Freya tidak sanggup membuka suara. Lidahnya mendadak kelu, keluarganya hancur, dan masa depannya baru saja direnggut dalam sekejap mata.
Melihat keterdiaman Freya, Axel langsung berbalik arah menuju pintu keluar. "Bawa dia ke mobil," perintah Axel kepada dua pengawalnya yang sejak tadi berdiri siaga di dekat pintu.
"Baik, Tuan Leonardo," jawab salah satu pengawal dengan patuh.
Sebelum kedua pria berbadan besar itu menyentuh lengannya, Freya tersentak dan melangkah mundur. "Tunggu! Kita mau ke mana?" tanya Freya panik, menatap punggung Axel yang sudah berada di ambang pintu.
"Rumahku," jawab Axel tanpa menoleh sedikit pun.
Axel berjalan lebih dulu memimpin jalan, melintasi lorong klub yang kini sudah bersih dari para pengejar Freya. Sementara itu, Freya terpaksa berjalan di belakangnya, dikawal ketat oleh dua pria tegap yang memastikan ia tidak akan melarikan diri ke mana-mana.
Di sepanjang perjalanan menuju area parkir bawah tanah, tangan Freya tidak berhenti gemetar. Dadanya sesak oleh kenyataan pahit yang harus ia telan bulat-bulat.
Nasibnya ternyata sama saja. Keluar dari mulut buaya, masuk ke dalam sarang singa. Ia mengira telah menemukan dewa penolong yang dikirim tuhan di saat-saat terakhirnya, namun kenyataannya ia hanya berpindah kungkungan.
Ia berakhir dalam cengkeraman sang penguasa yang tiba-tiba saja membayar utangnya dengan jaminan yang teramat mahal: dirinya sendiri harus menjadi istrinya.
Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik sudah menunggu di lobi khusus VIP.
Axel langsung masuk ke kursi belakang, diikuti oleh Freya yang didorong dengan sopan namun tegas oleh pengawalnya untuk duduk di sebelah pria itu. Selama perjalanan tiga puluh menit, tidak ada satu pun kata yang keluar. Atmosfer di dalam mobil begitu pekat dan dingin.
Setibanya di sebuah rumah mewah bergaya modern minimalis yang terletak di kawasan elite, Axel melangkah masuk terlebih dahulu.
Rumah itu sangat luas, dengan langit-langit tinggi dan didominasi warna putih, abu-abu, dan hitam. Sunyi dan kaku, persis seperti pemiliknya.
Axel melepaskan mantelnya dan menyerahkannya kepada seorang pelayan paruh baya yang menyambut mereka. Ia kemudian berbalik dan menghadapi Freya yang masih berdiri mematung di dekat pintu masuk dengan gaun robeknya.
"Duduk," titah Axel sambil menunjuk ke arah sofa ruang tamu yang luas.
Freya menurut demi menjaga sisa tenaganya yang hampir habis. Ia pun duduk di ujung sofa, merapatkan tubuhnya, merasa sangat asing dan terancam di tempat semewah ini.
Axel berdiri di hadapannya sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana bahan miliknya. Lalu matanya menatap Freya dengan pandangan lurus, bersiap menjelaskan aturan main yang baru.
"Dengarkan aku baik-baik, Freya. Kau akan hidup nyaman di sini. Apa pun yang kau butuhkan akan dipenuhi. Kau tidak perlu lagi mengkhawatirkan lintah darat atau utang judi ayahmu yang tidak berguna itu," ujar Axel, tengah menjabarkan fasilitas yang terdengar seperti mimpi bagi orang yang sedang terlilit utang.
"Semua itu akan kau dapatkan, selama kau mau menuruti semua perintahku tanpa terkecuali."
Freya lantas mendongak. Di balik rasa takutnya, ada secercah rasa penasaran yang bercampur dengan kecurigaan mendalam. Tidak ada makan siang gratis di dunia ini, apalagi dari pria sekelas Axel Leonardo.
"Perintah apa?" tanya Freya lirih.
Axel menatap datar wajah Freya dan menjawab dengan nada datar, “Lahirkan pewaris untukku!"
Melihat situasi yang kian liar dan berpotensi merusak hubungan darah antara anak dan ibu, Juan dan Evelyn mengambil alih kendali situasi untuk meredakan amarah Axel yang masih membakar atmosfer ruangan.Juan berdiri, melangkah mendekati istrinya yang terduduk kaku di sofa, lalu meletakkan tangan kekarnya di bahu Manda seraya menatap wanita itu dengan sorot mata kecewa yang mendalam."Manda, siramkan air dingin di kepalamu yang panas itu sekarang," tegur Juan dengan suara rendah namun amat berat. "Kau sudah melangkah terlalu jauh."Manda menengadah, matanya yang berkaca-kaca menatap Juan dengan rasa tidak percaya."Juan... kau juga menyalahkanku? Aku melakukan ini demi masa depan klan kita!""Cukup, Manda! Rumah tangga Axel dan Freya bukan lagi wilayah kekuasaanmu!" potong Juan tegas, cengkeramannya di bahu Manda kian menekan."Kau harus belajar menghormati batas. Axel sudah dewasa, dia suami dan kepala keluarga di rumah tangganya sendiri. Caramu memaksakan kehendak ini justru hampir me
Di tengah keheningan ruang tengah yang mencekam, konfrontasi antara Axel dan ibunya mencapai titik terpanas.Melanjutkan deklarasinya yang membekukan darah seluruh anggota keluarga, Axel menjatuhkan larangan keras dan mutlak kepada Manda.Pria itu memasang benteng tak kasatmata yang memagari kehidupan istrinya dari jangkauan siapa pun."Mulai detik ini, aku melarang keras Ibu untuk pernah membawa, menemui, atau bahkan mengajak Freya pergi ke mana pun tanpa izin tertulis dan persetujuan langsung dari mulutku sendiri," tegas Axel, suaranya bergaung menembus setiap sudut ruangan yang sunyi.Axel menetapkan barikade pelindung yang tak menoleransi celah sekecil apa pun di masa depan.Sorot matanya yang tajam menancap lurus pada Manda, menegaskan bahwa hak dan otoritas atas keberadaan, pergerakan, serta napas Freya sepenuhnya berada di tangannya, bukan lagi pada aturan atau tradisi klan Leonardo."Jangan pernah berani mengetuk pintu kamarnya, memanggilnya ke ruang makan tanpa seijinku, apal
Axel menghubungi seluruh anggota inti keluarga besar Leonardo—Manda, Juan, Evelyn, dan Helena—satu per satu."Batalkan semua janji temu kalian," pangkas Axel dingin sewaktu tersambung dengan ayahnya, Juan."Siang ini, pukul satu tepat, seluruh anggota keluarga harus sudah berkumpul di ruang tengah kediaman utama.""Ada apa, Axel? Ayah sedang ada pertemuan direksi—""Aku tidak menerima alasan," potong Axel tanpa ampun, menyela ucapan Juan dengan nada suara yang sarat akan ancaman dan kemurkaan terselubung."Datang, atau aku sendiri yang akan mencabut seluruh wewenang bisnis kalian hari ini juga."Nada bicara Axel yang begitu tajam dan berbahaya membuat seluruh anggota keluarga menyadari bahwa telah terjadi krisis besar yang tak bisa dihindari.Beberapa jam kemudian, atmosfer di ruang tengah kediaman utama berubah menjadi sangat tegang dan membisu.Juan duduk di sofa utama dengan raut wajah berat dan kening berkerut dalam, menyadari potensi bahaya dari kemurkaan putranya.Manda tampak g
Aroma antiseptik yang tajam dan dengung halus peralatan medis menyambut Axel yang berdiri mematung di depan ruang perawatan intensif VVIP.Pria tegap itu menolak untuk duduk, memilih menyandarkan punggungnya pada dinding marmer koridor rumah sakit yang dingin.Bayangan wajah pucat Freya yang terkulai tak berdaya terus membayangi benaknya, menyiksa setiap detik penantiannya dengan rasa cemas yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.Tak lama kemudian, pintu ruang perawatan terbuka. Seorang dokter spesialis senior keluar menyapu pandangan, lalu melangkah mantap menghampiri Axel untuk menyampaikan hasil diagnosis resmi."Bagaimana keadaan istriku, Dokter?" potong Axel cepat sebelum dokter itu sempat menyapa, suaranya serak dan sarat akan penekanan yang menuntut.Dokter spesialis itu menghela napas panjang, menatap Axel dengan raut wajah yang sangat serius dan menyudutkan."Kami telah berhasil menstabilkan suhu tubuh dan tekanan darah Nyonya Freya, Tuan Leonardo," buka dokter itu dengan in
Pagi-pagi sekali, ketika fajar masih membiaskan warna keabuan yang dingin di langit kota, mobil mewah Axel bergerak pelan memasuki area carport kediaman utama.Axel duduk terdiam di balik kemudi dengan raut wajah yang teramat lelah, kusam, dan dibayangi penyesalan terselubung setelah melewatkan seluruh malam di luar rumah demi meredakan amarahnya yang memuncak.Pria itu menyandarkan kepalanya di sandaran jok kulit, mengusap wajahnya kasar seraya menatap bayangan dirinya di kaca spion.Namun, sebelum ia sempat mematikan mesin kendaraan, ponsel bisnisnya mendadak berdering kencang.Sambungan telepon dari asisten pribadinya memecah keheningan kabin mobil yang pekat."Ada apa?" sapa Axel dingin, menekan tombol penerima dengan suara yang serak dan berat."Selamat pagi, Tuan Axel. Maaf mengganggu pagi-pagi sekali," ujar suara asisten pribadinya dari ujung saluran dengan intonasi tergesa-gesa."Terjadi krisis akuisisi pada proyek strategis kita di Singapura. Pihak kompetitor mencoba membloki
Sepanjang sisa malam hingga menyingsingnya fajar di ufuk timur, Freya sama sekali tidak bisa memejamkan matanya.Reaksi kimia dari ramuan medis yang berangsur-angsur mereda meninggalkan rasa ngilu di persendian, lemas yang luar biasa, serta kehampaan pekat yang mengendap di dalam dada.Berbaring meringkuk di atas tempat tidur king-size yang teramat luas dan dingin tanpa dekapan hangat Axel membuat ketakutan terbesar Freya kembali mencengkeram jiwanya tanpa ampun.Terbayang jelas di benaknya bahwa kepergian Axel malam ini adalah awal dari berakhirnya kehangatan yang baru saja ia rasakan, sekaligus hancurnya ikatan di antara mereka akibat kecerobohannya sendiri yang terlalu pasrah dan patuh pada mertuanya."Apakah... apakah ini akhir dari segalanya?" bisik Freya serak pada ruangan yang hening, memandangi sisi ranjang yang kosong tempat Axel biasanya mendominasi tubuhnya.Dengan jemari yang gemetar hebat dan mata yang kusam basah oleh genangan air mata, Freya meraih ponsel pintarnya dari







