INICIAR SESIÓNPagi pertama sebagai istri dari Leonardo dimulai. Freya berjalan dengan langkah lambat, sesekali merapikan sweter rajut longgar yang dipadukan dengan celana kain seadanya, pakaian terbaik yang bisa ia temukan di lemari kamar barunya.
Meski kini dia menyandang status sebagai istri Axel, namun, alih-alih merasa terhormat, dada Freya justru dihantam perasaan rendah diri yang akut. Ia merasa seperti penyusup, seorang penipu yang mengenakan gaun pinjaman di dalam rumah yang megah bak istana ini.
Langkah kakinya membawa Freya sampai ke area ruang makan bergaya modern kontemporer. Di balik meja panjang bermaterial batu kuarsa, beberapa pelayan sedang sibuk menata sarapan.
"Selamat pagi, Nyonya," sapa salah satu pelayan senior dengan membungkuk sopan.
Namun, tidak semua orang di ruangan itu menyambutnya dengan ramah. Di sudut meja, seorang pelayan muda berambut sebahu sedang menaruh vas bunga dengan gerakan kasar. Namanya Sarah. Usianya tidak jauh berbeda dari Freya, sekitar 27 atau 28 tahun.
Dengan riasan wajah yang sedikit berlebihan untuk ukuran seorang pekerja domestik dan seragam yang sengaja diperketat di bagian pinggang, Sarah menatap Freya dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan pandangan sinis yang tak disembunyikan.
"Ah, jadi ini nyonya baru kita?" ucapnya sambil melipat kedua tangan di dada, sengaja memosisikan diri di jalur berjalan Freya. "Kira-kira, berapa lama bertahan di rumah ini kalau modalnya cuma utang miliaran itu?"
Freya menghentikan langkahnya. Wajahnya seketika memucat, tangannya mengepal di sisi tubuh. "Apa maksudmu?" tanyanya datar.
"Jangan pura-pura polos, Nyonya Baru," sindir Sarah sambil melangkah maju satu langkah dengan senyum meremehkan.
"Semua orang di bagian belakang juga sudah tahu cerita aslimu. Wanita dari keluarga bangkrut yang diseret dari klub malam. Kau pikir karena Tuan Axel menikahimu, kau langsung setara dengan kelasnya? Kau cuma beruntung karena Tuan butuh rahim untuk pewarisnya."
"Sarah! Jaga bicaramu!" tegor pelayan senior dengan wajah panik, lalu mencoba menarik lengan gadis itu.
Namun, Sarah menepisnya kasar. Matanya yang memancarkan rasa suka dan obsesi tersembunyi pada Axel menatap Freya dengan penuh kebencian. "Kenapa harus takut? Aku cuma mengatakan kebenaran. Di rumah ini, yang tidak punya kontribusi nyata tidak ada bedanya dengan benalu."
Freya terpaku di tempatnya. Kata-kata Sarah menghantam titik paling rapuh dalam dirinya. Dadanya sesak, dan ia merasakan kembali sensasi tercekik seperti tadi malam.
Ia ingin membalas, ingin berteriak bahwa ia tidak meminta semua ini terjadi, namun lidahnya mendadak kelu oleh rasa malu yang mendalam.
"Siapa yang kau sebut benalu?"
Suara berat dan dingin itu menginterupsi dari arah pintu masuk ruang makan.
Axel berdiri di sana. Pria itu sudah rapi dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan jam tangan mewah dan urat-urat tegas di tangannya. Aura intimidasi yang pekat seketika menyelimuti seluruh ruangan, membuat suhu di sekitar mereka seolah anjlok drastis.
Sarah mendadak membeku. Wajah genitnya berubah pias dalam hitungan detik. "T-Tuan Axel... saya tidak bermaksud—"
"Aku bertanya padamu, Sarah," potong Axel sembari melangkah mendekat, kemudian berhenti tepat di samping Freya, dengan tatapan matanya yang setajam elang mengunci Sarah tanpa ampun. "Apa tugasmu di rumah ini termasuk mengurusi urusan pribadiku?"
"Bukan, Tuan... saya bersumpah saya hanya—"
"Aku membayar kalian untuk bekerja, bukan untuk menilai siapa yang layak berada di meja makanku," ujar Axel pelan namun getaran kuasanya membuat pelayan-pelayan lain di ruangan itu langsung menunduk dalam.
Axel lalu beralih menatap kepala pelayan yang berdiri tak jauh dari sana. "Siapa pun yang tidak menghormati istriku, silakan angkat kaki hari ini."
Sarah terbelalak panik. "Tuan, tolong maafkan saya! Saya tidak akan mengulanginya lagi!"
"Keluar atau aku akan memecatmu sekarang juga," perintah Axel mutlak, bahkan tanpa memandang wajah Sarah lagi.
Kepala pelayan segera memberi isyarat kepada pelayan lain untuk menyeret Sarah keluar dari ruang makan. Isak tangis dan permohonan ampun Sarah perlahan menjauh, menyisakan keheningan yang kembali menguasai ruangan.
Freya tertegun di tempatnya berdiri. Batinnya bergejolak hebat antara rasa bingung dan haru yang membuncah di dadanya. Ia pun menatap profil samping wajah Axel yang tampak tegas dan tanpa ekspresi.
Pria ini seolah memiliki dua wajah yang bertolak belakang: pria kejam yang memaksanya masuk ke dalam pernikahan kontrak ini demi seorang pewaris, sekaligus pria yang berdiri paling depan untuk memastikan tidak ada satu orang pun yang boleh merendahkan harga dirinya di rumah ini.
"Duduk dan makan sarapanmu," ucap Axel datar, memecah lamunan Freya seolah kejadian menegangkan barusan tidak pernah terjadi. Ia lalu menarik kursi di ujung meja untuk dirinya sendiri.
Freya perlahan menarik kursi di sebelah Axel, gerakannya masih canggung. "Kenapa... kenapa kau melakukan itu?" tanya Freya lirih, matanya menatap piring porselen di hadapannya yang masih kosong.
"Melakukan apa?" Axel menuangkan kopi hitam ke cangkirnya.
"Mengancamnya. Dia... apa yang dia katakan memang tidak sepenuhnya salah. Aku memang berutang padamu," bisik Freya lirih.
Axel kemudian meletakkan teko kopi dengan bunyi denting yang tegas. Lalu memutar tubuhnya menghadap Freya.
"Dengarkan aku, Freya. Di luar rumah ini, kau mungkin menganggap dirimu tawanan utang," kata Axel dengan penekanan di setiap kalimatnya.
"Tapi begitu kau memakai cincin itu dan berada di dalam rumahku, kau adalah Nyonya Leonardo. Merendahkanmu sama saja dengan menghina negosiasiku. Dan aku tidak pernah membiarkan siapa pun merusak apa yang sudah menjadi milikku."
Mendengarnya, Freya langsung menelan ludah, merasakan ketegangan baru yang merayap di tengkuknya. Pembelaan Axel bukan karena pria itu peduli atau mencintainya, melainkan karena kepemilikan ego dan harga diri sang penguasa.
Pagi pertama ini memperjelas posisinya: ia dilindungi dengan ketat, namun perlindungan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa ia telah sepenuhnya menjadi milik Axel Leonardo.
"Sekarang, makan," titip Axel sambil menunjuk roti dan buah di meja. "Setelah ini, bersiaplah. Pengacaraku akan datang membawa dokumen kesepakatan pernikahan kita, dan kau harus menandatanganinya."
Mata Freya kembali menatap Axel, menyadari bahwa setiap detik di rumah ini adalah langkah yang membawanya semakin dalam ke dalam sangkar yang dibuat oleh pria di hadapannya.
Dokumen apa lagi yang harus ia tanda tangani, dan seketat apa kontrak yang akan mengikat hidupnya mulai hari ini?
Melihat situasi yang kian liar dan berpotensi merusak hubungan darah antara anak dan ibu, Juan dan Evelyn mengambil alih kendali situasi untuk meredakan amarah Axel yang masih membakar atmosfer ruangan.Juan berdiri, melangkah mendekati istrinya yang terduduk kaku di sofa, lalu meletakkan tangan kekarnya di bahu Manda seraya menatap wanita itu dengan sorot mata kecewa yang mendalam."Manda, siramkan air dingin di kepalamu yang panas itu sekarang," tegur Juan dengan suara rendah namun amat berat. "Kau sudah melangkah terlalu jauh."Manda menengadah, matanya yang berkaca-kaca menatap Juan dengan rasa tidak percaya."Juan... kau juga menyalahkanku? Aku melakukan ini demi masa depan klan kita!""Cukup, Manda! Rumah tangga Axel dan Freya bukan lagi wilayah kekuasaanmu!" potong Juan tegas, cengkeramannya di bahu Manda kian menekan."Kau harus belajar menghormati batas. Axel sudah dewasa, dia suami dan kepala keluarga di rumah tangganya sendiri. Caramu memaksakan kehendak ini justru hampir me
Di tengah keheningan ruang tengah yang mencekam, konfrontasi antara Axel dan ibunya mencapai titik terpanas.Melanjutkan deklarasinya yang membekukan darah seluruh anggota keluarga, Axel menjatuhkan larangan keras dan mutlak kepada Manda.Pria itu memasang benteng tak kasatmata yang memagari kehidupan istrinya dari jangkauan siapa pun."Mulai detik ini, aku melarang keras Ibu untuk pernah membawa, menemui, atau bahkan mengajak Freya pergi ke mana pun tanpa izin tertulis dan persetujuan langsung dari mulutku sendiri," tegas Axel, suaranya bergaung menembus setiap sudut ruangan yang sunyi.Axel menetapkan barikade pelindung yang tak menoleransi celah sekecil apa pun di masa depan.Sorot matanya yang tajam menancap lurus pada Manda, menegaskan bahwa hak dan otoritas atas keberadaan, pergerakan, serta napas Freya sepenuhnya berada di tangannya, bukan lagi pada aturan atau tradisi klan Leonardo."Jangan pernah berani mengetuk pintu kamarnya, memanggilnya ke ruang makan tanpa seijinku, apal
Axel menghubungi seluruh anggota inti keluarga besar Leonardo—Manda, Juan, Evelyn, dan Helena—satu per satu."Batalkan semua janji temu kalian," pangkas Axel dingin sewaktu tersambung dengan ayahnya, Juan."Siang ini, pukul satu tepat, seluruh anggota keluarga harus sudah berkumpul di ruang tengah kediaman utama.""Ada apa, Axel? Ayah sedang ada pertemuan direksi—""Aku tidak menerima alasan," potong Axel tanpa ampun, menyela ucapan Juan dengan nada suara yang sarat akan ancaman dan kemurkaan terselubung."Datang, atau aku sendiri yang akan mencabut seluruh wewenang bisnis kalian hari ini juga."Nada bicara Axel yang begitu tajam dan berbahaya membuat seluruh anggota keluarga menyadari bahwa telah terjadi krisis besar yang tak bisa dihindari.Beberapa jam kemudian, atmosfer di ruang tengah kediaman utama berubah menjadi sangat tegang dan membisu.Juan duduk di sofa utama dengan raut wajah berat dan kening berkerut dalam, menyadari potensi bahaya dari kemurkaan putranya.Manda tampak g
Aroma antiseptik yang tajam dan dengung halus peralatan medis menyambut Axel yang berdiri mematung di depan ruang perawatan intensif VVIP.Pria tegap itu menolak untuk duduk, memilih menyandarkan punggungnya pada dinding marmer koridor rumah sakit yang dingin.Bayangan wajah pucat Freya yang terkulai tak berdaya terus membayangi benaknya, menyiksa setiap detik penantiannya dengan rasa cemas yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.Tak lama kemudian, pintu ruang perawatan terbuka. Seorang dokter spesialis senior keluar menyapu pandangan, lalu melangkah mantap menghampiri Axel untuk menyampaikan hasil diagnosis resmi."Bagaimana keadaan istriku, Dokter?" potong Axel cepat sebelum dokter itu sempat menyapa, suaranya serak dan sarat akan penekanan yang menuntut.Dokter spesialis itu menghela napas panjang, menatap Axel dengan raut wajah yang sangat serius dan menyudutkan."Kami telah berhasil menstabilkan suhu tubuh dan tekanan darah Nyonya Freya, Tuan Leonardo," buka dokter itu dengan in
Pagi-pagi sekali, ketika fajar masih membiaskan warna keabuan yang dingin di langit kota, mobil mewah Axel bergerak pelan memasuki area carport kediaman utama.Axel duduk terdiam di balik kemudi dengan raut wajah yang teramat lelah, kusam, dan dibayangi penyesalan terselubung setelah melewatkan seluruh malam di luar rumah demi meredakan amarahnya yang memuncak.Pria itu menyandarkan kepalanya di sandaran jok kulit, mengusap wajahnya kasar seraya menatap bayangan dirinya di kaca spion.Namun, sebelum ia sempat mematikan mesin kendaraan, ponsel bisnisnya mendadak berdering kencang.Sambungan telepon dari asisten pribadinya memecah keheningan kabin mobil yang pekat."Ada apa?" sapa Axel dingin, menekan tombol penerima dengan suara yang serak dan berat."Selamat pagi, Tuan Axel. Maaf mengganggu pagi-pagi sekali," ujar suara asisten pribadinya dari ujung saluran dengan intonasi tergesa-gesa."Terjadi krisis akuisisi pada proyek strategis kita di Singapura. Pihak kompetitor mencoba membloki
Sepanjang sisa malam hingga menyingsingnya fajar di ufuk timur, Freya sama sekali tidak bisa memejamkan matanya.Reaksi kimia dari ramuan medis yang berangsur-angsur mereda meninggalkan rasa ngilu di persendian, lemas yang luar biasa, serta kehampaan pekat yang mengendap di dalam dada.Berbaring meringkuk di atas tempat tidur king-size yang teramat luas dan dingin tanpa dekapan hangat Axel membuat ketakutan terbesar Freya kembali mencengkeram jiwanya tanpa ampun.Terbayang jelas di benaknya bahwa kepergian Axel malam ini adalah awal dari berakhirnya kehangatan yang baru saja ia rasakan, sekaligus hancurnya ikatan di antara mereka akibat kecerobohannya sendiri yang terlalu pasrah dan patuh pada mertuanya."Apakah... apakah ini akhir dari segalanya?" bisik Freya serak pada ruangan yang hening, memandangi sisi ranjang yang kosong tempat Axel biasanya mendominasi tubuhnya.Dengan jemari yang gemetar hebat dan mata yang kusam basah oleh genangan air mata, Freya meraih ponsel pintarnya dari







