แชร์

Sikap yang Aneh

ผู้เขียน: Aksara_Lizza
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-05 15:37:07

Pagi pertama sebagai istri dari Leonardo dimulai. Freya berjalan dengan langkah lambat, sesekali merapikan sweter rajut longgar yang dipadukan dengan celana kain seadanya, pakaian terbaik yang bisa ia temukan di lemari kamar barunya.

Meski kini dia menyandang status sebagai istri Axel, namun, alih-alih merasa terhormat, dada Freya justru dihantam perasaan rendah diri yang akut. Ia merasa seperti penyusup, seorang penipu yang mengenakan gaun pinjaman di dalam rumah yang megah bak istana ini.

Langkah kakinya membawa Freya sampai ke area ruang makan bergaya modern kontemporer. Di balik meja panjang bermaterial batu kuarsa, beberapa pelayan sedang sibuk menata sarapan.

"Selamat pagi, Nyonya," sapa salah satu pelayan senior dengan membungkuk sopan.

Namun, tidak semua orang di ruangan itu menyambutnya dengan ramah. Di sudut meja, seorang pelayan muda berambut sebahu sedang menaruh vas bunga dengan gerakan kasar. Namanya Sarah. Usianya tidak jauh berbeda dari Freya, sekitar 27 atau 28 tahun.

Dengan riasan wajah yang sedikit berlebihan untuk ukuran seorang pekerja domestik dan seragam yang sengaja diperketat di bagian pinggang, Sarah menatap Freya dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan pandangan sinis yang tak disembunyikan.

"Ah, jadi ini nyonya baru kita?" ucapnya sambil melipat kedua tangan di dada, sengaja memosisikan diri di jalur berjalan Freya. "Kira-kira, berapa lama bertahan di rumah ini kalau modalnya cuma utang miliaran itu?"

Freya menghentikan langkahnya. Wajahnya seketika memucat, tangannya mengepal di sisi tubuh. "Apa maksudmu?" tanyanya datar.

"Jangan pura-pura polos, Nyonya Baru," sindir Sarah sambil melangkah maju satu langkah dengan senyum meremehkan.

"Semua orang di bagian belakang juga sudah tahu cerita aslimu. Wanita dari keluarga bangkrut yang diseret dari klub malam. Kau pikir karena Tuan Axel menikahimu, kau langsung setara dengan kelasnya? Kau cuma beruntung karena Tuan butuh rahim untuk pewarisnya."

"Sarah! Jaga bicaramu!" tegor pelayan senior dengan wajah panik, lalu mencoba menarik lengan gadis itu.

Namun, Sarah menepisnya kasar. Matanya yang memancarkan rasa suka dan obsesi tersembunyi pada Axel menatap Freya dengan penuh kebencian. "Kenapa harus takut? Aku cuma mengatakan kebenaran. Di rumah ini, yang tidak punya kontribusi nyata tidak ada bedanya dengan benalu."

Freya terpaku di tempatnya. Kata-kata Sarah menghantam titik paling rapuh dalam dirinya. Dadanya sesak, dan ia merasakan kembali sensasi tercekik seperti tadi malam.

Ia ingin membalas, ingin berteriak bahwa ia tidak meminta semua ini terjadi, namun lidahnya mendadak kelu oleh rasa malu yang mendalam.

"Siapa yang kau sebut benalu?"

Suara berat dan dingin itu menginterupsi dari arah pintu masuk ruang makan.

Axel berdiri di sana. Pria itu sudah rapi dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan jam tangan mewah dan urat-urat tegas di tangannya. Aura intimidasi yang pekat seketika menyelimuti seluruh ruangan, membuat suhu di sekitar mereka seolah anjlok drastis.

Sarah mendadak membeku. Wajah genitnya berubah pias dalam hitungan detik. "T-Tuan Axel... saya tidak bermaksud—"

"Aku bertanya padamu, Sarah," potong Axel sembari melangkah mendekat, kemudian berhenti tepat di samping Freya, dengan tatapan matanya yang setajam elang mengunci Sarah tanpa ampun. "Apa tugasmu di rumah ini termasuk mengurusi urusan pribadiku?"

"Bukan, Tuan... saya bersumpah saya hanya—"

"Aku membayar kalian untuk bekerja, bukan untuk menilai siapa yang layak berada di meja makanku," ujar Axel pelan namun getaran kuasanya membuat pelayan-pelayan lain di ruangan itu langsung menunduk dalam.

Axel lalu beralih menatap kepala pelayan yang berdiri tak jauh dari sana. "Siapa pun yang tidak menghormati istriku, silakan angkat kaki hari ini."

Sarah terbelalak panik. "Tuan, tolong maafkan saya! Saya tidak akan mengulanginya lagi!"

"Keluar atau aku akan memecatmu sekarang juga," perintah Axel mutlak, bahkan tanpa memandang wajah Sarah lagi.

Kepala pelayan segera memberi isyarat kepada pelayan lain untuk menyeret Sarah keluar dari ruang makan. Isak tangis dan permohonan ampun Sarah perlahan menjauh, menyisakan keheningan yang kembali menguasai ruangan.

Freya tertegun di tempatnya berdiri. Batinnya bergejolak hebat antara rasa bingung dan haru yang membuncah di dadanya. Ia pun menatap profil samping wajah Axel yang tampak tegas dan tanpa ekspresi.

Pria ini seolah memiliki dua wajah yang bertolak belakang: pria kejam yang memaksanya masuk ke dalam pernikahan kontrak ini demi seorang pewaris, sekaligus pria yang berdiri paling depan untuk memastikan tidak ada satu orang pun yang boleh merendahkan harga dirinya di rumah ini.

"Duduk dan makan sarapanmu," ucap Axel datar, memecah lamunan Freya seolah kejadian menegangkan barusan tidak pernah terjadi. Ia lalu menarik kursi di ujung meja untuk dirinya sendiri.

Freya perlahan menarik kursi di sebelah Axel, gerakannya masih canggung. "Kenapa... kenapa kau melakukan itu?" tanya Freya lirih, matanya menatap piring porselen di hadapannya yang masih kosong.

"Melakukan apa?" Axel menuangkan kopi hitam ke cangkirnya.

"Mengancamnya. Dia... apa yang dia katakan memang tidak sepenuhnya salah. Aku memang berutang padamu," bisik Freya lirih.

Axel kemudian meletakkan teko kopi dengan bunyi denting yang tegas. Lalu memutar tubuhnya menghadap Freya.

"Dengarkan aku, Freya. Di luar rumah ini, kau mungkin menganggap dirimu tawanan utang," kata Axel dengan penekanan di setiap kalimatnya.

"Tapi begitu kau memakai cincin itu dan berada di dalam rumahku, kau adalah Nyonya Leonardo. Merendahkanmu sama saja dengan menghina negosiasiku. Dan aku tidak pernah membiarkan siapa pun merusak apa yang sudah menjadi milikku."

Mendengarnya, Freya langsung menelan ludah, merasakan ketegangan baru yang merayap di tengkuknya. Pembelaan Axel bukan karena pria itu peduli atau mencintainya, melainkan karena kepemilikan ego dan harga diri sang penguasa.

Pagi pertama ini memperjelas posisinya: ia dilindungi dengan ketat, namun perlindungan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa ia telah sepenuhnya menjadi milik Axel Leonardo.

"Sekarang, makan," titip Axel sambil menunjuk roti dan buah di meja. "Setelah ini, bersiaplah. Pengacaraku akan datang membawa dokumen kesepakatan pernikahan kita, dan kau harus menandatanganinya."

Mata Freya kembali menatap Axel, menyadari bahwa setiap detik di rumah ini adalah langkah yang membawanya semakin dalam ke dalam sangkar yang dibuat oleh pria di hadapannya.

Dokumen apa lagi yang harus ia tanda tangani, dan seketat apa kontrak yang akan mengikat hidupnya mulai hari ini?

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Jerat Hasrat sang Penguasa   Penyatuan Liar di Bawah Sinar Bulan

    Axel sudah melangkah lebih dulu memasuki lautan. Air laut setinggi dada itu terasa hangat menyentuh kulitnya.Pria itu menurunkan seluruh tubuhnya, tenggelam sepenuhnya di dalam air jernih selama beberapa detik sebelum akhirnya muncul kembali ke permukaan.Dengan satu gerakan santai, Axel menyapu sisa-sisa air laut di wajah tampannya, lalu menggunakan kedua tangannya untuk menyisir rambut hitamnya yang basah ke belakang.Axel berdiri tegak di dalam air, membelakangi garis pantai.Cahaya bulan memantul sempurna pada kulit cokelatnya yang basah, memperlihatkan otot-otot punggungnya yang begitu lebar, tegap, dan perkasa.Setiap lekuk struktur tubuhnya menunjukkan kekuatan mutlak dari seorang pria yang terbiasa memegang kendali atas segala hal.Di tepi pantai, Freya berdiri kaku di atas pasir putih yang halus. Kedua matanya tidak sanggup berpaling sedikit pun dari figur suaminya.Freya menelan ludahnya berulang kali, merasakan tenggorokannya yang mendadak kering.Bagaimana bisa ada pria y

  • Jerat Hasrat sang Penguasa   Ajakan Malam di Tepi Pantai

    Larut malam telah menyelimuti pulau privat dengan kesunyian yang amat pekat.Hanya terdengar gemuruh halus dari deburan ombak yang membentang di pantai luar, saling bersahutan dengan deru pendingin udara yang berembus pelan di dalam kamar utama vila megah tersebut.Freya berdiri mematung di dekat pintu kaca berukuran besar yang mengarah langsung ke teras dan pantai privat.Tubuh rampingnya hanya terbungkus oleh sehelai bathrobe dari kain sutra putih yang longgar, terikat seadanya di bagian pinggang.Rambut panjangnya yang masih sedikit basah dibiarkan terurai menutupi sebagian punggungnya. Matanya menatap keluar, memandangi bayangan hitam lautan yang dipantuli sinar bulan purnama.Suasana di dalam ruangan beratap tinggi itu mendadak berubah menjadi sangat tegang dan padat saat pintu kamar mandi terbuka pelan.Axel melangkah keluar dari dalam kamar mandi. Pria itu tidak mengenakan pakaian sehelai pun di tubuh bagian atasnya.Ia hanya melilitkan sehelai handuk putih tebal secara longgar

  • Jerat Hasrat sang Penguasa   Perhatian Hangat sang Penguasa

    Malam tiba di pulau privat itu dengan membawa ketenangan yang pekat.Langit bersih tanpa awan membentang luas, dihiasi ribuan bintang yang berpendar terang di atas pasir putih pantai pribadi vila.Angin malam berembus perlahan, membawa aroma khas garam laut dan suara deburan ombak yang teratur menghantam bibir pantai.Di atas hamparan pasir yang bersih, sebuah meja makan bundar telah ditata secara anggun.Lilin-lilin aromaterapi dalam mangkuk kaca melingkupi meja, memancarkan cahaya keemasan yang lembut dan menyebarkan wangi bunga melati yang menenangkan.Kelopak-kelopak bunga mawar segar ditaburkan secara halus di sekitar taplak meja putih.Di atas meja, deretan hidangan laut kelas atas dan bahan makanan premium impor tersaji dengan sangat rapi di dalam piring-piring porselen tebal.Terdapat wadah perak berisi caviar hitam di atas tumpukan es serut, dua ekor lobster samudra berukuran besar yang sudah dikukus dengan mentega herbal, serta potong olahan daging wagyu langka bertingkat ma

  • Jerat Hasrat sang Penguasa   Surga Privat di Tengah Samudra

    Roda jet pribadi mendarat dengan sangat mulus di landasan pacu privat yang membentang di pinggir pantai pulau terpencil tersebut.Begitu pintu kabin terbuka, udara hangat khas tropis dan aroma segar garam laut langsung menyambut indra penciuman.Dari atas tangga pesawat, pemandangan memukau membentang luas: gradasi air laut berwarna biru jernih yang jernih hingga ke dasar, berpadu sempurna dengan garis pantai berpasir putih bersih tanpa noda.Sebuah mobil golf mewah tanpa pintu sudah menunggu di bawah tangga untuk membawa mereka menuju lokasi utama.Hanya memakan waktu lima menit melewati jalan setapak beraspal mulus yang diapit pepohonan hijau rimbun, kendaraan itu berhenti di depan sebuah vila kayu modern bergaya tropis.Bangunan megah berarsitektur minimalis dengan dominasi kaca dan kayu jati tua itu berdiri kokoh di tepi tebing karang, menghadap langsung ke arah samudra lepas.Seorang pria paruh baya berseragam putih bersih bersama dua staf lokal sudah berdiri berjejer di depan pi

  • Jerat Hasrat sang Penguasa   Penerbangan Eksklusif

    Kesibukan di kediaman utama Leonardo sudah dimulai sejak matahari belum terbit sepenuhnya.Suasana di koridor lantai dua terasa sangat sibuk namun tetap tenang tanpa suara bising yang berlebihan.Para pelayan wanita berbaris keluar-masuk kamar utama, membawa beberapa koper berdesain elegan yang sudah terisi penuh dengan pakaian serta perlengkapan pribadi milik Freya.Rendy berdiri tegap di sudut ruangan dengan tablet di tangan kirinya. Matanya yang tajam mengawasi setiap pergerakan para staf dengan sangat teliti.Ia memastikan tidak ada satu pun barang kebutuhan Nyonya rumah yang tertinggal atau diletakkan secara sembarangan.Pengawasan ketat itu mencerminkan instruksi langsung dari Axel yang tidak mentoleransi kesalahan sekecil apa pun.Freya berdiri kaku di dekat jendela besar kamar, mengenakan gaun rajut santai berwarna krem yang membungkus tubuhnya dengan pas.Matanya memperhatikan lalu lalang para pelayan yang bekerja dengan efisiensi tinggi. Di dalam dadanya, rasa cemas dan pena

  • Jerat Hasrat sang Penguasa   Tugasmu hanya Satu

    Axel menatap lurus ke dalam manik mata Freya. Tatapan yang semula sarat akan gairah mendadak berubah menjadi dingin, tajam, dan penuh dengan aura penyelidikan yang pekat."Freya," panggil Axel dengan suara rendah dan berat. "Apakah kau mengenal pria bernama Jonathan? Pemilik klub malam tempat pertama kali kita bertemu?"Pertanyaan itu menghantam Freya seperti lemparan air es. Tubuhnya mendadak menegang sempurna.Rona merah yang semula menghiasi pipinya melenyap seketika, berganti dengan warna pucat pasi. Nama itu berhasil memicu kenangan buruk yang selama ini berusaha keras ia kubur dalam-dalam.Freya terdiam cukup lama. Bibirnya gemetar tipis saat ia berjuang menemukan suaranya kembali."K-kenapa..." cicit Freya parau, menatap Axel dengan binar mata yang dipenuhi rasa bingung sekaligus kecemasan yang melonjak cepat."Kenapa kau tiba-tiba menanyakan tentang pria itu? Kenapa kau harus membahas kejadian malam itu lagi, Axel?"Axel memperhatikan perubahan ekspresi istrinya dengan cermat.

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status