เข้าสู่ระบบAngin yang menerpa lembut wajah Andrea selama perjalanan pulang ke asrama, membuat pikiran gadis itu melayang pada momen bersama Kyrran beberapa saat lalu.
Dari saat cowok itu menariknya keluar dari toko buku sampai Kyrran berjongkok menghindari pandangannya, Andrea menduga kalau Kyrran cemburu.Namun, saat menanyakan kenapa pada Kyrran, cowok itu malah menjawab bukan apa-apa dengan tatapan datarnya. Kyrran bahkan meralat kata maaf yang jelas Andrea dengar sendiri keluar dBeberapa hari sebelumnya…Darell benar-benar sudah tidak tahu pakai cara apa lagi untuk membujuk Kyrran untuk melakukan operasi yang bisa menyelamatkan hidup adiknya itu. Bahkan kekasih Kyrran sendiri—Andrea—tidak mampu membuat Kyrran berubah pikiran.Di tengah kebingungannya itu, Darell terpikirkan sebuah ide gila. Ia lalu menghubungi papanya Om Adriell—bisa disebut kakeknya juga—yang selama ini tinggal jauh dari keluarga Yoseviano dan menjadi pria tua biasa yang menjaga toko sepeda di sebuah negara kecil.Namun ada rahasia yang tidak diketahui banyak orang mengenai pria tua bernama Lucian itu. Identitas aslinya 'The Raven' seorang pembunuh bayaran legendaris yang sudah lama pensiun.Yang mengetahui hanya Papa Kayrell, Om Adriell, Mama Drassha dan Opanya Kyrran—Riovandra Alveroz. Juga Darell.Bagaimana Darell bisa mengetahuinya?Tentu karena tidak sengaja mendengar percakapan Tante Drassha dan Om Adriell saat Kyrran diculik. Mereka meminta bantuan.Lalu di percakapan mereka, terungka
Malam itu, seluruh anggota keluarga Yoseviano berkumpul di ruangan keluarga. Lampu kristal besar menggantung di langit-langit, menerangi meja panjang yang dipenuhi makanan dan minuman.Ada Om Kayrell, Tante Raissa, sepupu Kyrran—Narell, Galadriell, Aurell. Saudara-saudaranya juga—Jergar, Isaac, Noela dan Lysander.Kyrran duduk di sofa panjang di tengah ruangan. Di sebelah kirinya ada Mama Drassha dan di sebelah kanannya Papa Adriell.Meski wajahnya tampak tenang, jemari cowok itu saling bertaut erat di atas paha. Ia masih gugup. Keputusan yang akan disampaikan malam ini bukan keputusan kecil. Keputusan itu akan menentukan seluruh hidupnya.Papa Adriell menepuk pelan bahunya, seolah memberikan dukungan tanpa perlu kata-kata.Kyrran menarik napas panjang, lalu berdiri dan semua mata tertuju kepadanya."Terima kasih sudah menyempatkan untuk berkumpul malam ini," ucapnya berusaha tenang."Aku mau menyampaikan sesuatu."
Seorang guru sejarah tengah menjelaskan materi di depan ruangan. Para siswa tampak mencatat dan membuka tablet mereka. Beberapa dari mereka mulai kehilangan fokus. Ada yang melirik jam dinding, ada yang seperti Andrea yang tidak benar-benar mendengar apa yang sedang dijelaskan.Pandangannya tertuju ke luar jendela. Langit siang itu berwarna abu-abu pucat. Sama seperti suasana hatinya sejak beberapa hari terakhir.Kepergian Darell masih terasa tidak nyata.Kadang Andrea masih berharap akan melihat kakak sepupu Kyrran itu berjalan santai di koridor sekolah dan menunjukkan aksi di lapangan hockey sebagai kapten atau mungkin meluangkan waktu wawancara dengan Andrea.Namun kenyataannya tidak akan seperti itu lagi. Darell benar-benar sudah pergi dan meninggalkan lubang besar dalam hidup banyak orang. Terutama Kyrran.Andrea menunduk pelan, jemarinya memainkan ujung pulpen. Baginya Darell sudah jadi seorang kakak juga buat Andrea.Cowok
"Kau—"napas Kyrran tercekat.Ia mulai mengklik riwayat pencarian Darell, baris demi baris memenuhi layar. Dari artikel medis, jurnal penelitian, forum kesehatan, informasi tentang penyakit langka, terapi eksperimental, dokter spesialis di seluruh dunia hingga kasus yang gejalanya mirip dengan penyakit yang diderita Kyrran.Di pemakaman, Andrea menyampaikan pada Kyrran. "Memang Paman Dimitri yang mencari informasi tentang dokter Sebastian, tapi semua informasi lengkap tentang penyakit kamu yang bahkan dokter Armand gak temukan, didapatkan oleh Darell. Informasi yang aku kumpulkan juga masih jauh dari yang dikumpulkan Darell."Di hadapan layar komputer Darell, tangan cowok itu mulai bergetar. Ia membuka email. Puluhan surel tersusun di sana. Sebagian besar berisi korespondensi dengan rumah sakit, penelitian, permintaan konsultasi sampai pertanyaan mengenai metode pengobatan terbaru.Semua tentang Kyrran. Bahkan saat ia sendiri mulai kehilangan keyakinan, sempat ingin melakukan eutanasia
Seluruh anggota keluarga Yoseviano berdiri dalam diam di hadapan makam Darell Cillian Yoseviano. Semuanya mengenakan pakaian hitam.Para laki-laki berdiri tegak dengan wajah muram, sementara para perempuan menundukkan kepala. Beberapa masih menggenggam saputangan yang sejak tadi digunakan untuk mengusap sudut mata. Tidak ada percakapan yang terdengar kecuali hembusan angin yang melewati dedaunan pepohonan tinggi yang mengelilingi taman makam khusus keluarga Yoseviano itu.Di salah satu barisan depan, Kyrran berdiri dengan kedua tangan masuk ke saku celana. Kacamata hitam yang menutupi matanya tidak mampu menyembunyikan tatapan kosong yang terpancar dari wajahnya.Di hadapannya, tanah makam Darell baru saja ditutup. Sosok yang selama ini selalu menemani, memberi masukan saran dan nasihat serta yang sering memarahinya jika mengambil keputusan salah—kini hanya tinggal nama yang terukir pada batu nisan.Kyrran menatapnya cukup lama tanpa adanya tangisan. Namun justru itu yang membuat waja
Tidak ada yang tahu pasti waktu seseorang akan habis kecuali Tuhan. Tidak dokter, keluarga atau orang yang menjalaninya sendiri.Sejak kecil, Kyrran hidup berdampingan dengan rumah sakit. Bau antiseptik lebih sering ia hirup dibandingkan aroma rumput setelah hujan. Ia hafal suara monitor jantung dan warna dinding ruang rawat.Kyrran ingat bagaimana dokter pernah berkata bahwa dirinya mungkin tidak akan bertahan sampai usia dua puluh tahun. Dan beberapa bulan lalu, ia kembali menerima vonis yang tidak jauh berbeda. Waktunya tersisa enam bulan.Namun di tengah semua itu, Kyrran selalu berpikir satu hal. Kalau suatu hari ada yang pergi lebih dulu di keluarganya… maka orang itu pasti dirinya.Namun malam itu… kenyataan menghancurkan logika yang ia pegang.Saat tiba di rumah sakit bersama Andrea, dokter yang menemui mereka menjelaskan dengan penuh keprihatinan lalu menyatakan bahwa Darell Cillian Yoseviano telah tiada.Kyrran duduk di
Lampu taman mulai menyala satu per satu dan para siswa Alveroz High mulai kembali ke asrama masing-masing. Di kamar mandi sebuah unit kamar 207 lantai dua di asrama putri, Andrea berendam dalam bathtub. Air di bathtub bergerak pelan saat gadis itu bersandar, bahunya tenggelam setengah dan rambut h
"Rea! Aku punya berita penting!" Teriakan heboh Noela membuat Andrea terkejut. Dia tidak mengenakan headphone dan pintu kamarnya memang terbuka lebar, sehingga suara melengking sahabatnya itu langsung menyerang pendengarannya. Andrea menoleh, iris kecokelatannya yang bening beralih dari layar l
Setelah kelas selesai, satu per satu siswa keluar dari kelas. Biasanya, Andrea juara satu siswa yang meninggalkan kelas paling cepat. Tapi, kali ini gadis itu menahan diri.Setelah melihat Kyrran beranjak dari kursi, gadis itu ikut bangkit dan langsung menghampiri cowok itu."Kyrran," kata Andrea.
Apa kata Noela kalau melihat Andrea cuma pakai handuk dan berduaan dengan cowok di kamarnya. Andrea buru-buru mendorong Kyrran keluar dari kamar. Cowok tinggi itu sendiri tidak ada perlawanan, membiarkan punggungnya didesak pergi. Dia menggeser pintu balkon dan menarik tirai dengan sekali gerakan







