Se connecterapa kabar semua, semoga kakak pembaca sekalian sehat semua ya. Kira-kira beneran ketahuan sama Kyrran gak ya kalau Andrea yang pakai maskot? atau cuma dugaan? dan apa Kyrran benar-benar kiss dengan Natasya?
Andrea menjulurkan kotak itu kembali pada Prudence. "Kalau bukan permen, terus apa, Kak?" tanyanya penasaran.Prudence tersenyum misterius. "Barang pribadi, Andrea."Andrea semakin penasaran. "Barang pribadi apa maksudnya, Kak?"Prudence kemudian mengoleskan liptint di bibirnya. "Aku tanya kamu dulu…" gadis bermata biru itu melihat pantulan Andrea di cermin."Apa, Kak?" cicit gadis itu."Kamu memang sudah sejauh apa sama, Kyrran?" tanya Prudence.Andrea mengernyitkan dahi bingung. "Sudah satu tahun lebih, Kak."Prudence terkekeh kecil. "Bukan itu, Andrea. Maksud aku kamu sudah melakukan apa saja selama pacaran dengan Kyrran? Kayak ciuman, pegang tangan atau apa gitu."Andrea melipat bibirnya singkat sebelum menjawab. "Ciuman dan dia…" Andrea bingung mengatakannya, tapi tatapannya turun sebentar dan tampak Prudence langsung mengerti."Yup, aku mengerti maksud kamu. Jadi kamu belum pernah having sex sama dia?"Wajah Andrea memerah dengan pembahasan itu, lalu menggeleng. "Be-lum pernah,
Andrea masih belum mampu mengalihkan pandangannya dari sosok Darell yang duduk di hadapannya.Kakak sepupu Kyrran yang ia kira telah tiada—yang pemakamannya bahkan sempat Andrea saksikan dan membuat Kyrran kehilangan arah sampai akhirnya memutuskan menjalani operasi—kini duduk santai di sebuah kafe, lengkap dengan senyum menyebalkannya.Andrea berkedip beberapa kali. "Kamu… beneran Darell?"Darell mengedikkan bahu. "Iya, Andrea ini aku."Gadis menganga tipis, menoleh ke arah Kyrran yang tersenyum sama menyebalkannya."Kok bisa? Jelas-jelas waktu itu kamu gak bernapas dan sudah dimakamkan, Darell."Kyrran merangkul Andrea dan mengusap pundak gadis itu lembut. "Ceritanya panjang, Sayang."Andrea mengembuskan napas sambil melirik tajam ke arah dua cowok itu secara bergantian. "Ceritakan semuanya sekarang, aku melewatkan sebuah konspirasi besar ya?"Darell dan Kyrran tertawa kecil melihat reaksi dramatis Andrea. Nam
Kakek Lucian menghela napas panjang sebelum akhirnya duduk di depan seluruh keluarga. Ruangan yang tadi dipenuhi keterkejutan perlahan menjadi tenang. Semua orang menunggu penjelasan.Darell sendiri sudah duduk di samping mamanya, sementara Kyrran duduk dengan ekspresi campur aduk antara lega, marah dan bingung."Kalian semua berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi," ujar Kakek Lucian pelan.Lalu satu per satu pria tua itu menjelaskan. Tentang misi yang dijalani Darell bersama Tante Drassha dan Kakek Lucian. Juga rahasia yang ia simpan selama ini, mengenai identitasnya.Semuanya terdiam tak menyangka kecuali dua anak kecil—Aurell dan Lysander yang celingak-celinguk menatap semua orang.Tante Raissa kembali memeluk Darell. Meski mengomel, air mata terus mengalir di pipinya."Kamu bikin Mama hampir gila tahu gak?"Darell tertawa kecil. Namun detik berikutnya ia membalas pelukan Tante Raissa erat. "Maaf, Mama."Di
Beberapa hari sebelumnya…Darell benar-benar sudah tidak tahu pakai cara apa lagi untuk membujuk Kyrran untuk melakukan operasi yang bisa menyelamatkan hidup adiknya itu. Bahkan kekasih Kyrran sendiri—Andrea—tidak mampu membuat Kyrran berubah pikiran.Di tengah kebingungannya itu, Darell terpikirkan sebuah ide gila. Ia lalu menghubungi papanya Om Adriell—bisa disebut kakeknya juga—yang selama ini tinggal jauh dari keluarga Yoseviano dan menjadi pria tua biasa yang menjaga toko sepeda di sebuah negara kecil.Namun ada rahasia yang tidak diketahui banyak orang mengenai pria tua bernama Lucian itu. Identitas aslinya 'The Raven' seorang pembunuh bayaran legendaris yang sudah lama pensiun.Yang mengetahui hanya Papa Kayrell, Om Adriell, Mama Drassha dan Opanya Kyrran—Riovandra Alveroz. Juga Darell.Bagaimana Darell bisa mengetahuinya?Tentu karena tidak sengaja mendengar percakapan Tante Drassha dan Om Adriell saat Kyrran diculik. Mereka meminta bantuan.Lalu di percakapan mereka, terungka
Malam itu, seluruh anggota keluarga Yoseviano berkumpul di ruangan keluarga. Lampu kristal besar menggantung di langit-langit, menerangi meja panjang yang dipenuhi makanan dan minuman.Ada Om Kayrell, Tante Raissa, sepupu Kyrran—Narell, Galadriell, Aurell. Saudara-saudaranya juga—Jergar, Isaac, Noela dan Lysander.Kyrran duduk di sofa panjang di tengah ruangan. Di sebelah kirinya ada Mama Drassha dan di sebelah kanannya Papa Adriell.Meski wajahnya tampak tenang, jemari cowok itu saling bertaut erat di atas paha. Ia masih gugup. Keputusan yang akan disampaikan malam ini bukan keputusan kecil. Keputusan itu akan menentukan seluruh hidupnya.Papa Adriell menepuk pelan bahunya, seolah memberikan dukungan tanpa perlu kata-kata.Kyrran menarik napas panjang, lalu berdiri dan semua mata tertuju kepadanya."Terima kasih sudah menyempatkan untuk berkumpul malam ini," ucapnya berusaha tenang."Aku mau menyampaikan sesuatu."
Seorang guru sejarah tengah menjelaskan materi di depan ruangan. Para siswa tampak mencatat dan membuka tablet mereka. Beberapa dari mereka mulai kehilangan fokus. Ada yang melirik jam dinding, ada yang seperti Andrea yang tidak benar-benar mendengar apa yang sedang dijelaskan.Pandangannya tertuju ke luar jendela. Langit siang itu berwarna abu-abu pucat. Sama seperti suasana hatinya sejak beberapa hari terakhir.Kepergian Darell masih terasa tidak nyata.Kadang Andrea masih berharap akan melihat kakak sepupu Kyrran itu berjalan santai di koridor sekolah dan menunjukkan aksi di lapangan hockey sebagai kapten atau mungkin meluangkan waktu wawancara dengan Andrea.Namun kenyataannya tidak akan seperti itu lagi. Darell benar-benar sudah pergi dan meninggalkan lubang besar dalam hidup banyak orang. Terutama Kyrran.Andrea menunduk pelan, jemarinya memainkan ujung pulpen. Baginya Darell sudah jadi seorang kakak juga buat Andrea.Cowok
Apa kata Noela kalau melihat Andrea cuma pakai handuk dan berduaan dengan cowok di kamarnya. Andrea buru-buru mendorong Kyrran keluar dari kamar. Cowok tinggi itu sendiri tidak ada perlawanan, membiarkan punggungnya didesak pergi. Dia menggeser pintu balkon dan menarik tirai dengan sekali gerakan
Lampu taman mulai menyala satu per satu dan para siswa Alveroz High mulai kembali ke asrama masing-masing. Di kamar mandi sebuah unit kamar 207 lantai dua di asrama putri, Andrea berendam dalam bathtub. Air di bathtub bergerak pelan saat gadis itu bersandar, bahunya tenggelam setengah dan rambut h
Siapa yang tidak kenal dengan Kyrran Diandra Yoseviano. Selain sebagai Ketua OSIS, cowok itu merupakan siswa jenius yang selalu dipandang sebagai panutan sempurna. Dia selalu mendapatkan A di semua mata pelajaran. Wajah cowok itu tampan dengan garis rahang tegas dan hidung lurus yang memberi kesan
"Andrea Ilsa Shimano dari kelas 11-D, silakan ke ruangan dewan kedisiplinan sekarang juga."Suara pengumuman dari interkom sekolah menggema di setiap sudut Alveroz International High School.Percakapan siswa pada deretan meja panjang kafetaria langsung mereda. Hampir semua kepala menoleh bersamaan







