FAZER LOGINAndrea memang nyebelin di arch ini ya, kakak-kakak, author pun greget nulisnya. ^^ Tapi semoga salah pahamnya segera tuntas. Kasian sama Kyrran sebenernya.
Andrea akhirnya masuk ke dalam mobil Kyrran yang terparkir di luar gerbang timur kampus. Area itu jauh lebih sepi dibanding pintu utama. Awalnya Kyrran bersikeras menjemputnya di depan asrama, tetapi Andrea menolak. Ia tidak mau menjadi bahan gosip kampus. Apalagi sekarang Kyrran sedang menjadi pusat perhatian seluruh mahasiswa. Bahkan saat menunggu tadi, Kyrran sempat berdiri di luar mobil. Andrea yang melihatnya dari kejauhan langsung menelepon. "Kyrran, masuk ke mobil kamu, jangan menunggu di luar," ketus Andrea. "Kenapa, Andrea? Aku mau bukain pintu buat kamu," kata Kyrran. "Kalau ada yang lihat gimana?" protes Andrea. "Ya biarkan saja." "Masuk ke mobil, Kyrran." Dan pada akhirnya cowok itu menurut. Sekarang mereka duduk berdampingan di dalam mobil. Andrea baru saja hendak memasang sabuk pengaman, namun Kyrran bergerak lebih dulu, mencondongkan badannya ke arah Andrea. Cowok itu kemudian meraih sabuk di samping kursi lalu memasangkannya untuk Andrea. Klik. Sabuk itu te
"Kenapa kamu pakai masker?" tanya dosen di depan kelas.Beberapa mahasiswa ikut melihat ke arah mereka. Andrea tampak menahan napas. Sementara itu, Kyrran tetap santai lalu batuk pelan."Ehem, maaf, saya sedang flu, Pak," kilah cowok itu. Andrea menoleh tak menyangka.Kyrran melanjutkan dengan memasang tatapan polos di balik maskernya. "Tapi saya tetap mau mengikuti kelas Bapak.""Baiklah," ujar sang dosen. "Kalau merasa tidak enak badan, jangan dipaksa.""Baik, Pak," kata Kyrran dengan suara yang dibuat-buat lemah.Dosen tersebut mengangguk lalu kembali melanjutkan absensi.Begitu perhatian dosen beralih ke mahasiswa lain, Kyrran perlahan memiringkan kepalanya ke arah Andrea."Bagaimana aktingku?" tanya Kyrran, berbisik.Andrea memutar bola matanya malas. Ia tidak menjawab dan kembali menatap layar laptopnya.Sementara itu, Kyrran hanya tersenyum kecil. Beberapa detik kemudian, tangannya bergerak mendekati tangan Andrea yang berada di sisi laptop. Ia menggenggamnya sebentar.Andrea t
Kyrran bangun terduduk dengan malas sembari mengusap luar ponselnya, mengangkat telepon Daisy."Ya, kenapa?" ujar cowok itu dingin."Gak kenapa-kenapa kok, Sayang. Cuma mau tahu kabar kamu aja di NY sana," ujar Daisy terdengar manis."Seperti biasa, sibuk," jawab Kyrran malas.Ada jeda beberapa saat sebelum Daisy melanjutkan ucapannya. "Oh iya, aku rencana mau ke NY, bertemu kamu. Apa kamu bisa jemput aku di bandara besok lusa?""Gak usah, aku lagi sibuk, harus berapa kali aku ulangi," sinis Kyrran."Tapi aku kangen sama kamu Kyrran," timpal Daisy."Sejak kamu selesai operasi, aku harus menahan diri sampai kamu kembali ke Grandchester."Suara Daisy mulai terdengar bergetar."Terus setelah kita bersama lagi, kita cuma sempat jalan bareng empat kali. Itu pun terakhir kali kita ketemu sudah sepuluh bulan lalu yang lalu."Kyrran menatap tajam, lurus ke depan. "Tapi aku gak merasakan hal yang sama dengan kamu, Daisy," ujar Kyrran tajam.Daisy mulai terisak di seberang sana. "Kenapa sih kam
Sampai detik ini, Kyrran masih bingung kenapa Andrea—gadis yang ia temukan di pesta topeng tempo hari—mampu membuatnya tergila-gila seperti ini.Ia punya pacar dan selalu dikelilingi berbagai macam perempuan, namun tak satu pun yang mampu menggerakkan Kyrran untuk menyentuh apalagi berciuman.Tapi, Andrea… gadis cantik itu mampu menggetarkan hati Kyrran, membuat aliran darahnya berdesir hebat dan debar jantungnya terasa tak karuan.Dan yang pasti Kyrran selalu ingin memeluk dan menciumnya.Ia bahkan harus turun tangan menawarkan kesepakatan dengan ketua klub jurnalistik univ mereka agar membiarkan Andrea mewawancarai Kyrran.Dua hari setelah pesta topeng, Kyrran menemui Carol. Ia menyodorkan sebuah foto pada perempuan itu."Kalau kau gak mau itu tersebar, berikan Andrea Ilsa Beaumont tugas untuk mewawancaraiku," ujar Kyrran dingin menusuk.Carol yang tak mau rahasianya terbongkar menyetujui penawaran Kyrran dan di sinila
Andrea menarik pergelangannya lepas dari genggaman tangan Kyrran. "Nanti ada yang lihat, jangan pegang-pegang," ketus Andrea. Kyrran mengangkat sudut bibirnya tipis, lalu beranjak dari tempat duduknya dan mendekat ke hadapan Andrea sembari menundukkan wajah ke gadis itu. "Kamu makin galak, malah tambah cantik." Andrea menarik napas panjang sebelum mengalihkan pandangannya ke lapangan yang kosong. Sadar atau tidak, wajahnya kini dipenuhi semburat merah seolah seluruh bagian pipinya disapu blush on terang. Kyrran kemudian mendekatkan bibirnya telinga Andrea. Gadis itu bisa merasakan hangat napas dari celah bibir Kyrran menyapu daun telinganya yang sensitif. Andrea meremas sisi rok gaun merah marunnya, berusaha mengendalikan perasaannya yang kini campur aduk. Kesal, rindu yang tak mau diakui dan deg-degan menjadi satu. Debar jantungnya terasa ingin mendobrak dadanya. Sebelum ia menoleh pada wajah Kyrran, cowok itu lebih dulu berbisik. "Tunggu aku di belakang tribun lapangan utama. A
Sepanjang perkuliahan hari itu, Andrea nyaris tidak menyerap apa pun yang dijelaskan dosen. Padahal biasanya ia termasuk mahasiswi yang rajin mencatat. Namun, meski laptopnya terbuka dan slide presentasi terpampang di layar depan, pikirannya terus berputar pada percakapannya dengan Kyrran. Andrea lalu menghela napas pelan. Cowok itu ada saja gebrakannya membuat Andrea berpikir keras. Setelah kelas berakhir, Andrea ikut keluar bersama mahasiswa yang mulai berhamburan melewati pintu kelas. Saat langkah sepatunya menyusuri koridor, ponselnya bergetar. Ia mengangkat layarnya dan seketika menyetop langkah begitu matanya matanya menangkap nama pengirim pesan. Jantung Andrea berdetak lebih cepat dan terasa keras menggedor dadanya. Bagaimana tidak? Nama yang muncul di layar ponselnya itu merupakan kontak favoritnya dulu. My Baby Ran. Andrea membeku. Untuk sesaat ia hanya menatap layar ponselnya. Bahkan setelah lebih dari setahun berlalu, ia rupanya belum pernah mengganti nama k
"Gak punya bukti, kan?" sahut Kyrran lagi. Tatapannya semakin menyeramkan. Cowok itu kemudian mempertegas. "Asal kalian tau, aku yang ada di lab bersama Andrea malam tadi."Andrea mendongak, memperhatikan Kyrran yang masih memeluknya erat. Tak pernah ia sangka akan dibela oleh
Lampu taman mulai menyala satu per satu dan para siswa Alveroz High mulai kembali ke asrama masing-masing. Di kamar mandi sebuah unit kamar 207 lantai dua di asrama putri, Andrea berendam dalam bathtub. Air di bathtub bergerak pelan saat gadis itu bersandar, bahunya tenggelam setengah dan rambut h
Siapa yang tidak kenal dengan Kyrran Diandra Yoseviano. Selain sebagai Ketua OSIS, cowok itu merupakan siswa jenius yang selalu dipandang sebagai panutan sempurna. Dia selalu mendapatkan A di semua mata pelajaran. Wajah cowok itu tampan dengan garis rahang tegas dan hidung lurus yang memberi kesan
"Andrea Ilsa Shimano dari kelas 11-D, silakan ke ruangan dewan kedisiplinan sekarang juga."Suara pengumuman dari interkom sekolah menggema di setiap sudut Alveroz International High School.Percakapan siswa pada deretan meja panjang kafetaria langsung mereda. Hampir semua kepala menoleh bersamaan







