LOGINDi kamar sebelah, suasananya sedikit lebih santai. Jika Kyrran diinterogasi serius oleh para kakaknya, Andrea justru didera tatapan usil dan senyum jahil para sahabatnya.
Suara 'cieeeee' menggema serempak setelah Andrea dibimbing untuk duduk di tepi kasur. Sementara itu, gelak tawa ringan dari Noela, Cassandra, Elyse dan Jolina—membuat rona pipi Andrea jadi merah.Noela duduk di sebelah Andrea. Dia menyikut lembut lengan Andrea. "Kalian sudah sejauh itu ya ternyata."<Di kamar sebelah, suasananya sedikit lebih santai. Jika Kyrran diinterogasi serius oleh para kakaknya, Andrea justru didera tatapan usil dan senyum jahil para sahabatnya. Suara 'cieeeee' menggema serempak setelah Andrea dibimbing untuk duduk di tepi kasur. Sementara itu, gelak tawa ringan dari Noela, Cassandra, Elyse dan Jolina—membuat rona pipi Andrea jadi merah. Noela duduk di sebelah Andrea. Dia menyikut lembut lengan Andrea. "Kalian sudah sejauh itu ya ternyata.""Rasanya gimana, Andrea?" tanya Jolina blak-blakan. Matanya berkilat rasa ingin tahu yang menggebu-gebu. Cassandra dan Elyse senantiasa menunggu jawaban Andrea dengan penasaran yang sama besarnya. "Guys… c'mon… aku gak sejauh yang kalian pikirkan kok. Aku dan Kyrran cuma—"Ucapan Andrea tercekat lantaran dia mengembuskan napasnya pelan, lalu Noela menyela. "Cuma apa nih?" Jolina menukik alisnya berulang kali. Andrea mengulum bibir rapat-rapat
Tidak ada yang akan tahu kalau Andrea dan Kyrran tidur bersama kalau bukan si bungsu keluarga Yoseviano yang menemukan mereka.Mulanya, Lysander bangun begitu pagi dan membawa boneka astronotnya menuju kamar Kyrran. Jika Kyrran pulang ke mansion, si bungsu memang acap kali pagi-pagi ke kamar kakaknya itu untuk tidur bersama. Pasalnya Kyrran jarang muncul di rumah sejak tinggal di asrama. Di dalam kamar Kyrran, anak kecil itu menatap sang kakak tengah tidur memeluk gadis cantik. Bingung dia. Lantas Lysander berlari keluar, berpindah ke kamar Noela. Ia membangunkan kakak perempuannya. "Kakak El, Kakak El…" Lysander mengguncang bahu Noela yang masih tertidur. Untungnya tak butuh waktu lama gadis berambut sebahu itu membuka matanya. "Adek… ada apa pagi-pagi ke sini?" gumam Noela. Suaranya masih didominasi kantuk. "Kakak masih mau bobo, loh.""Kakak Ran peyuk kakak cantik di sebeyah," celoteh Lysander dengan pelafalannya yang masih cadel. Noela tersentak bangun. "What!?"Gadis itu k
Andrea yakin dirinya beberapa detik yang lalu dikuasai oleh dorongan aneh dalam dada. Sekujur tubuhnya didera denyut yang membingungkan dan begitu memabukkan. Jantungnya sendiri berdebar keras sampai terdengar jelas di gendang pendengaran gadis itu. Di sebelah Andrea, Kyrran memejamkan mata rapat-rapat sambil menata napasnya yang berkejaran. Perlahan, Kyrran mengangkat punggungnya hingga terduduk. Terlihat cowok itu menyugar rambut hitamnya dengan kasar. Kemudian ujung jari Kyrran mengusap tengkuknya dengan gerakan pelan, seolah menenangkan dirinya yang dikuasai sesuatu yang sulit dijelaskan. Andrea bangun pelan-pelan, kemudian turun dari kasur. Niatnya mau keluar dari kamar Kyrran, kembali ke kamar Noela. Pikirnya berbahaya ada di situasi ini jika mereka berduaan terus. Andrea harus segera pergi. Namun begitu telapak kakinya menyentuh karpet, tangan Kyrran tiba-tiba menangkap pergelangan tangannya dari belakang. Andrea terhenyak, sisa debar di dadanya masih terasa.
"Kyrran…" gumam Andrea. Dia mengedipkan matanya sekali untuk melihat lebih jelas. Bisa saja dia bermimpi, kan? Sosok di hadapannya mengenakan sweter hitam berlengan panjang. Salah satu tangannya berada di saku, sementara tangan lainnya memegang gelas bening berisi air. Cahaya temaram dari lampu dinding jatuh samar di wajah cowok itu, menciptakan garis-garis bayangan yang tegas pada rahang dan hidungnya. Meski pencahayaan tidak cukup terang, Andrea pada akhirnya menyadari kalau dirinya tidak sedang bermimpi. Itu memang Kyrran. Untuk beberapa saat, tak seorang pun dari dua remaja itu yang bergerak. Koridor panjang yang membingkai posisi mereka, mendadak terasa jauh lebih sempit. Sementara itu, keheningan di antara keduanya terasa begitu jelas hingga suara detak jantung Andrea sendiri terdengar memekakkan telinga. Sebelum gadis itu mengambil langkah, Kyrran lebih
Andrea mengalihkan tatapannya ke sembarangan arah menghindari sorot Kyrran yang setajam pedang. Namun, beberapa detik kemudian gadis itu melirik lagi dan kali ini Kyrran yang membuang wajah. "Dia..." Kelihatannya Kyrran kesal dengan Andrea karena malam itu atau mungkin karena Andrea yang menghindarinya berkali-kali. Dari sebelahnya, Jolina menyikut lengan Andrea dengan halus. Lantas gadis fashionable itu menundukkan kepalanya sedikit. "Ternyata saudara-saudaranya Noela memang cakep semua ya," bisik Jolina. Cassandra menambahkan. "Selama ini kita cuma bisa melihat Darell dan Kyrran secara langsung. Tapi di sini, kita bisa melihat mereka semua… anggota keluarga Yoseviano." Elyse menyela. "Bahkan mama papa dan om tantenya Noela semua masih kelihatan muda ya." "Ini masih yang di keluarga Yoseviano, kalau sudah gabung juga sama keluarga Alveroz, dengar-dengar oma dan opanya juga awet muda." "Tolong bilang aku nggak lagi masuk ke lokasi syuting drama keluarga konglomerat," celetu
Kelima remaja itu berpelukan bersama untuk beberapa lama di tengah kamar yang luas milik Noela. Lantas mereka saling tertawa. Tawa yang ringan, bebas dan terasa begitu nyaman. Senyaman wangi lembut bunga peony yang memenuhi ruangan. "Serius deh," Jolina berkata sambil menggeleng-geleng. "Kenapa kita nggak bersahabat dari dulu, yah?" "Karena belum saling mengenal lebih dalam," ucap Andrea cepat. Elyse menyahut. "Aku aja masih gak menyangka bisa ada si circle ini. Dulu kita cuma saling lihat di koridor sekolah, sekarang malah sedekat ini. " Noela merapatkan pelukannya. "Kalian tahu… ini yang selalu aku impikan dari dulu. Punya teman tulus seperti kalian." Cassandra menyambungkan. "Sisa punya pacar tulus, kan?" Tawa mereka kembali meledak ke setiap sudut ruangan. Perlahan kelimanya melepaskan rangkulan, menurunkan tangan santai. Andrea kemudian memicing ke arah Noela. "Aku mau tanya sesuatu, El." Cassandra, Elyse dan Jolina sama-sama menyilangkan tangan di dada, la







