로그인"Kamu sudah siap, El?"
Andrea menghampiri Noela yang sudah lebih dulu tiba di halaman belakang asrama putri. Gadis itu kemudian menurunkan tudung hoodie yang menutupi kepalanya. Anggukan Noela menyambutnya. "Sudah dong, Derby barusan ngabarin di grup, kalau Kyrran sudah sampai di asrama," jawab Noela. "Oke," Andrea meraih bahu sahabatnya. "Jangan sampai ketahuan penjaga ya." Noela mengulas senyum di bibir segarnya. "Kamu juga," tanga"Seriously, Rea," gerutu Andrea pada dirinya sendiri. Gadis itu melangkah cepat menyusuri jalur sepi di samping rumah kaca. Lampu-lampu labu oranye jadi satu-satunya penerangan yang menemani langkah sepatu boots Andrea. Napasnya masih berantakan, perasaannya campur aduk antara sebal, syok dan keinginan yang tidak seharusnya ada. Bagaimana bisa dia membentang karpet merah untuk ciuman dengan Kyrran sebanyak tiga kali malam ini? Padahal dirinya sendiri tahu kalau Kyrran hanya menganggapnya pengganti rokok. Kyrran juga bukan tipenya dan cowok itu menyebalkan. Tetapi, kenapa Andrea justru terpesona dengan ketos iblis sok keren itu? Tangan Andrea terangkat tanpa sadar, jemari lentiknya menyentuh bibirnya sendiri. Sisa ciuman itu masih terasa hangat. Ah, sial. Kenapa masih dipikirkan? Andrea makin mempercepat langkah, seolah bisa meninggalkan bayangan ciuman itu di belakang. Lagipula dia punya misi yang harus dijalankan malam ini, jadi Andrea harus tiba lebih dulu di
"Iya, ini Kyrran," ulang cowok itu. Tanpa banyak penjelasan, Kyrran langsung menarik pergelangan tangan Andrea. Gadis itu sendiri tidak melawan. Ia masih sedikit linglung dan membiarkan dirinya ditarik melewati jalur sempit yang tidak dilalui banyak orang. Suara ramai festival perlahan menjauh, digantikan oleh kesunyian yang menyergap dari segala sisi. Langkah dua remaja itu berhenti di belakang gudang penyimpanan lab biologi—tempat yang cukup jauh dari pusat keramaian, hanya diterangi cahaya samar dari lampu luar. Kyrran akhirnya melepas tangannya. Sementara itu, Andrea menarik napas panjang, lalu menatap kesal pada Kyrran. "Kenapa malah ke sini? Aku kehilangan jejak Lara, tau gak," omel Andrea, napasnya masih terengah-engah. "Aku yakin dia mau ketemuan lagi sama Pak Handoko, aku mau ngumpulin bukti baru." Kyrran mengerjap pelan, lalu melangkah mendekat, seolah tidak terganggu oleh nada ketu
Parade Festival Halloween Alveroz High resmi dimulai di lapangan utama. Para siswa berkumpul dengan kostum terbaik mereka dan para guru pun tak kalah—ada yang mengenakan jubah penyihir, ada pula yang tampil dalam balutan kostum klasik.Kepala Sekolah naik ke panggung, memberikan sambutan singkat dengan suara tenang yang tetap terdengar berwibawa di tengah gemuruh antusiasme.Di antara keramaian itu, Andrea berdiri sedikit menjauh, jemarinya sibuk mengetik di aplikasi notes ponselnya, merapikan naskah liputan khusus festival Halloween. Matanya bergerak cepat, menangkap detail, menyusun kalimat dalam kepala. "Setidaknya aku selesaikan semua naskah lebih cepat," gumamnya. Dan untuk kesekian kalinya, tatapan gadis itu bertumpu pada Ketua OSIS yang tidak jauh dari kerumunan utama. Di sana, Kyrran berdiri dengan kostum vampir yang sangat pas untuk auranya—dingin, rapi, dan entah kenapa sangat sulit diabaikan.Kemeja putih cowok itu memiliki d
"Capek," keluh Andrea saat merebahkan punggungnya ke kasur. Suaranya begitu lemah. Perjalanan panjang bolak-balik dari kota ini ke kota sebelah masih terasa di tubuhnya. Pundak Andrea terasa pegal dan napas gadis itu belum sepenuhnya lepas dari lelah.Bayangkan saja dia baru selesai mandi malam sebelumnya dan asisten pribadi kakeknya langsung mengabari kalau kakek Andrea sudah tiba dari luar negeri dan mau bertemu cucu kesayangannya. Mau tidak mau Andrea harus langsung berangkat malam itu juga dan izin tidak masuk kelas untuk satu hari. Sepengetahuan kakek Andrea, gadis itu sekolah di Mirelle Girls Academy, bukan di Alveroz International High School. Untungnya pertemuan itu berjalan lancar tanpa ada kecurigaan sedikitpun dari kakeknya. Namun, pikiran Andrea terus didera oleh ancaman Kyrran. Apa cowok itu benar-benar menempelkan foto ciuman mereka di mading dan menyebarkannya ke akun gosip sekolah? Sepanjang perjala
"Kuberi tahu kau sekali lagi, Kyrran. Jangan mengganggu sahabatku," tekan Noela. Kilat matanya setajam pisau yang baru diasah. Gadis berambut sebahu itu menyimpulkan tangannya kembali di depan dada. "Cari cewek lain saja, banyak yang menyatakan cinta padamu di sekolah. Kau tinggal pilih." Kyrran menghela napas tipis. "Kuberi tahu kau juga, aku gak berniat jadi playboy." "Not even in a million years," tambahnya dengan sinis. Keduanya lanjut berjalan, lalu menuruni tangga menuju lantai bawah. "Terus kenapa kau tanyakan soal playboy ke grup. Pasti karena efek bergaul dengan Maxwell, kan?" sahut Noela santai. "Itu hanya asumsimu, sudah kujelaskan juga di rumah sakit," kata Kyrran jengkel. Cowok itu melanjutkan ucapannya. "Sekarang aku menanyakan soal Andrea, dia ke mana?" "Dia menjanjikan wawancara lagi, tapi tidak muncul di ruangan OSIS," dustanya. "Kau tahu aku g
Layaknya lagu favorit yang terjebak di kepala dan berulang tanpa henti, sosok Andrea terus muncul di benak Kyrran. Iris hitam cowok itu menembus kaca tebal, menyorot ring di bawah sana—tempat dua petinju yang saling menghantam tanpa ragu. Tetapi, yang terus terputar di pikirannya cuma satu untuk saat ini—Andrea Ilsa Shimano. Tangisan gadis itu mengusik sesuatu di dadanya. Harusnya ia puas melihat Andrea tersiksa karena berani main-main dengan Kyrran. Namun, menyaksikan air mata gadis itu dan suara isakannya, membuat Kyrran justru merasa bersalah dengan perlakuannya pada Andrea belakangan ini. Apa dia memang berlebihan? Kyrran menghela napas, tangannya yang memegang gelas kristal terangkat. Lantas ia menyesap minuman di dalamnya dengan pelan. Tatapannya masih lurus ke arah ring. Dia kemudian merasakan kehadiran Maxwell di sebelahnya. Cowok itu membuka sebuah kotak rokok, menggesernya sedikit ke arah Kyrran. Tanpa banyak reaksi, Kyrran menjepit satu batang di antara jari







