เข้าสู่ระบบKalau sampai ketahuan ada siswa laki-laki di asrama putri saat subuh, bukan hanya Kyrran yang akan mendapat masalah. Tetapi Andrea kekasihnya juga akan terseret.
Kyrran bergerak cepat ke belakang pintu. "Sayang, sini," panggil cowok itu.Andrea langsung mengikuti dengan pandangan panik. "Kamu mau ngapain?""Kamu mending ngumpet dulu di lemari," sambung Andrea menyarankan."Bisa ketahuan kalau di situ, Sayang.""Di situ malah lebih jelas, Kyrran.""Kenapa kau mengumpulkan kami di sini, Ran?" tanya Jeremy, memecah keheningan begitu memasuki bengkel klub otomotif yang berada di bagian belakang sekolah, terpisah cukup jauh dari gedung utama. Biasanya hanya anggota klub otomotif yang datang ke sana setelah jam pelajaran berakhir.Hari itu suasananya jauh lebih sepi dari biasanya. Pintu rolling setengah tertutup, mesin-mesin praktik berjajar di sudut ruangan.Rasya yang baru datang meletakkan tasnya ke atas meja kerja. "Aku juga penasaran."Davin ikut mengangguk. "Biasanya kalau meeting mendadak begini pasti ada misi ya."Derby dan Vanko berdiri bersebelahan di dekat rak perkakas sambil melipat kedua tangan di dada. Keduanya saling melirik, seolah tahu tujuan Kyrran mengumpulkan mereka.Sementara itu, Kyrran duduk di atas kap mobil proyek milik klub dengan wajah datar tanpa senyum dan itu membuat semua orang mulai merasa tidak nyaman.Kyrran kemudian mengembuskan napas panjang.
Berkat bantuan Noela, Kyrran akhirnya berhasil keluar dari asrama putri tanpa ketahuan.Mereka menyelinap melalui koridor belakang yang jarang dilewati siswa, turun menggunakan tangga darurat, lalu keluar melalui pintu samping gedung yang mengarah ke taman belakang sekolah.Begitu memastikan tidak ada siapa pun di sekitar, Noela mengembuskan napas lega.Gadis berambut sebahu itu berbalik tajam, menghadap Kyrran. "Sekarang hapus fotonya!" ujar Noela tajam.Kyrran terkekeh kecil, lalu mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya pada Noela. "Ini, hapus sendiri."Noela menyipit curiga sebelum menarik benda pipih hitam itu dari tangan Kyrran. Noela berkutat dengan ponsel tersebut sesaat, mengirim foto ciumannya dengan Derby ke ponselnya sendiri, lalu menghapusnya di ponsel Kyrran."Kau gak simpan cadangannya, kan?" tanya Noela, nadanya waspada."Gak ada," kata Kyrran mengambil kembali ponselnya."Oke." Noela hendak ber
Kalau sampai ketahuan ada siswa laki-laki di asrama putri saat subuh, bukan hanya Kyrran yang akan mendapat masalah. Tetapi Andrea kekasihnya juga akan terseret.Kyrran bergerak cepat ke belakang pintu. "Sayang, sini," panggil cowok itu.Andrea langsung mengikuti dengan pandangan panik. "Kamu mau ngapain?""Kamu mending ngumpet dulu di lemari," sambung Andrea menyarankan."Bisa ketahuan kalau di situ, Sayang.""Di situ malah lebih jelas, Kyrran.""Sayang, ini bukan saat yang tepat untuk debat.""Kyrran—""Dengerin dulu, Sayang." Cowok itu meraih kedua bahu Andrea sebentar. Tatapannya dalam dan serius, seolah ingin memberikan pengertian pada kekasihnya itu."Kamu alihkan perhatian pengawasnya. Begitu Miss siapa pun itu masuk, bikin dia fokus ke kamu," urai Kyrran tenang.Andrea mengerjap pelan. "Drama seperti biasa ya."Kyrran mengangguk, lalu mengusap pucuk kepala kekasihnya itu. "Tepa
"Yakin mau aku keluarkan?" ucap Kyrran dengan suara dalam yang sedikit serak.Andrea mengangguk pelan. "Hmm."Kyrran kemudian mengalihkan wajahnya ke sebelah wajah Andrea, bibirnya menyapu daun telinga gadis itu. Dia kemudian berbisik. "Itu bukan handphoneku, Sayang."Andrea menoleh, ujung hidung gadis itu menempel samar di pipi Kyrran. "Terus apa? Kenapa keras? Aku juga pernah merasakannya waktu di rumah kamu waktu Thanksgiving Break." cecar Andrea penasaran."Kamu pernah melihatnya…" bisik Kyrran lagi. "Waktu kamu gak sengaja narik handuk aku pas pertama kali kamu menyusup ke kamarku…""Oh... itu... emm... tapi kok bisa jadi keras?"Kyrran tersenyum tipis. "Karena ada kamu."Wajah Andrea langsung memanas. Gadis itu mengulum bibirnya rapat-rapat menahan malu.Kyrran terkekeh kecil, lalu kembali menatap manik hazel Andrea lekat-lekat. Sementara itu Andrea semakin melingkarkan lengannya ke leher Kyrran.Cowoknya itu kemudian meraup bibir Andrea lagi dan melumatnya penuh perasaan."Aku
"Kyrran?" gumam Andrea, suaranya bergetar tak menyangka. Tanpa membuang waktu, gadis itu memutar kunci, lalu menggeser pintu kaca balkonnya lebih lebar. Udara malam menerpa wajah Andrea ketika dia melangkah keluar. Jantung Andrea sendiri berdegup begitu kencang hingga hampir menyakitkan. Langkah gadis itu berhenti sekitar dua meter di belakang sosok tinggi yang berdiri memunggunginya itu. "Kyrran…" panggilnya, suaranya pecah. Cowok itu perlahan berbalik dan tampak wajahnya dihiasi senyum tipis khas yang Andrea sangat kenali. "Hai, Sayangku." Suara dalam yang selalu menggetarkan dadanya akhirnya terdengar lagi. Andrea membeku di tempatnya. Ia tidak bermimpi ataupun berhalusinasi karena terlalu merindukan seseorang. Itu benar-benar Kyrran. Kaca-kaca langsung memenuhi manik matanya. Tanpa berpikir panjang, Andrea berlari menghampiri lalu membenamkan dirinya ke dada bidang Kyrran. Pelukannya begitu erat, seolah takut Kyrran akan menghilang jika dia melepaskannya. "Ini beneran kam
Sudah tiga hari berlalu dan Andrea belum juga bisa bertemu dengan Kyrran. Informasi yang diterimanya selalu sama. Kyrran baik-baik saja. Kyrran masih menjalani perawatan dan membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisinya.Awalnya Andrea berusaha mempercayai semua itu. Bagaimanapun juga, papa dan mama Kyrran sendiri yang mengatakannya.Tetapi semakin hari, rasanya banyak hal yang janggal. Kalau Kyrran memang baik-baik saja, setidaknya dia bisa menghubunginya, bukan?Mungkin melalui pesan, panggilan telepon atau sekadar video call selama beberapa menit.Andrea bahkan tidak akan memaksanya berbicara lama. Dia hanya ingin melihat wajah pacarnya. Memastikan sendiri bahwa Kyrran benar-benar baik-baik saja.Namun sampai detik ini…Tidak ada satu pun pesan, panggilan atau video ca dari Kyrran. Bahkan pesan terakhir Andrea hanya berakhir dengan tanda terkirim."Rea?"Suara di sampingnya membuat gadis itu tersadar dari lam
'Jangan… jangan di depan Andrea.' Kyrran membatin frustasi.Tiba-tiba saja dengung di kepalanya muncul lagi dan terasa menyengat. Pandangan Andrea di depan matanya sedikit bergoyang. Dalam waktu singkat dia mendaratkan dahinya ke pundak Andrea. "Kyrran, kamu kenapa!?" sahut gad
"Gak punya bukti, kan?" sahut Kyrran lagi. Tatapannya semakin menyeramkan. Cowok itu kemudian mempertegas. "Asal kalian tau, aku yang ada di lab bersama Andrea malam tadi."Andrea mendongak, memperhatikan Kyrran yang masih memeluknya erat. Tak pernah ia sangka akan dibela oleh
Pandangan Andrea terangkat, tatapan tajam Kyrran menyambutnya. Rahang cowok itu mengeras dan bola matanya berkilat penuh amarah, seperti mengobarkan api. Andrea sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Sejak menggendongnya tadi, Kyrran memang sudah tampak kesal. Jemari gadis itu me
Setelah kegiatan di klub jurnalistik selesai, Andrea bergegas keluar, langkah sepatunya menyusuri koridor yang lengang. Dia harus menemui Kyrran demi keselamatan naskahnya malam ini. "Ada-ada saja," geram Andrea, berjalan cepat sambil menunduk, kedua ibu jarinya menari di layar. [Kamu di mana]







