เข้าสู่ระบบ"Kamu chattingan lagi sama Jasper?" Suara Kyrran begitu tajam sampai membuat jantung Andrea berdetak tak nyaman. Andrea menelan salivanya berat, lalu melangkah buru-buru menghampiri Kyrran. Napasnya masih sedikit tersengal saat ia menjatuhkan diri di sisi kasur, tepat di sebelah cowoknya itu. "Baby Ran, aku niat mau cerita soal dia setelah kamu kembali," kata Andrea dengan suara yang sangat lembut. "Tadi kita bicarakan hasil pemeriksaan kamu dulu, jadi aku belum sempat bahas soal Jasper." Andrea memegang pundak cowoknya itu dengan kedua tangan. "Sekarang kita bahas, oke, Sayang?" Kyrran memejamkan mata sejenak, lalu menarik napas panjang sebelum menoleh pada Andrea. Rahangnya mengeras dan tatapannya menancap lurus ke wajah gadis itu. Andrea bisa merasakan sorot mengintimidasi dari iris hitam cowok itu. "Please…" pinta Andrea, memamerkan puppy eyes di kilat matanya. Kyrran tidak menjawab sama sekali. Namun sorot mata tajamnya sudah menjadi sinyal untuk dia segera menjelaskan. "K
Andrea mengulum bibirnya bingung. Kalau ia tidak balas lagi chat Jasper, apakah cowok itu akan melaporkan Andrea yang sekolah di Alveroz High ke Kakek Dedrick? Pasalnya hal itu masih jadi rahasia Andrea yang tersimpan rapi dari kakeknya. Ia kemudian menghela napas sebelum membalas pesan Jasper seadanya. Seperti kabar baik dan rencana kuliah. Andrea akan memberitahu Kyrran setelah pacarnya itu kembali. Terakhir kali Andrea laporkan soal Jasper, Kyrran marah besar. Sekarang, ia mau Kyrran fokus pada pemeriksaannya dulu dan tidak memikirkan hal lain. Hidup Andrea kembali berjalan seperti biasa. Kelas, tugas, rapat klub jurnalistik, festival di sekolah, jalan bersama para sahabatnya—semuanya berjalan berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, sudah dua minggu sejak Kyrran berangkat ke German. Selama berada di Valkenburg, Kyrran dan Andrea tidak pernah kehilangan kontak. Hampir setiap pagi ada pesan singkat. Kadang mereka hanya bertukar foto makanan atau Kyrran mengirimkan pemandangan kota
Hari keberangkatan Kyrran ke luar negeri akhirnya tiba. Bandara internasional pagi itu dipenuhi lalu-lalang penumpang dengan koper dan tas perjalanan. Pengumuman keberangkatan terdengar berkala dari pengeras suara.Namun jauh dari keramaian terminal utama, di salah satu lounge VIP privat, suasananya jauh lebih tenang.Dinding kaca setinggi langit-langit menghadap langsung ke apron bandara. Di luar sana, sebuah jet pribadi berwarna putih dengan lambang keluarga Yoseviano telah menunggu.Beberapa kru terlihat melakukan pemeriksaan terakhir sebelum keberangkatan.Sementara di dalam lounge, Kyrran berdiri berhadapan dengan Andrea. Cowok itu mengenakan jaket hitam, celana panjang, dan ransel yang tersampir di bahunya. Di sampingnya ada koper yang akan membawanya ke Valkenburg, German. Tempat yang mungkin menjadi harapan terbesar untuk kesembuhannya atau mungkin kesempatan terakhir. Andrea tidak mau memikirkan kemungkinan kedua. Jadi ia memili
"Baby Ran?"Panggilan ketiga Andrea yang membuat alis Kyrran tersentak tipis. Gadisnya itu begitu cantik sampai ia bahkan lupa berkedip."Kenapa diam? Gak cocok ya?" tanya Andrea, menekuri pakaiannya.Cowok itu akhirnya berdiri dari sofa dengan pelan tanpa mengalihkan pandangan dari Andrea."Cocok banget, Sayang." Kyrran menghentikan langkah tepat di depan gadis itu.Ia kemudian menyaksikan sendiri pipi Andrea memerah. "Makasih, ya," ujar gadis itu menunduk malu-malu.Rahang Kyrran mengeras tipis. Andrea membuat jantungnya berdebar keras, seperti mau menerobos keluar."Jadi aku pakai yang ini saja ya?" tanya Andrea, sedikit mendongak ke arahnya.Kyrran tidak menjawab dengan kata-kata, alih-alih cowok itu menggenggam pergelangan tangan Andrea dan menariknya masuk ke balik tirai ruangan ganti."Baby Ran, ngapain—"Andrea terperangah saat cowok itu mengurungnya di dinding dan tanpa aba-aba Kyrran
Dua hari sebelum Kyrran berangkat ke Valkenburg, German.Setelah berminggu-minggu berada di rumah sakit, Kyrran akhirnya menghirup udara pagi dari kamarnya sendiri di kediaman Keluarga Yoseviano.Cowok itu menyunggingkan senyum yang berbeda dari biasanya ketika menikmati pagi. Ada lega yang bercampur haru di tarikan sudut bibirnya.Setelah sekian lama, masa depannya tidak hanya berisi hitungan waktu dan hasil pemeriksaan medis. Kini ada harapan yang nyata.Kyrran berdiri di depan lemari pakaiannya sambil memperhatikan pantulannya di cermin.Ia memilih kemeja dan blazer hitam, dipadukan dengan celana panjang berwarna senada. Tidak terlalu formal, tapi cukup rapi untuk kencan.Setelah mengenakannya, ia berdiri di depan cermin besar, merapikan kerah dan menyisir rambutnya ke belakang dengan jemari, lalu berhenti sejenak.Senyum kecil muncul di wajah putih segar cowok itu.Sudah lama sekali ia tidak merasa bersemang
Sore itu, cahaya matahari keemasan masuk melalui jendela besar kamar rawat khusus Kyrran. Beberapa rangkaian bunga dari geng OTTD dan dua keluarga besar Kyrran—Alveroz Family dan Yoseviano Family—memenuhi meja dekat jendela.Kyrran sudah pindah dari tempat tidur ke sofa panjang yang ada di area duduk kamar rawatnya. Dokter Armand mengatakan kondisinya membaik, meski ia masih harus banyak beristirahat.Andrea duduk di sampingnya. Jemari mereka saling bertaut sejak beberapa menit lalu.Andrea kemudian memainkan pelan jari Kyrran dan menoleh ke arah cowoknya itu.Andrea menyahut lembut. "Jadi rasanya gimana setelah dua keluarga besar kamu tahu soal penyakit kamu?"Kyrran tersenyum tipis, tatapannya beralih ke jendela sejenak sebelum kembali memandangi Andrea."Kamu benar, Sayang. Rasanya lega." Kyrran mengangkat tangan mereka yang masih saling menggenggam, kemudian dengan lembut membawa tangan Andrea ke dadanya, tepat di atas jantun
"Gak punya bukti, kan?" sahut Kyrran lagi. Tatapannya semakin menyeramkan. Cowok itu kemudian mempertegas. "Asal kalian tau, aku yang ada di lab bersama Andrea malam tadi."Andrea mendongak, memperhatikan Kyrran yang masih memeluknya erat. Tak pernah ia sangka akan dibela oleh
Pandangan Andrea terangkat, tatapan tajam Kyrran menyambutnya. Rahang cowok itu mengeras dan bola matanya berkilat penuh amarah, seperti mengobarkan api. Andrea sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Sejak menggendongnya tadi, Kyrran memang sudah tampak kesal. Jemari gadis itu me
Setelah kegiatan di klub jurnalistik selesai, Andrea bergegas keluar, langkah sepatunya menyusuri koridor yang lengang. Dia harus menemui Kyrran demi keselamatan naskahnya malam ini. "Ada-ada saja," geram Andrea, berjalan cepat sambil menunduk, kedua ibu jarinya menari di layar. [Kamu di mana]
"Kamu lebih mendalami soal teknologi sejak pindah ke sini, kan?" tanya Andrea. Gadis itu menusuk-nusuk pelan nasi mentega yang ada di foodtray. "Ya, kenapa, Andrea?" Derby menyendok sup krim jagung ke dalam mulutnya. "Kamu… bisa hack handphone orang lain gak?"Derby h







