LOGINSesuatu yang gasal mulai menguasai dada Kyrran. Tanpa pikir panjang ia merogoh saku, mengeluarkan ponselnya.
Cowok itu langsung menghubungi Andrea. Tombol telepon ditekan berulang kali dan tidak ada satupun panggilannya yang dijawab oleh gadis itu. Lantas rahangnya mengeras tipis, alisnya menekuk tajam dan napasnya mulai berkejaran."Andrea," gumamnya. Dia kemudian melangkah keluar, menyelak pintu ruangan dengan keras.Jarinya beralih ke kontak Noela yang dinamaiDi kota Grandchester, dalam sebuah kamar apartemen, Daisy sedang berbaring santai di atas kasur. Wajahnya tertutup sheet mask beraroma lavender, sementara ponselnya berada di depan wajahnya. Jemarinya sibuk membuka berbagai aplikasi perjalanan.Matanya menyipit memperhatikan daftar penerbangan ke NY, Amric yang muncul di layar.Ia sudah bertekad untuk pergi ke sana, meski Kyrran melarangnya. Kali ini, Daisy harus ke sana. Toh, ia sudah mengumpulkan uang untuk beli tiket. Ia juga sudah melakukan berbagai macam perawatan. Karena tujuannya ingin memiliki Kyrran seutuhnya, membuat cowok itu terikat padanya.Gadis itu bahkan sudah meminta untuk cuti kuliah agar kembali dekat dengan Kyrran.Sejak mengaku sebagai pacar Kyrran, mereka tidak lama menghabiskan waktu bersama. Kyrran ke NY dan tidak ada niat membawa Daisy.Namun, sebelum menemukan tiket yang terjangkau dengan uang yang disiapkan, sebuah notifikasi masuk.Ting.Daisy awalnya tidak terlalu memperhatikan. Namun ketika melihat pesan
Noela menggigit bibir bawahnya lalu menepuk jidatnya pelan."Aduh."Hampir saja. Sedikit lagi ia bisa keceplosan sesuatu yang seharusnya tidak boleh diketahui Kyrran.Pertama—kedua orang tua dan keluarganya sudah mengingatkan Noela agar tidak menyebut soal Andrea lagi.Kedua—Andrea sendiri juga sudah kelihatan move on dari Kyrran. Gadis itu lebih fokus pada cita-cita dan sudah mulai jatuh hati pada tunangannya.Jadi, ia tidak boleh mengungkapkan yang sebenarnya pada Kyrran. Cukup mencegah kembarannya itu semakin lama terlibat dengan Daisy.Untungnya mereka tidak video call, jadi ekspresi Noela tidak akan terbaca oleh Kyrran. Ia segera memutar otak mencari jawaban."Oh, itu maksudku…" Ia berdeham."Kalaupun kamu merasa pernah punya pacar atau apa, mungkin cuma efek ingatan kamu yang belum beres.""Maksudnya?" desis Kyrran di seberang sana."Ya semacam halu."Kyrran mendengkus. "Aku mema
Sejak malam itu, Kyrran tidak pernah lagi menagih kesepakatannya dengan Andrea. Ia tidak lagi menggoda Andrea tentang janji ciuman dan ngedate mereka.Melihat tangisan Andrea yang histeris seperti waktu itu membuat Kyrran sadar jika ia memang sudah berlebihan.Sudah lebih dari satu minggu ia hanya bisa memperhatikan Andrea dari kejauhan. Di kantin, depan gedung fakultas FIKOM, perpustakaan atau sesekali dari tribun lapangan basket ketika Andrea sedang melakukan wawancara.Padahal sebenarnya, Kyrran sangat merindukan gadis itu dan ingin berada di dekatnya.Kyrran bingun harus berbuat apa. Namun setiap kali mengingat wajah Andrea yang basah oleh air mata malam itu, langkahnya selalu terhenti.Saat akhir pekan tiba. Kyrran memilih meninggalkan kampus, bertolak ke kota Grandchester.Malam itu, Kyrran menghadiri makan malam bersama keluarga besar mamanya—Keluarga Alveroz.Ada Opa Riovandra, Oma Tamara, Mama Drassha, Papa Adriel, Tante Cherryl dan suaminya, Om Elias, Jasper, Lysander adik b
"Ah… Kyrran… stop…" lirih Andrea.Sayangnya, Kyrran semakin menyesap leher Andrea, mengabsen sepanjang kulit lembut gadis itu.Andrea memejamkan matanya, seolah menyerah dengan perlakuan Kyrran."Mhmm…"Kyrran kemudian memutar badan Andrea agar menghadap ke arah cowok itu. Saat Andrea ingin melayangkan protes, Kyrran lebih dulu membungkam bibir dengan ciuman.Satu tangan Kyrran menahan pinggang Andrea dan tangannya yang lain mengusap punggung Andrea dengan gerakan pelan dan penuh damba."Arghh… Andrea… you make me crazy," geram Kyrran rendah di sela hisapannya.Andrea yang sudah terbuai oleh mantan kekasihnya itu malah membalas ciuman Kyrran. Kedua lengan Andrea sendiri sudah melingkar di tengkuk cowok itu. Satu tangannya sesekali meremas rambut belakang Kyrran."Emphh… Ahh… Kyrran…" lirih Andrea di sela pagutan mereka yang kuat dan saling menuntut."Mmhhmm…""Argh…"Namun, saat kesadaran Andrea kembali. Gadis itu mendorong dada bidang Kyrran. Napasnya terengah-engah, lalu segera berl
Andrea memicing tajam ke arah cowok itu. "Aku cinta sama tunangan aku," tegas Andrea. "Ciuman doang bukan apa-apa, kami sering ciuman bahkan kami sudah pernah—"Ucapan Andrea terpotong lantaran Kyrran membungkam bibirnya dengan ciuman mendadak.Andrea spontan membelalak karena cowok itu berani menciumnya di depan umum.Bagaimana jika ada yang mengenali mereka?Bagaimana kalau ada yang memotret?Bagaimana kalau foto itu tersebar dan menjadi viral?Dan kalau sampai berita itu tiba di tangan kakeknya—Bisa jantungan Kakek Dedrick!Andrea segera menarik wajahnya menjauh dan mendorong bahu Kyrran."Kamu memang gila, ya?!""Gimana kalau ada yang lihat?!" ketus Andrea.Andrea lalu buru-buru memasang maskernya dengan benar, lalu menarik lengan Kyrran pergi. Ia menyeret cowok itu menuju sisi taman hiburan yang lebih sepi, jauh dari kerumunan pengunjung.Begitu sampai di balik deretan pagar tanaman, Andrea langsung berbalik."Pakai masker kamu!" titah Andrea dingin.Alih-alih mengenakan masker
Andrea akhirnya masuk ke dalam mobil Kyrran yang terparkir di luar gerbang timur kampus. Area itu jauh lebih sepi dibanding pintu utama. Awalnya Kyrran bersikeras menjemputnya di depan asrama, tetapi Andrea menolak. Ia tidak mau menjadi bahan gosip kampus. Apalagi sekarang Kyrran sedang menjadi pusat perhatian seluruh mahasiswa. Bahkan saat menunggu tadi, Kyrran sempat berdiri di luar mobil. Andrea yang melihatnya dari kejauhan langsung menelepon. "Kyrran, masuk ke mobil kamu, jangan menunggu di luar," ketus Andrea. "Kenapa, Andrea? Aku mau bukain pintu buat kamu," kata Kyrran. "Kalau ada yang lihat gimana?" protes Andrea. "Ya biarkan saja." "Masuk ke mobil, Kyrran." Dan pada akhirnya cowok itu menurut. Sekarang mereka duduk berdampingan di dalam mobil. Andrea baru saja hendak memasang sabuk pengaman, namun Kyrran bergerak lebih dulu, mencondongkan badannya ke arah Andrea. Cowok itu kemudian meraih sabuk di samping kursi lalu memasangkannya untuk Andrea. Klik. Sabuk itu te
"Gak punya bukti, kan?" sahut Kyrran lagi. Tatapannya semakin menyeramkan. Cowok itu kemudian mempertegas. "Asal kalian tau, aku yang ada di lab bersama Andrea malam tadi."Andrea mendongak, memperhatikan Kyrran yang masih memeluknya erat. Tak pernah ia sangka akan dibela oleh
Setelah kelas selesai, satu per satu siswa keluar dari kelas. Biasanya, Andrea juara satu siswa yang meninggalkan kelas paling cepat. Tapi, kali ini gadis itu menahan diri.Setelah melihat Kyrran beranjak dari kursi, gadis itu ikut bangkit dan langsung menghampiri cowok itu."Kyrran," kata Andrea.
Siapa yang tidak kenal dengan Kyrran Diandra Yoseviano. Selain sebagai Ketua OSIS, cowok itu merupakan siswa jenius yang selalu dipandang sebagai panutan sempurna. Dia selalu mendapatkan A di semua mata pelajaran. Wajah cowok itu tampan dengan garis rahang tegas dan hidung lurus yang memberi kesan
"Andrea Ilsa Shimano dari kelas 11-D, silakan ke ruangan dewan kedisiplinan sekarang juga."Suara pengumuman dari interkom sekolah menggema di setiap sudut Alveroz International High School.Percakapan siswa pada deretan meja panjang kafetaria langsung mereda. Hampir semua kepala menoleh bersamaan







