เข้าสู่ระบบSesuatu yang gasal mulai menguasai dada Kyrran. Tanpa pikir panjang ia merogoh saku, mengeluarkan ponselnya.
Cowok itu langsung menghubungi Andrea. Tombol telepon ditekan berulang kali dan tidak ada satupun panggilannya yang dijawab oleh gadis itu. Lantas rahangnya mengeras tipis, alisnya menekuk tajam dan napasnya mulai berkejaran."Andrea," gumamnya. Dia kemudian melangkah keluar, menyelak pintu ruangan dengan keras.Jarinya beralih ke kontak Noela yang dinamaiSeorang guru sejarah tengah menjelaskan materi di depan ruangan. Para siswa tampak mencatat dan membuka tablet mereka. Beberapa dari mereka mulai kehilangan fokus. Ada yang melirik jam dinding, ada yang seperti Andrea yang tidak benar-benar mendengar apa yang sedang dijelaskan.Pandangannya tertuju ke luar jendela. Langit siang itu berwarna abu-abu pucat. Sama seperti suasana hatinya sejak beberapa hari terakhir.Kepergian Darell masih terasa tidak nyata.Kadang Andrea masih berharap akan melihat kakak sepupu Kyrran itu berjalan santai di koridor sekolah dan menunjukkan aksi di lapangan hockey sebagai kapten atau mungkin meluangkan waktu wawancara dengan Andrea.Namun kenyataannya tidak akan seperti itu lagi. Darell benar-benar sudah pergi dan meninggalkan lubang besar dalam hidup banyak orang. Terutama Kyrran.Andrea menunduk pelan, jemarinya memainkan ujung pulpen. Baginya Darell sudah jadi seorang kakak juga buat Andrea.Cowok
"Kau—"napas Kyrran tercekat.Ia mulai mengklik riwayat pencarian Darell, baris demi baris memenuhi layar. Dari artikel medis, jurnal penelitian, forum kesehatan, informasi tentang penyakit langka, terapi eksperimental, dokter spesialis di seluruh dunia hingga kasus yang gejalanya mirip dengan penyakit yang diderita Kyrran.Di pemakaman, Andrea menyampaikan pada Kyrran. "Memang Paman Dimitri yang mencari informasi tentang dokter Sebastian, tapi semua informasi lengkap tentang penyakit kamu yang bahkan dokter Armand gak temukan, didapatkan oleh Darell. Informasi yang aku kumpulkan juga masih jauh dari yang dikumpulkan Darell."Di hadapan layar komputer Darell, tangan cowok itu mulai bergetar. Ia membuka email. Puluhan surel tersusun di sana. Sebagian besar berisi korespondensi dengan rumah sakit, penelitian, permintaan konsultasi sampai pertanyaan mengenai metode pengobatan terbaru.Semua tentang Kyrran. Bahkan saat ia sendiri mulai kehilangan keyakinan, sempat ingin melakukan eutanasia
Seluruh anggota keluarga Yoseviano berdiri dalam diam di hadapan makam Darell Cillian Yoseviano. Semuanya mengenakan pakaian hitam.Para laki-laki berdiri tegak dengan wajah muram, sementara para perempuan menundukkan kepala. Beberapa masih menggenggam saputangan yang sejak tadi digunakan untuk mengusap sudut mata. Tidak ada percakapan yang terdengar kecuali hembusan angin yang melewati dedaunan pepohonan tinggi yang mengelilingi taman makam khusus keluarga Yoseviano itu.Di salah satu barisan depan, Kyrran berdiri dengan kedua tangan masuk ke saku celana. Kacamata hitam yang menutupi matanya tidak mampu menyembunyikan tatapan kosong yang terpancar dari wajahnya.Di hadapannya, tanah makam Darell baru saja ditutup. Sosok yang selama ini selalu menemani, memberi masukan saran dan nasihat serta yang sering memarahinya jika mengambil keputusan salah—kini hanya tinggal nama yang terukir pada batu nisan.Kyrran menatapnya cukup lama tanpa adanya tangisan. Namun justru itu yang membuat waja
Tidak ada yang tahu pasti waktu seseorang akan habis kecuali Tuhan. Tidak dokter, keluarga atau orang yang menjalaninya sendiri.Sejak kecil, Kyrran hidup berdampingan dengan rumah sakit. Bau antiseptik lebih sering ia hirup dibandingkan aroma rumput setelah hujan. Ia hafal suara monitor jantung dan warna dinding ruang rawat.Kyrran ingat bagaimana dokter pernah berkata bahwa dirinya mungkin tidak akan bertahan sampai usia dua puluh tahun. Dan beberapa bulan lalu, ia kembali menerima vonis yang tidak jauh berbeda. Waktunya tersisa enam bulan.Namun di tengah semua itu, Kyrran selalu berpikir satu hal. Kalau suatu hari ada yang pergi lebih dulu di keluarganya… maka orang itu pasti dirinya.Namun malam itu… kenyataan menghancurkan logika yang ia pegang.Saat tiba di rumah sakit bersama Andrea, dokter yang menemui mereka menjelaskan dengan penuh keprihatinan lalu menyatakan bahwa Darell Cillian Yoseviano telah tiada.Kyrran duduk di
Malam itu, Alveroz High begitu sunyi. Sebagian besar lampu asrama sudah padam, menyisakan beberapa jendela yang masih memancarkan cahaya hangat. Angin malam berembus pelan membawa aroma rumput basah dari taman sekolah.Andrea berada dalam kamar Kyrran di asrama putra. Seperti biasanya, gadis itu akan berpakaian seperti cowok agar bisa menyusup masuk.Dua remaja itu sedang membereskan akuarium ubur-ubur milik Kyrran yang bercahaya lembut memantulkan warna keunguan ke seluruh ruangan.Mereka mengganti air, embersihkan kaca dan memastikan sistem filternya bekerja dengan baik. Sesekali mereka saling menyiram air tanpa sengaja lalu berdebat soal siapa yang memulai lebih dulu.Untuk beberapa saat, masalah operasi, rumah sakit dan semua ketakutan mereka seakan menghilang. Yang ada hanya mereka berdua dan rutinitas kecil keduanya.Mereka selesai membersihkan akuarium bundar itu setelah satu jam lebih.Kyrran kemudian mematikan lampu utama kamarnya, menjadikan ruangan langsung menjadi gelap. N
"Kamu masih marah?" tanya Kyrran, menatap profil samping Andrea.Gadis itu tetap diam, lalu lanjut menggerakkan ujung kuasnya ke kanvas. Kyrran menghela napas, menarik kursi di sebelahnya lalu duduk."Aku tahu kamu sengaja menghindar. Tapi apa harus begitu caranya?" keluh Kyrran.Andrea mengulum bibir lalu menaruh kuas di atas meja. "Aku cuma sedang ingin sendiri, Kyrran."Gadis itu akhirnya menoleh dan tatapan mereka bertemu. Mata Andrea masih menyimpan bekas tangisan semalam. Namun kali ini gadis itu tidak menangis.Andrea menyahut, "kalau aku bilang iya, kamu mau berubah pikiran?"Kyrran terdiam. Jujur saja ia masih berpegang pada pendiriannya yang tidak ingin kehilangan ingatan.Andrea menatapnya lekat. "Aku sudah membujuk kamu," ujar gadis itu pelan."Papa mama kamu sudah membujuk kamu. Dua keluarga besar kamu. Noela juga. Darell juga. Sahabat-sahabat kita juga.""Tapi kamu tetap gak mau melakukan operasi itu," sambung Andrea dengan suara lirih.Kyrran menunduk, memejamkan mata s
'Jangan… jangan di depan Andrea.' Kyrran membatin frustasi.Tiba-tiba saja dengung di kepalanya muncul lagi dan terasa menyengat. Pandangan Andrea di depan matanya sedikit bergoyang. Dalam waktu singkat dia mendaratkan dahinya ke pundak Andrea. "Kyrran, kamu kenapa!?" sahut gad
"Gak punya bukti, kan?" sahut Kyrran lagi. Tatapannya semakin menyeramkan. Cowok itu kemudian mempertegas. "Asal kalian tau, aku yang ada di lab bersama Andrea malam tadi."Andrea mendongak, memperhatikan Kyrran yang masih memeluknya erat. Tak pernah ia sangka akan dibela oleh
Pandangan Andrea terangkat, tatapan tajam Kyrran menyambutnya. Rahang cowok itu mengeras dan bola matanya berkilat penuh amarah, seperti mengobarkan api. Andrea sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Sejak menggendongnya tadi, Kyrran memang sudah tampak kesal. Jemari gadis itu me
Setelah kegiatan di klub jurnalistik selesai, Andrea bergegas keluar, langkah sepatunya menyusuri koridor yang lengang. Dia harus menemui Kyrran demi keselamatan naskahnya malam ini. "Ada-ada saja," geram Andrea, berjalan cepat sambil menunduk, kedua ibu jarinya menari di layar. [Kamu di mana]







