แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Devienne Noraine
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-21 18:42:53

Mata Kiara membelalak. Tangannya secara refleks menyentuh saku rok seragam pelayannya yang ketat. Ponsel itu adalah satu-satunya benda miliknya yang tersisa. Satu-satunya jembatan ke kehidupannya yang normal. Di sana ada foto ibunya, ada chat terakhir dengan Sari, ada nomor teman-temannya.

"Tidak," tolak Kiara, mundur selangkah. "Anda tidak bisa mengambilnya."

"Saya tidak bertanya, Kiara. Saya memerintah," suara Darius turun satu oktaf, menjadi geraman rendah yang berbahaya. "Serahkan. Sekarang."

"Tapi saya butuh menghubungi ibu saya! Dia akan khawatir kalau saya hilang!" Kiara mencoba berargumentasi, suaranya bergetar. "Saya janji tidak akan mengirim lokasi saya. Saya hanya akan bilang saya baik-baik saja..."

"Kau melanggar aturan nomor tiga dalam waktu kurang dari satu menit," potong Darius dingin. "Saya bilang, jangan membantah."

Tanpa peringatan, Darius bergerak.

Gerakannya begitu cepat dan efisien, hasil dari refleks yang terlatih bertahun-tahun di dunia yang keras. Sebelum Kiara sempat berkedip, Darius sudah memangkas jarak di antara mereka.

Kiara mencoba menghindar, berbalik untuk lari, tapi tangan kiri Darius melesat dan mencengkeram lengan atas Kiara. Cengkeramannya kuat seperti besi, menahan gadis itu di tempat.

"Lepaskan!" jerit Kiara panik.

Darius tidak peduli. Dengan satu tangan menahan tubuh Kiara agar tidak meronta, tangan kanannya menyusup paksa ke dalam saku rok Kiara.

Itu adalah pelanggaran ruang pribadi yang brutal. Punggung tangan Darius bergesekan dengan paha Kiara di balik kain tipis itu saat dia merogoh saku yang sempit. Napas Kiara tercekat. Jantungnya berdegup liar di dadanya, beradu dengan dada bidang Darius yang menempel di punggungnya.

"Dapat," bisik Darius tepat di telinga Kiara. Aroma napasnya yang berbau wiski dan mint menyapu leher gadis itu, membuat bulu kuduknya meremang seketika.

Darius menarik ponsel pintar murah milik Kiara, lalu melepaskan cengkeramannya.

Kiara terhuyung ke depan, nyaris jatuh, tapi dia segera berbalik dengan napas memburu. Wajahnya merah padam karena campuran amarah dan rasa malu yang aneh akibat kedekatan fisik barusan.

Darius berdiri santai sambil memutar-mutar ponsel Kiara di jari-jarinya yang panjang.

"Kau tidak butuh alat ini," katanya sambil menatap layar ponsel yang retak sedikit di ujungnya. "Dunia luar tidak perlu tahu kau ada di sini. Dan kau tidak perlu tahu apa yang terjadi di luar sana. Mulai detik ini fokusmu hanya satu, yaitu Saya."

"Anda monster," desis Kiara, matanya berkaca-kaca. "Bagaimana dengan ibu saya? Dia punya penyakit jantung. Kalau saya hilang tanpa kabar..."

"Saya akan mengurusnya," potong Darius, nada suaranya sedikit melunak tapi tetap tegas. "Asisten saya akan mengirim pesan berkala dari nomor ini. Mereka akan membuat alibi bahwa kau sedang sibuk orientasi kerja di pedalaman atau semacamnya. Ibumu akan baik-baik saja. Jauh lebih baik daripada jika dia tahu putrinya sedang menjadi tawanan bos mafia."

Darius memasukkan ponsel Kiara ke saku celananya sendiri.

"Sudah cukup dramanya untuk malam ini."

Darius menekan sebuah tombol di dinding.

Hanya dalam hitungan detik, pintu lift pribadi di ujung lorong terbuka. Sosok pria Asia bertubuh tegap dengan wajah sedatar tembok beton melangkah keluar.

Kenji.

Kiara ingat wajah itu. Dia adalah bayangan Darius. Pria yang berdiri diam saat Lau diseret keluar.

"Tuan?" suara Kenji datar dan efisien.

"Bawa dia ke kamar tamu sayap timur," perintah Darius tanpa menoleh lagi ke arah Kiara. Pria itu sudah berjalan menuju meja kerjanya, seolah-olah Kiara sudah tidak menarik lagi baginya. "Pastikan dia tidak keluar sampai saya memanggilnya besok pagi. Kunci akses lift dan tangga darurat. Aktifkan sensor perimeter."

"Baik, Tuan."

Kenji menoleh pada Kiara. Tidak ada simpati di matanya, hanya kepatuhan profesional. "Ikut saya, Nona."

Kiara menatap punggung Darius yang lebar. Dia ingin berteriak, ingin melempar asbak kristal di meja ke kepala pria itu. Tapi dia tahu itu sia-sia. Di sarang naga ini, dia hanyalah seekor tikus kecil yang tak berdaya.

Dengan bahu terkulai, Kiara mengikuti Kenji.

Mereka berjalan menyusuri koridor panjang yang sunyi. Lantainya dilapisi karpet tebal yang meredam suara langkah. Di dinding-dindingnya tergantung lukisan-lukisan abstrak yang tampak suram namun artistik, karya-karya asli yang harganya mungkin cukup untuk membeli pulau pribadi.

Kenji berhenti di depan sebuah pintu ganda berwarna putih gading.

"Ini kamar Anda," kata Kenji sambil membuka pintu itu.

Kiara melangkah masuk, dan napasnya tertahan untuk kedua kalinya malam itu.

Kamar ini bukan sel penjara. Ini adalah istana.

Ruangannya sangat luas, didominasi warna krem dan emas pucat. Sebuah ranjang King Size dengan seprai sutra putih bersih berdiri megah di tengah ruangan. Di sisi kanan, dinding kaca menampilkan pemandangan pelabuhan Makau dari sudut yang berbeda. Lampu-lampu kapal feri yang bergerak di laut hitam terlihat seperti kunang-kunang.

"Ada kamar mandi di sebelah kiri," jelas Kenji dengan nada monoton. "Di dalam lemari sudah disiapkan jubah mandi dan beberapa kebutuhan dasar. Tuan Darius tidak suka melihat... pakaian kotor."

Mata Kenji melirik sekilas ke seragam pelayan Kiara yang kusut dan bernoda debu.

"Pintu ini," lanjut Kenji sambil menunjuk pintu tempat mereka masuk, "tidak akan dikunci dari luar. Tapi..."

Kenji menunjuk sebuah panel kecil berkedip merah di atas kusen pintu.

"...sensor gerak aktif mulai sekarang. Jika Anda melangkah keluar dari pintu ini tanpa didampingi saya atau Tuan Darius, alarm akan berbunyi di pos keamanan dan di ponsel Tuan Darius. Dalam waktu kurang dari dua menit, tim keamanan akan datang. Dan mereka tidak akan bertanya dulu sebelum melumpuhkan anda."

Ancaman itu disampaikan dengan nada sopan seperti seorang resepsionis hotel yang menjelaskan fasilitas sarapan.

"Istirahatlah, Nona."

Kenji menutup pintu.

Kiara sendirian. Benar-benar sendirian.

Kakinya yang lemas akhirnya menyerah. Dia merosot duduk di karpet bulu yang lembut di kaki tempat tidur. Keheningan ruangan itu begitu menekan hingga telinganya berdenging.

Dia tawanan. Dia sandera. Dia... milik Darius Gan.

Kiara memeluk lututnya, membenamkan wajahnya, dan menangis. Tangisannya bukan raungan histeris, tapi isak tertahan yang menyakitkan. Dia menangisi kebodohannya yang nekat datang ke Makau. Dia menangisi Sari yang entah ada di mana. Dan dia menangisi nasibnya yang kini berada di tangan pria tampan dan bahaya itu.

Setelah hampir setengah jam menangis, rasa lengket di tubuhnya mulai mengganggu. Keringat dingin sisa ketakutan bercampur dengan debu dari persembunyiannya di balik tirai tadi membuat kulitnya terasa gatal.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Jerat Liar Sang Taipan   Bab 17

    Mobil berbelok tajam, memasuki sebuah gerbang besar berbentuk mulut naga emas yang tampak norak namun mengintimidasi. "Dengar, Kiara," suara Darius berubah serius. Dia memutar tubuhnya menghadap Kiara, meletakkan satu tangan di sandaran kursi gadis itu, mengurungnya. "Tempat ini berbeda dengan The Elysium. Kasinoku adalah bisnis. Tempat ini adalah rumah jagal. Di sini, orang mempertaruhkan bukan cuma uang, tapi jari, istri, bahkan nyawa." Darius menatap mata Kiara tajam. "Tugasmu sederhana. Kamu adalah trophy woman-ku. Hiasan cantik di lenganku. Jangan bicara kecuali ditanya. Jangan menatap mata siapa pun lebih dari dua detik. Dan..., jangan lepaskan lenganku." "Aku mengerti," cicit Kiara. "Tersenyumlah," perintah Darius, jarinya menyentuh dagu Kiara, memaksanya mendongak. "Kamu sedang bersama Darius Gan, Raja Kasino Makau. Kamu harus terlihat seolah kamu memiliki dunia, bukan seolah kamu takut padanya." Mobil berhenti. Pintu dibuka oleh valet yang terlihat kasar dan ber

  • Jerat Liar Sang Taipan   Bab 16

    "Apakah..." Kiara mencoba bicara, suaranya serak karena gugup. "Apakah ini cukup tertutup?" Darius tidak langsung menjawab. Dia meletakkan gelasnya di meja tanpa mengalihkan pandangan dari Kiara. Dia melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Setiap langkah Darius mendekat, jantung Kiara berpacu semakin cepat. Aroma Oud dan Leather pria itu semakin kuat, bercampur dengan aroma parfum mahal yang baru saja disemprotkan Julian ke tubuh Kiara, kombinasi aroma mereka menciptakan feromon yang memusingkan. Darius berhenti tepat di depan Kiara. Jarak mereka kurang dari lima sentimeter. Tangan Darius terulur. Kiara menahan napas, mengira Darius akan menyentuh wajahnya. Tapi tangan Darius turun ke pinggang Kiara. Telapak tangannya yang besar dan hangat menempel di atas kain beludru itu, meremas pelan pinggang ramping Kiara, menariknya lebih dekat hingga tubuh mereka bersentuhan. Kiara tersentak, tangannya refleks menumpu di dada bidang Darius untuk menjaga keseimbangan. Di balik kemeja s

  • Jerat Liar Sang Taipan   Bab 15

    Pukul 18:30 Matahari telah sepenuhnya tenggelam, meninggalkan langit Makau yang kini berwarna ungu lebam sebelum akhirnya menyerah pada kegelapan malam. Kiara duduk diam di depan cermin rias di kamar tamunya. Dia merasa bukan seperti manusia lagi, melainkan sebuah kanvas kosong yang sedang dilukis paksa. Tiga orang telah masuk ke kamarnya setengah jam yang lalu. Mereka bukan pelayan housekeeping seperti Bibi Mei. Mereka adalah tim profesional yang dipimpin oleh seorang pria bernama Julian. "Jangan bergerak, Sayang. Eyeliner-mu bisa miring," tegur Julian dengan bahasa Inggris beraksen Prancis yang kental. Tangannya yang memegang kuas rias bergerak lincah di sekitar mata Kiara. "Tuan Gan bilang tertutup, tapi dia tidak bilang membosankan," gumam Julian pada asistennya yang sedang menata rambut Kiara. "Buat rambutnya tergerai, tapi bergelombang rapi. Sleek and dangerous. Kita tidak mau dia terlihat seperti anak sekolah yang mau pergi les." Kiara memejamkan mata, membiarkan wajahnya

  • Jerat Liar Sang Taipan   Bab 14

    "Kamu pikir aku hanya duduk diam sementara kamu bermain detektif dengan Google?" tanya Darius sambil berjalan menuju bar mininya, menuang air mineral. "Aku sudah menyuruh tim IT-ku melacak jejak digital adikmu."Layar menyala. Sebuah rekaman CCTV berkualitas rendah muncul.Di sudut kanan atas, tertera tanggal: 14 Mei. Pukul 23:45. Lokasi: Loading Dock, The Elysium - Sektor Selatan."Ini rekaman dari kamera keamanan belakang kasinoku," jelas Darius. "Area ini biasanya hanya untuk truk pengantar logistik makanan."Kiara melangkah mendekati layar, matanya terpaku pada gambar hitam putih itu.Di layar, terlihat seorang gadis muda dengan gaun pesta yang berkilauan sedang berjalan cepat, sesekali menoleh ke belakang dengan panik."Sari," bisik Kiara. Dia mengenali postur tubuh itu. Mengenali cara jalan adiknya yang sedikit berjinjit.Sari terlihat memegang sebuah tas tangan kecil di dadanya. Dia bersembunyi di balik tumpukan krat minuman kosong.Lalu, sebuah mobil van hitam berhenti. Pintu

  • Jerat Liar Sang Taipan   Bab 13

    "Anda brengsek," desis Kiara. Darius memutar kursinya perlahan. Dia menatap Kiara yang masih berdiri di bawah lampu sorot, tampak rapuh namun berapi-api. "Kamu merasa malu?" tanya Darius tenang. "Anda menjadikan saya tontonan!" jerit Kiara. "Anda membiarkan mereka menatap saya seperti pelacur!" "Aku tidak melakukan apa-apa," bantah Darius. Dia berdiri, berjalan mendekati Kiara, masuk ke dalam lingkaran cahaya itu. "Aku hanya menyuruhmu berdiri. Pikiran merekalah yang kotor. Dan rasa malumu... itu datang dari ketidakberdayaanmu sendiri." Darius berhenti tepat di depan Kiara. Dia mengangkat tangan, menghapus air mata di pipi gadis itu dengan ibu jarinya. Sentuhannya kasar namun anehnya tidak menyakitkan. "Ingat perasaan ini, Kiara," bisik Darius. "Ingat betapa tidak enaknya menjadi objek. Ingat betapa lemahnya posisimu saat kamu tidak memegang kendali." Darius mencondongkan wajahnya, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Kiara. "Kamu mencoba meretas TV-ku karena ka

  • Jerat Liar Sang Taipan   Bab 12

    Kiara meletakkan tablet kerjanya di atas meja. Napasnya sedikit tertahan, menunggu vonis yang akan diberikan Darius padanya. Darius mengambil tablet itu. Matanya yang tajam menyapu layar, membaca baris demi baris laporan yang telah dikerjakan Kiara. Hening. Hanya ada suara denting es di gelas Darius yang sesekali ia putar. Wajah Darius datar, tidak terbaca. Dia men-scroll layar sampai ke halaman terakhir, di mana Kiara melingkari angka kerugian akibat mark-up harga daging Wagyu di cabang Singapura. Perlahan, Darius meletakkan tablet itu kembali ke meja dan menatap Kiara. "Menarik," gumamnya. Satu kata itu keluar tanpa nada mengejek. Murni pengakuan profesional. "Kau menemukan pola yang dilewatkan oleh tim auditku selama dua kuartal. Manajer Pembelian di Singapura... si brengsek itu ternyata bermain dengan pemasok." Dada Kiara membuncah sedikit karena rasa bangga. "Datanya jelas, Tuan. Angkanya sesuai." "Benar," Darius mengangguk, lalu meneguk habis minumannya. "Kamu membuk

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status