MasukPukul 03:15 AM.
Kiara belum tidur. Dia tidak berani tidur. Dia duduk di tengah ranjang, punggungnya tegak bersandar pada headboard empuk, matanya terpaku pada pintu. Dia masih mengenakan bathrobe tebal itu, tali pinggangnya diikat simpul mati dua kali saking parnonya. Di tangannya, dia menggenggam sebuah vas bunga keramik berat yang diambilnya dari nakas. Itu senjata satu-satunya. Setiap suara kecil membuatnya takut dan waspada. Bunyi AC sentral yang berdesis pelan. Bunyi angin kencang yang menderu di luar kaca jendela lantai 55. Dia menunggu langkah kaki. Dia menunggu gagang pintu itu bergerak turun. Dalam skenario terburuk di kepalanya, Darius akan masuk dengan wajah dingin, marah karena Kiara mencoba menelepon keluar. Pria itu akan menghukumnya atas ketidakpatuhan Kiara. Tapi, menit berganti jam, dan tidak ada yang terjadi. Hening. Kesunyian ini perlahan berubah bentuk. Dari rasa takut akan serangan, menjadi rasa bingung yang menyiksa. Darius tahu Kiara sedang ketakutan. Dia tahu Kiara sedang berjaga, adrenalinnya terpompa habis-habisan, menunggu serangan yang tak kunjung datang. Darius membiarkannya terbakar oleh kecemasannya sendiri sampai dia lelah mental. Pria itu tidak perlu mengangkat jari; dia membiarkan imajinasi Kiara yang menyiksanya. "Bajingan arogan," desis Kiara pelan, air mata frustrasi menetes di pipinya. Tiba-tiba, dia menangkap pergerakan dari sudut matanya. Bukan dari pintu kamar, tapi dari arah balkon luar. Dinding kaca kamarnya menghadap ke arah yang sama dengan teras utama Penthouse, hanya dipisahkan oleh partisi kaca buram yang tidak menutupi seluruh sudut pandang. Kiara turun dari tempat tidur, melangkah hati-hati tanpa suara mendekati kaca. Dia mengintip dari celah tirai tipis. Di luar sana, di teras yang temaram, dia melihat sosok itu. Darius. Pria itu berdiri di tepi balkon, menghadap ke lautan lampu kota Makau. Dia sudah tidak memakai jas formalnya. Dia hanya mengenakan kemeja putih yang lengan panjangnya digulung sampai siku, dan rompi charcoal yang pas badan. Tangan kirinya memegang gelas berisi minuman, sementara tangan kanannya memegang cerutu yang menyala. Asap cerutu itu mengepul, tertiup angin malam yang kencang. Darius berdiri diam, setenang patung, seolah dia adalah penjaga kota penuh dosa ini. Dia terlihat kesepian, tapi jenis kesepian yang agung dan berbahaya. Jantung Kiara berdegup kencang. Pria itu ada di sana. Hanya terpisah beberapa meter kaca dan beton. Seolah merasakan tatapan Kiara, Darius menoleh sedikit ke arah kamar tamu. Kiara menahan napas, mundur cepat ke balik dinding. Dia memejamkan mata rapat-rapat, memeluk vas bunga di dadanya. Jangan lihat ke sini. Jangan lihat ke sini. Dia menunggu suara pintu balkon digeser. Dia menunggu langkah kaki mendekat. Tapi tidak ada. Kiara memberanikan diri mengintip lagi setelah satu menit. Darius sudah kembali menatap kota, menyesap minumannya, dan menghembuskan asap tembakau ke langit malam. Dia mengabaikan Kiara sepenuhnya. Dia tahu Kiara ada di sana, terjaga dan ketakutan, tapi dia memilih untuk tidak peduli. Bagi Darius Gan, Kiara hanyalah seekor tikus kecil yang sudah masuk perangkap. Tikus itu tidak akan lari ke mana-mana. Dia bisa diurus nanti, besok, atau kapan pun Darius mau. Kiara kembali ke tempat tidur dengan perasaan campur aduk. Marah, lega, tapi juga terhina. "Lihat saja nanti," gumam Kiara pada keheningan kamar. "Aku bukan tikus. Aku akan menggigitmu kalau kau lengah." Kelelahan akhirnya menang melawan rasa takut. Setelah berjam-jam berjaga, mata Kiara mulai berat. Tubuhnya menuntut istirahat. Vas bunga di pelukannya perlahan melonggar seiring dengan kesadarannya yang memudar. Gelap menyelimuti, menariknya ke alam bawah sadar yang sama sekali tidak menawarkan pelarian. Dalam tidurnya, Kiara tidak menemukan kedamaian. Dia bermimpi berada di sebuah lorong panjang yang terbuat dari kaca dan marmer dingin, persis seperti interior Penthouse ini. Bedanya, lorong itu tidak berujung. Semakin jauh dia berlari, dinding-dinding kaca itu semakin menyempit, mencekiknya. Dari ujung kegelapan, dia mendengar suara tawa riang. "Kak Kiara! Tangkap aku!" Itu suara Sari. Adik perempuannya yang berharga, alasan mengapa dia terjebak di neraka ini. "Sari! Kamu di mana?!" teriak Kiara dalam mimpinya, terus berlari hingga kakinya berdarah. Namun, saat dia berbelok, sosok Sari menghilang menjadi kepulan asap tembakau. Udara mendadak berubah berat, dipenuhi aroma pria itu. Lantai marmer di bawahnya retak dan hancur, berubah menjadi papan catur raksasa. Kiara mendapati dirinya berdiri mematung sebagai sebuah bidak pion yang rapuh. Di depannya, bayangan raksasa menyerupai naga hitam bangkit dari kegelapan. Mata naga itu menyala, menatapnya dengan pandangan merendahkan yang sama persis dengan tatapan Darius di balkon tadi. Cakar raksasanya terulur, menjebak Kiara di dalam genggaman bayangan yang dingin. "Kau milikku, Tikus Kecil," suara bariton yang menggema itu membuat Kiara menjerit tanpa suara. Ia terus meronta, terperangkap dalam sangkar mimpi buruk yang tak berujung, menunggu pagi yang terasa tak akan pernah datang.Mobil berbelok tajam, memasuki sebuah gerbang besar berbentuk mulut naga emas yang tampak norak namun mengintimidasi. "Dengar, Kiara," suara Darius berubah serius. Dia memutar tubuhnya menghadap Kiara, meletakkan satu tangan di sandaran kursi gadis itu, mengurungnya. "Tempat ini berbeda dengan The Elysium. Kasinoku adalah bisnis. Tempat ini adalah rumah jagal. Di sini, orang mempertaruhkan bukan cuma uang, tapi jari, istri, bahkan nyawa." Darius menatap mata Kiara tajam. "Tugasmu sederhana. Kamu adalah trophy woman-ku. Hiasan cantik di lenganku. Jangan bicara kecuali ditanya. Jangan menatap mata siapa pun lebih dari dua detik. Dan..., jangan lepaskan lenganku." "Aku mengerti," cicit Kiara. "Tersenyumlah," perintah Darius, jarinya menyentuh dagu Kiara, memaksanya mendongak. "Kamu sedang bersama Darius Gan, Raja Kasino Makau. Kamu harus terlihat seolah kamu memiliki dunia, bukan seolah kamu takut padanya." Mobil berhenti. Pintu dibuka oleh valet yang terlihat kasar dan ber
"Apakah..." Kiara mencoba bicara, suaranya serak karena gugup. "Apakah ini cukup tertutup?" Darius tidak langsung menjawab. Dia meletakkan gelasnya di meja tanpa mengalihkan pandangan dari Kiara. Dia melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Setiap langkah Darius mendekat, jantung Kiara berpacu semakin cepat. Aroma Oud dan Leather pria itu semakin kuat, bercampur dengan aroma parfum mahal yang baru saja disemprotkan Julian ke tubuh Kiara, kombinasi aroma mereka menciptakan feromon yang memusingkan. Darius berhenti tepat di depan Kiara. Jarak mereka kurang dari lima sentimeter. Tangan Darius terulur. Kiara menahan napas, mengira Darius akan menyentuh wajahnya. Tapi tangan Darius turun ke pinggang Kiara. Telapak tangannya yang besar dan hangat menempel di atas kain beludru itu, meremas pelan pinggang ramping Kiara, menariknya lebih dekat hingga tubuh mereka bersentuhan. Kiara tersentak, tangannya refleks menumpu di dada bidang Darius untuk menjaga keseimbangan. Di balik kemeja s
Pukul 18:30 Matahari telah sepenuhnya tenggelam, meninggalkan langit Makau yang kini berwarna ungu lebam sebelum akhirnya menyerah pada kegelapan malam. Kiara duduk diam di depan cermin rias di kamar tamunya. Dia merasa bukan seperti manusia lagi, melainkan sebuah kanvas kosong yang sedang dilukis paksa. Tiga orang telah masuk ke kamarnya setengah jam yang lalu. Mereka bukan pelayan housekeeping seperti Bibi Mei. Mereka adalah tim profesional yang dipimpin oleh seorang pria bernama Julian. "Jangan bergerak, Sayang. Eyeliner-mu bisa miring," tegur Julian dengan bahasa Inggris beraksen Prancis yang kental. Tangannya yang memegang kuas rias bergerak lincah di sekitar mata Kiara. "Tuan Gan bilang tertutup, tapi dia tidak bilang membosankan," gumam Julian pada asistennya yang sedang menata rambut Kiara. "Buat rambutnya tergerai, tapi bergelombang rapi. Sleek and dangerous. Kita tidak mau dia terlihat seperti anak sekolah yang mau pergi les." Kiara memejamkan mata, membiarkan wajahnya
"Kamu pikir aku hanya duduk diam sementara kamu bermain detektif dengan Google?" tanya Darius sambil berjalan menuju bar mininya, menuang air mineral. "Aku sudah menyuruh tim IT-ku melacak jejak digital adikmu."Layar menyala. Sebuah rekaman CCTV berkualitas rendah muncul.Di sudut kanan atas, tertera tanggal: 14 Mei. Pukul 23:45. Lokasi: Loading Dock, The Elysium - Sektor Selatan."Ini rekaman dari kamera keamanan belakang kasinoku," jelas Darius. "Area ini biasanya hanya untuk truk pengantar logistik makanan."Kiara melangkah mendekati layar, matanya terpaku pada gambar hitam putih itu.Di layar, terlihat seorang gadis muda dengan gaun pesta yang berkilauan sedang berjalan cepat, sesekali menoleh ke belakang dengan panik."Sari," bisik Kiara. Dia mengenali postur tubuh itu. Mengenali cara jalan adiknya yang sedikit berjinjit.Sari terlihat memegang sebuah tas tangan kecil di dadanya. Dia bersembunyi di balik tumpukan krat minuman kosong.Lalu, sebuah mobil van hitam berhenti. Pintu
"Anda brengsek," desis Kiara. Darius memutar kursinya perlahan. Dia menatap Kiara yang masih berdiri di bawah lampu sorot, tampak rapuh namun berapi-api. "Kamu merasa malu?" tanya Darius tenang. "Anda menjadikan saya tontonan!" jerit Kiara. "Anda membiarkan mereka menatap saya seperti pelacur!" "Aku tidak melakukan apa-apa," bantah Darius. Dia berdiri, berjalan mendekati Kiara, masuk ke dalam lingkaran cahaya itu. "Aku hanya menyuruhmu berdiri. Pikiran merekalah yang kotor. Dan rasa malumu... itu datang dari ketidakberdayaanmu sendiri." Darius berhenti tepat di depan Kiara. Dia mengangkat tangan, menghapus air mata di pipi gadis itu dengan ibu jarinya. Sentuhannya kasar namun anehnya tidak menyakitkan. "Ingat perasaan ini, Kiara," bisik Darius. "Ingat betapa tidak enaknya menjadi objek. Ingat betapa lemahnya posisimu saat kamu tidak memegang kendali." Darius mencondongkan wajahnya, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Kiara. "Kamu mencoba meretas TV-ku karena ka
Kiara meletakkan tablet kerjanya di atas meja. Napasnya sedikit tertahan, menunggu vonis yang akan diberikan Darius padanya. Darius mengambil tablet itu. Matanya yang tajam menyapu layar, membaca baris demi baris laporan yang telah dikerjakan Kiara. Hening. Hanya ada suara denting es di gelas Darius yang sesekali ia putar. Wajah Darius datar, tidak terbaca. Dia men-scroll layar sampai ke halaman terakhir, di mana Kiara melingkari angka kerugian akibat mark-up harga daging Wagyu di cabang Singapura. Perlahan, Darius meletakkan tablet itu kembali ke meja dan menatap Kiara. "Menarik," gumamnya. Satu kata itu keluar tanpa nada mengejek. Murni pengakuan profesional. "Kau menemukan pola yang dilewatkan oleh tim auditku selama dua kuartal. Manajer Pembelian di Singapura... si brengsek itu ternyata bermain dengan pemasok." Dada Kiara membuncah sedikit karena rasa bangga. "Datanya jelas, Tuan. Angkanya sesuai." "Benar," Darius mengangguk, lalu meneguk habis minumannya. "Kamu membuk







