เข้าสู่ระบบ"Aku tidak akan membiarkan dia melihatku hancur," batin Kiara. Dia menghapus air matanya kasar. "Aku harus tetap waras. Aku harus tetap bersih."
Kiara bangkit dan masuk ke kamar mandi. Kamar mandi itu lebih mewah dari spa mana pun yang pernah dilihatnya di majalah. Dinding dan lantainya terbuat dari marmer putih dengan urat abu-abu. Sebuah bathtub oval di tengah ruangan, menghadap jendela kaca yang bisa diburamkan. Kiara menyalakan shower. Air panas menyembur deras dari kepala pancuran yang lebar seperti hujan. Dia melepaskan seragam pelayan curian itu dengan perasaan jijik, lalu melemparkannya ke sudut ruangan. Dia mengguyur dirinya dengan air panas. Membiarkan seluruh tubuhnya basah untuk menghilangkan segala kesialan yang ada padanya. Dia meraih botol sabun cair yang tersedia di rak marmer. Botol kaca hitam minimalis tanpa merek dagang, hanya ada stiker emas kecil bertuliskan The Elysium Signature. Saat dia menuangkannya ke spons mandi, aromanya menyeruak. Itu bukan aroma bunga mawar atau lavender yang biasa disukai wanita. Itu adalah aroma maskulin yang berat. Wangi yang tajam dan menyegarkan. Bahkan sabun di sini pun berbau seperti dia. Kiara mendengus kesal, tapi tetap menggunakannya. Dia tidak punya pilihan lain. Dia menggosok tubuhnya sampai kulitnya memerah, lalu membilasnya. Setelah selesai, dia membungkus tubuhnya dengan bathrobe tebal berwarna putih yang tergantung di balik pintu. Bahannya sangat lembut dan tebal, menyerap sisa air di kulitnya dengan cepat. Kiara keluar dari kamar mandi, merasa sedikit lebih segar tapi masih sama putus asanya. Dia berjalan menuju tempat tidur, berniat untuk mencoba tidur dan berharap ini semua hanya mimpi buruk. Namun, matanya menangkap sesuatu di nakas samping tempat tidur. Sebuah telepon rumah. Jantung Kiara berdegup kencang. Adrenalin kembali membanjiri darahnya. Darius menyita ponselnya. Tapi... apakah dia ingat untuk memutus akses telepon kamar ini? Ini adalah kamar tamu VIP. Biasanya telepon ini bisa digunakan untuk layanan kamar, atau bahkan sambungan internasional. Kiara melirik ke arah pintu dengan waspada. Panel sensor di atas pintu masih berkedip merah. Tapi dia tidak perlu keluar kamar untuk menelepon, kan? Dengan tangan gemetar, dia mengangkat gagang telepon itu. Dia menempelkannya ke telinga. Tuuut... Tuuut... Ada nada sambung! Mata Kiara membelalak. Harapan membuncah liar di dadanya. Bodoh. Pria sombong itu melakukan kesalahan bodoh. Dia lupa memutus saluran telepon kabel. Siapa yang harus dia hubungi? Polisi Makau? Tidak, Darius bilang polisi adalah miliknya. Kedutaan? Konjen RI? Ya. Itu satu-satunya wilayah yang secara hukum tidak bisa disentuh Darius. Jari Kiara dengan cepat menekan angka 9 untuk akses keluar, lalu menekan nomor darurat internasional yang pernah dia hafal saat briefing sebelum berangkat ke luar negeri. Tuuut... Panggilan tersambung. "Halo?" suara seorang pria terdengar di seberang sana. Suaranya berat, formal, dan terdengar sangat profesional. "Halo! Tolong saya!" bisik Kiara cepat, tangannya mencengkeram gagang telepon sampai bukunya memutih. "Saya warga negara Indonesia. Nama saya Kiara. Saya disekap di Hotel The Elysium, lantai Penthouse. Pemilik hotel ini, Darius Gan, menahan saya! Tolong hubungi..." "Nona Kiara?" potong suara di seberang sana. Nada suaranya aneh. Terlalu tenang. Tidak kaget. Kiara terdiam. Darahnya membeku perlahan. "B-bagaimana Anda tahu nama saya?" Hening sejenak. Lalu suara itu menjawab, datar dan tanpa emosi. "Tuan Gan sudah memberikan instruksi bahwa tamu di kamar Timur mungkin akan mencoba menggunakan telepon. Ini bukan sambungan keluar, Nona. Semua panggilan dari lantai Penthouse secara otomatis dialihkan ke pusat komando keamanan internal di Basement." Telepon itu hampir terlepas dari tangan Kiara. Itu bukan operator darurat. Itu anak buah Darius. "Jangan lakukan hal bodoh lagi, Nona," lanjut suara itu. "Tuan Gan tidak suka dibangunkan." Kiara menjatuhkan telepon itu ke atas kasur seolah benda itu baru saja menyengatnya. Dia mundur gemetar hingga punggungnya menabrak dinding. Tiba-tiba, suara statis terdengar dari speaker interkom yang tertanam di dinding dekat pintu. Lalu, suara lain muncul. Suara yang lebih dalam. Lebih menakutkan. Dan mengandung nada yang kejam. "Sudah kubilang, Tikus Kecil," suara Darius terdengar jernih memenuhi ruangan, seolah dia ada di sana. "Jangan. Membantah." Kiara menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak tangis. Pria itu menyadapnya. Pria itu mendengarkan semuanya dari kamarnya sendiri. "Kau baru saja mencoba melanggar aturan nomor satu dan nomor tiga sekaligus," lanjut suara Darius lewat interkom. "Tidurlah. Kau butuh tenaga." Ada jeda sejenak. Suara Darius berubah menjadi bisikan rendah yang membuat bulu kuduk Kiara meremang. "Karena besok pagi... kau harus membayar harga untuk ketidakpatuhanmu ini." Interkom mati. Kiara merosot ke lantai karpet. Lututnya tidak lagi sanggup menopang tubuhnya. Dia menatap pintu yang tertutup, lalu menatap dinding kaca yang menampilkan kegelapan malam. Darius Gan bukan sekadar mengurungnya di dalam kamar mewah. Pria itu mengurungnya di dalam jaring laba-laba raksasa di mana setiap getaran kecil yang Kiara buat akan langsung dirasakan oleh sang predator. Malam itu, Kiara tidur dengan lampu menyala terang, meringkuk di tengah ranjang raksasa yang dingin, ditemani rasa takut akan hukuman apa yang menantinya saat matahari terbit nanti.Mobil berbelok tajam, memasuki sebuah gerbang besar berbentuk mulut naga emas yang tampak norak namun mengintimidasi. "Dengar, Kiara," suara Darius berubah serius. Dia memutar tubuhnya menghadap Kiara, meletakkan satu tangan di sandaran kursi gadis itu, mengurungnya. "Tempat ini berbeda dengan The Elysium. Kasinoku adalah bisnis. Tempat ini adalah rumah jagal. Di sini, orang mempertaruhkan bukan cuma uang, tapi jari, istri, bahkan nyawa." Darius menatap mata Kiara tajam. "Tugasmu sederhana. Kamu adalah trophy woman-ku. Hiasan cantik di lenganku. Jangan bicara kecuali ditanya. Jangan menatap mata siapa pun lebih dari dua detik. Dan..., jangan lepaskan lenganku." "Aku mengerti," cicit Kiara. "Tersenyumlah," perintah Darius, jarinya menyentuh dagu Kiara, memaksanya mendongak. "Kamu sedang bersama Darius Gan, Raja Kasino Makau. Kamu harus terlihat seolah kamu memiliki dunia, bukan seolah kamu takut padanya." Mobil berhenti. Pintu dibuka oleh valet yang terlihat kasar dan ber
"Apakah..." Kiara mencoba bicara, suaranya serak karena gugup. "Apakah ini cukup tertutup?" Darius tidak langsung menjawab. Dia meletakkan gelasnya di meja tanpa mengalihkan pandangan dari Kiara. Dia melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Setiap langkah Darius mendekat, jantung Kiara berpacu semakin cepat. Aroma Oud dan Leather pria itu semakin kuat, bercampur dengan aroma parfum mahal yang baru saja disemprotkan Julian ke tubuh Kiara, kombinasi aroma mereka menciptakan feromon yang memusingkan. Darius berhenti tepat di depan Kiara. Jarak mereka kurang dari lima sentimeter. Tangan Darius terulur. Kiara menahan napas, mengira Darius akan menyentuh wajahnya. Tapi tangan Darius turun ke pinggang Kiara. Telapak tangannya yang besar dan hangat menempel di atas kain beludru itu, meremas pelan pinggang ramping Kiara, menariknya lebih dekat hingga tubuh mereka bersentuhan. Kiara tersentak, tangannya refleks menumpu di dada bidang Darius untuk menjaga keseimbangan. Di balik kemeja s
Pukul 18:30 Matahari telah sepenuhnya tenggelam, meninggalkan langit Makau yang kini berwarna ungu lebam sebelum akhirnya menyerah pada kegelapan malam. Kiara duduk diam di depan cermin rias di kamar tamunya. Dia merasa bukan seperti manusia lagi, melainkan sebuah kanvas kosong yang sedang dilukis paksa. Tiga orang telah masuk ke kamarnya setengah jam yang lalu. Mereka bukan pelayan housekeeping seperti Bibi Mei. Mereka adalah tim profesional yang dipimpin oleh seorang pria bernama Julian. "Jangan bergerak, Sayang. Eyeliner-mu bisa miring," tegur Julian dengan bahasa Inggris beraksen Prancis yang kental. Tangannya yang memegang kuas rias bergerak lincah di sekitar mata Kiara. "Tuan Gan bilang tertutup, tapi dia tidak bilang membosankan," gumam Julian pada asistennya yang sedang menata rambut Kiara. "Buat rambutnya tergerai, tapi bergelombang rapi. Sleek and dangerous. Kita tidak mau dia terlihat seperti anak sekolah yang mau pergi les." Kiara memejamkan mata, membiarkan wajahnya
"Kamu pikir aku hanya duduk diam sementara kamu bermain detektif dengan Google?" tanya Darius sambil berjalan menuju bar mininya, menuang air mineral. "Aku sudah menyuruh tim IT-ku melacak jejak digital adikmu."Layar menyala. Sebuah rekaman CCTV berkualitas rendah muncul.Di sudut kanan atas, tertera tanggal: 14 Mei. Pukul 23:45. Lokasi: Loading Dock, The Elysium - Sektor Selatan."Ini rekaman dari kamera keamanan belakang kasinoku," jelas Darius. "Area ini biasanya hanya untuk truk pengantar logistik makanan."Kiara melangkah mendekati layar, matanya terpaku pada gambar hitam putih itu.Di layar, terlihat seorang gadis muda dengan gaun pesta yang berkilauan sedang berjalan cepat, sesekali menoleh ke belakang dengan panik."Sari," bisik Kiara. Dia mengenali postur tubuh itu. Mengenali cara jalan adiknya yang sedikit berjinjit.Sari terlihat memegang sebuah tas tangan kecil di dadanya. Dia bersembunyi di balik tumpukan krat minuman kosong.Lalu, sebuah mobil van hitam berhenti. Pintu
"Anda brengsek," desis Kiara. Darius memutar kursinya perlahan. Dia menatap Kiara yang masih berdiri di bawah lampu sorot, tampak rapuh namun berapi-api. "Kamu merasa malu?" tanya Darius tenang. "Anda menjadikan saya tontonan!" jerit Kiara. "Anda membiarkan mereka menatap saya seperti pelacur!" "Aku tidak melakukan apa-apa," bantah Darius. Dia berdiri, berjalan mendekati Kiara, masuk ke dalam lingkaran cahaya itu. "Aku hanya menyuruhmu berdiri. Pikiran merekalah yang kotor. Dan rasa malumu... itu datang dari ketidakberdayaanmu sendiri." Darius berhenti tepat di depan Kiara. Dia mengangkat tangan, menghapus air mata di pipi gadis itu dengan ibu jarinya. Sentuhannya kasar namun anehnya tidak menyakitkan. "Ingat perasaan ini, Kiara," bisik Darius. "Ingat betapa tidak enaknya menjadi objek. Ingat betapa lemahnya posisimu saat kamu tidak memegang kendali." Darius mencondongkan wajahnya, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Kiara. "Kamu mencoba meretas TV-ku karena ka
Kiara meletakkan tablet kerjanya di atas meja. Napasnya sedikit tertahan, menunggu vonis yang akan diberikan Darius padanya. Darius mengambil tablet itu. Matanya yang tajam menyapu layar, membaca baris demi baris laporan yang telah dikerjakan Kiara. Hening. Hanya ada suara denting es di gelas Darius yang sesekali ia putar. Wajah Darius datar, tidak terbaca. Dia men-scroll layar sampai ke halaman terakhir, di mana Kiara melingkari angka kerugian akibat mark-up harga daging Wagyu di cabang Singapura. Perlahan, Darius meletakkan tablet itu kembali ke meja dan menatap Kiara. "Menarik," gumamnya. Satu kata itu keluar tanpa nada mengejek. Murni pengakuan profesional. "Kau menemukan pola yang dilewatkan oleh tim auditku selama dua kuartal. Manajer Pembelian di Singapura... si brengsek itu ternyata bermain dengan pemasok." Dada Kiara membuncah sedikit karena rasa bangga. "Datanya jelas, Tuan. Angkanya sesuai." "Benar," Darius mengangguk, lalu meneguk habis minumannya. "Kamu membuk







