LOGINMalam itu, jarum jam menunjukkan pukul sembilan tepat. Suasana di apartemen mendadak terasa tegang namun penuh determinasi. Reyner berdiri di depan cermin besar, merapikan jaket bomber gelapnya dan memastikan earpiece kecil sudah terpasang sempurna.Lana menghampirinya, wajahnya tampak sedikit pucat meski ia berusaha tetap tenang. Ia melingkarkan tangannya di pinggang tegap Reyner, menyandarkan pipinya di punggung suaminya itu."Hati-hati, Rey. Perasaanku tidak enak, tapi aku tahu kamu harus menyelesaikan ini," bisik Lana.Reyner memutar tubuhnya, menangkup wajah Lana dengan kedua tangannya. Ia mengecup kening istrinya lama, seolah menyalurkan seluruh kekuatannya."Tenang saja, Sayang. Hans sudah menempatkan orang-orang terbaiknya. Guntur sebagai security di WiKen 1, dan Hendrik tukang bersih-bersih sudah memberikan sinyal aman dari dalam WiKen 2. Polisi tinggal menunggu komandoku.""Janji ya, pulang tanpa luka?" tagih Lana penuh har
Lana menaruh piring pudingnya di nakas untuk dicuci besok. Namun, baru saja ia hendak merebahkan tubuhnya, Reyner mulai menunjukkan gelagat menginginkan "jatahnya" malam ini."Ih, kamu ini... Aku sedang malas, lagi tidak mood," tolak Lana manja."Masa? Nanti kalau sudah dirangsang juga pasrah saja. Ujung-ujungnya bilang, 'Terus, Rey... lebih cepat,' ya, kan?" goda Reyner, menirukan kata-kata Lana yang biasanya berubah drastis setelah ia melakukan foreplay dengan sabar dan manis.Lana membelalakkan mata ambernya, wajahnya seketika merona merah mendengar suaminya menirukan suara desahannya dengan begitu percaya diri. Ia memukul bahu Reyner pelan dengan bantal, meski sebuah senyuman tertahan mulai muncul di sudut bibirnya."Rey! Kamu mesum sekali, sih! Jangan diingat-ingat bagian itu, memalukan tahu!" seru Lana sambil berusaha menutupi wajahnya yang panas dengan selimut.Namun, saat ia merasakan jemari Reyner mulai bermain lembut di ten
Di kontrakan kecilnya, Kimmy terpekur dalam sepi. Tak ada lagi bahu untuk bersandar bagi anak angkat keluarga Benny Ken, ayah Garry Wijaya Ken ini. Sambil melipat satu per satu pakaian ke dalam koper, jemarinya terhenti pada map berisi dokumen penting: Raport, ijasah TK hingga SMA dan ijazah S1- S2 Management and Business yang ia raih dengan susah payah.Kimmy memantapkan hati untuk menyepi ke Bali Utara, tepatnya di kawasan Singaraja. Ia berniat melahirkan di sebuah panti asuhan di sana, menitipkan bayinya sementara waktu sembari ia mengadu nasib ke luar negeri—Jerman atau salah satu negara Skandinavia—setelah pulih pascamelahirkan. Ia berjanji pada dirinya sendiri, jika tabungannya sudah cukup dan waktunya tepat, ia akan menjemput darah dagingnya itu.Kimmy percaya diri. Dengan latar belakang pendidikan tinggi dan pengalamannya sebagai asisten dosen, ia yakin kemampuannya masih sangat laku di pasar kerja internasional. Ilmu adalah satu-satunya aset yang tida
Di kelab malam miliknya, WiKen 2, yang terhubung langsung dengan griya spa, Garry memanggil Bonita untuk melayaninya.Garry mengempaskan tubuhnya ke sofa beludru di ruang privat, membuka kancing kemejanya dengan kasar. Sisa kemarahan akibat penggerebekan Hans tadi masih membekas di wajahnya yang mengeras."Kemari, Bonita. Tuangkan minumannya," perintah Garry dingin saat wanita itu masuk.Bonita mendekat dengan gerakan gemulai, namun Garry segera menarik pinggangnya dengan sentuhan yang jauh dari kata lembut. "Aku sedang tidak butuh basa-basi. Buat aku melupakan kekacauan hari ini, atau kau tahu sendiri konsekuensinya jika aku sedang tidak senang."Garry meneguk minumannya dalam sekali tegak, matanya menatap kosong ke arah langit-langit ruangan. Di pikirannya, ia sudah menyusun rencana untuk membalas dendam pada Reyner, tak peduli meski ia harus menggunakan cara yang paling kotor sekalipun melalui jaringan bisnis gelapnya. Namun, ia tidak meny
Reyner tertawa kecil, lalu sengaja menutup hidungnya dengan gerakan dramatis. "Nanti aku ceritakan semua detailnya di dalam mobil. Sekarang, lebih baik kamu mandi dulu, Sayang. Aromamu sudah mulai asam, lho."Lana membelalakkan mata, refleks mengangkat kedua tangannya untuk mencium aroma ketiaknya sendiri. "Masa, sih? Perasaan tadi pagi sudah pakai deodorant!""Cepat mandi, Nyonya Reyner. Aku tunggu di ruang tamu. Jangan sampai restoran penuh karena kita terlambat hanya karena kamu terlalu lama memastikan bau badanmu sendiri," goda Reyner sambil menepuk pelan puncak kepala istrinya.Lana mengenakan dress cantik yang nyaman, sementara Reyner tampil serasi dengan kemeja dan celana kasual bernuansa earth tone. Saat berjalan menuju lift, Lana melirik suaminya dengan tatapan menuntut. "Janji ya cerita, awas kalau tidak," ancamnya manja."Iya, Sayang," sahut Reyner lembut sembari merangkul bahu Lana lebih erat, seolah tak ingin membiarkan jarak sed
"Tunggu... apa katamu? Rekaman panas? Jadi, Reyner juga memasang kamera tersembunyi di sini? Ah, sialan!" Kimmy menerjang dengan sekuat tenaga untuk memukul Hans, namun Hans mencekal kedua tangan Kimmy dengan sigap."Kau sedang hamil, Kim! Dengar, aku bisa saja mendorongmu jika kau terus agresif. Cepat tanda tangani.""Jangan tanda tangani, Kim!" teriak Garry. "Datangi Reyner dan minta maaflah padanya!"Kimmy tampak bimbang, ia mulai terhasut oleh ucapan Garry."Jangan mimpi. Saat ini pun Reyner memantau setiap tindakan kalian melalui kamera itu, jelas-jelas kalian tak bisa mengelak. Apa kau mau videomu tersebar hingga ke grup dosen di kampus tempatmu mengajar, jika ancaman grup keluarga Julian saja tidak mempan membuatmu menandatangani ini?" Hans mulai geram karena Kimmy bertele-tele.Ancaman penyebaran video ke pihak kampus terasa jauh lebih mengerikan bagi Kimmy daripada sekadar grup obrolan keluarga Julian.Tubuh Kimmy s
Kamar Reyner terasa dingin oleh embusan AC, namun suasana di dalamnya justru kian memanas. Melalui dinding kaca, cahaya temaram dari minipool memantulkan riak air yang menari di langit-langit kamar. Reyner sudah menindih Lana, napasnya memburu di ceruk leher istrinya.Saat tangan Re
Mereka menikmati santap siang dengan hidangan khas Thailand yang kaya rempah. Di sela denting sendok dan garpu, Rey meletakkan alat makannya sejenak, menatap Lana dengan intensitas mengandung perintah. "Besok aku ke Semarang dan baru pulang akhir pekan. Jangan aneh-aneh
"Tapi dia bebas menyentuhmu..." "Dia tidak bebas, Lana! Berhenti memutarbalikkan fakta." Rey mendengus kasar sembari kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. "Statusmu sebagai istriku itu mutlak di mata hukum dan keluargaku. Jangan perna
Tak berapa lama, Lana keluar dengan pakaian berbeda. Sebuah tas selempang tersampir di bahunya, sementara tangannya menggenggam kunci mobil."Mau ke mana kamu, Lan? Kabur?""Kabur? Itu bukan gayaku untuk menyerahkanmu secara cuma-cuma pada Kimmy," ucapnya sambil tertaw







