ログインPagi itu, kesadaran Jasmine muncul perlahan, seperti seseorang yang ditarik paksa keluar dari laut yang dalam. Kelopak matanya bergetar pelan sebelum akhirnya terbuka.
Langit-langit putih dengan ukiran asing menyambut pandangannya. Aroma yang sama sekali bukan bau rumahnya memenuhi penciumannya. Dadanya langsung mengencang. Jasmine tersentak duduk, napasnya terputus-putus saat matanya menyapu ruangan. Beberapa wanita berdiri di depan ranjang. Seragam hitam-putih membalut tubuh mereka dengan rapi. Wajah mereka datar, tapi mata mereka tajam dan waspada, seolah satu gerakan salah darinya bisa berakhir buruk. “Syukurlah Nona sudah bangun,” ucap salah satu dari mereka pelan. “Kami di sini untuk membantu Nona membersihkan diri dan bersiap.” Jasmine refleks menarik selimut lebih erat menutupi tubuhnya. “Tidak.” Suaranya serak, tapi ada sesuatu yang keras di dalamnya. “Aku mau pulang.” Para pelayan saling berpandangan cepat. “Nona—” “Aku bilang tidak!” Jasmine menyela tegas. Ia bangkit dari ranjang, kakinya goyah saat menyentuh lantai marmer yang dingin menusuk kulit. “Kalian tidak boleh menyentuhku. Kalian tidak berhak menahanku di sini!” Potongan-potongan ingatan semalam menghantamnya: suara tembakan, teriakan, darah, dan tubuh-tubuh tergeletak tak bernyawa. Napas Jasmine tersengal, tubuhnya bergidik ngeri. “Aku mau pulang,” ulangnya, lebih pelan, lebih rapuh. “Sekarang.” Ia berlari kecil ke arah pintu. Jemarinya hampir menyentuh gagang. Namun— Klek. Pintu lebih dulu terbuka dari luar. Seorang pria tinggi melangkah masuk dengan gerakan tenang, nyaris tanpa suara. Setelan formal gelap membalut tubuhnya rapi, menegaskan bahu lebar dan postur yang tak memberi ruang untuk ditantang. Wajahnya dingin dan sangat tenang. Sepasang mata coklat kelam itu menyapu ruangan, lalu berhenti tepat pada Jasmine. Tatapannya bukan marah atau penasaran, tapi lebih seperti seseorang yang sedang melihat sesuatu yang sudah sepenuhnya berada dalam genggamannya. Jasmine membeku. Dia mengenali pria itu. Sosok yang semalam menebar maut dengan begitu enteng, berdiri di tengah genangan darah dan kematian. Hanya dengan satu kata dari mulutnya, semua orang langsung terdiam. Dada Jasmine naik turun, matanya jelas memancarkan ketakutan, tapi dagunya tetap terangkat. Ia menolak terlihat lemah di hadapan pria itu. “Mau ke mana, Nona?” suara Zein rendah, datar, namun menekan. “Aku mau pulang,” jawab Jasmine tanpa menurunkan pandangannya. Zein melirik sekilas ke arah para pelayan. “Kalian keluar.” Satu kalimat tanpa nada tinggi, tanpa emosi. Namun, semua pelayan langsung menunduk dan bergerak serempak, meninggalkan ruangan secepat mungkin. Pintu tertutup rapat di belakang mereka. Sunyi menggantung di udara, terasa seperti jerat yang menyesakkan dada Jasmine. Gadis itu menelan ludah, jantungnya berdetak kencang di dada, namun kakinya tetap tegak berpijak di tempat. “Kau menculikku,” katanya, suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha keras menahannya. “Kenapa?” Zein tidak menjawab, tatapannya juga tak berubah sedikit pun. Ia melangkah masuk beberapa langkah dengan tenang, tidak tergesa-gesa atau kasar, namun cukup dekat sehingga udara di antara mereka terasa menyempit. Sekilas, tatapannya turun lalu kembali menatap wajah Jasmine. Pandangan itu dingin dan dalam, membuat bulu kuduk Jasmine meremang tanpa alasan yang jelas. “Apa kau bisu?” Jasmine mendesis, kemarahannya muncul sebagai tameng dari rasa takutnya. “Atau kau memang cuma senang menakuti orang?” Zein mengangkat alis tipis. “Kau terlalu berisik,” katanya datar. “Untuk seseorang yang tidak punya satu pun kendali di sini.” “Aku tidak peduli!” “Jangan tinggikan suaramu di hadapanku.” Nada Zein tetap sama. Tenang dan tanpa tekanan. Justru itulah yang membuatnya terdengar berbahaya. “Kau ada di wilayahku,” lanjutnya. “Dan di wilayahku, semua orang mendengarkanku sebelum berbicara.” Jasmine mengepalkan tangan. Napasnya memburu. “Aku tidak melakukan apa-apa padamu,” katanya cepat. “Aku tidak tahu urusanmu dengan siapa pun. Jadi lepaskan aku. Aku mau pulang.” Zein berjalan ke kursi dekat jendela dan duduk santai. Seolah gadis yang hampir menangis di depannya hanyalah pemandangan biasa. “Kau terlihat lelah,” ujarnya ringan. “Dan orang yang lelah sering membuat keputusan bodoh.” “Jangan mengalihkan pembicaraan!” Jasmine melangkah maju, tapi kakinya terhenti ketika Zein mengangkat satu tangan. Bukan ancaman, tapi lebih ke isyarat perintah. Jasmine berhenti tak jauh darinya. “Aku tidak butuh permainan,” ucap Jasmine dengan suara bergetar yang dipaksakan tetap tegas. “Jawab aku. Kenapa kau menculikku?” Zein bangkit, tatapannya menyapu perlahan dari wajah hingga ujung kaki Jasmine, seperti menilai sebuah barang. “Kenapa?” ulangnya, lalu balik bertanya, “Menurutmu kenapa, Nona Jasmine Vancrosso?” “Aku tidak bercanda!” teriakan Jasmine pecah. “Kau berada di ruangan penuh orang mati tadi malam,” sahut Zein tenang. “Dan kau masih bisa berdiri di sini. Kalau kau tidak penting, kau sudah ikut tergeletak bersama mereka.” Jasmine tertawa pendek, nyaris histeris. “Jadi ini permainanmu?” katanya, marah dan terluka. “Menakuti orang sampai mereka tidak tahu apakah masih hidup besok?” Zein melangkah mendekat, pelan tapi pasti. Setiap langkahnya, membuat Jasmine mundur tanpa sadar. “Kau masih hidup,” katanya. “Artinya aku belum selesai dengan tujuanku.” “Itu hidupku! Aku bukan barang! Kenapa kau menjadikanku targetmu?!” Jasmine membentak. “Aku punya keluarga! Rumah! Kau tidak berhak seenaknya—” “Rumah?” Zein memotong. Ia berhenti tepat di hadapan Jasmine. “Mulai sekarang… di sini rumahmu sekaligus nerakamu.” Kata-kata itu menampar lebih keras dari apa pun. “Kau pikir aku takut denganmu?” suara Jasmine bergetar, tapi mata birunya tetap menantang. “Aku tidak peduli kau siapa. Aku tidak peduli kau sekuat apa. Aku hanya ingin pulang.” Zein menatap Jasmine lama. Perlahan, senyum tipis muncul di bibirnya—dingin dan tenang, membuatnya sulit dibaca “Kemarahanmu belum cukup, Nona,” katanya pelan, ambigu. “Tapi itu awal yang bagus.” Jasmine membeku. “Apa maksudmu?” Zein berbalik menuju pintu. “Kau akan mengerti,” ucapnya tanpa menoleh. “Dan kalau kau ingin pulang—bangunlah dari mimpimu.” Jasmine berdiri gemetar di tengah ruangan, napasnya tidak teratur. Air mata akhirnya jatuh, bukan karena lemah, tapi karena amarah yang tidak punya jalan keluar. “Dasar monster! Aku benci kamu!” teriaknya serak. Zein tidak menghiraukannya, hanya sudut bibirnya terangkat tipis. Ia membuka pintu dan melangkah keluar. Klik. Pintu tertutup dengan bunyi pelan. Namun bagi Jasmine, suara itu bagai palu yang memaku nasibnya di tempat itu. *****Zein masih menatap telapak tangannya yang basah beberapa detik, seolah berusaha memastikan apa yang baru saja dilihatnya saat ini.“Bukankah ini A—” gumamnya terhenti, sulit mempercayai.Matanya lalu terangkat menatap Jasmine lagi.Wajah Jasmine meringis, bahunya bergetar, napasnya pendek-pendek. Satu tangan menekan dadanya, menahan nyeri yang tampak tak tertahankan.“Ada apa denganmu? Kenapa kau seperti itu?” tanya Zein pelan.Jasmine memalingkan wajah, rambut coklat chestnut-nya jatuh menutupi pipi yang mulai memerah seperti tomat.“Tidak ada,” gumamnya cepat. “Jangan tanya.”Zein tak percaya. Ia meraih dagu Jasmine, memaksa mata biru itu menatapnya.“Matamu berkata lain. Kau kesakitan. Di mana? Katakan,” ucapnya tenang namun penuh tekanan.Jasmine menggigit bibir bawahnya, jari-jarinya mencengkeram gaunnya.“Aku… tidak apa-apa,” bisiknya, jelas tak meyakinkan.Zein menghela napas pendek. “Jasmine.”Nada itu membuat tubuh gadis itu menegang.“Kalau kau tidak mau bicara, jangan salah
Malam turun perlahan di balik jendela besar kamar. Lampu-lampu mansion berkilau di kejauhan, dingin dan jauh, seperti dunia lain yang tak bisa dijangkau Jasmine. Ia terbangun dengan tubuh yang terasa tidak nyaman. Perutnya melilit hebat, kosong dan perih. Setiap tarikan napas terasa lebih berat dari seharusnya. Namun, rasa itu kalah oleh sesuatu yang lain. Dadanya penuh, sesak, kencang, dan panas. Berdenyut pelan tapi terus-menerus, seolah ditekan dari dalam tanpa ampun. “Akhh…” Jasmine mengerang lirih, tangannya mencengkeram kain gaunnya di bagian dada. Rasa nyeri itu membuat tenggorokannya tercekat, matanya berkaca-kaca. “Sakit…” bisiknya hampir tak terdengar. Ia mencoba bertahan. Menunggu. Meyakinkan dirinya bahwa rasa itu akan mereda. Namun, menit demi menit berlalu, justru yang datang rasa sakit yang semakin menekan. Akhirnya, Jasmine turun dari ranjang. Langkahnya goyah saat berjalan menuju pintu. Tok. Tok. Tok. Ketukannya pelan dan ragu di daun pintu itu. “Permisi…” Su
Ia mengangkat kepala, dan dunia seolah berhenti. Zein berdiri tepat di depannya. Wajah pria itu dingin. Mata coklat gelapnya seperti menelan cahaya. Jasmine menelan ludah. “Ka… kau?” Ia menoleh ke sekeliling, lalu matanya membulat melihat ruangan itu adalah ruang makan. “Kenapa aku balik ke sini lagi?!” Tangannya mengepal frustrasi. “Aish! Sia-sia semua usaha kaburku…” Zein menatapnya tanpa ekspresi. Sementara Jasmine? Dia tampak seperti mangsa yang benar-benar terpojok. Langkah kaki Zein mendekat, tidak terburu-buru, tidak panik, tapi berat dan terkendali. Ia berhenti tepat di depan Jasmine. Wajahnya datar, tatapannya dingin. Jasmine mundur setapak. “A-aku cuma… mau lihat-lihat pemandangan,” katanya gugup. Zein maju satu langkah. Jasmine langsung berbalik dan lari. “Berhenti, Jasmine.” Suara Zein rendah, tidak keras, tapi cukup membuat udara seolah membeku. Jasmine tidak berhenti. Ia berlari sampai ujung lorong. Buntu. Ia menoleh ke kanan dan kiri, hanya ada dinding da
Pintu kamar itu akhirnya terbuka kembali. Beberapa pelayan masuk dengan langkah hati-hati. “Nona… mari. Kami akan membantu Anda bersiap,” ucap salah satu dari mereka pelan. Jasmine hanya diam, lalu berbalik dan duduk di tepi ranjang. Matanya merah, rahangnya mengeras. Para pelayan saling berpandangan. Tak ada yang berani menyentuhnya lebih dulu. Beberapa detik berlalu, sampai akhirnya kelelahan mengalahkan perlawanan. Dengan gerakan kaku, Jasmine membiarkan mereka membantu. Air hangat disiapkan di kamar mandi. Pakaian bersih, handuk, dan perlengkapan lain tersusun rapi seperti ritual sebelum hukuman. Tak lama kemudian, Jasmine sudah berdiri di bawah shower. Air mengalir di kulitnya, tapi ekspresinya tetap kosong. Beberapa saat setelah itu, ia sudah siap dan dibawa keluar kamar. Lorong-lorong marmer membentang panjang dan sunyi. Lukisan-lukisan mahal serta lampu kristal menggantung, menjadi saksi bisu langkah seorang gadis yang sedang ditawan. Ruang makan keluarga Ravelli te
Pagi itu, kesadaran Jasmine muncul perlahan, seperti seseorang yang ditarik paksa keluar dari laut yang dalam. Kelopak matanya bergetar pelan sebelum akhirnya terbuka. Langit-langit putih dengan ukiran asing menyambut pandangannya. Aroma yang sama sekali bukan bau rumahnya memenuhi penciumannya. Dadanya langsung mengencang. Jasmine tersentak duduk, napasnya terputus-putus saat matanya menyapu ruangan. Beberapa wanita berdiri di depan ranjang. Seragam hitam-putih membalut tubuh mereka dengan rapi. Wajah mereka datar, tapi mata mereka tajam dan waspada, seolah satu gerakan salah darinya bisa berakhir buruk. “Syukurlah Nona sudah bangun,” ucap salah satu dari mereka pelan. “Kami di sini untuk membantu Nona membersihkan diri dan bersiap.” Jasmine refleks menarik selimut lebih erat menutupi tubuhnya. “Tidak.” Suaranya serak, tapi ada sesuatu yang keras di dalamnya. “Aku mau pulang.” Para pelayan saling berpandangan cepat. “Nona—” “Aku bilang tidak!” Jasmine menyela tegas. Ia bangk
Pintu mobil pengawal depan terbuka keras bahkan sebelum mesin benar-benar mati. Bayangan-bayangan tinggi bergerak cepat dari balik gelap, mengenakan setelan hitam, wajah tertutup topeng. Gerak mereka presisi dan terlatih.“Formasi!” teriak salah satu anak buah Michael.Namun terlambat.DOR! DOR!Suara tembakan meletup, memecah keheningan malam.“Sial—!” geram Michael.BUG! BUG!Baku hantam pecah tanpa aba-aba. Tubuh-tubuh beradu, tinju menghantam, senjata tajam berkilat di bawah lampu jalan yang berkedip. Anak buah Michael berusaha bertahan, tapi jumlah dan kecepatan lawan terlalu brutal.“Jaga Jasmine!” bentak Michael keras. “Jangan biarkan mereka mendekatinya!”Ia gegas turun dari mobil.Aspal dingin menyentuh sepatunya. Jas mahalnya langsung ternoda debu dan cipratan darah. Michael menghantam salah satu penyerang tepat di rahang.“Pergi ke neraka,” desisnya.Pria itu terhuyung, tapi dari sisi lain tinjuan keras menghantam pelipis Michael.“BUGH!”Pandangan Michael berkunang. Ia jat







