공유

BAB. 5

last update 게시일: 2026-01-15 12:21:33

Pagi itu, kesadaran Jasmine muncul perlahan, seperti seseorang yang ditarik paksa keluar dari laut yang dalam. Kelopak matanya bergetar pelan sebelum akhirnya terbuka.

Langit-langit putih dengan ukiran asing menyambut pandangannya. Aroma yang sama sekali bukan bau rumahnya memenuhi penciumannya. Dadanya langsung mengencang.

Jasmine tersentak duduk, napasnya terputus-putus saat matanya menyapu ruangan.

Beberapa wanita berdiri di depan ranjang. Seragam hitam-putih membalut tubuh mereka dengan rapi. Wajah mereka datar, tapi mata mereka tajam dan waspada, seolah satu gerakan salah darinya bisa berakhir buruk.

“Syukurlah Nona sudah bangun,” ucap salah satu dari mereka pelan. “Kami di sini untuk membantu Nona membersihkan diri dan bersiap.”

Jasmine refleks menarik selimut lebih erat menutupi tubuhnya.

“Tidak.” Suaranya serak, tapi ada sesuatu yang keras di dalamnya. “Aku mau pulang.”

Para pelayan saling berpandangan cepat.

“Nona—”

“Aku bilang tidak!” Jasmine menyela tegas. Ia bangkit dari ranjang, kakinya goyah saat menyentuh lantai marmer yang dingin menusuk kulit. “Kalian tidak boleh menyentuhku. Kalian tidak berhak menahanku di sini!”

Potongan-potongan ingatan semalam menghantamnya: suara tembakan, teriakan, darah, dan tubuh-tubuh tergeletak tak bernyawa.

Napas Jasmine tersengal, tubuhnya bergidik ngeri.

“Aku mau pulang,” ulangnya, lebih pelan, lebih rapuh. “Sekarang.”

Ia berlari kecil ke arah pintu. Jemarinya hampir menyentuh gagang. Namun—

Klek.

Pintu lebih dulu terbuka dari luar.

Seorang pria tinggi melangkah masuk dengan gerakan tenang, nyaris tanpa suara. Setelan formal gelap membalut tubuhnya rapi, menegaskan bahu lebar dan postur yang tak memberi ruang untuk ditantang. Wajahnya dingin dan sangat tenang.

Sepasang mata coklat kelam itu menyapu ruangan, lalu berhenti tepat pada Jasmine. Tatapannya bukan marah atau penasaran, tapi lebih seperti seseorang yang sedang melihat sesuatu yang sudah sepenuhnya berada dalam genggamannya.

Jasmine membeku. Dia mengenali pria itu. Sosok yang semalam menebar maut dengan begitu enteng, berdiri di tengah genangan darah dan kematian. Hanya dengan satu kata dari mulutnya, semua orang langsung terdiam.

Dada Jasmine naik turun, matanya jelas memancarkan ketakutan, tapi dagunya tetap terangkat. Ia menolak terlihat lemah di hadapan pria itu.

“Mau ke mana, Nona?” suara Zein rendah, datar, namun menekan.

“Aku mau pulang,” jawab Jasmine tanpa menurunkan pandangannya.

Zein melirik sekilas ke arah para pelayan.

“Kalian keluar.”

Satu kalimat tanpa nada tinggi, tanpa emosi. Namun, semua pelayan langsung menunduk dan bergerak serempak, meninggalkan ruangan secepat mungkin.

Pintu tertutup rapat di belakang mereka.

Sunyi menggantung di udara, terasa seperti jerat yang menyesakkan dada Jasmine.

Gadis itu menelan ludah, jantungnya berdetak kencang di dada, namun kakinya tetap tegak berpijak di tempat.

“Kau menculikku,” katanya, suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha keras menahannya. “Kenapa?”

Zein tidak menjawab, tatapannya juga tak berubah sedikit pun. Ia melangkah masuk beberapa langkah dengan tenang, tidak tergesa-gesa atau kasar, namun cukup dekat sehingga udara di antara mereka terasa menyempit.

Sekilas, tatapannya turun lalu kembali menatap wajah Jasmine. Pandangan itu dingin dan dalam, membuat bulu kuduk Jasmine meremang tanpa alasan yang jelas.

“Apa kau bisu?” Jasmine mendesis, kemarahannya muncul sebagai tameng dari rasa takutnya. “Atau kau memang cuma senang menakuti orang?”

Zein mengangkat alis tipis.

“Kau terlalu berisik,” katanya datar. “Untuk seseorang yang tidak punya satu pun kendali di sini.”

“Aku tidak peduli!”

“Jangan tinggikan suaramu di hadapanku.”

Nada Zein tetap sama. Tenang dan tanpa tekanan. Justru itulah yang membuatnya terdengar berbahaya.

“Kau ada di wilayahku,” lanjutnya. “Dan di wilayahku, semua orang mendengarkanku sebelum berbicara.”

Jasmine mengepalkan tangan. Napasnya memburu.

“Aku tidak melakukan apa-apa padamu,” katanya cepat. “Aku tidak tahu urusanmu dengan siapa pun. Jadi lepaskan aku. Aku mau pulang.”

Zein berjalan ke kursi dekat jendela dan duduk santai. Seolah gadis yang hampir menangis di depannya hanyalah pemandangan biasa.

“Kau terlihat lelah,” ujarnya ringan. “Dan orang yang lelah sering membuat keputusan bodoh.”

“Jangan mengalihkan pembicaraan!”

Jasmine melangkah maju, tapi kakinya terhenti ketika Zein mengangkat satu tangan. Bukan ancaman, tapi lebih ke isyarat perintah.

Jasmine berhenti tak jauh darinya.

“Aku tidak butuh permainan,” ucap Jasmine dengan suara bergetar yang dipaksakan tetap tegas. “Jawab aku. Kenapa kau menculikku?”

Zein bangkit, tatapannya menyapu perlahan dari wajah hingga ujung kaki Jasmine, seperti menilai sebuah barang.

“Kenapa?” ulangnya, lalu balik bertanya, “Menurutmu kenapa, Nona Jasmine Vancrosso?”

“Aku tidak bercanda!” teriakan Jasmine pecah.

“Kau berada di ruangan penuh orang mati tadi malam,” sahut Zein tenang. “Dan kau masih bisa berdiri di sini. Kalau kau tidak penting, kau sudah ikut tergeletak bersama mereka.”

Jasmine tertawa pendek, nyaris histeris.

“Jadi ini permainanmu?” katanya, marah dan terluka. “Menakuti orang sampai mereka tidak tahu apakah masih hidup besok?”

Zein melangkah mendekat, pelan tapi pasti. Setiap langkahnya, membuat Jasmine mundur tanpa sadar.

“Kau masih hidup,” katanya. “Artinya aku belum selesai dengan tujuanku.”

“Itu hidupku! Aku bukan barang! Kenapa kau menjadikanku targetmu?!” Jasmine membentak. “Aku punya keluarga! Rumah! Kau tidak berhak seenaknya—”

“Rumah?” Zein memotong. Ia berhenti tepat di hadapan Jasmine. “Mulai sekarang… di sini rumahmu sekaligus nerakamu.”

Kata-kata itu menampar lebih keras dari apa pun.

“Kau pikir aku takut denganmu?” suara Jasmine bergetar, tapi mata birunya tetap menantang. “Aku tidak peduli kau siapa. Aku tidak peduli kau sekuat apa. Aku hanya ingin pulang.”

Zein menatap Jasmine lama. Perlahan, senyum tipis muncul di bibirnya—dingin dan tenang, membuatnya sulit dibaca

“Kemarahanmu belum cukup, Nona,” katanya pelan, ambigu. “Tapi itu awal yang bagus.”

Jasmine membeku. “Apa maksudmu?”

Zein berbalik menuju pintu.

“Kau akan mengerti,” ucapnya tanpa menoleh. “Dan kalau kau ingin pulang—bangunlah dari mimpimu.”

Jasmine berdiri gemetar di tengah ruangan, napasnya tidak teratur. Air mata akhirnya jatuh, bukan karena lemah, tapi karena amarah yang tidak punya jalan keluar.

“Dasar monster! Aku benci kamu!” teriaknya serak.

Zein tidak menghiraukannya, hanya sudut bibirnya terangkat tipis. Ia membuka pintu dan melangkah keluar.

Klik.

Pintu tertutup dengan bunyi pelan.

Namun bagi Jasmine, suara itu bagai palu yang memaku nasibnya di tempat itu.

*****

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 110

    Sendok terakhir diletakkan perlahan. Jasmine menarik napas kecil, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Namun matanya tetap tertuju pada Martha, seolah tidak ingin kehilangan satu detik pun. Jeda beberapa detik, lalu Jasmine tiba-tiba berdiri. Gerakannya cepat dan antusias. “Ayo, Bibi!” katanya, suaranya langsung hidup, penuh semangat. “Ke kamarku. Kita ngobrol di sana.” Ia bahkan sudah menarik pergelangan tangan Martha sedikit. “Aku mau cerita banyak… dan aku juga mau dengar semua cerita dari Bibi. Aku akan tunjukkan kamarku juga—” “Nanti, ya Nona.” Kata-kata itu memotong dengan lembut, namun cukup untuk membuat langkah Jasmine terhenti. Jasmine menoleh cepat. “Maksudnya…?” Martha tersenyum kecil. Ada rasa bersalah di sana, tapi juga ketegasan. “Tidak sekarang, Nona…” Jasmine mengerutkan kening. “Tapi—” “Saya masih ada pekerjaan,” lanjut Martha pelan. “Tuan Zein sudah memberikan saya kesempatan bekerja di sini… saya tidak boleh menyia-nyiakannya.” Nada suarany

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 109

    Martha terdiam beberapa detik, lalu menggeleng pelan.“Bukan sekarang, Nona…”Jasmine langsung mengerutkan kening.“Kenapa?”Martha tersenyum lembut.“Akan saya ceritakan… nanti.”“Tapi Bi—”“Sekarang…” Martha menepuk pelan punggung tangan Jasmine, “…lebih baik Nona sarapan dulu.”Jasmine menatap Martha tidak percaya.“Aku tidak mau makan,” katanya cepat. “Aku cuma mau bicara sama Bibi.”“Jasmine...”Zein yang sejak tadi hanya dia, akhirnya mulai membuka suara. Nadanya tenang dan rendah, namun cukup untuk membuat Jasmine menoleh padanya.Zein melangkah mendekat.“Sarapan dulu,” ujarnya singkat sambil mengusap lembut puncak kepala Jasmine, penuh sayang.Jasmine menatapnya, masih ada sisa rasa penasaran di matanya.“Kamu tahu sesuatu, kan?” tanyanya langsung pada Zein. “Kamu harus jelasin ini—”“Iya, Sayang... nanti,” potong Zein tanpa menaikkan suara. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke Martha.“Bagaimana menurutmu, Martha?”Martha sedikit menunduk, lalu menjawab pelan, “Benar sekali,

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 108

    Jasmine menggeleng pelan, lalu matanya melebar seketika.“B-Bi Martha?” suaranya jatuh pelan, tidak percaya.Wanita tua itu menatapnya dengan lembut, tatapan itu benar-benar sama seperti dulu.“Iya…” jawabnya pelan. “Ini saya, Nona Jasmine.”Hening.Jasmine terdiam, tidak langsung mendekat, tidak langsung percaya.Tangannya perlahan terangkat, mengucek matanya berkali-kali, lalu berkedip cepat, menatap kembali. Ia takut pandangannya mengabur lagi seperti kemarin dan salah mengenali orang.Namun wajah itu tetap sama. Tidak mengabur, tidak hilang. Itu Nyata.“Tidak mungkin…” bisiknya. Dadanya mulai sesak. “Ini… bukan mimpi… kan…?”Martha tidak menjawab dengan kata-kata.Hanya menatap Jasmine dengan mata yang juga mulai berkaca-kaca.Detik berikutnya, air mata Jasmine jatuh tanpa bisa ditahan.“Bi Martha…!”Ia langsung berlari, memeluk wanita itu erat, seolah takut sosok itu akan menghilang jika dilepaskan.Martha membalas pelukan itu dengan sama eratnya, tangannya mengusap punggung Jasm

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 107

    Malam sudah larut saat mobil hitam itu memasuki halaman mansion. Lampu-lampu taman menyala redup, memantulkan bayangan panjang di jalan setapak. Suasana sunyi, hanya beberapa pengawal yang berjaga. Mobil berhenti. Liam turun lebih dulu, lalu membuka pintu belakang. Zein keluar tanpa banyak bicara. Wajahnya kembali seperti biasa—tenang, dingin, dan tidak terbaca. Tidak ada sisa emosi yang sempat muncul di markas tadi. “Tuan,” ucap Liam singkat. Zein melangkah satu langkah, lalu berhenti. “Besok pagi,” katanya tanpa menoleh, “bawa dia ke mansion.” Liam tidak langsung menjawab, tapi hanya dalam satu detik ia mengerti. “Baik, Tuan.”Zein mengangguk tipis. Tanpa berkata lagi, ia melangkah masuk ke dalam mansion. Lorong panjang itu kembali menyambutnya dengan keheningan.Langkahnya pelan dan terukur, tapi kali ini ada tujuan yang lebih jelas. Tanpa singgah ke mana pun, ia langsung menuju lantai dua mansion itu—ke satu tempat, ke satu orang. Pintu kamar di hadapannya terbuka per

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 106

    Beberapa hari kemudian...Siang merambat pelan di balik dinding kaca tebal. Langit tampak cerah, tapi kehangatan itu seolah tidak pernah benar-benar masuk ke dalam ruangan itu.Ruang kerja Zein di markas Blackthorne Syndicate tetap sama seperti biasa—hening, rapi, dan dingin.Di balik meja besar berlapis kayu gelap, Zein duduk tegak. Jasnya masih sempurna, seolah waktu tidak pernah menyentuhnya sejak pagi.Beberapa berkas terbuka di hadapannya. Dokumen kerja sama, angka-angka, nama-nama sekutu, dan tanda tangan yang nilainya jauh melampaui sekadar bisnis.Zein menelusuri satu halaman dari berkas terakhir. Tatapannya bergerak perlahan, baris demi baris, tajam, teliti, tidak ada yang terlewat satu pun.Ujung jarinya mengetuk pelan permukaan meja. Sekali, dua kali, lalu berhenti. Seolah keputusan sudah terbentuk bahkan sebelum seluruh isi dokumen selesai dibaca.Keheningan menggantung, hanya suara halus kertas yang bergeser, lalu tiba-tiba pintu terbuka dari luar tanpa suara berlebihan.

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 105

    Jasmine terdiam beberapa detik.Tatapannya bertemu dengan mata Zein yang masih menatapnya—dalam, tanpa berpaling, seolah benar-benar menunggu. Ada sesuatu di sana, lembut namun juga tidak mau kalah.Jasmine menghela napas pelan.“Dasar kamu…” gumamnya lirih.Namun pada akhirnya, ia menunduk.Cup.Bibirnya menyentuh pipi Zein singkat, hangat, dan seharusnya cukup. Namun, Zein tidak menjauh, justru sudut bibirnya terangkat tipis.“Bukan di situ, Sayang...”Jasmine langsung mengernyit.“Zein kamu itu—”Zein menggeleng pelan, memotong kalimat Jasmine. Matanya tidak lepas darinya.“Yang ini,” katanya sambil tatapannya turun ke bibir Jasmine.Jasmine tercekat.“Nakal.”“Serius.”Jasmine menatap Zein beberapa detik, seperti sedang menimbang, atau mungkin hanya pura-pura bertahan. Namun pada akhirnya, ia menyerah.Perlahan, Jasmine mendekat. Jarak di antara mereka menghilang sedikit demi sedikit. Napas mereka bersentuhan hangat, dekat, dan saat bibir mereka akhirnya bertemu, tidak ada keragua

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 89

    Zein sama sekali tidak berniat berhenti.Ia kembali mendekatkan wajahnya ke lipatan basah itu, memberikan kecupan-kecupan lembut dan jilatan menggoda di setiap bagiannya. Tangannya juga tidak tinggal diam, menyusup ke dalam dress tidur Jasmine, menemukan kedua bantalan kenyal itu dan langsung merem

    last update최신 업데이트 : 2026-04-04
  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 70

    Jasmine membuka matanya perlahan, lalu terdiam sejenak. Dadanya masih naik turun, tapi ada kehangatan yang mengalir di dalam hatinya.Pelan-pelan, ia mengangkat tangan dan menyentuh rahang tegas Zein. Jemarinya bergerak ragu, seolah masih belum percaya dengan semua yang baru saja terjadi di antara

    last update최신 업데이트 : 2026-03-31
  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 62

    Jasmine mengerjap bingung. “Olahraga?” ulangnya pelan. “Pagi-pagi?” Zein hanya menatap gadis itu, sudut bibirnya terangkat samar. Tatapan itu membuat jantung Jasmine berdegup lebih cepat, bukan karena dia mengerti, tapi justru karena tidak mengerti sama sekali. “Iya,” jawab Zein santai. “Aktiv

    last update최신 업데이트 : 2026-03-29
  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 61

    Jasmine bisa merasakan napas hangat Zein menyentuh kulitnya. Tatapan pria itu gelap dan dalam, tanpa sedikit pun godaan. Tak ada ruang untuk bercanda.Jasmine ingin mundur, tapi dirinya sudah terkurung di antara tubuh Zein dan kasur. Pelukan Zein tidak menyakitkan, tapi hanya memastikan.Zein menga

    last update최신 업데이트 : 2026-03-28
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status