Share

BAB. 61

Penulis: Wisha Berliani
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-22 13:03:07

Jasmine bisa merasakan napas hangat Zein menyentuh kulitnya. Tatapan pria itu gelap dan dalam, tanpa sedikit pun godaan. Tak ada ruang untuk bercanda.

Jasmine ingin mundur, tapi dirinya sudah terkurung di antara tubuh Zein dan kasur. Pelukan Zein tidak menyakitkan, tapi hanya memastikan.

Zein mengangkat satu tangan perlahan. Ujung jarinya menyentuh rambut Jasmine yang terurai di pipinya. Dengan gerakan hati-hati, ia menyibakkannya lalu menyelipkannya ke belakang telinga. Sentuhan itu lembut, se
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 61

    Jasmine bisa merasakan napas hangat Zein menyentuh kulitnya. Tatapan pria itu gelap dan dalam, tanpa sedikit pun godaan. Tak ada ruang untuk bercanda.Jasmine ingin mundur, tapi dirinya sudah terkurung di antara tubuh Zein dan kasur. Pelukan Zein tidak menyakitkan, tapi hanya memastikan.Zein mengangkat satu tangan perlahan. Ujung jarinya menyentuh rambut Jasmine yang terurai di pipinya. Dengan gerakan hati-hati, ia menyibakkannya lalu menyelipkannya ke belakang telinga. Sentuhan itu lembut, seolah sedang merapikan sesuatu yang sangat berharga.“Kenapa kamu gemetar?” gumamnya pelan.Jasmine tidak menjawab, karena dirinya pun tak yakin apa yang membuat tubuhnya bergetar seperti itu. Bukan sepenuhnya takut, juga bukan sepenuhnya berani. Namun malam ini, Zein terasa berbeda—lebih tenang, lebih pasti. Dan itu jauh lebih mengguncang daripada sikap posesifnya sebelumnya.Perlahan, Zein menunduk. Bibirnya menyentuh pipi Jasmine, bukan sekadar kecupan ringan. Ia menahannya di sana sepersekian

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 60

    Suara itu tidak tinggi atau mengancam, tapi Jasmine tahu Zein sedang berbicara tentang sesuatu yang lebih dari sekadar pelukan. Untuk pertama kalinya, Jasmine ragu... apakah ia benar-benar ingin mendorong Zein? Zein tersenyum tipis di balik helaian rambut Jasmine. “Sekarang,” gumamnya pelan, “tidur.” Pelukannya tetap erat, hangat, dan mustahil diabaikan. Jasmine mencoba mengatur napasnya. Ia masih bisa bergerak, masih bisa bicara, tapi ruang untuk menjauh terasa semakin sempit. “Zein…” bisiknya lirih. “Kalau suatu hari aku benar-benar ingin pergi?” Zein tak langsung menjawab. Hanya tangannya yang mengerat sekilas, cukup untuk membuat Jasmine sadar bahwa ucapannya didengar. Suaranya kemudian turun, tenang dan dalam, nyaris tanpa emosi. “Kalau kau ingin pergi,” gumamnya pelan di atas kepala Jasmine, “kau boleh mencoba.” Jasmine menegang. Ia tahu itu bukan izin, melainkan tantangan. Sunyi mengendap di kamar. Lalu Zein menambahkan satu kalimat, rendah dan mutlak, “Tapi kau harus

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 59

    Zein mencondongkan wajahnya sedikit, hanya sedikit. Jarak mereka tinggal sehelai napas. Namun, tepat sebelum bibir mereka benar-benar bersentuhan, Zein berhenti. Rahangnya menegang, napasnya tertahan sesaat.Ia menarik diri sepersekian inci, menahan sesuatu yang jelas-jelas ingin ia ambil.“Berbahaya,” gumamnya lirih.“Apanya?” bisik Jasmine tanpa sadar.“Kau.” Satu kata, berat.Sebelum Jasmine sempat mencerna jawabannya, tubuhnya tiba-tiba terangkat.“Zein—!”Zein mengangkat Jasmine dalam gendongan bridal seolah tubuh gadis itu tidak berbobot sama sekali. Refleks, jemari Jasmine mencengkeram kerah piyama Zein.“Kau mau apa?!” suara Jasmine tertahan antara kesal dan kaget.Zein tidak menjawab, hanya senyum tipis yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja hampir kehilangan kendali. Langkahnya mantap masuk ke dalam kamar. Cahaya bulan dari balkon membingkai siluet mereka, menciptakan bayangan panjang di lantai.“Zein… kamu mau bawa aku ke mana?” tanya Jasmine lagi, kali ini nada

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 58

    Zein tetap di posisinya, tidak menjauh sedikit pun. Bibirnya tersungging tipis. Dengan setelan piyama hitam yang dikenakan dan rambutnya yang sedikit berantakan, ia tampak terlalu santai untuk seorang pria yang tiba-tiba muncul di kamar seorang gadis tengah malam.“Zein—!” Jasmine memukul ringan lengannya. “Kau bikin aku kaget! Bisa tidak masuk kamar orang itu ketuk pintu dulu?!”Zein hanya mengangkat satu alis. “Pintunya tidak dikunci—”“Itu bukan berarti kamu boleh masuk seenaknya!” Wajah Jasmine memerah, entah karena marah atau karena jantungnya memang berdetak terlalu kencang. “Kamu tahu tidak? Jantungku hampir copot!”Zein menatap Jasmine dari samping, sebentar. Lalu sudut bibirnya terangkat lebih jelas. Sama sekali tidak terlihat bersalah, malah terkesan terhibur.“Tenang. Kalau copot, aku pasang lagi.”“Zein, kamu itu—” Belum sempat Jasmine menyelesaikan omelannya, pelukan Zein di pinggangnya mengerat. Jasmine langsung terkunci dalam lingkaran hangat yang kokoh.“Zein!” protesn

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 57

    Malam turun perlahan. Kamar Jasmine gelap, hanya diterangi cahaya lampu tidur yang temaram. Detik jam di dinding terdengar begitu jelas, terlalu keras untuk ruangan yang sunyi.Ia sudah mencoba memejamkan mata hampir satu jam, namun kantuk tak kunjung datang. Setiap kali kesadarannya mulai mengabur, suara Zein kembali bergema di kepalanya.“Mulai sekarang… kau harus lebih berhati-hati.”“Pada orang yang mulai memperhatikanmu terlalu serius.”Jasmine menghela napas pelan, lalu membalikkan tubuhnya ke sisi lain ranjang.“Aku harus berhati-hati…?” gumamnya lirih. “Pada siapa?”Di mansion ini, lingkarannya kecil. Para pelayan menjaga jarak, sementara para penjaga bahkan tak pernah berani menatapnya lama. Liam terlalu formal untuk dianggap ancaman.Dan Zein?Pikirannya terhenti di sana. Ia menatap kosong ke langit-langit.“Tidak. Pasti bukan dia.”Pikiran Jasmine berkecamuk tak menentu. Mustahil Zein memperingatkannya tentang dirinya sendiri—itu terasa sangat tidak masuk akal. Pria itu ter

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 56

    Sekarang Zein mengerti, Jasmine benar-benar tidak tahu. Dan fakta itu menggeser sesuatu dalam dirinya. Bukan sekadar rasa ingin tahu, tapi dorongan untuk mengendalikan kapan dan bagaimana gadis itu akan mengetahui kebenarannya. Zein menatap sketsa di pangkuan Jasmine. Garis-garisnya tegas, tidak ragu, tidak goyah. Gadis ini bukan boneka, tapi seseorang telah membentuk hidupnya dengan presisi.“Gambarmu bagus,” ucap Zein akhirnya.“Aku tahu.”Jawaban itu membuat sudut bibir Zein terangkat tipis. Percaya diri. Tidak haus validasi. Dan Zein suka itu.“Kau menggambar apa yang kau lihat?”“Kadang.”“Kadang?”“Kadang apa yang kulihat berbeda dari yang orang lain lihat.”Zein menatap Jasmine lebih dalam.“Kau sering merasa berbeda dari orang lain?”“Semua orang berbeda.”Jawaban yang aman, tapi cara Jasmine mengucapkannya tidak terdengar defensif.“Katamu keluargamu tidak pernah mengizinkanmu keluar,” ucap Zein ringan. “Mereka cukup protektif.”Pensil di tangan Jasmine berhenti sejenak, lal

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status