ログインPintu mobil pengawal depan terbuka keras bahkan sebelum mesin benar-benar mati. Bayangan-bayangan tinggi bergerak cepat dari balik gelap, mengenakan setelan hitam, wajah tertutup topeng. Gerak mereka presisi dan terlatih.
“Formasi!” teriak salah satu anak buah Michael. Namun terlambat. DOR! DOR! Suara tembakan meletup, memecah keheningan malam. “Sial—!” geram Michael. BUG! BUG! Baku hantam pecah tanpa aba-aba. Tubuh-tubuh beradu, tinju menghantam, senjata tajam berkilat di bawah lampu jalan yang berkedip. Anak buah Michael berusaha bertahan, tapi jumlah dan kecepatan lawan terlalu brutal. “Jaga Jasmine!” bentak Michael keras. “Jangan biarkan mereka mendekatinya!” Ia gegas turun dari mobil. Aspal dingin menyentuh sepatunya. Jas mahalnya langsung ternoda debu dan cipratan darah. Michael menghantam salah satu penyerang tepat di rahang. “Pergi ke neraka,” desisnya. Pria itu terhuyung, tapi dari sisi lain tinjuan keras menghantam pelipis Michael. “BUGH!” Pandangan Michael berkunang. Ia jatuh berlutut di aspal. Darah hangat mengalir dari pelipisnya. “Sial…” gumamnya serak. Ia memaksa bangkit. Tangannya menyusup ke balik jas, berusaha meraih pistol. “Masih hidup, Tuan,” ejek salah satu penyerang. Belum sempat Michael bereaksi, BUGH! Tongkat besi menghantam punggungnya dengan keras. Tulang-tulangnya terasa bergetar. Tubuh Michael akhirnya ambruk ke aspal. “Michael!” teriak Sofia dari dalam mobil, suaranya pecah. Ia segera turun, berusaha berlari ke arah suaminya, namun langkahnya terhenti mendadak. Sebuah tangan kuat memiting lehernya dari belakang. Sebilah belati dingin menempel tepat di kulit lehernya. “Nyonya,” suara bisikan rendah terdengar di telinga Sofia, datar dan tanpa emosi. “Tetap di tempat.” Sofia membeku. Napasnya tertahan. “Gerak satu langkah lagi,” lanjut suara itu pelan, “dan pisau ini akan menyelesaikan sisanya.” Belati itu sedikit menekan. Cukup untuk membuat Sofia sadar, tidak ada gertakan di sana. Ia tak berani bergerak. Di hadapannya, Michael tergeletak tak berdaya, darah terus mengalir dari pelipisnya. Sementara itu, di dalam mobil, Elena membeku di kursinya. Ia merapatkan tubuh ke pintu, jantungnya berdegup liar. Tangannya mencengkeram tas medis di pangkuannya, satu-satunya hal yang memberinya ilusi kendali. Elena ingin turun, ingin membantu, namun kakinya tak sanggup digerakkan. Ia tahu betul, dirinya tak punya kemampuan di tengah perang seperti ini. Ia hanya bisa bersembunyi di dalam mobil, menatap tubuh Michael yang tergeletak tak berdaya, serta Sofia yang ditodong senjata. “Tuan Michael… Nyonya Sofia…” bisiknya gemetar. “Maafkan saya… saya tidak bisa berbuat apa-apa.” Kekacauan malam itu semakin tak terkendali. Teriakan dan benturan tubuh yang saling menghantam bersahutan dengan letupan tembakan yang saling bertumpuk. Suaranya terdengar begitu dekat dan nyata. Di mobil tempat Jasmine berada, pintu terbuka dengan hentakan kasar. “Tidak—! Lepaskan!” Jasmine menjerit saat tangan-tangan kasar mencengkeram lengannya dan menariknya keluar. “Nona!” teriak Martha panik. Ia mencoba meraih tangan Jasmine, namun sebuah dorongan keras membuat tubuh wanita tua itu terhempas ke jok mobil. “Nona—! Lepaskan Nona muda!” seru Martha putus asa. Dua pengawal Michael yang berada tak jauh dari sana refleks bergerak. “Lepaskan dia!” bentak salah satunya, lalu meninju bahu penyerang terdekat. BUG! Salah satu pria bertopeng terhuyung. Jasmine sempat terlepas. Namun detik berikutnya— DOR! Letupan senjata api memecah udara. Pengawal Michael tersentak, matanya membelalak sesaat sebelum tubuhnya ambruk ke aspal. Darah mengalir deras dari dadanya, tepat di dekat jantungnya. “Bajingan—!” geram pengawal kedua, menarik Jasmine ke belakang tubuhnya. “Pegang saya, Nona!” Martha yang berhasil turun dari mobil langsung memeluk Jasmine. Tubuh renta itu gemetar, tapi dia tetap memaksa berdiri di depan Jasmine. “Jangan sentuh Nona muda—!” DOR. Tanpa peringatan, peluru melesat presisi menembus kepala pengawal kedua. BRUK. Tubuhnya roboh ke aspal. Darah menggenang cepat di jalanan. Melihat pemandangan itu, tubuh Martha menegang seketika. Tak lama kemudian, sebuah dorongan keras menghantamnya tanpa ampun. “Bi—!” Jasmine menjerit saat wanita tua itu terjatuh. “Bi! Bangun, Bi—!” Jasmine gegas menolong, tapi tiba-tiba seorang penyerang menariknya paksa. Ia meronta histeris, menendang, memukul, dan mencakar sekuat tenaga. “Jangan sentuh aku! Tolong—!” Detik berikutnya, tangan kasar mencengkeram rambutnya, menariknya ke belakang. “Cukup.” Suara itu rendah, dingin, dan tanpa emosi. Kemudian, sesuatu yang dingin menempel di pelipis Jasmine. Ia membeku, napasnya tersangkut. Matanya melebar saat melirik ke samping dan melihat moncong pistol hitam tepat di dekat wajahnya. “Diam,” ucap pria itu pelan. “Atau kupecahkan kepalamu.” “Sekali lagi kau teriak,” lanjutnya datar, “pelurunya tidak akan meleset.” Tubuh Jasmine melemas. Tak ada lagi perlawanan. Tak ada lagi suara. Ia diseret masuk ke mobil hitam lain. BRAK! Pintu dibanting keras. Mesin menyala. Dari balik kaca, Jasmine sempat melihat Martha merangkak ke arahnya. Tangan renta itu terulur gemetar. “Nona—!” seru Martha lirih. Air mata Jasmine jatuh saat mobil melesat pergi. Dalam hitungan detik, kendaraan itu menghilang ke gelap malam. Meninggalkan jeritan, darah, tubuh-tubuh tergeletak di aspal, dan satu dunia yang runtuh di belakangnya. . . Mansion Ravelli berdiri sunyi di tengah lahan luas yang dikelilingi pagar besi tinggi. Sebuah mobil berhenti di depan bangunan mewah itu, lalu Jasmine ditarik keluar dari dalam sana. Kakinya lemas, kepalanya terasa kosong. Ia hampir terseret menaiki tangga marmer. Begitu pintu utama terbuka— DOR! Letupan senjata menggema di dalam ruangan. Jasmine tersentak. Di tengah aula, seorang pria berlutut dengan kaki bersimbah darah. Wajahnya pucat, napasnya terengah. “Tuan… tolong ampuni kami—” “Tidak ada ampun bagi pengkhianat.” Suara itu memotong kalimatnya tanpa emosi. Seorang pria berpostur tinggi atletis berdiri tak jauh dari sana. Setelan jas hitamnya sempurna, tanpa satu pun lipatan salah. Sepatu kulitnya mengkilap, kontras dengan darah yang mengotori lantai marmer. Dia adalah Zein Von Ravelli, pewaris tunggal keluarga Ravelli. Ia membuka kancing jasnya perlahan, satu per satu. Gerakannya tenang, seolah ruangan itu bukan tempat eksekusi, melainkan ruang rapat. “Kalian bekerja untukku,” ucapnya datar. “Dan pengkhianatan hanya punya satu harga.” Pria yang berlutut itu gemetar. “Tuan… kami terpaksa. Mereka—” Zein mengangkat satu tangan. Gerakan kecil, namun cukup membungkam segalanya. “Aturanku sederhana,” lanjutnya. “Aku tidak peduli alasan. Aku hanya peduli hasil.” Ia mengangkat pistolnya kembali. Tangannya stabil, napasnya tenang. DOR! Seketika, kepala pria pertama terhempas ke samping. Tubuhnya roboh menghantam lantai, darah merah pekat menggenang di marmer putih. Pria satunya menjerit panik, “Tuan! Ampuni saya—saya bersumpah—!” Zein melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapannya. Menatap dari atas ke bawah. “Seorang pengkhianat,” ucapnya pelan, “tidak bersumpah.” DOR! Suara letupan senjata kembali menggema, lalu sunyi jatuh menyelimuti ruangan. Para anak buah berdiri tegak mengelilingi aula. Tak satu pun bergerak atau bereaksi. Mereka sudah terbiasa dengan pemandangan seperti ini. Namun tiba-tiba— “Aaa...” Jasmine yang sejak tadi membeku akhirnya menjerit, suaranya gemetar. Kakinya goyah. Ia terhuyung ke belakang. Dunia di sekelilingnya berputar ketika pandangannya menangkap darah merah segar yang mengalir dan tubuh-tubuh tak bernyawa tergeletak di lantai marmer dingin. Bruk. Detik berikutnya, tubuh Jasmine ambruk ke lantai. Zein menoleh. Pandangan dinginnya tertuju pada sosok gadis yang tergeletak tak sadarkan diri. Sejenak ia terdiam, bukan karena terkejut, tapi karena ia mengenalnya. Putri dari pria yang telah menghancurkan keluarganya. Tatapan kelam itu menajam saat ingatan 20 tahun lalu kembali berputar di kepalanya: api, darah, jeritan, dan satu nama yang tak pernah ia lupakan. Zein melangkah mendekat, lalu mendadak berhenti sambil mengangkat sedikit kepalanya dan menarik napas pelan. “Siapa yang pakai parfum—mawar vanilla?” tanyanya datar. Tak ada jawaban. Anak buahnya saling berpandangan, bingung. Zein terpaku sejenak, kemudian perlahan berjongkok di hadapan Jasmine. Ia menundukkan kepala sesaat, lalu mengendus singkat dada gadis itu. Tidak lama, hanya sepersekian detik. Tatapannya langsung membeku. “Dia,” ucapnya pelan. Ia segera berdiri kembali. Wajahnya kembali dingin, sulit terbaca, namun rahangnya mengeras samar. Ruangan tetap sunyi. Tak seorang pun berani bereaksi. Zein berdehem pelan sebelum merapikan jasnya dengan tenang. “Bawa dia ke kamar,” perintahnya singkat. “Sekarang.” *****Zein masih menatap telapak tangannya yang basah beberapa detik, seolah berusaha memastikan apa yang baru saja dilihatnya saat ini.“Bukankah ini A—” gumamnya terhenti, sulit mempercayai.Matanya lalu terangkat menatap Jasmine lagi.Wajah Jasmine meringis, bahunya bergetar, napasnya pendek-pendek. Satu tangan menekan dadanya, menahan nyeri yang tampak tak tertahankan.“Ada apa denganmu? Kenapa kau seperti itu?” tanya Zein pelan.Jasmine memalingkan wajah, rambut coklat chestnut-nya jatuh menutupi pipi yang mulai memerah seperti tomat.“Tidak ada,” gumamnya cepat. “Jangan tanya.”Zein tak percaya. Ia meraih dagu Jasmine, memaksa mata biru itu menatapnya.“Matamu berkata lain. Kau kesakitan. Di mana? Katakan,” ucapnya tenang namun penuh tekanan.Jasmine menggigit bibir bawahnya, jari-jarinya mencengkeram gaunnya.“Aku… tidak apa-apa,” bisiknya, jelas tak meyakinkan.Zein menghela napas pendek. “Jasmine.”Nada itu membuat tubuh gadis itu menegang.“Kalau kau tidak mau bicara, jangan salah
Malam turun perlahan di balik jendela besar kamar. Lampu-lampu mansion berkilau di kejauhan, dingin dan jauh, seperti dunia lain yang tak bisa dijangkau Jasmine. Ia terbangun dengan tubuh yang terasa tidak nyaman. Perutnya melilit hebat, kosong dan perih. Setiap tarikan napas terasa lebih berat dari seharusnya. Namun, rasa itu kalah oleh sesuatu yang lain. Dadanya penuh, sesak, kencang, dan panas. Berdenyut pelan tapi terus-menerus, seolah ditekan dari dalam tanpa ampun. “Akhh…” Jasmine mengerang lirih, tangannya mencengkeram kain gaunnya di bagian dada. Rasa nyeri itu membuat tenggorokannya tercekat, matanya berkaca-kaca. “Sakit…” bisiknya hampir tak terdengar. Ia mencoba bertahan. Menunggu. Meyakinkan dirinya bahwa rasa itu akan mereda. Namun, menit demi menit berlalu, justru yang datang rasa sakit yang semakin menekan. Akhirnya, Jasmine turun dari ranjang. Langkahnya goyah saat berjalan menuju pintu. Tok. Tok. Tok. Ketukannya pelan dan ragu di daun pintu itu. “Permisi…” Su
Ia mengangkat kepala, dan dunia seolah berhenti. Zein berdiri tepat di depannya. Wajah pria itu dingin. Mata coklat gelapnya seperti menelan cahaya. Jasmine menelan ludah. “Ka… kau?” Ia menoleh ke sekeliling, lalu matanya membulat melihat ruangan itu adalah ruang makan. “Kenapa aku balik ke sini lagi?!” Tangannya mengepal frustrasi. “Aish! Sia-sia semua usaha kaburku…” Zein menatapnya tanpa ekspresi. Sementara Jasmine? Dia tampak seperti mangsa yang benar-benar terpojok. Langkah kaki Zein mendekat, tidak terburu-buru, tidak panik, tapi berat dan terkendali. Ia berhenti tepat di depan Jasmine. Wajahnya datar, tatapannya dingin. Jasmine mundur setapak. “A-aku cuma… mau lihat-lihat pemandangan,” katanya gugup. Zein maju satu langkah. Jasmine langsung berbalik dan lari. “Berhenti, Jasmine.” Suara Zein rendah, tidak keras, tapi cukup membuat udara seolah membeku. Jasmine tidak berhenti. Ia berlari sampai ujung lorong. Buntu. Ia menoleh ke kanan dan kiri, hanya ada dinding da
Pintu kamar itu akhirnya terbuka kembali. Beberapa pelayan masuk dengan langkah hati-hati. “Nona… mari. Kami akan membantu Anda bersiap,” ucap salah satu dari mereka pelan. Jasmine hanya diam, lalu berbalik dan duduk di tepi ranjang. Matanya merah, rahangnya mengeras. Para pelayan saling berpandangan. Tak ada yang berani menyentuhnya lebih dulu. Beberapa detik berlalu, sampai akhirnya kelelahan mengalahkan perlawanan. Dengan gerakan kaku, Jasmine membiarkan mereka membantu. Air hangat disiapkan di kamar mandi. Pakaian bersih, handuk, dan perlengkapan lain tersusun rapi seperti ritual sebelum hukuman. Tak lama kemudian, Jasmine sudah berdiri di bawah shower. Air mengalir di kulitnya, tapi ekspresinya tetap kosong. Beberapa saat setelah itu, ia sudah siap dan dibawa keluar kamar. Lorong-lorong marmer membentang panjang dan sunyi. Lukisan-lukisan mahal serta lampu kristal menggantung, menjadi saksi bisu langkah seorang gadis yang sedang ditawan. Ruang makan keluarga Ravelli te
Pagi itu, kesadaran Jasmine muncul perlahan, seperti seseorang yang ditarik paksa keluar dari laut yang dalam. Kelopak matanya bergetar pelan sebelum akhirnya terbuka. Langit-langit putih dengan ukiran asing menyambut pandangannya. Aroma yang sama sekali bukan bau rumahnya memenuhi penciumannya. Dadanya langsung mengencang. Jasmine tersentak duduk, napasnya terputus-putus saat matanya menyapu ruangan. Beberapa wanita berdiri di depan ranjang. Seragam hitam-putih membalut tubuh mereka dengan rapi. Wajah mereka datar, tapi mata mereka tajam dan waspada, seolah satu gerakan salah darinya bisa berakhir buruk. “Syukurlah Nona sudah bangun,” ucap salah satu dari mereka pelan. “Kami di sini untuk membantu Nona membersihkan diri dan bersiap.” Jasmine refleks menarik selimut lebih erat menutupi tubuhnya. “Tidak.” Suaranya serak, tapi ada sesuatu yang keras di dalamnya. “Aku mau pulang.” Para pelayan saling berpandangan cepat. “Nona—” “Aku bilang tidak!” Jasmine menyela tegas. Ia bangk
Pintu mobil pengawal depan terbuka keras bahkan sebelum mesin benar-benar mati. Bayangan-bayangan tinggi bergerak cepat dari balik gelap, mengenakan setelan hitam, wajah tertutup topeng. Gerak mereka presisi dan terlatih.“Formasi!” teriak salah satu anak buah Michael.Namun terlambat.DOR! DOR!Suara tembakan meletup, memecah keheningan malam.“Sial—!” geram Michael.BUG! BUG!Baku hantam pecah tanpa aba-aba. Tubuh-tubuh beradu, tinju menghantam, senjata tajam berkilat di bawah lampu jalan yang berkedip. Anak buah Michael berusaha bertahan, tapi jumlah dan kecepatan lawan terlalu brutal.“Jaga Jasmine!” bentak Michael keras. “Jangan biarkan mereka mendekatinya!”Ia gegas turun dari mobil.Aspal dingin menyentuh sepatunya. Jas mahalnya langsung ternoda debu dan cipratan darah. Michael menghantam salah satu penyerang tepat di rahang.“Pergi ke neraka,” desisnya.Pria itu terhuyung, tapi dari sisi lain tinjuan keras menghantam pelipis Michael.“BUGH!”Pandangan Michael berkunang. Ia jat







