Compartir

BAB. 4

last update Última actualización: 2026-01-15 12:16:31

Pintu mobil pengawal depan terbuka keras bahkan sebelum mesin benar-benar mati. Bayangan-bayangan tinggi bergerak cepat dari balik gelap, mengenakan setelan hitam, wajah tertutup topeng. Gerak mereka presisi dan terlatih.

“Formasi!” teriak salah satu anak buah Michael.

Namun terlambat.

DOR! DOR!

Suara tembakan meletup, memecah keheningan malam.

“Sial—!” geram Michael.

BUG! BUG!

Baku hantam pecah tanpa aba-aba. Tubuh-tubuh beradu, tinju menghantam, senjata tajam berkilat di bawah lampu jalan yang berkedip. Anak buah Michael berusaha bertahan, tapi jumlah dan kecepatan lawan terlalu brutal.

“Jaga Jasmine!” bentak Michael keras. “Jangan biarkan mereka mendekatinya!”

Ia gegas turun dari mobil.

Aspal dingin menyentuh sepatunya. Jas mahalnya langsung ternoda debu dan cipratan darah. Michael menghantam salah satu penyerang tepat di rahang.

“Pergi ke neraka,” desisnya.

Pria itu terhuyung, tapi dari sisi lain tinjuan keras menghantam pelipis Michael.

“BUGH!”

Pandangan Michael berkunang. Ia jatuh berlutut di aspal. Darah hangat mengalir dari pelipisnya.

“Sial…” gumamnya serak.

Ia memaksa bangkit. Tangannya menyusup ke balik jas, berusaha meraih pistol.

“Masih hidup, Tuan,” ejek salah satu penyerang.

Belum sempat Michael bereaksi,

BUGH!

Tongkat besi menghantam punggungnya dengan keras. Tulang-tulangnya terasa bergetar. Tubuh Michael akhirnya ambruk ke aspal.

“Michael!” teriak Sofia dari dalam mobil, suaranya pecah.

Ia segera turun, berusaha berlari ke arah suaminya, namun langkahnya terhenti mendadak. Sebuah tangan kuat memiting lehernya dari belakang. Sebilah belati dingin menempel tepat di kulit lehernya.

“Nyonya,” suara bisikan rendah terdengar di telinga Sofia, datar dan tanpa emosi. “Tetap di tempat.”

Sofia membeku. Napasnya tertahan.

“Gerak satu langkah lagi,” lanjut suara itu pelan, “dan pisau ini akan menyelesaikan sisanya.”

Belati itu sedikit menekan. Cukup untuk membuat Sofia sadar, tidak ada gertakan di sana.

Ia tak berani bergerak.

Di hadapannya, Michael tergeletak tak berdaya, darah terus mengalir dari pelipisnya.

Sementara itu, di dalam mobil, Elena membeku di kursinya.

Ia merapatkan tubuh ke pintu, jantungnya berdegup liar. Tangannya mencengkeram tas medis di pangkuannya, satu-satunya hal yang memberinya ilusi kendali.

Elena ingin turun, ingin membantu, namun kakinya tak sanggup digerakkan. Ia tahu betul, dirinya tak punya kemampuan di tengah perang seperti ini.

Ia hanya bisa bersembunyi di dalam mobil, menatap tubuh Michael yang tergeletak tak berdaya, serta Sofia yang ditodong senjata.

“Tuan Michael… Nyonya Sofia…” bisiknya gemetar. “Maafkan saya… saya tidak bisa berbuat apa-apa.”

Kekacauan malam itu semakin tak terkendali. Teriakan dan benturan tubuh yang saling menghantam bersahutan dengan letupan tembakan yang saling bertumpuk. Suaranya terdengar begitu dekat dan nyata.

Di mobil tempat Jasmine berada, pintu terbuka dengan hentakan kasar.

“Tidak—! Lepaskan!” Jasmine menjerit saat tangan-tangan kasar mencengkeram lengannya dan menariknya keluar.

“Nona!” teriak Martha panik.

Ia mencoba meraih tangan Jasmine, namun sebuah dorongan keras membuat tubuh wanita tua itu terhempas ke jok mobil.

“Nona—! Lepaskan Nona muda!” seru Martha putus asa.

Dua pengawal Michael yang berada tak jauh dari sana refleks bergerak.

“Lepaskan dia!” bentak salah satunya, lalu meninju bahu penyerang terdekat.

BUG!

Salah satu pria bertopeng terhuyung. Jasmine sempat terlepas. Namun detik berikutnya—

DOR!

Letupan senjata api memecah udara.

Pengawal Michael tersentak, matanya membelalak sesaat sebelum tubuhnya ambruk ke aspal. Darah mengalir deras dari dadanya, tepat di dekat jantungnya.

“Bajingan—!” geram pengawal kedua, menarik Jasmine ke belakang tubuhnya. “Pegang saya, Nona!”

Martha yang berhasil turun dari mobil langsung memeluk Jasmine. Tubuh renta itu gemetar, tapi dia tetap memaksa berdiri di depan Jasmine.

“Jangan sentuh Nona muda—!”

DOR.

Tanpa peringatan, peluru melesat presisi menembus kepala pengawal kedua.

BRUK.

Tubuhnya roboh ke aspal. Darah menggenang cepat di jalanan.

Melihat pemandangan itu, tubuh Martha menegang seketika. Tak lama kemudian, sebuah dorongan keras menghantamnya tanpa ampun.

“Bi—!” Jasmine menjerit saat wanita tua itu terjatuh. “Bi! Bangun, Bi—!”

Jasmine gegas menolong, tapi tiba-tiba seorang penyerang menariknya paksa. Ia meronta histeris, menendang, memukul, dan mencakar sekuat tenaga.

“Jangan sentuh aku! Tolong—!”

Detik berikutnya, tangan kasar mencengkeram rambutnya, menariknya ke belakang.

“Cukup.”

Suara itu rendah, dingin, dan tanpa emosi.

Kemudian, sesuatu yang dingin menempel di pelipis Jasmine.

Ia membeku, napasnya tersangkut. Matanya melebar saat melirik ke samping dan melihat moncong pistol hitam tepat di dekat wajahnya.

“Diam,” ucap pria itu pelan. “Atau kupecahkan kepalamu.”

“Sekali lagi kau teriak,” lanjutnya datar, “pelurunya tidak akan meleset.”

Tubuh Jasmine melemas. Tak ada lagi perlawanan. Tak ada lagi suara.

Ia diseret masuk ke mobil hitam lain.

BRAK!

Pintu dibanting keras. Mesin menyala.

Dari balik kaca, Jasmine sempat melihat Martha merangkak ke arahnya. Tangan renta itu terulur gemetar.

“Nona—!” seru Martha lirih.

Air mata Jasmine jatuh saat mobil melesat pergi.

Dalam hitungan detik, kendaraan itu menghilang ke gelap malam. Meninggalkan jeritan, darah, tubuh-tubuh tergeletak di aspal, dan satu dunia yang runtuh di belakangnya.

.

.

Mansion Ravelli berdiri sunyi di tengah lahan luas yang dikelilingi pagar besi tinggi.

Sebuah mobil berhenti di depan bangunan mewah itu, lalu Jasmine ditarik keluar dari dalam sana. Kakinya lemas, kepalanya terasa kosong. Ia hampir terseret menaiki tangga marmer.

Begitu pintu utama terbuka—

DOR!

Letupan senjata menggema di dalam ruangan.

Jasmine tersentak.

Di tengah aula, seorang pria berlutut dengan kaki bersimbah darah. Wajahnya pucat, napasnya terengah. “Tuan… tolong ampuni kami—”

“Tidak ada ampun bagi pengkhianat.”

Suara itu memotong kalimatnya tanpa emosi.

Seorang pria berpostur tinggi atletis berdiri tak jauh dari sana. Setelan jas hitamnya sempurna, tanpa satu pun lipatan salah. Sepatu kulitnya mengkilap, kontras dengan darah yang mengotori lantai marmer.

Dia adalah Zein Von Ravelli, pewaris tunggal keluarga Ravelli.

Ia membuka kancing jasnya perlahan, satu per satu. Gerakannya tenang, seolah ruangan itu bukan tempat eksekusi, melainkan ruang rapat.

“Kalian bekerja untukku,” ucapnya datar. “Dan pengkhianatan hanya punya satu harga.”

Pria yang berlutut itu gemetar. “Tuan… kami terpaksa. Mereka—”

Zein mengangkat satu tangan. Gerakan kecil, namun cukup membungkam segalanya.

“Aturanku sederhana,” lanjutnya. “Aku tidak peduli alasan. Aku hanya peduli hasil.”

Ia mengangkat pistolnya kembali. Tangannya stabil, napasnya tenang.

DOR!

Seketika, kepala pria pertama terhempas ke samping. Tubuhnya roboh menghantam lantai, darah merah pekat menggenang di marmer putih.

Pria satunya menjerit panik, “Tuan! Ampuni saya—saya bersumpah—!”

Zein melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapannya. Menatap dari atas ke bawah.

“Seorang pengkhianat,” ucapnya pelan, “tidak bersumpah.”

DOR!

Suara letupan senjata kembali menggema, lalu sunyi jatuh menyelimuti ruangan.

Para anak buah berdiri tegak mengelilingi aula. Tak satu pun bergerak atau bereaksi. Mereka sudah terbiasa dengan pemandangan seperti ini. Namun tiba-tiba—

“Aaa...”

Jasmine yang sejak tadi membeku akhirnya menjerit, suaranya gemetar. Kakinya goyah.

Ia terhuyung ke belakang. Dunia di sekelilingnya berputar ketika pandangannya menangkap darah merah segar yang mengalir dan tubuh-tubuh tak bernyawa tergeletak di lantai marmer dingin.

Bruk.

Detik berikutnya, tubuh Jasmine ambruk ke lantai.

Zein menoleh. Pandangan dinginnya tertuju pada sosok gadis yang tergeletak tak sadarkan diri.

Sejenak ia terdiam, bukan karena terkejut, tapi karena ia mengenalnya. Putri dari pria yang telah menghancurkan keluarganya.

Tatapan kelam itu menajam saat ingatan 20 tahun lalu kembali berputar di kepalanya: api, darah, jeritan, dan satu nama yang tak pernah ia lupakan.

Zein melangkah mendekat, lalu mendadak berhenti sambil mengangkat sedikit kepalanya dan menarik napas pelan.

“Siapa yang pakai parfum—mawar vanilla?” tanyanya datar.

Tak ada jawaban. Anak buahnya saling berpandangan, bingung.

Zein terpaku sejenak, kemudian perlahan berjongkok di hadapan Jasmine. Ia menundukkan kepala sesaat, lalu mengendus singkat dada gadis itu. Tidak lama, hanya sepersekian detik.

Tatapannya langsung membeku.

“Dia,” ucapnya pelan.

Ia segera berdiri kembali. Wajahnya kembali dingin, sulit terbaca, namun rahangnya mengeras samar.

Ruangan tetap sunyi. Tak seorang pun berani bereaksi.

Zein berdehem pelan sebelum merapikan jasnya dengan tenang.

“Bawa dia ke kamar,” perintahnya singkat. “Sekarang.”

*****

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 66

    Dengan gerakan pasti, Zein melepas celana piyamanya tanpa ragu dan melemparkannya begitu saja, tak sabar melanjutkan permainan panas di pagi itu.Tanpa aba-aba, tubuhnya membungkuk, tangannya menyentuh kaki Jasmine yang putih dan halus, hendak membukanya lebar-lebar. Ia sudah tak tahan lagi, ingin segera merasakan dan memanjakan lipatan tersembunyi milik sang gadis yang sudah cukup basah itu. “Ah, Zein... kamu mau apa di sana?” suara Jasmine bergetar, terkejut. Jemarinya refleks menahan tangan Zein sambil merapatkan pahanya.Zein mengangkat wajah, tatapannya nakal.“Aku mau memberimu pengalaman yang bikin kamu melayang dan lupa dunia, Sayang,” bisiknya pelan namun menggoda.Dengan gerakan lembut, Zein kembali membuka kaki Jasmine dan melipat lututnya. Detik itu juga, matanya terpaku pada lipatan tersembunyi milik Jasmine yang putih mulus tanpa satu pun bulu. Napasnya tertahan sesaat, jakunnya naik turun saat menelan ludah, tak mampu mengalihkan pandangan dari keindahan lipatan sempi

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 65

    Jasmine seketika membuka matanya. Tatapannya segera bertemu dengan wajah Zein yang berada sangat dekat di depannya. Keduanya saling menatap, napas mereka masih saling bertabrakan, hangat, tersisa dari ciuman panjang barusan. Tak ada yang langsung bicara, hanya tatapan dan detak jantung yang sama-sama belum kembali normal. Tangan Zein yang semakin menjalar membuat Jasmine semakin menegang menahan setiap sentuhan itu, apalagi saat Zein menekan satu tonjolan di area sensitifnya di bawah sana.Udara di kamar itu semakin panas. “Boleh kan... aku sentuh ini?” tanya Zein dengan suara serak, sementara satu tangannya masih menyentuh lipatan yang kini sudah basah, seolah enggan melepaskan kehangatan yang terasa di telapak tangannya.Tatapan Jasmine meredup, campuran antara takut dan hasrat yang membuncah. Napasnya masih terengah, tapi akhirnya ia mengangguk pelan. Pagi ini Jasmine benar-benar tak ingin menghentikan semuanya. Ia mengizinkan Zein melakukan apa pun pada tubuhnya.Rencana yang s

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 64

    Nama itu terucap pelan, hampir seperti napas yang tertahan. Mata Jasmine membulat sempurna, bukan hanya karena terkejut, tapi juga karena apa yang kini terpampang di hadapannya terasa sangat nyata. Tubuh atletis itu bukan lagi sekadar bayangan samar di balik pakaian yang selama ini dikenakan Zein. Garis ototnya tegas. Perut sixpack yang selama ini hanya ia lihat di layar televisi pada aktor-aktor drama romantis yang selalu tampak sempurna dan tak tersentuh, sekarang ada tepat di depan matanya. Dekat dan nyata.Jasmine menelan ludah, tanpa sadar tatapannya turun perlahan mengikuti kontur tubuh Zein dengan rasa takjub yang bahkan tidak ia sembunyikan.Zein mengikuti arah pandang Jasmine. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Jangan tatap seperti itu,” gumamnya rendah.Jasmine tersentak, tapi tak benar-benar mengalihkan pandangannya. “Seperti apa?” tanyanya pelan, suara yang tadi tegas kini berubah lebih lembut. “Seperti kamu sedang menahan sesuatu.” Jantung Jasmine berdegup lebih cep

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 63

    Bibir Zein masih menempel erat pada bibir Jasmine yang mulai melebur bersama desahan dan napas beratnya. Tangannya cekatan menyusup ke dalam kain penyangga, menyentuh bantalan kenyal itu—meremas dan memilin ujung-ujung merah jambu dengan perlahan. Sesekali ia menahan napas, tenggelam dalam kehangatan yang mereka ciptakan bersama. “Enghh... Zein...” suara Jasmine terdengar lemah, nyaris tertahan. Tubuhnya makin tertarik, seolah larut dalam gelombang kenikmatan. Setiap sentuhan Zein yang menyusuri lekuk lembut itu membuat bulu kuduk Jasmine berdiri, jantungnya berdegup cepat, seakan melayang tanpa arah. Bibir Zein perlahan beranjak dari bibir Jasmine, berkeliling menyusuri seluruh wajah gadis itu—dari pipi yang hangat, rahang yang tegang, pelipis yang halus, hingga kening yang berkerut tipis—sebelum kembali menumpuk ke bibir manis itu dengan kecupan dan lumatan penuh rasa. “Ah, Zein...” desah Jasmine bergetar, suaranya menahan segala gelombang perasaan yang membuncah di dadanya.

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 62

    Jasmine mengerjap bingung. “Olahraga?” ulangnya pelan. “Pagi-pagi?” Zein hanya menatap gadis itu, sudut bibirnya terangkat samar. Tatapan itu membuat jantung Jasmine berdegup lebih cepat, bukan karena dia mengerti, tapi justru karena tidak mengerti sama sekali. “Iya,” jawab Zein santai. “Aktivitas yang bisa meningkatkan detak jantung. Melatih napas. Mengeluarkan keringat.” Jasmine langsung refleks melihat ke sekeliling kamar. “Kita tidak punya treadmill.” Zein terdiam sejenak, lalu tertawa rendah. Bukan tawa keras, tapi lebih seperti getaran hangat di dada yang masih sangat dekat dengan wajah Jasmine. “Kau pikir aku bicara soal alat?” “Ya memang olahraga pakai alat, kan? Atau lari pagi?” Jasmine tampak benar-benar berpikir keras. “Tapi... kamu tadi bilang sesuatu yang sudah jadi milikmu…” Ia berhenti sendiri. Pipi gadis itu mulai memerah perlahan. Zein menikmati setiap detik kebingungan itu. “Mine,” panggilnya lembut. Jasmine menoleh. “Detak jantungmu sudah naik

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 61

    Jasmine bisa merasakan napas hangat Zein menyentuh kulitnya. Tatapan pria itu gelap dan dalam, tanpa sedikit pun godaan. Tak ada ruang untuk bercanda.Jasmine ingin mundur, tapi dirinya sudah terkurung di antara tubuh Zein dan kasur. Pelukan Zein tidak menyakitkan, tapi hanya memastikan.Zein mengangkat satu tangan perlahan. Ujung jarinya menyentuh rambut Jasmine yang terurai di pipinya. Dengan gerakan hati-hati, ia menyibakkannya lalu menyelipkannya ke belakang telinga. Sentuhan itu lembut, seolah sedang merapikan sesuatu yang sangat berharga.“Kenapa kamu gemetar?” gumamnya pelan.Jasmine tidak menjawab, karena dirinya pun tak yakin apa yang membuat tubuhnya bergetar seperti itu. Bukan sepenuhnya takut, juga bukan sepenuhnya berani. Namun malam ini, Zein terasa berbeda—lebih tenang, lebih pasti. Dan itu jauh lebih mengguncang daripada sikap posesifnya sebelumnya.Perlahan, Zein menunduk. Bibirnya menyentuh pipi Jasmine, bukan sekadar kecupan ringan. Ia menahannya di sana sepersekian

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status