Share

BAB. 6

last update publish date: 2026-01-15 12:26:32

Pintu kamar itu akhirnya terbuka kembali.

Beberapa pelayan masuk dengan langkah hati-hati.

“Nona… mari. Kami akan membantu Anda bersiap,” ucap salah satu dari mereka pelan.

Jasmine hanya diam, lalu berbalik dan duduk di tepi ranjang. Matanya merah, rahangnya mengeras.

Para pelayan saling berpandangan. Tak ada yang berani menyentuhnya lebih dulu.

Beberapa detik berlalu, sampai akhirnya kelelahan mengalahkan perlawanan. Dengan gerakan kaku, Jasmine membiarkan mereka membantu.

Air hangat disiapkan di kamar mandi. Pakaian bersih, handuk, dan perlengkapan lain tersusun rapi seperti ritual sebelum hukuman.

Tak lama kemudian, Jasmine sudah berdiri di bawah shower. Air mengalir di kulitnya, tapi ekspresinya tetap kosong.

Beberapa saat setelah itu, ia sudah siap dan dibawa keluar kamar.

Lorong-lorong marmer membentang panjang dan sunyi. Lukisan-lukisan mahal serta lampu kristal menggantung, menjadi saksi bisu langkah seorang gadis yang sedang ditawan.

Ruang makan keluarga Ravelli terbuka lebar. Meja panjang penuh hidangan mewah, kontras dengan udara dingin di ruangan itu.

Zein sudah duduk di ujung meja. Tatapannya terangkat saat Jasmine masuk.

Pelayan menarikkan kursi di sampingnya.

“Duduk,” ucap Zein singkat.

Jasmine ragu sejenak, lalu menurut dan duduk. Tubuhnya kaku menempel di kursi.

Jarak mereka sangat dekat.

Tiba-tiba, Zein membeku. Tatapannya melirik singkat ke arah Jasmine. Refleks, rahangnya mengeras tipis dan hidungnya menghirup udara perlahan. Detik berikutnya, tubuhnya menegang, punggungnya tegak, lalu ia berdehem pelan, seperti menepis sesuatu yang mengganggu ketenangannya.

“Mulai makan,” perintahnya akhirnya.

Pelayan segera menata piring di depan Jasmine.

Aroma makanan hangat menyentuh hidungnya, dan perut Jasmine langsung bereaksi.

Lapar?

Tentu saja. Sejak kemarin Jasmine belum makan apa pun. Tapi ia tetap mendorong piring itu menjauh.

“Aku tidak mau,” katanya dingin. “Aku mau pulang.”

Zein melirik piring itu.

“Kau butuh makan.”

“Aku butuh kebebasan,” balas Jasmine cepat. “Bukan sarapan di rumah orang yang menculikku.”

Zein meraih gelas air di depannya dan menyesapnya perlahan, seolah ucapan Jasmine barusan hanya suara di kejauhan.

“Jangan buat hal sederhana jadi rumit,” katanya datar. “Makan.”

“Aku tidak mau!” Jasmine berdiri tiba-tiba. Kursinya bergeser keras di lantai marmer. “Kau tidak bisa memaksaku!”

Pandangan Zein terangkat.

Para pelayan langsung menahan napas.

“Duduk, Jasmine,” suara Zein terdengar rendah. Tidak keras atau mengancam, tapi cukup membuat ruangan terasa menyempit.

Jasmine menelan ludah, namun tetap enggan menurut.

“Aku bukan tawananmu. Aku bukan barang,” katanya dengan suara bergetar marah.

Tatapan Zein tak bergeser sedikit pun.

“Kau berada di rumahku,” katanya singkat. “Dan di rumah ini, semua mengikuti aturanku.”

Jasmine mengepalkan tangan.

“Kalau begitu lebih baik aku mati kelaparan daripada makan di meja orang sepertimu!”

Udara di ruangan itu seolah membeku.

Zein meletakkan gelasnya di meja. Bunyi kaca terdengar pelan, tapi berat.

“Jangan uji kesabaranku pagi-pagi,” katanya. Pandangannya tetap terkunci pada Jasmine. “Cepat makan.”

Jasmine mendengus, matanya memerah karena marah.

“Aku sudah bilang tidak mau!”

Tangannya bergerak lebih cepat dari pikirannya.

Piring itu terangkat, lalu—

PRANG!

Porselen mahal pecah di lantai marmer. Nasi dan saus berhamburan.

Para pelayan dan pengawal yang berdiri tak jauh tersentak kaget.

Zein perlahan berdiri. Gerakannya tenang, bahkan terlalu tenang.

“Kau baru saja merusak properti rumahku,” katanya datar.

“Bagus,” Jasmine membalas dengan napas terengah. “Biar kau tahu rasanya diperlakukan seperti barang!”

Zein melangkah maju.

Aura di sekelilingnya seketika berubah. Ruangan terasa semakin sempit, dan keberanian Jasmine langsung goyah.

“B-Baik… aku cuma—” Tatapan Jasmine melirik ke arah pintu.

“Kau tahu apa? Aku mau ke toilet.”

Sebelum siapa pun sempat mencerna kalimat itu, Jasmine sudah berbalik dan lari.

Tumitnya menghantam lantai marmer, gaunnya berkibar liar.

“HEI—! DIA KABUR!”

Suara para pelayan langsung pecah.

“Kejar dia!” bentak Zein tajam. “Bawa ke hadapanku. Sekarang.”

Pengawal-pengawal bergerak seperti robot pembunuh yang baru dinyalakan.

Jasmine terus berlari tanpa berani menoleh ke belakang.

Lorong-lorong mansion terbentang seperti labirin mewah yang kejam. Berbelok, bercabang, dan terasa terlalu luas bagi seseorang yang sedang panik dan tidak tahu arah.

“BERHENTI!” teriak seorang pengawal di belakangnya.

“Tidak!” Jasmine berteriak balik. “Aku belum siap mati di rumah orang gila!”

Gaunnya terlalu panjang. Tumitnya nyaris tersangkut di ujung kain berkali-kali, tapi adrenalin membuatnya terus melesat.

Ia membelok tajam, lalu—

BRAK!

Tubuhnya menabrak sebuah vas kristal raksasa.

PRANG!

Vas itu jatuh dan pecah. Air tumpah ke lantai, sementara kelopak anggrek hitam berhamburan di sekitarnya.

“Aduh!” pekik Jasmine. “Ya Tuhan—!”

Ia nyaris terpeleset, tapi berhasil menjaga keseimbangan dan lanjut berlari.

Satu pengawal di belakangnya tidak seberuntung dirinya.

GEDEBUK!

“Aaargh! Brengsek!”

Jasmine menoleh sekilas dan langsung nyengir panik, melihat pria itu jatuh terlentang di lantai.

“Ups… maaf...”

Ia lalu menerobos pintu samping dan masuk ke dapur.

Para koki menjerit melihat gadis berambut berantakan itu masuk seperti badai.

“Permisi! Darurat hidup dan mati!” teriak Jasmine sambil menyambar wajan. Ia mengangkatnya seperti senjata.

“Jangan ada yang maju! Aku… aku bisa masak—eh maksudku mukul!”

Dua pengawal berhenti ragu, tapi yang satu tetap maju. Jasmine langsung melemparkan wajan itu.

BUGH!

“Argh!”

Wajan menghantam wajah pria itu dengan keras, lalu memantul ke lantai.

“Maaf refleks!” teriak Jasmine sambil kabur lewat pintu samping dapur.

Langkahnya semakin berat, napasnya memburu.

“Ya Tuhan… ya Tuhan… aku tidak mau mati…” gumamnya sambil sesekali menoleh ke belakang.

Ia terus berlari. Lorong berikutnya terbuka. Dan—

BRUG!

Jasmine menabrak sesuatu yang keras.

“Ah! Sakit—!”

****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 110

    Sendok terakhir diletakkan perlahan. Jasmine menarik napas kecil, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Namun matanya tetap tertuju pada Martha, seolah tidak ingin kehilangan satu detik pun. Jeda beberapa detik, lalu Jasmine tiba-tiba berdiri. Gerakannya cepat dan antusias. “Ayo, Bibi!” katanya, suaranya langsung hidup, penuh semangat. “Ke kamarku. Kita ngobrol di sana.” Ia bahkan sudah menarik pergelangan tangan Martha sedikit. “Aku mau cerita banyak… dan aku juga mau dengar semua cerita dari Bibi. Aku akan tunjukkan kamarku juga—” “Nanti, ya Nona.” Kata-kata itu memotong dengan lembut, namun cukup untuk membuat langkah Jasmine terhenti. Jasmine menoleh cepat. “Maksudnya…?” Martha tersenyum kecil. Ada rasa bersalah di sana, tapi juga ketegasan. “Tidak sekarang, Nona…” Jasmine mengerutkan kening. “Tapi—” “Saya masih ada pekerjaan,” lanjut Martha pelan. “Tuan Zein sudah memberikan saya kesempatan bekerja di sini… saya tidak boleh menyia-nyiakannya.” Nada suarany

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 109

    Martha terdiam beberapa detik, lalu menggeleng pelan.“Bukan sekarang, Nona…”Jasmine langsung mengerutkan kening.“Kenapa?”Martha tersenyum lembut.“Akan saya ceritakan… nanti.”“Tapi Bi—”“Sekarang…” Martha menepuk pelan punggung tangan Jasmine, “…lebih baik Nona sarapan dulu.”Jasmine menatap Martha tidak percaya.“Aku tidak mau makan,” katanya cepat. “Aku cuma mau bicara sama Bibi.”“Jasmine...”Zein yang sejak tadi hanya dia, akhirnya mulai membuka suara. Nadanya tenang dan rendah, namun cukup untuk membuat Jasmine menoleh padanya.Zein melangkah mendekat.“Sarapan dulu,” ujarnya singkat sambil mengusap lembut puncak kepala Jasmine, penuh sayang.Jasmine menatapnya, masih ada sisa rasa penasaran di matanya.“Kamu tahu sesuatu, kan?” tanyanya langsung pada Zein. “Kamu harus jelasin ini—”“Iya, Sayang... nanti,” potong Zein tanpa menaikkan suara. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke Martha.“Bagaimana menurutmu, Martha?”Martha sedikit menunduk, lalu menjawab pelan, “Benar sekali,

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 108

    Jasmine menggeleng pelan, lalu matanya melebar seketika.“B-Bi Martha?” suaranya jatuh pelan, tidak percaya.Wanita tua itu menatapnya dengan lembut, tatapan itu benar-benar sama seperti dulu.“Iya…” jawabnya pelan. “Ini saya, Nona Jasmine.”Hening.Jasmine terdiam, tidak langsung mendekat, tidak langsung percaya.Tangannya perlahan terangkat, mengucek matanya berkali-kali, lalu berkedip cepat, menatap kembali. Ia takut pandangannya mengabur lagi seperti kemarin dan salah mengenali orang.Namun wajah itu tetap sama. Tidak mengabur, tidak hilang. Itu Nyata.“Tidak mungkin…” bisiknya. Dadanya mulai sesak. “Ini… bukan mimpi… kan…?”Martha tidak menjawab dengan kata-kata.Hanya menatap Jasmine dengan mata yang juga mulai berkaca-kaca.Detik berikutnya, air mata Jasmine jatuh tanpa bisa ditahan.“Bi Martha…!”Ia langsung berlari, memeluk wanita itu erat, seolah takut sosok itu akan menghilang jika dilepaskan.Martha membalas pelukan itu dengan sama eratnya, tangannya mengusap punggung Jasm

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 107

    Malam sudah larut saat mobil hitam itu memasuki halaman mansion. Lampu-lampu taman menyala redup, memantulkan bayangan panjang di jalan setapak. Suasana sunyi, hanya beberapa pengawal yang berjaga. Mobil berhenti. Liam turun lebih dulu, lalu membuka pintu belakang. Zein keluar tanpa banyak bicara. Wajahnya kembali seperti biasa—tenang, dingin, dan tidak terbaca. Tidak ada sisa emosi yang sempat muncul di markas tadi. “Tuan,” ucap Liam singkat. Zein melangkah satu langkah, lalu berhenti. “Besok pagi,” katanya tanpa menoleh, “bawa dia ke mansion.” Liam tidak langsung menjawab, tapi hanya dalam satu detik ia mengerti. “Baik, Tuan.”Zein mengangguk tipis. Tanpa berkata lagi, ia melangkah masuk ke dalam mansion. Lorong panjang itu kembali menyambutnya dengan keheningan.Langkahnya pelan dan terukur, tapi kali ini ada tujuan yang lebih jelas. Tanpa singgah ke mana pun, ia langsung menuju lantai dua mansion itu—ke satu tempat, ke satu orang. Pintu kamar di hadapannya terbuka per

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 106

    Beberapa hari kemudian...Siang merambat pelan di balik dinding kaca tebal. Langit tampak cerah, tapi kehangatan itu seolah tidak pernah benar-benar masuk ke dalam ruangan itu.Ruang kerja Zein di markas Blackthorne Syndicate tetap sama seperti biasa—hening, rapi, dan dingin.Di balik meja besar berlapis kayu gelap, Zein duduk tegak. Jasnya masih sempurna, seolah waktu tidak pernah menyentuhnya sejak pagi.Beberapa berkas terbuka di hadapannya. Dokumen kerja sama, angka-angka, nama-nama sekutu, dan tanda tangan yang nilainya jauh melampaui sekadar bisnis.Zein menelusuri satu halaman dari berkas terakhir. Tatapannya bergerak perlahan, baris demi baris, tajam, teliti, tidak ada yang terlewat satu pun.Ujung jarinya mengetuk pelan permukaan meja. Sekali, dua kali, lalu berhenti. Seolah keputusan sudah terbentuk bahkan sebelum seluruh isi dokumen selesai dibaca.Keheningan menggantung, hanya suara halus kertas yang bergeser, lalu tiba-tiba pintu terbuka dari luar tanpa suara berlebihan.

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 105

    Jasmine terdiam beberapa detik.Tatapannya bertemu dengan mata Zein yang masih menatapnya—dalam, tanpa berpaling, seolah benar-benar menunggu. Ada sesuatu di sana, lembut namun juga tidak mau kalah.Jasmine menghela napas pelan.“Dasar kamu…” gumamnya lirih.Namun pada akhirnya, ia menunduk.Cup.Bibirnya menyentuh pipi Zein singkat, hangat, dan seharusnya cukup. Namun, Zein tidak menjauh, justru sudut bibirnya terangkat tipis.“Bukan di situ, Sayang...”Jasmine langsung mengernyit.“Zein kamu itu—”Zein menggeleng pelan, memotong kalimat Jasmine. Matanya tidak lepas darinya.“Yang ini,” katanya sambil tatapannya turun ke bibir Jasmine.Jasmine tercekat.“Nakal.”“Serius.”Jasmine menatap Zein beberapa detik, seperti sedang menimbang, atau mungkin hanya pura-pura bertahan. Namun pada akhirnya, ia menyerah.Perlahan, Jasmine mendekat. Jarak di antara mereka menghilang sedikit demi sedikit. Napas mereka bersentuhan hangat, dekat, dan saat bibir mereka akhirnya bertemu, tidak ada keragua

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 30

    Ruang kerja Zein di markas diselimuti sunyi yang pekat, sunyi yang hanya akrab bagi orang-orang yang terbiasa memikul kekuasaan gelap sendirian.Zein duduk di balik mejanya, menatap sebuah tablet yang menyala di hadapannya. Layar itu menampilkan beberapa sudut yang tak pernah berubah selama sebulan

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 24

    Di hadapannya, tiga pria duduk santai di sofa kulit hitam. Meja rendah di depan mereka dipenuhi botol minuman mahal, sebagian kosong, sebagian lagi tinggal setengah. Asap tipis rokok menggantung di udara, bercampur aroma alkohol dan sesuatu yang membuat tengkuk Jasmine meremang.Tiga pasang mata me

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 28

    Pintu kamar tertutup perlahan di belakang Maria. Bunyi klik pelan nyaris tenggelam dalam keheningan. Lampu kamar menyala redup, cukup terang untuk melihat, namun cukup temaram untuk menyembunyikan luka yang belum siap diperlihatkan.Maria berhenti sejenak di dekat pintu.Di dalam sana, Jasmine masi

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 26

    BUGH! BUGH!Zein langsung menerjang. Tinju-tinjunya menghantam wajah pria itu tanpa ampun, brutal, penuh amarah yang tak lagi disaring. Darah muncrat dari mulut pria itu, tubuhnya terguling tak berdaya.“Brengsek kau, Zein!” teriak dua pria lainnya bersamaan. Mereka bergerak maju, tidak terima meli

    last updateLast Updated : 2026-03-20
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status