INICIAR SESIÓNPintu kamar itu akhirnya terbuka kembali.
Beberapa pelayan masuk dengan langkah hati-hati. “Nona… mari. Kami akan membantu Anda bersiap,” ucap salah satu dari mereka pelan. Jasmine hanya diam, lalu berbalik dan duduk di tepi ranjang. Matanya merah, rahangnya mengeras. Para pelayan saling berpandangan. Tak ada yang berani menyentuhnya lebih dulu. Beberapa detik berlalu, sampai akhirnya kelelahan mengalahkan perlawanan. Dengan gerakan kaku, Jasmine membiarkan mereka membantu. Air hangat disiapkan di kamar mandi. Pakaian bersih, handuk, dan perlengkapan lain tersusun rapi seperti ritual sebelum hukuman. Tak lama kemudian, Jasmine sudah berdiri di bawah shower. Air mengalir di kulitnya, tapi ekspresinya tetap kosong. Beberapa saat setelah itu, ia sudah siap dan dibawa keluar kamar. Lorong-lorong marmer membentang panjang dan sunyi. Lukisan-lukisan mahal serta lampu kristal menggantung, menjadi saksi bisu langkah seorang gadis yang sedang ditawan. Ruang makan keluarga Ravelli terbuka lebar. Meja panjang penuh hidangan mewah, kontras dengan udara dingin di ruangan itu. Zein sudah duduk di ujung meja. Tatapannya terangkat saat Jasmine masuk. Pelayan menarikkan kursi di sampingnya. “Duduk,” ucap Zein singkat. Jasmine ragu sejenak, lalu menurut dan duduk. Tubuhnya kaku menempel di kursi. Jarak mereka sangat dekat. Tiba-tiba, Zein membeku. Tatapannya melirik singkat ke arah Jasmine. Refleks, rahangnya mengeras tipis dan hidungnya menghirup udara perlahan. Detik berikutnya, tubuhnya menegang, punggungnya tegak, lalu ia berdehem pelan, seperti menepis sesuatu yang mengganggu ketenangannya. “Mulai makan,” perintahnya akhirnya. Pelayan segera menata piring di depan Jasmine. Aroma makanan hangat menyentuh hidungnya, dan perut Jasmine langsung bereaksi. Lapar? Tentu saja. Sejak kemarin Jasmine belum makan apa pun. Tapi ia tetap mendorong piring itu menjauh. “Aku tidak mau,” katanya dingin. “Aku mau pulang.” Zein melirik piring itu. “Kau butuh makan.” “Aku butuh kebebasan,” balas Jasmine cepat. “Bukan sarapan di rumah orang yang menculikku.” Zein meraih gelas air di depannya dan menyesapnya perlahan, seolah ucapan Jasmine barusan hanya suara di kejauhan. “Jangan buat hal sederhana jadi rumit,” katanya datar. “Makan.” “Aku tidak mau!” Jasmine berdiri tiba-tiba. Kursinya bergeser keras di lantai marmer. “Kau tidak bisa memaksaku!” Pandangan Zein terangkat. Para pelayan langsung menahan napas. “Duduk, Jasmine,” suara Zein terdengar rendah. Tidak keras atau mengancam, tapi cukup membuat ruangan terasa menyempit. Jasmine menelan ludah, namun tetap enggan menurut. “Aku bukan tawananmu. Aku bukan barang,” katanya dengan suara bergetar marah. Tatapan Zein tak bergeser sedikit pun. “Kau berada di rumahku,” katanya singkat. “Dan di rumah ini, semua mengikuti aturanku.” Jasmine mengepalkan tangan. “Kalau begitu lebih baik aku mati kelaparan daripada makan di meja orang sepertimu!” Udara di ruangan itu seolah membeku. Zein meletakkan gelasnya di meja. Bunyi kaca terdengar pelan, tapi berat. “Jangan uji kesabaranku pagi-pagi,” katanya. Pandangannya tetap terkunci pada Jasmine. “Cepat makan.” Jasmine mendengus, matanya memerah karena marah. “Aku sudah bilang tidak mau!” Tangannya bergerak lebih cepat dari pikirannya. Piring itu terangkat, lalu— PRANG! Porselen mahal pecah di lantai marmer. Nasi dan saus berhamburan. Para pelayan dan pengawal yang berdiri tak jauh tersentak kaget. Zein perlahan berdiri. Gerakannya tenang, bahkan terlalu tenang. “Kau baru saja merusak properti rumahku,” katanya datar. “Bagus,” Jasmine membalas dengan napas terengah. “Biar kau tahu rasanya diperlakukan seperti barang!” Zein melangkah maju. Aura di sekelilingnya seketika berubah. Ruangan terasa semakin sempit, dan keberanian Jasmine langsung goyah. “B-Baik… aku cuma—” Tatapan Jasmine melirik ke arah pintu. “Kau tahu apa? Aku mau ke toilet.” Sebelum siapa pun sempat mencerna kalimat itu, Jasmine sudah berbalik dan lari. Tumitnya menghantam lantai marmer, gaunnya berkibar liar. “HEI—! DIA KABUR!” Suara para pelayan langsung pecah. “Kejar dia!” bentak Zein tajam. “Bawa ke hadapanku. Sekarang.” Pengawal-pengawal bergerak seperti robot pembunuh yang baru dinyalakan. Jasmine terus berlari tanpa berani menoleh ke belakang. Lorong-lorong mansion terbentang seperti labirin mewah yang kejam. Berbelok, bercabang, dan terasa terlalu luas bagi seseorang yang sedang panik dan tidak tahu arah. “BERHENTI!” teriak seorang pengawal di belakangnya. “Tidak!” Jasmine berteriak balik. “Aku belum siap mati di rumah orang gila!” Gaunnya terlalu panjang. Tumitnya nyaris tersangkut di ujung kain berkali-kali, tapi adrenalin membuatnya terus melesat. Ia membelok tajam, lalu— BRAK! Tubuhnya menabrak sebuah vas kristal raksasa. PRANG! Vas itu jatuh dan pecah. Air tumpah ke lantai, sementara kelopak anggrek hitam berhamburan di sekitarnya. “Aduh!” pekik Jasmine. “Ya Tuhan—!” Ia nyaris terpeleset, tapi berhasil menjaga keseimbangan dan lanjut berlari. Satu pengawal di belakangnya tidak seberuntung dirinya. GEDEBUK! “Aaargh! Brengsek!” Jasmine menoleh sekilas dan langsung nyengir panik, melihat pria itu jatuh terlentang di lantai. “Ups… maaf...” Ia lalu menerobos pintu samping dan masuk ke dapur. Para koki menjerit melihat gadis berambut berantakan itu masuk seperti badai. “Permisi! Darurat hidup dan mati!” teriak Jasmine sambil menyambar wajan. Ia mengangkatnya seperti senjata. “Jangan ada yang maju! Aku… aku bisa masak—eh maksudku mukul!” Dua pengawal berhenti ragu, tapi yang satu tetap maju. Jasmine langsung melemparkan wajan itu. BUGH! “Argh!” Wajan menghantam wajah pria itu dengan keras, lalu memantul ke lantai. “Maaf refleks!” teriak Jasmine sambil kabur lewat pintu samping dapur. Langkahnya semakin berat, napasnya memburu. “Ya Tuhan… ya Tuhan… aku tidak mau mati…” gumamnya sambil sesekali menoleh ke belakang. Ia terus berlari. Lorong berikutnya terbuka. Dan— BRUG! Jasmine menabrak sesuatu yang keras. “Ah! Sakit—!” ****Dengan gerakan pasti, Zein melepas celana piyamanya tanpa ragu dan melemparkannya begitu saja, tak sabar melanjutkan permainan panas di pagi itu.Tanpa aba-aba, tubuhnya membungkuk, tangannya menyentuh kaki Jasmine yang putih dan halus, hendak membukanya lebar-lebar. Ia sudah tak tahan lagi, ingin segera merasakan dan memanjakan lipatan tersembunyi milik sang gadis yang sudah cukup basah itu. “Ah, Zein... kamu mau apa di sana?” suara Jasmine bergetar, terkejut. Jemarinya refleks menahan tangan Zein sambil merapatkan pahanya.Zein mengangkat wajah, tatapannya nakal.“Aku mau memberimu pengalaman yang bikin kamu melayang dan lupa dunia, Sayang,” bisiknya pelan namun menggoda.Dengan gerakan lembut, Zein kembali membuka kaki Jasmine dan melipat lututnya. Detik itu juga, matanya terpaku pada lipatan tersembunyi milik Jasmine yang putih mulus tanpa satu pun bulu. Napasnya tertahan sesaat, jakunnya naik turun saat menelan ludah, tak mampu mengalihkan pandangan dari keindahan lipatan sempi
Jasmine seketika membuka matanya. Tatapannya segera bertemu dengan wajah Zein yang berada sangat dekat di depannya. Keduanya saling menatap, napas mereka masih saling bertabrakan, hangat, tersisa dari ciuman panjang barusan. Tak ada yang langsung bicara, hanya tatapan dan detak jantung yang sama-sama belum kembali normal. Tangan Zein yang semakin menjalar membuat Jasmine semakin menegang menahan setiap sentuhan itu, apalagi saat Zein menekan satu tonjolan di area sensitifnya di bawah sana.Udara di kamar itu semakin panas. “Boleh kan... aku sentuh ini?” tanya Zein dengan suara serak, sementara satu tangannya masih menyentuh lipatan yang kini sudah basah, seolah enggan melepaskan kehangatan yang terasa di telapak tangannya.Tatapan Jasmine meredup, campuran antara takut dan hasrat yang membuncah. Napasnya masih terengah, tapi akhirnya ia mengangguk pelan. Pagi ini Jasmine benar-benar tak ingin menghentikan semuanya. Ia mengizinkan Zein melakukan apa pun pada tubuhnya.Rencana yang s
Nama itu terucap pelan, hampir seperti napas yang tertahan. Mata Jasmine membulat sempurna, bukan hanya karena terkejut, tapi juga karena apa yang kini terpampang di hadapannya terasa sangat nyata. Tubuh atletis itu bukan lagi sekadar bayangan samar di balik pakaian yang selama ini dikenakan Zein. Garis ototnya tegas. Perut sixpack yang selama ini hanya ia lihat di layar televisi pada aktor-aktor drama romantis yang selalu tampak sempurna dan tak tersentuh, sekarang ada tepat di depan matanya. Dekat dan nyata.Jasmine menelan ludah, tanpa sadar tatapannya turun perlahan mengikuti kontur tubuh Zein dengan rasa takjub yang bahkan tidak ia sembunyikan.Zein mengikuti arah pandang Jasmine. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Jangan tatap seperti itu,” gumamnya rendah.Jasmine tersentak, tapi tak benar-benar mengalihkan pandangannya. “Seperti apa?” tanyanya pelan, suara yang tadi tegas kini berubah lebih lembut. “Seperti kamu sedang menahan sesuatu.” Jantung Jasmine berdegup lebih cep
Bibir Zein masih menempel erat pada bibir Jasmine yang mulai melebur bersama desahan dan napas beratnya. Tangannya cekatan menyusup ke dalam kain penyangga, menyentuh bantalan kenyal itu—meremas dan memilin ujung-ujung merah jambu dengan perlahan. Sesekali ia menahan napas, tenggelam dalam kehangatan yang mereka ciptakan bersama. “Enghh... Zein...” suara Jasmine terdengar lemah, nyaris tertahan. Tubuhnya makin tertarik, seolah larut dalam gelombang kenikmatan. Setiap sentuhan Zein yang menyusuri lekuk lembut itu membuat bulu kuduk Jasmine berdiri, jantungnya berdegup cepat, seakan melayang tanpa arah. Bibir Zein perlahan beranjak dari bibir Jasmine, berkeliling menyusuri seluruh wajah gadis itu—dari pipi yang hangat, rahang yang tegang, pelipis yang halus, hingga kening yang berkerut tipis—sebelum kembali menumpuk ke bibir manis itu dengan kecupan dan lumatan penuh rasa. “Ah, Zein...” desah Jasmine bergetar, suaranya menahan segala gelombang perasaan yang membuncah di dadanya.
Jasmine mengerjap bingung. “Olahraga?” ulangnya pelan. “Pagi-pagi?” Zein hanya menatap gadis itu, sudut bibirnya terangkat samar. Tatapan itu membuat jantung Jasmine berdegup lebih cepat, bukan karena dia mengerti, tapi justru karena tidak mengerti sama sekali. “Iya,” jawab Zein santai. “Aktivitas yang bisa meningkatkan detak jantung. Melatih napas. Mengeluarkan keringat.” Jasmine langsung refleks melihat ke sekeliling kamar. “Kita tidak punya treadmill.” Zein terdiam sejenak, lalu tertawa rendah. Bukan tawa keras, tapi lebih seperti getaran hangat di dada yang masih sangat dekat dengan wajah Jasmine. “Kau pikir aku bicara soal alat?” “Ya memang olahraga pakai alat, kan? Atau lari pagi?” Jasmine tampak benar-benar berpikir keras. “Tapi... kamu tadi bilang sesuatu yang sudah jadi milikmu…” Ia berhenti sendiri. Pipi gadis itu mulai memerah perlahan. Zein menikmati setiap detik kebingungan itu. “Mine,” panggilnya lembut. Jasmine menoleh. “Detak jantungmu sudah naik
Jasmine bisa merasakan napas hangat Zein menyentuh kulitnya. Tatapan pria itu gelap dan dalam, tanpa sedikit pun godaan. Tak ada ruang untuk bercanda.Jasmine ingin mundur, tapi dirinya sudah terkurung di antara tubuh Zein dan kasur. Pelukan Zein tidak menyakitkan, tapi hanya memastikan.Zein mengangkat satu tangan perlahan. Ujung jarinya menyentuh rambut Jasmine yang terurai di pipinya. Dengan gerakan hati-hati, ia menyibakkannya lalu menyelipkannya ke belakang telinga. Sentuhan itu lembut, seolah sedang merapikan sesuatu yang sangat berharga.“Kenapa kamu gemetar?” gumamnya pelan.Jasmine tidak menjawab, karena dirinya pun tak yakin apa yang membuat tubuhnya bergetar seperti itu. Bukan sepenuhnya takut, juga bukan sepenuhnya berani. Namun malam ini, Zein terasa berbeda—lebih tenang, lebih pasti. Dan itu jauh lebih mengguncang daripada sikap posesifnya sebelumnya.Perlahan, Zein menunduk. Bibirnya menyentuh pipi Jasmine, bukan sekadar kecupan ringan. Ia menahannya di sana sepersekian







