Share

Jerat Obsesi.

Author: Azzurra
last update Last Updated: 2025-12-29 20:31:46
Setelah dari Rumah Sakit.

Angga mengantar Kinanti sampai ke dalam kamar. Langkahnya pelan, mengimbangi langkah Kinanti. "Mau mandi dulu atau mau langsung istirahat?"

Kinanti menatapnya sebentar. Ada lelah yang belum sepenuhnya hilang dari mata Angga, tetapi ada kegelisahan di sana.

"Aku mandi dulu aja, Mas."

"Tadi udah mandi di Rumah sakit."

“Istirahat ya,” ucap Angga lembut. “Jangan mikirin apa-apa dulu. Biar aku aja yang mikir, kamu bahagia aja biar dedek bayinya bahagia.”

Kinanti mengangguk. “Kamu juga jangan kecapekan.”

Angga tersenyum tipis. Ia mengecup kening Kinanti sebelum berbalik menuju pintu. Begitu pintu kamar tertutup, senyum itu menghilang. Wajahnya kembali dingin, sekeras pikirannya saat ini.

Ia menuruni anak tangga dan menuju dapur. Darmi sedang berdiri di sana, tangannya sibuk membereskan gelas.

“Mbok,” ujar Angga pelan tapi tegas, “Nanti kalau Gerry datang, antar langsung ke ruang kerja.”

Darmi menoleh, menangkap keseriusan di mata majikannya. “Ba
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Kecurigaan Kinanti.

    Matahari terasa cerah, bukan hanya karena cahaya yang menembus jendela, tetapi juga karena suasana hati Kinanti. Ia berdiri di hadapan Angga, merapikan dasi di leher suaminya dengan gerakan telaten. Tangan Angga sudah jauh membaik. Gips itu memang telah dilepas, meski lengannya masih ditopang pengait yang melingkar di leher. Namun sorot matanya kembali utuh—tegas dan hidup. “Pak Angga makin tampan saja,” goda Kinanti sambil tersenyum. Angga menunduk sedikit, membalas senyum itu. Kinanti meraih wajah lelaki di hadapannya lalu mengecup bibir Angga singkat. Awalnya hanya sekilas, tapi Angga tak segera melepaskan. Tangannya yang sehat melingkar di pinggang Kinanti, menahan tubuh itu lebih dekat. “Mas …” Kinanti tertawa kecil ketika Angga memperpanjang ciuman. Saat akhirnya Angga melepasnya, Kinanti memukul pelan dada suaminya. “Selalu begitu,” keluhnya manja. Namun Angga justru semakin merapat, membuat Kinanti menggeliat kecil

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Kegelisahan

    Setelah Lisa meninggalkan meja makan, suasana ruang makan kembali sunyi. Kinanti masih duduk di kursinya. Tangannya terlipat di atas meja, matanya mengikuti punggung Lisa yang menjauh hingga tak lagi terlihat. Ia tahu—sejak awal Angga tidak benar-benar menginginkan situasi ini. Tapi jangan lah bersikap seperti itu di hadapan Lisa. Ia menoleh ke arah suaminya. “Mas…” Kinanti membuka suara pelan. “Maaf ya kalau kamu jadi nggak nyaman.” Angga diam beberapa detik. Lalu ia menoleh, tatapannya singkat, datar. “Udah malam. Kamu istirahat aja,” katanya. “Aku masih banyak kerjaan.” Ia berdiri, menarik kursinya pelan agar tak menimbulkan suara berisik. Kinanti ikut bangkit. “Mas, kamu marah?” Angga berhenti melangkah, tapi tidak menoleh. “Kalau kamu dari awal nggak mau terima Lisa, bilang aja,” lanjut Kinanti, suaranya mulai bergetar halus. “Jangan begini. Aku jadi nggak enak sama semua orang.”

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Satu Meja Makan.

    Ningsih membuka pintu dan mempersilahkan Lisa masuk dengan senyum sopan. “Silakan masuk, Non. Non Kinanti sebentar lagi turun." Lisa melangkah masuk perlahan. Begitu kakinya menapak lantai rumah itu, matanya langsung berkelana, memindai setiap sudut yang tertangkap pandangan. Ruang tamu yang luas, tata letak yang rapi, pencahayaan alami yang jatuh lembut—semuanya terasa hangat, elegan, dan hidup. Hatinya berdecak kagum. "Keren banget kamu, Ki. Bisa tinggal di rumah kaya begini." Rumah yang selama ini hanya ia dengar dari bayangan Lisa, kini dia berdiri nyata di hadapannya. Bukan sekadar besar atau mewah, tapi terasa penuh—seolah setiap sudutnya menyimpan kebahagiaan yang selama ini asing baginya. Lisa masih terpana ketika sebuah suara lembut memanggil namanya. “Lisa?” Ia tersentak kecil. Menoleh. Kinanti berdiri beberapa langkah darinya, tersenyum hangat seperti biasa. Tak ada raut curiga di wajah

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Melepas kegundahan.

    Pagi itu garasi rumah tampak lebih ramai dari biasanya. Beberapa koper besar tersusun rapi di belakang mobil, sementara kantong-kantong berisi oleh-oleh memenuhi hampir seluruh bagasi. Angga memastikan semuanya tertata dengan baik, sementara Kinanti berdiri di sampingnya, memperhatikan dengan wajah yang terlihat lebih cerah dari hari-hari sebelumnya. Ada cahaya berbeda di mata Kinanti. Lebih ringan. Lebih bahagia. Angga bahagia melihat Kinanti bahagia, tetapi bukan kebahagiaan seperti ini yang Angga ingin, lelaki ini menginginkan Kinanti lepas dari keterikatan dengan masa lalu, apalagi dengan wanita bernama Lisa. “Kebanyakan nggak sih?” tanya Kinanti sambil tersenyum kecil. Angga menutup bagasi dan menoleh. “Buat keluarga, mana pernah kebanyakan.” Kinanti tertawa pelan. Ia meraih tangan Angga, menggenggamnya erat, seolah ingin menyimpan perasaan bahagia itu lebih lama. "Nanti susah nggak di bandara, harus di bayar kargo juga." Kinanti merasa tak enak. "Nggak apa-apa, buat kamu

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Permintaan.

    Lisa baru saja melangkah masuk ke dalam rumah ketika pintu di belakangnya terbuka kasar. Ia bahkan belum sempat mengunci kenopnya. Bram berdiri di ambang pintu. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras, matanya menatap Lisa tanpa berkedip. “Kamu dari mana?” Nada suaranya dingin, tapi amarahnya terasa jelas. Lisa refleks menoleh. Jantungnya berdegup lebih cepat, tapi ia memaksa wajahnya tetap tenang. “Keluar sebentar,” jawabnya ringan. “Aku butuh udara.” Bram melangkah masuk dan menutup pintu dengan hentakan keras. “Keluar sebentar ke mana?” Lisa meletakkan tasnya, sengaja memperlambat gerakan agar terlihat biasa. “Ngopi. Ketemu teman.” “Teman siapa?” Bram mendekat satu langkah. Lisa menegakkan bahunya. “Teman lama. Apakah semua kegiatanku harus kamu ketahui?" Lisa menantang matahari Bram. Hening menggantung di antara mereka. Bram menatap Lisa lekat-lekat, seolah mencoba membaca sesuatu di balik wajah yang kini terlalu berhati-hati. Matanya bergerak dari mata Lisa, ke bibir, lalu

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Memulai permainan

    Lisa menarik napas panjang sebelum mulai bicara. Tangannya masih saling menggenggam di pangkuan, jemarinya dingin. perlahan dia menatap Gerry, nafasnya menghela pelan. “Aku yakin kamu mengetahui kecelakaan Pak Angga adalah sabotase." Mereka saling tatap, Gerry masih tetap diam tak bergeming. Lagi Lisa menghela nafas. "Bram nyuruh aku masuk ke rumah tangga Kinanti,” ucapnya akhirnya, suaranya lirih tapi jelas. “Bukan cuma buat cari celah … tapi buat menjebak mereka.” Gerry masih tidak menyela. Ia hanya berdiri di dekat jendela, menyandarkan tubuhnya, masih terus menatap Lisa mendengarkan dengan penuh perhatian. “Dia pengin aku bikin Kinanti ragu terhadap Pak Angga.” lanjut Lisa. “Bikin Angga kelihatan bersalah. Pelan-pelan. Supaya rumah tangga mereka retak dari dalam.” Lisa menunduk. “Dan kalau sudah hancur … Bram mau ambil semuanya. Usaha, nama baik … bahkan hidup Kinanti. Dia tak mau berhenti, sepertinya dia benar-benar penuh obsesi.” Hening, tak ada tanggapan dari Ger

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status