로그인“Ki,” Nindia mendekati meja kerja Kinanti. “Lo udah denger gosip kantor belum?”
“gosip apa lagi? Up date banget Maslah gosip.” Pak Angga katanya mau di oper ke Jogja, emang pak Angga blm ngomong?” Kinanti menggeleng, pasalnya tadi pagi dia kesiangan, berangkat ke kantor pun grasa grusu, begitu bangun cepat-cepat mandi menyiapkan pakaian Angga Sarpan dan berangkat. Padahal Angga tetap saja selalu dalam mode santai. Hanya Kinanti yang terlihat cKamar rawat itu kini tak lagi berbau kecemasan. Cahaya matahari pagi masuk lewat celah tirai, menyentuh wajah Lisa yang sudah jauh lebih segar dibanding hari-hari pertama. Lehernya masih ditopang penyangga, bibirnya menyisakan bekas luka, tapi matanya—mata itu—kini lebih jernih. Pintu diketuk pelan. “Lis?” suara Kinanti terdengar lembut. Lisa menoleh. Senyum kecil terbit di wajahnya. "Kinanti…” Kinanti masuk perlahan. Angga mengizinkannya datang sendiri hari ini, dengan satu pesan singkat, jangan terlalu capek, jaga nafasmu, tetap dalam keadaan sadar pada nafas." Kinanti duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Lisa yang terasa lebih hangat dari sebelumnya. “Gimana rasanya hari ini?” tanya Kinanti. “Lebih baik,” jawab Lisa jujur. “Dan… lebih tenang," tanya Kinanti. Lisa mengangguk senyumnya terpancar ketenangan. “Bram sudah ditahan. Semua sudah selesai.” Lisa menghela napas panjang, seperti melepaskan beban bertahun-tahun. “Waktu aku dengar itu,” katanya pe
Angga berdiri beberapa langkah dari ranjang. Tatapannya tak lepas dari sosok Lisa yang terbaring lemah. Dadanya terasa sesak—bukan karena simpati berlebihan, tapi karena ia tahu tak satu pun manusia pantas menerima perlakuan seperti itu. Ia mengalihkan pandangan. Tangannya menyentuh pundak Kinanti dengan lembut. “Ki… aku tunggu di depan,” ucapnya pelan. Kinanti menoleh, mengangguk kecil. Angga pun melangkah keluar kamar, menutup pintu perlahan di belakangnya. Begitu berada di lorong, wajah Angga berubah. Ia meraih ponselnya, menekan nomor yang sudah tertera di aplikasi pesan. “Ger,” ucapnya begitu sambungan tersambung. Suaranya rendah—dingin. “Kerahkan orang.” Di seberang sana, Gerry langsung siaga. “Semua tinggal menunggu perintah, Bos.” “Bram harus segera ditangkap,” kata Angga tanpa ragu. “Sekarang.” Ia mengusap kelopak matanya dengan ibu jari, menahan sesuatu yang mengendap di dada. M
Angga menarik napas panjang saat layar televisi dimatikan. Dadanya terasa sedikit lebih lega—Lisa ditemukan. Masih hidup. Itu saja sudah cukup untuk membuat beban di pundaknya berkurang. Ia berbalik dan mendapati Kinanti berdiri kaku, wajahnya pucat, matanya kosong menatap ke depan. “Ki…” Angga mendekat, menggenggam kedua tangan istrinya. “Tenang ya.” Kinanti tak langsung menjawab. “Kamu harus ingat,” lanjut Angga lembut namun tegas, “ada bayi di perut kamu.” Ia menunduk sedikit, menyamakan tinggi pandang mereka. “Sekarang yang paling aku khawatirkan itu kamu.” Sejak hamil, Kinanti memang tak pernah benar-benar tenang. Satu demi satu kejadian datang tanpa jeda—kecelakaan Angga, kecemasan yang berlarut, lalu kini Lisa. Seolah hidup tak memberinya ruang untuk bernapas. Kinanti menggeleng pelan. Air matanya jatuh tanpa bisa dicegah. “Aku nggak bisa baik-baik saja, Mas,” ucapnya lirih, suaranya pecah
Mobil itu terus melaju, menelan jarak dan waktu. Lisa terkulai di kursinya. Tubuhnya lemas, kepalanya pening, napasnya tersengal. Setiap getaran mobil terasa seperti menghantam sisa kesadarannya. Di balik kelopak matanya yang berat, ia masih mendengar suara Bram—dingin, penuh amarah yang tak lagi terkendali. “Cari tempat sepi,” perintah Bram pada sopirnya. “Sedikit jurang. Jangan ada orang.” Sopir itu ragu sejenak, namun tatapan Bram membuatnya memilih diam. Mobil keluar dari jalur utama, memasuki jalanan yang semakin sunyi. Lampu-lampu kota menghilang, digantikan gelap dan suara angin malam. Lisa tersadar sepenuhnya saat mobil berhenti. Hatinya mencelos. “Bram…” suaranya parau, nyaris tak terdengar. “Tolong… aku mohon… jangan lakukan itu.” Tangannya ditarik kasar. Tubuhnya diseret keluar dari mobil. Kakinya hampir tak mampu menopang, namun ia masih hidup—masih sadar—masih berharap. “Bram, aku nggak sal
“Aku tahu kamu mengkhianatiku, Lisa.” Ucapan itu dingin, sebelum tangan Bram melayang. Plak. Kepala Lisa terhentak ke samping. Dunia seketika berputar, dengungan keras memenuhi telinganya. Rasa panas menjalar di pipinya, asin darah terasa di bibirnya yang pecah. “Bram … ampun …” Lisa merintih, suaranya nyaris tak terdengar. Namun Bram seolah tuli. Amarah yang lama terpendam meledak tanpa kendali. Tangannya kembali terangkat, tubuh Lisa terhuyung tak berdaya di kursi mobil. Ia mencoba melindungi wajahnya, tapi Bram terus meluapkan kemarahannya, napasnya memburu, matanya gelap oleh kebencian. “Kamu pikir aku bodoh?” desis Bram. “Kamu pikir aku nggak tahu ke mana kamu pergi dan apa yang kamu lakukan?” Bram berteriak melampiaskan kemarahannya. Lisa menangis tertahan. Tidak ada lagi kata-kata yang mampu ia ucapkan. Hanya rasa sakit—dan ketakutan yang menyesakkan dada. Mobil itu terus melaju, menelan jeritannya dalam gelap. Lisa hanya bisa pasrah, dia sudah menyerahkan dirinya pad
Angga dan Gerry saling bertatapan. Ada jeda singkat sebelum Gerry akhirnya bersuara, nada suaranya menahan emosi. “Kenapa dari awal kamu nggak bilang?” tanyanya. “Kalau kamu dan Bram sudah sejauh itu?" Angga tak langsung menjawab. Ia bangkit dari duduknya, melangkah pelan ke arah jendela. Tirai tipis bergoyang tertiup angin, memperlihatkan hiruk-pikuk kota di bawah sana. Dari luar, semuanya tampak normal—berlawanan dengan permainan kotor yang sedang mereka hadapi. “Sebenarnya itu masalah mudah bagi kami,” ujar Angga akhirnya, suaranya tenang, nyaris datar."Ger, urus ini dengan Tim, IT." Angga berbalik setengah badan menatap Lisa yang masih duduk gelisah. “Kami punya tim IT yang handal. Apa pun yang disimpan Bram—di ponsel, di cloud, di perangkat mana pun—bisa kami lacak.” Lisa yang duduk di seberang meja menegang. Jarinya mencengkeram tas di pangkuannya. Masih belum percaya jika Angga sehebat ini menyelesaikan masalah, kenapa dari awal dia tak datang ke sini. “Semua akan kami
Rumah terasa begitu sunyi ketika Kinanti masuk ke kamar. Lampu malam menyala temaram, namun ketenangannya justru membuat dada Kinanti makin sesak. Ia duduk di tepi ranjang, memegangi pergelangan tangannya yang terasa dingin. Pertanyaan Kakek Anwar berputar lagi di kepalanya. “Kinan … kamu terli
Mobil baru saja berhenti di pelataran rumah ketika ponsel Kinanti bergetar. Nama Angga muncul di layar. Dada Kinanti langsung mengencang—ia tahu cepat atau lambat Gerry pasti melapor. Kinanti menarik napas panjang sebelum mengangkat. “Halo, Mas …” Kinanti menyapa. “
Pintu rumah milik Kinanti di buka perlahan oleh Gerry. Ia mendorong kursi roda Lisa masuk ke ruang tamu. Rumah yang dulunya sempat berantakan akibat ditinggalkan lama kini tampak bersih—lantai mengilap, bau segar, dan tertata rapi. Lisa meremas ujung selimut yang menutupi kakinya. Tubuhnya masih l
Kinanti berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Sesekali dia menggigit jari kukunya. Hari ini Lisa di jadwalkan pulang dari rumah sakit, rasa hati Kinanti ingin menjemput Lisa tapi peringatan Angga membuat nyali Kinanti ciut, ia tak ingin melanggar apa yang tak di perbolehkan Angga, tapi hati lai







