LOGINRuangan dibangsal ini menjadi sepi. Aku melihat Kak Adrian memijat-mijat pelipisnya, seakan dia tidak percaya dengan apa yang baru dia ketahui.“Ada yang tidak kamu ketahui di balik permainan itu Adrian,” ucap Arka mulai bersuara.“Saat aku ingin menjelaskan soal isu di bisnis media, serta video tentang kita saat menandatangani kesepakatan. Hector sudah mengirimkannya terlebih dulu ke Lyra, jadi dia kembali salah paham padaku,”sambung Arka.Arka menatap Kak Adrian dengan binar ketulusan. “Kamu tahu betul bagaimana perasaanku pada Lyra, bahkan sejak kita masih remaja. Keputusanku dengan isu soal bisnis media hanya untuk mengalihkan pandangan musuh terhadap adikmu, dan menjadikan aku sebagai perisai untuk menghadapi mereka. Dan kamu tahu itu.”Video? Isu? Dan... masih remaja? Apa kami pernah saling mengenal sebelumnya?Rentetan pertanyaan kembali datang ke dalam otakku.Kak Adrian yang terlihat sudah menguasai dirinya, hanya bisa menghembuskan napas. “Lalu permainan itu?”“Itu hanya rea
Sensasi denyut di bagian belakang kepalaku perlahan mereda, menyisakan kepala yang terasa seberat batu. Kak Adrian dan Kak Shiena masih menatapku dengan raut cemas yang amat kentara, mengawasi setiap gerak-gerikku seolah aku adalah barang kaca yang bisa pecah kapan saja.“Kita tunggu kamu pulih dulu,” ujar Kak Shiena sambil merapikan ujung selimutku.“Selain itu, Kakak juga perlu tahu dulu hasil dari pemeriksaanmu tadi. Kakak akan mendiskusikan apa yang terbaik untuk kesembuhanmu itu. Sambil perlahan memberitahumu sedikit demi sedikit. Oke,” potong Kak Adrian rendah dengan nada membujuk.Aku ingin menjawab, namun dengan kondisi kepalaku yang seperti ini. Sepertinya apa yang mereka katakan ada benarnya.“Pelan-pelan saja, Lyra. Fokus saja dengan penyembuhanmu, selebihnya... biarkan Adrian dan yang lain untuk mengurusnya,” ucap Kak Shiena lembut mengusap pucuk kepalaku.Aku tersenyum tipis dan mengangguk menurut pada perkataan Kak Shiena dan Kak Adrian. Lalu mereka melangkah menjauh dan
“Nona Lyra, Anda sudah siap?’ tanya perawat itu begitu melihatku di balik pintu bangsal VIP. Udara di koridor rumah sakit itu mendadak beku. Kini empat pasang mata kini tertuju padaku.Aku tidak mengindahkan ucapan perawat itu. Ibu jari kiriku perlahan mengusap cincin yang melilit di jari manisku.Aku menatap mereka satu persatu. Kak Adrian, Kak Shiena, Pria yang beraut datar itu, dan juga… Pria yang bernama Arka. Mereka menatapku dengan binar yang sulit untukku artikan.Kak Adrian menjadi orang pertama yang menguasai diri. Kak Adrian menyunggingkan senyum manis dan berjalan mendekatiku.“Saatnya pemeriksaan,” ucap Kak Adrian halus. Lalu dengan lembut menuntunku ke arah kursi roda yang di bawa perawat itu.Aku mengikuti Kak Adrian tanpa penolakan. Namun, aku menatap Kak Adrian dalam-dalam, menuntut penjelasan.Kak Adrian hanya tersenyum sambil mengusup pipiku dengan lembut. “Ayo jalan. Aku akan ikut bersama kalian. Shiena, tetaplah bersama Tian dan Arka,” perintahnya dengan nada rend
Semua orang di ruangan ini mendadak membisu. Suasana menjadi hening dan canggung.Kak Adrian, Kak Shiena, dokter, dan pria yang memakai perban itu semuanya melihat ke arahku dengan tatapan rasa yang tertahan. Kak Shiena melirik sekilas ke arah pria berperban itu, lalu ke Kak Adrian dan menatapnya dengan penuh arti yang bertanya-tanya.Kak Adrian ternyum manis sambil mengusap pucuk kepalaku. “Mereka bukan orang asing. Mereka...” Kak Adrian menggantungkan kalimat dan melirik kedua pria itu dari sudut matanya. “Mereka temanku.”“Oh... teman. Tapi...” Aku kembali menatap kedua pria itu. Satu pria melihatku dengan tatapan biasa, namun yang satunya, seperti ada kesedihan yang mendalam.Aku memiringkan kepala. “Tapi kenapa aku tidak ingat Kakak punya teman... Tidak bukan, wajah mereka sangat asing.” Aku kembali menoleh ke Kak Adrian. “Apa aku melewatkan sesuatu?”Kak Adrian tersenyum tipis. “Mereka teman baruku, dan belum aku kenalkan padamu. Wajar kalau kamu masih merasa asing,” ucapnya sam
“Lyra.”Panggilan dari suara lembut yang sangat familiar di telingaku.Aku mencoba menggerakkan jari-jari tangan. Kaku, tapi aku bisa menggerakkannya.“Lyra.”Panggilan suara itu terdengar kembali.Kepalaku masih terasa pusing dan mataku amat berat, namun aku terus berusaha untuk membuka kedua kelopak mataku.Perlahan, rasa sakit itu mulai meluruh. Aku mulai membuka mata.Cahaya yang terang? Apakah cahaya itu kembali lagi?Aku memejamkan mata sejenak, lalu mencoba memfokuskan kembali pandanganku.Di mana aku? Semuanya mulai terlihat jelas. Aku berada di ruang perawatan rumah sakit?“Lyra.” Suara itu memanggil lagi.Aku menoleh ke samping. Di sana Kak Shiena tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.“Akhirnya kamu bangun,” ucap Kak Shiena penuh rasa syukur sambil menggenggam jemariku.Aku hanya membalas ucapan Kak Shiena dengan senyuman samar. Tubu
DinginHanya itu yang saat ini aku rasakan di setiap jengkal tubuhku. suara gemuruh air laut perlahan mulai meredup lalu kemudian lenyap.Kini semuanya gelap, sunyi. Tubuhku seperti melayang-layang di dalam dunia yang seolah hanya dihuni oleh diriku sendiri. Ya… sendirian.Apa aku sudah mati?Namun tiba-tiba sebuah pendar cahaya muncul menembus kegelapan. Cahaya itu semakin mendekat, lebih dekat lalu menarikku ke dalamnya.Aku seperti terlempar ke sebuah tempat. Aku melihat sekeliling. Aku berada di klub malam?Aku duduk di atas sofa. Ada Kak Shiena juga di sampingku yang sedang tertawa. Namun saat aku memiringkan kepalaku, ada sosok pria di meja kami.Aku memfokuskan mataku ke arah pria itu. Namun bayangan wajah pria itu mendadak menjadi kabur. Parasnya tersamarkan oleh pendar cahaya pucat. Namun aku merasakan pria itu sedang memperhatikanku.Lalu Cahaya yang sama kembali muncul dan menarikku lagi. Kali ini cahaya itu melemparku ke sebuah acara pesta.Sosok pria yang sama dengan para







