LOGINSuasana ruang kerja Arka masih terasa begitu hening. Aku menatap matanya yang jernih, mencari sisa-sisa kebohongan yang mungkin tersimpan. Namun, yang kuperoleh hanyalah sorot ketulusan yang telanjang.
“Kamu satu-satunya yang selalu aku inginkan, Lyra,” ucap Arka dengan suara serak yang tertahan. “Namamu tidak pernah absen kusebut dalam doaku setiap malam. Dan kamu juga alasanku untuk terus berjuang.”
Arka menarik napas panjang, seolah mengumpulkan sisa k
Arka berdiri, lalu dia pergi menutup pintu. Aku masih terpaku memandangi bayang punggungnya yang sudah hilang di balik pintu.Ada berbagai perasaan yang kini bergejolak hebat dalam dadaku. Aku menunduk, kemudian memenuhi bathtub dengan air hangat. Selesai mandi, aku melilitkan handuk ke tubuhku. Berjalan menuju wastafel dan berdiri menghadap cermin.Aku mengelap cermin yang dipenuhi uap air hangat yang masih mengepul mengisi ruangan. Melihat bayangan diriku yang sekarang dipenuhi tanda kepemilikan oleh Arka.Aku hanya menghembuskan napas. Menata kembali hati, tenaga dan pikiranku untuk berhadapan dengan pria itu.Aku keluar. Mataku mulai menyapu ruangan. Tidak ada bayangan Arka di sana.Aku mulai berjalan ke arah ranjang, dan kembali menghembuskan napas panjang. Bajuku robek semua. Arka hanya menyisakan pakaian dalamku saja.Aku kembali mengingat kejadian kemarin. Pria itu… benar-benar liar. Apa yang akan aku pakai sekarang?Aku menoleh ke arah belakang, menatap walk in closet. Arka
Wajahnya begitu dekat. Suara napasnya yang memburu terdengar begitu jelas hingga menyapu pipiku dengan hangat. Menegaskan dominasinya saat ini.Dengan air mata yang terus jatuh, aku memalingkan wajah ke samping. Seketika itu juga tangan Arka mencengkeram kedua pipiku.Tegas, namun tidak menyakiti. Dia seperti hanya tidak ingin aku mengalihkan pandanganku ke arah yang lain. “Lihat aku,” bisik Arka di depan wajahku. “Lihat baik-baik pria rendah dan kotor di hadapanmu. Dia yang akan menjadi ayah bagi janin dalam perutmu nanti.”Benci, marah, namun masih ada sisa rasa yang sudah kupupuk sejak aku mulai belajar untuk mempercayainya. Semua itu melebur menjadi satu monster yang menghimpit dadaku.Bibirku bergetar hebat. Air mataku kembali jatuh. Apa ini konsekuensi yang harus kutanggung karena telah membawanya masuk ke dalam hidupku?Sorot mata Arka yang penuh dominasi dan intimidasi perlahan menyurut. Dia memejamkan mata, lalu menempelkan keningnya di keningku. Dia seakan sedang menahan se
Kami saling bertatapan. Tidak ada senyum, tidak ada geraman, tidak ada nada suara yang meninggi, bahkan tidak ada kilat amarah liar di matanya. Wajahnya sangat datar, tenang dan dingin. Ini lebih mengerikan dari amukan kemarahan apapun.“Saatnya kamu belajar, Nona Vance. Belajar menanggung konsekuensi atas apa yang kamu perbuat,” ucap Arka pelan.“Huh, belajar? Konsekuensi? Kamu sendiri yang pantas mendapat perlakuan seperti ini.”Senyum tipis mulai terlihat di sudut bibir Arka. “Sepertinya, kamu memang perlu di beri pelajaran, Nona Vance.”Arka mendekatkan wajahnya. “Bagaimana jika kita mulai dari tubuhmu? Kita akan membuat bayi,” bisiknya penuh dominasi.Mataku membulat sempurna. Dia benar-benar berpikir untuk melakukan hal itu?“Aku tidak sudi melakukannya dengan orang sepertimu,” sahutku tajam.Arka kembali terkekeh pelan. “Yakin tidak sudi? Mulut dan tubuhmu tidak sejalan.”Maksudnya? Mulut dan tubuhku tidak sejalan?“Mulutmu berkata tidak sudi. Tapi tubuhmu sama sekali tidak men
“Kamu lebih rendah dan kotor dari sampah!”Kalimat terakhirku menggelintir keluar dari mulutku begitu saja. Arka terdiam. Air mata yang dia bendung, kini mulai menetes.Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Mengucapkan hal itu, ditambah dengan melihatnya... Kenapa hatiku semakin perih? Seolah aku penjahatnya di sini.Arka mendongak, mengusap wajahnya lalu kembali melihatku. “Seperti itu pandanganmu padaku? Meski kamu sudah melihat semuanya? Termasuk besarnya perasaanku padamu di ruang rahasia itu?”Mulut Arka tertahan sejenak.“Meski aku sudah melakukan yang terbaik yang aku bisa untuk membuat hatimu hangat dan menerimaku?” sambungnya kembali.Mendengar pertanyaan itu membuat dadaku semakin sakit. Tenggorokanku semakin tercekik.Aku mulai mengatur napas, menghapus air mata. Menguatkan diriku dengan alasan dia tidak pantas untukku tangisi.“Hangat? Semua sikap manismu itu hanya sebuah topeng Arka,” jawabku rendah. “Sekarang aku meyakini satu hal... karena sifat itu, orang tuamu mem
Arka, Tony dan Eric datang bersamaan ke unitku. Apa mereka ingin menangkapku? Mengurungku bersama dengan Arka?Dengan mata sembab aku hanya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.“Nona Lyra, kami datang untuk merayakan keberhasilan Pak Arka menyelesaikan masalah kemarin,” ucap Tony dengan ceria.“Benar Nona Lyra, tanpa bantuanmu mungkin kami masih mengurusnya. Atau mungkin terjadi pertumpahan darah yang lebih banyak,” sahut Eric sambil menyodorkan kantong kertas padaku.“Boleh kami bergabung bersama?” tanya Tony kembali dengan senyuman.Aku hanya diam, tidak menjawab. Mataku hanya melihat pada kantong kertas yang disodorkan Eric.“Ada apa, Lyra? Kamu tidak senang?” tanya Arka yang akhirnya berbicara.Arka menyentuh daguku, mengangkatnya perlahan. Tatapan kami bertemu.Dia mengerutkan dahinya. Mata sembab dan wajah pucat usai menangis. Seolah bertanya apa yang sudah terjadi padaku.Sedangkan aku. Aku hanya menatapnya dengan sorot mata sayu dan menyimpan benci padanya.Arka sek
Hatiku mulai bimbang. Aku mencoba mengingat dan menganalisis semua yang Arka jelaskan padaku.Arka mungkin melakukan ini untuk mencari petunjuk tentang masalah yang kemarin belum selesai. Nanti pasti dia akan menjelaskannya padaku.Sekali lagi aku meyakinkan diriku untuk percaya. Tapi tetap saja, hatiku masih menyisakan keraguan kecil namun dalam pada tindakanku sendiri.Aku kembali naik ke kamarku. Mandi, berharap air dingin dapat membuatku sedikit lebih tenang.Saat tetesan air membasahi kepalaku, aku memejamkan mata dan menenangkan diri. Mengatur napas, namun semua pesan Hector dan bayangan ruang rahasia itu seketika muncul saling bergantian dalam pikiranku.Aku membuka mata, rasa takut kini mulai merayap. Bagaimana kalau memang benar? Apa yang sebenarnya Arka mau? Kekuasaan? Memenuhi obsesi lainnya? Atau memang balas dendam padaku?Dan pertanyaan lainnya yang muncul tiba-tiba. Aku mematikan shower, mengambil handuk dan memakai kembali bajuku.Sepertinya aku terlalu lelah menulis d







