Home / Mafia / Jerat Obsesi Tuan Mafia / Bab 11: Darah dan Rahasia Terlarang

Share

Bab 11: Darah dan Rahasia Terlarang

Author: Murufu
last update Last Updated: 2025-12-25 22:11:04

"Tekanan darah turun drastis! 60 per 40! Kita kehilangan dia!"

Teriakan panik Dokter Haryo, kepala bedah RS Prawira, menggema melalui speaker ruang observasi. Di balik dinding kaca tebal itu, Alya berdiri mematung. Matanya terpaku pada tubuh Luciano yang terbaring pucat di meja operasi, dikelilingi oleh tim medis yang tampak kebingungan.

Darah yang keluar dari bahu dan perut Luciano tidak mau berhenti. Cairan itu terus merembes, berwarna merah gelap dengan rona ungu yang kini terlihat jelas di bawah lampu operasi yang terang benderang.

"Jahitannya tidak mau menyatu! Jaringan selnya menolak benang!" seru asisten dokter. "Apa dia hemofilia? Tidak ada di rekam medis!"

"Bukan hemofilia, Bodoh!" Alya tidak tahan lagi. Ia menekan tombol interkom di dinding kaca, suaranya menggelegar memenuhi ruang operasi, menghentikan kepanikan sesaat.

Semua dokter menoleh ke atas, menatap gadis berkemeja kebesaran yang berdiri dengan wajah garang di balik kaca.

"Siapa yang mengizinkan orang luar masuk ke
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 26: Balapan dengan Fajar

    "Uhuk!" Suara batuk basah itu memecah keheningan kamar pengantin. Alya membekap mulutnya, namun cairan hangat merembes dari sela jari-jarinya. Ketika ia menarik tangannya, gaun pengantin putih gading itu kini ternoda oleh percikan merah yang mengerikan. Darah. Bukan darah dari luka luar, tapi darah dari dalam parunya yang mulai tergerus oleh Reflective Poison. "Alya?" Luciano terbangun seketika. Efek euforia masih menyelimuti otaknya, membuatnya merasa ringan dan bahagia, namun insting predatornya langsung menyala saat mencium bau amis darah yang keluar dari mulut istrinya. Ia bangkit, sedikit terhuyung, dan meraih bahu Alya. "Kau kenapa? Kau sakit?" Alya menatap Luciano dengan pandangan kabur. Wajah pria itu masih terlihat damai, senyum tipis masih terukir di bibirnya—efek racun yang Alya berikan. Rasa bersalah menghantam Alya lebih keras daripada rasa sakit di dadanya. "Aku... aku meracunimu, Luci," isak Alya, akhirnya pengakuan itu tumpah bersama darah di bibirnya. Tubuhnya m

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 25: Malam yang Menyesatkan

    Malam di menara Mansion Jati terasa begitu sunyi, seolah-olah dunia di luar sana telah binasa dan hanya menyisakan ruangan megah ini sebagai satu-satunya tempat berlindung. Cahaya bulan yang dingin menembus jendela kaca raksasa, menyinari debu-debu halus yang menari di udara, memberikan kesan magis yang menipu pada kamar pengantin yang seharusnya menjadi saksi penyatuan dua jiwa. Alya berdiri di dekat jendela, masih mengenakan gaun pengantin putih gadingnya yang kini terasa seberat rantai besi. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu kencang, bertarung dengan aroma bunga bakung yang baunya mulai memuakkan. Di belakangnya, Luciano duduk di tepi ranjang king size bersprei sutra hitam, jas tuxedo-nya sudah terlempar ke lantai dengan sembarangan. Pria itu tidak lagi berdiri seperti raksasa yang mengintimidasi. Bahunya merosot, kepalanya tertunduk, dan napasnya terdengar berat namun teratur—sebuah efek dari Euphoric Paralysis yang mulai menjalar ke pusat emosinya. "Alya..

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 24: Altar Kematian

    Lonceng kapel tua di sudut Mansion Jati berdentang lambat, suaranya menggema di antara batang-batang pohon jati yang bisu, terdengar lebih seperti lonceng perkabungan daripada lonceng pernikahan. Di dalam kapel, udara terasa begitu dingin hingga uap napas tipis keluar dari sela bibir Alya. Bau bunga bakung putih yang menghiasi setiap sudut ruangan terasa sangat mencekik, aroma kematian yang menyamar sebagai kesucian. Alya berdiri di ambang pintu besar kayu ek, gaun pengantin putih gadingnya yang menyapu lantai terasa seberat beban dosa klan Prawira yang kini harus ia pikul. Di ujung altar, Luciano berdiri tegak. Setelan jas hitamnya tampak kontras dengan latar belakang kapel yang pucat. Matanya yang tajam mengunci sosok Alya dengan pemujaan yang hampir gila—sebuah kemenangan absolut yang baru saja ia raih. Baginya, ini adalah penyatuan; bagi Alya, ini adalah eksekusi. Alya melangkah maju dengan kepala tegak. Di bawah sapuan lipstick merah yang sempurna, ia menyembunyikan lapisan for

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 23: Gaun Putih di Atas Noda Darah

    Fajar di Mansion Jati tidak pernah terasa seindah ini, sekaligus semengerikan ini. Cahaya matahari yang pucat menyinari sisa-sisa kekacauan semalam—pecahan kaca yang sudah dibersihkan, namun noda darah yang seolah telah meresap permanen ke dalam pori-pori lantai marmer.Alya berdiri mematung di tengah kamar utama yang kini terasa seperti altar pengorbanan. Di sekelilingnya, empat orang wanita berpakaian hitam dengan wajah kaku bergerak seperti robot. Mereka bukan pelayan biasa; mereka adalah perias dan penjahit pribadi klan Prawira yang dikirim langsung oleh Luciano."Nona, tolong angkat dagu Anda sedikit," ucap salah satu wanita dengan suara tanpa nada.Alya mematuhinya. Bukan karena dia takut, tapi karena dia terlalu lelah untuk berdebat soal fisik. Di cermin besar di depannya, ia melihat sosok yang hampir tidak ia kenali. Gaun pengantin berwarna putih gading yang terbuat dari sutra terbaik membalut tubuhnya yang masih pucat. Gaun itu sangat indah, dengan sulaman perak yang membentu

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 22: Hutang Nyawa dan Darah

    Lantai kamar itu terasa sedingin es, namun tubuh Luciano yang bersandar di pelukan Alya justru terasa seperti bara api yang siap meledak. Napas pria itu pendek, tersengal, dan setiap ototnya berkedut liar akibat serangan stimulan yang menghancurkan sistem sarafnya. Alya menatap wajah Luciano. Pria ini—putra dari orang yang merenggut segalanya darinya—kini berada di titik paling rapuh. Alya bisa saja membiarkannya. Ia bisa saja berdiri, melangkah pergi, dan membiarkan jantung Luciano berhenti berdetak di depan makam ibunya sendiri. Namun, bayangan foto polaroid tua dan tulisan tangan ibunya kembali terlintas. "Ibu akan menciptakan dunia di mana kau tidak perlu membunuh untuk hidup." "Kau berhutang nyawa padaku lagi, Luci," bisik Alya dengan suara yang dingin, hampir mati rasa. Alya tidak bisa menggunakan jarum. Setiap gesekan logam akan memicu kejang hebat pada saraf Luciano yang sedang hyper-sensitive. Ia menarik napas panjang, lalu mulai melakukan satu-satunya cara yang ia tahu: M

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 21: Di Ambang Batas

    Keheningan yang menyusul setelah pintu kamar dibanting dan dikunci otomatis terasa lebih menyesakkan daripada suara tembakan tadi. Bau mesiu dan darah masih menggantung tipis di udara, bercampur dengan aroma pembersih kimia yang baru saja disemprotkan oleh anak buah Luciano untuk melenyapkan jejak kematian di lantai marmer. Hanya ada mereka berdua. Di dalam sangkar emas yang kini terkunci rapat dari dunia luar. "Tuan... biarkan aku memeriksa lukamu," bisik Alya. Suaranya gemetar, namun insting perawatnya tetap mencoba berdiri tegak di tengah reruntuhan emosinya. Luciano tidak menjawab. Pria itu berdiri membelakangi Alya, tangannya mencengkeram pinggiran meja rias hingga kayu jati itu berderit protes. Punggungnya yang luas dan telanjang tampak berkeringat, otot-ototnya menegang seperti kawat baja yang ditarik hingga titik putus. "Tuan?" Alya mendekat selangkah. Tiba-tiba, Luciano berbalik dengan gerakan yang begitu cepat hingga Alya tidak sempat berkedip. Dalam sekejap, Lucian

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status