Partager

Bab 46. Vio yang Meracau

Auteur: Zara Kisaka
last update Date de publication: 2026-06-03 23:22:14

Setelah pintu lift di lantai satu menutup kembali dan membawa Kael turun ke basemen, Vio langsung diajak menuju area parkir oleh Gisella dan Rio. Mereka bertiga masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Rio, lalu membelah jalanan kota yang mulai padat oleh kendaraan pasca-jam pulang kantor.

​Vio mengira mereka akan pergi ke kedai bakmi di dekat alun-alun seperti yang dikatakan Gisella tadi siang. Namun, mobil yang dikendarai Rio justru berbelok masuk ke sebuah kawasan pertokoan modern dan berh
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 75. Singkirkan Tanganmu

    Aula utama mansion itu masih menyisakan aroma alkohol mahal setelah perhelatan besar pelantikan Kael semalam. Kini, Kael duduk sendirian di ruang kerjanya yang luas, sebuah ruangan yang kini menjadi pusat kendali klan naga hitam. Di depan mejanya, berbagai laporan keuangan dan daftar musuh berjejer, menuntut perhatiannya sebagai pemimpin baru. Namun, fokus Kael sama sekali tidak di sana. Di samping tumpukan dokumen itu, dia meletakkan sebuah tablet khusus yang tersambung langsung ke jaringan kamera rahasia di kediaman orang tua Vio. Kael melihat Vio di layar. Gadis itu tertidur dengan napas yang tidak teratur, tangannya masih mencengkram kain seprai seolah sedang menarik pegangan di tengah badai. Wajahnya sembab, rambutnya berantakan, dan gurat kesedihan itu tampak begitu nyata meski dalam kondisi terlelap. Kael memejamkan mata, rahangnya mengeras hingga nyeri. “Maafkan aku, Vio. Hanya ini satu-satunya cara,” gumam Kael. Tiba-tiba, pintu ruang kerjanya terbuka tanpa diketuk. Cl

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 74. Kamu Bilang Merindukanku

    Matahari perlahan tenggelam, digantikan oleh malam yang merayap dingin menusuk yang sama ke dua tempat yang berbeda. Jarak antara Bogor dan Jakarta mungkin hanya puluhan kilometer, tetapi bagi Kael dan Vio, benteng takdir telah membentang sejauh jutaan tahun cahaya, mengurung mereka dalam ruang kesedihan yang tak berdasar.Di sudut kamar tidurnya yang dulu selalu terasa hangat, Vio masih meringkuk di atas lantai yang dingin. Seprai tempat tidurnya berantakan, mencerminkan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya. Secarik surat dari Kael yang telah lecek dan basah oleh air mata masih tercengkeram erat di tangan kanan Vio, seolah kertas itu adalah satu-satunya kenangan yang tersisa antara dirinya dan pria yang dia cintai.Vio menatap kosong ke arah cermin meja rias di seberangnya. Di bawah cahaya lampu kamar, pantulan dirinya terlihat begitu menyedihkan. Bibirnya yang bengkak akibat ciuman panas Kael semalam kini terasa kering dan kelu. Namun yang paling menyiksa adalah ketika mata

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 73. Kael dan Wanita Licik Itu

    Mansion megah di perbukitan Bogor itu terasa sedingin es, seolah ikut mengubur sisa-sisa kemanusiaan yang dimiliki oleh pewaris tunggalnya. Malam ini adalah malam pelantikan resmi pergantian pemimpin tertinggi klan naga hitam. Namun sejak subuh tadi, Kael memilih mengurung diri di dalam kamar utamanya yang luas dan remang-remang. Dia menolak menemui siapa pun, dengan alasan ingin beristirahat total sebelum takhta berdarah itu diserahkan ke tangannya nanti malam. Sang kakek pun menyetujuinya, mengira cucu unggulannya sedang mempersiapkan mental untuk memimpin dunia bawah tanah.Namun, Kael sama sekali tidak sedang beristirahat.Dia duduk kaku di tepi ranjang berukuran king-size, dengan tatapan mata yang tak lepas dari layar ponsel di genggamannya. Napasnya memburu pendek, dan rahangnya mengatup begitu rapat hingga urat-urat di pelipisnya menegang.Layar ponsel itu menampilkan siaran langsung dari kamera-kamera pengawas tersembunyi yang sengaja dia pasang. Kael memantau setiap gerak-ge

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 72. Apa Isi Surat Itu?

    Vio melepaskan pelukan ibunya perlahan, napasnya mulai memburu pendek karena ketakutan yang kian nyata. “Ibu, Ayah... kenapa wajah kalian seperti itu? Kael mana? Bagas bilang Kael pergi karena urusan keluarga. Apa Kael sudah ke sini?” tanya Vio yang masih berusaha untuk terus menghilangkan pikiran buruknya. Ayah Vio menghela napas berat, seolah ada beban berton-ton yang menghimpit dadanya. Pria paruh baya itu melangkah mendekat, lalu menyerahkan selembar amplop putih tebal ke tangan Vio yang kini sudah sedingin es. Ayah Vio awalnya sedikit merasa berat memberikan surat itu karena ia yakin pasti isinya bukanlah sesuatu yang akan membuat anaknya bahagia, hanya saja jika tak diberikan ia juga khawatir semuanya akan menjadi jauh lebih menyakitkan. “Kael tidak ke sini, Vio. Tapi anak buahnya mengantarkan surat ini subuh tadi,” ujar Ayahnya dengan suara rendah, bergetar. “Kael... dia sudah menemukan keluarga kandungnya, Vio. Dan dia sudah kembali ke tempat asalnya yang sebenarnya.”Vio m

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 71. Rasa Gelisah

    Pagi itu, sinar matahari menembus celah kelambu sutra vila dengan kehangatan yang lembut. Vio menggeliat pelan, perlahan membuka kelopak matanya yang sayu. Hal pertama yang dia lakukan adalah meraba sisi ranjang di sebelahnya, mencari kehangatan tubuh Kael yang semalam memeluknya begitu protektif.Namun ternyata kosong. Kasur di sebelahnya sudah tak ada siapa pun lagi, menyisakan seprai yang sedikit berantakan.Vio membuka mata sepenuhnya, lalu tersenyum kecil. Sambil memegangi lehernya yang masih menyisakan rasa perih manis akibat tanda kemerahan hasil ciuman panas Kael semalam, dia beranjak bangun. Pagi ini, ada kerinduan yang membuncah di dadanya. Vio tidak sabar ingin segera berlari, menghambur ke pelukan Kael, dan menggelayut manja di lengan pria itu seperti hari-hari sebelumnya.Dengan langkah ringan, Vio berjalan keluar kamar. “Kael?” panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur.Vio melangkah menuju ruang tengah, sepi. Dia kemudian berbelok ke arah dapur. Biasanya, setiap

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 70. Malam Manis yang Menyakitkan

    ​Matahari sore itu turun dengan warna jingga di langit perairan vila. Demi memberikan ketenangan bagi Vio, Kael telah memerintahkan Bagas dan seluruh anak buahnya untuk menyingkir dari area pulau. Mereka semua diperintahkan berjaga di kapal patroli yang jauh di batas perairan, memastikan pulau privat itu benar-benar menjadi dunia milik mereka berdua saja.​Vio keluar dari teras vila dengan gaun pantai berbahan katun tipis berwarna putih. Di tepi pantai, Kael sudah menunggu. Pria itu menanggalkan seluruh atributnya, hanya mengenakan celana pendek dan kemeja putih yang kancing atasnya dibiarkan terbuka. Di dekat sebuah pohon kelapa yang rindang, Kael telah menyiapkan panggangan arang kecil untuk membakar ikan hasil pancingannya, persis seperti yang pernah Vio impikan dulu.​Begitu makanan habis dan langit berubah menjadi keunguan, Kael langsung menarik Vio ke dalam pangkuannya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan satu detik pun yang tersisa. Vio berbalik posisi hingga kini duduk menghadap K

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 6. Halusinasi?

    Malam semakin larut, tetapi kelopak mata Violletta seolah enggan merapat. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar dengan cahaya remang sementara pikirannya berkecamuk hebat. Ucapan Kael tadi dan permintaan perjodohan dari Papa berputar-putar seperti badai yang tak kunjung reda.​Vio men

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 5. Tiba-tiba Manja

    Vio masih merasakan sensasi dingin dari salep yang dioleskan Kael saat ponsel di atas nakas bergetar hebat. Nama ‘Papa’ berkedip di layar. Tanpa berfikir panjang, Vio meraihnya dan langsung menekan tombol loudspeaker. Ini sudah menjadi tradisi sejak Kael masih remaja dimana saat Papa atau Mama mene

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 4. Menjadi Sangat Buas

    ​Sore itu, perjalanan pulang yang seharusnya menjadi momen untuk menjernihkan pikiran justru berubah menjadi neraka baru bagi Violletta. Di dalam kabin mobil yang mewah, keheningan terasa begitu berat, hanya aroma parfum milik Kael yang memenuhi indra penciuman Vio, membuatnya merasa seolah sedang

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 3. Sakit?

    Vio merasakan matanya panas. Bukan karena rasa perih di pipinya yang mulai membiru, tapi karena cengkeraman tangan Kael di pergelangan tangannya terasa begitu dingin. Pria yang tadi pagi bersikap seolah ingin menjaga dan melindunginya, kini justru berdiri menjadi tameng bagi wanita yang baru saja m

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status